Krishna Kecil: Menundukkan Kaliya, Panca Provokator Dalam Diri #SrimadBhagavatam

Panca Provokator Dalam Diri Kita

Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat Anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan….…Ya Panca-Provokator itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah.

Yang kita sebut nabi, atau avatar, atau mesias, atau buddha telah menguasai kelimanya. Kita belum. Lalu, setelah menguasai kelimanya tidak berarti mereka tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan—setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer. Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena “tali persaudaraan”, karena “ikatan-persahabatan” yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah “Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi”, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-“Aku”-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menundukkan Kaliya

Pada suatu hari, Krishna dan teman-temannya menggembala sapi-sapi ke arah Sungai Yamuna. Balarama kali ini tidak menemani mereka. Krishna dan teman-temannya bermain-main di tepi hutan dan karena hari sangat panas, beberapa teman Krishna kehausan dan pamit mencari minum ke Sungai Yamuna. Akan tetapi, kali ini mereka salah jalan dan masuk ke daerah bahaya di Danau Madu.

Di dasar Danau Madu tinggallah ular kobra raksasa berkepala lima bernama Kaliya yang hidup bersama  beberapa istrinya. Kaliya mengeluarkan racun yang berbahaya yang memenuhi danau tersebut dan bahkan sedikit demi sedikit air dari danau sudah mulai mencemari Sungai Yamuna. Sungai Yamuna mengalir ke hilir melalui Kota Mathura tempat Raja Kamsa dan di bagian hilirnya lagi melalui Kota Hastinapura. Semua tanaman di sekitar danau terkena polusi dan mengalami kekering. Burung-burung yang melintasi danau pun berjatuhan terkena uap beracun yang menguap di atas danau.

Setelah lama menunggu teman-teman mereka yang pergi ke sungai dan tidak kembali, Krishna dan teman-temannya mengikuti jejak teman-teman mereka dan sampailah mereka di Danau Madu. Krishna melihat teman-teman mereka pingsan dan segera meminta teman-temannya yang lain memindahkan mereka menjauhi danau. Krishna segera memanjat Pohon Kadamba di tepi danau. Pohon besar yang kering tanpa daun tersebut tetap bertahan hidup. Teman-teman Krishna melihat Krishna sampai di pucuk pohon dan segera meloncat ke dalam danau. Semua teman-temannya khawatir akan keselamatan Krishna, dan ada yang lari ke desa memanggil Nanda, Yashoda dan orang-orang tua para gembala.

Cukup lama Krishna berada di dasar dan tiba-tiba muncul di permukaan danau diserang oleh Kaliya. Dan terjadilah perkelahian yang seru. Krishna sangat lincah dan tahan dengan uap beracun yang dikeluarkan oleh Kaliya.

Pada akhirnya Krishna menari-nari di atas lima kepala Kaliya. Kaliya kelelahan dan dari mulutnya keluar darah karena telah kehabisan racun berbisanya. Kaliya sadar bahwa bila Krishna ingin membunuhnya, maka dia akan mati dengan mudah. Para istrinya keluar dan memohon pengampunan dari Krishna. Nanda, Yashoda dan para gembala bersorak-sorai melihat Krishna menari-nari berlompatan di atas lima kepala Kaliya.

Akhirnya Krishna berkata, “Kaliya, kau kumaafkan, akan tetapi segera pergi dari danau ini bersama istrimu ke tempat tinggalmu di Pulau Ramanaka. Kau tak perlu takut Garuda mengejarmu, melihat bekas tapak kakiku di kepalamu, Garuda akan melepaskanmu. Hiduplah yang baik, karena semua racunmu telah habis.”

 

Makna Kaliya dalam buku The Gita Management

Kaliya adalah Kalaa Yavan, Si Hitam yang berasal dari Yunani yang berupaya melemahkan kerajaan-kerajaan di India dengan  meracuni Sungai Yamuna, dengan jalan masuk ke daerah pedalaman dan membuang racunnya sedikit demi sedikit. Dari sebuah desa kecil, Kalaa Yavan membuang racunnya sedikit demi sedikit dari sungai kecil dan sudah mulai masuk sungai Yamuna. Brindavan memperoleh sumber air dari sungai tersebut. Selanjutnya sungai tersebut mengalir ke Hastinapura (sekarang New Delhi) lewat Mathura.

Mathura dan Hastina tidak akan jatuh seketika, akan tetapi semua penduduk akan pelan-pelan akan teracuni dan mudah ditundukkan oleh Yunanai. Untung ada Krishna yang tidak hanya menyelamatkan penduduk Brindavan, akan tetapi juga Kerajaan Mathura di bawah Kamsa serta Hastina yang diperintah keluarga Bharata (baik Pandava maupun Kaurava merupakan keturunan Bharata). Dan, setelah Kaliya ditaklukkan dia melapor kepada Raja Yunani sehingga selama dua abad negara yang ekspansionis pada masanya tersebut tidak mengganggu India. Sumber buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sebagian Master memaknai Kaliya yang berkepala lima sebagai bahaya yang mengendap dalam pikiran manusia. Di danau pikiran manusia ada ular kobra raksasa beracun dengan lima kepala terus mengintai, menunggu kelalaian manusia. Kelima kepala ular kobra raksasa tersebut adalah  amarah, keinginan, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan. Ketika manusia selalu ingat pada Gusti dengan penuh penghayatan, maka ular kobra berkepala lima akan keluar dari kedalaman danau pikiran dan nampak di permukaan. Kemudian ular kobra tersebut dapat dibuat menjadi tenang.

 

Past Life Kaliya

Setiap Master selalu memberi jiwa pada sebuah Purana dengan memfokuskan pada hal tertentu, sehingga kita tidak perlu heran bahwa dalam Garuda Purana, yang paling jago adalah Garuda, pada Vishnu Purana yang paling hebat adalah Vishnu. Sebuah Purana diharapkan dapat menyentuh diri kita yang terdalam dan membangkitkan keyakinan kita untuk melakoni sebuah pemahaman dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang Master memberi jiwa baru pada kisah lama tersebut. Oleh karena itu, ada juga seorang Master yang berpendapat bahwa kisah Kaliya ini pada dasarnya terfokus pada racun iri dalam diri manusia. Kaliya diusir Garuda dari Pulau Ramanaka dan bersembunyi di Danau Madu di mana Garuda tak berani mengejarnya. Kemudian dari Danau Madu, Kaliya mulai menyebarkan racun. Rasa iri ini diungkapkan sebagai racun. Krishna datang ke dunia untuk membersihkan sifat iri dalam diri kita. Kita juga ingat bahwa kala para dewa dan para asura bersama-sama mengaduk samudera susu, yang pertama kali keluar adalah racun dan amritha adalah yang terakhir keluar. Setiap kebaikan tentu ada racun yang menyertainya.

Dikisahkan, ada seorang rishi dari dinasti Bhrigu bernama Vedashira yang akan melakukan tapa di pegunungan Vindhya. Pada saat itu seorang rishi bernama Ashvashira juga tiba di tempat yang sama dan ingin juga bertapa di daerah tersebut. Vedashira berkata, “Mengapa Anda  memilih tempat yang sudah dipilih olehku, bukankah banyak tempat lainnya yang bisa Anda pilih?”. Ashvashira kemudian menjawab, “Semua tempat adalah milik Narayana. Jauh sebelum Anda datang, sudah ada rishi lain bertapa di sini. Berpikir sebagai pemilik adalah bodoh. Bodoh, gampang marah, dan mendesis seperti ular. Karena kau merasa mempunyai tempat tinggal yang orang lain tidak boleh masuk, maka kukutuk menjadi ular yang tidak mempunyai tempat tinggal, kau akan ketakutan dikejar oleh Garuda.” Vedashira kemudian membalas, “Wahai rishi yang kurang cerdas yang gampang mengutuk karena kesalahan sepele, kau seperti para pengembara tanpa tujuan pasti, dan hanya tertarik pada kepuasan indra. Perilaku Anda seperti burung gagak dan kau akan lahir menjadi gagak!”

Kedua rishi yang suka mengutuk tersebut kemudian merasa menyesal, hanya karena debat sepele membuat mereka menderita di kehidupan mendatang. Vishnu kemudian datang menghibur mereka, “Seperti seseorang yang tidak mempertimbangkan tangan kanan atau tangan kiri yang lebih penting, Aku menghormati kalian berdua sebagai para bhakta-Ku. Wahai Rishi Vedashira, meskipun kau akan terlahir sebagai ular yang takut kepada Garuda. Kau akan bersembunyikan diri di Danau Madu di dekat Sungai Yamuna, karena pada zaman dahulu Rishi Saubhari pernah berkata bahwa burung apa pun termasuk Garuda akan mati kala masuk ke Danau Madu. Akan tetapi, pada zaman Dvapara Yuga, kepala-kepalamu akan ditandai oleh tapak kaki Krishna dan Garuda akan menghormati tanda tersebut, dia akan melepaskanmu dari kejarannya. Wahai Rishi Ashvashira, sebagai burung gagak, pengetahuanmu akan meningkat tanpa batas, Engkau akan mempunyai kesempurnaan yoga dan mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan. Kau akan disebut Kaka Bhusandi, burung gagak bijaksana dalam zaman Treta Yuga!”  Dan Vishnu pun menghilang. Dalam kitab Vasistha Yoga terdapat kisah tentang Gagak Bijaksana yang menguasai kesempurnaan yoga tersebut.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: