Krishna Kecil: Keshi, Kejatuhan Keangkuhan Diri #SrimadBhagavatam

Tumbuh atau Maju, Keshi atau Krishna? Bertindak karena dorongan sifat dan pemicu luar atau demi Kebenaran Sejati?

Mereka yang masih terikat dengan alam benda; berkarya, bekerja, bertindak atas dorongan sifat mereka, dan karena pemicu-pemicu di luar diri.

LAIN TINDAKAN UMUM, LAIN TINDAKAN PARA BIJAK. Para Bijak tidak bertindak karena dorongan sifat dan pemicu di luar diri. Mereka, Para Bijak Pencari Kebenaran Sejati, Para Bijak Pencari Kebebasan Sejati, bertindak untuk meraih Kebebasan Mutlak itu sendiri.

Kita berjalan di tempat, membangun keluarga, rumah, kerajaan bisnis, dan sebagainya. Kita berhenti di satu alam, di alam dunia sekitar diri, keluarga, dan kerabat. Apa pun yang kita lakukan sesungguhnya tidak membuat kita maju selangkah pun.

Dari seorang miskin, kita menjadi kaya-raya; dari seorang bujang, menjadi ayah atau ibu, dari politisi kampung menjadi pejabat tinggi — semuanya adalah pertumbuhan, bukan kemajuan. Semuanya terjadi dalam dimensi yang sama.

Sementara itu, seorang Bijak Pencari Kebenaran Sejati atau Kebebasan Mutlak — Kebenaran Sejati yang Membebaskan — sedang maju. Ia sedang melewati dimensi di mana kita sedang bertumbuh dan beranak-pinak, untuk memasuki dimensi lain.

Kita berkarya semata untuk bertumbuh. Mereka berkarya untuk kemajuan. Ini yang membedakan tindakan mereka, perbuatan mereka dari perbuatan kita.

KRSNA MENASIHATI ARJUNA untuk mencontohi mereka. Krsna mengajak Arjuna untuk melangkah maju. Para kesatria di medan perang Kuruksetra pun, tidak semuanya maju. Mayoritas hanyalah bertumbuh.

Mereka yang berperang dan gugur dengan keyakinan tengah melakukan kewajiban mereka terhadap negara, atau terhadap kubu yang mereka wakili — hanyalah bertumbuh. Entah berada di kubu Pandava, maupun Kaurava. Sama-sama sekadar tumbuh.

Adalah segelintir saja yang berperang bukan karena loyalitas semu, tapi karena dharma, untuk menegakkan kebajikan dan keadilan — hanyalah mereka yang maju. Walau, jika dilihat sekilas seolah mereka sama. Sama-sama berperang.

Seorang pengusaha yang menjalankan usahanya semata untuk mencari nafkah dan membiayai diri serta keluarganya, maka ia sedang bertumbuh. Tapi, ketika seorang pengusaha — walau berada dalam bidang yang sama — menjalankan usahanya demi perputaran roda ekonomi, demi kesejahteraan bagi semua yang terlibat dalam usahanya, maka ia mengalami kemajuan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Salah seorang asura mesin pembunuh Raja Kamsa adalah Keshi. Keshi mempunyai dendam yang mendalam kepada Krishna. Banyak sekali kawannya yang dibunuh oleh Krishna. Keshi ingin menunjukkan kelebihan kekuatan dan kepatuhannya kepada Raja Kamsa dengan mengambil wujud seekor kuda raksasa. Kecepatan larinya secepat pikiran, dan suara ringkikannya menimbulkan badai. Batu-batu yang ada di jalan yang dilewatinya tersepak hingga beberapa puluh meter. Keshi langsung menuju Brindavan dan mencari Krishna.

Krishna menghadang Keshi dengan ketenangan yang luar biasa. Keshi langsung menyerang Krishna, akan tetapi Krishna bisa berkelit dengan lincah. Keshi semakin marah, matanya melotot dan giginya bergemeretak. Krishna sengaja memain-mainkan Keshi dengan selalu berkelit dari serangan Keshi. Akhirnya, Krishna berhasil memegang kaki belakang Keshi dan segera memutar-mutarkannya di atas kepalanya. Keshi merasa pusing dan putus asa. Kemudian Keshi merasa dirinya dilemparkan sangat tinggi dan jatuh dengan telak dan nyawanya pun melayang. Sebuah makhluk bersinar keluar dari tubuh Keshi, bersujud di kaki Krishna, dan menghilang sebagai makhluk setengah dewa.

Keshi mewakili manusia yang merasa angkuh, paling kuasa, paling mengerti karena kecepatan berpikirnya. Keshi senang berlomba dan bangga atas kemenangannya. Manusia semacam Keshi sering mengikuti nafsunya dan membenarkan tindakannya sendiri. Keshi bertindak mengikuti dorongan sifatnya atas pemicu di luar diri. Hanya Krishna yang dapat menundukkan Keshi, sehingga nafsunya tidak berkutik lagi.

Dalam kehidupan sebelumnya, Keshi adalah makhluk setengah dewa bernama Kumud. Kumud sangat tampan, berani, dan perkasa. Dia bertugas mengawal sekaligus memegang payung bagi Dewa Indra. Oleh karena itu, Kumud selalu mendapat kehormatan di mana saja Dewa Indra berada. Hal ini membuatnya menjadi angkuh.

Pada saat Dewa Indra membunuh Vrtrasura yang merupakan keturunan seorang Brahmana, dia dianggap telah melakukan tindakan kesalahan. Sebagai akibatnya, Dewa Indra dihantui perasaan bersalah yang membuntutinya tanpa henti di seluruh alam semesta. Akhirnya, Indra berhasil menemukan tempat berlindung di batang teratai di Mana Sarova, di mana ia bertapa selama 1.000 tahun. Sebagai hasil dari tapa yang memurnikan, akibat dari pelanggaran membunuh keturunan brahmana hampir sirna, dan akhirnya ia mampu muncul kemudian melanjutkan posisinya sebagai raja dewa.

Mengikuti saran dari para rishi, Dewa Indra melanjutkan Yajna Asvamedha untuk menebus pelanggaran tersebut. Saat Yajna Asvamedha berlangsung, “seekor kuda” dilepaskan untuk menjelajah seluruh wilayah tetangga. Jika ada orang yang ingin menolak supremasi raja yang memegang Yajna, maka mereka dapat menunjukkan hal ini dengan menghambat atau menangkap kuda. Ada sebuah pasukan yang menyertainya yang mengikuti kuda tersebut ke mana pun perginya. Pasukan tersebut akan bertarung dengan orang yang menghambat jalannya kuda. Jika, setelah satu tahun, kuda dan pasukan tersebut mampu kembali ke istana dan tak terkalahkan oleh siapa pun, maka raja bebas untuk memulai Yajna tersebut.

Untuk tujuan Asvamedha Yajna, Dewa Indra memilih kuda putih yang luar biasa kuat dengan telinga hitam, yang bisa bepergian dengan kecepatan pikiran. Ia memercayakan kuda tersebut kepada pengawal setianya Kumud yang mengikuti jalannya kuda dan pasukan tersebut. Namun, ketika Kumud melihat kuda yang megah tersebut, ia begitu dipenuhi dengan kekaguman, dan ia memutuskan untuk memiliki kuda tersebut.

Kala rombongan telah berangkat dari istana, pada kesempatan pertama, Kumud secara licik melarikan diri dengan kuda tersebut. Kumud mengetahui bahwa Atala (salah satu dari tujuh planet bawah) berada di luar kekuasaan Dewa Indra, dan Kumud bersembunyi di sana. Pasukan pun bingung mencari Kumud dan kuda Yajna, dan mereka tidak berhasil menemukannya, dan akhirnya kembali kepada Dewa Indra dengan tangan kosong.

Dewa Indra kemudian bekerja sama dengan saudara-saudaranya, para Marut, yang berjumlah 49 yang merupakan dewa angin, untuk mencari Kumud dan kudanya. Mereka segera menemukan Kumud di Atala, dan mereka mengikat Kumud dengan tali, dan membawanya menghadap Dewa Indra.

Dewa Indra berkata kepada Kumud, “Sungguh sangat menyedihkan, kau telah berbuat licik dan kurang cerdas. Karena kau telah bertindak sebagaimana para asura, aku mengutukmu untuk menjadi asura selama 2 manvatara. Karena kau egois, tidak bertanggung-jawab dan mencuri seekor kuda, maka kau akan mempunyai wajah kuda di kehidupanmu selanjutnya!”

Dengan cara ini, Kumud menjadi Keshi dalam kelahiran berikutnya, dan tinggal di Gunung Rsyamukha, sebagai asura bermuka kuda ia akan terbiasa meringkik yang menimbulkan suara seperti badai. Pada suatu hari, Raja Kamsa datang ke sana, dan bertempur dengan Keshi. Dengan pukulan yang kuat Kamsa menundukkan Keshi. Sejak saat itu, Keshi diangkat sebagai pengawal Kamsa, sampai ia akhirnya dibunuh oleh Krishna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: