Krishna Kecil: Mengangkat Bukit Govardhana #SrimadBhagavatam

“Seperti apa kepedulian kita terhadap bumi dan sumber alam yang masih tersisa? Kita hanya mengambil, mencuri, dan merampas tanpa memberi. Ya, itulah yang kita lakukan selama ini, mengambil, mencuri, dan merampas. Seperti inikah sifat manusia? Seperti inikah sifat kita semestinya?

Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban ki-Moon, mengingatkan kita bahwa Kita tidak memiliki bumi ini, kita meminjamnya dari anak-cucu kita.” Pernahkah terpikir bahwa pinjaman ini mesti dikembalikan dalam keadaan yang baik, utuh, dan tidak rusak? Adakah kita berhak merusak sesuatu yang bukan milik kita? Apa yang menjadi milik kita? Kita tidak membawa sesuatu “dari sana”, dan kita tidak akan membawa sesuatu “ke sana.

Hanya kesadaran akan Kasih-Mu yang tulus tanpa pamrih yang kuinginkan dalam setiap masa hidupku”, mengisi hidup dengan kesadaran, ketulusan, dan kasih tanpa pamrih inilah yang selama ini terlupakan oleh kita. Jadi, tidak heran jika hidup kita amburadul. Kita hidup tidak selaras dengan alam. Alam maha pengasih dan mengasihi, kita maha pencuri dan merampas. Alam maha pemberi, kita maha pengambil. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari, semua penduduk Brindavan sedang sibuk mempersiapkan sebuah acara besar, ketika Krishna bertanya kepada Nanda, “Ayah ceritakanlah acara apa yang sedang dipersiapkan oleh penduduk Brindavan, setiap tahun nampaknya acara seperti ini selalu diadakan!”

Nanda berkata, “Penduduk Brindavan sedang menyiapkan perayaan untuk berterima kasih kepada Dewa Indra. Tahun ini curah hujan lebih baik karena berkahnya.”

Krishna bertanya, “Ayah, bagaimana dengan pelayanan Bukit Govardhana kepada penduduk Brindavan? Walaupun banyak awan mengandung hujan, apabila tidak ada Bukit Govardhana, awan tersebut tidak menabrak bukit dan hujan tidak turun, atau turun di tempat lain. Air hujan yang turun disimpan oleh akar-akar pohon yang tumbuh di bukit, disimpan, dan dikeluarkan sedikit-demi sedikit, sehingga tanah selalu basah dan air keluar pelan-pelan di mata air menuju Sungai Yamuna. Bukit itulah yang menyimpan air untuk seluruh tanaman dan makhluk di Brindavan. Bukit itulah tempat merumput bagi sapi, dan sapi memberikan susu bagi penduduk. Tanaman tulasi dan tanaman obat lain juga tumbuh di Bukit Govardhana memperoleh air dari air tanah yang tersimpan di bukit dan berguna bagi penduduk Brindavan. Bukit itu juga yang menyediakan makanan pokok bagi kita semua. Mari kita persembahkan perayaan ini bagi Bukit Govardhana!”

Banyak Master yang memberikan makna kisah yang berbeda sesuai dengan kondisi para muridnya. Berikut kita pilih kisah dalam buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna tahu bahwa ada seorang pawang hujan yang dipercaya oleh penduduk setempat. Si pawang hujan ini memposisikan sebagai setengah dewa dan menyebut dirinya Devendra. Krishna mengingatkan kita agar kita menghormati lingkungan atau bumi kita.

Krishna juga tahu bahwa kepercayaan warga desa secara kolektif yang mendatangkan hujan. Krishna ingin membebaskan warga dari ketergantungan dan arogansi si pawang hujan. Ia juga ingin membuat si pawang hujan supaya tidak sombong.

Pada suatu hari, turunlah hujan lebat. Yamuna mulai meluap. Warga desa berkumpul di pekarangan rumah sang pawang hujan. Sementara itu, si pawang hujan berada di dalam, bingung. Pasalnya, ia sudah melakukan apa saja yang biasanya dilakukan, tetapi hujan tetap deras, malah lebih deras lagi, “Apa lagi, apa lagi yang harus kubuat?”

Tiba-tiba muncullah Krishna dengan badannya yang kering. Warga desa bingung, “Krishna, kamu tidak basah?”

“Tidak,” jawab Krishna tenang, “Lihat, di atas ada awan. Entah bagaimana, awan itu mengikuti saya terus!”

Warga desa melihat ke atas. Betul, awan gelap, bagaikan bukit. Salah seorang di antara mereka berteriak, “Bukan, bukan awan…. Aku melihat bukit Govardhana yang diangkat oleh Krishna…”

Krishna térsenyum, “Bukit apa? Awan itu!”

“Tidak, tidak, bukit, bukit, itu bukit Govardhana…. Kau mengangkatnya dengan kelingkingmu. Govardhana Giridhaari, engkau mengangkat Giri, Bukit Govardhana dengan satu jarimu!”

Si pawang hujan pun keiuar dari rumahnya dan melihat sendiri apa yang dilihat juga oleh warga desa lainnya. Mereka semua mengerumuni Krishna. Awan, bukit, atau apa pun yang ada di atas Krishna itu melebar, membesar, sehingga seluruh warga desa berada di bawahnya. Seolah berada di bawah payung besar.

Saat itu juga, terdengar suara geledek… Tetapi, ada juga yang mendengar: “Ini hanya untuk menunjukkan kepada kalian semua bahwa Krishna bukanlah manusia hiasa. Kedatangannya adalah untuk memulai zaman baru.

Berbahagialah kalian yang lahir sezaman dengannya!”

Krishna menasihati mereka, “seorang pawang hujan bukanlah dewa, setengah dewa, apalagi Tuhan. Mintalah kepada Dia Hyang Maha Tunggal, maka seluruh kebutuhanmu akan terpenuhi.”

Mereka mendengarkannya.

“Ya, kebutuhanmu…. bukan melulu kemauanmu, karena kemauanmu belum tentu dapat membahagiakan dirimu. Serahkan urusan kebutuhan kepada Hyang Maha Mengetahui. Biarlah Ia sendiri yang menentukan apa yang kalian perlukan, karena Dia adalah Hyang Maha Memahami, Maha Memberi. Serahkan segala urusanmu kepada-Nya dengan penuh rasa cinta. Jangan takut, Hyang Maha Mencintai tidak membutuhkan rasa takutmu. Ia tidak membutuhkan apa-apa. Dengan mencintai-Nya, kalian akan mengenal cinta, Dan, cinta itulah kehidupan!” dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tidak lama kemudian hujan angin mereda dan seluruh penduduk Brindavan bersukacita. Mereka merasa mendapat anugerah luar biasa bahwa Gusti telah mewujud sebagai Krishna putra Nanda. Seluruh penduduk Brindavan sekarang sadar bahwa Krishna pula yang telah membunuh Putana, Sakatasura, Trinavarta, Vatsasura, Bakasura, Aghasura dan mengalahkan Kaliya.

Nanda meminta perhatian para penduduk dan membuka rahasia yang telah disampaikan Muni Garga sewaktu Krishna masih kecil. Muni Garga pada waktu itu menyampaikan bahwa Krishna juga disebut Vasudeva karena memang sebenarnya adalah putra Vasudeva. Nanda juga menyampaikan bahwa Krishna adalah Narayana yang mewujud ke bumi dan dialah yang paling ditakuti oleh Raja Kamsa.

 

Mengenai Bencana akibat Pemanasan Global

Seluruh bencana alam ini bukanlah kehendak Tuhan. Bukan ini yang Tuhan kehendaki dari manusia. Tidak. Ini semua salah kita sendiri. Kita telah menyebabkan “pemanasan global”. Naiknya suhu lautan telah menyebabkan berbagai bencana di bumi ini, termasuk di negeri kita tercinta ini. Dan kitalah yang membuat suhu tersebut naik. Kita telah menyiksa Ibu Alam kita. Kita telah menghina lingkungan hidup dan merusak seluruh ekosistem. Kini hasilnya sangatlah jelas untuk kita lihat bersama.

Sekarang, hanya terjadi sekitar 0,5% – 1% kenaikan suhu permukaan laut, tetapi bencana yang telah terjadi sungguh dahsyat. Kita tidak berani membayangkan apa jadinya kalau suhunya naik lebih banyak lagi. Jika kita tidak melakukan apa pun, maka 2.000 pulau di kepulauan Nusantara kita tercinta ini akan tenggelam akibat pemanasan global, sebagaimana ditayangkan oleh Voice of America dan disiarkan kembali oleh Metro TV, pada tanggal 5 Februari 2007 yang lalu.

Alasan mereka sangat klise: hal itu akan menyebabkan gangguan dan pengangguran pada industri mereka. Maaf, tapi saya pikir alasan itu sangatlah tidak cerdas. Apa gunanya seluruh industri dan lapangan kerja itu jika kita kehilangan planet ini? Kita harus secara serius berpikir, berkontemplasi, dan menangani masalah ini dengan lebih bijaksana, dengan lebih cerdas. Baik negara maju maupun negara berkembang harus sadar bahwa apa yang mereka lakukan tidak hanya memengaruhi diri mereka sendiri; tindakan mereka itu juga mempengaruhi seluruh dunia. Demi yang namanya “pembangunan”, kita tidak bisa kehilangan planet ini. Kita tidak bisa menyebabkan punahnya begitu banyak populasi di dunia ini. Semua pembangunan material, kesuksesan, dan kemajuan yang kita miliki tidaklah ada artinya jika kita tidak punya lagi planet ini, rumah di mana kita tinggal. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Bali: Koperasi Global Anand Krishna)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: