5 Check Points Mengenali Diri Sendiri #BhagavadGitaIndonesia

5 chek points tersebut adalah: 1 Diri kita adalah kawan dan lawan kita; 2 Kesalahan meyakini identitasi diri yang palsu; 3 Tidak menyadari hakikat diri; 4 Dampak pergaulan terhadap diri; dan 5 Mengendalikan diri.

 

  1. Diri Kita adalah Kawan dan Lawan Kita

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan tidak membiarkannya terjerumus oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, ‘diri’-mu adalah kawan dan lawanmu sendiri.” Bhagavad Gita 6:5

Ini adalah puncak dari ayat-ayat pemberdayaan diri, di mana Krsna jelas sekali. Diri atau Atma dalam ayat ini adalah Diri-Sejati; Sang Jiwa yang merupakan percikan dari Jiwa Agung atau Paramatma.

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaraan kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan sebagainya.

Sesungguhnya, pembangkitan diri yang dimaksud  ialah meninggalkan alam ego dan kembali pada Alam Jiwa, yang merupakan habitat kita yang sebenarnya. Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena ‘setiap’ Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Kesalahan Meyakini Identitas Diri yang Palsu

Sebelum menggapai Kesadaran Jiwa, keadaannya persis seperti seorang putra raja yang diculik oleh gerombolan perampok. Ia dibesarkan oleh mereka. Maka, ia memiliki identitas palsu. Identitas palsu sebagai putra perampok, sebagai perampok. Indentitas palsu ini karena “pergaulannya” dengan gerombolan perampok. Karena keberadaannya di tengah mereka. Karena terlupakannya identitas asli yang sebenamya.

Menjalani peran palsu ini — peran yang sesungguhnya bukanlah peran dia — terjadi konflik batin dalam diri sang pangeran. Dia tidak puas dengan perannya sebagai perampok.

Ketika ia diculik, usianya baru 3 — 4 tahun. Ia masih balita. Sebab itu, ia pun tidak mengingat persis “masa lalunya” — identitas aslinya. Tapi, bagaimanapun juga — rekaman tentang kehidupan di istana sebagai pangeran, tidak pernah hilang juga. Rekaman itu masih ada. Walau buyar dan tidak jelas, ia masih melihat gambar-gambar, bayang-bayang dari masa lalunya — baik dalam keadaan jaga, maupun tidur — dalam mimpi. Ia tidak menyadari sebab kegelisahannya — Tapi ia tetap gelisah. Kehidupan perampok bukanlah kehidupannya. Ia tidak puas dengan pola-hidup yang sedang dijalaninya.

Kemudian, suatu ketika seorang menteri yang bijak menemukan si pangeran yang hilang itu. Ia mengenal tanda-tanda yang ada di badannya. Sekarang, Anda boleh menambahkan faktor DNA Test. Jelas dia bukan putra perampok. Dia seorang pangeran. Maka, kesadaran baru yang sesungguhnya adalah kesadaran awalnya, kesejatian dirinya, seketika membahagiakan sang pangeran. Ia tidak perlu merampok lagi. Ia seorang pangeran. Mereka, yang selama ini dirampoknya, adalah warganya, rakyatnya.

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa yang dialami oleh pangeran dalam kisah ini – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Tidak Menyadari Hakikat Diri

“Mereka yang tidak sadar (tidak menyadari hakikat diri), senantiasa terlibat dalam perbuatan yang sia-sia; harapan dan pengetahuan mereka pun sia-sia semata. Dalam kesia-sianan itu mereka merangkul kebiasaan-kebiasaan asuri atau syaitani yang tambah membingungkan.” Bhagavad Gita 9:12

Mereka yang tidak sadar bila badan hanyalah sebuah kendaraan; dan indra, gugusan pikiran serta perasaan dan lainnya hanyalah sekadar perlengkapan kendaraan; dan bahwasanya mereka adalah percikan Jiwa Agung — hidup dalam kesia-siaan.

Celakanya, hidup dalam kesia-siaan tidak hanya merugikan diri saja; tidak hanya merugikan yang bersangkutan saja; tapi setiap orang yang berhubungan dengannya. Persis seperti kecelakaan kendaraan beruntun di jalan bebas hambatan.

Atau, seperti seseorang yang bergaul dengan pemakai narkoba. Dirinya bukan pemakai. Ia pun tidak tahu-menahu bila teman yang duduk di dalam mobilnya sedang mengantongi beberapa butir ekstasi. Maka, saat tertangkap, dia ikut dijatuhi hukuman yang sama sebagai pengedar narkoba — karena “kendaraannya dipakai untuk berdagang, mengedar narkoba.”

Lagi-lagi, ayat ini kembali mengingatkan kita akan betapa pentingnya pergaulan. Pergaulan yang salah bisa mencelakakan diri kita.

Kebiasaan-kebiasaan asuri atau syaitani tidak berasal dari luar – sisa-sisa sampah syaitani masih ada di dalam diri kita, namun sudah mengendap. Adalah pergaulan syaitani di luar yang memunculkan sifat-sifat syaitani kita ke permukaan. Sisa-sisa yang tidak seberapa mendapatkan angin segar, hidup baru, dan berkembang biak kembali. Pemicu utama bagi sifat syaitani adalah pergaulan yang tidak menunjang perkembangan Jiwa, dan justru mengalihkan perhatian kita sepenuhnya pada badan dan indra. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Dampak Pergaulan terhadap diri kita

DAMPAK PERGAULAN – Kedekatan fisik, pikiran, atau perasaan dengan orang-orang yang ber-“arus-pendek” adalah penyebab terbakarnya rumah kita.

Korsleting yang sedang terjadi dalam gugusan pikiran serta perasaan seorang yang dekat dengan kita adalah berbahaya, bisa fatal! Kita bisa ikut korslet, ikut terbakar.

Pemahkah kita memperhatikan sifat para pekerja di rumah sakit jiwa? Umumnya mereka  “rada-rada” juga, walau mereka tidak menyadari hal itu, atau tidak mau mengaku.

Tidak berarti orang gila tidak boleh dirawat, tidak boleh dilayani. Silakan merawatnya, silakan melayaninya, tapi jagalah “jarak aman”. Jangan terlibat dalam persoalan mereka secara emosional. Kita akan ikut menjadi gila dan malah tidak mampu rnerawat dan melayani mereka yang membutuhkan kita. Penjelasan Bhagavad Gita 18:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Mengendalikan Diri

“Ia senantiasa menarik diri ke tempat yang sepi; makan secukupnya; mengupayakan pengendalian badan, indra, ucapan serta pikiran; memusatkan seluruh kesadarannya pada diri yang sejati (melakoni Dhyana Yoga); dan berlindung pada Vairagya, melepaskan segala keterikatan duniawi.” Bhagavad Gita 18:52

Sifat-sifat ini pun “datang dengan sendirinya”. Jika kita sudah berkesadaran Jiwa, kita tidak akan pernah menikmati pergaulan dengan mereka yang masih berkesadaran Jasmani murni, mereka yang hanya memikirkan materi.

Bukan karena sombong – Tapi karena urusannya sudah beda. Seorang pilot yang sedang membawa pesawat super canggih tidak berurusan lagi dengan rambu-rambu lalu lintas di darat. Ia mesti menaati rambu-rambu lain. Seorang mahasiswa tidak lagi berurusan dengan ujian nasional SD. Ia sudah melewatinya. Dalam hal ini, tidak ada rasa sombong atau angkuh, “Aku sudah mahasiswa, kau masih SD? Kasihan!” Ucapan seperti itu tidak masuk akal. Seorang mahasiswa sudah melewati masa SD. Tidak ada yang perlu disombongkan.

Mencari tempat yang sepi, baik untuk hunian maupun untuk laku spiritual, meditasi dan sebagainya — ini pun bukan karena sombong dan untuk membuktikan, “aku lebih hebat!” Tidak. Ini adalah mumi soal pilihan, dan kesukaan – preferensi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: