Archive for January, 2018

Bhakti Shabari Murid Wanita Rishi Matanga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 31, 2018 by triwidodo

Dikisahkan gadis muda bernama Shabari yang tidak begitu cantik, putra seorang pemburu akan dinikahkan oleh orangtuanya. Sang ayah sebagaimana kebiasaan pemburu waktu itu akan menyembelih 1.000 ekor kambing menjelang pernikahannya. Shabari tidak tahan melihat penyembelihan dan lari ke hutan.

Shabari mencari para brahmana untuk mengajarinya tentang ilmu kebijaksanaan sejati. Semua brahmana menolaknya, karena dia dari kasta rendah dan mempunyai warisan darah pemburu binatang dalam dirinya.

Hanyalah Rishi Matanga yang menerimanya, walau sang rishi dikutuk karena mengambil murid dari kasta rendah.

Shabari tinggal di Ashram Rishi Matanga melakukan tugas sehari-hari melayani kebutuhan sang rishi termasuk menggembala sapi-sapi di padang rumput.

Waktu berjalan dan sang rishi sudah menjadi tua, dan menjelang ajal kematiannya sang rishi bertanya, apa yang diinginkan Shabari? Shabari minta agar sang rishi mohon pada Gusti untuk mengajak dirinya meninggalkan dunia. Dirinya tidak dapat hidup tanpa sang rishi. Sang rishi berkata jangan mati dahulu, tunggu dulu sampai Shabari bertemu Sri Rama baru boleh pergi bersama dia.

Shabari tetap hidup sampai tua hanya untuk menunggu Sri Rama. Setiap hari dia pergi ke hutan mencari buah beri untuk melayani Sri Rama. Pada saat malam tiba dan Sri Rama belum muncul dia baru makan buah tersebut. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan cara itu. Pikirannya hanya ingin melayani Sri Rama.

Pada suatu hari Shabari mengambil air di danau tempat mata air sungai yang mengalir ke bawah. Seorang rishi tidak senang, ada seorang wanita kasta rendah yang akan mengotori air danau tersebut. Rishi tersebut melempar batu dan mengenai kakinya sehingga berdarah. Dalam beberapa saat tetesan darah Shabari mempengaruhi air danau berubah menjadi darah. Bahkan sungai yang mengalir di bawahnya juga mengalirkan air darah.

Shabari pulang ke Ashram dengan membawa air dan meringis karena kakinya sakit. Para rishi bingung, tidak ada air untuk diminum maupun untuk ritual. Mereka mulai menyanyikan mantra, melakukan yajna, bahkan ada yang membawa air Gangga untuk dituangkan ke danau. Akan tetapi tidak mengubah keadaan, semua air telah menjadi darah.

Seseorang berkata Sri Rama sedang berada dekat tempat tersebut, coba minta bantuan Sri Rama.

Sri Rama datang sambil tangan kirinya memegang dadanya yang nampak kesakitan dan kaki yang agak pincang jalannya. Sri Rama bertanya apa yang harus dilakukannya, mereka minat kaki Sri Rama dimasukkan danau, tetapi tetap tidak mengubah keadaan. Bahkan seseorang mohon bantuan Sri Rama minum air danau, keadaan tidak berubah juga. Sri Rama bertanya bagaimana awal mulanya sampai air danau dan sungai menjadi darah. Mereka menceritakan tentang Shabari yang dilempar kakinya dengan batu sampai berdarah.

Sri Rama tercekat mendengar nama Shabari. Sri Rama bahwa ini bukan  darah Shabari, tapi darah yang berasal dari hati Sri Rama, perihnya hati Shabari adalah perihnya hati Sri Rama, darah kaki Shabari adalah darah hati Sri Rama.

Sri Rama minta tolong salah seorang memanggil Shabari. Shabari datang sambil berlari lewat air di tepi danau, dan tiba-tiba air danau kembali menjadi air biasa. Sri Rama berkata kepada para rishi bahwa debu kaki Shabari mengembalikan kemurnian danau, bahkan sakit di dada dan kaki Sri Rama segera sembuh……

Shabari mengundang Sri Rama dan Lakshmana datang ke rumahnya dan menghidangkan buah beri yang setiap pagi dipetiknya di hutan. Lakshmana mengingatkanSri Rama bahwa semua buah beri tersebut sudah digigit lebih dahulu. Memang Shabari menggigit setiap buah beri yang terasa manis dimasukkan nampan dan yang masam dibuang. Sri Rama makan buah beri yang manis karena ssudah dipilihkan oleh Shabari.

Sri Rama bertanya apa yang diinginkan Shabari? Dan Shabari menjawab, bahwa dia ingin cahaya jiwanya bisa bersatu dengan cahaya jiwa Gurunya. Sri Rama memberkati, tubuh Shabari lenyap, jiwanya bergabung dengan Jiwa Sang Guru……….

Persembahan penuh kasih seorang Panembah

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

Ritus-ritus, tradisi-tradisi yang mengharuskan kita menghaturkan persembahan ini dan persembahan itu – adalah proyeksi dari pikiran yang kacau. Seolah Tuhan dapat dibeli dengan cara itu.

Di antara kita, ada pula yang berargumentasi bahwa,

“DALAM TRADISI KAMI, ADA TIGA MACAM PERSEMBAHAN, Utama bagi mereka yang mampu; Menengah bagi mereka yang kurang mampu; dan, Nista bagi mereka yang tidak mampu. Jadi tidak ada ada keharusan mesti Utama, sesuai dengan kemampuan masing-masing saja.”

Bertanyalah pada diri-sendiri, “Kata siapa?” bertanyalah, “Apakah kita percaya pada apa yang dikatakan oleh Krsna?” Jika jawaban kita “Tidak”, maka cukup sudah. tidak perlu berargumentasi dan memperpanjang perkara. Tapi, jika jawaban kita “ya”, maka baca ulang ayat ini.berusahalah untuk melihat kebenaran, supaya tidak tertipu oleh “kata si anu”, dari dulu sudah begitu”, atau kalimat-kalimat serupa.

Lewat ayat ini, Krsna menghapuskan tradisi perantara antara kita dan Sang Jiwa Agung, Parabrahman, Paramatma, Tuhan. Tidak ada calo. Hubungan kita langsung –direct. Berilah dia.

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung.

Jangan menyalahartikan ayat ini sebagaai anti ritus – Krsna bukan dan tidak pernah anti-ritus. Ia anti tradsi-tradisi ‘picisan’ yang memberatkan. Silakan mengikuti, memilih, bahkan menciptakan ritus sendiri, sesuai dengan kata hati. Bukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang.

Veda dan juga kitab-kitab suci lain, penuh pujiaan. Namun, jika kita mempelajari semuanya itu dengan hati terbuka, sesungguhnya pujian-pujian itu – yang sekarang dikaitkan dengan berbagai ritus – adalah berdiri sendiri.

Kita bisa menggunakan puji-pujian itu untuk mengiringai ritus-ritus yang sudah menjadi tradisi. Bisa juga menggunakannya untuk mengiringi ritus-ritus yang kita buat sendiri sesuai kata hati.

GUNAKAN AKAL SEHAT! Jika akal sehat mengatakan, “mesti mengikuti ritus sesuai dengan pakem” – maka ikutilah. Itulah kebenaran subyektif untuk diri sendiri kita. Barangkali jga uuntuk mayoritas orang. Namun, jika kita berjumpa dengan seorang Ramakrishna yang tidak mengikuti tradisi – maka hendaknya tidak menyalahkan dia. Itu adalah kebenaran dia.

Pemujaan adalah seuatu yang bersifat sangat pribadi. Dari rumah ke rumah – caranya, mantranya – semua bisa beda. Bahkan, dalam satu keluarga saja, ayah bisa memuja-Nya dalam wujud Ganesa; ibu sebagai Gauri, dan seorang anak sebaggai Sarasvati. Maka dengan sendirinya mantra-mantranya berubah total. Persembahannya pun beda. Bahkan cara bersujud, sikap tangan atau mudra – semuanya beda apalagi, jika di antara anggota keuarga, ada yang beda kepercayaan.

Salahkah mereka? Tidak. Sebaliknya, jika kita masih ingin tetap mengikuti satu cara yang sudah dibakukan oleh “entah siapa” – tapi akaal sehatt kita mengatakan bahwa kita masih harus, tetap mengikutinya – maka kita pun tidak salah.

Di balik semua itu, adalah…..

SEMANGAT PANEMBAHAN YANG PENTING. Adakah kasih yang mengiringi doa persembahan kita? Adakah cinta yang melubar saat kita memuji-Nya? Ini yang penting.

Jika kita melakukan suatu ritus sebagai kewajiban saja, ‘karena dari dulu, secara turun-temurun sudah seperti itu,’ atau ‘karena memang dari sononya sudah demikian,’ – maka, menurut saya, pandangan pribadi saya, saat itu, entah sesederhana atau semewah apa pun ritus yang kau lakukan – semangat panembahannya sudah tidak ada.

 “Ah tidak, saat saya mengikuti upacara, mendengar mantra-mantra yang dibacakan, dan ketika saya diperciki air suci – bulu roma saya berdiri, saya merinding. Ada semacam energi yang mengetarkan sekujur tubuh saya.”

PENGALAMAN-PENGALAMAN YANG DIANGGAP SENSASIONAL SEPERTI INI – memang sensasional – sebatas senses atau indra saja. Pengalaman badaniah. Getaran, melihat cahaya, mendengar suara, mencium sesuatu, merasakan sesuatu – semua sensasi ini adalah dari indra. Tidak membuktikan semangat panembahan. Tidak ada kaitannya dengan kasih, dengan cinta, dengan bhakti.

Seorang panembah larut dalam aksi panembahannya. Ia manunggal dengan yang disembah-Nya. Yang muncul adalah kesadaran akan kehadiran-Nya di mana-mana. Yang terlihat adalah wajah-Nya di mana-mana. Panembahan bukanlah sensasi indrawi. Panembahan adalah Ombak Dahsyat Cinta Sejati yang justru menghanyutkan ego, kesadaran jasmani dan indrawi. Kemudian, saat merinding pun, bukan sebatas bulu roma yang berdiri, tetapi Jiwa yang bangkit! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Bhakti Rishi Vyaasa #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on January 30, 2018 by triwidodo

Dikisahkan bahwa Krishna kecil suka sekali makan ghee, dan para gopi biasa membawakannya untuk makan Krishna. Akan tetapi hari itu, Sungai Yamuna sedang meluap, sedangkan Krishna berada di seberang sungai.

Salah satu dari gopi ingat Rishi Bijak Vyaasa sedang berada di dekat mereka. Mereka mohon bantuan Rishi Vyaasa agar mereka bisa menyeberangi sungai untuk menghidangkan ghee kepada Krishna.

Rishi Vyaasa berkata pada diri sendiri, “Krishna, Krishna. Yang kualami hanyalah Krishna, bagaimana dengan aku?”

Para gopi merasa tidak enak, jadi mereka menawari Rishi Vyaasa ghee yang diperuntukkan bagi Krishna. Para gopi cemberut, karena sebagian besar ghee dihabiskan sang rishi dan tinggal tersisa sedikit bagi Krishna. Orang tua kok makan ghee banyak sekali, pikir para gopi jengkel. Rishi Vyaasa tampak menikmati ghee entah apa yang dirasakannya.

Vyaasa kemudian mengajak para gopi ke Sungai Yamuna dan berkata, “Wahai Yamuna, tolong kamu memisahkan diri agar para gopi bisa lewat!”

Sungai Yamuna membelah dan para gopi bisa menyeberang dan mendatangi Krishna. Para gopi menemukan Krishna sdang tidur nyenyak di gubuk. Krishna tidak menunggu para gopi menghidangkan ghee seperti kebiasaan setiap harinya.

Para gopi berkata, “Kami telah membawakan ghee terbaik, silakan makan!”

Krishna membuka matanya perlahan dan berkata, “Oh, terima kasih, tapi saya tidak lapar lagi. Rishi Vyaasa telah memberi makan saya ghee terlalu banyak!”

Para gopi bingung, “Tapi Krishna, beliau ada di sisi lain sungai dan makan sendiri di depan kami?”

Krishna menjawab, “Benar, tapi dia memikirkan saya terus-menerus sambil makan ghee. Dia terhubung dengan saya. Saya makan lewat dia!”

Rishi Vyaasa adalah pengumpul kitab Veda bagi kepentingan manusia. Beliau adalah penulis buku Mahabharata yang dimaksudkan untuk membimbing umat manusia. Karena beliau belum juga merasakan kebahagiaan, beliau mematuhi nasehat Rishi Narada untuk menulis Srimad Bhagavatam yang berkisah tentang Sri Krishna. Setiap saat beliau berpikir tentang Krishna……….

Perjalanan Spiritual dari aku menuju kita dan kemudian menuju Dia

Perjalanan spiritual, menurut Swami, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari “kita” menuju “Dia” Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati. Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas.

Asato – maa Sadgamaya, Tamaso – ma Jyotirgamaya, Mrityor – maa Amritamgamaya. Perjalanan ini adalah dari asat, ketidakbenaran, saya memilih untuk menafsirkannya sebagai “kebenaran rendah”, menuju Kebenaran Sejati, sat; dari tamas atau kegelapan menuju terang Jyoti. Dan dari kematian atau mrityu menuju kehidupan Abadi, Amrita.

Makna yang terkandung dalam doa yang sangat penting ini adalah: Ya Tuhan, bimbinglah kami dari kegelapan khayalan, kebencian, dan ketidaksadaran yang mengerikan ini menuju Kehidupan Abadi, Kebenaran, Kasih, dan Kebijaksanaan. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Perjalanan kesadaran: dari Bukan Badan ke Pengemudi pun Bukan, menuju Kebenaran Mutlak

Krsna mengingatkan kita semua lewat Arjuna bahwa Sang Jiwa Agung adalah….

SUMBER DAN SEBAB SEGALA-GALANYA – semuanya ada karena Dia. Ketika kita merasa sesuatu terjadi karena “diri” kita – maka saat itu adalah ego, gugusan pikiran dan perasaan yang bekerja. Kemudian, kita terlempar jauh dari Kesadaran Jiwa.

                Semuanya terjadi bukan karena aku, tetapi karena Jiwa. Berilah nama lain kepada Jiwa sehingga mudah memisahkannya dari aku-ego. Sebutlah Dia Tuhan – tidak salah. Karena, Jiwa yang bersemayam di dalam diri kita hanyalah percikan dari Sang Jiwa Agung. Katakan, semua itu terjadi karena Tuhan. Bukan karena Aku, bukan karena egoku, bukan karena pikiran atau perasaanku – tapi karena Dia. Dia, Dia, Dia, Tuhan, Sang Jiwa Agung! Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 15:12

 

BADAN ADALAH KENDARAAN – Dan, Jiwa adalah Sang Pengemudi. Memang, ketika kendaraan rusak, pengemudi tidak ikut rusak. Namun, rusaknya kendaraan tetap saja menghambat perjalanan pengemudi.

                Badan yang selama ini disebut sebagai “ciptaan” Prakrti atau Alam-Benda – sesungguhnya “diterangi” oleh Purusa juga. Purusa menerangi alam benda dan benda-benda yang termusnahkan. Purusa pula yang menerangi Jiwa-Individu yang tak-termusnahkan. Hubungan antara Jiwa Individu dan badan erat, setidaknya selama kita masih berbadan. Sehingga, adalah kewajiban kita untuk merawt dan memelihara Badan, yang juga diterangi oleh Purusa yang sama.

                Dualitas ini tidak dapat diingkari. Dualitas ini mesti dipahami dan diapresiasi. Namun, pada saat yang sama, kita juga mesti menyadari adanya Kebenaran Tunggal – Paramatma – Hyang Melampaui segala dualitas. Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 15:16

 

“Namun, Dwi-Fungsi Purusa tidaklah memengaruhi Paramatma atau Sang Jiwa Agung, Hyang meliputi tiga alam, menegakkan dan memelihara semesta dengan segala isinya; Hyang Maha Ada, Langgeng dan Abadi untuk selama-lamanya.” Bhagavad Gita 15:17

Baik kendaraan maupun pengemudi – baik Badan dan Alam Benda, maupun Jivatma atau Jiwa-Individu – ujung-ujungnya keberadaan semua adalah karena-Nya, karena Jiwa Agung. Kendati demikian, karena perbedaan fungsi, maka terciptalah ilusi-dualitas.

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada.

Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu.

KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAK – Jivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa.

LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung.

TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

3 Macam Kepercayaan Sesuai Sifat Dasar Pengikutnya #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 29, 2018 by triwidodo

Dalam kisah-kisah Sikh ada sebuah cerita dua saudara seperguruan memperoleh kehormatan bertemu dengan seorang Grand Master. Kedua siswa tersebut mendaki sebuah gunung yang tinggi menuju kuil terpencil yang sangat indah.

Murid Yunior pertama kali menghadap Grand Master dengan penuh kebahagiaan. Sang Grand Master minta Sang Murid Yunior melihat lewat jendela mistik. Sang Murid Yunior melihat dirinya memegang pedang suci dan sebuah kitab suci. Sang Murid Yunior berkata kepada Master apa yang dilihatnya dan berkomentar, bila dia menjadi seperti itu maka dia adalah orang hebat. Grand Master menjawab, benar bahwasanya dia memang sangat istimewa bagi Tuhan.

Sang Murid Yunior segara pamit minta izin akan berbagi pengetahuan yang dimilikinya, dan yakin bahwa dirinya adalah orang yang terpilih untuk berbagi. Sang Grand Master berkata memang dia harus melakukan hal tersebut.

Giliran Murid Senior menghadap Sang Grand Master dan diminta melihat lewat jendela mistik. Sang Murid Senior melihat dirinya memegang pedang dan kitab suci. Sang Murid Senior berkata kepada Master apa yang dilihatnya dan berkomentar, bila dia menjadi seperti itu maka dia adalah orang hebat. Grand Master menjawab, benar bahwasanya dia memang sangat istimewa bagi Tuhan.

Sang Murid Senior melanjutkan, jika dia hebat, istimewa bagi Tuhan apakah itu berarti dia harus menyebarkan kebenaran? Grand Master menjawab, memang demikian.

Tetapi Sang Murid Senior tidak langsung pergi, dia bertanya kepada Grand Master mengapa orang-orang suci selalu memegang buku suci dan sebilah pedang? Grand Master menjawab, Tuhan telah memberi banyak anugrah, akan tetapi kita perlu fokus  untuk mengingat apa yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Sang Murid Senior bertanya apakah dia perlu fokus mengingat semua anugrah-Nya?

Grand Master menjawab, memang kita perlu perhatian untuk mengingatnya dan dibutuhkan hati seorang penyair untuk menghargai anugrah tersebut. Kitab Suci itu seperti puisi yang mengalir.

Murid Senior mulai menarik napas dalam-dalam dan membuang napas pelan-pelan. Dan berkata dalam hati, “Saya menggunakan fokus seperti pedang untuk mengingat anugrah alam semesta kepada saya…. Hati saya mencair dan saya ingin menyanyikan lagu-lagu pujian yang tak terbatas selamanya.”

Sang Murid Senior menyadari bahwa dia telah menggunakan Kitab Suci dan Pedang, “Saat ini saya menggunakan fokus pedang dan hati saya mengalir seperti puisi di halaman buku!”

Grand Master tersenyum dengan bahagia……..

Pada saat kedua murid tersebut turun gunung, Sang Murid Yunior mengumpulkan penduduk dan berkata, “Dengarkan aku, dengarkan aku!”  Orang-orang bertanya apakah dia bertemu Grand Master dan disuruh melihat lewat jendela mistik? Banyak orang yang percaya kepadanya dan percaya apa yang dia katakan. Dia menjadi sangat terkenal dan memiliki banyak pengikut.

Sang Murid Senior turun dari gunung sambil tersenyum dan bersenandung dengan bahagia. Beberapa orang yang tidak mengikuti Murid Yunior melihat Murid Senior tampak damai. Mereka bertanya apa yang dia lihat saat bertemu Sang Grand Master? Dia tersenyum dan berkata, “Saya melihat Tuhan telah memberi kita banyak anugrah…….”

Orang ingin lebih banyak mendengar dari Murid Senior dan mereka mengikutinya.

Kita bisa membayangkan, kepercayaan bagaimana yang mengikuti suri keteladanan Murid Yunior, yang ada ego sejak di permulaan. Para pengikutnya pun semakain lama semakin keras, mereka merasa hanya pandangan mereka yang benar, yang lain salah. Keluarga, kerabat, kelompok, partai, atau siapa dan apa saja yang ikut bertumbuh bersama kita, adalah perpanjangan diri kita. Mereka tidak mewakili masyarakat umum. Mereka adalah bagian dari ego kita, keluarga-“ku”; kelompok-“ku”; umat-“ku”. Demikian kepercayaan yang mengikuti Murid Yunior. Kepercayaan berdasar attitude, sikap diri.

Sedangkan para pengikut kepercayaan yang mengikuti Murid Senior, selalu bersyukur atas anugrah Tuhan. Kesadaran mereka meluas dan mencakup seantero alam, seluruh umat manusia. Saat itu, tiada lagi ego-diri yang mengaku, “aku sudah berbuat”. Saat itu, hanyalah kesadaran pelayanan yang ada. Apa pun yang kita lakukan adalah persembahan pada semesta. Semangat kerja seperti itulah yang membebaskan mereka dari keterikatan. Kepercayaan berdasar gratitude, syukur.

Kepercayaan Setiap Orang Selaras dengan Sifat Dasarnya menurut Bhagavad Gita

 “Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Kepercayaan setiap orang adalah selaras dengan sifat dasarnya. Sesungguhnya, kepercayaan membentuk kepribadian manusia. Ia adalah sesuai dengan apa yang dipercayainya.” Bhagavad Gita 17:3

Jika kita percaya pada Tuhan sebagai Kebenaran Mutlak Hyang Maha Ada — maka kita akan melihat wajah-Nya di setiap penjuru dunia, bahkan di setiap penjuru alam semesta.

JIKA KITA PERCAYA PADA TUHAN SEBAGAI “PERSONA” – Walau kita rnenyebutnya abstrak, maka kita akan melihat-Nya dalam kepercayaan kita sendiri. Kita tidak bisa melihat-Nya dalam kepercayaan orang lain.

Kemudian, kitab suci di tangan kita itu menjadi satu-satunya kitab yang tersuci. Kepercayaan kita menjadi kepercayaan yang terbaik, paling mulia. Cara kita beribadah menjadi satu-satunya cara yang dapat menghubungkan kita dengan Tuhan. Cara-cara lain menjadi sesuatu yang malah menyesatkan. Demikian anggapan kita.

Terakhir, jika kita percaya pada ego kita sendiri, pada badan, benda, dan alam kebendaan —maka, Walau tampak rajin beribadah, sesungguhnya kita menjadi pemuja materi. Kita tidak mampu lagi menyaksikan Kemuliaan Jiwa! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Kepercayaan yang berlandaskan Sattva, Rajas dan Tamas menurut Bhagavad Gita

MEREKA YANG KEPERCAYAANNYA BERLANDASKAN Sattva tidak akan menyakiti sesama makhluk, apalagi membunuh, menyembelih dan menyantap dagingnya demi kenikmatan lidah. Mereka juga tidak mencemari lingkungan dengan asap rokok dan sebagainya.

Kelompok kedua adalah mereka yang kepercayaannya berlandaskan Rajas. Mereka disebut sebagai pemuja yaksa dan raksasa atau pemuja materi. Di bagian lain kita sudah menjelaskan yaksa dan raksasa secara harfiah. Dalam konteks ayat ini, kita memahaminya dari sudut pandang yang beda, dari relevansinya dengan keseharian hidup kita. Pemuja yaksa menyalahgunakan kekuatan-kekuatan dan berkah alam demi kepentingan diri.

Energi yang dapat menghidupi, disalahgunakan untuk mematikan. Sebagai contoh, Iistrik bisa digunakan untuk menunjang kehidupan, dan bisa juga untuk mematikan. Penyalahgunaan elemen-elemen alami lainnya, tennasuk ‘menjual air minum’ yang merupakan kebutuhan manusia paling mendasar, adalah karena. ulah mereka yang berkepercayaan Rajasi. Mereka adalah pemuja yaksa.

Raksasa adalah para materialis pemuja pejabat korup, pemimpin yang zalim, dan sebagainya. Kepercayaan terhadap ‘kekuatan benda’, materi adalah kepercayaan Rajasi.

SAAT INI, MAYORITAS BERADA DALAM KELOMPOK KEDUA – Walau rajin beribadah dan keluar masuk tempat ibadah beberapa kali setiap hari atau setiap minggu, sesungguhnya kita percaya pada kekuatan-kekuatan duniawi, pada materi, tidak pada kekuatan Ilahi.

Kelompok ini berperilaku seperti asura — tidak selaras dan seirama dengan semesta. Mereka adalah orang-orang yang tidak cukup percaya diri. Mereka percaya pada fasilitas yang dapat dibelinya dengan mudah dari orang-orang yang tidak bemoral, para pejabat korup; atau, siapa saja yang memiliki kekuasaan, kewenangan; dan, mahir menyalahgunakannya.

TERAKHIR ADALAH KEPERCAYAAN BERLANDASKAN TAMAS – Percaya pada roh-roh mereka yang sudah mati dan gentayang adalah kepercayaan pada ‘tulisan-tulisan’ — ide-ide, pandangan-pandangan yang sudah tidak relevan. Mereka menutup diri terhadap perkembangan zaman. Mereka hidup di masa lalu.

Kepercayaan mereka adalah kepercayaan buta, dimana ‘apa yang tertulis’ menjadi sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat, bahkan tidak boleh diinterpretasi ulang. Mereka anti-modernisasi, dalam pengertian anti-dinamika kehidupan. Anti segala sesuatu yang baru. Mereka adalah orang-orang yang selalu membela status quo. Mereka tidak berpihak pada reforrnasi, apalagi transformasi. Mereka hidup di masa lalu.

Saya yakin tidak seorang pun pembaca yang berada dalam kelompok ketiga yang amat sangat membahayakan perkembangan Jiwa, bahkan menghentikannya. Penjelasan Bhagavad Gita 7:4 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bhakti Bhai Lehna #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 28, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang yogi yang terkenal mengunjungi Guru Nanak di Kartarpur. Dia terkesan dengan komunitas yang indah dan menawan, dan berkata, “Wow Guru, ini surgawi!” Guru berkata, “Besok,Tuan akan melihat kenyataannya.”

Guru Nanak mengumumkan bahwa seluruh pendudk desa akan diajak berjalan bersama-sama. Berbarengan dengan itu awan gelap mulai memenuhi langit dan angin bertiup dengan sangat kencang.

Keesokan harinya saat Guru Nanak keluar dari rumah kondisi cuaca tidak berubah, dan sebagian penduduk membatalkan keikutsertaan mereka.

Guru Nanak berjalan cepat setengah berlari dan sebagaian besar penduduk mengikutinya dengan tergesa-gesa. Baru beberapa ratus meter berjalan nampak banyak koin uang tembaga tercecer di jalan. Sebagian orang mulai berpikir, pasti Guru yang menyebar uang tembaga sebagai hasil jerih payah mereka patuh pada Sang Guru. Mereka mengambil koin uang tembaga dan pulang ke rumah mereka.

Setelah beberapa kilometer di jalan nampak berceceran mata uang koin perak. Kembali sebagai penduduk yang masih mengikuti Guru nanak berpikir bahwa ini adalah hadiah dari Guru Nanak, karena mereka patuh pada Sang Guru. Mereka mengambil koin perak dan kembali ke rumah untuk menyampaikan kabar gembira bagi keluarga mereka.

Tidak banyak orang yang tersisa mengikuti perjalanan Sang Guru. Setelah beberapa ratus meter kembali mereka melihat beberapa uang koin emas berceceran dan sebagian dari mereka mengambil mata uang emas dan pulang dengan hati bahagia. Mereka mendapatkan berkah karena patuh pada Sang Guru.

Perjalanan kali ini tinggal sedikit penduduk, Bhai Lehna, dua orang Sikh bersama Sang Yogi dan Guru Nanak. Mereka terus berjalan sampai bertemu dengan mayat membusuk di tepi jalan. Guru Nanak berkata, “Saya ingin kalian memakan mayat ini!” Kedua orang Sikh teman Bhai Lehna, bingung dan gugup. Tidak mungkin mereka makan mayat yang sudah membusuk, mereka balik badan dan lari pulang ke rumah.

Tidak demikian dengan Bhai Lehna yang bertanya, “Guru bagian mana yang harus mulai saya makan? Kepala atau kaki!”

Guru Nanak berkata, “Mulailah dengan bagian tengah!”

Bhai Lehna mendatangi mayat dan mulai bersiap untuk makan, kala bau mayat tersebut berubah menjadi harum dan manis. Dibawah selembar selimut yang dia lihat hanyalah Prasadam. Bhai Lehna mengambil beberapa Prasadam dan menawarkannya kepada Sang Guru.

Guru nanak berkata kepada sang Yogi, “Lihat saya mempunyai banyak pengikut tapi hanya satu orang siswa sejati!”

Di kemudian hari Bhai Lehna diangkat sebagai Guru Angat Dev.

Sebagian besar pengikut Sang Guru adalah orang-orang baik, akan tetapi masih mengidentifikasi diri mereka sebagai prakrti, tubuh, indera dan pikiran. Pikiran mereka mencari pembenaran bahwa Sang Guru telah memberikan mata uang baik tembaga, perak maupun emas sebagai pahala atas kepatuhan mereka terhadap sang Guru.

Hanya sedikit sekali yang berkesadaran Jiwa. Persoalannya adalah identifikasi yang dapat membahagiakan kita, dengan prakrti atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng. Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan.

Bhai Lehna mirip dengan para Gopi yang hanya tahu mencintai Sri Krishna

Para Gopi berkata, “Udhava teman saya, wahai gyaani yang menguasai ilmu keilahian, apa yang kau ketahui tentang bhakti? Apa yang kauketahui tentang cinta? Ini bukan untuk kamu. Kamu tidak dapat membudakkan diri. Dan bhakti adalah membudakkan diri dengan sukarela. Dasanudas, saya adalah pelayan dari pelayan. Saya melayani pelayan Tuhan.”

“Bagaimana kau dapat melakoninya? Semakin cendikia kau, semakin kau meditasi dan yoga, berupaya berdiri dengan kepala di bawah. Kau merasa dapat mencapai moksha. Kau tidak mengerti bahasa ini. Bahasa ini bukan untukmu. Kamu tidak dapat memahami. Cinta adalah terlalu berharga, terlalu mahal.”

“Apabila kamu ingin belajar cinta. Apabila kamu ingin bisnis di sini. Kamu tidak dapat menggunakan Euro, tidak dapat menggunakan Dollars. Kamu tidak dapat menggunakan Swiss Frank. Kamu tidak dapat menggunakan British Poundsterlings. Mata uang yang diakui adalah kepalamu. Kamu harus memenggal kepalamu. Dan menyerahkannya kepada kekasihmu. Hanya dengan demikian kau dapat memperoleh cinta sebagai kembalian. Apa yang kau ketahui tentang cinta?………………… INI ADALAH BHAKTI.”

Dikutip dari “A Course in Spirituality Part 3 This is Love” Video Youtube by Swami Anand Krishna

Beda Alam Kebendaan dan Alam Jiwa menurut Bhagavad Gita

“Wahai, Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Alam adalah Maha Brahma, Rahim Agung dimana Ku-letakkan Benih Kehidupan. Demikian, pertemuan antara Alam Benda dan Jiwa mewujudkan segala sesuatu.” Bhagavad Gita 14:3

Alam Semesta, Medan Laga atau Ksetra adalah ruang kerja bagi Sang Jiwa. Dalam ayat ini, Krsna menyebutnya Rahim Agung, tempat Sang Jiwa Agung meletakkan benih-Nya. Supaya kita tidak salah mengerti — Prakrti, Alam Benda, Alam Raya; Ksetra, Medan-Laga; Maha Yoni atau Maha Brahma, Rahim Agung yang Melahirkan Semesta – adalah sebutan bagi Prinsip Feminin yang satu dan sama. Sementara itu,

PRINSIP MASKULIN ADALAH. .. Purusa atau Gugusan Jiwa; Paramatma atau Sang Jiwa Agung; Ksetrajna, Yang Mengenal dan Menguasai Medan-laga. Benih, yang dimaksud dalam ayat ini adalah Gugusan Jiwa atau Purusa; yang terdiri dari Jiwa-Jiwa Individu atau Jivatma. Jadi, sesungguhnya Jivatma atau Jiwa Individu tidak terpisah dari Purusa atau Gugusan Jiwa; dan Purusa atau Gugusan Jiwa pun tidak terpisah dari Paramatma atau Jiwa Agung. Sebagaimana Cahaya Matahari di dalam ruang kerja kita, rumah kita, tidak terpisah dari Sinar Matahari, dan Sinar Matahari tidak terpisah dari Matahari.

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam sernesta.

TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bhakti Murid dan Kasih Guru #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 27, 2018 by triwidodo

Dalam salah satu cerita Sikh dikisahkan ada seorang Pria Sikh menemui Guru Har Rai Ji, Guru Ketujuh. Pria ini menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun dia ingin melayani Guru, akan tetapi kondisi keluarganya belum memungkinkan. Pria Sikh ini mempunyai obsesi menjadi pelayan dari Pelayan Gusti. Akan tetapi, putra sulung laki-laki yang diharapkannya mengambil tanggung jawab keluarga telah meninggal. Pria Sikh ini mohon petunjuk pada Sang Guru.

Sang Guru melihat kesungguhannya dan bertanya berapa banyak orang yang menjadi tanggung-jawabnya. Pria Sikh ini menjawab, dia punya 2 orang putra, 1 orang putri dan istrinya.

Sang Guru menyuruh pria tersebut ke seorang Pejabat Sikh sahabatnya dan memberikan surat kepadanya. Dia diminta memastikan teman Sang Guru membaca suratnya sebelum dia kembali menemui Sang Guru.

Pria Sikh tersebut menghadap sahabat Sang Guru yang kemudian membaca suratnya. Ternyata isi suratnya adalah agar pria pembawa surat ini ditangkap dan dilayani dengan baik, tidak boleh keluar dari rumahnya. Setelah 6 bulan baru pria tersebut dilepaskan.

Pria tersebut mohon dengan sangat agar dia dilepaskan karena dia mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 4 orang. Akan tetapi Pejabat Sikh sahabat Sang Guru tersebut memegang perintah Sang Guru untuk melayani dengan baik selama 6 bulan dan tidak boleh keluar rumah. Jadilah pria Sikh ini menghabiskan waktu bermeditasi pada sang Guru.

Rupanya alam semesta membantu sang Guru. Pada malam pertama Pria Sikh tersebut pergi, sekeluarga tidak makan malam. Kemudian para tetangga mengetahui sang kepala keluarga telah hilang dan mereka mulai membawa tepung ke keluarga tersebut. Ada 50 keluarga dan masing-masing membawa 1 baki tepung dan sudah cukup untuk makan keluarga tersebut beberapa bulan.

Kedua putra pria Sikh tersebut diberi pekerjaan sebagai asisten pekerja dan menjadi pekerja yang terampil. Putri dan istri pria Sikh ini diajari menjahit dan mereka sudah bisa menjahi dengan baik.

Enam  bulan kemudian Pris Sikh bergegas menengok keluarganya, khawatir mereka akan sengsara. Akan tetapi seluruh keluarganya nampak sehat, percaya diri dan keadaan ekonomi keluarga tersebut jauh lebih baik dari sewaktu ditinggalkannya.

Demikianlah permainan sang Guru. Gusti telah menjaga keluarganya, dan dia dapat melayani sang Guru tanpa rasa khawatir.

Sang Guru siap sedia mengambil alih seluruh bebanmu

Memenggal kepala-ego dan meletakkannya di bawah kaki sang guru juga berarti menyerahkan segala beban kepadanya. Iman kita belum cukup kuat. Kita masih ragu-ragu, bimbang… maka, sesungguhnya kita belum pantas menyebut diri murid. Kita baru pelajar biasa. Sang murshid, sang guru siap sedia mengambil-alih seluruh bebanmu, asal kau siap menyerahkannya kepada dia. Justru tugas dia… Dia bagaikan perahu yang dapat mengantarmu ke seberang sana. Bila kau sudah berada di dalam perahu, untuk apa lagi menyiksa dirimu dengan buntalan berat di atas kepala? Turunkan buntalan itu dari kepala, letakkan di bawah. Perahumu, gurumu, murshidmu siap menerima tambahan beban itu. Bahkan, ia sudah menerimanya… walau berada di atas kepala, sesungguhnya beban itu sudah membebani gurumu………. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hubungan dengan Guru lewat hati bukan pikiran

Hubunganmu dengan murshid seharusnya hubungan hati, bukan hubungan pikiran. Seharusnya kau dapat merasakan luapan kasih yang ada dalam hati murshidmu untukmu. Bila kau masih berhubungan dengan pikiran, masih menggunakan rasio dan logika, kamu baru dalam tahap belajar dari dia. Kau baru menerima dia sebagai ustad, sebagai pengajar—bukan sebagai guru, sebagai murshid. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Guru menjadi tameng bagi sang murid

“Sebab itu, Arjuna, pusatkan kesadaranmu pada-Ku dan hadapilah peperangan ini – tantangan hidup ini – dengan seluruh pikiran dan kesadaran, serta inteligensiamu terpusatkan pada-Ku, maka niscayalah kau mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 8:7

Arjuna menyaksikan ketenangan Krsna. Ia berperan sebagai Saisnya. Dan, ia menjalani tugasnya secara serius. Tugas seorang Sais adalah menjaga keselamatan penumpangnya, komandannya, at all costs. Ia mesti menjadi tameng bagi Arjuna.

 

YA, KRSNA MENJADI TAMENG BAGI ARJUNA. Dan Arjuna sadar betul bila Krsna akan taat pada setiap etika perang yang dimaksudkan bagi seorang Sais Kereta Perang. Jika ada yang ingin mencelakakan dirinya, maka Krsna akan berada persis di depannya. Krsna dulu, baru Arjuna yang gugur.

Kendati demikian, dengan segala resiko yang dihadapinya — Krsna tetap tenang. Apa sih untungnya sebagai Sais? Kalah-menang adalah urusan mereka yang sedang berperang. Keuntungan buat mereka dan kerugian pun buat mereka. Kenapa seorang sais mesti mempertaruhkan nyawanya?

Inilah  — tugas mulia Krsna. Keberadaan-Nya adalah untuk melindungi dan meneguhkan kembali nilai-nilai kebijakan, kebenaran, kebajikan, kedamaian, keadilan, dan sebagainya. Ia sedang menjalankan tugas mulia itu, walau tidak ada yang memaksa-Nya. Krsna pun

tahu bila Arjuna memahami semua itu tapi masih bingung — maka ia berupaya untuk meyakinkannya bila kedamaian yang sama dapat diraihnya juga. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Penjahat Terbejat Bisa Menjadi Bijak #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 26, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Guru Nanak bepergian ke sebuah desa dan ada seorang pencuri bernama Bhoomi Daku yang mengundangnya singgah ke rumahnya. Guru Nanak berkenan apabila Bhoomi Daku berjanji melakukan 4 hal:

  1. Tidak mencuri dari rumah orang miskin.
  2. Selalu bicara jujur.
  3. Apabila pergi ke rumah seseorang dan makan dari rumah tersebut, dia tidak akan mencuri di rumah tersebut.
  4. Tidak pernah mengkambing-hitamkan seseorang.

Bhoomi Daku berjanji menaati keempat janji tersebut dan Guru Nanak singgah di rumahnya. Mereka menikmati malam penuh kebahagiaan bersama, sebelum Guru nanak melanjutkan perjalanannya.

Pada malam keesokan harinya, Bhoomi Daku keluar untuk mencuri. Dia tidak dapat lagi mencuri dari orang miskin, dan dia memutuskan untuk mencuri di istana seorang raja. Dia berupaya menyelinap tapi ditangkap para pengawal raja. Para pengawal bertanya siapakah dia dan Bhoomi Daku menjawab dengan jujur sesuai pesan Guru Nanak, “Nama saya Bhoomi Daku dan saya ke sini mau mencuri di rumah raja!” Para pengawal raja tertawa, dan mengatakan, “Jangan membuat lelucon, Tuan pasti teman Raja, silakan masuk!”

Bhoomi daku masuk ke istana raja dan mencuri banyak perhiasan berharga dan dimasukkan kantong. Tiba-tiba Bhoomi Daku mencium bau yang sangat harum, seperti kue coklat. Dia masuk dapur dan makan kue coklat kesukaannya. Tiba-tiba Bhoomi Daku ingat janji pada Guru Nanak, bahwa dia tidak akan mencuri di rumah seseorang karena dia telah makan di rumah orang tersebut. Dia segera menjatuhkan kantongnya dan menyelinap ke luar istana.

Pada pagi hari, raja mendengar beberapa kue hilang dan melihat kantong berisi harta istana tergeletak di jalan. Para pengawal raja mengumpulkan penduduk dan mulai memukuli mereka yang dicurigai. Bhoomi Daku mendengar hal tersebut dan ingat janji keempat pada Guru Nanak.

Bhoomi Daku berkata, “Jangan menghukum mereka, mereka tidak bersalah, sayalah yang melakukan pencurian!”

Para pengawal membawa Bhoomi Daku menghadap Raja yang berkata, “Tidak ada seorang pun yang mencurigai Anda, mengapa Anda mengaku sebagai pencuri?”

Bhoomi Daku berkata, “Paduka Raja, saya telah berjanji pada Guru saya saya tidak akan mencari kambing hitam atas tindakan saya!”

Raja terkesan akan cerita Bhoomi daku dan berkata, “Saya tidak akan menghukum Anda, silakan Anda bebas untuk pergi!”

Bhoomi daku bertanya, “Akan tetapi Paduka Raja bagaimana dengan penduduk yang telah dipukuli para pengawal?”

Raja memutuskan mengadakan pesta besar mengundang semua penduduk. Bhoomi Daku berkata, “Saya tidak mengetahui Guru Nanak sekarang berada di mana, tapi saya akan menepati 4 janji yang saya buat dengan Beliau.”

Raja dan semua penduduk bahagia, para penduduk bergiliran memberi makanan kepada Bhoomi Daku dan Bhoomi Daku bertobat tidak menjadi pencuri lagi…………………..

Beruntunglah Bhoomi Daku yang telah bertemu Guru Nanak, dia telah menjadi pelayan dari pelayan Gusti…………

Penjahat Terbejat bisa menjadi seorang Sadhu

Sekalipun seorang penjahat terbejat memuja-Ku dengan penuh keyakinan dan kasih serta dengan segenap kesadarannya terpusatkan pada-Ku – maka ia mesti dianggap sebagai seorang bijak, seorang sadhu yang telah menemukan kedamaian di dalam dirinya, karena ia telah bersikap yang tepat.” Bhagavad Gita 9:30

 

Penjahat sebejat apa pun, jika berpaling pada-Nya, maka ia mesti dianggap seorang sadhu – seorang bijak berhati tenang, damai. Ia telah berhasil menenangkan pikirannya serta emosinya, yang sebelumnya selalu bergejolak.

Dalam hal ini adalah penting untuk memahami “jenis” bhakti ala Krsna…..

Krsna mengaitkan bhakti atau pemujaan, panembahan, devosi, dengan kasih. Bhakti, yang biasa diterjemahkan sebagai berbakti, mengabdi, atau memuja – sesungguhnya, memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bhakti adalah semua itu plus dengan penuh kasih. Landasannya adalah kasih, kasih yang tak bersyarat dan tak terbatas.

Seorang anak bisa saja berbakti pada orangtuanya dengan harapan terselubung untuk mendapatkan warisan. Atau, rnendapatkan lebih banyak dari saudara-saudaranya. Karena, toh saudara-saudaranya tidak mengunjungi orangtua sesering dirinya, walau ia tidak mengungkapkan hal itu. Niat saja sudah cukup untuk menodai baktinya. Ia belum berbhakti.

Seorang hamba, seorang pengabdi pun sama. Ia bisa berhamba, mau mengabdi karena digaji, atau seperti para abdi-dalem di keraton-keraton kita. Gaji mereka tidak seberapa, tapi mereka puas dengan kedudukan mereka sebagai abdi-dalem. Mereka pun mengabdi demi posisi itu, demi gelar itu, demi penghargaan itu, demi identitas itu. Bagi kita, identitas “abdi-dalem” mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi bagi mereka sangat berarti. Bagi mereka, identitas itu adalah jauh lebih berharga daripada uang jutaan per bulan. Jadi, di balik pengabdian dan penghambaan, mereka pun masih ada pamrih.

Pengabdian dan penghambaan kita pada Gusti Pangeran pun sama. Ada yang mengharapkan rezeki dari Gusti, ada yang mengharapkan kehorrnatan dari masyarakat, “Dia seorang saleh, dia begini, dia begitu………

 

BHAKTI MESTI BERLANDASKAN CINTA-KASIH tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya.

Hidup dia telah berubah menjadi aksi-bhakti. Ia menginterpretasikan bhakti lewat hidupnya. Ia menerjemahkan bhakti dalam bahasa tindakan nyata. Dan, ia melakukan semua ini karena ia melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Baginya melayani sesama makhluk adalah ungkapan cintanya bagi Gusti Pangeran.

Baru setelah itu….. Jika seorang penjahat – sebejat apa pun – menginsafi dirinya, menyadari dirinya sebagai percikan Jiwa Agung, berpaling, dan mengubah hidupnya menjadi Berita-Baik; kemudian, melayani sesama makhluk, bukan saja sesama manusia; maka, ia dinyatakan sebagai seorang sadhu. Pikirannya sudah tenang; perasaannya tidak bergejolak; raga dan indranya terkendali; jiwanya damai; dan di atas segalanya perbuatannya mencerminkan ketenangan serta kedamaian dirinya. Ia menjadi wahana ketenangan dan kedamaian. Ia seorang sadhu……. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Berdoa demi Kebaikan Diri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 25, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Guru Nanak selalu bepergian dan mengajar di mana-mana. Sang Guru ditemani kedua sahabatnya, Mardana, seorang Muslim dan Bala seorang Hindu. Orang bertanya-tanya apakah agama Guru Nanak?

Guru Nanak menjawab, “Jika saya mengatakan Hindu, saya akan membohongi kamu. Jika saya mengatakan Muslim, saya juga tidak jujur dengan kamu. Renungkan sahabatku, kawanku, bukankah badan kita ini terbuat dari darah, daging, tulang dan sumsum yang sama? Badan seorang Hindu dan seorang Muslim tidak berbeda. Roh yang menghidupkan badannya pun tidak berbeda, karena berasal dari satu Sumber Yang Sama, yaitu Tuhan, Allah. Saya hanyalah seorang pengabdi, seorang pelayan di Hadirat-Nya. Ia tidak membedakan antara Hindu dan Muslim. Yang Ia perhatikan adalah amal-saleh mereka. Bukankah demikian?”

Guru Nanak mengkritik mereka yang melaksanakan ibadah ritual secara mekanis, tanpa terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri mereka. Baik orang-orang Hindu, maupun orang-orang Islam—dua-duanya ia kritik. Dan kadang-kadang, kritikan beliau terasa pedas sekali. Ada yang menolaknya. Ada yang menghujatnya. Tetapi, ada juga yang menerimanya. Kelompok terakhir inilah yang memanfaatkan keberadaan seorang Nanak di tengah mereka. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Seorang Gubernur ingin bertemu dengan Guru Nanak, maka Guru Nanak dipanggil menghadap ke kantor Gubernur.

Setelah tanya jawab beberapa lama, Sang Gubernur tampak puas dan kemudian mengajak Guru Nanak berdoa bersama. Guru Nanak bersedia mengikuti doa yang dipimpin oleh Imam mereka.

Mereka mulai melakukan ritual, akan tetapi Guru Nanak tetap berdiri dan itu membuat Sang Gubernur marah, “Apa yang Anda lakukan? Anda sama sekali tidak berdoa!”

Guru Nanak berkata, “Saya berkata saya akan berdoa bersama Tuan, jika Tuan memimpin doa. Akan tetapi Tuan tidak memimpin doa.”

Guru Nanak menoleh kepada Imam, “Tuan sedang memikirkan anak kuda yang baru lahir dan takut anak kuda tersebut tercebur ke dalam sumur!”

Sang Imam mengakui apa yang dikatakan Guru Nanak benar adanya.

Guru Nanak kemudian berkata kepada Gubernur, “Tuan juga sedang memikirkan semua kuda yang akan tuan jual dan berapa banyak uang yang akan Tuan terima!”

Gubernur mengakui apa yang dikatakan Guru Nanak benar, mereka telah melakukan ritual dan seolah-olah sedang berdoa padahal yang dipikirkan berbeda, sedangkan Guru Nanak walau tidak melakukan gerakan ritual tapi berdoa dengan sepenuh hati………………..

Guru Nanak memberi nasehat, “Tuan harus menenangkan pikiran dan berdoa dari dalam hati bukan dari pikiran. Biarlah Cahaya Tuhan bersinar dalam hati Tuan.”

Doa yang masih membawa keinginan amarah dan keangkuhan

Menyadari kehadiran serta keterlibatan-Nya setiap saat tidak segampang berdoa sekian kali setiap hari atau setiap minggu, karena saat ini apa yang kita anggap berdoa hanya melibatkan fisik kita. Lapisan-lapisan kesadaran mental dan emosional pun sering tidak terlibat.

Itu sebabnya saat berdoa, kita masih bisa berpikir tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan ibadah kita.  Lalu bagaimana berserah diri sepenuhnya? Bagaimana berdoa dengan khusuk?

Dalam sutra ini, Narada menyebut tiga hal – keinginan, amarah dan keangkuhan. Saat berdoa pun ketiga-tiganya masih ada. Misalnya berdoa untuk memperoleh sesuatu. Entah sesuatu itu rumah di Simprug atau kapling di Surga, keinginan tetaplah keinginan. Kemudian, amarah. Bila ada keinginan yang tidak terpenuhi, doa pun bisa menjadi luapan amarah. Dan, keangkuhan… Saat berdoa, “aku” masih hadir. “Aku” berdoa. “Aku” rajin berdoa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Doa demi kebaikan diri sendiri bukan demi Tuhan

Tuhan tidak membutuhkan ibadah. Dia tidak perlu disembah dan didoakan. Yang membutuhkan ibadah adalah manusia. Yang harus berdoa dan menyembah adalah kita. Beribadah, karena itulah kebaikan “terbaik” yang dapat kita lakukan. Berdoa dan menyembah, karena memang tidak ada “kebaikan” lebih baik dari itu……. mari kita renungkan bersama… Layakkah kita bagi “pemunculan” kasih? Sadarkah kita bahwa selama ini kita hanya membantu diri sendiri? Melayani diri sendiri? Beramal saleh, berdoa dan berziarah pun demi kebaikan diri sendiri. Bukan demi Tuhan. Kesempatan untuk melayani dan membantu orang harus dianggap sebagai sarana untuk memperbaiki diri. Untuk meningkatkan kesadaran diri. Untuk melihat Wajah-Nya di mana-mana. Untuk merasakan Kasih-Nya di dalam diri mereka. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Doa mohon duniawi tidak mendekatkan diri pada Tuhan

(duniawi atau kebutuhan dari egonya lebih besar daripada kecintaan pada Tuhan)

“Di antara beribu-ribu orang, belum tentu seorang pun berupaya untuk mencapai kesempurnaan diri. dan, di antara mereka yang sedang berupaya, belum tentu seorang yang memahami kebenaran-Ku.” Bhagavad Gita 7:3

Kesempurnaan diri adalah kesempurnaan dalan Jnana dan Vijnana. Banyak di antara kita yang sudah merasa puas dengan apa yang kita baca dalam kitab-kitab tebal, seperti yang ada di tangan kita saat ini. Hanyalah segelintir saja yang berupaya untuk memperoleh pengalaman pribadi.

Dan di antara segelintir yang sedang berusaha demikian pun, belum tentu satu orang yang mencapai kesempurnaan, dalam pengertian memahami kebenaran-Nya – Kebenaran Jiwa Agung.

Pengamatan Krsna merupakan tantangan bagi siapa saja – Tantangan bagi setiap orang yang menganggap dirinya berketuhanan, berkeyakinan, berkepercayaan, dan sebagainya. Adakah kita memuja-muja Tuhan, menyembah Tuhan untuk mendekatkan diri dengan-Nya, atau justru untuk menjauhkan diri dari-Nya?

Setiap doa untuk hal-hal bersifat duniawi – untuk mendapatkan rezeki, pekerjaan, jodoh, anak dan sebagainya – tidak mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Semua itu adalah urusan kendaran badan bersama indra, pikiran segala.

Semua urusan itu adalah urusan teknis, urusan bengkel. Kita tidak perlu mengenal pemilik bengkel, apalagi pemilik pabrik mobil untuk memperbaiki kendaraan yang rusak. Cukup berurusan dengan teknisi. Bahkan tidak perlu mengenalnya juga. Titipkan mobil di bengkel, daftarkan segala keluhan kita, dan datang kembali sorenya untuk mengambil mobil.

Banyak hal lain yang menjadi inti doa kita ibarat keinginan untuk menghias dan mempercantik kendaraan. Tidak perlu ke bengkel, untuk itu cukup ke toko yang menjual variasi mobil.

Selama ini, kepercayaan kita sesungguhnya bukanlah untuk mengenal Tuhan, tetapi sekedar rutinitas pemeriksaan kendaraan, supaya tetap ‘fit’.

Krsna menyatakan, dan Ia tidak salah, bahwa di antara beribu-ribu orang yang ingin serta berupaya untuk mengenal-Nya, belum tentu seorang pun mencapai tujuannya, dan mengenal-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia