Kisah Cendekiawan dan Brahmana Pedesaan #BhagavadGitaIndonesia

Seorang Guru bercerita: Seorang Cendekiawan sedang berjalan-jalan ke daerah pedesaan. Dia bertemu dengan seorang brahmana desa yang duduk di bawah pohon membolak-balik kitab Bhagavad Gita sambil merenung dan menangis sedih.

Sang Cendekiawan mendekati dan berkata, “Bapak, tidak ada sebuah kejadian yang bersifat kebetulan. Pertemuan kita ini pun bukan bersifat kebetulan. Semuanya sepengetahuan Gusti. Mungkin Gusti mengirim saya untuk meringankan kesedihan Bapak.  Jangan bersedih karena bingung tidak memahami Bhagavad Gita, katakan pada saya, sloka yang mana yang sulit dipahami, saya akan menjelaskan kepada Bapak.”

Sang Cendekiawan masih hapal penjelasan Bhagavad Gita 9:10, “Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan….. Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adalah Hyang Maha Mengawasi – Sang Pengawas Agung.”

Sang Brahmana desa menjawab, “Terima kasih Nak, saya menangis karena saya melihat Sri Krishna selalu berada di depan saya. Tidak peduli halaman atau sloka yang mana yang saya lihat, saya melihat kereta Arjuna dan Sri Krishna. Di semua halaman atau sloka saya melihat Sri Krishna. Kemudian saat saya berjalan, bekerja, makan atau berbuat apa pun saya melihat Sri Krishna. Apakah itu tidak membuat saya menangis, Nak?”

Sang Cendekiawan hapal Penjelasan Bhagavad Gita 9:31, “Hati seorang bhakta yang seluruh kesadarannya terpusatkan pada Gusti Pangeran, sudah tidak bercabang lagi. Ia telah menghaturkannya pada Gusti Pangeran. Alam benda hanyalah ibarat kantor tempat ia bekerja, bukan rumahnya. Rumahnya adalah istana Gusti Pangeran. Ia tidak pernah lupa akan hal itu. Ia tidak mencari rumah lain. Ia tidak mencari cinta dari dunia benda. Ia sudah mendapatkan segala-galanya dari Gusti Pangeran, Hyang adalah Wujud Cinta Kasih.”

Sang Cendekiawan sadar, bahwa pertemuan itu memang bukan sebuah kebetulan, Gusti mempertemukan dirinya dengan seorang brahmana desa agar dia belajar dari sang brahmana, bukan dia mengajari sang brahmana. Dia hapal Bhagavad Gita tapi Sang Brahmana Desa telah melakoninya.

Sang Cendekiawan ingat Gurunya yang berkata, “Dikatakan perlu beberapa jam untuk membaca kitab suci. Perlu waktu bertahun-tahun untuk memahaminya. Tapi, untuk menghidupi kitab suci, melakoni kitab suci dalam kehidupan dengan penuh penghayatan, bisa menghabiskan banyak kehidupan.”

 

Menghidupi Pengetahuan Sejati dengan Laku

“Pengetahuan Sejati lebih mulia dari laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan, melepaskan diri dari keterikatan hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.” Bhagavad Gita 12:12

………………..

Pengetahuan sejati pun tidak berarti apa-apa jika tidak dihayati. Bukan sekadar ‘tahu’, tetapi menghayati pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa ‘dihidupi’, akan menjadi basi, tidak berguna.

‘Hayat’ dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti ‘hidup’. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah meditasi yang sebenarnya. Inilah meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… Dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada ‘laku’ – ya, kembali pada laku. Tapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

‘Laku’ di anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakakan; laku yang meditatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan segala atribut tambahan tersebut, laku di anak tangga tersebut sudah bukan laku biasa.

Tidak seperti laku di anak tangga awal. Laku di anak tangga ini adalah laku seorang panembah, laku dengan semangat manembah. Dan, bukanlah sekedar itu, laku di anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna ‘renunciation’ atau ‘tyaga’.

Berati, bukan sekadar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dimuliakan.

Dalam tradisi Hindu kuno, seorang anak menyerahkan seluruh penghasilannya kepada orangtua. Kemudian orangtua yang mengatur seluruh keuangan keluarga, termasuk untuk kebutuhan pribadi anak itu sendiri. Ketika terjadi keperluan di luar dugaan, maka orangtua pula yang berkewajiban untuk menutupinya. Si anak bebas dari segala tanggung jawab, karena ia telah menyerahkan seluruh penghasilannya.

Jika kita bisa menghaturkan buah perbuatan kita kepada Hyang Maha Kuasa, maka Ia akan mengatur hidup kita. As simple as that, memang membutuhkan iman, keyakinan yang kuat, penyerahan diri yang sempurna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Badan dan Jiwa berasal dari Gusti Pangeran

Baik kendaraan maupun pengemudi – baik Badan dan Alam Benda, maupun Jivatma atau Jiwa-Individu – ujung-ujungnya keberadaan semua adalah karena-Nya, karena Jiwa Agung. Kendati demikian, karena perbedaan fungsi, maka terciptalah ilusi-dualitas.

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada.

Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu.

KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAK – Jivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa.

LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung.

TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada. Penjelasan Bhagavad Gita 15:17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: