Kisah Pemuja Vishnu dengan 3 Permohonannya #BhagavadGitaIndonesia

Seorang pemuja Vishnu bertapa dengan keras agar hidupnya bahagia. Selama ini hidupnya selalu mengalami pasang-surut, suka dan duka yang tidak berkesudahan dan dia sudah jenuh mengalami hal tersebut.

Lakshmi kasihan terhadap orang tersebut dan minta Vishnu menemuinya. Vishnu berkata bahwa orang tersebut belum memahami kehidupan, apa pun yang dimintanya hanyalah untuk kepentingan dunia yang memberikan kebahagiaan yang bersifat sementara.

Atas desakan Lakshmi, Vishnu pun akhirnya menemui orang tersebut. Vishnu berkata bahwa dia akan mengabulkan 3 permintaan orang tersebut dan setelah itu dia orang tersebut jangan minta apa pun kepadanya.

Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta, agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Ternyata setelah kawin dengan istrinya, kebiasaan mereka tidak sama sehingga merepotkan. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

Akan tetapi semua teman-teman dan keluarganya yang menghadiri perabuan istrinya, menyesalkannya. Sulit sekali mencari orang seperti dia, kalau dengan dia saja tidak cocok pasti dengan yang lainnyapun sama. Perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan istri. Maka sang pemuja Vishnu itu menjadi murung dan merenung seharian. Akhirnya dia permohonan kedua adalah agar istrinya dihidupkan kembali.

 

Tinggal sebuah pertanyaan lagi, dan dia mulai bertanya kepada semua teman-temannya permohonan apalagi permohonan yang perlu disampaikan kepada Vishnu. Ada yang menyarankan agar minta hidup selamanya, akan tetapi kembali dia berpikir, apa gunanya hidup terus kalau badan sakit-sakitan. Mohon harta kekayaan, akan tetapi kalau kalau dirinya dikucilkan tidak punya teman tidak ada artinya. Mohon kesehatan prima, tapi kalau hidupnya menderita juga tidak memuaskan.

Apa pun yang diminta tidak ada yang membuatnya suka selamanya, rasa suka yang abadi. Semuanya selalu dibayang-bayangi duka.

Bertahun-tahun sang pemuja Vishnu melakoni hidup tanpa menyampaikan permohonan yang dijanjikan oleh Vishnu. Sang istri dengan setia mendampinginya dalam mencari solusi agar hidup bahagia selamanya. Mereka telah dikaruniai seorang putra. Di samping melakoni hidup, mereka tetap menyisakan waktu untuk merenungkan apa yang dapat membuat mereka hidup bahagia tanpa dibayang-bayangi rasa duka.

Mereka mengalami pasang surut tapi ada satu saat mereka tidak mengeluh lagi karena paham hidup memang demikian, selalu ada pasang dan surut. Sampailah mereka berdua pada satu kesimpulan semestinya mereka bisa hidup ceria walau mengalami kejadian apapun.

Akhirnya sang pemuja Vishnu menghadap Vishnu dan menyampaikan permohonan terakhir: “Gusti Vishnu, apabila Gusti berkenan dan kami berdua layak mendapatkan, mohon Gusti sudi memberi kami keceriaan hati yang tidak terpengaruh pasang-surutnya dunia.

Lakshmi datang kepada Vishnu dan tersenyum penuh arti. Lakshmi berbisik kepada Vishnu, “dia telah berupaya sungguh-sunggh untuk memperoleh keceriaan dalam hidupnya.” Vishnu berkenan mengabulkan permohonan pemuja-Nya.

 

Senantiasa Ceria   

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.” Bhagavad Gita 18:54

Tidak berarti seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi itu meninggalkan pekerjaannya. Tidak. Ia masih tetap berkarya di tengah keramaian pasar dunia, namun terjadi perubahan nyata dalam sikapnya.

PERTAMAI IA MENJADI CERIA — Keceriaan bukanlah cengengesan. Keceriaan bukanlah rasa bahagia yang dibuat-buat. Keceriaan adalah hasil dari kesadaran tertinggi, di mana ia mulai mengapresiasi keindahan jagad-raya. Keceriaannya adalah keceriaan polos, tulus, lugu. Keceriaan seorang anak kecil yang sedang mengamati dan menikmati warna-warni dunia.

KEDUA: IA TIDAK LAGI BERDUKA – Ini erat kaitannya dengan keceriaan. Jika ia hanya berada dalam keadaan suka, maka ketika keadaan berubah, ia akan berduka.

Keadaan suka, sebab itu, tidaklah sama dengan keceriaan. Keceriaan melampaui suka dan duka. Suka dan duka tergantung pada keadaan di luar diri. Keceriaan adalah sikap hidup yang muncul dari kesadaran diri.

Brahman, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, memiliki tiga sifat utama, yaitu Sad atau Kebenaran Hakiki; Cit atau Kesadaran Murni; dan Ananda atau Kebahagiaan Sejati. Keceriaan bersumber dari ketiganya itu. Namun, secara spesifik, keceriaan adalah ungkapan dari Ananda. Jadi, berasal dari dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri.

KETIGA: IA TIDAK MENGEJAR SESUATU – Ia tetap berkarya, dan berkarya secara efisien. Ia tidak malas, namun, ia berkarya sebagai ungkapan keceriaan dirinya. Ia tidak berkarya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya.

Alangkah baiknya, jika para pemimpin, pengusaha, pendidik, pekerja, kita semua bersemangat dernikian! Sehingga tidak ada urusan sikut-menyikut, tidak ada perlombaan, tidak ada praduga dan prasangka. Semua orang berkarya sepenuh hati sesuai peran serta kapasitasnya. Inilah keadaan yang dapat menciptakan masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam arti kata sebenarnya, sesungguhnya.

 

KEEMPAT: BERSIKAP SAMA TERHADAP SEMUA – Berarti, tidak pilih kasih. Tidak pandang bulu; tidak tebang pilih. Ia tidak menganggap orang lain rendah karena kepercayaannya beda, rasnya lain, bahasanya beda, dan sebagainya dan seterusnya.

Bersikap sama tidak berarti kita tidak adil. Bersikap sama berarti kita bersikap adil dengan menggunakan tolok ukur dan timbangan yang sama buat semua.

Berarti, kita tidak hanya bersuara lantang ketika seorang pengusaha ditindak karena memperbudak buruhnya, dan membisu seribu bahasa ketika saudara kita sendiri memparbudak staf, atau menipu rekan bisnisnya.

 

DEMIKIAN, DENGAN DIBEKALI KEEMPAT SIFAT MULIA INI – ketika seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi masih tetap berkarya juga; maka, sesungguhnya ia pun sedang berdoa.

Tidak sama dengan “berdoa sambil bekerja”.

Keadaan ini menjadikan doa sebagai warna dasar setiap pekerjaan. Jadi, pekerjaan itu sendiri berubah menjadi doa.

Inilah semangat panembahan, semangat bhakti.

Bagi seseorang yang berkarya dengan semangat bhakti — tiada lagi dosa, tiada lagi keraguan, kekhawatiran, atau kegelisahan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: