Karma Sudama: Teman Sekolah Krishna #BhagavatamIndonesia

Pertama tentang hukum karma, ada yang lahir dalam keluarga kaya. Ada yang lahir dalam keluarga miskin. Ada yang lahir sehat, ada yang cacat. Apa sebabnya? Apabila kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha Adil, bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, lantas kenapa ada yang berbuat baik, tetapi menderita terus? Lantas ada pula yang berbuat jahat, tetapi berjaya terus?

Ada yang mengatakan, Tuhan sedang menguji mereka. Ujian macam apa? Apabila betul ujian, maka sangat tidak adil. Ada yang diuji dan ada yang tidak diuji. Anda harus meninggalkan konsep-konsep semu, dan berani menerima sesuatu yang baru. Apabila anda belum berani menerima sesuatu yang baru, dan masih nyaman dengan dogma-dogma lama yang sudah tidak relevan, ilmu yang tidak cocok untuk Anda. Anda tidak memperoleh sesuatu apa pun. Anda akan berada di tepi sungai, tetapi tetap haus. Kehidupan ini akan melewati Anda begitu saja!

Hukum karma berarti hukum sebab-akibat. Setiap sebab akan berakibat. Kehidupan kita sekarang ini merupakan akibat dari kehidupan yang lalu. Perilaku kita dalam hidup ini akan menentukan kehidupan kita berikutnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #OtobiografiParamhansaIndonesia

Ini adalah kisah tentang seorang pelajar Ashram Sandipani, putra seorang brahmana yang miskin. Dia belum bisa mengubah warisan genetika yang ada dalam dirinya, masih egois hanya memikirkan diri sendiri, melupakan pesan Gurunya, bahkan tidak mau berbagi dengan Sri Krishna.

Kalau pada kisah-kisah Sri Krishna, kita membaca para asura atau hewan-hewan yang diselamatkan Sri Krishna, mestinya sang pelajar pun akan diselamatkan juga. Haruskah dia menderita kemiskinan terlebih dahulu baru diselamatkan? Haruskah dia berupaya mohon pertolongan baru dibantu?

 

Adalah Sudama kawan sekolah Sri Krishna dan Balarama sewaktu belajar di Ashram Sandipani. Sudama dari keluarga brahmana yang sangat miskin, dan Guru Sandipani tidak pernah membeda-bedakan apakah dia seorang cucu raja seperti Sri Krishna dan Balarama maupun putra seorang brahmana miskin. Semua diberi pelajaran yang sama dan semua membantu pekerjaan rumah tangga Guru Sandipani. Pada zaman itu para siswa belajar di rumah Gurukula. Jadi mereka belajar dan hidup dalam keluarga sang guru sampai mereka lulus pendidikan.

Pada suatu saat Sudama dan Sri Krishna mendapat tugas untuk mencari kayu untuk keperluan agnihotra yajna dan keperluan rumah tangga Guru Sandipani.

Guru Sandipani memberikan sebungkus buncis dan kacang kepada Sudama yang dianggap lebih tua, dengan pesan agar dimakan bersama Sri Krishna di hutan. Guru Sandipani mengingatkan bahwa hari itu ada kemungkinan hujan deras, dan apabila mereka harus menunggu hujan reda baru pulang ke rumah, mereka bisa makan buncis dan kacang tersebut.

Mereka mengumpulkan kayu dan akan pulang ke rumah, saat hujan tiba. Sudama memanjat dahan pohon besar yang di atas agar tidak kehujanan. Sri Krishna naik di dahan yang agak bawah.

Sudama masih ingat pesan sang guru agar makanan dimakan bersama Sri Krishna, juga dia tahu bahwa Sri Krishna adalah Gusti Pangeran yang mewujud, berita Sri Krishna yang membunuh Kamsa dan para asura sudah tersebar di mana-mana.

Akan tetapi Sudama sekarang merasa kedinginan dan lapar di dahan pohon. Bungkusan buncis dan kacang pemberian sang guru dibuka dan dimakannya. Menghadapi “mangsa” yang berada di depan mata, semua nurani terpinggirkan. Sifat egois yang dimiliki hewan yang masih berada dalam genetikanya membuatnya dia makan sendiri.

Sri Krishna yang berada di bawah mendengar Sudama makan dan minta dibagi. Akan tetapi Sudama menjawab itu bukan suara makan tapi suara gigi gemeretak karena kedinginan. Perlahan-lahan habislah bungkusan buncis dan kacang.

Hujan mulai reda, dan Sudama bersama Krishna turun dari pohon. Sri Krishna bertanya, dimanakah bungkusan makanan yang diberikan oleh guru. Sudama mohon maaf dan menyampaikan  karena kelaparan dia makan sendirian di atas pohon.

Sri Krishna mengingatkan bahwa tidak baik melawan perintah guru, dan berbagi makanan itu penting bagi peningkatan kesadaran. Cara egois yang demikian bisa menjadi kejatuhan seseorang.

Sudama dari keluarga miskin, jarang berbagi, makan untuk diri sendiri saja sering kurang. Sifat itu masih dilakoninya, bahkan saat diminta Gusti Pangeran untuk berbagi yang pasti akan membawa berkah pun ditolaknya. Tidak gampang memberi berkah kepada orang yang karena bawaan masa lalunya sengsara dan tidak mau berubah.

Sri Krishna mengingatkan Sudama agar berani mengubah kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak baik agar nasib baik mendatangi.

Sudah bertemu Gusti Pemberi Berkah, tapi belum membuka diri, sehingga hasil karma masa lalu harus dilakoni sehingga Sudama menjadi brahmana yang miskin. Akan tetapi Sudama berupaya sungguh-sungguh untuk mengubah karakter yang tidak baik. Dia ikhlas menerima karma yang harus dialaminya. Dia tidak pernah mengeluh karena kemiskinannya. Akan tetapi bagaimana dengan isterinya? Setelah merasakan kemiskinan yang begitu lama, masih sanggupkah istrinya? Silakan ikuti kisah selanjutnya…..

 

Membuat masa depan cerah dengan berbuat baik saat ini

Hukum Karma, Sebab-Akibat, atau Aksi-Reaksi adalah Hukum Alam yang bersifat universal. Tidak bisa dikaitkan dengan agama, peradaban, atau budaya tertentu. Jika kita alergi terhadap bahasa Sanskerta, atau Kawi, boleh saja kita menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Cina, atau Arab. Tidak menjadi soal.

Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri.

Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia.

Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu.

Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini.

Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan.

Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #SpiritualAstrologiIndonesia

Advertisements

One Response to “Karma Sudama: Teman Sekolah Krishna #BhagavatamIndonesia”

  1. […] A great WordPress.com site « Karma Sudama: Teman Sekolah Krishna #BhagavatamIndonesia […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: