Archive for October, 2017

5 Penyebab Kita Membenci Orang Lain #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on October 31, 2017 by triwidodo

Awal dari kebencian pada orang lain adalah karena mengikuti keinginan, nafsu

“Amarah membingungkan, pandangan dan pikiran seorang menjadi berkabut; dalam keadaan bingung, terlupakanlah segala nilai-nilai luhur, dan lenyap pula kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan yang tidak tepat, sesuatu yang mulia dan sesuatu yang sekedar menyenangkan. Demikian, seorang tersesatkan oleh ulahnya sendiri.” Bhagavad Gita 2:63

Awal dari ketersesatan adalah keinginan; keinginan yang muncul dari ketertarikan, keterikatan. Pertanyaannya ialah: Apakah Manusia bisa Hidup Tanpa Keinginan? Jawabannya: Ya, bisa. Adalah kehendak kuat, yang dibutuhkan untuk hidup bersahaja, dengan apa adanya. Tanpa keinginan, dan dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok saja.

Namun, jika kita belum bisa hidup seperti itu, maka, setidaknya kita bisa hidup dengan membatasi keinginan, atau seperti Guru saya mengatakan, dengan memplafoni keinginan – ceiling on desires.

Berapa stel baju, berapa pasang sepatu yang Anda butuhkan? Tapi, jika Anda setiap hari ke mall dan hobi Anda adalah window shopping, maka, sudah pastilah muncul keinginan untuk membeli sesuatu yang baru. Jika dompet Anda tebal, maka Anda akan langsung membelinya. Jika dompet Anda tipis, maka timbul rasa kecewa, amarah, dan pikiran menjadi liar, timbul kebingungan

Berikut 5 penyebab kita membenci orang lain

 

  1. Kama, keinginan tidak pernah puas

“(Dorongan itu) adalah keinginan dan amarah, bersumber dari sifat rajas, penuh nafsu, penuh gairah. Keduanya tidak pernah puas dan tidak terselesaikan. Pembawa bencana, mereka musuh utama manusia (sebab, menjadi penghalang bagi hidup berkesadaran.” Bhagavad Gita 3:37

“Kama dan Krodha – nafsu keinginan yang tidak pernah terpenuhi, jika dilayani terus; dan, api amarah yang jika tidak segera dipadamkan, akan berkobar terus. Kedua-duanya adalah musuh utama manusia.

…………….

Kenalilah sifat keinginan yang selalu tidak pernah puas. Dilayani terus, ia pun menagih terus. Seperti apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, “Dunia ini memiliki sumber yang cukup bagi seluruh warga dunia, semua orang – tapi tidak cukup untuk melayani keserakahan seorang pun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #BhagavadGitaIndonesia

  1. Kompetisi, perlombaan

Krsna jelas dan tegas bila perlombaan bukanlah tujuan hidup. Setiap orang unik adanya. Setiap percikan Jiwa adalah unik. Ia sedang mengumpulkan pengalaman tenentu. Setiap wahana-badan pun unik, tidak ada yang menjadi pembandingnya. Jadi, jika kita berlomba-lomba untuk mengejar tahta atau harta saja, maka kita sama sekali tidak memahami Jiwa dan permainan-Nya.

Bermain, ya untuk bermain – Bukan untuk menang atau kalah. Dalam permainan ini, setiap orang sudah pasti sukses, jika ia bermain dengan semangat bermain, bukan untuk mengalahkan orang lain. Setiap orang ditakdirkan sebagai pemenang. Penjelasan Bhagavad Gita 16:18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Tidak melihat Jiwa yang sama dalam setiap makhluk

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Berarti, melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Bukan saja di balik wujud-wujud yang indah, tapi di balik wujud-wujud yang tidak indah. Bahkan, dalam “diri” hewan. Ilusi Dualitas menciptakan preferensi, pilih kasih, favoritism – ini kesukaanku, itu bukan kesukaanku.

Selama masih terjebak dalam Dualitas, kita tidak bisatidak pilih kasih. Ini bangsaku, itu bangsa lain, asing. Aku tidak boleh mencela, menyakiti dan merugikan orang-orang sekepercayaan. Tapi terhadap kelompok kepercayaan lain, aku boleh berbuat apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Iri terhadap orang lain

“Terkendali oleh keangkuhan, kekerasan, kesombongan, nafsu, amarah dan sebagainya, mereka sesungguhnya melecehkan Aku yang bersemayam dalam diri mereka dan diri setiap orang.” Bhagavad Gita 16:18

Pelecehan terjadi, karena kita menaruh rasa iri terhadap orang lain, cemburu, atau menganggapnya lebih rendah. Semua ini muncul dari delusi bahwasanya “lain”-nya seseorang adalah sebuah realita. Padahal yang “lain” itu tidak ada – Sang Jiwa Agung, lewat percikan-percikan yang tak pernah terpisahkan dari-Nya sedang menerangi setiap makhluk. Sinar suci yang sama menerangi setiap orang.

Di tingkat wahana-badan, memang banyak jenis, beragarn kendaraan. Sepintas, pengemudi setiap kendaraan pun tampak beda. Keturunan Cina jelas beda dari keturunan Afrika. Orang Asia tidak memiliki warna kulit yang sama seperti orang Eropa. Namun, aliran kehidupan, listrik Ilahi yang menghidupi setiap pengemudi adalah satu dan sama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Identifikasi diri dengan tubuh

Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena ‘setiap’ Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama.

Dalam Alam Ego, kita beragam, berbeda – Walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda. Wajah Anda tidak sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara pikir kita beda. Perasaan kita beda!

Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: ‘Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…’

Konflik adalah hasil dari salah identifikasi. Ketika kita memercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” tanpa memiliki atau menguasai sesuatu — maka, kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri — karena sesungguhnya Jiwa bebas adanya, ia tidak mau terikat — tapi ia terpengaruh oleh keinginan-keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan ‘tidak’ terhadap kekuasaan ego.

Maka terjadilah kekecewaan — karena, bagaimanapun juga kita tak akan pernah bisa menguasai dunia-benda sepenuhnya. Penguasaan kita sudah pasti bersifat terbatas. Sementara itu, Jiwa adalah percikan Hyang Tak Terbatas. Penjelasan Bhagavad Gita 6:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Sebagai Solusi Dekatilah Para Bijak

“Ketahuilah hal ini dengan mendatangi mereka yang mengetahui kebenaran; bertanyalah dengan penuh ketulusan hati; layani mereka dengan penuh keikhlasan; dan mereka akan mengajarkan, mengungkapkan kebenaran itu padamu.” Bhagavad Gita 4:34

Ayat penting bagi setiap “Calon” Siswa, calon murid. Ketika menghadapi seorang Pemandu Rohani, seorang Sadguru, maka sikap kita sangat menentukan bagi Sang Sadguru untuk menyampaikan kebenaran sesuai dengan kemampuan kita untuk menerimanya.

Ketika bertanya sesuatu… Kita mesti tulus. Bukan bertanya untuk “menguji” sang Pemandu Rohani. Banyak di antara kita yang melakukan hal itu, bertanya untuk “mencari tahu betapa pintarnya kau.” Jika kita sudah bersikap seperti itu, maka seberapa pun hebatnya seorang pemandu, tidakakan bermanfaat bagi kita. Kita sudah menempatkan diri kita di atasnya; sementara itu, pengetahuan adalah seperti aliran sungai. Sifat alami air adalah mencari dataran rendah, mengalir ke bawah. Ia tidak pernah mengalir ke atas secara alami.

Seringkali kita berada sangat dekat dengan seorang Pernandu kelas prima. Tapi, karena sikap egois kita, tidak terjadi apa-apa. Aliran kebenaran yang keluar darinya, pengetahuan sejati yang mengalir darinya tidak membasahi kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kematian Menghampiri: Sudah Layakkah Kita Berada di Sisi-Nya? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 29, 2017 by triwidodo

Berbagai manusia layak berada di sisi-Nya. Kita termasuk golongan mana?

Orang yang  bersifat raksasa layak mencapai-Nya

“Di antara Daitya, Danava, atau raksasa, Akulah Prahlada, panembah yang teguh dalam keyakinannya; di antara segala perhitungan, Akulah Sang Kala, waktu; di antara hewan, Akulah Raja Rimba atau Singa; dan, di antara burung, Akulah Burung Garuda.” Bhagavad Gita 10:30

Raksasa, Danava atau Daitya bukanlah kaum yang “terkutuk” dan mesti dimusuhi hingga akhir zaman. Tidak ada permusuhan mutlak atau abadi seperti itu. Di sinilah letak kemuliaan Gita dan Krsna.

DI ANTARA PARA DAITYA, DANAVA ATAU RAKSASA PUN, jika ada seorang Prahlada yang memutuskan untuk “berubah” — maka pintu kesempatan terbuka lebar baginya. Berubah, dalam hal ini berarti the conversion of heart — konversi hati. Bukan berubah kepercayaan atau keyakinan. Bukan pula perubahan ideologi. Tapi, perubahan-hati. Perubahan karakter.

Sejak usia dini, berkat pendidikan yang diperolehnya, Prahlada sudah merasa “tidak pas”, tidak cocok dengan karakteristik raksasa ayahnya.

la melakukan pemberontakan terhadap kebiasaan-kebiasaan, adat-istiadat, tradisi, dan segala sesuatu yang bersifat raksasa – alias, bersifat materialistis.

JIKA KITA INGIN BERUBAH, mau-tidak-mau, kita pun mesti bersikap seperti Prahlada. Tidak bisa adem ayem, berubah piece-by-piece, sedikit-sedikit. Tidak bisa. Perubahan sikap mesti terjadi secara drastis. Ini yang dilakukan oleh Prahlada. Pertama, ia mengubah dietnya. Para raksasa makan daging, ia makan sayur-mayur. Para raksasa mengejar kemewahan, ia hidup bersahaja. Para raksasa membanggakan diri sebagai makhluk kuat dan terpilih, ia bersikap rendah-hati. Prahlada bertolak belakang dari segala kebiasaan ayahnya.

PERUBAHAN SEPERTI INILAH YANG MESTI TERJADI. Sifat tegas dan ketegasan seperti inilah yang patut kita contohi. Tanpa ketegasan Prahlada — kita tidak bisa berubah. Kita akan tetap menjadi raksasa, hanya berjubah manusia saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Semua manusia berdasarkan sifat dan peran mereka layak mencapai-Nya: Brahmana, Kesatria, Vaisya, Sudra layak mencapai-Nya

“Pembagian tatanan masyarakat dalam empat bagian (cendekiawan, kesatria, pengusaha, dan pekerja) berdasarkan sifat dan peran mereka masing-masing adalah atas kehendak-Ku pula. Kendati demikian Aku Tak Terbagi, Aku Tetap Kekal Abadi, dan tidak pula terlibat dalam suatu tindakan.” Bhagavad Gita 4:13

Catur Varna: Empat Kelompok Masyarakat yang, awalnya, tidaklah dibagi berdasarkan kelahiran, keturunan, dan darah, tapi berdasarkan potensi diri dan profesi seseorang.

KELOMPOK-KELOMPOK TERSEBUT ADALAH: Pertama, Kelompok Brahmana atau Cendekiawan – para pemikir, pendidik, guru pengajar, ahli kitab atau ritus, pendeta, dan sebagainya. Profesi mereka sesuai dengan potensi diri mereka, yaitu untuk mendidik anak bangsa; mengarahkan masyarakat; menasihati pemerintahan, dan sebagainya.

                Kedua, Kelompok Ksatriya atau Kesatria adalah para politisi, diplomat, para abdi negara, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.

Ketiga, Kelompok Vaisya atau Pengusaha — jelas, berprofesi sebagai pedagang, industrialis, bankir, dan sebagainya.

Dan, Keempat, Kelompok Sudra, atau Kaum Pekerja. Mereka adalah para pelaksana, para profesional. Tanpa bantuan mereka, ketiga kelompok sebelumnya tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Pengelompokan ini bukanlah untuk mengangkat, meninggikan satu kelompok dan merendahkan atau menistakan kelompok lain. Sama sekali tidak demikian.

………………..

KITA MELUPAKAN POTENSI DIRI – Berpotensi sebagai pendidik, tapi menjadi politisi. Berpotensi sebagai abdi negara, tapi lebih suka dagang karena “duitnya banyak.” Sebaliknya, pengusaha menginginkan kekuasaan, dan masuk politik.

JIWA YANG SADAR tidak akan pernah melakukan hal itu. Jiwa yang sadar, sadar sesadar-sadarnya bahwa dengan menjalankan peran sesuai dengan potensinya, ia sudah berkontribusi terhadap masyarakat. Berkontribusi secara positif dan efektif. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Perempuan, pengusaha, golongan pekerja layak mencapai-Nya

“Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), kaum perempuan; para vaisya atau pengusaha; para sudra atau kaum, golongan pekerja dalam bidang apa saja; bahkan mereka yang berasal dari kelahiran yang dianggap rendah – jika berlindung pada-Ku, maka mencapai tujuan tertinggi.”  Bhagavad Gita 9:33

Krsna mendobrak kepercayaan umum di zamannya bahwa hanyalah para Brahmana — para cendekiawan, ahli kitab, dan pendidik – atau, kaum Ksatriya, kesatria, priyayi, abdi-negara saja yang memiliki kesempatan, sarana penunjang, dan lingkungan yang menunjang peningkatan kesadaran mereka.

Peningkatan kesadaran bukanlah monopoli seseorang atau sekelompok orang. Krsna bukan utusan Gusti Pangeran, dalam pengertian sempit. Krsna, dalam keyakinan yang berkembang di wilayah peradaban kita, adalah Avatar atau Batara. Ia adalah Perwujudan Ilahi — kendati demikian, Krsna juga mewakili Anda dan saya. Setiap orang memiliki potensi yang sama, untuk mewujudkan Krsna dalam hidupnya. Krsna, kesadaran Krsna bukanlah monopoli Krsna sendiri atau sekelompok orang yang merasa sebagai pewaris, dan sebagainya.

Kaum perempuan, hingga saat ini pun, sering dianggap kaum lemah sehingga mesti dipimpin, diayomi, diberi kesempatan yang sama, diperjuangkan hak-haknya atas nama emansipasi segala. Bagi Krsna tidak demikian. Ia berdiri sama tinggi dan sama rendahnya dengan siapa saja, entah kaum pria, jender ketiga, atau jender keberapa saja. Ia memiliki potensi diri yang sama. Seorang perempuan juga bisa ‘menjadi’ Krsna.

Demikian pula dengan kelompok pengusaha dan pekerja. Sesungguhnya, Krsna sedang memecuti kita semua, “Bangkit, berjuang, jangan bermalas-malasan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Contoh nyata: Vyasa dan para avatar

Pembagian masyarakat dalam empat kelompok – para cendekiawan, para pegawai negeri, para ekonom dan para pekerja atau buruh – merupakan suatu eksperimen yang hanya dilakukan oleh masyarakat India kuno. Kelak pengelompokan ini akan disebut kasta oleh orang-orang asing, padahal istilah asalnya adalah varna atau “pengelompokan berdasarkan tugas/sifat/potensi”.

Pada jaman Mahabharat, sekitar 3000 tahun S M, sistem ini berjalan baik. Vyaasa atau Abiyasa dalam pewayangan Jawa adalah anak di luar nikah dari seorang wanita penjual ikan dan dari golongan (kasta) Shudra, yang sekarang disalahartikan sebagai golongan terendah. Namun, karena bijak, Abiyasa anak di luar nikah dari kasta Shudra mendapat gelar “Jagad Guru” – guru sejagad. Ia yang menulis epos besar, epos terpanjang dalam sejarah manusia: Mahabharat. Ia pula yang mengedit dan mengumpulkan Veda.

Contoh lain yang menarik sekali adalah bahwa para avatar di India, tidak ada yang berasal dari golongan (kasta) Brahmin yang dianggap teratas. Mereka berasal dari golongan-golongan lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat#ParamhansaIndonesia

 

Lewat Bhakti, Pengabdian

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

“Pusatkanlah segenap pikiran dan perasaanmu pada-Ku; berbhaktilah pada-Ku; (tundukkan kepala ego) bersujudlah pada-Ku dengan semangat panembahan yang tulus; demikian, berlindung pada-Ku senantiasa, niscayalah kau meraih kemanunggalan dengan-Ku.”

6 Petunjuk Krishna kepada Arjuna dalam Kehidupan Kita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 26, 2017 by triwidodo

  1. Perlunya hubungan langsung dengan Gusti Pangeran di saat ragu bertindak

Setting Bhagavad Gita adalah medan perang. Arjuna seharusnya memimpin Pandava, tapi dia ragu. Dia berpaling ke saisnya untuk mendapatkan bimbingan. Sang Sais kereta adalah Gusti yang mewujud sebagai Sri Krishna. Ini berarti Arjuna mempunyai hubungan langsung dengan Gusti Pangeran, Arjuna bisa mohon petunjuk-Nya, namun sebagai pelaksananya adalah Arjuna sendiri. Jadi Arjuna tidak minta Gusti menghancurkan Kaurava, tetapi bagaimana cara menghadapi Kaurava. Pada saat ragu bertindak mohonlah petunjuk pada Gusti. Doa Gayatri atau doa yang semacam dari berbagai keyakinan adalah permohonan agar kita tidak ragu dan bertindak tepat.

 

  1. Di dunia ini tak ada yang abadi

“Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), dari Alam Penciptaan Sang Pencipta Brahma atau Brahmaloka hingga alam-alam lain di bawahnya – semua mengalami kelahiran ulang. Adalah seseorang yang telah mencapai-Ku saja yang tidak mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:16

Alam-alam dunia, surga, neraka, dan sekian banyak alam lainnya — ada yang mirip dengan alam kita, sejenis, ada juga yang beda — semuanya adalah bagian dari ciptaan Sang Pencipta, Brahma. Pencipta sendiri, Brahma sendiri, kendati bertugas untuk waktu yang sangat lama, tetaplah tidak abadi. Semuanya rnengalami kelahiran dan kematian berulang-ulang.

………………..

Jika tujuan kita berbuat baik, beramal-saleh, berdana-punia, berdoa, dan sebagainya adalah sekadar untuk mencapai surga, mendapatkan jatah kapling di sana, maka itulah yang akan terjadi. Singgah di surga sebentar – dan, sebentar itu bisa beberapa bentar dalam takaran waktu dan ruang yang berbeda — menikmati apa saja yang kita inginkan. Kemudian, ceplokl Digoreng lagi di atas wajan dunia atau alam sejenis untuk melanjutkan perjalanan.

HUKUM KEHIDUPAN BER-“BENTUK” BULAT seperti berlari di dalam stadion berbentuk bulat, bundar. Kita berbulat-bulat, berbundar-bundar, berlari bulat, berlari bundar terus. Berputar-putar terus. Tidak ada ujung. Tidak ada pangkal.

Untuk keluar dari Lingkaran Penciptaan ini — satu-satunya jalan adalah “berhenti dan keluar dari lingkaran”. Jangan berputar terus! Pemahaman ini tentunya beda dari pemahaman lain yang melihat kehidupan ini sebagai garis linear — garis horizontal dari titik kelahiran hingga titik kematian; atau vertikal — dari titik dunia hingga titik surga atau neraka. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

  1. Gusti Pangeran tidak memaksakan kehendak-Nya

Demikian, Kebijakan Tertinggi, Pengetahuan Sejati yang lebih dalam dari yang terdalam ini telah Ku-sampaikan padamu. Renungkan, dan selanjutnya bertindaklah sesuai dengan kehendakmu.” Bhagavad Gita 18:63

Tidak ada pemaksaan. Seorang Krsna — seorang guru sejati atau Sadguru — tidak pernah memaksakan kehendaknya.

…………….

Persis seperti yang dilakukan oleh Krsna setelah menyampaikan pandangan-pandangannya Krsna tidak memaksa Arjuna, “Selanjutnya terserah kamu sendiri, kamu mau mengikutinya, mengindahkannya — silakan. Mau menolaknya, pilihanmu juga.”

Kebebasan inilah yang menempatkan Bhagavad Gita pada posisi yang unik. Tidak ada sumpah-serapah, tidak ada sanksi api-neraka — Bhagavad Gita mengajak kita untuk menggunakan inteligensia kita masing-masing. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

  1. Bertindak tanpa pamrih

“Dengan berkarya tanpa keterikatan dan tanpa pamrih seperti itulah Raja Janaka dan para bijaklainnya mencapai kesempurnaan diri. Demikian, hendaknya engkau pun bertndak tanpa kepentingan pribadi dan, semata untuk mempertahankan tatanan dunia.” Bhagavad Gita 3:20

Keberhasilan Janaka adalah karena semangat di balik apa yang dilakukannya. Ia bebas dari kepentingan dirinya. Ia berkarya tanpa pamrih untuk menjaga tatanan dunia dan masyarakat. Krsna mengajak Arjuna untuk berbuat serupa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

  1. Jangan mengikuti dorongan nafsu keinginan

“(Dorongan itu) adalah keinginan dan amarah, bersumber dari sifat rajas, penuh nafsu, penuh gairah. Keduanya tidak pernah puas dan tidak terselesaikan. Pembawa bencana, mereka musuh utama manusia (sebab, menjadi penghalang bagi hidup berkesadaran.” Bhagavad Gita 3:37

“Kama dan Krodha – nafsu keinginan yang tidak pernah terpenuhi, jika dilayani terus; dan, api amarah yang jika tidak segera dipadamkan, akan berkobar terus. Kedua-duanya adalah musuh utama manusia.

…………….

Kenalilah sifat keinginan yang selalu tidak pernah puas. Dilayani terus, ia pun menagih terus. Seperti apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, “Dunia ini memiliki sumber yang cukup bagi seluruh warga dunia, semua orang – tapi tidak cukup untuk melayani keserakahan seorang pun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

  1. Jadilah Pengemudi yang handal, jangan terkendali kesadaran badan, pikiran dan indra

“Akulah Sumber segala penciptaan; segala sesuatu di dunia ini bergerak dan terjadi karena-Ku. Dengan mengetahui ini, seorang bijak penuh devosi senantiasa menyembah-Ku dengan segenap kesadarannya.” Bhagavad Gita 10:8

Kesalahpahaman terjadi ketika Jiwa terperangkap dalam identitas palsu. Membiarkan diri-Nya terkendali oleh kesadaran badan, gugusan pikiran serta perasaan, dan indra.

“Hai Jiwa, bertindaklah sebagai pengemudi – Kendaraan yang kita miliki ini, walau sudah dilengkapi dengan segala gadget dan teknologi mutakhir, walau sudah memanfaatkan teknologi komputer segala – tetaplah mesti kita kendalikan. Ketahuilah  bila diri kita adalah pengawas indra dan kinerja komputer kendaran ini. Kita tidak bisa, tidak boleh mengelakkan peran kita sebagai pengemudi.”

Kendaraan-badan bukanlah seperti pesawat tanpa awak. Bahkan pesawat tanpa awak pun, sesungguhnya ber-‘awak’. Bedanya, awak pesawat tidak ada dalam pesawat. Mereka ada di darat dan sedang mengendalikannya dari ruang kendali. Jadi, sesungguhnya tiada kendaraan tanpa awak. Kendaraan badan pun berawak. Awaknya – kita, Anda, saya. Menjadi pengemudi dan pengawas yang baik, cakap – adalah mengenal, menyadari, menghayati peran kita masing-masing. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Parikshit: Menghadapi Kematian setelah Mendengarkan Bhagavatam #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on October 24, 2017 by triwidodo

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

…………….

“Memuliakan-Nya” berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan moderasi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan – berkecukupan. Namun jangan lupa, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.

……………….

Tanpa Kesadaran Jiwa – badan yang satu ini; indra yang berjumlah lima ditambah indra-indra persepsi yang berjumlah lima pula; gugusan pikiran dan perasaan, keberhasilan akademis dan profesional – semuanya menjadi “segala-gala”nya. Jika ada yang hilang, maka kita kehilangan segala-galanya.

Kesadaran Jiwa membuat kita tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, walau kita menyaksikan tubuh menjadi debu, menjadi abu! Saat itu pun kita masih bisa menyanyi girang dan bersuka cita, “Aku abadi, aku abadi. Sivoham, So ham!” Saat itu, kita baru menyanyikan Bhajan, baru mengagungkan kemuliaan-Nya dalam pengertian yang sesungguhnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Pusatkanlah segenap pikiran dan perasaanmu pada-Ku; berbhaktilah pada-Ku; (tundukkan kepala ego) bersujudlah pada-Ku dengan semangat panembahan yang tulus; demikian, berlindung pada-Ku senantiasa, niscayalah kau meraih kemanunggalan dengan-Ku.”

Segala sembah, sujud, dan sebagainya – bukanlah untuk membuat seseorang menjadi hamba Krsna. Bukan, itu bukanlah tujuan Krsna. Krsna bukanlah seorang guru picisan yang sedang mencari, dan merekrut murid. Ia tidak senang melihat kita membuntutinya seperti domba. Ia menginginkan kita – setiap orang di antara kita – untuk mengalami apa yang dialami-Nya. Yaitu, kemanunggalan ‘aku’ kecil, aku-ego, dengan Jiwa Agung. Pertemuan antara Jiwa-Individu dan Jiwa-Agung – Jivatma dan Paramatma. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Tujuh hari telah berlalu, sejak Parikshit mendengarkan cerita-cerita dari Rishi Shuka.

Rishi Shuka berkata, bagi mereka yang mendengarkan cerita Srimad Bhagavatam ini dengan penuh penghayatan, tidak ada ketakutan terhadap kematian. Makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata – tidak berwujud; dan, berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Tidak demikian dengan Atman yang selalu ada. Renungkanlah badan yang sementara ada dan Atman yang selalu ada.

Parikshit berkata bahwa dia sudah melampaui rasa takut terhadap kematian. Parikshit mohon ijin pergi untuk menyelesaikan kehidupannya. Rishi Shuka beserta para rishi yang lain juga meninggalkan tempat tersebut.

Parikshit duduk bersila melakukan Yoga. Ular Taksaka mewujud sebagai brahmana mendekati Parikshit, tidak ada seorang pun yang mempedulikan brahmana tersebut. Tak lama kemudian brahmana tersebut kembali menjadi ular yang menggigit Parikshit. Parikshit terbakar menjadi abu………………

 

Bhagavatam mengatakan bahwa cerita dan perbuatan Gusti Pangeran tidak dapat dipahami. Tidak ada yang bisa mengerti mengapa dilakukan-Nya, tetapi mendengarkan/membaca kisah Srimad Bhagavatam menghasilkan kebahagiaan di dalam hati dan memberikan keabadian. Begitulah sifat keilahian.

(Memahami semua perbuatan Gusti Pangeran berarti kita telah menjadi Gusti Pangeran??)))

Perhatikan gelombang radio yang dipancarkan dari Delhi, Bangalore, Madras, Calcutta, Sri Lanka, bahkan Amerika. Tidak ada dua gelombang yang berbaur. Amat sangat misteri! Tidak ada kebingungan antara jutaan gelombang di udara. Kapan kebingungan muncul? Hanya saat kita tidak menyetel stasiun pemancar yang benar. “Tuning” atau menyetel gelombang itulah meditasi. Selesaikan pikiran Anda dengan fokus untuk menerima “berita”, yaitu, penglihatan ilahi. Bila pikiran tidak fokus, penerimaannya tidak jelas atau tidak berarti.

Matahari bersinar di atas kolam. Airnya beriak karena angin. Matahari tampak goyah di kolam. Namun kenyataannya, hanya gambar yang goyah, bukan matahari. Gelombang dalam pikiran Anda membuat Anda merasakan keilahian dalam berbagai suasana hati, nama, bentuk. Tapi keilahian adalah satu. Bukan keilahian tapi hanya perasaanmu yang berubah seiring berjalannya waktu. Meditasi adalah proses penyatuan pikiran yang terpecah.

Semua orang bisa melihat keberagaman. Kita harus melihat kesatuan dalam keberagaman, dengan prinsip dasar, atma. Bagaimana? Seperti piring, gelas dan sendok perak. Nama dan bentuknya berbeda. Nilai masing-masing objek juga berbeda. Tapi nilai peraknya sama, baik di piring, gelas maupun sendok. Keilahian telah mengasumsikan nama dan bentuk setiap entitas dalam penciptaan. Anda mungkin menghargai dan menghargai satu persatu dan menertawakan orang lain. Inilah sikap yang didasarkan pada perilaku orang-orang tersebut. Tapi prinsip atma adalah satu.

Terjemahan bebas dari Discourse on Srimad Bhagavatam by Sai Baba chapter 2

Terima kasih kami ucapkan kepada para pembaca #BhagavatamIndonesia, semoga Sri Vasudeva, caretaker, penjaga alam semesta, penjaga kesucian diri kita semua, Sri Narayana, Dia yang berada di setiap Nara, setiap makhluk, di mana-mana memberkati hidup kita semua.

 

Shanti mantra peace and meaning

 

Om Sarvesham Swastirvavatu – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

 

Om Sarveshaam Svastir-Bhavatu |

Sarveshaam Shaantir-Bhavatu |

Sarveshaam Purnnam-Bhavatu |

Sarveshaam Manggalam-Bhavatu |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: May there be Well-Being in All,

2: May there be Peace in All,

3: May there be Fulfilment in All,

4: May there be Auspiciousness in All,

5: Om Peace, Peace, Peace.

 

Om Sarve Bhavantu Sukhinah – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

 

Om Sarve Bhavantu Sukhinah

Sarve Santu Nir-Aamayaah |

Sarve Bhadraanni Pashyantu

Maa Kashcid-Duhkha-Bhaag-Bhavet |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, May All become Happy,

2: May All be Free from Illness.

3: May All See what is Auspicious,

4: May no one Suffer.

5: Om Peace, Peace, Peace.

 

Om Sahana Vavatu (Saha Navavatu) – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

Om Saha Naav[au]-Avatu |

Saha Nau Bhunaktu |

Saha Viiryam Karavaavahai |

Tejasvi Naav[au]-Adhiitam-Astu Maa Vidvissaavahai |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, May God Protect us Both (the Teacher and the Student) (during the journey of awakening our Knowledge),

2: May God Nourish us Both (with that spring of Knowledge which nourishes life when awakened),

3: May we Work Together with Energy and Vigour (cleansing ourselves with that flow of energy for the Knowledge to manifest),

4: May our Study be Enlightening (taking us towards the true Essence underlying everything), and not giving rise to Hostility (by constricting the understanding of the Essence in a particular manifestation only),

5: Om, Peace, Peace, Peace (be there in the three levels – Adhidaivika, Adhibhautika and Adhyatmika).

 

Om Asato Ma Sadgamaya – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

Om Asato Maa Sad-Gamaya |

Tamaso Maa Jyotir-Gamaya |

Mrtyor-Maa Amrtam Gamaya |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, (O Lord) Keep me not in the Unreality (of the bondage of the Phenomenal World), but lead me towards the Reality (of the Eternal Self),

2: (O Lord) Keep me not in the Darkness (of Ignorance), but lead me towards the Light (of Spiritual Knowledge),

3: (O Lord) Keep me not in the (Fear of) Death (due to the bondage of the Mortal World), but lead me towards the Immortality (gained by the Knowledge of the Immortal Self beyond Death),

4: Om, (May there be) Peace, Peace, Peace (at the the three levels – Adidaivika, Adibhautika and Adhyatmika).

 

Om Purnamadah Purnamidam – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

Om Puurnnam-Adah Puurnnam-Idam Puurnnaat-Purnnam-Udacyate

Puurnnasya Puurnnam-Aadaaya Puurnnam-Eva-Avashissyate ||

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, That (Outer World) is Purna (Full with Divine Consciousness); This (Inner World) is also Purna (Full with Divine Consciousness); From Purna comes Purna (From the Fullness of Divine Consciousness the World is manifested) ,

2: Taking Purna from Purna, Purna Indeed Remains (Because Divine Consciousness is Non-Dual and Infinite).

3: Om Peace, Peace, Peace.

Musnahnya Dinasti Yadava Seluruh Kerabat Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on October 22, 2017 by triwidodo

Di dunia ini Kelahiran Pertumbuhan dan Kematian Harus Dialami!

Sejarawan Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) mengemukakan teori siklus bahwa peradaban selalu mengikuti alur mulai dari kemunculan sampai kehancuran. Pandangan tersebut sesuai dengan teori yang berkembang di Yunani  pada masa Socrates: kelahiran, pertumbuhan, kematian dan disusul dengan kelahiran lagi.

Bhagavad Gita menyampaikan hal yang sama, bahkan bagi semua makhluk baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, semuanya mengalami penciptaan, kemudian pemeliharaan dan selanjutnya tiba saatnya daur ulang dan lahir kembali. Di balik itu ada Sang Perancang, Sang Sutradara Agung.

Ia Tunggal ada-Nya. Memiliki banyak fungsi. Diantaranya 3 fungsi utama: sebagai Visnu, Sang Pemelihara yang mengurusi pertumbuhan; Rudra atau Siva, Sang Pemusnah sekaligus Pendaur Ulang; dan Brahma, Sang Pencipta. Masing-masing dari ketiga sifat ini memiliki banyak sub sifat lainnya. Kita sering terjebak dalam permainan sifat-sifat tersebut. Kita membagi Dia Hyang sesungguhnya Tak Terbagi, sesuai dengan sifat-sifat-Nya………

 

“Kendati Tunggal dan Tak-Terbagi ada-Nya, Ia tampak terbagi dalam diri makhluk-makhluk hidup dan wujud-wujud yang tak bergerak; Ialah satu-satu-Nya yang patut diketahui, Hyang senantiasa Memelihara, Memusnahkan, dan Mendaur-Ulang, Mencipta kembali.” Bhagavad Gita 13:16

Bukan saja makhluk-makhluk hidup yang mesti menjalani tiga tahap kehidupan, yaitu kelahiran, pertumbuhan dan kematian — sesungguhnya benda-benda yang kita anggap tanpa kehidupan pun mesti menjalani ketiga tahap tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kutukan terhadap Dinasti Yadava

Para asura sudah terbunuh oleh Krishna dan Balarama. Para manusia jahat juga sudah mati dalam perang dahsyat Bharatayuda. Para keluarga dinasti Yadava adalah para dewa yang lahir dan berkarya di sekeliling Sri Krishna. Mereka sulit terkalahkan. Sri Krishna membuat skenario bagi dirinya yang mewujud sebagai manusia dan para dewa yang mewujud sebagai keluarga Dinasti Yadava untuk mengalami kematian, sebelum datangnya Masa Kaliyuga.

Para rishi sedang bepergian ke Dvaraka menemui Sri Krishna dan Balarama. Para pemuda Yadava berkelakar mendandani Samba sebagai perempuan hamil dan bertanya kepada para rishi dia sedang mengandung anak laki-laki atau perempuan. Para rishi tersinggung dan berkata bahwa dia akan melahirkan besi yang akan memusnahkan kaum Yadava. Para pemuda membuka bantal yang dipakai sebagai perut hamil Samba dan menemukan sepotong besi.

Mereka lapor kepada Ugrasena dan diperintahkan untuk menumbuk besi tersebut dan dibuang ke laut. Ada sepotong besi runcing yang tidak bisa dijadikan bubuk dan ikut dibuang ke laut. Oleh ombak potongan besi runcing tersebut terbawa ke pantai Prabhasa dan tumbuh berkembang sebagai rumput ilalang yang tinggi.

 

Musnahnya Dinasti Yadava

Setelah beberapa saat berlalu, Sri Krishna mengumpulkan semua keluarga Yadava. Sri Krishna mengatakan bahwa tanda-tanda bencana seperti yang diramalkan para rishi semakain dekat. Tidak ada cara lain selain mengadakan tirthayatra, mohon ampun atas kesalahan dan semoga bencana dijauhkan. Anak-anak dan para wanita agar mengadakan tirthayatra ke Sangotra, sedangkan para pria ber-tirthayatra ke Prabhasa.

Setelah melakukan berbagai vrata dan yajna, para pria Yadava minum anggur Maireyaka. Mereka minum terlalu banyak dan dalam keadaan mabok mereka berkelahi dengan gada, pedang, tombak dan busur. Suasana sungguh menyeramkan. Sri Krishna melihat mereka saling bunuh, saat Balarama datang dan merasa jijik dengan tingkah lahu para Yadava. Balarama melihat Sri Krishna dan pergi. Sri Krishna tahu bahwa Balarama akan segera meninggalkan raganya dengan laku yoga.

Sri Krishna menggerakan matanya dan semua senjata Yadava hancur. Akan tetapi mereka berlarian ke pantai mencabut rumput ilalang yang ternyata merupakan besi yang tipis digunakan sebagai senjata. Sri Krishna menyaksikan seluruh pria Yadava mati semua.

Sri Krishna segera pergi ke sebuah pohon dan melakukan meditasi. Seorang pemburu bernama Jara melihat dari kejauhan dan mengiranya sebagai rusa dan memanahnya. Ternyata yang terkena adalah kaki Sri Krishna. Sri Krishna berterima kasih kepada Jara dan diminta pergi. Jara dijamin akan masuk surga atas perbuatannya membantu menyelesaikan skenario-Nya.

Daruka, kusir kereta Sri Krishna datang mencari dan akhirnya menemukan Sri Krishna. Daruka diminta segera ke Dvaraka dan menyampaikan ke Arjuna yang akan menengok ke Dvaraka tentang peristiwa kematian para Dinasti Yadava, Balarama dan Dirinya. Arjuna agar diminta membawa anak-anak dan para wanita Yadava ke Indraprastha.

Para dewa datang menjemput Sri Krishna untuk kembali ke Vaikuntha.

Daruka segera menemui Arjuna yang sedang berbicara dengan Ugrasena, Vasudeva dan Devaki. Mereka beserta semua anak-anak dan wanita segera diajak pergi ke Indraprastha. Tiba-tiba air laut meninggi dan mulai menggenangi Istana Dvaraka. Dari bukit di kejauhan mereka melihat Dvaraka sudah mulai terendam laut dan sebentar kemudian tidak nampak lagi………………………

Hanya ada di masa pertengahan

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata – tidak berwujud; dan, berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Sebab itu, apa yang mesti disesali?” Bhagavad Gita 2:28

Bukan hanya makhluk-makhluk hidup, tetapi setiap keadaan — segala sesuatu dalam dunia ini, bahkan alam semesta ini — hanya terlihat nyata untuk sesaat, pada saat pertengahan.

DIMANA KITA BERADA SEBELUM LAHIR? Di mana kita akan ada setelah mati? Kita boleh mencari jawaban dari buku-buku referensi. Namun jawaban-jawaban seperti itu hanya merupakan hasil pengetahuan pinjaman. Tanpa penghayatan, jawaban kita tidak banyak berarti.

Kelak Krsna akan memberikan caranya. Ia tidak memberikan ritual. Ia akan menganjurkan Arjuna untuk memasuki alam meditasi, karena hanya dalam alam itu, seseorang dapat mengalami kebenaran kata-kata Krsna. Hendaknya Kompendium ini, penjelasan Bhagavad Gita ini juga dipelajari dengan semangat yang sama.

 

PEJAMKAN MATA UNTUK SESAAT dan memperhatikan napas kita. Tarik napas pelan-pelan, sambil mengembungkan perut; buang napas pelan-pelan, sambil mengempiskan perut.

Pada saat Anda tarik napas, sadarilah bahwa udara yang tak terlihat, tak nyata, memasuki badan Anda dan menjadi nyata untuk sesaat. Perut Anda kembung. Dan begitu Anda melepaskan napas, sadarilah bahwa yang baru saja nyata, kembali ke alam yang tak-nyata lagi, dan perut mengempis kembali. Lakukan 9 kali dan setelah itu kita akan teruskan sabda Krsna ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Avadhuta: Obsesi Ulat, Kreatifitas Laba Laba dan Kulit Baru Ular #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , , on October 19, 2017 by triwidodo

Semua kehidupan di dunia bergerak dalam suatu siklus. Dari sebuah biji mangga keluar sebentuk lembaga, yang berkembang menjadi sebuah pohon mangga, dan pada  waktunya akan mengeluarkan bunga, menjadi buah yang mengandung biji calon pohon yang baru.

Air hujan pun turun ke bumi, membasahi bumi dan isinya, kemudian menuju ke laut untuk menguap menjadi uap air, yang setelah berkumpul akan turun menjadi hujan kembali.

Demikian pula yang terjadi pada siklus kehidupan seekor ulat bulu. Yang perlu disimak adalah pelajaran yang dapat ditarik dari transformasi ulat bulu, melalui kepompong dan lahir kembali sebagai kupu-kupu yang bisa terbang. Seekor ulat bulu berhasrat meneruskan evolusinya, pasrah sepenuhnya kepada alam semesta, berhenti makan dan berhenti bergerak. Alam lah yang kemudian bekerja melalui 2 hormon, hormon remaja dan ecdysonne yang mengatur prosesnya. Bagi mata telanjang, tampaknya organ-organ dan tissue ulat bulu berubah menjadi sup yang tidak berbentuk. Akan tetapi kedua hormon itulah yang memandu perubahan, ada sel yang mati, ada sel yang mencerna diri, ada juga yang menjadi embrio  mata, antena dan sayap. Terjadilah transformasi yang luar biasa, ulat yang merambat pelan menjadi kupu-kupu cantik yang dapat terbang.

Seorang pengantin perempuan berhasrat mempunyai seorang anak dan meminta sang suami membuahinya. Begitu sel telurnya dibuahi, maka hasrat sang ibu diintervensi oleh kekuatan alam  yang menjadikan telur yang dibuahi berkembang menjadi bayi yang mungil.

Lompatan kuantum. Alam semesta tidaklah maju dalam gerakan selangkah demi selangkah. Alam semesta selalu mengambil lompatan-lompatan kuantum, dan ketika mengambil lompatan kuantum unsur-unsur lama digabungkan ulang. Kemudian, muncullah sesuatu yang baru. Hidrogen dan oksigen adalah gas yang ringan, kering dan tidak terlihat oleh mata. Suatu transformasi menggabungkan kedua unsur tersebut menjadi air yang sama sekali berbeda, yang cair, basah dan memberkahi kehidupan di bumi.

Suatu transformasi kesadaran spiritual menghasilkan lompatan kuantum dalam kesadaran yang membuat diri sama sekali berbeda dengan masa sebelumnya. Sri Krishna bersabda, barangsiapa melangkah kearah-Nya satu langkah saja, maka Sri Krishna akan melangkah kearah pemuja tersebut seribu langkah. Dalam Kathopanishad disebutkan, Sewaktu simpul-simpul dihati diluluhlantakkan semasa seseorang masih hidup dibumi ini, maka seseorang manusia yang dapat mati akan berubah menjadi abadi.

 

  1. Ulat

Ulat juga salah satu guru kebijaksanaan saya. Kupu-kupu bertelur dan telur menjadi ulat. Si ulat melihat kupu-kupu yang indah terbang dari bunga ke bunga. Si ulat melihat dirinya hanya bisa makan daun dan merangkak pelan. Obsesi si ulat muncul bagaimana pun dia berhasrat menjadi kupu-kupu. Setiap saat yang dipikirkan hanya kupu-kupu. Sampai suatu kali dia terfokus pada obsesinya dan tidak terasa tubuhnya sudah berubah menjadi kepompong. Dia sudah mati tetapi alam membantunya, apa yang dipikirkan menjelang ajalnya akan menjadi kehidupan dia selanjutnya. Tubuh ulat sudah menjadi sup. Akan tetapi dia lahir sebagai larva dan ketika sudah tiba waktunya, sayapnya sudah kuat dia menjadi kupu-kupu.

Seorang murid terobsesi dengan kemuliaan sang guru dan hanya fokus pada sang guru sampai ajal tiba. Dengan berkah dari alam semesta dia akan lahir lagi menjadi seperti sang guru.

Ulat adalah guru saya ke duapuluhdua.

 

  1. Laba-laba

Laba-laba adalah sosok yang luar biasa dengan energi dan kreativitasnya. Laba-laba menenun dengan trampil jaring-jaringnya dan penuh kesabaran mangsanya. Semangat laba-laba luar biasa, dia membuat jaring-jaring dan bila sudah selesai menelan jaring-jaringnya.

Tuhan menciptakan alam semesta yang berupa materi dari maya-Nya. Dia bermain dan mempertahankan maya beberapa saat sampai menariknya kembali.

Guru saya keduapuluhtiga adalah laba-laba.

 

  1. Ular

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” Bhagavad Gita 2:22

Dalam ayat ini, Jiwa disebut Dehi, yang berbadan, yang menghidupi badan. Tanpa adanya Jiwa, badan tidak ada. Dalam hal ini,

Jiwa Bertindak sebagai Katalisator – Keberadaannya sudah cukup untuk menghidupi atau menggerakkan badan. Sebagaimana, kehadiran aliran listrik sudah cukup untuk mengubah hidrogen dan oksigen menjadi air. Tentunya dengan kadar masing-masing yang tepat.

Listrik tidak melakukan sesuatu. Ia hanya hadir, dan air “terjadi”. Begitu pula dengan kehadiran Jiwa. Jiwa hanya hadir, dan badan menjadi hidup, indra pun bekerja sesuai dengan kodratnya masing-masing.

Kṛṣṇa Bicara tentang Daur Ulang, Recyling – Kita tidak sadar akan proses ini, maka takut akan perubahan. Sebab itu pula kita menjadi gelisah. Apakah Anda menjadi gelisah, karena setiap hari Anda harus ganti baju? Apakah memakai baju baru dapat menggelisahkan Anda? Apa sulitnya melepaskan pakaian lama dan menggantikannya dengan pakaian baru? Kṛṣṇa menggunakan contoh yang paling tepat, paling mudah untuk dipahami. Terimalah perubahan itu dan ketahuilah bahwa perubahan pakaian tidak dapat mengubah Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ular hidup sendiri dan berupaya menghindari usaha makhluk lain. Untuk mencari Realisasi Diri, seseorang harus tinggal di goa hatinya sendiri.

Pakaian ular dari kulitnya yang tua setelah beberapa masa ditinggalkannya untuk memperoleh pakaian yang baru. Fenomena ini mirip dengan kematian manusia. Seorang bijak sejati tidak pernah takut mati, dia tahu bahwa cepat atau lambat dia akan mendapatkan kehidupan baru berdasarkan tindakan karma-nya.

Ular adalah guru saya keduapuluhempat.

 

Avadhuta Dattatreya berkata kepada Raja Yadu bahwa itulah 24 guru yang memberi pelajaran kepadanya dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Badan ini manakala ditinggalkan Atman hanya cocok menjadi makanan cacing belaka. Mereka yang mencintai badannya seperti kisah dalam 24 guru tersebut, mancari pasangan yang cantik, makanan yang lezat, musik yang merdu, kekayaan yang bertumpuk yang tidak akan memberi kebahagiaan abadi.

Uddhava bersujud di hadapan Sri Krishna yang dalam waktu dekat akan meninggalkan wujudnya di dunia. Setelah mendengar dari Sri Krishna bahwa dia masih harus meneruskan hidupnya untuk berbagi pengetahuan sejati, Uddhava mohon petunjuk arah mana yang harus ditujunya.

Sri Krishna bersabda agar Uddhava pergi ke Bhadarikashrama dan megembara seperti seorang avadhuta, sambil melangkah menuju tujuan berbagi dengan orang-orang yang ditemui dalam perjalanannya. Itulah karma bhoomi-nya.

Para sadguru sedang melanjutkan perjalanannya. Adalah suatu berkah yang luar biasa kita dapat duduk bersama dan memperoleh pencerahannya.

Avadhuta Gita: Menyambut Kerajaan Allah seperti Anak Kecil #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on October 18, 2017 by triwidodo

Ibarat Anak Kecil

Bagaimana Menemukan Kerajaan Allah di Dalam Diri? Kembali pada Yesus:“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Lukas 18:17)

……………….

Bagaimana Pendapat Yesus? Yesus menggunakan keadaan generik untuk menjelaskan maksud-Nya, “kembali menjadi seperti seorang anak kecil”. Seorang anak kecil tidak hanya ceria saja, ia juga lugu, polos, jujur, tidak berpura-pura, dan tampil apa adanya dalam segala kesahajaannya, sebagaimana adanya. Itu adalah keadaan awal kita, ketika pikiran belum cukup terbentuk dan emosi belum cukup berkembang.

Keadaan itu bukan satuan pikiran atau thought; bukan gugusan pikiran, atau mind; bukan intelek, atau intellect; dan bukan pula emosi atau emotion. Karena tidak ada kata untuk menjelaskan keadaan ini dalam bahasa Aramaik maka Yesus menjelaskannya dengan menggunakan analogi keadaan seorang anak kecil.

Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “tatha”. “Tatha”, Berarti….“Thus”, atau “Such” – seperti itulah!. Ya, seperti itulah arti “Tatha” – “Seperti Itulah!” Singkatan dari “Yatha-Bhuta”, yang juga bisa diartikan “As It Is”, atau  sebagaimana adanya”. “Tatha” adalah keadaan awal setiap manusia.

Kemudian, apakah kita diharapkan menjadi “kekanak-kanakan”? Tidak. Yesus tidak mengatakan kita “menjadi anak kecil lagi”, tetapi “kembali seperti seorang anak kecil” – like a little child! “Kembali seperti seorang anak kecil”, berarti, “tetap dewasa, tapi dengan kepolosan, kesahajaan, dan terutama keceriaan seorang anak kecil.” Oleh sebab itu, seorang yang telah terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi disebut “Tathagata”-”ia yang telah mencapai keadaan itu”.

Menjadi “seperti seorang anak kecil” berarti menjadi seorang Tathagata. Polos, tapi tidak bodoh. Bersahaja, tapi tidak naif. Lembut, tapi tidak lemah. Sopan, tapi menjaga diri, “supaya tidak dimakan orang juga”.

Ketika Buddha ditanya seperti apakah ciri-ciri seorang Tathagata la menjelaskan: “Tak terjelaskan” (“Vajracchedika Prajnaparamita Sutra” atau “Diamond Sutra”). Namun, Buddha menjelaskan cara untuk mencapai keadaan itu, yakni dengan membebaskan diri dari keterikatan pada kebendaan yang senantiasa berubah terus. Dan, menyadari hal itu, menyadari bahwa “perubahan adalah sifar dasar benda”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

  1. Anak kecil

Seorang anak kecil tidak memiliki keluhan, amarah, kecemburuan, kebencian dan terutama bebas dari Ego dan Keangkuhan. Seorang anak kecil tidak mengenal kehormatan atau penghinaan. Mereka tidak memelihara dendam atau prasangka terhadap siapa pun. Mereka tidak tahu apa milik mereka sendiri, atau milik orang lain. Kebahagiaan mereka berasal dari diri mereka sendiri, kreativitas bawaan mereka dan mereka tidak membutuhkan benda atau kondisi eksternal untuk bahagia. Saya menyadari bahwa orang bijak pencerahan sempurna juga demikian.

Anak kecil adalah guru kedelapanbelas saya.

 

  1. Rusa

Rusa sangat menyukai musik dan sangat tertarik dengannya. Para pemburu menggunakan musik untuk memikat dan mendatangkan rusa sehingga sang rusa mudah dipanah karena terlena dengan musik yang merdu.

Hasrat dan gairah sensual bisa menurunkan kesadaran seseorang, dan kemajuan spiritualnya bisa terhambat.

Rusa adalah guru kesembilanbelas saya.

 

  1. Burung Kurari

Burung Kurari adalah salah satu jenis burung pemakan daging. Pada suatu ketika dia sedang membawa mangsa di paruhnya. Tidak berapa lama, burung-burung yang lebih kuat menyerang burung kurari tersebut. Burung Kurari segera melepaskan mangsanya dan dia menyingkir. Ternyata dengan melepaskan mangsanya, dia memperoleh kedamaian.

Burung Kurari mengajari saya bahwa kekayaan duniawi adalah sumber masalah. Saat seseorang mengejar kenikmatan dunia tersebut, dia akan menghadapi perselisihan dan kesengsaraan. Kebahagiaan dan pencerahan adalah milik orang yang sederhana, menaklukkan keinginan duniawi. Hidupnya hanya mencari kebahagiaan spiritual.

Burung Kurari adalah guru saya keduapuluh.

Melihat sekelompok anjing berebut tulang. Yang terkuatlah yang menang. Tulang digigit dibawa pulang. Jalan tengadah dada membusung, akulah Sang Pemenang.

Bukan! Dia bukan pemenang dia adalah budak duniawi.

Manusia berebut duniawi. Saling jegal, saling jebak berebut sesuatu yang tak abadi. Yang menang, memamerkan keberhasilan diri. Jalan tengadah, dada membusung, akulah penguasa.

Bukan! Dia bukan penguasa, dia adalah budak duniawi.

 

  1. Perawan

Jalan yang sempit. Setiap orang yang sedang meniti jalan ke dalam diri pada suatu ketika akan menemukan bahwa “Kebenaran” Itu Satu Adanya. Dan bahwa jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran – apa pun nama yang Anda berikan kepada Yang Satu Itu – merupakan jalan pribadi. Sempit – begitu sempit, sehingga Anda harus melewatinya seorang diri. Anda tidak bisa bergandengan tangan dengan siapa pun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sebuah keluarga datang ke rumah keluarga yang memiliki seorang perawan untuk dijodohkan dengan putra mereka. Kebetulan orangtua si perawan sedang pergi. Maka dia memberikan minuman ringan kepada para tamu.

Kemudian si perawan pergi ke belakang, mulai menumbuk gabah untuk dijadikan beras dan akan dimasak untuk para tamu.

Gelang-gelang di kedua tangannya membuat bunyi yang riuh dan dia malu. Dia mengurangi gelang di kedua tangannya sampai masing-masing tangan hanya 2 buah gelang. Akan tetapi tetap ada bunyi gelang beradu. Akhirnya dia hanya memakai satu gelang di masing-masing tangannya sehingga tidak ada suara lagi.

Tindakan perawan tersebut mengajar pada saya bahwa apabila ada sejumlah pencari spiritual yang tinggal bersama, akan ada benturan kepentingan. Bahkan walaupun di antara dua orang, mungkin saja terjadi gangguan, perselisihan. Manusia bijak yang menapak jalan nspiritual harus hidup sendiri dalam kesendirian, karena lebih baik hidup sendiri, tanpa menciptakan suara yang tidak diinginkan, gosip.

Perawan adalah guru saya keduapuluhsatu.