Krishna Kecil: Makna Gopi Telanjang di Hadapan Krishna? #SrimadBhagavatam

“Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kukehendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan Kasih-Mu yang tulus dan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam setiap masa kehidupanku.”

Seorang “murid”, dalam pemahaman bahasa Sindhi, bahasa ibuku, adalah seorang yang memiliki “murad” atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud.

Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal untuk memiliki kehadiran-Nya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadari-Nya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiran-Nya dengan keinginan-keinginan lain. Dan itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Adalah sebuah kebiasaan di zaman itu para gadis usia 10-14 tahun berdoa untuk mendapatkan jodohnya. Kita mestinya ingat bahwa dalam kisah perang Bharatayuda, Abhimanyu ayah Parikhsit meninggal dalam usia 16 tahun. Para gopi di Brindavan berdoa kepada Katyayani salah satu wujud Parvati, untuk mendapatkan suami yang baik. Hati para gopi telah tertaut dengan Krishna yang bahkan lebih muda dari pada mereka.

Pada hari itu setelah mengadakan melakukan puasa 1 bulan pada bulan Margashirsha, bulan ke 9 penanggalan India, para gopi melakukan persembahan kepada Dewi Katyayani dan kemudian mandi di Sungai Yamuna. Mereka tidak lagi memohon suami yang baik bagi mereka, akan tetapi mereka mohon agar Krishna menjadi suami mereka. Para Gopi meletakkan pakaian mereka di tepi sungai dan mereka berendam di tengah Sungai Yamuna. Krishna kemudian mengambil pakaian mereka dan memanjat pohon di dekatnya.

Pada saat para gopi bingung mencari pakaian mereka, Krishna berkata, “Duhai para gopi segeralah ke sini ambil pakaian kalian satu per satu, sudah lama kalian berendam, tidakkah kalian kedinginan?” Para gopi keluar dengan kedua tangan berupaya menutupi tubuh mereka.

Krishna melanjutkan, “Aku tahu apa yang ada dalam hatimu, hormatilah aku dengan cara menangkupkan kedua tangan di depan dada kepadaku. Tentu saja para gopi malu melakukannya, akan tetapi mereka jujur, bahwa mereka mencintai Krishna dan kini Krishna datang, dan mereka tahu bahwa Krishna berbicara dengan serius. Akhirnya para gopi dengan wajah merah karena malu, mendatangi Krishna dengan melakukan penghormatan dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada tanpa sehelai benang pun……..

Demikianlah tindakan para gopi yang mencintai Krishna. Mereka berpuasa 1 bulan mengendalikan diri dan kemudian melakukan persembahan dengan tujuan menjadi pasangan Krishna. Baju duniawi, bahkan rasa malu pun sudah ditinggalkan demi Gusti yang dipujanya. Tujuan hidup para Gopi adalah Gusti yang mewujud sebagai Krishna. Tak ada yang lain. Mereka segera menyelesaikan pekerjaan rumah tangga membantu orangtua mereka untuk segera bertemu Krishna saat mendengar suara seruling Krishna.

Bisakah kita menyelesaikan pekerjaan duniawi secepatnya dan ikut melantunkan bhajan, nyanyian persembahan, atau membuka buku yang merupakan surat cinta dari Gusti, atau membaca mantra, mengucapkan pujian ilahi? Bahkan dalam berkarya pun semua dipersembahkan kepada Gusti? Para gopi bisa melakukannya.

Menghadap Krishna dengan tanpa selembar benang bermakna para gopi telah pasrah terhadap Gusti dan tak ada sesuatu pun yang menutupinya, tak ada yang mengikat dirinya selain Gusti. Ini adalah tingkat tertinggi dari seorang bhakta, seorang murad, seorang yang hidupnya hanya berniat tunggal untuk menyatu dengan-Nya.

Kita masih ingat bahwa para gopi dalam kelahiran sebelumnya adalah para gyaani yang telah mendalami spiritualitas dan lahir sekali lagi hanya untuk mengalami “Cinta”.

Di Vrindavan itulah Krishna memulai “leela”-nya, permainannya! Para Gopi dan Gopala yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokul dan pindah bersama Nanda dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para rishi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta! Ya, mereka hanya lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembap, malah banyak di antara mereka yang “jatuh” karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guarding and guiding angels – akhirnya mereka sadar bahwa “Cinta” adalah Aksara Terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam sebuah wejangan, Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan tentang 3 “tipe” murid:

Tipe Pertama adalah Pashu Bhavana: Kesadaran masih seperti pashu, hewan jinak, kalau tidak diikat dia masih menuruti nafsunya. Orang tersebut masih memiliki sifat:

(1) contempt, nafsu rendah, kalau jalan seperti hewan menundukkan kepala sambil melihat bila ada makanan di depannya; apakah kita dalam menjalani kehidupan selalu melihat peluang “rejeki” yang bisa diambil?

(2) doubt, ragu, anjing akan  mencium makanan lebih dahulu sebelum memakannya, cium baju bekas pakai sebelum dipakai lagi, cium anggur sebelum minum; Ini pekerjaan tidak baik tapi nampaknya menguntungkan masih bisa dilakukan.

(3) fear, takut, takut ambil langkah, hewan takut kepada hal baru yang tidak biasa dilakukan; saya mengikuti jalan spiritual, apakah saya akan melarat dan sengsara?

(4) too much egoistic, terlalu egois, anjing tidak mau berbagi tulang dengan kawannya. Apakah kita demikian?

(5) disgust, menjijikkan, hewan tidak suka dimandikan, keterikatan terhadap bau badan. Bila manusia tidak sadar akan bau badannya, bagaimana dia bisa mencium pikiran, perasaan dan jiwanya? Apakah kita tidak membaui bau keserakahan kita atau nafsu kita terhadap lawan jenis?;

(6) family, memikirkan keluarga, bagi hewan keluarga sangat penting, bagi meditator apa yang ada dalam pikiran adalah famili yang sulit dilepaskan; hewan hanya ingin makanan untuk dia dan anak-anaknya, ayam lain yang ingin makan butir-butir jagung akan diusir, dilabrak induknya, apakah kita demikian?

(7) custom and tradition, kebiasaan dan tradisi, untuk melepaskan kebiasaan dan tradisi dibutuhkan keberanian; sudahkah kita melepaskan tradisi yang secara nalar sudah usang tapi masih dilaksanakan? Kita masih ingat dalam film MahaBharata Krishna menyampaikan bahwa tradisi awalnya seperti buah yang mentah, yang melakukan masih sedikit dan rasanya belum manis. Kemudian tradisi seperti buah yang masak dan semua orang senang melakukannya. Dan terakhir, tradisi seperti buah yang sudah busuk, sudah nggak enak dimakan tapi kita tak mau melepasnya karena masih dilakukan banyak orang?

(8). Cast, sejenis, hewan hanya menyukai mereka yang jenisnya sama. Apakah kita hanya menyukai kelompok kita? Dan salah atau tidak karena anggota kelompok kita dia perlu dimaafkan sedangkan orang lain walau baik, bukan kelompok kita dan jangan dipilih?

 

Tipe Kedua adalah Wira Bhavana: Berani, Sifat Manusia. Mempunyai niat untuk menghancurkan belenggu keterikatan. Kebanyakan murid merupakan tipe campuran antara tipe Pashu dan Tipe Wira Bhavana, gabungan manusia dan hewan yang jinak. Misalkan dari 8 sifat pashu, 6 sifat sudah terselesaikan.

Tipe Ketiga adalah Divya Bhawana: Sifat Ilahi. Berani ambil risiko. Bersiap diri dalam hal apa saja. Itulah yang sifat para gopi di Brindavan…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: