Krishna Kecil: Balarama Menaklukkan Hawa Nafsu Dhenukasura #SrimadBhagavatam

Alam tidak selalu “memperoleh”. Ia lebih banyak memberi. Apa sebenarnya perolehan alam? Apa yang dapat kita berikan padanya? Barangkali “perhatian” – itu saja. Lalu, apakah kita selalu memperhatikan alam? Tidak juga. Malah lebih sering mengabaikannya, tidak memperhatikannya. Kendati demikian, ia tidak kecewa. Ia tetap menjalankan tugas serta kewajibannya sebagai “pemberi”. Segala perolehan kita sesungguhnya datang dari alam, atau setidaknya “lewat” alam. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.” (2007). The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kala Krishna mencapai usia enam tahun, Krishna dan Balarama sudah dipercaya untuk menggembala sapi, mereka tidak menggembalakan anak sapi lagi.  Krishna, Balarama dan teman-teman  sebayanya setiap hari menggembalakan sapi ke bukit Govardhana yang banyak rumputnya. Kemudian mereka bermain-main di tepi hutan. Kali ini Balarama agak capek dan tertidur di bawah pohon. Krishna memijat-mijat betis Balarama. Dan beberapa temannya melepaskan lelah di dekat mereka dan beberapa yang lain masih tetap bermain di hutan.

Sebuah lingkungan kehidupan yang berbahagia. Tanaman dan hewan banyak memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya sebagai cadangan makanan sewaktu tanaman sedang tidak berbunga. Kelebihannya dipersembahkan kepada manusia. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam. Egolah yang membuat manusia lebih mementingkan dirinya sendiri.

Pada waktu itu, Sridharma, Subala, dan Stoka-Krishna, 3 orang anak gembala yang sedang bermain mendekati Krishna dan Balarama. Mereka berkata, “Wahai Krishna dan Balarama, tidakkah kau mencium harum buah-buahan yang terbawa oleh angin ke tempat ini? Mereka berasal dari Hutan Talavana. Hutan Talavana penuh dengan pohon buah-buahan, akan tetapi hutan tersebut dijaga oleh Dhenukasura, Asura berwujud keledai dan gerombolannya yang diperintah menjaga hutan oleh Raja Kamsa. Mereka tidak makan dan menikmati buah-buahan yang ada di hutan tersebut, akan tetapi mereka menjaganya dengan ketat. Bahkan para binatang pun tidak berani memasuki  wilayah hutan tersebut. Wahai Krishna dan Balarama, tolonglah kami untuk mendapatkan buah-buahan dari hutan tersebut. Bila kalian menemani, kami berani mengambilnya.”

Demikianlah Krishna dan Balarama menemani para gembala kecil masuk ke Hutan Talavana. Balarama menggoyang pohon dan buah-buahan yang telah masak dan terjatuh, kemudian diambil oleh para gembala kecil. Adalah Dhenukasura dalam wujud keledai mendatangi mereka, dengan napas yang terengah-engah dan suara penuh kemarahan dia menyepak Balarama. Balarama melawan dan dalam suatu kesempatan memegang kaki belakang Dhenukasura. Kemudian keledai tersebut diputar-putarkannya di sekeliling tubuhnya dan dilemparkan ke pohon. Pohon tersebut roboh dan kemudian menimpa pohon disebelahnya dan Dhenukasura  mati. Seberkas sinar keluar dari tubuhnya dan jatuh di kaki Krishna dan lenyap.

Seluruh gerombolan keledai kerabat Dhenukasura kemudian mengepung mereka, akan tetapi mereka semuanya dapat dipegang kakinya oleh Krishna dan Balarama dan dilemparkan ke pohon-pohon. Seluruh gerombolan keledai mati. Sejak saat itu Hutan Talavana “terbuka”, orang-orang dan binatang-binatang berani memasukinya.

 

Past Life Dhenukasura

“Bhogah, kenikmatan duniawi atau indrawi dialami ketika seseorang tidak mampu membedakan Purusa atau Gugusan Jiwa, Diri yang Sejati dari (sifat-sifat alami, sifat-sifat Prakrti, termasuk sifat yang paling mulia, tenang dan dinamis, yaitu sifat) Sattva. (Sebab, semua sifat itu tetaplah mengikat Jiwa dengan dunia, dengan materi; mengikat Jivatma atau Jiwa Individu dengan Prakrti atau Alam-benda.)”

“Sebab itu, dengan niat yang jelas, tanpa kebingungan—asamkirnayoh—dan dengan melakoni samyama, hendaknya seseorang senantiasa berupaya untuk mengenal hakikat dirinya (sebagai Jiwa yang adalah bagian tak terpisahkan dari Purusa, dari Gugusan Jiwa). Dan bahwasanya adanya Prakrti atau Alam Benda adalah untuk (melayani) Purusa, bukan sebaliknya.” Yoga Sutra Patanjali III.36

 

PERTAMA: HANYALAH SIFAT SATTVA YANG DISEBUT dalam sutra ini.

Berarti, seorang Yogi,

  • sudah harus bebas dari sifat-sifat lain baik rajas yang agresif, maupun tamas yang malas, bodoh, selalu ragu, tidak percaya diri;
  • tidak boleh terjebak dalam permainan sattva sekalipun. Sebab, sattva pun merupakan sangkar. Jiwa tetap tidak Malah, sangkar sattva lebih berbahaya karena terbuat dari emas ego-spiritual, “Aku sudah tenang, atau mau tenang, aku tidak mau diganggu oleh kebisingan dunia.”

Pandangan-pandangan, pemahaman-pemahaman keliru seperti itu ibarat gembok, kunci. Sudah di dalam sangkar, digembok pula. ‘

KEDUA: SEORANG YANG TELAH MENYADARI HAKIKAT DIRINYA sebagai Jivatma atau Jiwa Individu—tak terpisahkan dari Purusa, Gugusan Jiwa, yang mana adalah ibarat cahaya Paramatma, Sang Jiwa Agung—tidak perlu, atau Iebih tepatnya, tidak bisa memutuskan hubungan dengan Prakrti atau Alam-Benda. Selama Jiwa masih menghidupi badan ini, maka tetaplah ia berurusan dengan alam-benda.

Adalah kesadaran-diri yang dibutuhkan. Jiwa mesti tetap sadar akan hakikat dirinya sebagai Percikan Jiwa Agung; dan bahwasanya Panggung Kehidupan ini, pergelaran ini, digelar baginya. Silakan menonton, menyaksikan pergelaran, dan menikmati. Tidak perlu lari ke mana-mana karena seluruh alam semesta adalah panggung pergelaran. Tidak bisa ke mana-mana, selama masih berbadan, bahkan kendati sudah meninggalkan badan ini, selama masih berbadan-halus, Jiwa masih tetap berada di tengah pergelaran.

Jadi, nikmati pergelaran dengan penuh kesadaran akan hakikat diri sebagai Jiwa, jangan terjebak dalam permainan. Untuk itulah dianjurkan upaya terus-menerus, upaya mengingat-ingat jati diri secara terus-menerus, sembari melakoni Samyama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam kehidupan sebelumnya, Dhenukasura adalah salah satu dari seratus anak-anak Maharaja Bali yang bernama Sahasika. Pada suatu hari dia bersenang-senang dengan dengan 10.000 istrinya bersuka-ria, melakukan perjalanan darmawisata. Para pengawalnya berada di depan dan di belakang mereka, serta ada juga beberapa di kiri dan kanan rombongannya. Dalam kesenangan mereka, mereka lupa suara musik dan nyanyian yang diselingi gelak tawa mereka mengganggu tapa Rishi Durvasa. Dhenuka dan rombongannya melihat Rishi Durvasa mendatangi mereka. Rishi Durvasa nampak lemah dan berjalan pun memakai tongkat, namun dia sepertinya dikelilingi aura yang menakutkan. Bahkan seluruh dunia pun takut dengan kutukan sang rishi.

Rishi Durvasa berkata, “Wahai Pangeran, engkau terlalu lama mengikuti hawa nafsumu. Engkau merasa sebagai orang yang kaya dan berkuasa, akan tetapi sejatinya engkau adalah budak yang patuh pada hawa nafsumu. Oleh karena itu, dalam kehidupanmu kemudian kau akan menjadi budak yang patuh dari manusia, kau akan lahir sebagai keledai. Setelah kau lama menjalani kehidupan sebagai keledai, akan datang masanya kau masuk Hutan Talavana dan menjadi penguasa di sana. Hanya Krishna Avatara yang dapat membebaskanmu, tetapi Narasimha Avatara telah berjanji kepada Prahlada, kakek buyutmu , bahwa avatara sesudahnya tidak akan membunuh keturunan Prahlada. Karena itu, kau akan dibebaskan oleh saudaranya yang bernama Balarama!”

Dhenuka memohon maaf atas tindakannya yang telah mengganggu tapa sang rishi. Dan kemudian memohon nasihat untuk memperbaiki tingkah lakunya di kemudian hari.

Dhenukasura mewakili simbol ketidaktahuan manusia dalam spiritualitas. Dia mewakili sifat materialistis. Sifat ini harus dilenyapkan dari diri manusia. Keledai mempunyai kemiripan dengan kuda, hanya tidak sebesar kuda. Ia kelihatan malas dan bodoh tetapi patuh. Pada zaman dulu, banyak orang-orang kaya dan para pejabat menggunakan keledai sebagai tunggangan dalam perjalanan, bahkan Gusti Yesus pun pernah naik keledai. Keledai adalah binatang yang lembut sifatnya, jinak, sabar, dan tidak pernah kelihatan marah meskipun membawa beban yang begitu berat. Ia kelihatan bodoh, tetapi sangat mengasihi majikannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: