Krishna Kecil: Para Istri yang Meninggalkan Segalanya demi Gusti #SrimadBhagavatam

Para Brahmana yang ketat ritual dan istri mereka yang penuh kasih

Kebenaran setiap ajaran, setiap kitab suci akan terungkapkan, bila seseorang sudah terbebaskan dari kesombongan intelektual dan melepaskan pendapat-pendapat kaku. Mau tak mau, saya harus memperhalus bahasa Tilopa. Kasihan, orang tua. Salah ngomong sedikit bisa kena cekal. Padahal, Tilopa benar. Yang tidak bisa menerima Siddhartha siapa? Yang ingin membunuh Muhammad siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Yang menghujat Krishna siapa? Tanpa kecuali, mereka semua adalah para ahli kitab. Para intelektual. Mereka-mereka yang sudah memiliki konsep. Mereka-mereka yang sudah kaku, keras, alot.

Lalu siapa pula yang bisa langsung menerima para Buddha, para nabi, para mesias, para avatar? Mereka-mereka yang polos, berhati tulus, tidak berkepentingan dengan konsep-konsep baku. Amrapali, Khadija, Maria Magdalena, Radha. Incidentally, mereka semua adalah wanita, tidak sombong, tidak memiliki ijazah dari universitas, bahkan tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak peduli. Mereka tidak takut mengungkapkan kebenaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu kali Krishna, Balarama dan teman-temannya menggembalakan sapi-sapinya sangat jauh. Dan, pada tengah hari mereka kecapekan dan kelaparan. Para gembala berkata, “Kami lapar, Krishna. Tolong beri kami makanan!” Krishna berkata, “Gusti Pangeran mengikuti langkah kita, mengapa kita harus khawatirkan hal ini? Di dekat sini ada beberapa Brahmana yang sedang melakukan upacara ritual persembahan dan tidak begitu jauh dari para Brahmana, istri-istri mereka sedang memasak makanan. Mintalah kepada mereka makanan, dan katakan saya yang meminta!”

Para gembala datang menghadap para Brahmana minta makanan. Dan, para brahmana berkata bahwa mereka harus menyelesaikan upacara terlebih dahulu dan kemudian membagi makanan kepada mereka yang membantu, dan baru sesudah itu memberikan sisanya kepada Krishna dan anak-anak gembala.

Demikianlah orang-orang yang telah terbelenggu oleh kebiasaan dan tidak bisa berpikir jernih, bahwa ada Krishna dan teman-temannya yang kelaparan. Para gembala dengan tubuh lelah dan kelaparan tidak sanggup menunggu selesainya acara ritual dan kembali kepada Krishna, “Krishna, kami telah mengatakan bahwa Krishna dan Balarama sedang kelaparan, akan tetapi para Brahmana mengabaikan kami!”

Krishna tertawa, “Kalian keliru meminta kepada para Brahmana yang sibuk melakukan ritual tanpa nuansa bhakti. Mereka hanya peduli tentang ritual, mantra, dan maknanya. Mereka mengabaikan Gusti yang merupakan perwujudan dari mantra. Pergilah ke para istri brahmana yang sedang memasak!”

Para gembala yang lapar dan kelelahan tetap patuh kepada perintah Krishna kembali ke tempat istri-istri para Brahmana. Karena penyerahan total para gembala terhadap Krishna itulah, maka mereka tidak pernah mengalami penderitaan batin dalam hidup mereka dan mereka memperoleh kebahagiaan.

Para gembala menemui para istri Brahmana dan berkata bahwa mereka disuruh Krishna dan Balarama meminta makanan karena sedang kelaparan. Para istri Brahmana telah mendengar kisah tentang Krishna dan Balarama, walaupun belum melihat wajah mereka. Para istri Brahmana segera mengisi panci-panci dengan makanan dan mengikuti para gembala menuju ke tempat Krishna dan Balarama. Mereka tidak memikirkan sesajen persembahan ataupun kemarahan para suami mereka. Akhirnya, para istri brahmana melihat Krishna sedang meniup seruling ditemani Balarama. Mereka larut dalam penampilan Krishna dan hati mereka dipenuhi dengan kebahagiaan. Semuanya kemudian makan bersama dengan penuh kebahagiaan ilahi.

Krishna mengatakan, “Aku tahu apa yang ada dalam dirimu. Dalam cinta kalian untukku, kalian meninggalkan dharma-dharma lain yang diharapkan dari kalian. Manakala, hal-hal dunia yang lain tidak ada artinya selain cinta kalian pada-Ku, kalian telah mencapai tingkat Brahmi. Wahai para ibu kembalilah ke tempat persembahan para suamimu.”

Para istri Brahmana menjawab, “Kami sudah datang kepada-Mu meninggalkan segalanya, jangan kejam mengusir kami, suami kami mungkin sudah tidak senang dengan kami. Kami semua ingin ikut dengan-Mu.”

Krishna menyampaikan bahwa suami mereka tidak akan marah dan akan menghormati mereka.

Saat para istri Brahmana kembali ke tempat persembahan, para Brahmana tertegun, rasa marah kepada istri mereka lenyap. Para Brahmana berkata, “Untuk anugerah kasih inilah kami mengadakan upacara. Bahwa Gusti di depan kami dalam wujud manusia kami tidak menyadarinya. Justru istri-istri kami yang telah menyadari kesalahan kami. Kami mengadakan upacara persembahan untuk Gusti, tetapi kami membiarkan Gusti lapar. Kami memohon maaf karena kami telah menuhankan ritual daripada Gusti sendiri. Kami bahkan makan terlebih dulu dan memberikan sisanya kepada Gusti. Justru istri-istri kami yang tidak tahu Veda, tidak tahu cara melakukan ritual, akan tetapi karena kasih-Nya kepada Gusti justru menjadi lebih dekat dari pada kami. Ampuni kami.”

Para Brahmana malu untuk menghadap Krishna dan Balarama dan lagi mereka masih takut pada Raja Kamsa, bila mereka ketahuan melayani Krishna.

 

Bhakti bukan hanya Ritual

Krsna memberi rumusan: “bhajanty ananya-manasa” – mereka, senantiasa, memuja-Ku, mengenang-Ku, menyadari kehadiran-Ku, menghayati hakikat-Ku – dengan pikiran yang tak bercabang, dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku.

Ini tidak sama dengan disiplin doa beberapa kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Yang dimaksud bukanlah memuja-Nya dengan ritual-ritual tertentu, gerak badan tertentu, sesajen tertentu, ataupun cara-cara, metode-metode tertentu. Bukan, bukan semua itu. Adalah pemujaan purnawaktu yang dibutuhkan. Hal ini, jelas tidak bisa dilakukan secara fisik. Fisik punya dharmanya sendiri, banyak hal yang mesti dilakukannya – dari gosok gigi hingga mencari rezeki. Fisik tidak bisa berdoa atau meditasi saja. Yang dimaksud adalah kesadaraan diri.

Bhajanty” bukan sekadar bhajan – Dalam pengertian memuji-Nya dengan bernyanyi, bertepuk tangan dengan diiringi musik. Inilah definisi bhajan yang kita temukan di internet. Bukan. Itu merupakan ekspresi bhajan yang paling mudah, paling populer dan paling umum. ‘Bhajanty’ adalah ‘senantiasa memuji-Nya, mengagungkan-Nya; senantiasa bersyukur atas segala berkah  dan anugerah-Nya; senantiasa menyadari kehadiran-Nya.’

Dan, “ananya manaso” berarti, ‘dengan pikiran yang tidak bercabang’. Nah, pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran. Pikiran kita saat ini bercabang. Dan selama berinteraksi dengan dunia, pikiran yang bercabang tetap dibutuhkan.

Bagaimana kita bisa memutuskan, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Sifat dualitas pikiran kita membantu. Ia memilah antara yang sekadar nikmat, menyenangkan – dari sesuatu yang mulia. Sifat dualitas dibutuhkan pula untuk merawat badan sehingga kita dapat memilih makanan yang bergizi baginya. Sifat dualitas pikiran manusia di balik segala macam konflik, sekaligus di balik segala macam kemajuan dan perkembangan, pertumbuhan. Sifat dualitas inilah yang membuat pikiran bercabang. Jadi, pikiran yang bercabang pun tetap dibutuhkan.

Sifat pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran yang dibutuhkan pada tingkat Jiwa. Nyamuk yang mengganggu, menyebarkan berbagai penyakit; pun demikian dengan kecoa dan serangga-serangga lain – bahkan virus yang menyerang tubuh kita – mesti dibasmi. Saat itu, pikiran yang bercabang berguna untuk menentukan sikap.

Namun, pada saat yang sama pikiran tidak bercabang atau kesadaran juga dibutuhkan untuk menyadari bila dalam Kesadaran Jiwa kita semua bersatu. Tidak perlu membenci nyamuk dan kecoa saat membasmi mereka. Ada juga orang yang bahagia betul setelah berhasil “membunuh” nyamuk dan kecoa. Tidak, tidak perlu bahagia, dan tidak perlu sedih. Pun tidak perlu bimbang, “saya kan spiritual, masak membunuh nyamuk?” Kebimbangan seperti itu muncul dari ego-spiritual, bukan dari Jiwa-spiritual.

Nyamuk-nyamuk yang mengganggu manusia serta kemanusiaan tidak melulu berwujud sebagai nyamuk. Bisa juga berwujud sebagai manusia, sebagai Kaurava, sebagai apa dan siapa saja. Mereka mesti dibasmi tanpa rasa benci. Sembari membasmi “nyamuk-nyamuk” itu, berdoalah dalam hati, semoga dalam perjalanan selanjutnya, kau mendapatkan tuntunan yang dibutuhkan demi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Kau tidak lagi mengganggu sesama makhluk. Penjelasan Bhagavad Gita 9:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: