Archive for August, 2017

Pradyumna Putra Krishna: Reinkarnasi Kamadeva #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on August 30, 2017 by triwidodo

Ketika satsang dengan Bapak Anand Krishna di Jogja, seorang mahasiswi bertanya apakah jodoh itu mempunyai keterkaitan karma atau upaya kita. Beliau menyampaikan (ini sesuai tingkat pemahaman penulis tentang penjelasan Beliau), bahwa pada waktu kita hidup kita mempunyai hutang-piutang karma dengan banyak orang. Pada saat lahir kembali, kita dan banyak orang terkait dengan karma kita juga lahir kembali. Kita perlu menyelesaikan hutang-piutang karma tersebut (baik karma baik maupun karma buruk). Karena dalam tubuh-tubuh yang baru, maka penyelesaian karma tersebut bisa lewat bermacam-macam. Bisa saja ibu menjadi istri, saudari perempuan atau sahabat menjadi istri atau pasangan, jodoh kita. Istri kita (jodoh kita) pasti mempunyai keterkaitan hutang piutang karma dengan kita.

Silakan simak video youtube: Reincarnation: A Secret Revealed (by Swami Anand Krishna) – YouTube

Pada waktu itu secara klinis kita sudah dinyatakan mati. Secara fisik kita sudah mati. Pada waktu itu pemutaran kembali film kehidupan kita berjalan. Dan pemutaran kembali tetap berjalan karena mesin tetap berjalan. Mesin tetap berjalan karena masih ada sisa napas tertinggal. Seperti fan, kipas angin, walau sudah dimatikan tetap ada listrik yang mengalir, dan baling-baling fan tetap bergerak sampai waktunya berhenti. Walau otak kita sudah tidak berfungsi, tetap ada energi tertinggal. Dan menggunakan energi yang ada mind (bukan brain) memutar kehidupan selama hidup. Bukan semua impresi tetapi impresi utama. Impresi utama, memori utama akan kembali.

Berdasarkan itu,  sebelum gelap total, Soul (Jiwa) mempunyai program: Untuk kehidupan ke depan aku akan mencari orangtua seperti itu. Dalam kehidupan ke depan aku akan hidup dalam keluarga seperti itu. Apabil soul tetap berfokus pada keluarga tersebut, dia akan segera lahir kembali di keluarga tersebut.

 

Kamadeva lahir kembali sebagai Pradyumna

Pada suatu saat Kamadeva, dewa kama yang  juga disebut Manmatha, sang pengaduk cinta menuju ke tempat Shiva. Kamadeva memasuki tempat tinggal Shiva secara diam-diam, bersembunyi di balik batu dan melihat Shiva yang sedang melakukan  meditasi. Pada saat yang sama, Parvati datang ke sana sedang bangkit setelah membungkuk rendah bersujud kepada Shiva, pakaian atas nya tersibak sedikit. Tepat pada saat itu, Kamadeva memanah Shiva dengan panah cinta. Dan  pikiran Shiva terpengaruh sedikit. Mencermati hal ini, Parvati merasakan sukacita dalam hati.

Tetapi Shiva kemudian sadar, mengapa musim semi datang bukan pada saatnya dan dia melihat Kamadeva sedang bersembunyi. Shiva kemudian mengarahkan mata ketiganya kepadanya dan terbakarlah Kamadeva. Parvati pingsan melihat hal tersebut dan ketika bangun Shiva sudah pergi dari tempat tersebut. Parvati kemudian bertapa sampai akhirnya Shiva terketuk hatinya dan menikahi Parvati.

Niat Kamadeva sendiri mulia. Pada saat itu dunia sedang dikuasai Raja Asura Tarakasura yang tidak terkalahkan dan hanya bisa dikalahkan oleh putra yang akan dilahirkan oleh Shiva dan Parvati.

Silakan baca kisah terkait:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/08/20/membangkitkan-asmara-shiva-kisah-kamadeva-dalam-kitab-lalitopakyana/

 

Rathi isteri Kamadeva sedih dan menghadap Vishnu apakah dia dapat bertemu dengan Kamadeva lagi. Vishnu mengatakan bahwa pada zaman Dvapara Yuga Kamadeva akan lahir sebagai Pradyumna putra Avatara Vishnu dan Rathi akan lahir sebagai Mayavati pelayan Raja Asura Sambhara.

Raja Sambhara yang diramalkan akan dibunuh anak Krishna menculik bayi Pradyumna dan melemparkannya ke laut. Seekor ikan besar menelan sang bayi, dan ikan tersebut terjaring nelayan dan di bawa ke istana Sambhara.

Juru masak istana saat memotong ikan, menemukan bayi dalam perut ikan dan diserahkan kepada kepala pelayan bernama Mayavati. Bayi Pradyumna dirawat Mayavati sampai menjadi besar dan tampan. Rishi Narada datang dan memberitahu Mayavati bahwa Pradyumna adalah titisan dari Kamadeva, sedangkan Mayavati adalah titisan dari Rathi, isteri Kamadeva.

 

Menyelesaikan karma, membersihkan dan mengembangkan Jiwa

Semua hubungan manusia di dunia adalah diperoleh dari karma, tindakan sebelumnya. Dengan tubuh yang baru dan tubuh-tubuh lain yang berkaitan ada ikatan karma, oleh karena itu bisa saja seorang ibu bisa menjadi istri atau saudara perempuan di kelahiran berikutnya dalam rangka menyelesaikan hutang-piutang karma.

Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita.

Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa. Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Saat Pradyumna dewasa, dia bertanya kepada Mayavati sebetulnya siapakah dia dan siapakah Mayavati yang memeliharanya? Mayavati menjelaskan tentang kehidupan mereka sebelumnya sebagai Kamadeva dan Rathi. Mayavati juga menjelaskan bahwa Pradyumna adalah putra Krishna dengan Rukmini yang diculik Raja Sambhara dan dibuang ke laut.

Pradyumna kemudian diajari oleh Mayavati ilmu Mahamaya, untuk mengalahkan Sambhara. Pradyumna kemudian menantang duel Raja Sambhara. Raja Sambhara mengeluarkan ilmu maya akan tetapi tidak dapat menundukan Pradyumna dan akhirnya mati di tangan Pradyumna.

Selanjutnya, Mayavati membawa terbang Pradyumna ke Dvarka ke tempat Rukmini. Rukmini kaget melihat Pradyumna yang wajahnya mirip Krishna, dan apabila anak nya yang hilang ketemu maka dia seusia dengan Pradyumna. Selanjutnya datanglah Krishna dengan Vasudeva dan Devaki. Dan tidak lama kemudian datanglah Rishi Narada menjelaskan siapa sebenarnya Pradyumna dan Mayavati.

Berbahagialah seluruh kerajaan Dvarka atas kembalinya putra yang hilang Pradyumna bersama istrinya.

Advertisements

Rukmini: Berharap Hanya pada Gusti Pangeran Tak Mau Lainnya #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on August 29, 2017 by triwidodo

Pendekatan Sadguru sederhana tapi sangat mengena: “Bahagiakah kau sekarang ini? Apakah keluarga, kedudukan, ketenaran, dan kekayaan membahagiakanmu?” Jika jawaban kita adalah jujur “tidak”, maka Sang Sadguru akan melangkah maju, menjemput, dan memandu kita. Jika jawaban kita adalah “ya, saya sudah bahagia dengan segala materi yang saya miliki”, maka ia akan menarik diri. Ia tidak memiliki kepentingan maupun kehendak pribadi, sehingga ia tidak pernah memaksa. Sadguru Hanya Menanggapi Kebutuhan Jiwa Anda.

Seorang Sadguru sangat realistis. Ia bukanlah seorang cendekiawan yang sedang tebar pesona lewat kecendekiaannya. Ia ingin membantu Anda, dan apa pun yang disampaikannya adalah demi kebaikan Anda. Ia tidak berurusan dengan hal-hal lain.

Japji mengajak Anda untuk Berlatih untuk memperkuat jiwa Anda, untuk menemukan jatidiri Anda dan memberdayakannya. Ia tidak melayani curiosity Anda. Jika Anda sekedar curious, maka Japji bukanlah panduan bagi Anda. Japji tidak melayani keinginan Anda untuk mencari tahu tentang apa itu kebahagiaan abadi. Japji menawarkan sarana untuk meraihnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Rukmini adalah seorang putri raja, ketenaran, kekayaan, kedudukan, kebangsawanan melekat pada dirinya. Kecantikan dan kemuliaan hatinya tiada bandingnya, sampai disebutkan bahwa dia adalah titisan Lakhsmi. Walaupun demikian Rukmini tidak bahagia, semua berkah duniawi tidak membahagiakannya. Ibarat seorang bhakta, dia hanya mencintai Gusti Pangeran Krishna. Sebagai bhakta yang mohon bantuan seorang brahmana untuk membantunya menyatu dengan Gusti Pangeran. Dan Sang Gusti berkenan menjemput Rukmini.

 

Seorang bhakta paham bahwa dia memiliki hutang-piutang karma yang tidak akan bisa diselesaikannya……………

 

Jika Anda Mau Menyelesaikan Utang Piutang Itu… Jangankan satu masa kehidupan ini, hidup berulang-ulang pun tidak cukup untuk menyelesaikannya. Sambil menyelesaikan utang piutang lama, Anda pun membuat rekening baru, utang piutang baru. Urusan ini tidak pernah selesai. Sampai akhir zaman pun tidak selesai. Ada saja utang piutang yang tersisa, yang kemudian menjadi benih bagi kehidupan baru, dunia baru, alam baru, zaman baru.

Para Sadguru mengajak Anda untuk menyatakan diri Anda bangkrut! Ya, bangkrut. Tidak ada jalan lain. Nyatakan diri Anda bangkrut dan berserahlan pada Gusti Pangeran, “Aku nyerah!”

Sulit menyatakan demikian? Sulit berserah diri pada Gusti Pangeran? Sulit menyerah pada Hyang Maha Kuasa? Jika ya, maka itulah ego, itulah identitas palsu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Rukmini telah menyerah terhadap Gusti Pangeran……………. Dan Gusti berkenan menariknya dari lingkungan yang tidak kondusif.

 

Bhishmaka, raja Vidarbha memiliki  5 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, anak sulung adalah Rukmi sedangkan putrinya bernama Rukmini. Bhishmaka telah mendengar banyak cerita tentang Krishna dan berharap dia menjadi menantunya. Namun Bhishmaka tahu bahwa hal itu mungkin tidak mungkin karena ayah mertua Kamsa adalah Maharaja Jarasandha, yang bersumpah untuk membunuh Krishna. Kerajaan Vidharba sendiri berada di bawah kekuasaan Jarasandha.

Rukmi, putra mahkota Kerajaan Vidharba dan Shisupala, putra mahkota Kerajaan Chedi adalah murid dari Jarasandha. Rukmi ingin Rukmini kawin dengan Shisupala.

Rukmini yang selalu mendampingi Bhishmaka mendengar banyak cerita dari para rishi tentang Krishna. Rukmini ingin menikah dengan Krishna. Ketika Rukmini mendengar bahwa Rukmi telah memilih Shisupala sebagai calon suaminya, Rukmini sedih dan bersumpah ingin menikah dengan Krishna atau mati.

Rukmini meminta bantuan Brahmana tua yang bijak Sunanda untuk menghadap Krishna. Rukmini menulis sebuah catatan kepada Krishna bahwa dia ingin Krishna menjadi suami untuknya dan bertanya apakah Krishna akan datang dan membawanya pergi dari Vidharba. Rukmini menyampaikan bila Krishna tidak menyetujui, maka dia akan bunuh diri daripada kawin dengan Shisupala. Rukmini menceritakan bahwa hari pernikahan dengan Shisupala sudah dekat. Bila Krishna berkenan dia pada hari pernikahan akan akan pergi ke Kuil Parvati dan pada saat itu Krishna bisa membawanya ke Dvarka. Brahmana Sunanda menyampaikan pesan Rukmini tersebut kepada Krishna.

Krishna sudah lama mendengar tentang Rukmini dan ingin menikahinya. Setelah menerima pesan tersebut, Krishna bersedia untuk membawa Rukmini dan menikahinya.

Krishna pergi ke Vidarbha terlebih dahulu dan Balarama mengikuti dari jauh dengan pasukannya. Pada hari pernikahan, Rukmini ke kuil dan memperhatikan apakah ada Krishna yang menjemputnya. Rukmini tidak melihatnya. Akan tetapi saat Rukmini akan memasuki kereta, dia merasa ada yang menahannya dari belakang dan itu adalah Krishna. Krishna mengangkatnya ke kereta dan melesat pergi.

Jarasandha sangat marah. Dia mengumpulkan semua anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk mengejar Krishna. Jarasandha disergap oleh Balarama dan tentaranya di pinggiran kota. Rukmi berhasil melewati pasukan Balarama dan menyusul Krishna dan Rukmini.

Rukmi memanah Krishna, tapi itu sama sekali tidak melukai Krishna. Krishna kemudian melepaskan banyak anak panah, yang pertama kali membunuh kuda Rukmi dan kemudian menghancurkan keretanya. Rukmi kemudian mengambil busurnya lagi, tapi sebelum dia bisa memanah, Krishna telah memanah menghancurkan busur Rukmi. Rukmi sekarang mengangkat pedangnya dan berlari menuju Krishna. Krishna melepaskan panah lagi dan membelah pedang Rukmi menjadi dua. Krishna kemudian mengambil pedangnya dan Rukmini memohon agar Krishna tidak membunuh kakaknya. Krishna memotong rambut di kepalanya dan setengah kumis di wajahnya, kemudian membiarkannya pergi.

Krishna kembali ke Dvarka bersama Rukmini dan menjadikannya sebagai mempelai wanita.

Mucukunda: Kesadaran Sebagai Alat Sri Krishna #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 28, 2017 by triwidodo

“Kulihat putra Dhrtarastra, para Kaurava bersama para raja-raja lain (di pihak mereka); Bhisma, Drona, dan Karna – putra sais; pun demikian para kesatria agung dari pihak kita; semuanya dengan cepat memasuki mulut-mulut-Mu yang bertaring dan sungguh mengerikan; beberapa di antara mereka tersangkut di sela-sela gigi-Mu, kepala mereka hancur karena benturan.” Bhagavad Gita 11:26-27

Arjuna melihat bahwa mereka yang berperang dan yang akan mati. Hal ini memberi semangat bahwa dia hanyalah alat Gusti, tanpa dia akan ada orang lain yang akan membunuh orang-orang yang akan mati tersebut. Sesungguhnya yang memusnahkan musuh adalah Sri Krishna sendiri.

“Sebagaimana laron terburu-buru memasuki nyala api untuk menemukan ajalnya; pun demikian seantero dunia dengan seluruh isinya sedang memasuki mulut-Mu dengan cepat, untuk berhancur-lebur tanpa bekas.” Bhagavad Gita 11:29

Penglihatan Arjuna bukanlah eksklusif “penglihatan” saat perang saja. Sesungguhnya, keadaan kita yang tidak terlibat dalam perang pun kurang lebih sama. Perjuangan hidup ini sama dengan perang. Kita pun sedang menuju mulut-Nya untuk hancur, musnah dan tercipta ulang. Lalu, APA BEDANYA? Apa beda antara mereka yang berpihak pada dharma — kebajikan – dan mereka yang berpihak pada adharma — kebatilan? Bukankah dua-duanya hancur juga? Bukankah dua-duanya akhirnya mati juga?

Ya, jika kita memperhatikan raga, maka dua-duanya hancur, punah. Dan, dua-duanya juga barangkali tercipta kembali untuk rnemasuki panggung dunia yang sama. Pertanyaannya, sebagai apa? Setiap pengalaman kehidupan rnemperkaya Jiwa. Berdasarkan kekayaannya itu, ia mengambil peran berikut yang sesuai dengan wataknya, keahliannya.

…………..

KITA MAU JADI APA? Puaskah kita sebagai Kaurava? Atau, kita ingin menjadi Pandava dan bersahabat dengan Krsna? Atau, malah ingin memainkan peran Krsna?

Jika mau menjadi Kaurava, maka silakan tetap berada dalam kubu adharma. Saat ini, mayoritas di antara kita berada dalam kubu tersebut. Tapi, jika ingin mendapatkan peran Pandava atau Krsna, maka kita mesti pindah kubu. Kita mesti memperkaya diri dengan dharma, kebajikan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ketika Krishna sedang mempersiapkan penyerangan yang ke-18, seorang pemimpin dari Yavana yang bernama Kalayavana berniat untuk menyerang Mathura. Karena dia memperoleh keterangan dari Rishi Narada bahwa hanya para Yadava yang akan mampu menandingi kekuatannya. Tertantang oleh hal inilah Kalayavana pergi untuk bertarung ke Mathura. Mengetahui tentang musuh yang baru ini segera saja Krishna membuat benteng pertahanan yang tak mungkin terkalahkan. Dalam 1 hari dibantu dengan arsitek-arsitek dan para ahli yang adalah para dewa sendiri maka benteng pertahanan itu pun selesai dibuat sehingga seluruh rakyat Mathura terlindungi dengan aman.

Krishna kemudian keluar dari benteng Mathura dan berhadapan langsung dengan Kalayavana. Melihat Krishna berdiri di hadapannya tanpa senjata apa pun maka Kalayavana pun menaruh seluruh senjatanya dan kini keduanya berhadapan dengan tangan kosong. Segera saja Kalayavana menyerang Krishna, namun ternyata Krishna berlari menjauhi Kalayavana dan terus saja berlari. Meski seolah-olah Krishna hampir tertangkap, tetap saja Krishna mampu untuk tidak tersentuh sedikit pun.

Tak lama kemudian Krishna memasuki sebuah gua di tepi gunung. Kalayavana pun gusar dan berteriak-teriak dari luar mulut gua sambil mengejek Krishna, “Mengapa kau melarikan diri dari musuhmu Krishna?” Karena Krishna tetap tidak keluar dari gua, maka dia pun memasuki mulut gua. Dia dalam gua ternyata Kalayavana menemukan seseorang yang sedang tertidur, dan berpikir orang itu adalah Krishna. Segera saja dia menendang orang yang sedang tertidur itu dan ketika orang tersebut bangun dan membuka matanya, tatapan matanya dalam sekejap membuat Kalayavana terbakar dan menjadi setumpuk abu.

Ternyata orang itu bernama Mucukunda anak dari Mandhata. Dia sebelumnya telah mengabdi kepada para dewa dengan ketekunan yang sangat luar biasa dalam waktu yang sangat lama. Sampai akhirnya para dewa kemudian membebaskannya dari kewajibannya yang telah dilaksanakannya dengan sangat baik. Kemudian dia diperbolehkan untuk meminta apa pun pada para dewa. Mucukunda meminta agar dapat tidur tanpa terganggu. Dan siapa pun yang membangunkannya akan mati terbakar menjadi abu. Karena itulah Kalayavana mati menjadi abu.

Sesaat kemudian Krishna pun muncul dan berdiri di hadapan Mucukunda yang segera merasa tergetar hatinya karena menyadari keilahian dalam diri Krishna: “Wahai Engkau yang berdiri di hadapanku, Cahaya-Mu melampaui keagungan matahari, bulan dan api. Menurutku Engkau adalah perwujudan Gusti Vishnu.“

Kemudian Mucukunda menceritakan asal-usulnya sampai dia tertidur di dalam goa. Selanjutnya Mucukunda meminta Krishna untuk menceritakan tentang diri-Nya  dan kebaikan apa saja yang telah diperbuat oleh-Nya.

Lalu Krishna pun berkata pada Mucukunda, “Mucukunda, perwujudan-Ku dan perbuatan-Ku sungguhlah tak mungkin dapat dihitung oleh siapa pun. Namun demikian, Aku akan menceritakan padamu tentang perwujudan-Ku saat ini. Aku lahir di keluarga Vasudeva, demi menjawab doa Brahma akan keadaan dunia saat ini. Untuk itu Aku telah banyak sekali menewaskan orang-orang jahat termasuk Kamsa. Bahkan Kalayavana pun Aku yang memusnahkannya melalu tatapan matamu.”

Mendengar perkataan Krishna, Mucukunda memohon untuk dapat mengucapkan doa untuk-Nya.

Mucukunda berkata, “Ya Gusti Pangeran, orang – orang yang terperangkap dalam ilusi-Mu sebenarnya mereka tak memuja-Mu. Mereka terikat pada rumah, keluarga, dan lain sebagainya di mana mereka mencari kesenangan meskipun sebenarnya yang mereka dapatkan adalah penderitaan. Kelahiran sebagai manusia sebenarnya merupakan hal yang sangat sulit dicapai namun mereka yang tidak sadar bukan memanfaatkan kesempatan yang sangat luar biasa ini malah memuja dan terikat pada duniawi. Lihatlah aku. Dulu aku begitu takabur sebagai raja yang dikelilingi oleh prajurit dan para patih yang luar biasa, tertipu dengan badanku, aku menganggapnya sebagai jati diriku yang sebenarnya sehingga aku begitu terikat dengan hubungan duniawi dan kekayaan. Namun Engkau, sebagai Jiwa dari Sang Waktu memasuki kehidupan kami para manusia, perlahan-lahan tanpa kami sadari dan membuat segala yang kami capai dan kami miliki menjadi tak berguna. Badan, tubuh yang sama yang menjadi raja, sesaat kemudian akan menjadi mayat, yang akhirnya menjadi kotoran, cacing ataupun abu.

“Ya Gusti Pangeran, bahkan seorang penakluk dunia pun menjadi mangsa dari Sang Nafsu, sehingga dia pun menjadi budak dari kesenangan. Atau seseorang yang begitu banyak berbuat kebaikan, sehingga mendapatkan hiburan sesaat di surga. Itu pun tak akan menyelesaikan masalah lingkaran kelahiran ini, kita akan terlahir kembali dan masuk kembali dalam lingkaran samsara. Hanya mereka yang hampir selesai menempuh lingkaran kelahiran dan kematian memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang suci, yang akan melahirkan rasa cinta tak berbatas yang pada akhirnya akan memutus tali samsara.”

Ya Gusti Pangeran, Kau menanyakan padaku permintaan apa yang kuinginkan. Bagiku cukup sudah yang Kau berikan padaku. Kau telah membebaskanku dari keterikatan akan kedudukan. Aku tidak akan memohon apa pun lagi selain agar aku tetap bersembah sujud di bawah kaki-Mu. Siapa manusia yang akan meminta hal-hal lain bila ia telah melihat Keilahian di dalam kaki-Mu? Maka dari itu aku menolak semua keinginan duniawi yang seluruhnya masih berada di bawah 3 kekuasaan alam, maka dari itu aku memohon perlindungan di bawah kaki suci-Mu. Kaulah Sang Manusia Ilahi, Kaulah Sang Kesadaran Murni. Tersiksa oleh karma dan dorongan-dorongan dalam diri yang tidak Ilahi, hanya oleh berkah dari-Mu aku memperoleh kesadaran ini. Oh Gusti Pangeran, lindungilah aku.”

Kemudian Krishna berkata: “Hanya karena ingin menguji cinta dan bhaktimulah maka aku menawarkan permintaan padamu. Mulai saat ini berusahalah terus untuk melepaskan diri dari segala keterikatan dan sucikan dirimu dari kesalahanmu dulu yaitu kesenangan dalam berburu dan lain-lain, meskipun kesalahan itu bukanlah kesengajaanmu, melainkan terjadi karena jabatanmu sebagai seorang raja. Dalam kelahiran berikutnya kau akan terlahir sebagai seorang brahmacharya dan tanpa diragukan lagi kau akan menyatu dengan-Ku.”

Jarasandha: Pengumpulan Penjahat untuk Dimusnahkan Krishna #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on August 27, 2017 by triwidodo

Perang antara Rama dan Rahwana hanyalah sebuah sandiwara. Banyak sekali diantara kita yang mengira perang itu hanya dongeng berkala, tetapi kurang lebih 8,000 tahun sebelum Masehi, perang semacam itu memang ada dan harus terjadi, untuk membersihkan bumi ini dari sub-human species bentuk kehidupan yang terciptakan karena hubungan seksual antar manusia dan binatang. Apa yang kita sebut raksasa atau demon itu merupakan jenis kehidupan yang memang harus dilenyapkan. Bagaimana juga yang dilenyapkan hanyalah “bentuk” atau “wujud” kehidupan tersebut. Jiwa mereka, roh mereka justru mengalami evolusi, peningkatan, dan lahir kembali sebagai manusia.

Rahwana berperan sebagai raja para raksasa, sehingga ia mampu mengumpulkan mereka di satu tempat, di medan perang. Lalu datang Sri Rama, dan dalam satu minggu, selesailah pekerjaan itu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Nampaknya demikianlah salah satu cara Gusti Sang Pemelihara Alam bertindak untuk menyelamatkan alam. Perang Bharatayudha pun rupanya membuat penyelesaian Sang Pemelihara Alam lebih mudah, karena semua kerajaan tergabung dalam dua koalisi yang berperang. Demikian juga nampaknya, Jarasandha sengaja tidak dibunuh dahulu agar mengumpulkan para penjahat dan mudah memusnahkan para penjahat tersebut…….. Mungkinkah demikian juga kondisi saat ini? Para penjahat bersatu, memang menakutkan akan tetapi menjadi lebih mudah diselesaikan?

Jarasandha adalah ayah mertua dari Kamsa. Karena mengetahui kematian Kamsa oleh Krishna, maka dengan kemarahan yang luar biasa segera saja dia mengumpulkan pasukan untuk menyerang Krishna.

Mengetahui hal ini Krishna berkata, “Akan kumusnahkan Jarasandha beserta seluruh orang yang bergabung dengannya, namun aku tidak akan membunuhnya sekarang, aku akan membiarkannya selamat sehingga dia akan mengumpulkan lagi lebih banyak orang yang jahat bersamanya sehingga aku tak perlu lagi mengumpulkan mereka. Tujuan kelahiran-Ku memang untuk hal ini. Mengurangi derita dunia yang disebabkan oleh orang-orang jahat ini dan melindungi kebaikan. Meskipun begitu, dalam kehidupan sebelumnya Aku pun memiliki beberapa perwujudan dengan tujuan untuk melindungi Dharma.”

Segera setelah itu bersama Balarama, Krishna membuat rencana untuk melindungi rakyat Mathura.

Pada saat yang bersamaan datanglah kendaraan terbang dengan membawa senjata pemusnah mendekati udara Mathura. Kemudian Krishna dan Balarama muncul dari dalam kota, dan kemudian Krishna meniup terompetnya yang membuat tentara musuh segera panik.

Jarashanda meledek penampilan Krishna yang terlihat masih terlalu muda. Dan segera menantang Balarama. Kemudian Jarasandha memerintahkan untuk segera menembakan senjata pemusnah kepada kedua bersaudara tersebut. Dan, setelah misil itu meledak sampai–sampai tubuh Krishna dan Balarama tidak dapat terlihat tertutup debu ledakan. Para penonton terutama wanita sudah ketakutan dan histeris. Namun, tidak lama kemudian keluarlah Krishna dan Balarama dari kepulan asap dan segera menghancurkan seluruh pasukan Jarasandha. Sebenarnya hal ini tidak terlalu mengejutkan karena memang sebenarnya Gusti yang menciptakan, menjaga, dan memusnahkan alam semesta.

Balarama menangkap Jarasandha, dan sebenarnya bisa saja dia membunuh Jarasandha namun demi memenuhi rencana Krishna maka niatnya pun diurungkan. Jarasandha dilepaskan dan sambil menunduk malu dia pergi meninggalkan Mathura. Krishna dan Balarama segera kembali ke Mathura, dan mempersembahkan Raja Ugrasena perhiasan dan kekayaan yang didapat dari kemenangan pertempuran dengan Jarasandha.

Berulang kali Jarasandha menyerang Mathura, berulang kali juga dia dilepaskan oleh Krishna. Memang inilah yang diinginkan oleh Krishna agar Jarasandha terus-menerus mengumpulkan tentara yang terdiri dari orang-orang yang jahat sehingga Krishna tidak perlu repot-repot mencari mereka satu per satu. Tepatnya sudah 17 kali Jarasandha menyerang Mathura.

Akrura: Pembawa Pesan Krishna ke Hastina #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 26, 2017 by triwidodo

Pembawa pesan seperti Hanuman bukan Angada

Rama pernah mengutus Angada, untuk bernegosiasi dengan Rahvana, “Jika Yang Mulia berkenan melepas Sita, saya akan menarik para prajurit saya,” pesan Rama sangat jelas. Ia tidak berada di sana untuk sebuah ekspedisi militer untuk menganeksasi Lanka kedalam kerajaannya.

Rahvana tetap bersikukuh. Ia tidak mau melepaskan Sita. Ia justru mencoba mempengaruhi Angada untuk berkhianat pada Rama. Ia meracuni pikiran Angada dengan semua hal-hal buruk tentang Rama. Angada tetap bertahan untuk mendengar Rahvana. Inilah kesalahan Angada. Ia sebenarnya tidak ada urusan untuk mendengar cerita-cerita tersebut. Itu bukan bagian dari tugasnya. Ia berada di sana hanya untuk menyampaikan pesan dari tuannya, Rama. Ia seharusnya langsung pulang setelah menyampaikan pesan. Ia tidak langsung pulang, dan Rahvana pun memanfaatkan situasi tersebut dengan sangat baik.

                Angada adalah orang yang berbeda ketika ia kembali ke ke Rama. Ia memendam amarah dan kebencian kepada Rama, yang ia anggap sebagai pembunuh ayahandanya.

                Rama memang membantu Sugriva, paman Angada dan yang juga ayah angkatnya, dalam sebuah pertarungan melawan ayah kandung Angada, Bali. Namun bantuan yang diberikan oleh Rama tersebut bukanlah karena ada hubungan khusus dengan Sugriva. Rama tidak mengenal Sugriva dan Bali. Bantuan itu diberikan bukan atas keberpihakan Rama.

                Rama membantu Sugriva setelah mendengarkan kesedihannya, dan ia mendapati sendiri kebenaran dari kata-kata Sugriva tersebut. Yakin atas kebenaran informasi dari Sugriva dan kezaliman yang dilakukan Bali terhadapnya, maka Rama pun memutuskan untuk membantunya. Tindakan tersebut merupakan tindakan politis sekaligus etis.

                Hanuman—yang menjadi saksi atas semua peristiwa tersebut—harus mendisiplinkan Angada, “Aku berhubungan baik dengan ayahmu maupun dengan pamanmu. Keduanya adalah orang yang dekat dengan aku dan aku sayang. Tapi aku membela Sugriva dan bukan ayahmu, karena budaya kita, tradisi kita, prinsip-prinsip serta nilai-nilai yang kita junjung tinggi yang jadi taruhannya.

                Ayahmu melanggar semua hal tersebut. Partarungan ayahmu Bali, dan pamanmu, yang sekarang ayah angkatmu, Sugriva—bukanlah sebuah pertarungan memperebutkan kekuasaan duniawi. Pertarungan itu adalah pertarungan antara dharma kebenaran, dan adharma, kebatilan.

 

Ketahuilah Angada, bahwa dharma harus ditegakkan selamanya apa pun resikonya. Demi kebaikan masyarakat luas, hubungan serta kenyamanan pribadi mesti dikorbankan. Ini adalah tindakan yang tepat bagi semua ksatria.

                “Tidakkah kamu cukup peka terhadap ketulusan serta kejujuran Sugriva? Di hari ketika ayahmu terbunuh dan dia menggantikan ayahmu sebagai raja para kera, di hari yang sama pula, ia juga mengumumkan kamu sebagai putra mahkota untuk meneruskannya.

                Angada menyadari kesalahannya, “Memang benar seperti yang sering dikatakan bahwa pergaulan yang buruk akan menularkan sifat yang buruk pula, dan pergaulan yang baik akan menularkan sifat yang baik. Hamba berada dalam lingkungan yang buruk. Hamba tidak bisa menahan diri untuk tidak dipengaruhi oleh Rahvana. Maafkan hamba, tuanku, Rama.”

                Ketika dikelilingi oleh sifat-sifat raksasa, kita harus bisa langsung mengatakan “selamat tinggal” setelah dengan cepat menyapa “Hai”. Tunaikan tugasmu dan langsung kembali. Kembalilah ke lingkunganmu. Jangan buang-buang waktu sedetik pun dengan orang-orang semacam itu, karena kau akan terpengaruh oleh mereka. Terjemahan bebas dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kadang kita datang menghadap tokoh atau pejabat suatu instansi dan kemudian kita terpengaruh oleh kemegahan yang dimiliki si Pejabat, dan kita melupakaan diri kita sebagai pembawa pesan dari Gusti yang mewujud dalam diri Sang Pembawa Pesan. Akrura tidak bertindak seperti Angada yang terpengaruh kegemerlapan istana Rahvana, walaupun Hastina adalah sebuah kerajaan besar sekali yang diperintah oleh seorang Maharaja. Akrura selalu mengingat bahwa dirinya hanyalah pembawa pesan dari Gusti yang telah mewujud, sehingga dia tidak terpengaruh dan selalu ingat tugas dia sebagai pembawa pesan.

Akrura pergi ke Hastinapura. Di sana, dia bertemu dengan Dhrtarastra, sang raja yang telah lanjut usia, anak-anaknya, para penasihat termasuk Bhisma yang agung, anak-anak Pandu dan ibu mereka, Kunti. Bergantian mereka menyalami Akrura.

Setelah selesai dari pertemuan resmi, Akrura menemui Kunti. Kunti dan Vidura menyampaikan pada Akrura perkara mengenai perlakuan tidak adil dan semena-mena yang diterima oleh para putra Pandu dari sang raja yang telah lanjut usia. Yang sepenuhnya dikendalikan oleh anak-anaknya yang jahat.

Sambil berlinang airmata, Kunti berkata pada Akrura: “Apakah  sanak keluargaku masih mengingatku? Bagaimana kabar sang keponakanku yang suci, Krishna? Apakah Ia mengingat kami, para bhakta-Nya, yang sedang mengalami derita ketidakadilan dari saudara iparku dan anak-anaknya? Akankah Dia membantu kami untuk segera terbebaskan dari perlakuan sewenang-wenang ini?”

Karena memikirkan Krishna tiba-tiba saja Kunti tidak dapat menahan perasaannya, dia meneriakkan nama Krishna: “Krishna sang Maha Yogi,  yang mampu berada di mana pun, lindungilah aku yang telah menyerahkan keselamatanku sepenuhnya dibawah kaki-Mu. Bagiku tiada yang dapat memberikan kebebasan paripurna selain dibawah kaki-Mu. Aku berlindung pada-Mu wahai Sri Krishna, sang Jati Diri Agung, Sang Yogi.”

Akrura mencoba menghibur Kunti dengan mengatakan bahwa anak-anaknya telah dilindungi oleh keilahian.

Sebelum pergi, Akrura menasihati Dhrtarastra, “Kau telah menaiki singgasana kerajaan karena saudaramu Pandu telah tiada. Ini membuatmu memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Kau akan mampu menjadi raja yang dimuliakan hanya bila kau bertindak adil pada anak dan para keponakanmu. Lagipula apa pun hubungan kita dengan orang lain, kita tidak akan pernah hidup selamanya. Semua orang lahir sendirian, mati sendirian, juga menikmati hasil perbuatan baik maupun buruknya sendirian pula. Maka dari itu sungguhlah sia-sia menyalahkan orang lain untuk tindakan yang kita lakukan. Apa pun yang kita terima dalam kehidupan di dunia ini, baik ataupun buruk semuanya karena kita juga. Sadarilah bahwa dunia ini tak lebih dari mimpi dan jangan terkecohkan oleh keterikatan padanya yang akan membuatmu bertindak tidak adil kepada yang lain.”

Dhrtarastra membela diri  akan ketidaksediaannya untuk mengikuti nasihat dari Akrura walau pada dasarnya dia menyadari kebijaksanaan di balik kata-kata yang diucapkan oleh Akrura. Karena dia tidak bisa melepaskan diri dari keterikatan pada anak-anaknya, meski dia menyadari bahwa anak-anaknya malah menjerumuskan dirinya pada jurang kejahatan.”

Akrura pun berkata, “Tiada seorang pun yang mampu untuk menghalangi keinginan Gusti untuk lahir di Yadava dengan misi menghilangkan penderitaan dunia. Aku bersujud pada Gusti yang kehendak-Nya begitu misterius.”

Kemudian, Akrura segera kembali ke Mathura dan melaporkan segalanya kepada Krishna dan Balarama.

Vasudeva, Akrura, Uddhava: Menjadi Alat Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 24, 2017 by triwidodo

Selalu ingat bahwa Hyang bekerja bukanlah kita. Kita hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Serahkan semuanya kepada Dia. Kita berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego. Catatan Pesan Bapak Anand Krishna 2012

 

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

Kuncinya adalah berkarya tanpa pamrih.Ketika seseorang berkarya dengan semangat demikian,maka sesungguhnya ia ‘tidak berkarya’, karena ia tidak tersentuh oleh konsekuensi dari perbuatannya. Itulah Akarma-karma.

…………..

Bagaimana membebaskan diri dari setetes, dua tetes nila konsekuensi kebatilan itu? Bagaimana menyucikan diri? Bagaimana menetralisir dampak negatif dari karma kita?

Krsna menjawab: DENGAN KESADARAN SEJATI….. Berkarya dengan penuh kesadaran, bahwa sesungguhnya Jiwa tidak tersentuh oleh akibat atau konsekuensi dari perbuatan apa pun. Ini sisi lain dari filsafat spiritual.

Sisi yang lebih umum adalah berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya Tuhan Hyang Berkarya, kita hanyalah alat-Nya.

Namun, dari sisi lain, Jiwa sesungguhnya tidak berkarya, adalah badan, indra, dan dan mind atau gugusan pikiran serta perasaan yang berkarya.

Kembali pada niat di balik pekerjaan — kedua-dua konsep ini mampu membebaskan kita dari dampak negatif perbuatan baik kita.

Saya ulangi… DAMPAK NEGATIF DARI PERBUATAN BAIK – Bukan dampak negatif dari perbuatan yang jelas-jelas 100% negatif. Perbuatan 100% negatif mesti ditanggung konsekuensinya secara utuh — 100%. Lagi-lagi oleh badan, indra, dan mind atau gugusan pikiran serta perasaan. Kita tidak membahas hal itu. Itu sudah jelas.

Yang sedang kita bahas di sini adalah dampak negatif, dalam pengertian seperti by-product yang dihasilkan oleh industri yang baik. Hasil industri sudah baik, tapi ada sampah. Sebaik-baiknya industri, pasti ada waste-nya. Mau diapakan? Mesti dilebur, didaur ulang, atau diapakan?

BY-PRODUCT NEGATIF DARI KARMA BAIK ‘tersucikan’ oleh kesadaran kita sendiri. Berarti, ketika kita berbuat dengan semangat melayani, dengan memahami hukum karma; sesungguhnya kita sudah sekaligus mengatasi persoalan sampah saat ‘berproduksi’.

Berkarya tanpa pamrih, tanpa motif duniawi – adalah ibarat produk tanpa residu, tanpa waste, tanpa sampah! Sebab itu, seorang yang berkarya dengan semangat itu, diakui sebagai orang bijak oleh para pundit, mereka yang berpengetahuan ‘sekalipun’. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu saat Vasudeva menyampaikan kepada Krishna dan Balarama tentang handai taulan mereka. Vasudeva menyampaikan bahwa dia mempunyai seorang saudari yang sejak kecil diangkat anak oleh raja Kunti Bhoja yang tidak punya anak. Bibi Krishna dan Balarama tersebut bernama Prtha, yang kemudian dikenal sebagai Kunti karena merupakan putri Raja Kunti Bhoja.

Kunti dijodohkan dengan Pandu dari Dinasti Kaurava. Baik Dinasti Kaurava maupun Dinasti Yadu, Yadava, dinasti mereka semuanya adalah anak keturunan Raja Yayati. Pandu mempunyai saudara yang buta bernama Dhrtarastra. Pandu memerintah kerajaan Hastina dibantu Bhisma. Pandu telah meninggal, dan terjadi intrik-intrik perebutan kekuasaan antara Pandava, Putra Pandu dengan Kaurava Putra Dhrtrarastra.

Vasudeva menyampaikan bahwa Krishna telah menyelamatkan Dinasti Yadava dari Kamsa, semoga Krishna juga menyelamatkan Dinasti Kaurava. Vasudeva mengatakan bahwa Kunti, saudarinya adalah wanita yang baik, maka putra-putranya adalah putra-putra yang baik……

Krishna mendengarkan dengan cermat dan berjanji akan memperhatikan nasehat ayahandanya.

Apakah yang tidak diketahui Krishna? Untuk menyelesaikan tugasnya di dunia, Krishna harus berkarya lewat “alat-alat”. Berbahagialah mereka, para manusia yang bersedia menjadi alat Krishna. Vasudeva adalah alat Gusti sebagai ayah kandung wujud Krishna, alat yang menyelamatkan wujud Krishna sewaktu masih bayi. Vasudeva bahkan menjadi alat Krishna untuk memulai terjun ke pertikaian Dinasti Kaurava dengan nasehat yang sebenarnya berasal dari Krishna sendiri.

Sebagaimana Sri Rama di kehidupan sebelumnya, maka selain menyelesaikan tugas utama di dunia, Krishna juga menemui para bhaktanya.

 

Krishna mengingat janjinya kepada Akrura. Dan bersama Uddhava, Krishna pergi menuju rumah Akrura. Akrura menerima Krishna dengan perasaan luar biasa bahagia. Meskipun mereka berdua jauh lebih muda darinya, ia menyadari keilahian di dalam diri Krishna sehingga dia pun memuja-Nya: “Kaulah perwujudan Gusti dan segala kekuatan-Nya itu sendiri. Kau pula yang menciptakan dan mempertahankan dunia ini.  Kaulah yang bersemayam dalam segala sesuatu. Kau tak mungkin dikenal oleh mereka yang tidak memiliki kesadaran. Kau tidak terikat dengan tubuh, yang biasa kau gunakan sehari-hari. Kau tidak dilahirkan, abadi, dan tak terbatas. Dengan keinginan-Mu sendiri  Kau menciptakan seluruh tubuh-Mu dari Satva, untuk memelihara Dharma. Tiada satu pun orang bijak yang tidak mencari perlindungan-Mu. Sahabat dan pemberi bagi semua. Benar-benar merupakan anugerah yang tidak terhingga bagi kami, karena Kau berkenan datang ke rumahku dan memberkatinya dengan debu kaki-Mu. Untuk memutuskan ikatan dari anak, istri, tubuh, rumah dan lain-lain yang merupakan hasil dari Ilusi-Mu sendiri.”

Kemudian Krishna menjawab: “Kami adalah anak-Mu dan kaulah orang tuaku. Setiap orang suci pun memujamu.  Bahkan jika dibandingkan dengan para dewa, mereka itu egois sedangkan engkau tidak. Para pencinta akan tersucikan setelah beberapa lama memuja dewa dan sungai suci, namun dengan memuja orang suci akan menyucikanmu seketika. Sekarang pergilah ke Hastinapura, carilah informasi keadaan di sana. Para Pandava baru saja kembali dari pengasingan, namun Dhrtarastra yang berada dalam pengaruh anak yang jahat sepertinya sedang malas untuk berbuat adil kepada keponakan-keponakannya. Setelah engkau mendapatkan kabar yang jelas. Kami akan segera melakukan tindakan yang tepat untuk teman-teman dan para bhakta yang berada di sana.”

Uddhava: Yang Bijak pun Belajar tentang Kasih dari Para Gopi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on August 23, 2017 by triwidodo

Para Gopi disebut-sebut sebagai reinkarnasi para pertapa yang telah mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu, tetapi belum mencicipi manisnya kasih. Mereka lahir kembali untuk menyelesaikan “skripsi”. Untuk mcngikuti “semester terakhir”. Sungguh beruntung mereka, karena Krishna menjadi dosen pembimbing mereka.

Sebelumnya, mereka hidup dalam masa yang berbeda. Setelah meninggalkan badan, di alam “transit” sana, mereka janjian, “Ada yang masih kurang nih. . .. Kembali yuk!”

Dan mereka menunggu lama sampai “berita” kelahiran Krishna. Mereka mendengar bahwa akan lahir scorang Avatar. Seseorang yang sudah mencapai Kesadaran Tertinggi dan balik lagi atas Kemauan-Nya “Sendiri”.  Jangan lupa bahwa “Sendiri” orang semacam itu tidak sama dengan “sendiri kita”. Seperti juga “Aku” dia tidak sama dengan “aku kita”.

                Ibarat para siswa, pertapa-pertapa itu menunggu kedatangan seorang Dosen Favorit. Sengaja mereka memilih lahir lebih awal, karena “informasi” yang mereka miliki, bahwa Krishna akan menjadi sangat sibuk. Jadi, antre duluan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keesokan harinya, ketika Matahari baru saja terbit para gopi melihat kereta kuda di halaman rumah Nanda, mereka melihat kereta itu bentuknya mirip dengan kereta kuda Akrura, orang  yang telah membawa Krishna, sumber kehidupan mereka. Kemudian mereka bertanya-tanya dalam hati kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh Akrura? Dan di saat yang bersamaan Uddhava baru saja kembali ke rumah Nanda dari sungai setelah menyelesaikan doa paginya.

Para gopi menyadari kehadiran Uddhava. Mereka melihat bahwa cara berpakaian Uddhava mirip sekali dengan Krishna, dan para gopi bisa merasakan bahwa Uddhava ini sahabat dari Krishna ataupun pencinta Krishna juga, sama seperti mereka.

Para gopi berkata, “Kami tahu engkau adalah sahabat dan pembawa pesan Krishna. Dari kehadiranmu di sini kami juga tahu bahwa kedatanganmu adalah untuk berbicara dengan kedua orang tua Krishna. Tetapi katakanlah pada kami apa lagi yang diingat oleh Krishna di Brindavan. Para pertapa saja masih suka mengingat-ngingat keindahan hubungan keluarga mereka. Namun, saat tujuan pertapaannya tercapai, seluruh hubungan kerabat dan kekeluargaan langsung terlepaskan. Namun itu tidak berlaku bagi kami. Kami senantiasa hanya mengingat-ingat pertemuan dan kebersamaan kami dengan Krishna. Penuh cinta dan air mata.”

 

Kesadaran Udhava seorang Gyaani sahabat Krishna

Uddhava, salah seorang sahabat Krishna, menganggap diri seorang Gyaani, seseorang yang sudah berkesadaran. Berpengetahuan tinggi, sejati dan berpengalaman pribadi. Uddhava sudah bisa melihat Kebenaran di balik wujud Krishna. Dia tidak lagi terikat dengan wujud dan sifat, dengan rupa dan nama. Yang penting baginya adalah zat ilahi.

Melihat para Gopi di Brindavan menangisi Krishna, karena rindu terpisah dari wujud Sang Avatar, dia merasa kasihan.

Dia menegur mereka. “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah Avatar, Penjelmaan Ilahi. Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah avatar? Penjelmaan Ilahi? Lalu apa yang kalian tangisi? Wujud dia dan wujud setiap makhluk. Berusahalah untuk melihat Kebenaran Sejati itu, Kebenaran yang ada di mana-mana. Di sini, di sana…….

…………………

Bagi seorang Uddhava, patung dan wujud seorang avatar – kedua-duanya – adalah berhala yang harus dilampaui, dilewati.

Dia mendesak para Gopi untuk melihat Kebenaran dari sisi yang satu itu, “Kalian tidak bisa melihat Kebenaran di balik wujud? Tidak bisa merasakan Kebenaran Yang Satu itu?…….

………………….

 

Uddhava, kami sudah tidak dapat berpikir lagi. Tidak dapat merasakan sesuatu lagi. Yang terpikir dan terasa hanyalah Krishna, Krishna, Krishna….”

Uddhava baru menyadari kesalahannya. Dia salah menilai para Gopi. Untuk mencapai kesadaran kasih, memang segala sesuatu di luar kasih harus “dilepaskan”. Dan Uddhava masih berada pada tingkat “pelepasan” itu.

Sebaliknya, para Gopi telah mencapai kesadaran kasih. Sudah tidak perlu melepaskan apa-apa lgi. Karena memang tidak ada yang bisa dilepaskan. Tidak ada yang bisa melepaskan. Bagi para Gopi, yang ada hanyalah kasih, kasih dan kasih. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

……………..

Sesungguhnya, para Gopi menyadari kemahaadaan-Krishna. But, what about the body? Bagaimana dengan badan ini? Kita masih berbadan. Anda dan saya masih berbadan. Sementara roh telah mengalami persatuan dan kesatuan rohani, bagaimana dengan badan?

Badan merasa iri. Dia pun ingin merasakan kesatuan dan persatuan semacam ini. Apalagi “setelah” terjadi pertemuan rohani!

Itu sebab para bhakta, para pencinta Allah merindukan Allah. Sadar akan kemahahadiran-Nya, sadar akan kemahaadaan-Nya, sadar Dia ada di mana-mana — di dalam dan di luar diri — tetapi tetap rindu.

Sebelum terjadi pertemuan rohani kerinduan semacam ini tidak ada. Yang ada hanyalah “kehausan intelek untuk memahaml-Nya. Paling banter, tuntutan rasa untuk merasakan-Nya.

Intelek boleh berkata Tuhan ada di mana-mana. Rasa boleh merasakan kehadiran-Nya. Badan tetap saja haus. Bagaimana bertemu dengan-Nya? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Terguyur oleh cinta para gopi, Uddhava sampai lupa kembali ke Mathura. Beberapa bulan dia tinggal di Vajra dan bercerita tentang Krishna.  Kemudian dia berkata pada dirinya sendiri, “Para gopi  yang polos dan lugu ini sebenarnya merekalah yang telah mampu untuk memenuhi tujuan dari diciptakannya manusia, di mana pada saat yang sama para pemuka agama malah menghabiskan sisa hidupnya dalam ritual  yang tidak membawa mereka kemana pun. Para gopi ini terlihat seolah-olah tingkah laku mereka tidaklah suci namun sebenarnya mereka lebih suci dan lebih ilahi dari para suci itu sendiri, terutama dalam hal devosi dan cinta mereka kepada Krishna.  Biarlah aku terlahir kembali menjadi rerumputan di Vraja agar aku dapat mandi dari debu kaki para gopi, debu yang dapat mensucikan tiga dunia dengan menyanyikan keagungan Krishna.”

Ketika akan meninggalkan rumah Nanda, Uddhava pun berdoa: “Semoga pikiran ini akan selalu berserah diri pada kaki Krishna, semoga mulut ini akan selalu membicarakan keagungan Krishna, semoga tubuh ini bersujud pada-Nya yang meliputi segala sesuatu.  Semoga kami selalu dapat melayani-Nya dan apa pun yang menjadi takdir penciptaan kami, semoga kami dapat selalu mencintai dan mengabdi pada Krishna.”

Sampailah Uddhava di hadapan Krishna dan dengan setengah berlari segeralah dia bersujud di kaki Krishna, kemudian membasahi kaki-Nya dengan air mata cinta.