Sudama: Persembahan Nasi Aking kepada Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Salah satu pesan Bapak Anand Krishna yang kami catat, adalah tentang kisah Karma yang mempersembahkan nasi setengah matang kepada Sri Krishna dan Sudama yang mempersembahkan nasi “aking” (sisa nasi yang dijemur dan dimasak kembali) kepada Sri Krishna.

          “Terimalah persembahanku yang sederhana ini, O Gusti, sebagaimana Engkau menerima nasi setengah matang dari Karma.”

Nasi setengah matang dari Karma mewakili kepanembahan kita yang setengah matang; iman kita yang belum matang. Nasi setengah matang dari Karma juga mewakili pikiran-pikiran kita yang belum dewasa; perbuatan-perbuatan kita yang tidak selalu selaras dengan pikiran, perasaan, dan ucapan kita; tindakan-tindakan kita yang tidak selalu bajik.

Sang panembah, sang murid meminta pada Master, “Gusti, aku belum matang, aku tidak matang, tidak dewasa, dan bodoh. Mohon terimalah aku apa adanya.”

Dengan mengakui ketidaksiapan kita, sesungguhnya kita mengkomitmenkan diri untuk Evolusi Jiwa. Jika tidak, sekadar pengakuan saja tidak berarti apa-apa.

Marilah kita tidak melupakan bahwa kita tidak akan pernah bisa membodohi sang Master. Sang Master mengenal kita luar dalam. Kita tidak bisa menyembunyikan apapun dari Master Sejati.

Karma mendekati sang Master dengan iman yang penuh dan kepanembahan yang total, yang one-pointed – jadi sang Master menerimanya, menerima persembahan dirinya yang belum matang, belum selesai dimasak, belum siap.

“O Master, O Gusti, Engkau tidak peduli, apakah nasinya keasinan atau kurang asing. Engkau memakannya seolah itu adalah makanan terlezat yang pernah dimasak.”

Bagi sang Master, panembahan atau iman kita adalah “kesiapan kita”, atau lebih tepatnya “kelayakan kita”; “satu-satunya kualifikasi” kita untuk memasuki diri-Nya. Waspadalah, jangan sampai kita menjadi sombong karena hal ini.

Penerimaan dari sang Master adalah keberuntungan kita. Adalah karunia dari-Nya.Janganlah kita menjadi sombong, “Lihat, lihat, aku diterima.” Kesombongan kita, ego kita hanya akan membawa satu hasil – yaitu, kejatuhan kita dari karunia-Nya.

Ketika seorang anak dikirim ke sekolah – perkara ia diterima masuk atau tidak adalah hak prerogatif dari sekolah. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Hak prerogatif sekolah duniawi masih dapat dikompromikan dengan uang, dengan sumbangan. Tetapi, prerogatif dari Guru tidak dapat dikompromikan dengan apapun, ketika ia menerima, itu adalah karunia-Nya. Dan, seperti telah kita lihat sebelumnya – ada pre-requisite tertentu, persyaratan tertentu, yaitu Iman dan Panembahan.

Dekatilah Sadguru dengan karma kita yang belum matang, selama kita memiliki iman dan panembahan yang dibutuhkan, Ia mungkin akan menerima kita.

Tetapi janganlah sekali-kali kita mengeluh saat Ia mulai memasak diri kita. Yang belum matang, setengah matang harus dimatangkan. Yang mentah harus dibuat matang. Yang belum dewasa harus didewasakan. Dan prosesnya bisa jadi sangat melelahkan.

Gusti menerima persembahan Karma berupa nasi setengah matang dan Ia memakannya. Pahami makna yang tersirat, signifikansi dari cerita ini. “Proses” makan inilah sesungguhnya arti bermurid. Dimakan oleh Sadguru berarti menjadi tanpa ego, menjadi nol.

Kita mungkin dipuja sebagai pahlawan oleh dunia, tetapi Sadguru tidak terpengaruh oleh itu. Sadguru harus menghabiskan kita, menghabiskan ego kita sampai nol, karena pintu, gerbang karunia terbuka semakin lebar saat kesadaran-ego kita semakin habis. Sumber catatan tentang kisah Bapak Anand Krishna

Ini adalah kisah Sudama yang mirip dengan kisah Karma. Ini adalah kisah Sudama teman sekolah Sri Krishna yang menjadi brahmana miskin. Silakan baca ulang Karma Sudama: Teman Sekolah Krishna #BhagavatamIndonesia

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/09/12/karma-sudama-teman-sekolah-krishna-bhagavatamindonesia/

 

Selesai pendidikan di Asram Sandipani, Sri Krishna ke Dvaraka sampai akhirnya menjadi raja dengan permaisuri Rukmini. Sudama tetap tinggal di desa dan menjadi brahmana. Sudama selalu teringat dan rindu dengan Sri Krishna. Sudama menikah dengan Sushila dan tetap sederhana bahkan terlalu miskin sehingga makan pun sering hanya satu kali setiap hari. Istri dan kedua anaknya hidup dalam kemiskinan akan tetapi mereka tidak pernah mengeluh.

Pada suatu ketika istri Sudama mohon agar suaminya berkunjung ke Sri Krishna. Sudama adalah seorang bhakta dan juga teman dekat Sri Krishna, Sri Krishna pasti akan membantu mereka.

Adalah seorang ksatria yang kaya dan sombong di desa Sudama yang tidak senang dengan popularitas Sri Krishna. Dia minta Sudama memujanya dan akan memberi apa pun yang akan diminta Sudama. Sudama menolak permintaan ksatria tersebut, dia hanya memuja Sri Krishna.

Istri Sudama terus mendesak agar Sudama datang ke Sri Krishna. Sudama enggan, karena sebagai Gusti Pangeran yang mewujud, Sri Krishna pasti tahu segalanya. Sudama paham bahwa apa yang dialaminya adalah hasil karma masa lalunya dan dia tidak akan mengeluh.

Atas desakan istrinya akhirnya Sudama bersedia menemui Sri Krishna, tapi dia tidak ingin dengan tangan kosong ke sana. Sang istri datang ke tetangganya akan tetapi tidak berhasil memperoleh oleh-oleh. Akhirnya Sudama membawa “nasi aking”, sisa nasi yang telah dikeringkan dan dimasak kembali untuk dibawa kepada Sri Krishna dlam sebuah bungkusan kecil.

Sudama tercengang melihat istana yang begitu indah dan saat masuk gerbang, Sri Krishna langsung menyambutnya untuk diajak duduk di dalam istana. Sri Krishna langsung membasuh kaki Sudama sebagaimana penghormatan terhadap seorang brahmana dan kemudian membasahi kepalanya dengan air basuhan kaki Sudama. Sudama menangis terharu….. Rukmini datang membawakan minuman bagi Sudama dan Sri Krishna.

Sri Krishna kemudian mengajak Sudama duduk di kursi santai di kebun dan mulai bercerita masa kecil mereka di Ashram Sandipani. Tiba-tiba Sri Krishna mengambil bungkusan Sudama dan berkata ini pasti oleh-oleh dari istri Sudama. Sri Krishna segera memakan satu suap dan mengatakan betapa lezatnya oleh-oleh ini. Sudama juga makan sesuap sambil matanya berlinang air mata.

Sudama kemudian diminta istirahat dan selama beberapa hari dijamu Sri Krishna dan Rukmini dengan penuh hormat. Tidak ada satu patah kata permintaan apa pun kepada Sri Krishna sampai saatnya pamit pulang ke desanya.

Ada kebahagiaan dijamu Gusti Pangeran akan tetapi bercampur kegalauan, apa yang akan dikatakan kepada sang istri yang memintanya mohon bantuan Sri Krishna. Layakkah dia mohon kepada Sri Krishna, tidak tahukah Sri Krishna mengapa dia datang kepadanya?

Sampai di desanya, dia heran lingkungan dekat rumahnya penuh dengan rumah megah. Dan rumahnya sendiri menjadi istana yang megah. Istrinya keluar dengan baju yang indah, betapa jelita istrinya dengan pakaian yang sangat indah tersebut. Terpana oleh suasana itu, sang istri berkata bahwa adalah Vishvakarma, arsitek surgawi yang melakukan bedah rumah lama mereka, tetapi dia tidak mau hidup di tempat istana mewah sedangkan tetangganya hidup di rumah reyot. Vishvakarma membangun rumah mereka dan rumah tetangganya………

Sudama bersama istrinya memanfaatkan kenyamana istana dan kekayaan mereka untuk persembahan kepada masyarakat. Mereka hanyalah alat Sri Krishna, setiap saat melakukan sadhana spiritual untuk meningkatkan kesadaran mereka. Setiap minggu mereka berbagi makanan kepada orang miskin. Makanan adalah persembahan terbaik. Pemberian uang yang tidak tepat bisa membuat orang yang diberi menjadi malas, atau menggunakan untuk hal yang tidak baik. Dia selalu membayangkan saat berbagi makanan seakan-akan dia mempersembahkan makanan kepada Sri Krishna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: