Krishna Kecil: Menaklukkan Aghasura Arogansi Keperkasaan Diri #SrimadBhagavatam

Ada beberapa cara untuk mendapatkan kedamaian diri:

Cara pertama adalah dengan mengalihkan kesadaran pada napas. Cara yang dipopulerkan oleh Buddha Gautama ini sudah teruji hasilnya. Ia menyebutnya Vipassana, yakni melihat ke dalam diri. Pada jamannya, cara ini memang merupakan cara yang paling efektif, tetapi sekarang ceritanya lain. Tingkat kegelisahan manusia begitu tinggi, sehingga cara ini hanya menjadi efektif, apabila terlebih dahulu kegelisahan dalam dirinya dimuntahkan ke luar. Program Neo Sufi Training menggunakan prinsip yang sama.

Cara kedua adalah dengan melelahkan mind. Cara ini tidak begitu efektif. Hasilnya bersifat temporer. Begitu pulih kembali, mind bekerja kembali. Dan bukan hanya itu, setelah istirahat sebentar, mind menjadi segar kembali. Ia semakin kuat. Cara kedua ini banyak digunakan di Indonesia, dan terakhir dipopulerkan oleh Maharishi Mahesh Yogi lewat apa yang beliau sebut ‘Transcendental Meditation’. Dalam metode ini Anda diharapkan mengulagi satu-dua kata atau satu kalimat singkat, terus-menerus.  

Cara ketiga adalah dengan menghabiskan mind. Cara ini merupakan Metode Milenia Mendatang. Cara ini akan menjadi semakin populer. Pada dasarnya, manusia masa kini kelebihan energi. Pekerjaan fisik telah berkurang banyak. Dan dengan perkembangan teknologi pekerjaan fisik itu akan semakin berkurang. Nah, energi yang berlebihan ini semakin mengaktifkan mind. Mind menjadi hiperaktif, sampai menyebabkan restlessness, kegelisahan. Kendati demikian, membendung arus energi yang berlebihan hampir mustahil. Untuk itu seluruh sistem harus diubah. Atau Anda harus kembali ke masa lalu sesuatu yang tidak mungkin lagi. Atau Anda harus melakukan lebih banyak pekerjaan manual. Makanan Anda harus lebih sederhana. Arus informasi yang Anda harus dikurangi, karena informasi juga merupakan makanan bagi mind. Informasi juga memberi energi tambahan kepada mind. Semuanya itu tidak mungkin! Anda tidak dapat membendung kemajuan sains dan teknologi. Mau tidak mau, Anda akan tepengaruhi olehnya, kecuali jika Anda menyepi ke dalam hutan dan memutuskan hubungan dengan realita kehidupan.

Satu-satunya jalan adalah secara rutin, setiap hari, Anda membuang energi yang berlebihan, yang tidak berguna, yang berpotensi menggelisahkan Ada. Dan ini pula yang kita lakukan, lewat latihan-latihan. Tawa adalah emosi. Tangis adalah emosi. Senang dan sedih adalah emosi. Suka dan duka adalah emosi rasa panas dan rasa dingin adalah emosi. Dan, membendung emosi berarti membendung energi, padahal energi yang tertahan atau terbendung membuat kita gelisah. Jangan lagi membedakan antara energi positif dan energi negatif. Energi adalah energi. Positif dan negatif adalah interpretasi mind Anda. Energi berlebihan, entah diinterpretasikan positif oleh mind atau negatif, akan menggelisahkan Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Semedi 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna adalah pemimpin para Gopala kecil, para anak-anak penggembala. Sore itu Krishna berkata bahwa besok pagi mereka akan mengadakan banyak permainan di hutan. Anak-anak sapi akan dibiarkan merumput di padang rumput tepi hutan dan mereka akan bermain penuh seharian di hutan dekat tempat tersebut. Anak-anak begitu bersemangat, sehingga pagi-pagi mereka bersama dengan Krishna dan Balarama menggiring rombongan anak-anak sapi mereka menuju padang  rumput di tepi hutan.

Para Gopala kecil tersebut percaya penuh terhadap Krishna, dan mereka sangat senang akan mendapatkan permainan baru, permainan tingkat lanjut, next level. Kata-kata Krishna tentang permainan tingkat lanjut memberikan semangat kepada para Gopal kecil. Awalnya Krishna berlari paling depan dan berkata, “Tangkap aku!” dan semua anak-anak berlarian secepatnya mengejar Krishna. Latihan seperti inilah yang membuat fisik para Gopal menjadi kuat dan fokus dalam bertindak. Ketika Krishna membiarkan dirinya ditangkap, mereka bersorak-sorai, “Krishna terpegang, Krishna tertangkap!”

Kemudian mereka beristirahat di tepi jalan sambil menirukan bermacam-macam suara penghuni hutan, ada yang meniru suara serigala melolong, ada yang meniru suara burung hantu, ada yang meniru suara harimau, ada yang meniru suara sapi dan ada juga yang menirukan suara katak. Kemudian mereka menceracau sendiri dengan kata-kata tanpa makna. Pada masa kini menceracau dengan kata tanpa makna disebut “Gibberish”, latihan cleansing meditation bagi para Gopala.

Para Gopala kecil sangat berbahagia dan kemudian  tertawa terpingkal-pingkal sepuasnya, sampai perut mereka mengeras, Laughing Meditation. Setelah itu mereka diajak membayangkan bekas kampung halaman Gokula yang ditinggalkan ke Brindavan yang membuat mereka menangis-haru bersama-sama, Crying Meditation. Dan, setelah itu mereka tentu saja diajak menari oleh Krishna, Dancing Meditation.

Adalah seorang asura bernama Aghasura yang menunggu Krishna dan teman-temannya di padang rumput. Aghasura adalah asura berwujud ular sanca, suruhan Raja Kamsa untuk membunuh Krishna.

Aghasura membaca mantra Siddhi Mahima, dia membesarkan dirinya hingga mencapai setinggi gunung dan  sepanjang 8 mil. Mulutnya dibuka sehingga orang akan mengira ada sebuah gua raksasa, dengan gigi-gigi dan taring sebagai stalagtit dan stalagmit, batu-baru kapur yang berada di atas dan bawah gua. Para gembala kecil sedang berbaris dan sapi-sapinya pun berada dalam barisan, sedangkan Krishna berada di ekor barisan. Mereka menuju padang rumput, saat mereka melihat gua raksasa di tengah padang rumput. Anak-anak di depan berdiskusi apakah mereka masuk ke gua atau tidak. Banyak di antara mereka berkata, “Terus masuk saja, kan ada Krishna.” Para Gopal begitu percaya dengan Krishna, bahwa Krishna adalah penyelamat mereka. terjadilah pemandangan yang luar biasa, barisan anak-anak kecil dan anak-anak sapi memasuki “gua” dan Krishna berada paling belakang.

Aghasura dalam kehidupan di zaman Dvapara Yuga adalah saudara dari Putana dan Bakasura. Dia sangat senang bisa membalaskan kematian saudara-saudaranya dengan menelan Krishna dan teman-temannya. Begitu Krishna masuk mulut, maka Aghasura menutup mulutnya, sehingga menjadi gelap gulita. Anak-anak gembala dan anak-anak sapi ribut. Akan tetapi, kemudian mereka melihat Krishna bersinar terang yang makin membesar, ibarat bola lampu kaca yang semakin lama semakin besar.

Aghasura yang merasa punya anugerah dapat membesarkan dirinya, menjadi kaget karena Krishna yang ditelannya makin membesar. Aghasura berniat mau memuntahkannya akan tetapi tidak bisa, karena Krishna telah memenuhi kerongkongannya. Tak begitu lama bola Krishna terus membesar dan Aghasura kesakitan dan akhirnya mulutnya pecah dan Krishna beserta rombongannya keluar dalam keadaan basah kuyup oleh darah Aghasura. Aghasura mati, dan seberkas sinar bergerak menuju kaki Krishna dan menghilang. Hujan kemudian seperti dicurahkan dewa dari langit, Krishna dan para gembala dimandikan oleh air hujan dan kembali bersih.

Dikisahkan, adalah seorang bijak yang lahir cacat dengan delapan bengkokan di tubuhnya,  dua bengkokan di kaki, dua di lutut, dua di siku tangan, satu di dada dan satu di kepala. Dia adalah seorang Rishi Agung bernama Ashtavakra, sang penulis kitab Ashtavakra Gita, yang merupakan Guru dari Raja Janaka ayahanda Sita, mertua dari Sri Rama.

Pada suatu hari, Agha, putra Sankasura, seorang pangeran asura yang perkasa dan memiliki bentuk tubuh yang indah bak atlet binaragawan, sedang berjalan-jalan di pegunungan Malaya. Pangeran Agha bertemu dengan Ashtavakra dan memperhatikan tubuh sang rishi yang aneh. Dari mulut Agha keluar kata-kata, “Ada juga orang aneh di dunia ini!” Agha begitu bangga dengan keindahan tubuhnya.

Sang Rishi kemudian berkata, “Walaupun tubuhku cacat akan tetapi aku mudah menggerakkan semua tubuhku. Kau bangga mempunyai tubuh yang menawan, tetapi dengarkanlah, kau akan lahir kembali dengan kulit yang sangat indah namun tak seorang pun mau mendekatimu, dan kau akan susah menggerakkan tubuhmu, kau harus menggeser tubuhmu untuk bergerak!”

Agha kaget dan memohon maaf atas kesalahannya, “Wahai Rishi yang bijak aku mohon maaf atas kesalahanku. Selama ini aku selalu melihat kekurangan orang lain, dan tidak pernah melihat kelemahanku sendiri. Aku telah keliru bergaul dengan teman-teman yang congkak, sehingga aku terpengaruh. Wahai Rishi beri kami petunjuk agar aku dapat memperbaiki diriku!”

Rishi Ashtavakra kemudian berkata, “Dalam kehidupanmu selanjutnya, kau akan lahir sebagai ular sanca raksasa. Kau akan berlatih mengendalikan diri selama bertahun-tahun. Kau akan jauh dari pergaulan jahat, pergaulan dari manusia-manusia yang congkak. Hanya sebelum tapamu berakhir, kau akan dikalahkan oleh seorang raja bernama Kamsa dan kau akan menjadi ular piaraannya. Meskipun kau berwujud ular sanca yang indah, saat kau menelan Sri Krishna, Hyang Maha Menawan, kau akan kembali ke kahyangan, mendapatkan wujudmu semula dan kau akan mencapai kesadaran ilahi!”

Aghasura adalah makhluk yang mendapatkan anugerah karena Krishna telah memasuki tubuhnya. Aghasura telah dibersihkan dari segala kesalahannya. Bertapa atau mengendalikan diri dengan cara Aghasura adalah sangat berat. Dia tidak berkeliaran mencari mangsa, dia harus menunggu di suatu tempat sampai ada mangsa yang datang kepadanya. Kadang-kadaang berbulan-bulan dia tidak makan, dan apabila sudah makan maka dia akan berdiam diri sampai makanannya habis tercerna baru bisa bergerak lagi. Tetapi dia tidak boleh mencari makanan, dia harus menunggu di suatu tempat, sampai Hyang Widhi memberinya makanan. Sebagai seorang asura, Aghasura tadinya mempunyai kecenderungan untuk mengikuti insting hewaninya yang telah terpola di dalam pikiran bawah sadarnya. Akan tetapi dengan bertapa, dengan mengendalikan dirinya, maka dia telah dapat menguasai insting hewani dalam dirinya.

 

Rishi Shuka telah memberikan pemahaman tentang pengendalian diri kepada Raja Parikhsit lewat kisah-kisah dalam Bhagavata Purana. Seperti kutipan buku karya Bapak Anand Krishna:

Jadikanlah pengendalian diri sebagai tujuan hidup, sebagai jihad. Bersungguh-sungguhlah untuk mengupayakan hal itu, kemenangan akan selalu ada dalam genggaman, dan kesempurnaan dalam hidup ini akan dapat diraih. Jadikanlah pengendalian diri sebagai kebiasaan, maka perangkap dunia yang ilusif ini tidak akan membelenggu kita. Dunia yang saat ini ada, dan sesaat kemudian tidak ada, ini tidak akan memerangkap kita. Pengendalian diri adalah kekuatan. Bila berhasil mengendalikan diri, kita akan dapat mengendalikan kekerasan dan ketakberesan di luar diri. Orang yang berhasil mengendalikan dirinya tak akan terkendali oleh orang lain. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa digoda, tidak bisa dirayu. Ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Jadilah orang sperti itu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pengendalian diri bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami. Untuk itu, kita harus bekerja keras. Terkendalinya diri oleh keadaan adalah sesuatu yang sangat alami. Bila kita masih belum dapat mengendalikan diri, dan masih terkendali oleh keadaan, it makes sense, sangat alami. Bukanlah kita semua makhluk hidup? Bila makhluk hidup terkendali oleh kehidupan, apa salahnya? Kelak, bila kau berhasil mengendalikan hidupmu tidak perlu kau gembar-gemborkan juga. Saat itu, pengendalian dirimu menjadi sesuatu yang alami! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: