Archive for September, 2017

Reinkarnasi 6 Saudara Kandung Krishna yang Dibunuh Kamsa #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on September 28, 2017 by triwidodo

Tobat tidak sekadar menyesal

Tobat berasal dani suku kata taubah yang berarti “kembali”. Kembali pada diri sendiri, kembali meniti jalan ke dalam diri. Bertobat berarti “sadar kembali.” Dan, untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk sadar kembali, dibutuhkan energi yang luar biasa. Sementara ini, seluruh energi kita habis terserap oleh perjalanan di luar diri.

Rumi mengingatkan kita: Jangan pikir engkau bisa melakukan apa saja, kemudian bertobat dan selesai sudah perkaranya.

Kalaupun taubah diterjemahkan sebagai “penyesalan”; yang menyesal haruslah hati, jiwa. Bukan mulut. Di atas segalanya, “penyesalan” berarti “kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan ya Panca-Provokator-itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #MasnawiIndonesia

 

Keterikatan pada keluarga membuat kita lahir di keluarga itu-itu saja

Pada waktu itu secara klinis kita sudah dinyatakan mati. Secara fisik kita sudah mati. Pada waktu itu pemutaran kembali film berjalan. Dan pemutaran kembali tetap berjalan karena mesin tetap berjalan. Mesin tetap berjalan tetap ada sisa napas tertinggal. Seperti fan. Walau dimatikan tetap ada listrik yang mengalir, dan baling-baling fan tetap bergerak sampai waktunya berhenti. Sehingga walau otak kita sudah tidak berfungsi, tetap ada energi tertinggal. Dan menggunakan energi yang ada mind (bukan brain) memutar kehidupan selama hidup.

Bukan semua impresi tetapi impresi utama. Impresi utama, memori utama akan kembali.

Berdasarkan itu,  sebelum gelap total, Soul (jiwa) mempunyai program: Untuk kehidupan ke depan aku akan mencari orangtua semacam itu. Pada waktu itu dalam waktu 1 menit. Dalam detik-detik terakhir, tapi Anda bisa merasakan sangat lama. Anda seakan-akan hidup kembali selama kehidupmu.

Tapi sebetulnya sangat-sangat singkat waktunya. Dan ada kebingungan waktu. Oke dalam kehidupan ke depan aku akan hidup dalam semacam keluarga itu. Apabil soul tetap berupaya ke keluarga tersebut, dia akan segera lahir kembali di keluarga tersebut.

Sumber: Video Youtube: Reinkarnation a Secret Revealed by Swami Anand Krishna

Pada suatu hari Devaki memanggil Sri Krishna dan Balarama, kedua putranya. Devaki menyampaikan bahwa mereka berdua telah menemukan putra Guru Sandipani, gurukula mereka walau dia telah mati.

Devaki ingin mereka mencari keenam saudaranya yang dibunuh oleh Kamsa. Devaki ingin menemui mereka.

 

Kisah keenam putra Devaki yang dibunuh Kamsa

Ini adalah kisah 6 bersaudara yang berbuat sering salah dan minta maaf dan bertobat. Karena keterikatan dengan keluarga, mereka lahir-mati lahir-mati di keluarga itu-itu saja. Kesalahannya juga itu-itu saja sampai dia diselamatkan Sri Krishna…….

Adalah 6 putra Rishi Marici, seorang Prajapati putra Brahma yang ketawa-ketiwi saat melihat Brahma mencintai Sarasvati, yang merupakan ciptaan Brahma sendiri. Keenam cucu Brahma tersebut dikutuk kakeknya akan lahir lagi menjadi putra seorang asura.

Ke 6 anak tersebut lahir kembali sebagai Putra Asura Kalanemi yang merupakan putra Hiranyakshipu.

Sebagai cucu Hiranyakashipu ke 6 anak tersebut bertapa memuja dan menyembah Brahma, agar hidupnya memperoleh berkah. Mereka tidak sadar bahwa Brahma pernah menjadi kakeknya dikehidupan sebelumnya dan karena kesalahan mereka dikutuk lahir menjadi putra asura. Pemujaan Brahma tersebut tanpa sepengetahuan Hiranyakshipu. Brahma yang puas dengan tapa mereka memberikan mereka jaminan perlindungan dari kematian.

Hiranyakashipu setelah mengetahui keenam cucunya sebagai bhakta, devoti Brahma tanpa meminta izin darinya marah dan mengutuk mereka akan lahir kembali dan dibunuh oleh ayah mereka sendiri, Asura Kalanemi. Mereka mohon ampun kepada Hiranyakashipu, karena mereka juga melihat Hiranyakashipu memuja Brahma untuk memperoleh kesaktian. Hiranyakashipu mengatakan mereka mati dibunuh ayahnya, akan tetapi kemudian hidup kembali di Patala di daerah kekuasaan Raja Bali.

Keenam cucu Hiranyakashipu tersebut kemudian lahir sebagai putra Devaki dan Vasudeva yang dibunuh oleh Kamsa yang merupakan reinkarnasi dari Kalanemi, ayah mereka di kehidupan sebelumnya.

 

Diselamatkan Sri Krishna

Sri Krishna dan Balarama dengan kekuatan yoga-nya datang ke Patala bertemu Raja Bali dan minta keenam saudara mereka, Smara, Udgita, Parisvanga, Patanga, Kshudrabhrit dan Ghrni diserahkan kepada mereka untuk dibawa menemui Devaki, ibu mereka.

Raja Bali menyetujui dengan senang hati. Ditemui Sri Krishna adalah merupakan berkah bagi Raja Bali. Dulu dia juga memperoleh berkah dari Vamana Avatara yang juga merupakan Avatara Vishnu.

Devaki sangat bahagia bertemu dengan para putranya yang telah dibunuh Kamsa. Selanjutnya keenam putra yang telah bebas dari kutukan tersebut meninggalkan dunia pergi sebagai para makhluk setengah dewa……………..

Advertisements

Gerhana: Pertanda Sri Krishna Sebelum Perang Bharatayuda #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on September 26, 2017 by triwidodo

“Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), saat terjadi maha-pralaya atau kiamat besar pada akhir satu kalpa atau masa besar — semuanya melebur dan menyatu dengan Kesejatian-Ku, Prakrti-Ku — kemudian pada awal kalpa baru, muncul lagi mereka semua.” Bhagavad Gita 9:7

Krsna percaya pada filsafat daur-ulang. Kejadian, peleburan – semuanya adalah bagian dari siklus, roda Sang Kala. Semua berawal dari-Nya, dari Kebenaran Hyang Tunggal, ditopang oleh-Nya, dan melebur di dalam-Nya untuk muncul kembali.

 

“Dengan Kesejatian Diri-Ku sendiri; karena Prakrti, Sifat Alami-Ku sendiri — kerumunan makhluk muncul saat kalpa baru; mereka tidak muncul atas kehendak mereka.” Bhagavad Gita 9:8

Para filsuf masih berdebat tsntang adanya free will atau kehendak bebas. Krsna menjelaskannya dengan sebuah keniscayaan.

Kehendak, yang tampaknya bebas, sesungguhnya tidak bebas-bebas banget. Sebebas-bebasnya kehendak manusia, masih tetap terbatas.

BERKARYALAH SESUAI DENGAN kebebasan yang kita miliki. Tapi ingat, sebebas apa pun kehendak kita, tetaplah kita tidak bisa mengubah diri menjadi pesawat terbang atau menjadi Orang Utan kembali. Kita tidak bisa mengubah fisik kita melewati batas-batas tertentu.

Kita bisa mengubah jender, tapi tidak bisa menjadi sesuatu lain yang bukan manusia. Kemanusiaan adalah batas kehendak bebas. Kita bisa mengasah kemanusiaan diri atau membiarkannya merosot hingga tingkat terbawah. Tetapi, tetap dalam kerangka besar kemanusiaan. Mau “bersifat” binatang — monggo, kehendak bebas! Tapi, kita tidak bisa mengubah fisik msnjadi kucing atau anjing. Lucu saja, kita bisa bersifat seperti anjing atau kucing, tapi tidak bisa mengubah fisik kita sehingga menyerupai mereka.

 

DARI SUDUT PANDANG ILMIAH, apa yang dikatakan oleh Krsna amat sangat mendukung hasil penelitian-penelitian mutakhir. Saat awal mula kalpa, semua makhluk dalam wujud yang masih berupa organisms sederhana muncul bersama.

Berarti, organisme yang berpotensi untuk menjadi manusia, muncul bersarna organisme-organisme lain yang bsrpotensi untuk “tidak” menjadi manusia, tetapi menjadi domba misalnya.

Kemudian, setiap organisme berevolusi sesuai dengan “programming” kodratnya. Lalu, siapa yang menentukan programming awal itu? Konsekuensi dari perbuatan-perbuatan kita — hasil karma — dari kalpa yang lalu.

 

SUDAH DIBERI KESEMPATAN BERMILIAR-MILIAR TAHUN, si dinosaurus tidak juga berevolusi menjadi raksasa atau manusia. Kemudian terjadi kiamat bssar — peleburan massal — maka dalam kalpa berikutnya, ia mengalami kehidupan ulang sebagai organisme berpotensi cecak.

Kemudian cecak ini berevolusi lagi, menjadi predatornya — jenis hewan yang lebih unggul darinya. Maka, lambat laun ia pun bisa menaiki tangga evolusi terus hingga kodratnya berkembang—dari cecak ia menjadi manusia. Kemungkinan itu selalu ada!

Seluruh proses ini terjadi secara otomatis.

Komputer Keberadaan canggih dan tepat. Setidaknya demikian yang dapat kita rasakan. Krsna melihat apa yang ada di balik Maha-Komputer Super Canggih tsrssbut – yaitu Kehendak-“Nya”. Kehendak Sang Jiwa Agung yang kemudian menyebabkan percikan-percikan Jiwa-Individu untuk mengalami jenis-jenis kehidupan yang beragam, sesuai dengan “karma” setiap percikan.

Setiap percikan ibarat window baru tempat setiap “Jiwa-Individu” atau Jivatma mesti berkarya, hingga suatu ketika ia mencapai kesempurnaan. Ia kembali menyadari hakikatnya sebagai percikan yang tak-terpisahkan dari Jiwa Agung. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Sri Krishna datang ziarah ke Danau Samantapancaka di Kurukshetra dalam rangka gerhana matahari yang besar di mana gerhana semacam itu akan terjadi pada saat akhir kalpa, Hari Brahma berakhir. Para raja, ksatria, brahmana dan para keluarga mereka ikut ziarah, untuk darshan dengan Sri Krishna.

Pada saat itu Sri Krishna menyampaikan rasa terima kasih kepada para brahmana yang telah mengajari manusia umat manusia untuk meningkatkan kesadaran guna mencapai tujuan hidup mereka. Para brahmana paham bahwa sejatinya Sri Krishna-lah yang telah memandu mareka. Dan, adalah peran para brahmana untuk memandu umat manusia ke arah tujuan hidupnya. Dalam kisah selanjutnya nanti disampaikan bahwa memuja bhakta-Nya, devoti Sri Krishna,  termasuk para brahmana bhakta Sri Krishna mempermudah jalan menuju Dia.

Para brahmana telah membaca kitab-kitab suci tentang apa yang terjadi pada akhir kalpa. Pengetahuan tersebut perlu disampaikan kepada umat manusia agar mereka paham bahwa apa yang dilakukan mereka dalam banyak kehidupan dalam satu kalpa akan berpengaruh pada kehidupan di kalpa berikutnya. Umat manusia harus berupaya dengan sungguh-sungguh agar sudah keluar dari siklus kematian dan kehidupan, tidak menunggu kalpa berakhir.

Pertanda gerhana seperti ini akan merupakan bahan perhitungan para ahli astronomi kapan, di tahun berapa peristiwa tersebut terjadi. Peninggalan-peninggalan arkeologi bisa saja terkubur. Akan tetapi kejadian saat gerhana dapat ditelusur oleh ahli astronomi untuk mencari kapan kejadian tersebut terjadi, karena gerakan matahari dan bulan bisa dianalisa……………

Pada saat gerhana matahari itu para ksatria dan brahmana beserta keluarganya belum sadar bahwa tidak lama lagi akan ada perang besar Bharatayuda yang memusnahkan sebagian besar umat manusia. Dan setelah beberapa puluh tahun kemudian Sri Krishna pun meninggalkan dunia.

Gerhana di Kurukshtera: Cinta Abadi Para Gopi Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on September 24, 2017 by triwidodo

Cinta adalah sifat jiwa. Sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, Bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan waktu

Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena “setiap” Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama.

Dalam Alam Ego, kita beragam, berbeda – Walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda. Wajah Anda tidak sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara pikir kita beda. Perasaan kita beda!

Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: “Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…”

KONFLIK ADALAH HASIL DARI SALAH IDENTIFIKASI. Ketika kita memercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” tanpa memiliki atau menguasai sesuatu — maka, kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri — karena sesungguhnya Jiwa bebas adanya, ia tidak mau terikat — tapi ia terpengaruh oleh keinginan-keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan “tidak” terhadap kekuasaan ego.

Maka terjadilah kekecewaan — karena, bagaimanapun juga kita tak akan pernah bisa menguasai dunia-benda sepenuhnya. Penguasaan kita sudah pasti bersifat terbatas. Sementara itu, Jiwa adalah percikan Hyang Tak Terbatas.

Sebagai contoh: Cinta adalah sifat jiwa. Sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, Bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan waktu.

Kemudian, Cinta yang tak terbatas ini kita aplikasikan terhadap “se”-seorang “yang” kita cintai. Mencintai “se”-seorang ini sudah tidak sesuai, tidak selaras dengan sifat Cinta yang tak terbatas, sementara “se”-seorang adalah terbatas, sebatas “se”-seorang.

Selanjutnya, kita menikahi “orang” tersebut. Selama beberapa bulan atau beberapa tahun, masih oke. Namun, tidak untuk selamanya. Cinta yang Tak Terbatas itu ingin bebas dari penjara nafsu buatan ego. Saat itu, kita mesti berhati-hati…

Jika cinta berkuasa – dalam pengertian Jiwa berkuasa — maka kita menyadari kesalahan kita. Tidak perlu juga menceraikan pasangan kita. Tinggal membiarkan Cinta berekspansi untuk meliputi, merangkul semua termasuk pasangan kita pun ikut terangkul.

Ingat, ini bukan urusan nafsu birahi. Ini perkara Cinta. Nafsu birahi mengantar kita ke atas ranjang. Cinta melampaui ranjang nafsu, meninggalkannya, untuk merangkul semesta.

…………………..

Persoalan hidup hanyalah terselesaikan ketika kita keluar dari penjara ego, dan hidup bebas dalam kesadaran Jiwa. Penjelasan Bhagavad Gita 6:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Mendengar Sri Kṛishṇa akan hadir di Kurukṣhetra pada saat gerhana matahari, warga Brindavan dipimpin Nanda, memutuskan untuk pergi ke sana, karena semua anggota keluarga Dinasti Yadu pasti hadir. Nanda dan para gembala, memasukkan semua perlengkapan yang diperlukan mereka ke gerobak sapi, dan semua warga Brindavan datang ke Kurukṣhetra untuk menemui Sri Krishna dan Balarama.

Begitu Vasudeva melihat Nanda, dia berlari ke arahnya dan memeluknya dengan penuh kasih. Demikian pula, Sri Krishna dan Balarama mengusap kaki Ayah Nanda dan ibu Yashoda dan memeluk mereka. Devaki dan Rohini juga memeluk Yashoda.

Para warga Brindavan hanya berpikir tentang Sri Krishna. Mereka telah berpisah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Sri Krishna yang selalu mereka rindukan. Secara mental mereka kemudian memeluk Sri Krishna, dan Sri Krishna dapat merasakan dan membalas pelukan mereka. Bahkan Yogi yang besar pun belum dapat memeluk Sri Krishna secara mental. Para warga Brindavan memang luar biasa cintanya terhadap Sri Krishna.

Saat Ibu Yashoda berbicara dengan Ibu Devaki, Ibu Rohini dan ibu-ibu lainnya, Sri Krishna mengambil kesempatan untuk bertemu dengan para gopi.

Sri Krishna kemudian memeluk para gopi satu per satu. Sri Krishna berkata, bukan maksud dirinya untuk membohongi para gopi. Dia terperangkap pada peristiwa pertikaian dengan musuh-musuhnya dan dia harus menegakkan dharma. Sri Krishna menyampaikan kadang debu atau serpihan kapas bertemu karena ada angin. Akan tetapi setelah angin mereda, mereka terpisahkan lagi dan tersebar di berbagai tempat.

Benda-benda yang kita lihat adalah manifestasi dari dari Gusti, yang nampak berbeda. Dengan kemauan Gusti, kadang mereka bersatu dan kadang berpisah.

Sesungguhnya para gopi telah mengembangkan bhakti penuh kasih kepada Sri Krishna, dan Sri Krishna mencintai penuh kasih kepada mereka. Oleh sebab itu walau dari segi fisik berpisah, batin mereka tetap bersatu. Dan itu adalah pencapaian tertinggi.

Sri Krishna menyampaikan bahwa walau terbuat dari 5 elemen alami yang sama, akan tetapi badan, wajah, penampilan, cara berpikir dan rasa setiap orang berbeda. Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: “Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…” Konflik adalah hasil dari salah identifikasi. Kita mengidentifikasikan diri dengan materi.

Cinta adalah sifat jiwa. Sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, Bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan waktu.

Sri Krishna menyampaikan bahwa para gopi sudah mencapai kesadaran Jiwa, mereka hanya mencintai Sri Krishna, dan sejatinya semua wujud adalah manifestasi dari Sri Krishna. Apa pun yang ada di hadapan para gopi adalah Sri Krishna. Semua makhluk adalah manifestasi Sri Krishna. Patung, Kuil, Pohon, Lukisan adalah sekadar alat untuk mengingat Sri Krishna.

Oleh karena itu para gopi dapat menggunakan tubuhnya untuk melayani dan ber-bhakti terhadap Sri Krishna yang bermanifestasi dalam setiap makhluk.

Sri Krishna menyampaikan bahwa para gopi mencintai dirinya, dan dirinya mencintai mereka tanpa batas, tidak terkungkung dari keterbatasan ruang dan waktu.

Para gopi sangat berbahagia dengan penjelasan Sri Krishna. Para gopi sudah tidak peduli terhadap kematian ataupun akhir Hari Brahma, atau akhir Kalpa saat semua makhluk digulung alam semesta yang bisa datang kapan saja. Cinta para gopi dengan Sri Krishna tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, cinta yang abadi…………..

Bisakah Cinta kita terhadap Gusti Pangeran seperti cinta para gopi. Peristiwa apa pun yang terjadi selalu Cinta pada Gusti Pangeran. Melayani semua makhluk termasuk keluarga kita karena semuanya adalah manifestasi Gusti Pangeran? Saat ajal tiba, yang terpikir pun hanya Gusti Pangeran? Mind kita tidak lagi tertarik gravitasi gairah dan gebyar duniawi?

Karma Kunti dan Vasudeva, Perjuangan Melawan Adharma #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on September 21, 2017 by triwidodo

#Gerhana di Samantapancaka

Hukum Karma Hukum Penuh Harapan

Kelahiran seorang anak terjadi “saat” pengaruh konstelasi perbintangan selaras dengan hasil perbuatan (karma) anak itu di masa lalu. Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian.

Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu.

Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini.

Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat Spiritual Astrologi.

Dalam pertemuan di Kurukshetra pada saat gerhana matahari tersebut, adik-kakak Kunti dan Vasudeva bertemu setelah perpisahan yang sangat panjang. Sejak kecil Kunti dijadikan putri angkat Raja Kuntibhoja dan berpisah dengan Vasudeva.

Kunti menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh penderitaan, setelah Pandu Devanatha, suaminya meninggal dan Pandava, 5 putranya dijahati oleh para Kaurava. Putra-putranya mendapat beberapa kali percobaan pembunuhan dan setelah memperoleh Indraprashtha, bagian kecil wilayah dari Hastina dicurangi main dadu sehingga mereka diusir dari Hastina. Kini mereka sudah di Indraprashtha dan mulai dari nol sampai Yudisthira menjadi seorang maharaja setelah upacara Rajasuya.

Vasudeva mengungkapkan bahwa dia pun mengalami penderitaan yang berat, keenam putranya dibunuh Kamsa, dia dan istrinya dipenjara. Bagaimana perjuangannya menyelamatkan janin Balarama lewat pemindahan janin dan bagaimana membawa bayi Krishna ke Brindavan dan balik lagi sambil membawa putri Nanda dan Yashoda. Hanya dengan berkah Gusti Pangeran dia selamat dan Sri Krishna dan Balarama menjadi pemuda perkasa yang bijak.

Vasudeva mengingatkan Kunti, bahwa kelahiran mereka dipengaruh konstelasi perbintangan yang selaras dengan hasil perbuatan (karma) mereka di masa lalu. Namun, tidak berarti mereka tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Mereka mengalami banyak masalah adalah akibat tindakan mereka di masa lalu. Tetapi hidup mereka selanjutnya tergantung kemauan mereka sendiri. Dan kini mereka sudah mulai merasakan hasil tindakan baik mereka. Bersyukurlah mereka karena memperoleh panduan langsung dari Sri Krishna. Dengan panduan Sri Krishna, mereka tidak hanya memperoleh kebahagiaan duniawi akan tetapi kebahagiaan abadi.

 

Tidak semua Benih Karma langsung tumbuh, bertunas dan berbuah

Tidak semua benih yang ditanami langsung tumbuh, bertunas, dan berbuah. Ada yang membutuhkan waktu beberapa bulan. Ada yang berbuah setelah beberapa tahun. Persis seperti itu pula dengan tindakan kita, dengan ucapan dan pikiran kita. Tidak semuanya berbuah langsung.

Sanchita adalah karma-karma dari masa lalu; akumulasi dari masa lalu, yang saat ini baru berbuah. Buahnya disebut Praarabdha. Sesuatu yang sudah tak mungkin dielakkan. Kendati demikian, kita masih memiliki pilihan yaitu memetik panen dengan mengaduh-aduh atau dengan girang, dengan bersuka cita, dengan menyanyi dan menari. Taruhlah panennya tidak sesuai dengan harapan tak apa, it is not the end of the world. Saat itu kita masih belum mahir dalam seni cocok tanam. Sekarang, sudah mahir, maka tanaman kita dimasa depan pasti lebih baik. Kebaikan yang kita lakukan hari ini sudah pasti menghasilkan kebaikan pula.

Tetapi, jangan lupa masih ada Sanchita Karma, karma-karma terakumulasi dari masa lalu yang barangkali belum berbuah. Karma-karma tersebut adalah Agami Karma, karma yang akan datang. Kita tidak dapat mengubahnya, namun dengan memahami hal itu, kita menjadi tenang. Kita akan menghadapinya dengan tenang. Kita tak akan terbawa arus, tak akan hanyut dalam duka maupun suka yang berlebihan. Jangan hanya bersyukur saat mengalami suka, bersyukur pula saat mengalami duka. Tuhan tidak hanya dipuji saat kitaberada di atas, pujilah pula. Di saat kita berada di bawah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat Karya Shankara

 

Vasudeva mengingatkan Kunti, bahwa tindakan baik akan menghasilkan pada waktunya. Mungkin pada saat ini benih tersebut sudah menjadi pohon yang kuat tapi belum saatnya berbuah. Kita bahkan tidak perlu mengharapkan buah, semuanya dipersembahkan kepada Gusti Pangeran, karena sesuai hukum alam siapapun yang menanam akan menuai.

Vasudeva juga mengingatkan Kunti, bahwa kejahatan Kaurava akan memperoleh balaannya pada saatnya, seperti yang terjadi pada Kamsa, Jarasandha dan sekutunya.

 

Dhammapada 22:306 menjelaskan apa yang dapat mencelakakan diri, yaitu kebohongan. Mengingkari perbuatan keji, dan berbohong untuk menutupinya – inilah pertanda orang yang sedang mencelakakan dirinya.  Kita tidak dapat membohongi Keberadaan Yang Maha Mencatat setiap kegiatan. Perbuatan keji untuk mencelakakan orang lain adalah serangan terhadap Keberadaan. Dan, begitu kita menyerang Keberadaan yang adalah Kasunyatan Abadi, maka perbuatan keji dan kebohongan akan bergaung kembali. Tidak ada yang menghukum kita kecuali perbuatan kita sendiri.

Ada kalanya benih perbuatan keji itu belum tumbuh menjadi pohon, maka sepertinya lama sekali baru berbuah. Ada kalanya Keberadaan membiarkannya tumbuh malah diberi air hujan dan difasilitasi pertumbuhannya, supaya pada saatnya dapat ditebang karena ilalang memang tidak berguna dan malah mencelakakan pertumbuhan tanaman lainnya. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada yang terasa “klop” dengan kehidupan dunia.

 

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali, bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya.

Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada.

Kunti dapat merasakan kebenaran kata-kata Vasudeva, Kunti paham bahwa Vasudeva adalah ayah dari Sri Krishna, Gusti Pangeran yang mewujud. Mereka juga membicarakan perkawinan antara Arjuna putra Kunti dengan Subhadra putra Vasudeva. Mereka berharap anak keturunan mereka akan menjadi ksatria yang bijaksana.

Parikshit menangis haru atas kisah Rishi Shuka, Arjuna dan Subhadra adalah kakek dan nenek Parikshit.

Saat mendengar kisah dari Rishi Shuka, Parikshit hanya mendengarkan dalam hitungan menit. Akan tetapi Parikshit menyadari bahwa penderitaan Pandava selama diusir selama 12 tahun adalah waktu penderitaan yang sangat lama. Kematian Kamsa juga membutuhkan waktu yang sangat lama dari perkawinan Vasudeva dengan Devaki sampai Sri Krishna menjadi remaja. Sebagai warga Mathura itu adalah waktu yang sangat lama.

Persembahan Dinasti Yadu dan Warga Brindavan bagi Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , , on September 20, 2017 by triwidodo

#Gerhana di Samantapancaka

“Di antara beribu-ribu orang, belum tentu seorang pun berupaya untuk mencapai kesempurnaan diri. dan, di antara mereka yang sedang berupaya, belum tentu seorang yang memahami kebenaran-Ku.” Bhagavad Gita 7:3

Kesempurnaan diri adalah kesempurnaan dalan Jnana dan Vijnana. Banyak di antara kita yang sudah merasa puas dengan apa yang kita baca dalam kitab-kitab tebal, seperti yang ada di tangan kita saat ini. Hanyalah segelintir saja yang berupaya untuk memperoleh pengalaman pribadi.

Dan di antara segelintir yang sedang berusaha demikian pun, belum tentu satu orang yang mencapai kesempurnaan, dalam pengertian memahami kebenaran-Nya – Kebenaran Jiwa Agung.

Pengamatan Krsna merupakan tantangan bagi siapa saja – Tantangan bagi setiap orang yang menganggap dirinya berketuhanan, berkeyakinan, berkepercayaan, dan sebagainya. Adakah kita memuja-muja Tuhan, menyembah Tuhan untuk mendekatkan diri dengan-Nya, atau justru untuk menjauhkan diri dari-Nya?

Setiap doa untuk hal-hal bersifat duniawi – untuk mendapatkan rezeki, pekerjaan, jodoh, anak dan sebagainya – tidak mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Semua itu adalah urusan kendaran badan bersama indra, pikiran segala.

Semua urusan itu adalah urusan teknis, urusan bengkel. Kita tidak perlu mengenal pemilik bengkel, apalagi pemilik pabrik mobil untuk memperbaiki kendaraan yang rusak. Cukup berurusan dengan teknisi. Bahkan tidak perlu mengenalnya juga. Titipkan mobil di bengkel, daftarkan segala keluhan kita, dan datang kembali sorenya untuk mengambil mobil.

Banyak hal lain yang menjadi inti doa kita ibarat keinginan untuk menghias dan mempercantik kendaraan. Tidak perlu ke bengkel, untuk itu cukup ke toko yang menjual variasi mobil.

Selama ini, kepercayaan kita sesungguhnya bukanlah untuk mengenal Tuhan, tetapi sekedar rutinitas pemeriksaan kendaraan, supaya tetap “fit”.

Krsna menyatakan, dan Ia tidak salah, bahwa di antara beribu-ribu orang yang ingin serta berupaya untuk mengenal-Nya, belum tentu seorang pun mencapai tujuannya, dan mengenal-Nya.

Kenapa demikian? Apakah tidak setiap orang berupaya dengan kesungguhan yang sama? Ya, memang demikian adanya; tidak semua orang berupaya dengan kesungguhan yang sama. Selain itu, belum tentu upaya yang mereka lakukan itu betul. Banyak orang berupaya, namun dengan cara yang salah. Jadi, upayanya, metodenya mesti betul juga, bukan sekadar kesungguhan dan kerja keras. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Tanah, air, api, angin, eter (subtansi ruang), gugusan pikiran serta perasaan (manah atau mind), kemampuan untuk memilah (buddhi atau integensia), dan ego (ahamkara atau ke –aku-an) – kedelapan hal ini adalah prakrti atau sifat kebendaan-Ku, yang menyebabkan kesadaran rendah.” Bhagavad Gita 7:4

Segala upaya kita selama ini – dari yang bersangkutan dengan profesi dan keluarga, hingga bermasyarakat, politik, hubungan dengan sesama, kepercayaan, dan lain sebagainya – semuanya menyangkut kedelapan hal ini. Semuanya menyangkut alam benda, kebendaan, kesadaran rendah. Jadi , selama ini segala upaya kita sekadar untuk merawat kendaraan, mempercantiknya, menghiasnya, mengisi bahan bakar – dan, that’s that. Kendaraan itu tidak pernah dipakai untuk menuju tujuan – yaitu untuk menyadari hakikat diri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Pertemuan keluarga Dinasti Yadu dan warga Brindavan

Setelah tiba di Kurukṣhetra, para anggota Dinasti Yadu melakukan ritual mandi di danau Samantapancaka dan selanjutnya melakukan puasa selama gerhana berlangsung. Pada saat buka puasa mereka mempersembahkan makanan lezat kepada para brahmana.

Pada keesokan harinya mereka melakukan dana punya dengan memberikan banyak sapi kepada para brahmana. Semua sapi tersebut dilengkapi hiasan berwarna-warni, gelang kaki dari emas dan lonceng sapi dari emas di lehernya. Seluruh brahmana yang hadir bersyukur atas kemurahan hati Dinasti Yadu.

Orang awam melakukan mandi, puasa, berbagi makanan dan dana punya kepada para brahmana dengan harapan akan memperoleh imbalan dari Gusti Pangeran untuk memenuhi keinginannya. Kedudukan yang bagus, jodoh yang baik, keluarga bahagia, kekayaan yang melimpah dan anak keturunan yang sukses. Menurut Bhagavad Gita 7:3 itu semua adalah urusan kendaraan badan, bisa ke toko variasi mobil, belum perlu ke bengkel Ashram apalagi berurusan dengan Pemilik Bengkel Semesta. Menurut Bhagavad Gita 7:4. semuanya masih menyangkut alam benda

Akan tetapi bagi anggota Dinasti Yadu acara ritual dan dana punya tersebut hanya dipersembahkan kepada Sri Krishna. Mereka memperoleh berkah yang luar biasa dengan selalu berada dekat Sri Krishna. Ibarat murid yang telah ikut dalam kehidupan Guru, setiap saat selalu darshan dengan Sri Krishna. Itu adalah berkah yang luar biasa.

Acara makan bersama para anggota Dinasti Yadu hanya dilakukan setelah persembahan makanan kepada para brahmana selesai.

Tidak berapa lama datang para tamu, kerabat, sahabat, para raja dan prajurit mereka. Ada raja dari Matsya, Kusinara, Kosala, Vidharba, Kuru, Kamboja, Kekaya dan raja-raja lainnya.

Akan tetapi yang paling ditunggu oleh Balarama adalah warga Brindavan di bawah pimpinan Nanda. Peristiwa gerhana tersebut dimanfaatkan warga Brindavan untuk menemui Sri Krishna dan Balarama. Pertemuan antara warga Brindavan dan anggota keluarga Dinasti Yadu sangat mengharukan. Mereka saling memeluk dan melimpahkan kerinduan. Tidak banyak kata yang diungkapkan hanya mata mereka yang mengalirkan air mata keharuan.

Seperti halnya para anggota keluarga Dinasti Yadu, para warga Brindavan juga mempunyai pikiran yang terfokus kepada Sri Krishna. Mereka sudah lepas dari keterikatan dunia dan setiap tindakan mereka hanya merupakan persembahan kepada Sri Krishna.

Gerhana di Akhir Kalpa Menjelang Perang Bharatayudha #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on September 19, 2017 by triwidodo

“Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), terdorong oleh sifat mereka masing-masing, makhluk-makhluk beragam jenis muncul di awal hari Brahma, dan lenyap saat datangnya malam Brahma, untuk muncul kembali pada pagi hari Brahma berikutnya.” Bhagavad Gita 8:19

Teori Evolusi Darwin dan penemuan-penemuan para saintis modern kadang tidak selalu selaras. Krsna menyelaraskan keduanya dan menjelaskan kebenaran sebagaimana adanya.

PENEMUAN DARWIN ADALAH SEPOTONG atau sekilas kebenaran. Bahwasanya terjadi evolusi, ya. Tetapi, jika memang demikian, maka dalam kurun Waktu 3-4 miliar tahun sejak bumi dianggap layak bagi kehidupan, semestinya cacing dan ikan sudah tidak ada lagi. Bentuk-bentuk awal kehidupan semestinya sudah punah dan berevolusi menjadi manusia. Temyata tidak.

Hingga hari ini pun, bentuk-bentuk awal kehidupan masih ada. Bahkan dinosaurus pun masih ada. Bentuknya saja berubah — cecak! Ya, cecak adalah evolusi dari dinosaurus, yang merasa terdesak oleh manusia, dan “tumbuh menjadi kecil” tinggal di dinding, untuk menyelamatkan dirinya dari serangan manusia.

Jadi, dinosaurus mengalami evolusi dengan menjadi sekian ratus ribu kali lebih kecil. Ini pula menjelaskan berbagai macam virus, kuman, dan sebagainya. Mereka pun, persis seperti dinosaurus, adalah perkembangan — hasil evolusi — dari binatang-binatang yang telah kita bunuh dan gusur!

 

PARA RAKSASA ADALAH “THE MISSING LINK” kehidupan antara dinosaurus dan cecak. Namun, di antaranya ada pula raksasa-raksasa yang mengambil jalur evolusi yang beda, sesuai dengan kemungkinan yang dimilikinya. Ya, kemungkinan……

Kemungkinan evolusi sesuai potensi yang terekam dalam blok kehidupan. Bahasa kerennya “DNA”. Hampir 99% DNA kita sama — berpola, bercorak yang sama. Kurang dari 1% yang unik, sehingga Anda menjadi Anda, dan saya menjadi saya.

Pun demikian, lebih dari 99% dinosaurus mengambil kemungkinan yang paling gampang — menjadi cecak. Kurang dari 1% saja yang berani mengambil jalur yang tidak populer — rnenjadi manusia — dengan resiko bahwa sifat-sifat raksasanya masih terbawa juga.

……………….

Evolusi adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi, khususnya…. EVOLUSI BATIN, JIWA. Setelah tibanya malam Brahma — seekor dinosaurus bisa berevolusi, mengambil jalur yang tidak populer, menjadi raksasa, kemudian manusia – tapi, manusia seperti apa? Manusia bersifat raksasa atau dinosaurus? Manusia cecak?

Jika tidak, maka kita mesti mengembangkan terus nilai-nilai kemanusiaan, mengasahnya terus-menerus. Syukur-syukur di tengah siang hari Brahma kita sudah keluar dari Lingkaran Kelahiran dan Kematian. Tapi, jika tidak — upaya kita sepanjang hari Brahma akan menjadi modal awal kita pada pagi hari berikutnya — kita akan lahir sebagai manusia yang manusiawi, bukan hewani!

KELAHIRAN KITA DI HARI BRAHMA YANG SUDAH BERLALU telah mengantar kita pada hari ini, termasuk kehidupan ini. Dan, apa yang akan terjadi di hari Brahma besok, sangat bergantung pada perbuatan dan sikap serta sifat kita sekarang, saat ini. Jika kita masih bersifat raksasa, maka kita lahir kembali dengan sifat yang sama. Jika kita menyadari adanya kemungkinan lain, maka Iahirlah kita dengan segala apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan kemungkinan tersebut. Lahir di keluarga, di negara, di tengah masyarakat yang menunjang evolusi kita.

Jika pilihan kita adalah “Ah capek —jadi manusia segala. Jadi cecak saja!” Maka, itulah yang terjadi. Untuk menjadi cecak sungguh sangat mudah. Tidak perlu melakukan apa-apa. Tetaplah menjadi munafik, tidak berterima kasih terhadap orang yang berbuat baik. Malah kalau bisa mencelakakan mereka – maka, bim-salabim — jadilah cecak!

SEKARANG, KITA TIDAK INGAT LAGI sudah pernah jadi cecak berapa kali; jadi monyet berapa kali; jadi kambing berapa kali — dan, sebagainya. Kita tidak mengingat pengalaman-pengalaman itu karena pengalaman sebagai manusia saat ini, lebih dahsyat.

Coba lihat ke belakang….

Dalam hidup ini pun, adalah pengalaman-pengalaman dahsyat saja yang kita ingat betul. Tapi, ketika menjadi cecak atau cacing kita mengingat setiap hari yang pernah kita lewati sebagai manusia. Kita akan mengenang masa lalu dengan penuh penyesalan. Inilah kodrat seekor cecak, untuk menderita sepanjang hidupnya. Mau? Tidak? Berubahlah!

Setiap kali melihat cecak, sadarilah adanya kemungkinan bila ia pernah menjadi manusia yang bersifat raksasa, tidak mengolah dirinya, dan kembali menjadi cecak. Jangan meniru mereka.

Mau tahu warga bangsa mana yang masih banyak mewarisi sifat-sifat raksasa? Silakan memperhatikan jumlah cecak di dinding-dinding rumah mereka, di negeri mereka…… Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Catatan:

Satu Kalpa sama dengan “satu hari bagi Brahma”.

Satu hari bagi Brahma sama dengan seribu Yuga.

Satu Yuga terdiri dari empat zaman: Satya Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga.

 

Setelah musuh-musuh Sri Krishna hancur, maka Kerajaan Dvaraka berada dalam keadaan damai. Pada suatu saat para ahli astronomi menyampaikan akan terjadinya peristiwa gerhana matahari yang luar biasa. Gerhana seperti ini yang akan terjadi pada pergantian kalpa atau Hari Brahma akan berakhir. Untuk itu semua warga Dvaraka pergi ziarah ke tempat suci Kurukshetra di daerah yang disebut Samantapancaka. Hanya Aniruddha dan Krtavarma yang diminta menjaga Dvaraka.

 

Pada akhir Hari Brahma, akhir kalpa semua akan digulung. Dan, pada waktu awal Hari Brahma yang baru, awal kalpa baru, lahir makhluk-makhluk baru sesuai “pencapaian” 1 kalpa sebelumnya.

Dalam Srimad Bhagavatam disampaikan bahwa dalam kalpa sebelumnya Narada adalah anak pembantu, akan tetapi di kalpa selanjutnya dia sudah menjadi Rishi Putra Brahma. Sanathkumara guru Rishi Narada hidup di Kalpa sewaktu Narada sebagai pembantu kemudian tidak lahir lagi.

Kita semua lupa pada saat pergantian kalpa tersebut kita sebelumnya menjadi apa dan bagaimana pencapaian kita.

Kelahiran kita di hari Brahma yang sudah berlalu telah mengantar kita pada hari ini, termasuk kehidupan ini. Dan, apa yang akan terjadi di hari Brahma besok, sangat bergantung pada perbuatan dan sikap serta sifat kita sekarang, saat ini. Jika kita masih bersifat raksasa, maka kita lahir kembali dengan sifat yang sama. Jika kita menyadari adanya kemungkinan lain, maka Iahirlah kita dengan segala apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan kemungkinan tersebut. Lahir di keluarga, di negara, di tengah masyarakat yang menunjang evolusi kita.

Jika pilihan kita adalah “Ah capek —jadi manusia segala. Jadi cecak saja!” Maka, itulah yang terjadi. Untuk menjadi cecak sungguh sangat mudah. Tidak perlu melakukan apa-apa. Tetaplah menjadi munafik, tidak berterima kasih terhadap orang yang berbuat baik. Malah kalau bisa mencelakakan mereka – maka, bim-salabim — jadilah cecak!

 

Seluruh ksatria dan keluarganya dari daerah Bharatavarsa ziarah di tempat suci Samantapancaka. Vasudeva ayah Sri Krishna bertemu saudarinya, Kunti ibu Pandava di sana. Warga Brindavan di bawah pimpinan Nanda juga hadir di sana.

Sri Krishna memperhatikan para ksatria yang bertubuh kuat. Sebagian dari mereka angkuh karena kekayaan dan keperkasaannya. Sri Krishna telah melihat bahwa banyak ksatria sebentar lagi akan terbunuh, akan tetapi mereka tidak menyadarinya.

Avatara Parasurama pernah membunuh semua ksatria yang jahat dan darahnya ditampung di Danau Samantapancaka. Dan kini Sri Krishna melihat tidak lama lagi akan banyak ksatria dan prajurit yang mati di dekat tempat tersebut.

Kebanyakan yang hadir datang dalam rangka ziarah, mandi di di danau, karena akan ada gerhana matahari yang besar. Akan tetapi banyak yang tidak sadar bahwa pada saat kalpa berakhir nanti, mereka semua akan digulung oleh alam. Walaupun demikian, hitungan waktu bagi alam itu sangat panjang, sehingga masyarakat gampang melupakannya.

Sri Krishna sedang bermeditasi saat Balarama mendekat, Balarama mengatakan paham apa yang dipikirkan Sri Krishna, akan tetapi hal tersebut tidak akan dapat dihindari. Balarama kemudian mengajak Sri Krishna melihat siapa yang datang yang akan membahagiakan Sri Krishna………………..

Bagaimanakah pertemuan Vasudeva dengan Kunti, Sri Krishna dengan para gopi dan gopala dari Brindavan? Silakan ikuti kisah selanjutnya, apa yang dibicarakan mereka di akhir kalpa…….

Dantavakra: Takdir adalah Hasil dari Benih Tindakan Masa Lalu #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on September 18, 2017 by triwidodo

Reinkarnasi dan hubungan pada masa kini

Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada. Pertemuan kita, perpisahan kita, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak. Yang namanya takdir itu apa? Memang yang tengah kita alami sekarang ini merupakan takdir kita, sudah ditentukan oleh masa lalu kita. Tetapi yang menentukannya siapa? Kita, kita juga.

Apa yang kita buat pada masa lalu menentukan masa kini kita. Nah, Sekarang, apa yang kita buat sekarang, dapat menentukan masa depan kita.

Takdir sepenuhnya berada di tangan Anda. Bagi mereka yang mengetahui mekanisme alam ini, hidup menjadi sangat indah. Ia tidak akan menangisi takdirnya. Ia tahu persis bahwa ia pula yang menentukan takdirnya sendiri. Ini yang disebut Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat. Karma berarti tindakan, karya. Karma bukan berarti tindakan baik, ataupun tindakan buruk, sebagaimana anda tafsirkan selama ini. Anda yang menderita, anda katakan itu Hukum Karma. Hubungan-hubungan Anda pada masa lalu, menghubungkan Anda kembali dengan mereka yang menjadi kawan Anda, keluarga Anda pada masa kini.

 

Reinkarnasi dari Ego

Yang mengaktifkan komputer manusia ini adalah juga tiga unsur utama. Saya mengatakan tiga unsur utama, karena sebenarnya masih banyak unsur lain, tetapi yang utama adalah tiga.

Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware.

Kedua, Ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja,

Ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Badan kita sewaktu-waktu bisa rusak, bisa berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Ego kita, yang merupakan software masih dapat digunakan.

……………..

Yang lahir kembali itu siapa? Bukan badan kita, karena badan kita sudah menjadi bangkai, sudah dikubur atau dibakar. Badan sudah musnah. Badan tidak mengalami kelahiran kembali. Badan mengalami proses daur ulang dalam bentuk lain. Dari tanah datangnya, ia kembali ke tanah, untuk selanjutnya datang lagi dan kembali lagi, demikian seterusnya………. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ini adalah kisah reinkarnasi para tokoh di Zaman Sri Rama yang pada lahir kembali pada Zaman Sri Krishna.

 

Upacara Rajasuya telah berakhir. Dan dalam waktu tidak lama Shalva menyerang Dvaraka menuntut balas atas kematian Shishupala dan Jarasandha. Sri Krishna yang berada di Mathura segera datang ke Dvaraka dan membunuh Shalva.

Seorang sepupu Shishupala dan sahabat Shalva dan Jarasandha bernama Dantavakra menuntut balas menyerang Sri Krishna. Akan tetapi Dantavakra pun mati dibunuh Sri Krishna dan nampak sebuah sinar keluar dari tubuh Dantavakra masuk ke kaki Sri Krishna.

Rishi Shuka memberikan penjelasan kepada Parikshit, mengapa Shishupala dan Dantavakra memperoleh kebebasan saat dibunuh oleh Sri Krishna.

Silakan baca ulang:

Hiranyaksha dan Hiranyakashipu Kelahiran Sifat Raksasa Akibat Nafsu #SrimadBhagavatam

Varaha Wujud Avatara saat Kezaliman Hiranyaksha Merajalela #SrimadBhagavatam

Hiranyakasipu: Tercapainya Ambisi Menjadi Penguasa Tiga Dunia #SrimadBhagavatam

Prahlada: Kombinasi Ayah Buas dan Ibu Saleh, Menjadi Pengabdi Gusti #SrimadBhagavatam

Avatara Narasimha: Wujud Narayana Pelindung Dharma #SrimadBhagavatam

Pada suatu ketika, anak-anak Brahma: Sanaka, Sanatama, Sanananda dan Sanatkumara pergi ke Vaikuntha untuk menemui Sri Vishnu. Vaikuntha adalah istana tempat tinggal Sri Vishnu bersama permaisurinya, Lakshmi. Istana tersebut hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang mempunyai bhakti yang luar biasa tinggi kepada Narayana.

Para rishi putra Brahma memasuki Istana Vaikuntha sampai ke gerbang ke tujuh. Di sana dijaga oleh Dwarapala, dua penjaga, Jaya dan Vijaya. Ketika para rishi berusaha masuk, mereka dihalangi oleh kedua penjaga gerbang karena Sri Vishnu sedang berdua dengan Lakshmi. Hal ini menyebabkan kemarahan para rishi yang sudah mempunyai janji dengan Sri Vishnu. Resi Sanaka memberi kutukan bahwa kedua penjaga tersebut akan turun di dunia dan lahir dua belas kali sebagai musuh Sri Vishnu, Gusti yang selama ini menjadi pelindung mereka.

Pada saat pertengkaran itu, Sri Vishnu muncul di depan mereka. Bertobat atas kebodohan dan keangkuhan mereka, Jaya dan Vijaya memohon Sri Vishnu untuk membebaskan mereka dari kutukan sang tamu. Sri Vishnu mengatakan bahwa kutukan tidak bisa dibatalkan, tapi bisa mengurangi intensitasnya. Dia memberi mereka dua pilihan: mereka bisa memilih opsi pertama untuk lahir di dunia sebanyak 7 (tujuh) kali sebagai bhakta, devoti Sri Vishnu; atau opsi kedua untuk lahir di dunia sebanyak 3 (tiga) kali sebagai musuh bebuyutan Sri Vishnu. Sri Vishnu mengatakan kepada mereka bahwa setelah menjalani salah satu dari dua opsi tersebut, mereka akan bisa kembali ke Vaikuntha dan menduduki posisi semula sebagai Dwarapala.

Jaya dan Vijaya bahkan tidak bisa membayangkan berada jauh dari Sri Vishnu selama tujuh kali kehidupan di dunia. Oleh karena itu, mereka memilih untuk menjadi musuh bebuyutan Sri Vishnu selama tiga kali kelahiran. Dengan cara itu, mereka pikir mereka juga akan mampu mencapai mokhsa di tangan Sri Vishnu yang mereka cintai.

Demikanlah, mereka lahir sebagai Hiranyaksa dan Hiranyakasipu yang membenci Sri Vishnu, Ravana dan Kumbhakarna yang membenci Sri Rama, serta Shishupala dan Dantavakra yang membenci Sri Krishna. Mungkin mereka hanya menjalankan peran jahat sesuai skenario Sang Sutradara Agung sebagai pembelajaran kepada umat manusia.

Dikisahkan bahwa Lakshmana adalah adik Sri Rama yang setia mendampinginya. Saat Sri Rama beserta Sita berada dalam pengasingan di hutan, dia mendampinginya. Saat perang melawan Ravana dari Alengka, Lakshmana pun mendampingi Sri Rama. Bahkan sampai Sri Rama menjadi raja di Ayodhya, Lakshmana mendampinginya. Lakshmana ingin saat lahir kembali menjadi kakak avatara bukan adik avatara lagi. Dan dikisahkan Lakshmana lahir kembali sebagai Balarama yang menjadi kakak Sri Krishna, akan tetapi tetap saja dia diatur oleh sang adik.

Di Zaman Treta Yuga, Ravana menculik Sita istri Sri Rama dan di Zaman Dvapara Yuga, Ravana lahir kembali sebagai Shisupala yang calon mempelainya bernama Rukmini diculik Sri Krishna yang merupakan reinkarnasi dari Sri Rama………………….