Krishna Kecil: Menundukkan Vyomasura, Asura Terakhir #SrimadBhagavatam

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.” Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

                Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka. Penjelasan Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Seorang panembah sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tak akan pernah bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu, ketika otak mengalami gangguan, apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. la digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

REAS0NING SEPERTI INI, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukannya purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada penyerahan diri di mana kita sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah segala-galanya. Dialah semua! Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya. Penjelasan Bhagavad Gita 12:16 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu ketika Krishna bermain dengan teman-temannya di hutan. Mereka tengah bermain peran sebagai tiga kelompok: kelompok pencuri, kelompok penjaga dan kelompok para domba. Kelompok penjaga bertugas menjaga domba-domba, sedangkan kelompok pencuri berupaya mencuri para domba.

Vyomasura salah seorang asura penyihir suruhan Raja Kamsa menyamar menjadi salah seorang teman Krishna dari kelompok pencuri. Vyomasura mencuri para “domba” dan menyembunyikan mereka  ke dalam gua.

Tak lama kemudian Krishna mengetahui hal ini dan segera menangkap Vyomasura. Dan Vyomasura pun kembali ke wujud aslinya. Vyomasura berusaha melarikan diri dari tangkapan Krishna, tapi tidak berhasil. Vyomasura memperbesar tubuhnya akan tetapi pegangan Krishna sangat kuat dan tak bisa dilepaskan. Kemudian Krishna melempar Vyomasura sampai terjatuh di tanah dan saat itu pula Vyomasura tewas.

Vyomasura harus merasakan hidup sebagai asura, sehingga hilang rasa keangkuhan merasa paling suci sampai akhirnya Krishna membebaskannya. Vyomasura kembali kepada wujud asalnya, bersujud kepada Krishna dan meneruskan perjalanan spiritualnya. Pertemuan dengan Krishna merupakan berkah yang luar biasa. Setelah itu Krishna melepaskan teman-temannya dari dalam gua.

Vyomasura mewakili orang-orang yang suka bergaul dengan para pencuri dan penjahat lainnya.

Dalam kehidupan sebelumnya, Vyomasura adalah raja Kasipuri, Benares dan disebut Bhimarath. Dia adalah pemuja Vishnu yang taat. Meskipun selalu beramal, melakukan pengorbanan, dan menunjukkan keahliannya sebagai ksatria yang tangguh, ia selalu hormat kepada orang lain. Setelah beberapa waktu ia menobatkan putranya sebagai raja pengganti, dan dia pergi ke gunung Malaya, bertapa selama 100.000 tahun.

Ketenarannya menyebar jauh dan luas, dan banyak orang yang datang kepadanya meminta pertolongan. Hampir setiap orang yang meminta pertolongan diberi nasihat yang bijak dan berterima kasih kepadanya. Akhirnya Rishi Pulasthya, putra Brahma, berkenan mendatangi Bhimarath. Pada saat itu Bhimarath telah menjadi sombong karena kekuatan tapa yang  ia lakukan. Bhimarath tidak berdiri menghormati Rishi Pulasthya yang mendatanginya. Meskipun mereka berdua sama-sama rishi, Bhimarath lupa menyadari bahwa dia adalah seorang rajarishi, sedangkan Pulasthya adalah seorang devarishi. Rishi Pulasthya berkata, “Seorang brahmana mestinya tahu etika dan tidak merasa paling besar seperti seorang asura!”

Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke-“aku”-an. Kesadaran dan ke-“aku”-an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke-“aku”-an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke-“aku”-an, keangkuhan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Bhimarath kaget dan segera sadar atas keangkuhannya selama ini, dan ia segera memohon maaf kepada Rishi Pulasthya. Rishi Pulasthya berkata, “Memang jalan ini harus dilalui, merasakan hidup sebagai seorang asura, sehingga hilang rasa keangkuhan merasa paling suci sampai akhirnya pada zaman Dvapara Yuga, Krishna akan membebaskan. Pertemuan dengan Krishna merupakan berkah yang luar biasa.”

Bhimarath akhirnya terlahir kembali dari istri Mayasura sebagai Vyomasura, asura kelelawar. Vyomasura pergi ke puncak Gunung Trikuta, setelah merasa tak ada lawan bertarung sebanding dengan dia dan ia beristirahat di sana. Pada suatu saat Raja Kamsa melewati tempat tersebut. Melihat Vyomasura yang tidur pulas, dia menendangnya. Vyomasura bangun dan diajak bertarung oleh Raja Kamsa dan terjadilah pertarungan yang sangat seru. Namun, akhirnya Vyomasura mengakui kelebihan Raja Kamsa dan menyerah. Setelah itu Vyomasura menjadi pembantu Raja Kamsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: