Archive for February, 2018

Waspada Terhadap Rasa Iri Dalam Diri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on February 28, 2018 by triwidodo

Dikisahkan di suatu desa di Arab tinggal seorang Syeikh dengan istrinya. Karena mereka tidak memiliki anak, Syeikh tersebut menikahi seorang gadis dan mereka mempunyai seorang putra. Istri pertama Syeikh membenci istri kedua dan putranya. Rasa irinya mengalahkan akal sehat dan hati-nuraninya.

Pada suatu hari Syeikh pergi ke luar kota dan akan kembali ke rumah pada waktu Hari Raya Kurban. Sang istri pertama menemui seorang dukun dan kemudian mengubah istri kedua dan anaknya menjadi 2 ekor kambing. Istri kedua dan putranya sebagai kambing selalu berdoa mohon ampun atas kesalahan mereka sehingga mereka diubah wujudnya sebagai kambing. Mereka percaya Tuhan Maha Pengasih dan Maha Adil dan pada suatu saat mereka akan diberikan jalan keluarnya.

Pada saat Syeikh kembali ke rumah dia bertanya pada istri pertama di mana istri kedua dan anaknya, dan dijawab bahwa istri kedua sudah meninggal dan anaknya melarikan diri. Syeikh tersebut sedih akan tetapi kemudian pasrah apabila itu telah menjadi Kehendak Tuhan.

Pada saat Hari Raya Kurban Syeikh tersebut minta istrinya membawa kambing sebagai hewan korban. Sang istri membawa kambing yang sebenarnya adalah istri kedua yang telah berganti wujudnya. Sang kambing mendekati Syeikh sambil menempelkan badannya pada kaki Syeikh, sehingga Syeikh tersebut tidak tega memotongnya dan minta diambilkan kambing yang lain. Sang istri segera membawa anak istri kedua yang sudah menjadi kambing. Sang kambing mendekati Syeikh dan menjilat-jilat tangan Syeikh sehingga Syeikh tersebut menjadi tidak tega memotongnya.

Sang istri marah dan berkata jika Syeikh menolak memotong kambing-kambing tersebut, maka dia tidak bisa melakukan kurban.

Pada saat itu ada seorang pengembara asing yang sedang lewat dan mendatangi Syeikh dan istrinya. Pengembara tersebut mendekati Syeikh dan mengatakan bahwa kedua kambing tersebut adalah istrinya yang kedua dan putranya. Pengembara tersebut mengambil mangkuk kecil dari kantung yang dibawanya. Diisinya mangkuk tersebut dengan air dan dipercikkan kepada kedua kambing tersebut sambil membaca doa mantra.

Kedua kambing tersebut berubah wujud sebagai istri kedua dan putranya. Dan mereka menceritakan apa yang telah terjadi. Istri pertama sangat ketakutan dan sang pengembara memercikkan air dalam mangkuk kepada istri pertama yang mengubahnya menjadi seekor anjing dan pergi melarikan diri.

Istri Pertama Syeikh menggambarkan seorang pesimis penuh keluh kesah dan iri terhadap keberhasilan orang lain. Istri Kedua dan Putranya menggambarkan orang-orang saleh yang selalu bersyukur terhadap apa pun yang diterima mereka. Walaupun mereka mengalami penderitaan yang sangat berat, tetapi tetap saja ada kekuatan alam yang membantunya. Pengembara Asing dalam kisah tersebut menggambarkan Jiwa Agung, dewa atau malaikat yang membantu mereka yang berbuat kebaikan. Syeikh tersebut menggambarkan orang yang Suci, pandangan dia begitu jernih, begitu jelas, sehingga di balik segala sesuatu dia melihat Tangan Tuhan.

Berikut penjelasan mengenai karakter-karakter pelalu peran dalam kisah tersebut……………..

Orang yang iri terhadap keberhasilan orang lain

Seorang yang selalu berkeluh kesah atau menaruh rasa iri terhadap keberhasilan orang lain tidak pernah sukses. Dunia ini tidak kekurangan sesuatu apa pun jua. Segala apa yang diinginkan ada di sini. Kekayaan yang berlimpah, kesehatan, kebahagiaan, semuanya ada. Orang yang berkeluh-kesah sungguh memiliki sikap pesimistis.

Dan, seorang pesimistis tidak pernah dicintai, tidak pernah dihargai. Siapa yang mau bersahabat dengan orang seperti itu? Siapa yang man membantu orang seperti itu? Seorang pesimistis sungguh menjijikkan. Dan, dunia tidak membutuhkan orang-orang yang menjijikkan. Pesimis meracuni hidupnya dengan pesimisme. la menolak segala berkah dari alam. la menyengsarakan dirinya.

Para dewa atau malaikat selalu membantu mereka yang optimistis; mereka yang penuh dinamisme; mereka yang cerah dan ceria; mereka yang menghendaki kebaikan. Sementara itu, orang-orang yang pesimistis dan malas, yang hanya bisa berkeluh kesah, dikerumuni oleh kekuatan-kekuatan rendah dan merendahkan. Kekuatan-kekuatan inilah yang menjauhkan mereka dari segala kebaikan di dalam dunia yang baik ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #SpiritualAstrologi

 

Jiwa-Jiwa Agung yang selalu membantu mereka yang berada pada frekuensi yang sama

Alam ini penuh dengan makhluk-makhluk halus, roh-roh yang senantiasa siap sedia untuk membantu para pemberani. Mereka tegas, penuh semangat, dan berkarya dengan kesungguhan hati. Kita tidak bisa menjelaskan cara kerja mereka. Setidaknya cara kerja mereka tidak bisa dibahas dalam buku ini. Barangkali membutuhkan buku lain. Tapi, sesungguhnya tidak perlu mengetahui cara mereka bekerja. Kita tahu cara kerja mereka atau tidak, mereka tetaplah bekerja dan membantu kita.

Mereka adalah jiwa-jiwa agung, mulia, dan jauh berada di atas kita. Mau menyebutnya malaikat, silakan. Mau menyebutnya dewa, silakan. Mereka sudah bebas dari dualitas suka/tak-suka. Mereka membantu siapa saja yang berada pada “frekuensi” yang sama, gelombang yang sama dengan mereka.

Adapun untuk berada pada gelombang itu, kita mesti bebas dari rasa dengki, iri, amarah, dan lain sebagainya. Kita mesti mampu mengendalikan hawa-nafsu dan tidak terkendali olehnya.  Luapan emosi yang tidak terkendali, khususnya luapan emosi amarah, menurunkan frekuensi kita sehingga kita tidak lagi bergetar bersama mereka. Oleh sebab itu, kita mesti sangat berhati-hati dan tidak terbawa oleh emosi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #SpiritualAstrologi

Iri adalah tindakan melecehkan Gusti menurut Bhagavad Gita

Terkendali oleh keangkuhan, kekerasan, kesombongan, nafsu, amarah dan sebagainya, mereka sesungguhnya melecehkan Aku yang bersemayam dalam diri mereka dan diri setiap orang.” Bhagavad Gita 16:18

Pelecehan terjadi, karena kita menaruh rasa iri terhadap orang lain, cemburu, atau menganggapnya lebih rendah. Semua ini muncul dari delusi bahwasanya “lain”-nya seseorang adalah sebuah realita.

PADAHAL YANG “LAIN” ITU TIDAK ADA – Sang Jiwa Agung, lewat percikan-percikan yang tak pernah terpisahkan dari-Nya sedang menerangi setiap makhluk. Sinar suci yang sama menerangi setiap orang.

Di tingkat wahana-badan, memang banyak jenis, beragarn kendaraan. Sepintas, pengemudi setiap kendaraan pun tampak beda. Keturunan Cina jelas beda dari keturunan Afrika. Orang Asia tidak memiliki warna kulit yang sama seperti orang Eropa. Namun, aliran kehidupan, listrik Ilahi yang menghidupi setiap pengemudi adalah satu dan sama.

PERLOMBAAN DAN PERTARUNGAN terjadi karena kebodohan diri. Baru-baru saja terungkap suatu berita yang cukup sensasional. Namun, kemudian berita itu “hilang”. Beritanya tentang dua kelompok pemain yang berbeda — tapi, sesungguhnya dibayar oleh sekelompok pengusaha yang sama. Para pemain di dalarn kelompok-kelompok itu dibiarkan berlomba dan bertarung hingga berdarah-darah. Para penonton dihibur – atau, lebih tepatnya dikibuli — dengan tontonan penuh kekerasan.

Para penjudi di luar arena pun bertarung, ada yang menjagokan pemain “A”, ada yang berharap pada pernain “B”. Dualitas di luar tampak sedemikian nyata dan jelas. Namun, di balik itu, sang sutradara adalah satu. Sekelompok pengusaha itulah yang sebenarnya memegang kendali. Siapa pun yang menang, siapa pun yang kalah — para investor selalu menang, selalu untung, tidak pernah rugi.

SEPERTI ITULAH PERMAINAN SEMESTA – Bedanya, bagi Jiwa Agung, untung-rugi bukanlah tujuan-Nya mengadakan pagelaran kehidupan ini. Bukanlah tujuan-Nya untuk mencari keuntungan. Segala-galanya adalah milik-Nya, mau cari untung apa dan dari siapa lagi?

Krsna jelas dan tegas bila perlombaan bukanlah tujuan hidup. Setiap orang unik adanya. Setiap percikan Jiwa adalah unik. Ia sedang mengumpulkan pengalaman tenentu. Setiap wahana-badan pun unik, tidak ada yang menjadi pembandingnya. Jadi, jika kita berlomba-lomba untuk mengejar tahta atau harta saja, maka kita sama sekali tidak memahami Jiwa dan permainan-Nya.

BERMAIN, YA UNTUK BERMAIN – Bukan untuk menang atau kalah. Dalam permainan ini, setiap orang sudah pasti sukses, jika ia bermain dengan semangat bermain, bukan untuk mengalahkan orang lain. Setiap orang ditakdirkan sebagai pemenang. Setiap kendaraan di Sirkuit Ilahi ini adalah unik dan luar biasa, dahsyat! Menganggap rendah orang lain, meremehkan perannya, melecehkan dirinya — adalah sama dengan merendahkan, meremehkan, dan melecehkan Sang Jiwa Agung, yang atas kehendak-Nya, Pagelaran Kolosal ini sedang digelar.

Bagi Sang Jiwa Agung, arena permainan ini adalah – bukan saja milik-Nya – tetapi Dia Sendiri. Segala perlengkapan di dalam alam adalah Dia. Pemain adalah Dia. Semuanya Dia, Dia, Dia. Ketika “kita” — dalam kebodohan kita — “melecehkan” orang lain; maka sesungguhnya kita “seolah” melecehkan Dia. Kenapa “seolah”? Karena sesungguhnya Ia tidak bisa dilecehkan. Tindakan menghina atau meremehkan orang lain adalah persis sama seperti meludahi langit. Ludah itu akan jatuh kembali. Dengan cara itu, kita hanyalah meludahi diri. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Mengendalikan Sifat Rajas yang Agresif dalam Diri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on February 27, 2018 by triwidodo

Sebuah kisah dari Timur Tengah. Adalah seorang pedagang kaya bernama Abdullah. Pada suatu hari dia memuat 40 ekor untanya dengn rempah-rempah mahal untuk dijual di kota yang jauh. Pada waktu semua barang jualannya habis terjual, dia berhenti di sebuah penginapan dan bertemu dengan seorang suci dan mereka menjadi teman.

Orang suci tersebut menggambarkan tentang tempat rahasia dengan harta kekayaan yang sangat besar. Apabila Abdullah setuju bahwa setengah muatan harta diberikan kepada orang suci, maka Abdullah akan diajak ke tempat tersebut. Abdullah menyetujuinya.

Mereka sampai pada sebuah bukit dan orang suci menaburkan bubuk putih ajaib yang berubah menjadi asap dan setelah asap pergi terlihatlah jalan setapak menuju sebuah goa dengan penuh permata dan koin emas.

Mereka memuati 40 onta dengan harta karun tersebut. Dan, setelah selesai Abdullah berkata, menurut dia orang suci cukup membawa 10 onta saja biarlah yang 30 unta untuk Abdullah. Belum berapa lama Abdullah sudah berubah pikiran, sebaiknya orang suci hanya membawa 5 unta berisi harta saja biarlah yang 35 unta dibawanya. Orang suci tersenyum dan menerimanya. Tidak lama kemudian Abdullah berubah pikiran lagi dan berkata sepantasnya orang suci hanya harta dalam 1 onta saja biarlah yang lainnya dibawa Abdullah. Bahkan Abdullah tidak puas dan minta orang suci tersebut memberikan kotak berisi bubuk putih ajaib.

Orang suci itu berkata bahwa bubuk putih itu berbahaya bila tidak digunakan dengan benar. Orang suci mengatakan bahwa bila bubuk suci tersebut digosokkan di mata kiri maka semua benda dihadapannya yang sebelah kiri akan berubah menjadi emas. Akan tetapi bila menggosokkan di mata kanannya maka dia akan menjadi buta.

Abdullah sangat tertarik, dan mencoba menggosok bubuk putih pada mata kirinya dan ajaib, semua benda di hadapannya yang di sebelah kiri berubah menjadi emas…….

Tiba-tiba pikiran serakah memenuhi dirinya, tentu orang suci itu tidak mau semua benda baik di sebelah kiri maupun kanan menjadi emas. Abdullah menggosokkan bubuk putih ajaib di mata kanannya dan tiba-tiba Abdullah menjadi buta. Penyesalah tidak ada gunanya, karena apa yang sudah terjadi tidak dapat balik lagi…….

Abdullah menggambarkan kehidupan para jet-setters yang sangat kaya saat mendekati  kematian seperti yang disampaikan dalam Bhagavad Gita. Pada waktu ajal menjemput adalah mirip dengan kebutaan yang tak dapat dikembalikan lagi.

Sifat Rajas yang Agresif pembuat sangkar kepemilikan

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), ketahuilah bahwa sifat Rajas, agresif dan penuh nafsu, muncul dari keinginan serta keterikatan. Ia membelenggu Jiwa dengan mengikatnya pada perbuatan dan hasil perbuatan.” Bhagavad Gita 14:7

Hukum Karma bekerja rapi ketika seseorang memiliki sifat rajas. Roda Karma berputar lancar dan mengikat Jiwa dengan badan serta alam benda lewat setiap tindakan serta hasilnya. Perbuatan tercela berakibatkan kesengsaraan; sifat terpuji menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan – inilah Hukum Karma. Seseorang bersifat rajas selalu mengejar pujian. Ia tidak sadar bila pujian dunia juga merupakan sangkar yang memenjarakan Jiwa.

Keterikatan kita dengan dunia benda memenjarakan kita dalam sangkar ini. Padahal Jiwa bebas adanya. Ia tidak perlu “menyangkarkan” diri dalam dunia benda ini. Sayang, karena keterikataannya dengan kebendaan ilusif, ia memenjarakan dirinya dalam sangkar dunia benda ciptaannya sendiri.

APA YANG SESUNGGUHNYA ADALAH MEDAN LAGA diubahnya menjadi sangkar. Ia membuat sangkar ini dengan bahan-bahan campuran, seperti keakuan, kepemilikan, harta-kekayaan, ketenaran, kedudukan, hubungan keluarga, dan sebagainya.

Ada pula yang menciptakan sangkar kemiskinan dan kemelaratan – karena terikat dengannya. Sungguh aneh, tapi demikianlah kenyataannya. Banyak di antara kita merasa dirinya tetap miskin, walau sudah memiliki banyak. Keserakahan mereka membuat mereka tidak pernah puas.

MEMANG BANYAK “KEJADIAN” DI ALAM BENDA INI – ada kemiskinan dan ada kekayaan; ada pujian, dan ada cacian; ada duka, dan ada suka – semuanya adalah bagian dari Prakrti atau Alam Benda. Jiwa yang berbadan dan memiliki pancaindra, sudah pasti melewati dan mengalami kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan tersebut. Tidak ada cara untuk menghindarinya.

Namun, Jiwa pun bisa memutuskan untuk tidak menciptakan sangkar bagi dirinya. tidak terperangkap dalam pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian tersebut. Jiwa dapat……

MELEWATI SETIAP PENGALAMAAN SEBAGAI SAKSI – Berarti, dalam keadaan suka tidak menjadi angkuh, dan dalam keadaan duka, tidak berkecil hati. Semuanya hanyalah keadaan-keadaan sesaat yang mesti dilewati. Kesalahan kita selama ini adalah kita menciptakan sangkar suka, sangkar keberhasilan, sangkar ketenaran, dan sebagainya. Kemudian kita menempatkan diri kita – Jiwa yang sesungguhnya bebas – di dalam sangkar tersebut. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Abdullah menggambarkan kehidupan para jet-setters yang sangat kaya saat mendekati  kematian

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), ketika sifat Rajas berkuasa, seseorang menjadi serakah; dan, segala aktivitasnya hanyalah bertujuan untuk meraih kenikmatan duniawi. Sebab itu, ia pun gelisah ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.” Bhagavad Gita 14:12

Kekuasaan Rajas adalah yang paling umum. Rata-rata, kita semua, hampir sepanjang hari, berada di bawah pengaruhnya.

SEPANJANG HARI KITA AKTIF BEKERJA – Namun, tujuan kita hampir selalu untuk menghasilkan materi “saja”. Jarang sekali kita memikirkan apakah pekerjaan itu mulia atau tidak? Apakah pekerjaan itu hanya menguntungkan kita semata atau juga adalah baik bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain?

Kemudian, ketika keinginan dan harapan kita untuk meraih keuntungan sebesar dan sebanyak mungkin tidak tercapai, kita rnenjadi gelisah. Kegelisahan semacam itu memang wajar, lazim, dan alami — karena kesenangan sesaat yang kita kejar selalu bergandengan dengannya.

SELAMA KITA MENGEJAR “SUKA”, maka “duka” yang adalah kembarannya, menanti di luar pintu kehidupan kita. Begitu “suka” keluar, masuklah “duka”. Demikian mereka bergantian mengunjungi kita. Para pengunjung setia!

Inilah keadaan orang yang berada di bawah pengaruh rajas. Ketika berhasil, ia bersuka-cita. Ketika gagal, ia berduka. Kadang senang, kadang susah. Ia selalu terombang-ambing dalam lautan samsara — pengulangan yang tidak pernah berhenti. Samsara “pengulangan” adalah sebab kesengsaraan. Awalnya barangkali menyenangkan, tapi akhirnya selalu membosankan, mengecewakan dan menggelisahkan.

HAL INI BISA DIRASAKAN OLEH PARA JET-SETTERS – Awalnya, mereka menikmati perjalanan ke mana-mana. Hidup mereka hampir sepenuhnya di pesawat terbang. Baru pulang, besok berangkat lagi. Sayangnya, saya tidak pernah bertemu dengan seorang jet-setter “sejati” yang “akhirnya” tidak mengeluh, “Untuk apa semuanya ini? saya punya segala-galanya. Rumah di Jakarta, apartemen di Inggris, kantor di New York, kastil di Perancis. Tapi kapan saya menikmatinya?”

Adalah para pegawai mereka yang menikmati sernuanya itu. Mereka sendiri tidak punya waktu lagi untuk menikmatinya. Di usia uzur, ketika Dewa Yama, Malaikat Maut sudah menunggu di luar pintu, mereka masih sibuk memikirkan, “Bagaimana dengan kerajaan yang telah kubangun? Apakah anakku dapat mempertahankannya? Apakah para direktur dan CEO akan tetap setia? Apa yang akan terjadi dengan perusahaan-perusahaan yang kubangun dengan jerih payah, cucuran keringat dan darah?”

JIWA YANG TERGANGGU oleh pikiran-pikiran seperti itu, lupa akan jati dirinya sebagai Jiwa Merdeka — Ia “mengalami kematian” dalam keadaan terguncang. Kemudian, setelah pengalaman kematian itu, ia mengejar lagi pengalaman kelahiran ulang. Dan dalam pengalaman hidup berikutnya pun, ia masih tetap mengejar hal yang sama. Inilah Samsara.

Lagi-lagi ia mencari pengalaman suka dari timbunan harta. Awalnya ia bahagia, namun akhirnya, ia kembali gelisah. Demikian seterusnya dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan berikutnya. Apa tidak membosankan? Badan dan perangkat indra yang baru tidak memiliki memori dari masa lalu. Gugusan pikiran dan perasaan memilikinya, tapi lupa. Namun, Jiwa tidak lupa. Ia mengalami kegelisahan yang luar biasa, tapi karena keterikatannya dengan pengalaman-pengalaman tertentu, ia “merasa” tidak berdaya untuk berulangkali lahir dan mati. Demikianlah keadaan kita saat ini. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kesalahan Persepsi Kita Terhadap Dunia? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on February 25, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Gusti melihat ke bumi. Semua makhluk tampak bekerja keras dan mengalami stress dalam pasang-surut kehidupan mereka. Hati Gusti meleleh penuh kasih melihat kehidupan di dunia. Gusti kemudian turun ke bumi.

Pertama kali yang ditemui Gusti adalah seekor anjing yang kurus-kering, berpenyakitan, matanya tinggal satu, kakinya hilang satu dan ekornya terpotong. Gusti berpikir anjing ini perlu moksha, bebas dari penderitaan. Gusti mengajak anjing tersebut moksha, meninggalkan dunia pergi ke istananya di Vaikuntha. Anjing tersebut menjawab, bahwa dia berterima kasih akan dibawa ke Vaikuntha, akan tetapi apakah Gusti tahu, bahwa dia telah berjuang bertarung melawan anjing-anjing dari wilayah jalanan berbeda. Dengan banyak luka-luka dia mengusir anjing lainnya, dan dia sudah memiliki wilayah kekuasaan di jalan tersebut. Bila dia ikut pergi ke istana Gusti, maka wilayahnya akan direbut anjing lain. Bagaimana ini bisa dibiarkannya? Gusti shock! Anjing fanatik yang cacat tidak mau diajak ke istana-Nya.

Selanjutnya, Gusti menemui babi yang berkubang dalam kotoran, dan menyampaikan tawaran agar ikut dia moksha, pergi ke istana Gusti. Sang Babi menjawab, Gusti tidak tahu kenikmatan berkubang dalam kotoran dan menawarkan kebahagiaan remeh di istana Gusti. Babi tidak akan meninggalkan kenikmatan ini.

Kecewa dengan jawaban babi, Gusti melihat gajah besar yang sedang membawa batang kayu besar naik bukit. Telinga gajah yang besar bergoyang-goyang, padahal salah satu kakinya diikat rantai dan pawang gajah memegang tombak runcing di punggungnya. Penderitaan sang gajah membuat iba siapa pun yang melihatnya. Gusti mengajak Gajah untuk melepaskan diri dari penderitaan, moksha, pergi ke istana-Nya. Sang gajah menjawab, bahwa dia itu sedang menunggu kesempatan untuk membalas dendam kepada sang pawang yang telah berlaku kejam terhadap dia. Bagaimana sang gajah bisa pergi meninggalkan kesempatan untuk membalas dendam? Sang gajah menolak diajak moksha.

Gusti semakin kecewa, pergi mendekati rusa yang sedang makan rumput, tetapi sang ruda malah lari menjauhinya. Gusti mencoba mendekati singa, tapi singa tidak mau mendengar bahkan maunya hanya ingin menerkam………

Kita pernah mengalami evolusi sebagai banyak hewan sebelum jadi manusia. Sifat-sifat hewani tersebut masih tersisa dalam diri kita. Hanya dengan good karma, bertindak baik tanpa pamrih terhadap kehidupan dan berkah Gusti kita bisa sadar di dunia ini hanya sekadar permainan. Gusti di depan layar monitor menghidupkan  dan menggerakkan kita semua. Dibuatlah maya, ilusi seakan kita yang berkehendak, akan tetapi kehendak yang diakibatkan oleh persepsi (ego) kita terhadap dunia akan terkena peraturan permainan komputer Gusti, hukum karma……. Akibat selalu menggunakan persepsi kita bolak-balik lahir ke dunia. Seharusnya kita melihat dengan jernih apa yang ada di belakang itu semua……..

Meditasi membuat mind kita jernih dan bertransformasi menjadi buddhi, inteligensia dan kita bisa mendengar intuisi nurani dan Kehendak Gusti…… leluhur kita menyebut Budi Pekerti.

 

Persepsi dalam bahasa Sanskrit adalah “pashyati”, akar katanya “pashu”, hewan

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion. Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Selama melihat dengan persepsi (pashyati) kita masih dipertimbangkan hewan (pashu).

Bhagavad Gita mengajak kita melampaui persepsi

“Ia yang memandang semua sama, sebagaimana ia memandang dirinya; dan menganggap sama suka dan duka, adalah Yogi – Manusia Utama, ia melebihi apa dan siapapun juga!” Bhagavad Gita 6:32

Seseorang seperti itu bukanlah sekadar utama di antara para Yogi — tetapi adalah Purusottama —Manusia Utama. Para sufi menyebutnya Insan Kamil — Manusia Sempurna, utuh.

MANUSIA UTAMA – inilah tingkat tertinggi yang dapat dicapai oleh Jiwa yang masih berbadan. Krsna juga menyebut seorang Yogi yang telah mencapai tingkat itu sebagai “Mahatma” atau Jiwa Besar, Jiwa. Mulia

 

“Ia yang melihat-Ku (jiwa Agung) dalam setiap makhluk, dan semua makhluk dalam Diri-Ku, tak hilang dari-Ku. Pun demikian Aku tak pernah hilang dari darinya.” Bhagavad Gita 6:30

Penegasan-penegasan ini penting sekali – karena inti dari segala spiritualitas. Inilah dasar dari segala-galanya.

TIDAK PERNAH HILANG LAGI…… ia yang telah mengalami persatuan seperti itu sudah tidak pernah hilang lagi – berarti tidak pernah berpisah lagi dari kesadaran rohani. Ia tidak pernah lepas dari kesadaran Jiwa, dan kesadaran Jiwa tidak pernah lepas darinya.

Dalam keadaan apa pun, kesadarannya tidak merosot lagi. Ia berada dalam keadaan yang membuatnya senantiasa damai, senantiasa bahagia.

Sebabnya adalah, karena kedamaiannya, kebahagiaannya sudah tidak bergantung pada sesuatu di luar diri – tapi pada dirinya sendiri.

 

Permainan Persepsi menurut Patanjali

BENDA-BENDA, KONDISI-KONDISI, ORANG-ORANG di luar menyenangkan, menarik—atau  sebaliknya—, semua adalah karena persepsi kita sendiri. Tanpa ikut campur persepsi, segala sesuatu, semua kondisi, semua benda, semua orang, semua relasi menjadi tidak berarti apa-apa.

Kita kawin, beranak-pinak dan timbullah persepsi keluarga, kekeluargaan. Kemudian, cerai dengan pasangan, maka berubah pula persepsl sebelumnya. Menikah lagi, timbul persepsi baru.

Dalam menjalankan sebuah usaha, kita ber-partner dengan seseorang, dalam dunia politik, para politisi berkoalisi dengan partai tertentu. Kemudian karena satu dan lain hal, partnership dan coallition berakhir. Perasaan saat ber-partnership, berkoalisi, dan perasaan setelah berakhirnya partnership atau koalisi, adalah beda. Lagi-lagi perbedaan terjadi karena persepsi kita yang telah berubah.

“DENGAN MENYADARI HAL INI, PERMAINAN PERSEPSI ATAU PANDANGAN INI,” kata Patanjali, “seseorang dapat mengendalikan gugusan pikiran serta perasaannya, manah atau mind-nya.”

Dengan cara ini pun seseorang bisa berupaya untuk meraih keseimbangan diri. Kendati, untuk selalu diingat, bahwa cara ini adalah cara melakoni meditasi, Yoga atau Disiplin-Diri 24/7—dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari setiap minggu. Ini adalah laku purnawaktu. Terlena sedikit saja, sebentar saja, makagugusan pikiran dan perasaan akan lepas kendali. Manah atau akan kembali memperbudak kita.

Persepsi kita tentang kentang bisa berubah, dan kita sudah tidak lagi terikat dengan kentang. Tapi, bagaimana dengan tomat? Bagaimana dengan singkong?

Tiada orang yang mau bermain-main dalam lumpur, dengan lumpur. Tapi, begitu ketahuan bahwa lumpur itu mengandung emas atau minyak, bagaimana? Kita akan mensyukuri bahwa rumah kita telah menjadi bagian dari kuala lumpur. Dulu minta uang ganti, sekarang minta diberikan hak atas sebagian kuala berlumpur itu. Semua persepsi.

“Di balik semua,” Patanjali mengingatkan, “di balik seluruh materi, benda dan kebendaan, bahkan seluruh alam benda ini adalah kebenaran yang tak dapat diganggu gugat, yaitu semua ini, seluruh permainan kebendaan ini, termasuk badan kita, fana adanya. Saat ini ada, sesaat lagi tak ada. Maka bangkitlah! Sadarilah sifat benda dan kebendaan, janganlah membiarkan dirimu terbudakkan oleh persepsimu. Janganlah menjadi budak materi karena persepsi yang salah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Birbal dan Akbar: 3 Pintu Neraka #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on February 22, 2018 by triwidodo

Ini kisah tentang Mahesh Das seorang warga di kerajaan Akbar. Dia adalah seorang pemuda yang cerdas. Pada suatu hari Kaisar Akbar berburu di hutan dan tersesat. Adalah Mahesh Das yang tinggal di pinggiran hutan memandu Akbar kembali ke jalan besar menuju istana. Kaisar berterima kasih dan memberi hadiah berupa cincin raja. Kkaisar juga berjanji akan memberinya pekerjaan di istananya.

Setelah beberapa hari Mahesh Das pergi ke sidang kerajaan, tetapi penjaga tidak mengizinkannya, bahkan Mahesh Das dimarahi oleh sang penjaga. Orang-orang kaya selalu memberinya tip beberapa keping uang perak sebelum masuk ruang sidang tempat kaisar berada. Selanjutnya, Mahesh Das menunjukkan kepada penjaga cincin raja yang telah diberikan kepadanya. Penjaga yang serakah tersebut mengizinkan Mahesh Das masuk ruang persidangan dengan satu syarat. Syarat itu adalah Mahesh Das harus membagi setengah hadiah Kaisar kepadanya. Mahesh Das menyetujuinya.

Mahesh Das kemudian masuk ruang sidang dan menunjukkan cincin itu kepada sang kaisar. Kaisar Akbar yang masih mengenali Mahesh bertanya, “Oh, pemuda, apa yang Anda harapkan sebagai hadiah dari Kaisar Hindustan?”

Mahesh Das menjawab, “Paduka yang mulia, saya mengharapkan 50 cambukan sebagai hadiah!” para pejabat tertegun, mereka mengira pemuda ini gila. Kaisar Akbar merenungkan permintaan pemuda tersebut dan menanyakan alasannya.

Mahesh Das mengatakan bahwa dia akan memberitahu alasannya setelah menerima hadiah cambukan 25 kali. Setelah dicambuk 25 kali Mahesh Das mohon sang kaisar memanggil penjaga gerbang. Sang penjaga muncul di hadapan kaisar dan berpikir akan diberi hadiah.

Mahesh Das berkata, “Penjaga serakah ini memperbolehkan saya masuk dengan syarat saya memberikan setengah hadiah dari Kaisar kepadanya. Saya ingin menepati janji, mohon 25 cambukan tersisa diberikan kepada penjaga gerbang ini.”

Kaisar memerintahkan agar penjaga gerbang  diberi 25 cambukan dan dihukum 1 tahun penjara. Kaisar sangat senang terhadap Mahesh Das dan sang kaisar memanggilnya Raja Birbal……………..

Kerusakan akhlak manusia dipicu oleh 3 hal: keinginan, amarah dan keserakahan. Itulah yang ditunjukkan Raja Birbal kepada Kaisar Akbar…………….

Tiga Pintu Neraka

“Keinginan, amarah, dan keserakahan – inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganya.” Bhagavad Gita 16:21

NERAKA ADALAH SUATU KEADAAN saat Jiwa lupa akan hakikat dirinya. Dan sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengan dunia benda. Neraka adalah keadaan ilusif di mana gugusan pikiran dan perasaan berkuasa, hawa nafsu berkuasa, dan Jiwa diperbudak olehnya.

Neraka adalah keadaan saat Jiwa tidak percaya diri, tetapi memercayai kendaraan badan, wahana indra, kereta gugusan pikiran dan perasaan yang semuanya, sebenamya hanyalah sarana, alat pelengkap — bukan jati diri. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Terbebaskan dari 3 Pintu Neraka

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), terbebaskan dari ketiga pintu neraka ini, seseorang yang berupaya untuk meraih keselamatan, niscaya meraihnya; bahkan mencapai Kesadaran Jiwa, yang adalah Keadaan Tertinggi atau Param Gati. ” Bhagavad Gita 16:22

Hindarilah terlebih dahulu, ketiga pintu neraka tersebut – setelah itu, keselamatan, kesadaran-diri, keadaan tertinggi, kebahagiaan sejati – semuanya menyusul dengan sendiri.

BANYAK PENCARI GAGAL dalam upaya mereka, karena mereka mencari, mengejar keselamatan sebelum melakukan pembenahan dan pembersihan diri.

Sebelum mengarungi lautan kehidupan, persiapkanlah diri kita. Pertama, kita mesti bisa berenang atau memiliki perahu, entah kita mendayungnya sendiri atau ikut seorang nakhoda menjadi penumpang kapal besar.

Kedua, kita pun mesti tahu tujuan kita apa, mau ke mana. Mengarungi samudra kehidupan untuk apa? Ketiga, apakah kita punya kompas? Tahu arah? Semuanya itu penting. Tanpa persiapan yang matang, kita tak akan berhasil mengarungi samudra kehidupan. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Butuh Peta dan Juga Pemandu

“Tidak mengindahkan pedoman-pedoman yang diberikan dalam susastra, seseorang yang bertindak atas kemauan nafsunya, tidak pernah mencapai kesempurnaan diri, tidakpernah mencapai tujuannya, dan tidak pernah meraih kebahagiaan sejati.” Bhagavad Gita 16:23

Mengikuti petunjuk susastra — kitab-kitab yang disucikan karena kesucian isinya – berarti, betul-betul mengindahkan apa yang dianjurkan dan melakoninya. Kemudian, barulah kitab-kitab tersebut dapat memandu kita mengarungi samudra kehidupan.

JADI, BUKAN ASAL MENGIKUTI KITAB APA SAJA, tetapi mengikuti kitab-kitab yang mengandung petuah-petuah suci; ajaran-ajaran mulia; anjuran-anjuran yang berguna.

Kita membutuhkan peta dalam perjalanan ini.

Kita juga butuh pemandu. Kitab suci adalah peta. Seorang Sadguru adalah pemandu. Namun, kita masih tetap mesti berjalan sendiri. Kita tidak akan pemah mencapai tujuan hidup jika hanya sibuk memuja kitab suci atau memuji Pemandu. Peta bukanlah untuk dipuja, tapi untuk dijadikan pedoman dalam perjalanan. Dan Pemandu untuk diikuti nasihatnya.

Kesempurnaan atau kesadaran diri, pencerahan, tujuan hidup, kebahagiaan sejati – semuanya adalah sifat-sifat ketuhanan, kemuliaan yang dapat diraih dengan cara meniti jalan ke dalam diri.

Perjalanan ini mesti dilakukan sendiri oleh setiap orang. Tidak bisa diwakilkan.

Peta bukanlah untuk diletakkan di atas altar dan diberi sesajen. Pemandu bukan untuk diagung-agungkan saja. Semua itu hanyalah sarana. Gunakan mereka sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup! Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Berkarya di Dunia

“Sebab itu, gunakan anjuran susastra sebagai pedoman bagi perbuatanmu; apa yang mesti kau lakukan, dan apa yang mesti kau hindari. Demikian, dengan panduan susastra, berkaryalah di dunia ini.” Bhagavad Gita 16:24

Bagi Krsna, kitab suci mesti berfungsi sebagai susastra. Kesucian suatu kitab tergantung pada apakah ia bisa menjadi “sastra” atau alat yang “su” – baik, tepat. Susastra atau Susastra, berarti, alat yang baik. Alat yang dapat digunakan untuk memfasilitasi hidup kita di dunia ini.

KESUCIAN KITAB dari sudut pandang Bhagavad Gita sepenuhnya tergantung pada isi kitab tersebut. Apakah masih relevan, masih dapat diaplikasikan — ini penting. Pengertian tentang kitab suci seperti ini mesti dihayati, supaya pesan Krsna menjadi jelas. Ia tidak menasihati kita untuk mengikuti segala sesuatu dengan menggunakan kaca mata kuda, atau secara membabi buta.

Tulisan-tulisan yang menebarkan kebencian, permusuhan; menciptakan ego kelompok dan eksklusivisme; membenarkan diskriminasi, dan sebagainya — hendaknya dipelajari sebagai sejarah dan dipetik hikmahnya. Tulisan-tulisan seperti itu tidak dapat dijadikan pedoman untuk setiap zaman. Manusia bukanlah lahir untuk membenci. Ia lahir untuk mencintai.

MENGIKUTI PETUNJUK SUSASTRA atau kitab suci, berarti, menerjermahkan kesucian dalam keseharian hidup. Mengikuti petunjuk susastra, berarti mengubah diri kita menjadi susastra – alat yang baik di tangan Tuhan.

Jadilah alat-Nya. Kenalilah sifat wahana badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan yang selama ini kita salah anggap sebagai diri kita.

Dengan menjadi alat-Nya, kita tersadarkan bila sesungguhnya yang bekerja adalah Jiwa.

Dan, adalah Jiwa Agung yang menghidupi Jiwa Individu. Keberadaan kita adalah semata karena Ia berkenan untuk menggunakan kita sebagai alat-Nya untuk bermain-main di alam raya ini. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Birbal, Kaisar Akbar dan Barber: Tipu Muslihat #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 21, 2018 by triwidodo

Kedekatan Birbal dengan Kaisar Akbar memicu sekelompok orang untuk membunhnya. Kaisar Akbar mempunyai Barber, Tukang Cukur Spesial yang dekat dengan dirinya. Tukang Cukur tersebut direkrut kelompok sakit hati untuk menjalankan skenario pembunuhan terhadap Birbal.

Dengan halusnya Barber memuji Sang Kaisar dan menanyakan apakah Kaisar sudah memperhatikan kesejahteraan leluhurnya. Akbar mengatakan bahwa leluhurnya telah meninggal, bagaimana bisa menyejahterakan mereka di sana. Barber tersebut mengatakan bahwa dia punya kenalan dukun yang bisa mengirim seseorang ke surga dan melihat kondisi kesejahtraan alamarhum ayah Kaisar. Akan tetapi, Barber tersebut menambahkan bahwa orang itu harus sangat cerdas sehingga dapat mengikuti instruksi dukun dan juga yang bisa membuat keputusan secara cerdas. Barber tersebut menyarankan Birbal yang cocok untuk tugas tersebut.

Sang Kaisar sangat bahagia dan memberitahu Birbal untuk menjadi orang yang dikubur di kolam pemakaman dengan membawa obor. Kemudian kolam makam ditutup, di atasnya dinyalakan api unggun dan dibacakan mantra sampai Birbal dapat naik ke surga. Birbal mengatakan bahwa hal itu adalah ide yang cemerlang, tapi Birbal perlu mempersiapkan diri. Birbal akhirnya mengetahui bahwa itu adalah ide dari Barber yang jahat.

Birbal menyetujui ide tersebut dengan syarat diberi uang cukup besar untuk perjalanan ke surga dan juga waktu satu bulan untuk menyelesaikan urusan keluarganya. Sang Kaisar setuju.

Pada hari “H” Birbal membawa obor untuk dimakamkan, dan api unggun dinyakan di luar makam sambil membaca mantra. Para musuh Birbal bersuka-cita karena sudah beberapa bulan belum ada kabar dari Birbal.

Enam bulan sesudah itu Birbal menuju istana dengan rambut dan jenggot panjang yang tidak terawat. Kaisar mengundang beberapa menteri dan juga Barber untuk menanyakan kesejahteraan almarhum ayahandanya di surga.

Barber dan kelompok konspirasi merasa kecut. Birbal menyatakan bahwa kondisi ayah Kaisar dalam keadaan baik-baik saja, hanya ada 1 masalah yang tidak terselesaikan. Di surga tidak ada Barber, sehingga rambut ayahanda tidak terawat. Birbal menyatakan bahwa dia yang baru 6 bulan di surga saja rambutnya tidak terawat. Birbal menyarankan agar Barber dikirim ke surga dengan dimasukkan makam dan membawa obor…..

Barber sangat takut dan berkata bahwa dia disuruh beberapa orang menjalankan skenario mengirim Birbal ke surga. Dan, terbongkarlah kedok inspirasi mereka yang berbuat jahat……

Saat berdua Kaisar Akbar bertanya apa yang dilakukan Birbal, sehingga bisa membuka konspirasi tersebut. Birbal menyampaikan bahwa selama 1 bulan dia membayar para pekerja tepercaya untuk membuat terowongan dari rumahnya ke makam. Begitu Birbal masuk makam dia pergi ke terowongan dan bersembunyi di rumah selama 6 bulan.

Kelompok konspirasi menggunakan tipu muslihat untuk mencapai kemenangan. Mereka lupa adanya hukum alam, hukum karma: siapa yang menanam benih harus siap menerima panen pada waktunya. Dan kita bukan hanya harus menanam benih kebaikan, tetapi menanam benih tanpa pamrih, sehingga tidak harus lahir lagi untuk menerima panen buah kebaikan……..

Tipu Muslihat untuk memperoleh kemenangan (materi) ala Sun Tzu

(fokus kemenangan materi, tidak memperhitungkan hukum karma apalagi memutus siklus lahir-mati berkali-kali)

Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah fight or flight, melawan untuk keluar sebagai pemenang, atau melarikan diri dari medan laga agar selamat. Dengan konsep dasar itu ia menyusun Seni Perang, untuk memberi kemenangan. Saat ini banyak  anggota masyarakat dengan antusias menerapkannya dalam bisnis.

Bagi yang melihat dari kulitnya, bertindak dengan segala cara agar berhasil tuntunan Sun Tzu adalah semacam menanam benih, sehingga hasil akhir kemenangan adalah buah yang wajar dari sebuah tindakan yang penuh perhitungan.

Akan tetapi semua proses tindakan pun merupakan benih-benih tanaman yang akan mendatangkan hasil di belakang hari. Proses yang penuh tipu muslihat mungkin mendatangkan keberhasilan dalam jangka relatif singkat. Akan tetapi, tindakan penuh tipu muslihat akan mendatangkan akibat tersendiri dalam jangka panjang.

Bagi Sun Tzu, kemenangan harus menjadi tujuan utama. Memenangi peperangan menyangkut disiplin pantang mundur. Hasil akhir kemenangan sebagai tujuan. Manajemen yang diambil berdasarkan sasaran akhir kemenangan. Dalam kalimat yang lebih tegas, yang penting menang walau dengan segala macam cara. Kiranya sudah jelas kebijakan Sun Tzu, landasan perang bagi dia adalah tipu muslihat. Seorang pengikut Sun Tzu tidak akan memarahi anaknya yang suka menyontek saat ujian. Itu adalah kemahiran dia. Anaknya akan dimarahi dia jika tertangkap, karena hal itu menunjukkan kelalaiannya. Pertanyaannya adalah, apakah hal ini sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada di Nusantara?

Dalam Bhagavad Gita, kebijaksanaan Sri Krishna lebih terfokus pada proses,  pada pikiran, ucapan dan tindakan, bukan pada hasil. Manajemen berdasar proses. Kalau dalam setiap proses disadari masing-masing akibat yang akan terjadi, dengan membuat cheklist tindakan yang “benar”, maka hasil akhir adalah keniscayaan yang akan terjadi sebagai akibat dari semua proses tindakan. Dalam menghadapi hidup ini, yang penting adalah menyadari setiap proses, setiap pikiran, ucapan dan tindakan yang dilakukan, apa pun hasilnya akan datang kepada manusia sebagai akibat dari proses yang telah dijalaninya. Budaya Nusantara lebih selaras dengan kebijakan Sri Krishna. Berdasar buku: (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #TheGitaof ManagementIndonesia

Yang Kita peroleh dengan Tipu Muslihat sesungguhnya hanyalah ilusi, Maya

Pada saat meninggal kita akan kecewa, telah melakukan perbuatan penuh muslihat.

“Tirai Maya, hijab ilusif, yang terbuat dari tiga sifat alam – Sattva yang menenangkan, Rajas yang penuh gairah, dan Tamas yang membuat malas dan membodohkan – memang sungguh menakjubkan dan sulit dilampaui. Hanyalah mereka yang senantiasa berbakti pada-Ku, dan Jiwanya terpusatkan pada-Ku yang akan dapat melampauinya.” Bhagavad Gita 7:14

Maya – kekuatan ilusif ini adalah kekuatan-Nya, yang menimbulkan, memunculkan “kesan ciptaan”. Ya, “kesan ciptaan” – seperti kesan suka-duka, banjir-kering, panas-dingin, kelahiran-kematian, dan sebagainya yang kita peroleh saat menyaksikan sebuah pertunjukan. Semuanya sekadar kesan.

Kelahiran dan kematian; suka dan duka adalah tuntutan “peran” yang dimainkan oleh para pemain di atas panggung. Ketika “peran” itu berakhir, si pemain tidak ikut berakhir dengannya. Ia bisa muncul lagi dalam periode berikutnya, melanjutkan perannya. Atau, bahkan memainkan peran lain. Atau muncul dalam kisah lain.

Memang membingungkan – Kita selalu dibingungkan oleh kisah-kisah yang seolah tidak berkesinambungan, sebagaimana seseorang yang tiba-tiba menonton satu episode sinetron yang sudah berjalan lama. Ia tidak mengetahui kisah awalnya. Ia tidak tahu alur ceritanya seperti apa.

Mengetahui seluruh cerita, menyaksikan sinetron atau serial dari awal pun sesungguhnya hanyalah untuk menghibur diri. Janganlah percaya pada  peran yang dimainkan oleh setiap pemain. Itu bukan karakter mereka, bukan sifat mereka yang sesungguhnya.

Tertipu oleh peran – tertipu oleh karakter-karakter di atas panggung. Kita pun sedang menuju nasib yang sama. Mati secara alami dalam keadaan kecewa atau mati bunuh diri – sama saja. Unsur kekecewaan ada dalam keduanya.

Tapi apakah setiap orang mesti mengalami nasib yang sama? Tidak, Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Birbal Menteri Kaisar Akbar: Shreya dan Preya #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on February 20, 2018 by triwidodo

Pada masa pemerintahan Kaisar Akbar, kebijaksanaan Birbal tidak tertandingi. Adalah kakak ipar Akbar yang iri pada Birbal dan minta Akbar mencopot Birbal dan menunjuk dirinya yang lebih mampu sebagai pengganti Birbal. Sebelum Akbar mengambil keputusan, berita ini sudah sampai ke telinga Birbal. Birbal mengundurkan diri dan kakak ipar Akbar dijadikan menteri pengganti Birbal.

Akbar menguji menteri baru itu, “Habiskan 300 koin emas ini sedemikian rupa sehingga saya mendapatkan seratus koin emas di sini dalam kehidupan saat ini; seratus koin emas saya dapatkan di dunia lain; serta 100 koin emas lainnya tidak di sini atau di sana.”

Menteri baru sangat pusing, dan semalaman tidak bisa tidur memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah dari Kaisar Akbar. Akhirnya atas saran istrinya, dia mencari bantuan Birbal. Birbal berkata, “Beri aku koin emas itu dan akau akan menangani sisanya.”

Birbal berjalan di kota sambil membawa sekantong koin emas. Seorang pedagang kaya sedang merayakan pernikahan anaknya. Dan, Birbal memberi 100 koin emas dan membungkuk dengan sopan, “Kaisar Akbar mengirimkan ucapan selamat dan doa restu atas pernikahan anak Anda. Tolong diterima hadiah yang Kaisar kirim untuk Anda.” Pedagang itu merasa sangat terhormat, dan memberi sejumlah hadiah mahal dan sekantung koin emas sebagai hadiah untuk Kaisar.

Selanjutnya, Birbal pergi ke tempat-orang-orang miskin. Dia membeli makanan dan pakaian dengan nilai 100 koin emas dan membagikannya atas nama Kaisar.

Saat Birbal kembali ke kota ia mengorganisir sebuah konser musik dansa, dengan dana sebesar 100 koin emas.

Keesokan harinya, Birbal mengumumkan di depan jendela Kaisar bahwa dia telah melakukan apa yang diperintahkan ipar Sang Kaisar. Kaisar Akbar ingin tahu bagaimana Birbal melakukannya. Birbal menjelaskan dengan runtut apa yang telah dikerjakannya, “Uang Kaisar yang saya berikan kepada pedagang untuk kado pernikahan anaknya telah dikembalikan dengan jumlah yang sama. Uang Kaisar yang dihabiskan untuk membeli makanan dan pakaian bagi orang miskin akan kembali kepada Kaisar di dunia lain. Uang Kaisar untuk konser musik, tidak akan kembali di sini maupun di dunia lain…….

Kakak ipar Akbar egera mengundurkan diri dan Birbal menggantikannya kembali.

Uang yang kita keluarkan untuk teman kita akan dikembalikan atau diganti dalam wujud yang lain. Uang yang digunakan sebagai dana punia atau amal akan menjadi berkah dan menjadi milik kita yang kekal. Uang yang dihabiskan untuk kesenangan hanya terbuang percuma……………….

Batu Timbangan Kebenaran adalah Shreya atau Preya

Bhagavad Gita memberitahu kita, dalam setiap pekerjaan pilihannya dua: preya, menyenangkan, awalnya manis tapi akhirnya pahit karena memang racun; atau shreya yang mulia, awalnya pahit seperti obat, tapi akhirnya manis seperti nectar, amrita. Preya mengikat kita dengan dunia tapi memberi kesan palsu seolah puas. Shreya memberi kesan “tidak enak” padahal mulia dan bebas dari keterikatan. Pilihan ditangan kita.

………………..

Krsna menggunakan istilah Shreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah shreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan shreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Membedakan apa yang tepat dan apa yang tidak tepat

Tujuan Bhagavad Gita adalah meningkatkan kesadaran kita sehingga kita dapat membedakan antara apa yang tepat bagi kita dan apa yang tidak tepat. Bhagavad Gita sedang berbicara dengan kita dalam “keadaan jaga”, dan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk menganalisa, menimbang, dan memahami dengan betul sebelum menerima. Bhagavad Gita merubah sifat mind yang terkondisi dan bekerja secara mekanis tanpa pilihan,  menjadi buddhi yang bebas dari conditioning dan bisa memilih, dan memilah.

……………..

Kembali pada contoh tentang makanan, ketika melihat makanan yang kita sukai, renungkan adakah makanan itu bermanfaat bagi kesehatan badan atau hanya nikmat dan lezat di lidah, tapi berbahaya bagi kesehatan.

Pun demikian ketika mendengar musik dengan menggunakan earphone jenis super. Demi kenikmatan sesaat, kita sedang merusak jaringan syaraf kita sendiri, yang dapat membahayakan otak. Sekaligus, kita tidak mampu lagi untuk menikmati suara-suara alam yang halus, suara air, dan suara angin. Telinga kita sudah terbiasa dengan suara keras, ia sudah tidak peka terhadap suara-suara lembut. Tidak ada lagi kenikmatan alami baginya. Siapkah kita untuk menghadapi konsekuensi itu? Penjelasan Bhagavad Gita 15:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube: Satisfaction and General Wellbeing Part 1 by Swami Anand Krishna.

Apa yang dimaksud dengan yang memuaskan? Memuaskan terhadap apa? Terhadap tubuh, fisik kita? Terhadap pikiran kita? Apa yang memuaskan tubuh kita belum tentu memuaskan pikiran kita. Bahkan dalam tubuh yang sama, apa yang memuaskan lidah kita, kita ingin makan sesuatu yang kita anggap lezat, tapi tidak baik bagi kolesterol, tidak baik untuk sistem kita. Lidah adalah bagian dari tubuh. Lidah ingin mengecap sesuatu yang dirasa lezat. Tapi tidak memuaskan terhadap tubuh kita. Sehingga kita harus paham memuaskan dalam tingkat apa?

Dan konflik ini selalu berjalan. Dalam diri kita apa yang dianggap memuaskan bagi kita mungkin tidak memuaskan pada tingkat yang lain. Sehingga kita harus mencari keseimbangan, apa yang bagus bagi general well being, diri kita. Ini yang penting. Tidak begitu memuaskan, tapi bagus bagi diri kita? Dan itu mungkin tidak memuaskan di awalnya.

…………

Dalam satu titik kehidupan kita, kita harus betul-betul memilih, manakah bagus bagi diri kita. Dan apa yang baik bagi diri kita bukan peristiwa satu hari. Mungkin tidak memuaskan pada hari ini, tapi dalam perjalanan selanjutnya baik bagi kesehatan kita. Kita dapat mempraktekkan aturan ini dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya tentang kesehatan tapi dalam hubungan manusia, dalam banyak hal lain.

Silakan simak video youtube lengkap: Satisfaction and General Wellbeing Part 1 Diabetes and Karela by Swami Anand Krishna.

Beda Hasil Upaya Diri dengan Anugerah #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on February 19, 2018 by triwidodo

Ada sebuah kisah tentang dua orang sahabat sejati. Mereka saling memahami diri sahabatnya dan mereka berdua adalah para bhakta, sehingga hidup mereka hanyalah sebagai persembahan bagi Gusti. Madan adalah seorang hakim istana yang adil dan bijaksana, sedangkan Mohan adalah seorang pedagang yang jujur dan dapat dipercaya.

Masyarakat mencintai Hakim Madan karena keputsannya yang bijaksana. Akan tetapi tentu saja pejabat baik akan dimusuhi para pejabat yang tidak memperoleh keuntungan dari keputusannya. Demikianlah pada suatu hari Raja sendiri terpengaruh hoax dan Madan dimasukkan penjara. Pada waktu hukuman mati sudah ditetapkan, Madan diberi kesempatan menyampaikan satu permohonan sebelum eksekusi. Madan ingat ada pekerjaan rumah yang belum diselesaikan, maka dia mohon dapat kembali ke desanya terlebih dahulu dan berjanji setelah menyelesaikan pekerjaan dia akan kembali sebelum waktu eksekusi.

Sang Raja tentu saja menolak permintaan tersebut. Adalah Mohan, sahabatnya yang menjamin sang raja bahwa Madan dapat dipercaya, biarlah dia yang menggantikan Madan di penjara. Sang Raja menyetujui asal bila Madan tidak balik, maka yang akan dipenggal kepalanya adalah Mohan. Mohan menyetujuinya.

Madan kembali ke desanya dan menyelesaikan pekerjaannya yang masih terbengkalai. Waktu sudah hampir habis dan pekerjaan belum selesai juga. Madan sangat sedih bagaimana nanti nasih Mohan, sahabatnya yang sekarang di penjara menjadi jaminan bagi dia. Mohan sendiri sangat bahagia, bahkan berdoa semoga Madan tidak balik lagi dan dia rela dihukum mati sang raja, asal sahabatnya selamat.

Pada saat menjelang eksekusi, sang raja bingung melihat Mohan yang bahagia karena dapat menggantikan hukuman Madan. Eksekusi hampir tiba, saat Madan datang dengan wajah berseri karena dia dapat menjalani hukumannya dan Mohan, sahabatnya selamat.

Mohan sendiri menjadi bersedih hati karena dia mengharap Madan tidak balik dan dia rela dieksekusi. Sang raja semakin bingung melihat kedua sahabat yang saling mencintai tanpa syarat dan sama sekali tidak takut mati.

Sang raja biasa melihat orang yang tidak takut mati, bahkan semua perajuritnya bisa dikatakan tidak takut mati. Tapi ini tidak takut mati agar sahabatnya selamat. Mereka yakin bahwa sahabat mereka benar dan tidak bersalah. Ini membuat sang raja menjadi ragu, jangan-jangan mereka memang tidak bersalah.

Tiba-tiba sang raja merasa memperoleh anugerah, kalau yang dilakukan selama ini benar, tidak melanggar dharma maka mati pun sudah siap. Kedua orang sahabat tersebut telah melakukan hal yang benar selama hidup mereka, sehingga mereka tidak takut mati.

Raja bersabda, “Kalian berdua kubebaskan dari hukuman, tetapi kalian jangan hanya bersahabat berdua saja, masukkan saya menjadi sahabat kalian juga!”

Kategori Anugerah?

“Untuk memberkahi mereka, ‘Aku’ yang bersemayam di dalam sanubari mereka, melenyapkan gelap-ketidaktahuan, dengan menyalakan Pelita Pengetahuan Sejati.” Bhagavad Gita 10:11

Ayat ini mengandung makna yang luar biasa. Makna anugerah, arti berkah yang sesungguhnya. Rezeki, jodoh, kekuasaan, pangkat, pujian, makian dan lain-lain – semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri. Semuanya materi. Dari rezeki yang berlimpah hingga relasi dengan suami, istri, anak, orang tua – semuanya adalah konsekuensi dari karma kita sendiri, perbuatan kita sendiri. Entah karma sekarang di masa kehidupan ini, atau hasil akumulasi dari beberapa masa kehidupan sebelumnya.

Semua terjadi karena perbuatan kita, ulah kita. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya pula, dalam pengertian Hukum Sebab Akibat atau Karma pun ada kehendak-Nya.

Namun, semuanya itu belum berkah – bukan berkah. Untuk mendapatkan seorang pasangan yang baik – dibutuhkan “diri” yang baik. jika kita baik, kita menarik orang-orang baik sekitar kita. Kita bergaul dengan orang-orang baik. tinggal memilih pasangan. Jika mesti membayar hutang karma kepada seseorang – maka pasangan baik pun bisa menyusahkan, padahal dia orang baik. berpasangan dengan orang lain – ok. Dengan kita – tidak ok. Karma.

Berkah atau Anugerah Gusti Pangeran adalah ketika gelap-kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksadaraan kita sirna; dan sanubari kita, nurani kita menjadi terang-benderang. Berkah adalah ketika kita mampu memilah mana tindakan yang tepat, mana yang tidak tepat. Berkah adalah ketika cahaya kesadaran yang telah menerangi hidup – mulai memancarkan sinarnya dan menerangi setiap orang yang berinteraksi dengan kita.

Tentunya, tidak setiap orang akan ikut tercerahkan bersama. Tapi setidaknya pencerahan-diri kita akan membuat mereka gerah dengan kegelapan-diri mereka. setidaknya mereka akan terhantui oleh cahaya kesadaran yang terpancar dari diri kita. Dan pada suatu ketika, mereka mulai berupaya untuk menerangi dirinya. Inilah berkah, inilah Siklus atau Lingkaran Anugerah.

Bersyukurlah pada Gusti Pangeran atas segala rezeki dan materi lainnya, termasuk pasangan, anak, segala yang kita miliki. Tetapi jangan berhenti. Raih pula berkah-Nya.

Baca ulang beberapa ayat sebelumnya – Krsna sudah menjelaskan secara panjang lebar,bagaimana kita dapat meraihnya.

Kembali pada ayat ini, berkah-Nya menyalakan pelita kesadaran di dalam sanubari kita. Berarti, pelita itu sudah ada. Tidak dibawa dari luar. Tinggal dinyalakan saja. Gusti Pangeran sudah ada di dalam diri. Para guru di luar, para Sadguru hanyalah menunjukkan hal itu, ‘Lihat ke dalam’ – back to Godhead, kembali ke Tuhan; Vipasyana. Jernihkan pandanganmu, lihat ke dalam; Metanoia, balik masuk ke dalam dirimu sendiri.’

Seorang guru yang menciptakan halusinasi baru di luar diri dan mengharapkan kita untuk mengejarnya, menciptakan oase bayangan dan memberi kita harapan palsu – bukanlah guru sejati.

Guru sejati mengajak kita kembali kepada diri. begitu kita menoleh ke dalam diri – pelita kesadaran pun mulai menyala secara perlahan-lahan. Berkah-Nya turun dan  memperbesar nyala pelita ini sesuai dengan posrsi perolehan kita ke dalam diri.  Makin menoleh, makin membesar nyala pelita itu – hingga semuanya menjadi terang-benderang. Dan tanpa upaya apa pun, terang itu akan memancar keluar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia