Krishna Kecil: Melenyapkan Pola Pikiran Keliru Bakasura #SrimadBhagavatam

Hukum Karma, Sebab-Akibat, atau Aksi-Reaksi adalah Hukum Alam yang bersifat universal. Tidak bisa dikaitkan dengan agama, peradaban, atau budaya tertentu. Jika kita alergi terhadap bahasa Sanskerta, atau Kawi, boleh saja kita menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Cina, atau Arab. Tidak menjadi soal.

Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri. Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia.

Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu. Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini.

Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Di lain kesempatan, kala Krishna dan teman-temannya membawa anak-anak sapi ke Sungai Yamuna, mereka bertemu dengan sebuah bukit besar di tepi sungai. Rupanya bukit besar tersebut adalah wujud dari burung bangau raksasa yang sedang duduk menunggu mangsa. Adalah Bakasura, seorang Asura pembunuh suruhan Raja Kamsa yang sedang duduk menunggu Krishna di tepi sungai.

Tatkala Krishna datang, dia langsung membuka paruhnya dan menelan Krishna. Semua anak-anak kaget dengan kejadian yang tak disangka-sangka ini. Dan Bakasura sendiri juga kaget, karena seakan-akan tubuh Krishna berubah menjadi gumpalan api yang berjalan di tenggorokannya. Bakasura kesakitan seperti menelan bola api dan segera memuntahkannya. Dengan marah dia mematuk Krishna dengan paruhnya yang seperti gunting baja raksasa. Krishna memegang paruh sang bangau dan membukanya dengan paksa. Mulut bangau raksasa tersebut terbelah dan matilah Bakasura.

Bakasura dalam kehidupan sebelumnya adalah seorang gandharva pemuja Sri Vishnu. Karena ingin memberikan persembahan terbaik kepada Sri Vishnu, maka dia memetik bunga teratai dari danau milik Parvati, istri Shiva. Seorang penjaga menangkap sang gandharva dan membawanya ke tempat Shiva.

Karena dia telah mencuri maka dia mendapat hukuman terlahir di dunia sebagai asura yang ingin memperoleh segala sesuatu dengan instan. Akan tetapi, karena dia mempersembahkan bunga tersebut kepada Sri Vishnu, maka di Zaman Dvapara Yuga, Bakasura akan mendapatkan pembebasan dari Sri Krishna yang merupakan avatara Vishnu.

Bakasura adalah simbol dari orang yang mempersembahkan kebaikan, tetapi dengan jalan keburukan. Benih tindakan baik akan membawa kebaikan dan benih tindakan buruk akan menghasilkan keburukan. Hukum alam tidak seperti matematika, di mana jumlah kebaikan dan dikurangi dengan jumlah keburukannya. Masing-masing tindakan, baik atau buruk akan mendapatkan ganjarannya masing-masing.

Di sini kesalahan sang gandharva adalah keyakinannya bahwa seakan-akan Gusti akan membiarkan dia mencuri karena curian akan dipersembahkan kepada Gusti. Demikianlah Gusti dalam konsep pikirannya.

Sampai saat ini mungkin saja masih ada yang suka berhitung, bila saya mencuri Rp. 1 juta dan dihitung kesalahan 1 kali 1 juta, kemudian saya mensedekahkan Rp. 200.000 yang dihitung kebaikan 10 kali lipat karena keikhlasan kita. Secara total saya akan mempunyai kesalahan Rp. 1 juta tetapi mempunyai kebaikan Rp. 2 juta plus uang di kantong Rp 800.000. Mungkin demikiankah cara menghitung Gandharva Bakasura masa kini?

Silakan simak kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: