Archive for December, 2017

Kisah Kakek Bijak dan Musafir

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , , on December 28, 2017 by triwidodo

Seorang Guru bercerita: Adalah seorang kakek tua yang sedang momong cucunya di tepi sebuah kota, di dekat bukit cadas yang merupakan jalan satu-satunya ke kota tempat tinggal mereka. Sang cucu bermain-main di kaki bukit, sedang sang kakek tua memperhatikan orang-orang yang lewat, ada petani yang menjual hasil kebun, pedagang dari tempat jauh, musafir yang melakukan perjalanan jauh, maupun pelancong yang akan pelesir di kota.

Seorang musafir mendatangi sang kakek dan mengajaknya mengobrol. Sang musafir bertanya kepada sang kakek, “Kakek telah lama tinggal di kota ini, seperti apakah orang-orang di sini?”

Sang kakek gantian bertanya, “Bapak berasal dari mana? Dan saya ingin tahu juga bagaimana orang-orang yang tinggal di kota Bapak?”

Sang Musafir menjawab, “Saya dari kota di balik pegunungan sana, orang-orang di kota saya tidak menarik, curiga terhadap pendatang, mudah tersinggung dan suka berantem.”

Sang kakek tua berkata, “Demikian juga orang-orang yang tinggal di kota kami, tidak banyak berbeda.”

Sang Musafir kemudian pamit melanjutkan perjalanan ke kota.

Tidak berapa lama ada musafir lain datang dan kembali mengobrol dengan sang kakek dan mengajukan pertanyaan yang sama seperti musafir pertama, bagaimana orang-orang yang tinggal di kota sang kakek tinggal.

Sang kakek kembali mengajukan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, dari manakah sang musafir berasal dan bagaimana sifat-sifat orang yang berada di kota sang musafir.

Sang Musafir kedua menjawab, “Luar biasa, pada dasarnya orang-orang di kota kami sangat hangat dan ramah, suka menolong orang lain.”

Sang kakek berkata kepada Sang Musafir kedua, “Demikian juga orang-orang di kota kami, mereka murah hati, suka menolong dan ramah terhadap orang lain.”

Sang Musafir kedua mohon izin melanjutkan perjalanan dan menghilang di tengah kota.

Tiba-tiba sang kakek dikejutkan oleh cucunya yang menarik lengan bajunya dan berkata, “Kakek mengajari saya agar tidak berbohong, tapi saya mendengar sendiri apa yang kakek katakan kepada musafir pertama dan musafir kedua bertolak-belakang. Mengapa kakek tidak jujur?”

Sang Kakek tersenyum, “Kakek bertanya lebih dahulu pandangan atau persepsi mereka terhadap sifat-sifat orang di kota mereka. Apa yang mereka katakan itu mencerminkan cara hidup mereka. Musafir pertama menganggap orang-orang di kotanya tidak baik, dan dia akan menemukan hal yang sama di kota kita karena karakter yang dipunyainya. Sedangkan Musafir kedua mengatakan orang-orang di kotanya pada dasarnya baik, dan dia akan menemukan demikian pula di kota kita, itu adalah karakter musafir kedua. Kita sudah bisa menebak kira-kira penilaian mereka terhadap orang-orang di kota kita! Itulah yang kakek sampaikan!”

Sang cucu menangkupkan kedua tangan dengan posisi sembah di depan dadanya dan berkata sambil tersenyum: “Namaste Kakekku, aku menghormati Gusti yang bersemayam di diri kakek!”

Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Dalam bahasa Sanskrit segala sesuatu mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion.

Kita tetap harus menemukan teknologi, bukan internet, tapi inner net. Bekerja bukan pada 2 digit tapi dalam single, digit tunggal. Om karam bindu sanyuktam hanya satu digit, saat kalian menemukan teknologi,  fisika, spirituality, kimia,  seni, semua dikombinasikan. Dan inilah tujuan semuanya dari yoga. Menemukan inner net ini. Akses inner net ini. Mulai bekerja dalam 1 digit.

Kalau kalian bekerja dalam satu digit, apa artinya? Otak kalian tidak bekerja lagi. Karena mind selalu bekerja dalam 2 digit. Paling tidak 2 digit. Harus ada ide yang berkonflik. Dan kemudian mind berjalan. Apabila kamu hanya punya satu digit, mind akan istirahat, mind tidak bekerja. Dan inteligen, viveka yang bekerja. Fakultas untuk memilah bekerja.

Sekali lagi, pashu, pashyati, kalian hanya percaya pada persepsi. Dan kita tidak lebih baik dari pada animal. Kita harus menggunakan inteligen kita, kita pergi melampaui mind. Transform the mind. Dan solusi bagaimana men-transform adalah meditasi, tidak ada solusi yang lain.

Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Sifat Daivi dan Sifat Asuri / Daitya menurut Bhagavad Gita

SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA.

Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”.

Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”.

Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda.

Umumnya Daiva atau Sura dikaitkan dengan kemuliaan, dan Daitya atau Asura dengan ketidakmuliaan. Dari perspektif kita, dari sudut pandang kita memang demikian. Maka, kita diharapkan mengenal kedua-duanya, sehingga dapat memilah dan memilih apa yang menunjang Jiwa. Yakni, karakter atau kecenderungan Daiva atau Sura.

Namun, bagi Gusti Pangeran, dari perspektif Tuhan — kedua karakter atau kecenderungan sifat itu sama pentingnya. Tanpa sifat Daitya atau Asura, tanpa adanya Jiwa-Jiwa yang dalam ketidaktahuannya, mengikat diri dengan dunia benda, Teater Tuhan akan tutup. Keterikatan itulah yang membuat dunia kita ramai dan bising. Tanpa keterikatan, panggung sandiwara sudah pasti  kosong.

Cukup kiranya ocehan saya, saatnya mendengarkan wejangan Krsna……. Penjelasan Bhagavad Gita Bab 16 Daivasura Sampad Vibhaga Yoga tentang Mulia dan Tidak Mulia dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Pemuda Kaya dan Guru Bijak, Beda Kaca dan Cermin

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 27, 2017 by triwidodo

Seorang Guru bercerita: Seorang pemuda yang sangat kaya menemui seorang Guru dan mohon nasehat bagaimana sebaiknya melakoni hidupnya. Sang Guru membawa pemuda tersebut ke jendela yang terbuat kaca yang bening.

Sang Guru bertanya: “Anak muda apa yang kau lihat lewat jendela kaca?”

Pemuda kaya itu menjawab: “Saya melihat orang-orang berlalu-lalang dan seorang buta yang mohon sedekah di tepi jalan.”

Kemudian Sang Guru mengajak pemuda itu ke depan sebuah cermin besar.

Sang Guru kembali bertanya: “Anak muda apa yang kau lihat pada cermin?”

Pemuda kaya itu menjawab: “Saya melihat penampilan luar dari diriku sendiri.”

Sang Guru kemudian berkata: “perhatikan anak muda, kaca jendela dan cermin itu terbuat dari bahan dasar yang sama. Sama-sama kaca. Akan tetapi pada cermin itu kaca di dalamnya dilapisi dengan lapisan perak yang berkilau. Dengan diliputi lapisan perak yang berkilau, kau hanya bisa melihat penampilan dan wajah luar dari dirimu sendiri. Coba bandingkan dengan kaca yang jernih, bening! Kau dapat melihat kebahagiaan dan penderitaan orang lain. Kau bisa terketuk rasa kasihmu dengan memandang lewat kaca yang jernih, bening. Akan tetapi kau tidak dapat melihat suka-duka orang lain saat pandanganmu tertutup lapisan perak yang berkilau. Robeklah lapisan perak yang menutupimu, agar kau memahami suka-duka sesama!”

Ucapan Sang Guru mengetuk dirinya. Dia ingat salah satu temannya yang selalu merasa menderita. Kini sang pemuda paham bahwa temannya itu melihat cermin dengan lapisan perak yang rusak, sehingga yang dia lihat hanya penderitaan diri saja. Dan melihat lewat cermin mewah atau cermin rusak hanya terfokus pada ego pribadi…………

Video Youtube Swami Anand Krishna: How to deal with life disappointment?

Video tersebut menyampaikan seseorang yang melihat lewat cermin diri belaka. Tidak bisa melihat harapan orang lain… Ini adalah cara memandang lewat cermin…………..

Kita dapat mengharapkan sesuatu pada anak kita, pasangan kita tapi mereka mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan kita? Saya ingin dia memperhatikan saya itu keinginan saya. Bagaimana dengan keinginan dia?

Akan selalu ada konflik, tak ada dua mind, pikiran yang sama. Sekalipun dalam satu pikiran kita saja, banyak konflik yang terjadi? Walaupun orang yang satu ranjang dengan kita, selalu saja berbeda sehingga timbullah kekecewaan? Bisa kecewa pada pekerjaan, pada pasangan, pada anak?

Walaupun pasangan yang terbaik selalu ada kekecewaan dan tidak ada akhirnya? Konsekuensi hidup kita demikian. Semua terjadi bila kita konsentrasi pada aku dan pikiranku. Selalu ada stress, ketegangan?

Cara berikutnya memandang lewat kaca jendela adalah hidup secara spiritual?

Semua masalah tetap ada tidak perlu menjadi pengembara? Kita bisa hidup spiritual di rumah dengan memperluas visi kita? Memperluas visi kita bahwa kita adalah human being, kita adalah manusia. Planet ini lebih dari 6 milyar mendekati 7 milyar manusia. Kita tidak unik? Tubuh kita tidak unik? Masalah kita tidak unik,itulah cara hidup? Cara melihat hidup secara spiritual?

“Saya gundah tidak dapat memakai sepatu sampai saya melihat orang tanpa kaki.”

Kita melihat sesuatu lebih jernih? Kita naik melampaui masalah kita. Masalah tetap ada. Saya bukan satu-satunya orang yang menghadapi masalah ini? Kemudian, pada waktu kita melihat masalah kita kita bisa membantu masalah orang yang mengalami hal sama. Kita melihat orang lain lebih susah, dan kita berubah. Sangat damai, very peaceful?

Kita menghadapi masalah. Kita melihat dengan pandangan lebih baik. Tidak pergi ke hutan. Tidak duduk 4 jam. Spiritual tidak berarti melakukan yoga 18 jam sehari atau jadi pengembara? Tapi mempunyai perspektif spiritual. Ini merupakan usaha yang panjang. Saya harus melihat dengan pandangan yang lebuh besar. Perspekif yang lebih luas?

Silakan simak video youtube: How to Deal with Life Disappointments (by Swami Anand Krishna)

Bhagavad Gita tentang Lapisan Penutup Pandangan, Awan Keduniawian

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), ketahuilah bahwa sifat Rajas, agresif dan penuh nafsu, muncul dari keinginan serta keterikatan. Ia membelenggu Jiwa dengan mengikatnya pada perbuatan dan hasil perbuatan.” Bhagavad Gita 14:7

Hukum Karma bekerja rapi ketika seseorang memiliki sifat rajas. Roda Karma berputar lancar dan mengikat Jiwa dengan badan serta alam benda lewat setiap tindakan serta hasilnya. Perbuatan tercela berakibatkan kesengsaraan; sifat terpuji menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan – inilah Hukum Karma. Seseorang bersifat rajas selalu mengejar pujian. Ia tidak sadar bila pujian dunia juga merupakan sangkar yang memenjarakan Jiwa.

Keterikatan kita dengan dunia benda memenjarakan kita dalam sangkar ini. Padahal Jiwa bebas adanya. Ia tidak perlu “menyangkarkan” diri dalam dunia benda ini. Sayang, karena keterikataannya dengan kebendaan ilusif, ia memenjarakan dirinya dalam sangkar dunia benda ciptaannya sendiri.

APA YANG SESUNGGUHNYA ADALAH MEDAN LAGA diubahnya menjadi sangkar. Ia membuat sangkar ini dengan bahan-bahan campuran, seperti keakuan, kepemilikan, harta-kekayaan, ketenaran, kedudukan, hubungan keluarga, dan sebagainya.

Ada pula yang menciptakan sangkar kemiskinan dan kemelaratan – karena terikat dengannya. Sungguh aneh, tapi demikianlah kenyataannya. Banyak di antara kita merasa dirinya tetap miskin, walau sudah memiliki banyak. Keserakahan mereka membuat mereka tidak pernah puas.

MEMANG BANYAK “KEJADIAN” DI ALAM BENDA INI – ada kemiskinan dan ada kekayaan; ada pujian, dan ada cacian; ada duka, dan ada suka – semuanya adalah bagian dari Prakrti atau Alam Benda.

Jiwa yang berbadan dan memiliki pancaindra, sudah pasti melewati dan mengalami kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan tersebut. Tidak ada cara untuk menghindarinya. Namun, Jiwa pun bisa memutuskan untuk tidak menciptakan sangkar bagi dirinya. tidak terperangkap dalam pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian tersebut. Jiwa dapat……

MELEWATI SETIAP PENGALAMAAN SEBAGAI SAKSI – Berarti, dalam keadaan suka tidak menjadi angkuh, dan dalam keadaan duka, tidak berkecil hati. Semuanya hanyalah keadaan-keadaan sesaat yang mesti dilewati.

Kesalahan kita selama ini adalah kita menciptakan sangkar suka, sangkar keberhasilan, sangkar ketenaran, dan sebagainya. Kemudian kita menempatkan diri kita – Jiwa yang sesungguhnya bebas – di dalam sangkar tersebut.

Kita tidak sadar bila sangkar “serba suka” tersebut tidak bisa dibuat tanpa jeruji-jeruji menyilang dan kebalikan “serba suka”. Jeruji-jeruji ini adalah jeruji-jeruji “serba duka” yang membatasi gerak-gerik Jiwa. Bahkan merampas kebebasannya.

Setiap membuat sangkar suka, kita mengundang pengalaman duka. Tiada sangkar keterikatan yang tidak menghasilkan pengalaman kecewa, sakit-hati, dan sebagainya.

Janganlah menciptakan sangkar. Pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian di dunia ini bukanlah untuk dijadikan bahan baku untuk membuat sangkar dan memenjarakan diri. cukuplah bila kita melewatinya saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Pemain Catur dan Guru Bijak

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 25, 2017 by triwidodo

Seorang Guru bercerita: Seorang pemuda dengan penuh semangat menghadap Guru dari sebuah padepokan. “Guru, saya ingin menjadi murid, tapi saya tidak tahu bagaimana tindakan seorang murid yang baik, karena ayah saya hanya mengajarkan saya cara bermain catur, tidak pernah bicara tentang spiritual!”

Sang Guru berkata, “Kadang-kadang menghadapi pikiran yang jelek yang memenuhi diri, bisa juga menyibukkan diri dalam permainan untuk mengalihkan diri dari perbuatan yang tidak baik.

Sang Guru meminta seorang murid senior membawa papan catur dan memintanya main catur dengan sang pemuda.

Namun, sebelum pertandingan di mulai Sang Guru berkata, “Di waktu awal mungkin main catur bisa digunakan sebagai pengalih perhatian agar tidak berbuat jahat. Namun tidak ada gunanya bermain catur sepanjang waktu. Saya hanya akan memilih pemain catur terbaik di padepokan ini. Jika kau menang kau akan menjadi murid di sini, sedangkan murid saya harus keluar dari padepokan. Sebaliknya, jika kau kalah, kau tidak diterima menjadi murid di sini. Ini adalah kesempatan bagimu!”

Sang pemuda bermain catur dengan sangat agresif dan meyakinkan, karena dia memang sudah menjadi ahli catur. Akan tetapi dia memperhatikan wajah murid Sang Guru di depannya yang bingung  menghadapi gempuran bidak-bidak caturnya. Kembali diperhatikan wajah lawan mainnya yang polos dan tidak ada rasa keangkuhan. Tiba-tiba muncul rasa aneh menyelimuti hatinya. Sebegitu egoisnyakah dia? Agar menjadi murid, sampai mendepak murid senior yang nampak lebih dewasa daripadanya?

Tiba-tiba sang pemuda sengaja melakukan kesalahan dalam permainannya, dan kini dia menjadi terdesak. Tidak ada gunanya menjadi murid hanya dengan main catur menang, sehingga orang baik harus ke luar dari padepokan.

Akhirnya sang pemuda kalah main catur dan berkata kepada sang guru, bahwa dia kalah main catur dan dia tidak berhak menjadi murid, dan sang murid senior tetap menjadi murid padepokan.

Sang Guru tersenyum, “Tidak Demikian! Kau sudah mengalahkan rasa egoismu, kau telah mempersembahkan kekalahan main catur dengan penuh kasih pada Gusti! Kau pantas menjadi murid di sini dan muridku yang senior juga tidak perlu meninggalkan padepokan…….”.

 

Pelajaran Pertama Persembahan Penuh Kasih dari Bhagavad Gita

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

Ritus-ritus, tradisi-tradisi yang mengharuskan kita menghaturkan persembahan ini dan persembahan itu – adalah proyeksi dari pikiran yang kacau. Seolah Tuhan dapat dibeli dengan cara itu.

Di antara kita, ada pula yang berargumentasi bahwa,

“DALAM TRADISI KAMI, ADA TIGA MACAM PERSEMBAHAN, Utama bagi mereka yang mampu; Menengah bagi mereka yang kurang mampu; dan, Nista bagi mereka yang tidak mampu. Jadi tidak ada ada keharusan mesti Utama, sesuai dengan kemampuan masing-masing saja.”

Bertanyalah pada diri-sendiri, “Kata siapa?” bertanyalah, “Apakah kita percaya pada apa yang dikatakan oleh Krsna?” Jika jawaban kita “Tidak”, maka cukup sudah. tidak perlu berargumentasi dan memperpanjang perkara. Tapi, jika jawaban kita “ya”, maka baca ulang ayat ini.berusahalah untuk melihat kebenaran, supaya tidak tertipu oleh “kata si anu”, dari dulu sudah begitu”, atau kalimat-kalimat serupa.

Lewat ayat ini, Krsna menghapuskan tradisi perantara antara kita dan Sang Jiwa Agung, Parabrahman, Paramatma, Tuhan. Tidak ada calo. Hubungan kita langsung –direct. Berilah dia.

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung.

Jangan menyalahartikan ayat ini sebagaai anti ritus – Krsna bukan dan tidak pernah anti-ritus. Ia anti tradsi-tradisi ‘picisan’ yang memberatkan. Silakan mengikuti, memilih, bahkan menciptakan ritus sendiri, sesuai dengan kata hati. Bukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang.

Veda dan juga kitab-kitab suci lain, penuh pujiaan. Namun, jika kita mempelajari semuanya itu dengan hati terbuka, sesungguhnya pujian-pujian itu – yang sekarang dikaitkan dengan berbagai ritus – adalah berdiri sendiri.

Kita bisa menggunakan puji-pujian itu untuk mengiringai ritus-ritus yang sudah menjadi tradisi. Bisa juga menggunakannya untuk mengiringi ritus-ritus yang kita buat sendiri sesuai kata hati.

GUNAKAN AKAL SEHAT! Jika akal sehat mengatakan, “mesti mengikuti ritus sesuai dengan pakem” – maka ikutilah. Itulah kebenaran subyektif untuk diri sendiri kita. Barangkali jga uuntuk mayoritas orang. Namun, jika kita berjumpa dengan seorang Ramakrishna yang tidak mengikuti tradisi – maka hendaknya tidak menyalahkan dia. Itu adalah kebenaran dia.

Pemujaan adalah seuatu yang bersifat sangat pribadi. Dari rumah ke rumah – caranya, mantranya – semua bisa beda. Bahkan, dalam satu keluarga saja, ayah bisa memuja-Nya dalam wujud Ganesa; ibu sebagai Gauri, dan seorang anak sebaggai Sarasvati. Maka dengan sendirinya mantra-mantranya berubah total. Persembahannya pun beda. Bahkan cara bersujud, sikap tangan atau mudra – semuanya beda apalagi, jika di antara anggota keuarga, ada yang beda kepercayaan.

Salahkah mereka? Tidak. Sebaliknya, jika kita masih ingin tetap mengikuti satu cara yang sudah dibakukan oleh “entah siapa” – tapi akaal sehatt kita mengatakan bahwa kita masih harus, tetap mengikutinya – maka kita pun tidak salah.

Di balik semua itu, adalah…..

SEMANGAT PANEMBAHAN YANG PENTING. Adakah kasih yang mengiringi doa persembahan kita? Adakah cinta yang melubar saat kita memuji-Nya? Ini yang penting.

Jika kita melakukan suatu ritus sebagai kewajiban saja, ‘karena dari dulu, secara turun-temurun sudah seperti itu,’ atau ‘karena memang dari sononya sudah demikian,’ – maka, menurut saya, pandangan pribadi saya, saat itu, entah sesederhana atau semewah apa pun ritus yang kau lakukan – semangat panembahannya sudah tidak ada.

 “Ah tidak, saat saya mengikuti upacara, mendengar mantra-mantra yang dibacakan, dan ketika saya diperciki air suci – bulu roma saya berdiri, saya merinding. Ada semacam energi yang mengetarkan sekujur tubuh saya.”

PENGALAMAN-PENGALAMAN YANG DIANGGAP SENSASIONAL SEPERTI INI – memang sensasional – sebatas senses atau indra saja. Pengalaman badaniah. Getaran, melihat cahaya, mendengar suara, mencium sesuatu, merasakan sesuatu – semua sensasi ini adalah dari indra. Tidak membuktikan semangat panembahan. Tidak ada kaitannya dengan kasih, dengan cinta, dengan bhakti.

Seorang panembah larut dalam aksi panembahannya. Ia manunggal dengan yang disembah-Nya. Yang muncul adalah kesadaran akan kehadiran-Nya di mana-mana. Yang terlihat adalah wajah-Nya di mana-mana. Panembahan bukanlah sensasi indrawi. Panembahan adalah Ombak Dahsyat Cinta Sejati yang justru menghanyutkan ego, kesadaran jasmani dan indrawi. Kemudian, saat merinding pun, bukan sebatas bulu roma yang berdiri, tetapi Jiwa yang bangkit! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Tikus, Ayam, Babi dan Kerbau, Jangan Egois #Kamasutra

Posted in Inspirasi Rohani on December 24, 2017 by triwidodo

Adalah 4 ekor hewan yang tinggal di rumah keluarga petani, mereka bersahabat dan saling berbagi keluhan dan informasi. Mereka adalah tikus, ayam, babi dan kerbau. Betulkah mereka bersahabat? Hal ini perlu dipertanyakan karena dalam diri mereka masing-masing masih terdapat insting hewani yang egois yang hanya memperhatikan diri mereka sendiri?

Pada suatu hari Sang Tikus melihat istri petani memasang perangkap tikus, yang membuat Sang Tikus gemetar dan menemui temannya satu persatu.

Sang Tikus menemui Sang Ayam membicarakan masalah perangkap tikus yang dipasang di rumah tersebut. Sang ayam berkata: “Bagiku perangkap tikus tak ada kaitannya denganku!” Dan, sang tikus pergi dengan kecewa.

Sang Tikus kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Sang Babi. Sang Babi menjawab, “Saya turut prihatin, saya akan berdoa untukmu, tenang saja!” Sang Tikus pun pergi dengan kecewa.

Selanjutnya, Sang Tikus menemui Sang Kerbau menyampaikan hal tersebut. Sang Kerbau menjawab, “Perangkap Tikus, wow! Apakah saya dalam bahaya besar?” Kembali Sang Tikus menelan kekecewaan.

Malam itu terdengar suara ribut-ribut di rumah, seperti suara perangkap tikus yang menangkap mangsanya. Istri petani bergegas melihat apa yang tertangkap. Di kegelapan, dia tidak melihat ular berbisa yang ekornya terperangkap.

Sang Ular menggigit istri petani itu. Petani itu membunuh ular dan membawa istrinya ke dukun desa. Sang Istri kembali ke rumah dengan masih demam.

Agar istrinya bisa makan hangat, Sang Petani menyembelih Sang Ayam dan dagingnya dimasak sup.

Penyakit istri petani terus berlanjut, sehingga teman dan tetangga mereka datang menunjukkan rasa simpati. Untuk menghormati para tamu, Sang Petani menyembelih Sang Babi sebagai hidangan para tamu yang datang ke rumahnya.

Ternyata, istri petani itu tidak kunjung sembuh bahkan akhirnya meninggal. Sang Petani menyuruh tetangganya menyembelih Sang Kerbau sebagai hidangan bagi para tamu takziah.

Seandainya Sang Ayam, Sang Babi, Sang Kerbau tidak memikirkan kepentingan pribadi dan mencari solusi bersama, mungkin kejadian mengenaskan tidak menimpa mereka.

 

Dari Passion Menuju Compassion menurut Kamasutra

Berikut penjelasan Swami Anand Krishna tentang peningkatan sifat egois, passion menjadi kasih, compassion dalam situs http://aumkar.org

 

Ada sebuah fenomena berbunganya kama, ketika nafsu berubah menjadi kasih. Ini ialah sebuah fenomena universal. Kita semua dapat mengalaminya. Kita semua memiliki potensi untuk mendaki tingkatan yang lebih tinggi dari nafsu dan menggapai kasih.

Nafsu dan kasih, keduanya ialah manifestasi kama. Ketika kamu terobsesi dengan kemakmuran personal, kemakmuran keluarga, komunitasmu, lembagamu, ini mu dan itu mu – maka kamu menjadi penuh nafsu. Nafsu selalu egois dan mementingkan diri sendiri. Ia tak tahu bahasa tanpa pamrih.

Kasih, di sisi lain, tahu bahasa tanpa pamrih. Ia dapat berkarya untuk keuntungan semua, untuk kemakmuran semua, untuk kebaikan semua, untuk kemajuan dan pertumbuhan semua. Kasih ialah ketika kita sungguh memahami semangat di balik kata-kata, “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu.”

Di antara nafsu dan kasih ialah tangga cinta. Dalam nafsu, kamu ialah kamu, dan aku ialah aku. Nafsu itu individualistik. Cinta ialah persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan. Cinta ialah persatuan kamu dan aku. Cinta ialah perjumpaan individualitas kita yang tadinya berjarak. Cinta ialah di mana kita bertemu. Cinta ialah di mana aku untuk kamu, dan kamu untuk aku.

Mari kita ringkas:

  • Nafsu ialah Kamu ialah Kamu, dan Aku adalah Aku, Nafsu ialah mengambil, mengambil, dan mengambil.
  • Cinta ialah Kamu dan Aku. Ini saling memberi dan menerima.
  • Kasih ialah Semua, Semua, Semua. Ini adalah memberi, memberi, memberi.

 

Pada tingkatan nafsu, kama telah memproduksi para Alexander yang haus kekuasaan, para Mahmud dari Ghazna, para Genghis Khan, para Napoleon dan para Hitler.

 

Pada level cinta, kita menjumpai para Mahtma Gandhi, para Martin Luther King dan para Mandela. Ini di mana kita peduli pada sesama.

 

Pada tingkatan kasih, kita bersua denga para Krishna, para Buddha, para Yesus, para Muhammad, dan makhluk spiritual lainnya. Ini ialah tahapan pelayanan tanpa pamrih.

Kisah Krishna, Arjuna dan Janda Tua

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 23, 2017 by triwidodo

Kita hanya berpikir sesuai persepsi kita. Persepsi kita peroleh dari bank data dari banyak inkarnasi yang kita jalani dalam kehidupan sebelumnya. Demikianlah Arjuna, demikianlah kita masih sulit menerima tindakan Sri Krishna yang berada di luar persepsi kita, melampaui persepsi kita.

Seorang Guru bercerita, Sri Krishna dan Arjuna bertamu pada seorang janda tua, yang tidak mempunyai putra dan tinggal sendirian. Sri Krishna dan Arjuna pergi menyamar sebagai orang biasa. Sang janda mempunyai seekor sapi sebagai penopang hidupnya. Dia setiap hari memerah susu sapi tersebut dan menjual susunya untuk mempertahankan hidupnya.

Sang janda adalah seorang bhakta, devoti, pemuja Sri Krishna. Sang janda sangat senang menerima kedua tamu dan dianggapnya tamu ilahi, atithi devo bhava. Seorang tamu yang datang tanpa undangan adalah Gusti. Sang janda menjamu kedua tamunya dengan makanan dengan apa yang ada di rumahnya. Sri krishna sangat berkenan atas tindakan sang janda.

Dalam perjalanan pulang, Arjuna berkata pada Sri Krishna, “Paduka sangat senang dengan dia, mengapa paduka tidak memberinya anugerah? Mengapa paduka tidak mengatakan kepadanya bahwa dia akan segera makmur, karena paduka berkenan dengan dia?”

Sri Krishna menjawab,”Saya sudah memberinya anugerah bahwa sapi satu-satunya penopang milik dia akan mati besok!”

Arjuna menyanggah,”sapi itu adalah milik dia satu-satunya, tidak ada yang lain. Tanpa sapi bagaimana dia bisa hidup?”

Sri Krishna menjawab,”Juna, Juna (Krishna memanggil Arjuna)! Kau tidak memahami-Ku. Dia selalu memikirkan sapi, sapi diberi makan, diperah, dimandikan dan sebagainya. Aku hanya ingin dia memikirkan-Ku. Setelah sapi miliknya mati, selama 24 jam dia akan memikirkan-Ku. Seterusnya Aku akan membawanya pergi dari dunia ini, dan setelah beberapa tahun Aku akan memberinya inkarnasi yang lebih baik baginya.”

Sri Krishna melanjutkan,” Juna! Selama masih ada sapi dia akan berlama-lama di dunia dan memikirkan sapinya dan bukan memikirkan-Ku. Dengan tidak memiliki apa-apa di dunia, dia akan menghabiskan seluruh waktunya, siang-malam mengabdikan dirinya pada-Ku!”

Arjuna tersadarkan………………

 

Kisah Bharata leluhur Arjuna

Arjuna sadar akan kisah leluhurnya yang bernama Bharata, sebagai seorang raja yang saleh dia menyelesaikan tugasnya dan menyerahkan mahkota kerajaan kepada putranya. Dia menjalani hidup sebagai pertapa di hutan untuk memikir Gusti sampai maut menjemput. Akan tetapi dia melihat induk rusa mati setelah melompat dari sungai karena dikejar harimau. Sang induk rusa melahirkan anak rusa yang dipelihara dengan penuh kasih oleh Bharata. Bharata begitu terfokus pada anak rusa sehingga saat meninggal yang dipikirkan hanya anak rusa dan dia lahir kembali sebagi rusa.  Beruntung berkat kebaikannya dia bisa lahir kembali sebagai manusia dan akhirnya moksha.

Silakan baca ulang kisah: Bharata: #Reinkarnasi Raja Bijak sebagai Rusa #SrimadBhagavatam

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/03/09/bharata-reinkarnasi-raja-bijak-sebagai-rusa-srimadbhagavatam/

 

“Apa pun yang terpikirkan saat ajal tiba, saat seseorang meninggalkan badannya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), itu pula yang dicapainya setelah meninggalkan badan. Sebab, pikiran terakhir adalah sama seperti apa yang terpikir olehnya secara trus-menerus sepanjang hidup.” Dikutip dari buku  Bhagavad Gita 8:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Tanpa kita sadari kita termasuk seorang materialis

Arjuna merasa sang janda sangat lemah dan tergantung pada sapinya. Demikianlah kita semua pada saat demikian merasa lemah. Kita tidak sadar kita telah mengidentifikasikan diri dengan materi…..

DALAM KEADAAN “LEMAH” – Atau, lebih tepatnya ketika kita “merasa” lemah; sesungguhnya saat itu kesadaran kita sedang mengalir ke luar. Saat itu, kita sangat “materialis” karena mengidentifikasi diri dengan “materi” – maka kita merasa lemah.

Kita memperhatikan kedudukan, kepemilikan, dan kelebihan orang-orang di sekitar kita. Kita membandingkan diri dengan mereka. Alhasil, kita merasa lemah. Mereka “tampak” lebih kuat.

Padahal kekuatan yang terlihat adalah kekuatan materi. Jika kita memercayai kekuatan itu, maka kita ikut “menjadi” materialis. Penjelasan Bhagavad Gita 15:6 dikutip dari buku  Bhagavad Gita 8:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

……………….

KESADARAN DIRI LENGKAP, UTUH ADANYA – ia tidak membutuhkan sesuatu untuk menunjangnya. Seorang materialis yang sedang mencari support di luar; bahkan seorang raja, yang tergantung pada support dari para menteri dan pendukungnya — selalu merasa dirinya terancam. Yang terbayangkan olehnya adalah “Apa jadinya jika aku tidak disupport lagi? Apa jadinya kalau ada yang menggulingkan aku? Apa jadinya jika ada yang merebut kekuasaanku?”

Seorang materialis hidup dalam rasa ketakutan, karena keadaan di luar yang pernah menunjangnya berubah terus. Dan ia tak mampu mengendalikannya. Penjelasan Bhagavad Gita 15:6 dikutip dari buku  Bhagavad Gita 8:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Untuk memahami bagaimana persepsi kita silakan klik video berikut:

Anugerah Gusti terhadap sang janda tua

“Untuk memberkahi mereka, ‘Aku’ yang bersemayam di dalam sanubari mereka, melenyapkan gelap-ketidaktahuan, dengan menyalakan Pelita Pengetahuan Sejati.” Bhagavad Gita 10:11

Ayat ini mengandung makna yang luar biasa. Makna anugerah, arti berkah yang sesungguhnya. Rezeki, jodoh, kekuasaan, pangkat, pujian, makian dan lain-lain – semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri. Semuanya materi. Dari rezeki yang berlimpah hingga relasi dengan suami, istri, anak, orang tua – semuanya adalah konsekuensi dari karma kita sendiri, perbuatan kita sendiri. Entah karma sekarang di masa kehidupan ini, atau hasil akumulasi dari beberapa masa kehidupan sebelumnya.

Semua terjadi karena perbuatan kita, ulah kita. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya pula, dalam pengertian Hukum Sebab Akibat atau Karma pun ada kehendak-Nya.

Namun, semuanya itu belum berkah – bukan berkah. Untuk mendapatkan seorang pasangan yang baik – dibutuhkan ‘diri’ yang baik. jika kita baik, kita menarik orang-orang baik sekitar kita. Kita bergaul dengan orang-orang baik. tinggal memilih pasangan. Jika mesti membayar hutang karma kepada seseorang – maka pasangan baik pun bisa menyusahkan, padahal dia orang baik. berpasangan dengan orang lain – ok. Dengan kita – tidak ok. Karma.

Berkah atau Anugerah Gusti Pangeran adalah ketika gelap-kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksadaraan kita sirna; dan sanubari kita, nurani kita menjadi terang-benderang. Berkah adalah ketika kita mampu memilah mana tindakan yang tepat, mana yang tidak tepat. Berkah adalah ketika cahaya kesadaran yang telah menerangi hidup – mulai memancarkan sinarnya dan menerangi setiap orang yang berinteraksi dengan kita. Dikutip dari buku  Bhagavad Gita 8:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kesadaran Jiwa: Agenda Krishna kepada Arjuna dan Kita Semua

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 21, 2017 by triwidodo

Kisah Arjuna dan 2 gunung emas

Seorang Guru bercerita tentang bagaimana Krishna mengajari Arjuna. Krishna bercerita bahwa seorang bernama Karna sangat dihormati penduduk desa karena kedermawanannya. Arjuna merah telinganya dan berjanji akan melebihi Karna dalam hal kedermawanannya terhadap penduduk desa.

Sampailah mereka pada tepi dua gunung, dan Krishna mengubah kedua gunung tersebut menjadi masing-masing gunung emas.

Krishna berkata. “Arjuna, bagikan 2 gunung emas ini kepada penduduk desa, tapi kau harus menyumbangkan semua emas dari kedua gunung ini semuanya kepada mereka.

Arjuna segera pergi ke desa, dan menyatakan akan menyumbangkanemas ke semua penduduk desa. Semua penduduk desa dikumpulkan di tepi gunung.

Semua penduduk desa menyanyikan lagu-lagu pujian dan Arjuna berjalan dengan dada mengembang ke arah gunung tersebut. Selama 2 hari 2 malam Arjuna menggali emas dari gunung dan memberikan kepada penduduk desa yang berbaris, menerima emas dan mengucapkan rasa terima kasih kepada Arjuna.

Arjuna kecapekan karena merasa lelah dan berkata kepada Krishna dia tidak sanggup membagikan emas sebesar 2 gunung sampai habis.

Krishna kemuadia memanggil seorang kesatria bernama Karna, “Karna kau harus menyumbangkan semua bagian dari gunung emas ini sampai habis kepada semua penduduk desa.

Karna menyanggupi dan mengumpulkan semua penduduk desa.

Karna berkata. “Dua gunung emas ini milik kalian dan silakan melakukan sesuka kalian!”

Karna langsung pergi meninggalkan tempa tersebut…….

Arjuna tercengang dan berpikir mengapa hal demikiantidak terpikir olehnya.

Krishna tersebyum dan berkata, “Arjuna, secara tidak sadar kau sendiri tertarik dengan gunung emas itu dan merasa menyesal mengapa harus diberikan semuanya kepada penduduk desa. Kau juga merasa bahwa semua penduduk desa harus mengucapkan terima kasih secara pribadi kepadamu.”

Krishna melanjutkan, “Coba lihat Karna dia tidak punya pikiran seperti kamu, dia tidak peduli penduduk desa berterima kasih atau tidak. Dia merasa sebagai alat-Ku untuk menyampaikan berita gembira kepada penduduk. Bahkan dia tidak peduli apakah dia akan dikatakan baik atu buruk oleh penduduk desa!”

Arjuna tercenung lama, menyadari tingkat kesadarannya. Arjuna segera memperbaiki dan meningkatkan kesadarannya……………..

 

Orang yang berkesadaraan Jiwa menganggap sama segumpal tanah dengan logam mulia

“Berada dalam Kesadaran Jiwa, seseorang menganggap sama duka dan suka; ia menilai sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia; tidak tergoyahkan oleh hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, ia memandang sama pujian dan celaan.” Bhagavad Gita 14:24

Banyak yang menyalahgunakan ayat-ayat seperti ini untuk bertindak semau mereka terhadap orang-orang yang dianggap berkesadaran Jiwa. Mudah sekali bagi hakim-hakim dunia untuk menjatuhkan hukuman mati kepada para Socrates, karena mereka pun tahu para Socrates akan menerima kematian, sebagaimana menerima kehidupan. Yang mereka tidak sadari ialah bahwa penerimaan para Socrates terhadap hukuman mereka, tidak membebaskan mereka dari konsekuensi perbuatan konyol mereka.

 

ADA YANG PERNAH MENGKRITIK GANDHI – “Jika dia betul seorang Mahatma dan berjiwa besar, maka untuk apa mengajak bangsa India untuk memerdekakan diri dari penjajahan Inggris? Bukankah seorang bijak semestinya rnenganggap sarna kebebasan dan penjajahan sebagaimana ia menganggap sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia?”

Dalam penilaian para penilai duniawi, yang belum tercerahkan pun, “penjajahan adalah ibarat segumpal tanah atau batu” dan kebebasan adalah “logam mulia”. Namun, mereka ingin memaksa Gandhi unruk menerima segumpal tanah atau batu sebagaimana ia menerima logam mulia. Kenapa? Kenapa mesti memaksakan penilaian mereka pada Gandhi?

Seseorang berkesadaran Jiwa memang memandang sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia — namun tidak berarti tanah akan dijadikan perhiasan, batu disimpan di berangkas, dan logam mulia diletakkan di pinggir jalan.

 

KESADARAN JIWA TIDAK MENGUBAH FUNGI BENDA-BENDA DI DUNIA – Ketika Krsna mengatakan bahwa bagi seseorang berkesadaran Jiwa, semuanya itu adalah sama; atau lebih tepatnya, “dipandang sama”, Ia tidak mengisyaratkan bahwa seseorang yang telah berkesadaran demikian akan “mengacaukan tatanan masyarakat dengan rnemutar balik fungsi setiap benda yang ada di alam benda.”

Segumpal tanah adalah segumpal tanah; pun demikian batu adalah batu; dan logam mulia adalah logam mulia. Mereka yang berkesadaran Jiwa, tidak terikat pada sesuatu. Namun ketidakterikatannya itu tidak berarti ia akan membenarkan “batu berkuasa” dan “logam mulia dijajah”.

Segumpal tanah dan batu adalah ibarat penjajahan. Bukan si penjajah, tetapi tindakan menjajah. Dan logam mulia adalah kemerdekaan, kebebasan.

Sebab itu, walau Gandhi menganggap sama semuanya, tetap juga ia berseru “Do or die! Lakukan sesuatu demi kemerdekaan, berjuanglah untuk meraih kemerdekaan atau matilah, gugurlah dalam perjuangan!”

 

AYAT-AYAT SEPERTI INI MESTI DIARIFI, dipahami secara bijak. Menganggap sama duka dan suka tidak berarti kita memiliki otoritas untuk menindas dan menyebabkan duka pada seorang Socrates atau Gandhi, kemudian mengharapkan mereka yang telah ditindas itu untuk menerima tindakan kita yang biadab.

Menganggap sama segala sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan tidak berarti menyebabkan penderitaan umum sebagaimana yang dilakukan oleh para diktator dan penguasa zalim, yang selalu mengharapkan rakyat rela rnenderita demi “kebijakan-kebijakan”nya. Walau, kebijakan-kebijakan itu mengkhianati undang-undang negara, nilai-nilai luhur kemanusiaan, hukum alam, dan Ketuhanan yang Maha Esa, yang selalu digunakan sebagai slogan.

 

MENGANGGAP SAMA PUIIAN DAN CELAAN tidak mernberi kita hak untuk mencela siapa saja, untuk membunuh Gandhi, menembaki Martin Luther King, Jr., atau memenjarakan Mandela.

Tidak, tidak demikian maksud Krsna. “Menganggap sama” adalah semangat Jiwa, Kesadaran Jiwa. Semangat ini bukanlah sebuah konsep yang bisa seenaknya dipakai dan disalahgunakan oleh mereka yang belum berkesadaran Jiwa.

Dan, para bijak yang telah berkesadaran demikian pun, hendaknya tidak menyalahartikan bila “semangat Jiwa” dapat mengubah “nilai pasar”, dalam arti kata “tata-krama dunia benda”, sifat kebendaan, dan lain sebagainya.

 

SEORANG BIJAK TIDAK TERTARIK DENGAN KEKUASAAN – Tetapi ia pun tidak duduk diam ketika menyaksikan kezaliman merajalela dan kemanusiaan serta nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan sebagainya terinjak-injak di bawah kaki mereka yang berkewajiban untuk menegakkan nilai-nilai tersebut.

Krsna sedang mempersiapkan Manusia Baru — Arjuna — seorang Kesatria Berkesadaran Jiwa, yang tetap berkarya di tengah rnasyarakat dunia, di tengah pasar alam benda.

Tugas Krsna memang berat — sangat berat.

Bagi seorang berkesadaran Jiwa, rneninggalkan keramaian dunia untuk menyepi di tengah hutan – adalah  hal yang mudah. Sebaliknya juga, jika seorang sepenuhnya berkesadaran dunia benda, berkarya di tengah pasar dunia — sama mudahnya.

Adalah sebuah tantangan berat untuk berkarya di tengah hiruk pikuknya dunia benda, dan mempertahankan Kesadaran Jiwa. Inilah “agenda” Krsna bagi Arjuna, bagi kita semua! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Jangan Putus Asa: Semua Kemungkinan Masih Terbuka!

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 20, 2017 by triwidodo

Seorang Master bercerita: Dahulu kala ada seorang petani tua yang telah bekerja keras bertahun-tahun lamanya. Suatu hari kudanya lari. Setelah mendengar kabar tersebut, tetangganya datang berkunjung.

Tetangganya berkata: “Kadang-kadang kita memang sial, seperti misalnya kehilangan seekor kuda!”

Mungkin,” jawab petani itu.

Keesokan paginya kuda itu kembali, membawa tiga ekor kuda liar lainnya.

“Betapa beruntungnya,” seru para tetangga.

Mungkin,” jawab orang tua itu.

Keesokan harinya, anaknya mencoba mengendarai salah satu kuda yang tidak bertali, dilemparkan, dan mematahkan kakinya. Para tetangga kembali datang untuk memberikan simpati mereka atas kemalangannya.

“Ya, banyak hal yang malang yang kadang terjadi tanpa diduga!” kata tetangganya

Mungkin,” jawab petani itu.

Sehari setelah itu, pejabat militer datang ke desa untuk merancang pemuda-pemuda masuk tentara. Melihat kaki anak itu patah, mereka melewatinya.

Para tetangga memberi selamat pada petani tentang keberuntungan hal tersebut.

“Selamat , sungguh-sungguh beruntung!” kata tetangganya.

Mungkin,” kata si petani.

Hidup memang penuh kemungkinan………………

Kutipan dari Video youtube by Swami Anand Krishna: Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion

Kamu diberi disket game terus kamu mainkan, dan kamu merasa ini adalah free will. Hari ini menang, besok kalah. Katakan kamu main catur dengan komputer. Minimum ada 60.000 kemungkinan. Dan semuanya sudah didesign permainan itu. Setiap hari berbeda dan kamu merasa kamu belajar. Kita berpikir itu adalah free will. Nyatanya yang disebut free will adalah terbatas kepada kemungkinan-kemungkinan tertentu. Kita hanya bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan yang lain.

Dan, Kundalini adalah bagaimana kita membuang disket permainan ini. Kundalini adalah meloncat ke hal yang tidak terketahui dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Kita creating dan programming permainan kita sendiri. Saat kau bangkit dalam love, kamu menuju compassion. Tiba-tiba kau memiliki banyak kemungkinan. Dan kemudian quantum mechanics bekerja.

Ya inilah hidup yang penuh dengan berbagai kemungkian. Dan ini adalah tentang kundalini. Sekali lagi ini bukan kutukan terhadap kebiasaan tertentu, hanya tentang seberapa jauh kau akan pergi.

Ada Master Mahavir yang bicara Zen, bukan agama tapi filosofi yang disebut sebagai Master Kontemporer Buddha. Tapi Beliau tidak banyak diketahui di Barat, karena ajarannya sangat sulit dipahami. Pengikut Mahavir hanya beberapa juta di dunia. Apabila kalian kembali ke 2.500 tahun yang lalu dan kalian datang ke Mahavir dan tanya beberapa pertanyaan, dia memberikan 3 set jawaban. Berdasar pertanyaanmu, bisa terjadi ini, dapat terjadi itu, dapat menjadi yang demikian.

Sehingga Max Muller saat belajar tentang Mahavir, dan dia menterjemahkan karya Mahavir, untuk ensiklopedianya, Secret Book of the East. Dia mulai belajar tentang hal itu, orang ini lucu, bagaimana orang demikian bisa dikategorikan sebagai prophet. Dia tidak punya jawaban. Dia memberikan kemungkinan. Tapi kemudian dia belajar meditasi tentang Mahavir. Dan dia kembali pada Veda dan ajaran-ajaran lain. Pada abad 17 quatum mechanic belum diketahui, tapi ada dalam philosofical bukan science. Ya inilah hidup itu penuh dengan berbagai kemungkinan. Dan ini adalah tentang kundalini. Sekali lagi ini bukan kutukan terhadap kebiasaan tertentu. Hanya tentang seberapa jauh kau akan pergi.

Silakan simak video youtube by Swami Anand Krishna: Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion

#BhagavadGita: Hukum Inkonsistensi, seberapapun level kesadaran diri, semua bisa terjadi

BAGI MEREKA YANG MASIH TERJEBAK dengan konsistensi di permukaan, Krsna menjadi sosok yang sangat tidak konsisten. Mereka tidak sadar bila konsistensi adalah kematian. Hidup selalu inkonsisten. Inkonsistensi itulah yang membuat hidup menjadi hidup. Konsistensi berarti tidak ada kemajuan, tidak ada pertumbuhan, tidak ada perkembangan. Kita lahir sebagai bayi, dan mati sebagai bayi. Itu baru konsistensi. Konsistensi adalah anti-evolusi. Jika segala sesuatu di dalam alam ini konsisten, maka tidak ada lagi harapan bagi seorang anak petani untuk menjadi Presiden. Tidak ada pula penyembuhan. Sekali sakit ya, sakit terus……..

Sejarah, budaya, peradaban — semuanya adalah produk inkonsistensi aliran hidup — kehidupan. Teori Quantum Mechanism menjelaskan hal ini dengan baik. Di balik segala orderliness — keteraturan yang terlihat, sesungguhnya partikel-partikel atom sedang bergetar terus. Dan, getarannya tidak teratur, tidak konsisten pula — sehingga sesekali bisa terjadi lompatan-lompatan dahsyat yang disebut Quantum Leap. Sesekali, dari anak tangga penama kita bisa lompat langsung ke anak tangga ketujuh. Tidak perlu melewati anak tangga kedua, ketiga, dan seterusnya.

INILAH INKONSISTENSI ALAM – Ketika Krsna mengidentifikasikan diri-Nya dengan semesta, maka Ia pun tidak bisa tidak mengidentifikasikan-Nya dengan dua fenomena yang tampak beda — dengan konsistensi di permukaan, dan inkonsistensi di baliknya, di bawahnya, di dalamnya.

Fenomena alam di permukaan sangat konsisten. Matahari, Bulan, Bumi, dan bintang-bintang — semua berada di orbit masing-masing, konsisten. Tidak terj adi tabrakan — jarang-jarang batangkali sekali dalam puluhan miliar tahun manusia. Akan tetapi, partikel-partikel atom yang menjadi building blocks segala-galanya tidak konsisten, sedang melompat-lompat.

Melihat Krsna Hyang Berwujud adalah melihat wujud Semesta Hyang Konsisten sekaligus melihat pula Berkah dan Kemuliaan-Nya Hyang Tidak Konsisten.

YA, KETIDAKKONSISTENAN KEMULIAAN itulah yang menjadi berkah bagi kita semua. Untuk memahami hal ini, kita mengambil Hukum Karma sebagai contoh. Konsistensi berarti, tiada harapan bagi siapa pun juga untuk keluar dari Lingkaran Ke1ahiran-Kematian. Berarti, kita berputar terus dalam Lingkaran tersebut. Inkonsistensi berarti berkah, berarti adanya kemungkinan moksa, nirvana, liberation, kebebasan mutlak dari lingkaran tersebut.

Melampaui dualitas yang membingungkan berarti kita memahami baik konsistensi maupun inkonsistensi hidup ini. Konsistensi dan Inkonsistensi — dua-duanya mesti dijadikan alat untuk membantu kita. Berubahlah, jadilah lebih baik dengan menggunakan Alat Inkonsistensi. Kemudian, mempertahankan segala kebaikan yang telah dicapai dengan menggunakan Alat Konsistensi. Kita mmesti pintar-pintar menggunakan kedua alat tersebut.

Seperti seorang pengusaha yang pintar. Sebagian dari hasil keuntungannya ia tabung —itulah konsistensi..Sebagian lagi ia jadikan modal untuk berbisnis — inkonsistensia Jangan menggunakan seluruh tabungan — jika bisnis merugi — semuanya ludes. Jagalah keseimbangan! Penjelasan Bhagavad Gita 10:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia