Kisah Krishna dan Burung Gereja di Kurukshetra #BhagavadGitaIndonesia

Seorang Guru bercerita tentang kejadian sehari sebelum perang Bharatayuda yang berdarah-darah sepanjang sejarah. Perang Pandava dengan Kaurava tersebut berlangsung selama 18 hari saja.

Pepohonan di sekitar medan perang ditebang sebagai kayu bakar untuk memasak makanan yang dikonsumsi selama perang berlangsung. Mereka menggunakan kawanan gajah untuk merobohkan pohon-pohon.

Adalah seekor induk burung gereja dengan 4 anak burung yang masih kecil-kecil, jatuh bersama sarangnya ketika pohon tempat dia tinggal dirobohkan.

Induk burung gereja tersebut paham dengan nalurinya, bahwa tempat tersebut mulai besok pagi akan digunakan sebagai medan perang dan anak-anaknya yang masih berada dalam sarang yang berada di tanah akan mati terinjak-injak pasukan perang. Pada saat itulah dia melihat Krishna bersam Arjuna sedang mengamati medan untuk merancang strategi perang. Sang burung gereja mendekati Sri Krishna dan mohon anak-anaknya yang terjatuh dari pohon dapat diselamatkan Krishna.

Krishna berbicara pada burung tersebut, “Saya mendengar permohonan Anda, tapi saya tidak dapat mengganggu hukum alam.”

Sang burung berkata, “ Saya tahu bahwa Gusti adalah pelindung makhluk, saya menyerahkan nasib saya dan anak-anak saya kepada Gusti!”

Krishna berkata, “Roda waktu bergerak tanpa pandang bulu!” sepertinya Sri Krishna tidak akan membantu keluarga burung tersebut, karena menghadapi perang besar yang segera terjadi.

Tetapi Sri Krishna berpesan agar burung tersebut menyimpan stok makanan selama 3 minggu dalam sarangnya.

Arjuna tidak sadar akan pembicaraan tersebut dan mengusir burung tersebut, saat Krishna tersenyum kepada burung tersebut. Burung tersebut segera kembali ke sarangnya.

Esok harinya sesaat sebelum dimulai peperangan, Krishna meminjam panah Arjuna. Arjuna bingung karena Krishna sudah berjanji tidak akan mengangkat senjata dalam perang tersebut. Krishna menenangkan Arjuna bahwa tidak akan ada yang mati oleh panahnya. Ternyata yang dibidik oleh Krishna adalah sebuah gajah dan panah tersebut meleset dan hanya mengenai lonceng besar gajah tersebut dan lonceng tersebut jatuh. Arjuna menahan ketawanya melihat hal tersebut.

Arjuna berkata, apakah dia harus memanah gajah tersebut, dan mengapa harus memanah seekor gajah. Krishna menjawab bahwa gajah itlah yang merobohkan pohon tempat burung gereja yang datang kepadanya sehari sebelumnya.

Perang Bharatayuda berjalan selama 18 hari dan kemenangan berada di pihak Pandava.  Sekali lagi Krishna mengajak Arjuna ke medan pertempuran dan melihat beberapa  gajah dan prajurit yang gugur yang belum sempat diperabukan.

Arjuna diminta mengangkat sebuah lonceng gajah dan diminta mengangkatnya. Arjuna heran mengapa Krishna tertarik dengan lonceng besar untuk gajah tersebut.

Saat Arjuna membuka lonceng gajah tersebut 4 burung kecil segera terbang diikuti oleh induknya. Arjuna langsung bersujud pada Krishna, dia teringat ucapan Sri Krishna pada burung agar menyimpan stok makanan selama 3 minggu, yang pada waktu itu aneh baginya, burung kok diajak bicara. Arjuna juga teringat Krishna yang pinjam panahnya untuk memananh lonceng gajah tersebut yang rupanya untuk menutupi sarang yang dihuni burung gereja dengan 4 anaknya.

Arjuna malu, dia baru yakin pada Krishna setelah Krishna menyampaikan Bhagavad Gita dan bahkan melihat Visvarupa. Akan tetapi sang burung gereja sudah yakin sejak dari awalnya.

 

Keyakinan terhadap Gusti Pangeran dalam Bhagavad Gita

“Keinginan-keinginan mereka terpenuhi, karena pemujaan mereka dengan penuh keyakinan. Sesungguhnya, apa pun yang mereka peroleh, semuanya berasal dari-Ku juga.”Bhagavad Gita 7:22

Lagi-lagi maknailah “Aku” Krsna sebagai Aku-Jiwa. Isa atau Isanatha pun berkata demikian, “Adalah imanmu, kepercayaanmu yang menyembuhkan!”

Suatu ketika seorang yang buta sejak lahir disentuh oleh Isa, dan saat itu juga ia sembuh dari kebutaannya. Maka, ia mengucapkan terima kasih. Dengan segala kerendahan hati, Sang Penyembuh Ilahi menjawab, “Bukan aku,” dalam pengertian bukanlah sosok fisiknya yang menyembuhkandia. “tapi adalah imanmu yang telah menyembuhkanmu.”

Iman, kepercayaan, keyakinan adalah urusan pribadi. Iman kita, kepercayaan kita, keyakinan kita, tidak bisa diurusi oleh lembaga. Bahkan tidak terdeteksi oleh orang lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Krishna adalah kesadaran Arjuna, kesadaran kita semua

Perbincangan ini, dialog antara Krsna dan Arjuna ini (Bhagavad Gita….Penulis kutipan), terjadi pada dua strata, dua level, dua alam.di alam benda, Krsna adalah sais kereta perang dan Arjuna adalah seorang ksatria yang duduk di belakang sais.

Dalam alam batin, Krsna adalah kesadaran Arjuna sendiri yang sedang berdialog dengan pikirannya. Dialog ini merupakan dialog transformatif. Tidak ada yang kalah atau menang dalam dialog ini. Pikiran tidak terkalahkan oleh kesadaran. Pikiran, sepenuhnya berubah menjadi kesadaran.

Kesadaran bukanlah sesuatu di luar pikiran. Kesadaran adalah benih-benih yang belum bertunas.

Sementara itu, pikiran adalah alang-alang yang seolah mencegah penunasan benih-benih itu. Sulit memang menjalankan proses ini – bagaimana pikiran kemudian bertransformasi menjadi kesadaran. Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Keyakinan mesti kuat

Keyakinan mesti menjadi sifat. Orang yang berkeyakinan tidak bimbang, tidak ragu. Orang yang berkeyakinan sesungguhnya meyakini diri sendiri. Ia tidak takut pada apa pun juga. Tiada sesuatu yang dapat membuatnya takut.

Keyakinan seperti itu – sebutlah, keyakinan pada diri, pada Jiwa – adalah hasil dari pengetahuan tentang Hakikat-Diri. Kemudian, keyakinan itu pula membuatnya mengenal hakikat hubungan dengan Jiwa Agung. Keyakinan seperti itu membuatnya mengenal diri lebih dalam, lebih jauh. ia melewati tahap-tahap pasca pencerahan seperti yang telah kita bahas sebelumnya.

Setelah mengetahui Kemampuan jiwa. Setelah mengetahui bila dirinya bukan badan, bukan indra, tapi Jiwa yang mengendarai kendaraan badan dan indra, maka ia langsung mengambil alih peran pikiran dan perasaan yang selama ini mengemudi kendaraan badannya.

Ia menjadi pengemudi. Ia menjadi pengendali indra. Dan, dengan pengendalian indra, ia memperoleh kedamaian abadi, kebahagiaan sejati. Perjalanan hidup menjadi menyenangkan. Tiada lagi kecelakaan-kecelakaan yang disebabkan oleh sifat ugal-ugalan mind – gugusan pikiran dan perasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:39 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: