Archive for March, 2018

Rabiah: Jangan Mencari di Luar! #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 31, 2018 by triwidodo

Rabiah al Adawiyah adalah salah satu wanita paling langka di seluruh sejarah manusia. Hanya ada beberapa nama yang bisa dibandingkan dengan Rabiah, tapi tetap saja dia langka, bahkan di antara beberapa nama – Meera, Theresa, Laila. Ini adalah beberapa nama. Namun Rabiah masih tetap langka. Dia adalah seorang KOH-I-NOOR, wanita paling berharga yang pernah dilahirkan. Wawasannya luar biasa.

Hasan juga seorang mistik terkenal tetapi dalam skala yang berbeda. Dan ada banyak cerita tentang Hasan dan Rabiah. Suatu hari Rabiah duduk di dalam gubuknya. Hari masih pagi, dan Hasan datang menemuinya. Dan matahari terbit dan burung-burung bernyanyi dan pepohonan menari. Ini adalah pagi yang sangat indah.

Dan Hasan memanggil keluar, “Rabiah, apa yang kamu lakukan di dalam? Keluar! Tuhan telah melahirkan pagi yang indah seperti itu. Apa yang kamu lakukan di dalam?” Dan Rabiah tertawa dan dia berkata, “Hasan, di luar hanya ciptaan Tuhan, di dalam adalah Tuhan sendiri. Kenapa kamu tidak masuk? Ya, pagi itu indah, tetapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Pencipta yang menciptakan semua pagi. Ya, burung-burung itu bernyanyi dengan indah, tetapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nyanyian Tuhan. Itu hanya terjadi ketika Anda berada di dalam. Kenapa kamu tidak masuk? Apakah Anda belum selesai dengan luar? Kapan kamu bisa masuk?”

Kisah-kisah seperti itu, kecil, tetapi memiliki makna yang luar biasa….

Suatu malam orang melihat Rabiah mencari sesuatu di jalan di depan gubuknya. Mereka berkumpul bersama – wanita tua yang malang itu sedang mencari sesuatu. Mereka bertanya, “Apa yang terjadi? Apa yang Anda cari?” Dan Rabiah berkata, “Saya kehilangan jarum saya.” Jadi mereka juga mulai membantu.

Kemudian seseorang bertanya, “Rabiah, jalannya besar dan malam segera turun dan tidak akan ada cahaya dan jarum adalah benda yang sangat kecil – kecuali jika Anda memberi tahu kami persis di mana benda itu jatuh, akan sulit ditemukan.”

Rabiah berkata, “Jangan tanya itu. Jangan bawa pertanyaan itu sama sekali. Jika Anda ingin membantu, membantu, jika tidak, tidak membantu, tetapi jangan memunculkan pertanyaan itu.”

Mereka semua berhenti – semua yang mencari – dan mereka berkata. “Apa masalahnya? Kenapa kita tidak menanyakan ini? Jika Anda tidak mengatakan di mana itu jatuh, bagaimana kami bisa membantu Anda?”

Rabiah berkata, “Jarum telah jatuh ke dalam rumah saya.” Mereka berkata, “Kalau begitu apakah kamu sudah gila? Jika jarum jatuh di dalam rumah mengapa kamu mencari di sini?” Dan Rabiah berkata, “Karena cahayanya ada di sini. Di dalam rumah tidak ada cahaya.”

Seseorang berkata, “Bahkan jika cahayanya ada di sini, bagaimana kita bisa menemukan jarumnya jika tidak hilang di sini? Cara yang benar adalah membawa cahaya ke dalam rumah sehingga Anda dapat menemukan jarumnya.”

Dan Rabiah tertawa, “Kamu orang yang pintar tentang hal-hal kecil. Kapan Anda akan menggunakan kecerdasan Anda untuk kehidupan batin Anda? Saya telah melihat Anda semua mencari di luar dan saya tahu betul, saya tahu dari pengalaman saya sendiri bahwa apa yang Anda cari hilang di dalam. Kebahagiaan yang Anda cari, Anda telah kehilangan dalam – dan Anda mencari di luar. Dan logika Anda adalah karena mata Anda dapat melihat dengan mudah di luar, dan tangan Anda dapat dengan mudah meraba keluar, karena cahayanya berada di luar, itulah sebabnya Anda mencari di luar. Jika kamu benar-benar cerdas, gunakan kecerdasanmu. Mengapa kamu mencari kebahagiaan di dunia luar? Apakah Anda kehilangannya di sana?”

Mereka berdiri tercengang dan Rabiah menghilang ke rumahnya. Dikisahkan oleh Osho…

Tujuan Hidup dan Makna Kehidupan

Tujuan hidup ini apa? Lahir, dibesarkan oleh orang tua, meraih pendidikan, bekerja, bekerluarga, banting tulang bagi orang lain, lantas pada suatu hari ajal tiba dan Malaikat Maut datang menjemput kita. Apakah hidup ini bertujuan? Anda boleh-boleh saja menetapkan tujuan-tujuan ilusif. Anda boleh-boleh saja membayangkan suatu tujuan. Setiap tujuan yang Anda bayangkan, tanpa kecuali, pada akhirnya toh akan mengantar Anda ke liang kubur.

Rabiah tidak berbicara tentang tujuan. Ia sedang memberikan “makna” pada kehidupannya. Pada saat kita lahir, Keberadaan Allah Yang Maha Kuasa memberikan selembar kertas kehidupan yang masih kosong. Apa yang akan Anda tulis di atas kertas ini sepenuhnya menjadi pilihan Anda. Anda bisa saja memilih untuk tidak menulis sesuatu apa pun. Anda bisa saja membiarkan lembaran itu tetap kosong. Anda bisa juga mengisinya dengan coretan-coretan yang tidak berguna. Ramai, tetapi tidak berarti sama sekali.

Anda bisa mengisi kehidupan Anda dengan selusin mobil, setengah lusin rumah, sekian banyak deposito, beberapa anak dan sebaiknya dan sebagainya. Anda bisa pula mengisinya dengan beberapa ijazah, beberapa penghargaan, jabatan-jabatan tinggi dan sebagainya dan sebagainya. Rabiah sedang mengisi lembaran kehidupannya dengan Cinta, dengan Kasih Allah. Ia memenuhi lembaran kehidupannya dengan kasih Allah. Ia tidak menyisihkan sedikitpun tempat untuk sesuatu yang lain, di luar Allah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berpengetahuan Tinggi atau Berkesadaran Tinggi

Rabiah bukan seorang cendikiawan. Seorang cendikiawan tidak bisa menjadi Rabiah. Seorang cendikiawan akan berusaha memahami Tuhan. Seorang Rabiah akan menyelami Tuhan. Seorang cendikiawan menggunakan egonya untuk mengkonsepkan Tuhan. Seorang Rabiah akan meleburkan egonya, dan melepaskan segala macam konsep.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Lagi-lagi saya harus mengingatkan Anda, pengetahuan apa yang dimiliki Muhammad, atau Yesus, atau Rabiah, atau Meera? Mereka tidak berpengetahuan tinggi, tetapi berkesadaran tinggi. Bahkan mungkin dapat disimpulkan, karena mereka tidak berpengetahuan tinggi, maka berkesadaran tinggi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Jiwa tidak terperangkap dalam batasan gender

Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan: Banyaknya Nabi yang pria, dikarenakan mengajar merupakan sifat Macho, Yang, Pria. Pria  cenderung memakai otak dan menjelaskan segala sesuatu berdasar logika dengan gamblang. Berlainan dengan wanita yang lebih banyak menggunakan rasa. Wanita mempunyai sifat feminin, kasih.

Walaupun demikian, Jiwa adalah identitas kita yang sesungguhnya dan Jiwa tidak terperangkap dalam pembatasan gender…………

Jiwa inilah identitas diri kita yang sesungguhnya. Bukan badan, bukan indra, bukan mind atau gugusan pikiran dan perasaan – semua itu entah terurai, atau berubah. Tidak demikian dengan Jiwa, yang adalah hakikat diri kita, hakikat diri setiap makhluk.

Jiwa, bagi Kṛṣṇa adalah percikan Jiwa Agung, sehingga berkualitas sama dengan Jiwa Agung, Kekal, Abadi, dan Melampaui segala sifat.

Kita, Terpaksa Menggunakan Istilah “Jiwa”. Karena “Ini”, “Itu”, dan “Dia” saja bisa membingungkan para pembaca, khususnya mereka yang sebelumnya, tidak pernah “berkenalan” dengan Bhagavad Gītā.

Hal ini, semata, untuk mempermudah pemahaman kita. Jiwa ini, sebagaimana dijelaskan oleh Kṛṣṇa, adalah Hakikat Diri kita. Jiwa tidak terperangkap dalam pembatasan jender. Ia maskulin, feminin, di antara keduanya – dan, sekaligus melampaui semuanya. Penjelasan Bhagavad Gita 2:18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Nagarjuna dan Pencuri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 31, 2018 by triwidodo

Master Nagarjuna hidup sederhana dengan mangkuk kayu di tangan, tetapi para raja dan ratu memujanya. Seorang ratu menyentuh kakinya, dan memberikan mangkuk emas bertatahkan berlian sebagai pengganti mangkuk kayu dan mohon Sang Master tidak menolaknya. Sang Master tidak menolaknya dan menukar mangkuk kayu dengan mangkuk emas tersebut. Sang ratu agak kaget karena Sang Master menerima, walau dia telah minta Sang Master tidak menolak. Pikiran sang ratu seharusnya Master menolaknya……

Seorang pencuri ulung melihat mangkuk emas itu dan mengikuti Master Nagarjuna ke rumahnya yang sederhana. Sang Master tahu dia diikuti pencuri, dan sampai di rumah dia melemparkan mangkuk emas bertatahkan berlian tersebut ke luar jendela seperti halnya barang yang tidak berharga. Sang pencuri kaget dan bingung karena mangkuk emas tersebut berada di dekat kakinya. Walau pencuri ulung dia masih mempunyai martabat. Sang pencuri berkata, “Terima kasih Master. Master adalah orang yang langka, membuang barang berharga seperti barang yang tidak berharga. Bolehkah saya menyentuh kaki Master?”

Nagarjuna berkata, “Masuklah! Bahkan saya telah membuang mangkuk itu sehingga Anda bisa masuk sebagai tamu.”

Pencuri tersebut terpesona melihat kedamaian Sang Master dan berkata, “Saya merasa iri dengan Master, adakah kemungkinan bagi saya suatu hari mencapai tingkat kesadaran Master?” Nagarjuna menjawab, “Itu mungkin. Itu adalah potensi setiap orang.”

Pencuri itu berkata, “Saya telah berkali-kali menemui orang suci dan mereka semua mengenal saya. Mereka meminta saya berhenti mencuri, baru mulai meningkatkan kesadaran. Saya telah mencoba berkali-kali tetapi selalu gagal. Tampaknya sifat dasar saya adalah mencuri, tolong jangan menyuruh saya tidak mencuri.” Nagarjuna berkata, “Mereka semua pastilah pernah mencuri, sehingga meminta kamu meneladani mereka. Pergilah mencuri dan lakukan segala sesuatunya sebaik mungkin. Dalam bidang apa pun bisa menjadi Master.”

Pencuri itu terkejut, “Lalu apakah yang Master sarankan?” Sang Master berkata, “Saya tidak mengatakan benar atau salah. Lakukan satu hal. Jika Anda ingin mencuri, mencurilah dengan sadar. Saat masuk ke dalam rumah orang, buka pintu, dan ambil barang dengan sadar. Dan, laporkan kepada saya setelah tujuh hari.”

Setelah tujuh hari, pencuri itu datang, membungkuk, menyentuh kaki Nagarjuna dan berkata, “Sekarang inisiasi saya menjadi sannyas.” Nagarjuna berkata, “Mengapa? Bagaimana dengan pencurian Anda?”

Dia berkata,”Master adalah orang yang licik! Saya mencoba yang terbaik: jika saya sadar, saya tidak bisa mencuri; jika saya mencuri saya tidak sadar. Saya hanya bisa mencuri ketika saya tidak sadar. Ketika saya sadar semuanya tampak begitu bodoh, sangat tidak bermakna. Apa yang saya lakukan? Untuk apa? Besok saya bisa mati. Dan mengapa saya terus mengumpulkan kekayaan? Saya memiliki lebih dari yang saya butuhkan; bahkan selama beberapa generasi saja sudah cukup. Semua itu terlihat tidak berarti sehingga saya segera berhenti. Selama tujuh hari saya masuk ke dalam rumah orang dan keluar dengan tangan kosong. Dan menjadi sadar itu sangat indah. Saya telah mencicipi untuk pertama kalinya, dan itu hanya rasa kecil – sekarang saya bisa membayangkan betapa Master menikmati, betapa Master merayakannya. Sekarang saya tahu bahwa Master adalah raja sejati – telanjang, tetapi Master adalah raja sejati. Sekarang saya tahu bahwa Master memiliki emas asli dan kami bermain dengan emas palsu.”

Pencuri itu menjadi murid Nagarjuna. Dikisahkan oleh Osho

Pertama Sadar, baru Bebas dan kemudian Hidup

Sadar, bebas dan hidup. Perhatikan urutan ini. Anda harus mulai dari kesadaran. Sadar dulu, baru memproklamasikan kemerdekaan. Kemerdekaan, kebebasan tanpa kesadaran tidak akan tahan lama. Kesadaran adalah bekal awal. Tanpa bekal itu, kemerdekaan yang anda proklamasikan tidak bermakna sama sekali. Sewaktu-waktu, jiwa anda bisa dijajah kembali. Dulu penjajahnya lain, sekarang penjajahnya lain. Budak tetap budak. Sekali lagi, sadarilah kemampuan diri, potensi diri-keilahian dan kemuliaan diri. Setelah menyadarinya, baru memproklamasikan kemerdekaan. Baru membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat diri anda, yang merantai jiwa anda. Kemudian anda baru hidup. Anda baru bisa menikmati hidup ini. Anda baru bisa merayakan kehidupan anda! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sadar bahwa saya adalah Penghuni Badan

Anda hanyalah penghuni badan ini. Anda adalah Jiwa Abadi yang menghuni badan ini. Dibutuhkan sedikit pengalihan kesadaran. Anda bukan badan, tetapi penghuni badan. Begitu Anda sadar bahwa Anda bukan badan, masalah Anda selesai pada saat itu juga. Karena selama ini yang menghadapi masalah selalu badan Anda. Apabila Anda berhasil memisahkan diri dari badan, masalah pun selesai. Penjelasan Bhagavad Gita 2:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Menjalani Peran Masing-Masing

Dalam sandiwara kehidupan ini, setiap peserta telah mendapatkan perannya masing-masing. Sebagai seorang kesatria, bertempur di medan perang demi menegakkan Kebenaran merupakan kewajiban Arjuna. Itulah peran yang harus dibawakan oleh Arjuna.

Anda seorang pengusaha – Itulah peran Anda. Medan tempur Anda adalah perusahaan Anda. Para prajurit Anda adalah staf Anda. Senjata Anda adalah modal Anda. Sahabat-sahabat Anda adalah para debitur dan kreditur Anda. Jadilah seorang bintang yang baik, pemain yang baik.

Anda seorang seniman, Anda seorang tukang sapu, atau apa pun profesi Anda, di mana pun Anda berada, Anda dapat saja memainkan peran Anda dengan baik.

Jangan menangisi nasib Anda, “Oh, saya ini hanya tukang sapu yang tak berdaya.” Sebagai tukang sapu pun Anda dapat mencapai tingkat excellence. Apa pun bidang Anda, Anda bisa membawakan peran Anda dengan baik. Jangan melarikan diri seperti apa yang mau dilakukan oleh Arjuna! Penjelasan Bhagavad Gita 2:31 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Ingin Mengganti Peran Kita? Berubah!

KITA MAU JADI APA? Puaskah kita sebagai Kaurava? Atau, kita ingin menjadi Pandava dan bersahabat dengan Krsna? Atau, malah ingin memainkan peran Krsna?

Jika mau menjadi Kaurava, maka silakan tetap berada dalam kubu adharma. Saat ini, mayoritas di antara kita berada dalam kubu tersebut.

Tapi, jika ingin mendapatkan peran Pandava atau Krsna, maka kita mesti pindah kubu. Kita mesti memperkaya diri dengan dharma, kebajikan. Penjelasan Bhagavad Gita 11:29 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Keyakinan di Pasang-Surut Kehidupan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 29, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang pria yang habis menikah, pulang ke rumah bersama istrinya. Mereka menyeberangi selat kecil dengan perahu, ketika tiba-tiba badai besar muncul. Pria itu adalah seorang ksatria, tetapi wanita itu menjadi sangat takut. Perahu ini kecil, sedangkan gelombang badai benar-benar besar. Tetapi pria itu tetap tenang.

Si wanita gemetar dan berkata, “Apakah Kanda tidak takut? Ini mungkin saat terakhir hidup kita! Saya tidak melihat bahwa kita akan mampu mencapai pantai seberang. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan kita, jika tidak selamat kita pasti mati. Apakah Kanda tidak takut? Apakah Kanda marah? atau Kanda terbuat dari batu?”

Si pria tertawa dan mengeluarkan pedang dari sarungnya. Kemudian dia meletakkan pedang tersebut di dekat leher si wanita, begitu dekat hampir menyentuh lehernya. Si pria bertanya, “Apakah Dinda takut?”

Si wanita jadi tertawa dan berkata, “Mengapa saya harus takut? Karena pedang itu di tangan Kanda, mengapa saya takut? Dinda tahu Kanda mengasihiku?”

Si pria meletakkan kembali pedang tersebut pada sarungnya dan berkata, “Itu adalah jawaban Kanda. Saya tahu Gusti mengasihi saya, dan pedang ada ditangan-Nya, badai ada di tangan Gusti. Jadi apa pun yang akan terjadi adalah demi kebaikan. Jika kita bisa bertahan hidup bagus; jika kita tidak bisa bertahan hidup, bagus juga, karena semuanya ada dalam tangan Gusti.”

Keyakinan si pria memberi ketenangan pada si wanita. Keyakinan yang besar tersebut dapat mengubah seluruh kehidupan kita. Demikian kisah Osho

Pada waktu latihan AIM Yoga, afirmasi pertama adalah “Aku membuka diri terhadap semua kemungkinan (kedua belah tangan dibuka) dan aku menerima setiap keadaan (kedua tangan ditutup dalam posisi namaskar). Kita melakukan itu beberapa kali. Semoga afirmasi itu tertanam dalam hati-sanubari kita untuk siap menerima apa pun kejadian yang akan menimpa diri kita.

 

Ciri-ciri seorang Bhakta

Bagaimana ciri-ciri seorang Bhakta? Bagaimana mengenalinya? Gampang…… Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam keadaan suka maupun duka – ia tetap sama. Ketenangannya kebahagiaannya, keceriaannya – tidak terganggu.  Ia bebas dari rasa takut. la tidak akan menutup-nutupi Kebenaran. la akan mengungkapkannya demi Kebenaran itu sendiri. la menerima setiap tantangan hidup…..

la bersikap “nrimo” – nrimo yang dinamis, tidak pasif, tidak statis. Pun tidak pesimis. Menerima, bukan karena merasa tidak berdaya; iklas, bukan karena memang dia tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima kehendak Ilahi sebagaimana Isa menerimanya diatas kayu salib. Ia berserah diri pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Muhammad memaknai Islam sebagai penyerahan diri pada-Nya.

Pasang-surut dalam kehidupan seorang Bhakta tidak meninggalkan bekas. Tsunami boleh terjadi, tetapi jiwanya tidak terporak-porandakan. Banyak yang berprasangka bahwa sikap “nrimo” membuat orang menjadi malas. Sama sekali tidak. Sikap itu justru menyuntiki manusia dengan semangat, dengan energi  Terimalah setiap tantangan, dan hadapilah!               

Seorang Bhakta selalu penuh semangat. Badan boleh dalam keadaan sakit dan tidak berdaya – jiwanya tak pernah berhenti berkarya. la akan tetap membakar semangat setiap orang yang mendekatinya.

“Jadilah seorang Bhakta,” demikian ajakan Sri Krishna kepada Arjuna, di tengah medan perang Kurukshetra. Tentunya, ia tidak bermaksud Arjuna meninggalkan medan perang dan melayani fakir-miskin di kolong jembatan. Atau, berjapa, berzikir pada Hyang Maha Kuasa, ber-keertan, menyanyikan lagu-lagu pujian. Tidak. Krishna mengharapkan Arjuna tetap berada di Kurukshetra, dan mewujudkan Bhaktinya dengan mengangkat senjata demi Kebenaran, demi Keadilan.

Ingatlah pesan Sri Krishna kepada Arjuna: “Janganlah engkau membiarkan dirimu melemah di tengah medan perang ini. Angkatlah senjatamu untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan. Janganlah memikirkan hasil akhir, janganlah berpikir tentang untung-rugi.     Berkaryalah sesuai dengan tugas serta kewajibanmu dalam hidup ini!”

Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Mempersembahkan Hasil Akhir kepada Gusti

Jangan ‘asal berkarya’ – jangan asal ‘berbuat’. Jangan asal ‘makan’. Jangan asal ‘hidup’. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh, bagi lingkungan, bagi masyarakat.

Di anak tangga berikutnya adalah Meditasi – Senantiasa menyadari kesadaraan Ilahi di dalam diri, inilah Meditasi. Pemusatan kesadaran pada Ilahi, itulah Meditasi. Meditasi, berarti hidup berkesadaran. Melakoni hidup secara meditatif.

Jadi, apa yang dijelaskan Krsna dalam ayat ini adalah langkah-langkah progresif. Setiap langkah mengantar kita pada langkah berikut yang lebih mulia dan memuliakan.

Pengetahuan sejati pun tidak berarti apa-apa jika tidak dihayati. Bukan sekadar ‘tahu’, tetapi menghayati pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa ‘dihidupi’, akan menjadi basi, tidak berguna.

‘Hayat’ dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti ‘hidup’. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah meditasi yang sebenarnya. Inilah meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… Dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada ‘laku’ – ya, kembali pada laku. Tapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

‘Laku’ di anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakakan; laku yang meditatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan segala atribut tambahan tersebut, laku di anak tangga tersebut sudah bukan laku biasa.

Tidak seperti laku di anak tangga awal. Laku di anak tangga ini adalah laku seorang panembah, laku dengan semangat manembah. Dan, bukanlah sekedar itu, laku di anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna ‘renunciation’ atau ‘tyaga’.

Berati, bukan sekadar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dimuliakan. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Tunduknya “Istri Pria Sekota” #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 28, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang wanita paling cantik di kota, dengan istilah “istri pria sekota” jatuh cinta pada seorang sanyasin yang lewat di depan rumahnya. Dia mengajak biarawan tersebut tinggal sementara di rumahnya, karena musim hujan tiba dan Sang Buddha tidak bepergian selama musim hujan. Dan para sanyasin menginap di sekitar kota tersebut.

Sanyasin tersebut berkata, “Terima kasih. Saya hanya perlu bertanya kepada Guru saya, jika dia memberi izin, besok pagi saya akan hadir di depan pintu rumah Anda.”

Wanita cantik tersebut tidak dapat mempercayai sanyasin tersebut. Para sanyasin yang lain ribut, dan sebagian cemburu. Tidak mungkin ini diberi toleransi.  Mereka berpikir pasti ditolak Sang Buddha.

Ketika sanyasin tersebut bertanya kepada Sang Buddha, Buddha memandang sanyasin tersebut dan berkata, “Kau bisa tinggal bersamanya.”

Para sanyasin ribut. Apakah Sang Buddha tidak melihat resikonya? Bahkan raja yang hebat saja terperangkap olehnya. Apalagi pemuda polos tersebut.

Buddha berkata kepada para sanyasin yang ribut tersebut diminta menunggu selama 4 bulan……….

4 bulan kemudian sanyasin tersebut datang menyentuh kaki Sang Buddha. Para sanyasin berkata, “Katakan sekarang, apa yang terjadi?”

Sanyasin tersebut berkata, “Tunggu sebentar biar wanita itu datang dan lebih baik mendengar dari mulut dia sendiri.”

Wanita itu datang menyentuh kaki Sang Buddha dan minta diinisiasi sebagai sanyas.

Sang Buddha bertanya, “Mengapa?”

Wanita tersebua berkata, “Saya mencoba merayunya, tetapi saya gagal. Dia merayu saya! Dia merayu saya menjadi sannyas! Selama empat bulan saya mencoba segala cara, tetapi dia tetap seperti daun teratai. Saya menari telanjang di sekelilingnya dan dia bermeditasi! Saya tidak pernah gagal dalam hidup saya, ini adalah pertama kalinya. Untuk pertama kalinya saya terkesan oleh seorang pria, untuk pertama kalinya saya bertemu seorang pria! Hingga kini saya hanya melihat budak. Mereka mungkin raja yang hebat tetapi mereka semua menyentuh debu kakiku, tunduk padaku. Ini adalah satu-satunya orang yang pernah saya lihat yang tetap seperti daun teratai. Saya mencoba segala cara – makanan yang baik, ruangan yang indah, pakaian yang indah, tempat tidur yang indah, setiap kenyamanan yang mungkin baginya – dan dia berkata tidak! Saya gagal. Saya tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Dan dia sering menertawai saya.”

Demikian kisah Osho.

Dalam diri sanyasin itu sudah terpatri pertanyaan: “Untuk apa kalian meninggalkan rumah dan keluarga? Karena kenikmatan berumah-tangga dan kenyamanan berkeluarga ternyata tidak membahagiakan, kalian merasa perlu mengejar sesuatu yang lebih berharga. Lalu kenapa harus tergoda lagi oleh hal-hal yang sama? Oleh sesuatu yang justru telah kalian tinggalkan?”

Sanyasin itu tidak meninggalkan apa yang berharga yang diperolehnya dari sang Buddha dan menggantinya dengan sesuatu yang tidak membawa kebahagiaan………………..

Pesan Shankara kepada para Biarawan

“Melihat payudara dan pusar seorang perempuan cantik, janganlah engkau tergiur dan terbawa nafsu; semuanya hanya permainan daging dan lemak, ingatlah selalu hal itu…” Bhaja Govindam 3

Jangan lupa bahwa Shankara sedang bicara dengan para murid. Lebih spesifik lagi, dengan para renunciate, para petapa, para biarawan—dengan mereka yang telah meninggalkan rumah dan keluarga untuk sesuatu yang mereka anggap lebih berharga. Dan, pada saat Bhaja Govindam ini dinyanyikan, yang hadir kebetulan “kaum pria”. It was an all men affair. Oleh karena itu bait ini memang ditujukan bagi mereka.

Ada yang menuduh Shankara bersikap diskriminatif. Dia “menjelek-jelekkan” kaum hawa. Tidak sama sekali. Mereka yang memiliki pandangan seperti itu perlu membaca karya-karya Shankara yang lain, seperti Saundarya Lahiri, di mana Shankara memuji dan mengagungkan kelembutan wanita.

Shankara tidak menjelekkan wanita. Dia tidak antiperempuan. Yang dia kritik justru nafsu pria yang bisa bangkit kapan saja, di mana saja. Melihat pusar saja bisa tergiur. Shankara tidak pula menyalahkan wanita scbagai penggoda atau pembangkit nafsu dalarn diri pria. Sebab itu, Shankara juga tidak merasa perlu memberi petunjuk khusus tentang cara berpakaian bagi wanita.

Sampai hari ini pun bila seorang wanita India memakai sari (kain tradisional), pusarnya tetap terlihat. Yang merasa tergoda, silakan tidak melihat—as simple as that.

Lewat bait ini, Shankara mengajak para muridnya untuk tetap berjalan menuju tujuan, dan tidak tergoda oleh pemicu-pemicu picisan dalam perjalanan: “Untuk apa kalian meninggalkan rumah dan keluarga? Karena kenikmatan berumah-tangga dan kenyamanan berkeluarga ternyata tidak membahagiakan, kalian merasa perlu mengcjar sesuatu yang lebih berharga. Lalu kenapa harus tergoda lagi oleh hal-hal yang sama? Oleh sesuatu yang justru telah kalian tinggalkan?”

Ada dua cara untuk mengatasi godaan seperti itu: Pertama, seperti yang dianjurkan Shankara lewat bait ini, yaitu dengan cara “membedah” objek yang menggoda kita. Payudara itu apa sih, penis itu apa sih—bukankah sama-sama terbuat dari darah, daging, dan lemak? Yang beda hanyalah bentuknya. Itu saja.

Cara kedua dipakai oleh Sri Ramakrishna, Guru Vivekananda. Melihat payudara wanita, ingatlah payudara ibumu sendiri. Lihatlah wujud ibumu dalam diri setiap wanita. Kita tinggal memilih, cara mana yang lebih cocok dengan tabiat kita. Karena, tidak setiap cara, setiap metode cocok bagi sctiap orang.

Shankara menggunakan bait kedua dan ketiga untuk membebaskan para pendengarnya dari godaan kanchan dan kaamini—harta benda dan wanita. Godaan kanchan dan kaamini dapat juga diartikan sebagai “rasa kepemilikan” dan “hawa nafsu”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hidup Bagai Teratai

Kelahiran Menyebabkan Segala macam Pengalaman – Anda tidak dapat menghindari pengalaman –pengalaman Anda. Semuanya itu merupakan akibat dari kelahiran Anda.. Krishna menganjurkan agar kita menghadapi segala situasi dengan kesadaran. Dengan kesadaran bahwa semuanya itu wajar-wajar saja, jangan mengeluh. Keluhan Anda hanya membuktikan bahwa Anda belum dapat memahami mekanisme kehidupan, bagaimana Anda dapat melakoninya? Hiduplah dalam dunia ini dengan kesadaran semacam itu, dan Anda akan terbebaskan dari rasa duka dan kegelisahan, dari stres yang disebabkan oleh kelahiran Anda. Anda tetap berada dalam dunia yang sama ini tetapi alam Anda sudah berbeda.

“Seorang yang mempersembahkan segala perbuatannya kepada Brahman — Jiwa Agung; dan bebas dari segala keterikatan — tidak lagi tersentuh oleh dosa-kekhilafan, sebagaimana daun bunga teratai tidak terbasahkan oleh air di kolam.” Bhagavad Gita 5:10

Lahir, tumbuh, dan hidup di tengah lumpur-dunia, kita pun bisa tidak tersentuh oleh dosa-kekhilafan, sebagaimana bunga teratai dan daunnya tidak ikut menjadi kotor karena dan oleh lumpur yang menghidupinya. Bahkan air pengaruh dunia dan lingkungan pun tidak membasahi kita.

APAKAH MUNGKIN HIDUP SEPERTI ITU? Sangat mungkin. Hidup di tengah keramaian dunia; badan dan indra berfungsi sesuai dengan fungsi masing-masing, tapi Jiwa tidak tercemarkan.

Bunga teratai atau lotus, adalah simbol dari kehidupan seorang bijak. Dalam tradisi-tradisi Timur, teratai atau lotus adalah simbol pencerahan, hidup berkesadaran.

Para Lama, petapa dan pelaku berbagai jenis laku spiritual di dataran tinggi Tibet senantiasa mengingatkan diri mereka akan hal ini dengan mengulang-ulanginya sepanjang hari………

OM MANI PADME HUM – “Sembah Sujudku kepada Mutiara Kesadaran Murni yang berada di tengah bunga Padma, Teratai Pencerahan.”

Mantra yang diulang-ulang terus-rnenerus ini bukanlah mantra biasa, bukanlah ucapan biasa — tetapi, adalah reminder untuk mengingatkan para pengucapnya. “Hiduplah bagaikan teratai. Tetap bersih, suci, walau berada di tengah lumpur.

“Upayakan pencerahan sekarang, dan saat ini juga. Di tengah keramaian dunia. Tidak perlu lari ke mana-mana. Mutiara Kesadaran Murni, Brahman, Jiwa Agung, Gusti Pangeran, Buddha — apa yang sedang kau cari dapat diperoleh di dalam dirimu sendiri. Temukan!”

Hidup dengan penuh kesadaran seperti ini, niscaya dosa-kekhilafan tidak dapat memengaruhi kita. Hidup menjadi sangat alami. Mulut bekerja sesuai dengan fungsinya, kadang jika ada toksin-toksin, racun-racun yang ikut masuk bersama makanan, maka organ-organ di dalam tubuh akan memisahkannya dan mendorongnya keluar lewat usus besar dan Iubang anus. Kita tidak teracuni.

Hidup berkesadaran, hidup alami — dan tiada lagi kekhawatiran apa pun bagi kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Cara Menghadapi Kematian #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on March 27, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang raja bermimpi bahwa bayangan gelap meletakkan tangannya di pundak sang raja. Sang raja ngeri karena saat ditanya siapakah bayangan tersebut, dia menjawab, “Aku adalah kematianmu, bersiaplah. Besok saat matahari akan terbenam, aku akan datang kepadamu.”

Mimpi buruk itu membuat sang raja cemas. Dia segera memanggil semua orang bijak ke istana, termasuk para astrolog dan raja memberitahu tentang mimpinya. Sang raja bertanya apakah arti mimpi itu? Apakah benar bahwa kematian akan terjadi?

Semua orang bijak, orang pintar, astrolog semuanya ramai berdebat tentang mimpi sang raja. Tapi mereka tidak bisa sampai pada kesimpulan tindakan apa yang harus diambil sang raja. Semua mempertahankan argumennya dengan sengit. Sampai pagi hari, semua orang mengatakan hal yang berbeda.

Adalah pengawal sang raja yang sudah tua, yang merawat sang raja sejak kecil karena ibunya meninggal, yang paling dipercaya oleh sang raja. Pengawal itu berkata, “Pemikir hebat, filsuf, dan astrolog telah berdebat selama berabad-abad dan mereka tidak pernah sampai pada suatu kesimpulan. Apakah Paduka Raja berpikir mereka akan memberikan kesimpulan dalam 12 jam sampai matahari terbenam?”

Sang raja berpikir, “Betul juga pendapat pengawal ini, mereka adalah orang-orang yang hanya tahu bagaimana berdebat; mereka tidak pernah sampai pada suatu kesimpulan. Mereka berdebat dengan baik tetapi pertanyaannya bukan keindahan argumen, pertanyaannya adalah apa kesimpulan dari semua filosofi Anda? Tidak ada kesimpulan sama sekali. Tidak ada dua filsuf yang setuju satu sama lain.”

Raja bertanya kepada pengawalnya, “Lalu apa yang kau usulkan?”

Sang pengawal tua berkata, “Biarkan mereka berdiskusi; tidak ada salahnya. Tetapi Paduka mengambil kuda tercepat dan pergi sejauh mungkin dari istana. Sangat berbahaya berada di tempat ini, setidaknya selama dua belas jam. Setelah matahari terbenam, Paduka bisa mulai kembali, tetapi tidak sebelum itu. Cara terbaik adalah menuju Damaskus, ibu kota dari kerajaan lain. Jadi saya akan tahu di mana menemukan Paduka, untuk memberi Paduka kesimpulan mereka. Aku akan datang di belakang Paduka.”

Sang raja patuh terhadap sang pengawal tua. Pergi dari istana dengan kuda terbaik dan memacu kuda sekencang mungkin. Sang raja dan kudanya bahkan tidak berhenti untuk makan atau minum air. Ini adalah hal yang sangat penting dalam kehidupannya. Mereka mencapai dekat Damaskus, tepat di luar kota, saat matahari terbenam. Mereka berhenti di hutan mangga dan saat sang raja mengikat kuda ke pohon, dia menepuk leher kudanya dan dia berkata, “Kudaku, kamu terbukti menjadi teman baik. Kau belum pernah berlari begitu cepat sebelumnya; kamu pasti mengerti situasiku. Dan kita telah menempuh ratusan mil.”

Saat matahari terbenam dia segera merasakan tangan yang sama di pundaknya dari belakang. Bayangan gelap itu ada di sana dan berkata, “Saya juga harus berterima kasih kepada kuda raja. Saya khawatir apakah raja akan dapat mencapai tempat ini pada waktu yang tepat atau tidak? Itu sebabnya saya datang untuk memberi tahu raja. Ini adalah tempat yang ditakdirkan untuk kematian raja, dan kuda tersebut membawa raja tepat waktu.”

Demikian cerita Osho.

Kematian adalah Hal yang Pasti

Diantara sekian banyak ketidakpastian dalam hidup ini, mungkin hanya “kematian” yang merupakan satu-satunya kepastian. Aneh, selama ini kita sibuk mengejar ketidakpastian. Dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sudah “pasti”. Sesungguhnya, mempersiapkan masyarakat untuk “menerima” kematian adalah tugas agama dan para praktisi keagamaan. Tugas ini sudah lama terlupakan, karena para praktisi keagamaan pun tidak sepenuhnya memahami proses kematian. Lalu, penjelasan apa yang dapat mereka berikan? Yang dapat mereka lakukan hanyalah menteror manusia, mengintimidasi dan menakut-nakutinya dengan ancaman api neraka atau alam kubur yang sunyi sepi…… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kehidupan itu sebagai Garis Datar atau berupa Siklus?

SIKLUS KEHIDUPAN – Siklus atau cycle bersifat circle, bulatan. Jika kita memahami kehidupan sebagai garis datar, entah horizontal atau vertikal, maka kita tidak bisa tidak bersedih hati atas kematian orang yang kita sayangi, karena kehidupan sudah berlalu. Tidak ada kemungkinan bagi kita untuk  bertemu dengannya lagi. Pertanyaannya: Apa iya demikian?

Jika kita memperhatikan alam, lingkungan sekitar kita, atau jika kita memahami hukum-hukum kebendaan, antara lain sebagaimana terungkap dalam Ilmu Fisika, maka kita sudah pasti memahami pula bila sesungguhnya kematian adalah mitos. Perubahan adalah abadi. Materi berubah bentuk saja….

Jika kita memahami rumusan Einstein tentang relativitas, maka sesungguhnya materi adalah energi dalam bentuk lain. Dan, energi itu sendiri tidak pernah hilang, selalu ada, hanya berubah bentuk.

Inilah sebab para bijak yang memahami kehidupan sebagai siklus, tidak akan berduka atau bersedih hati karena mereka. Sesungguhnya mereka sedang menjalani proses perubahan wujud. Penjelasan Bhagavad Gita 2:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Menghadapi Kematian Tanpa Rasa Cemas

Dalam cerita Mahabharata disampaikan bahwa Yudhistira bertemu dengan Dharmaraja, yang salah satu tugasnya adalah sebagai Yama, pencabut nyawa. Mereka berdialog dan Dharmaraja sedang menguji Yudhistira dengan pertanyaan, “Apa hal yang paling menakjubkan di dunia ini?”

Yudhistira menjawab, “Yang paling menakjubkan adalah kita semua menyaksikan kematian, tapi kita tidak percaya itu akan terjadi pada diri itu kita.”

Selama kita masih berusia 30-40 tahun. Bahkan kadang-kadang sampai 50 tahun, kita hampir tidak percaya bahwa kita akan mati. Kita masih mengejar ini, itu.

Tapi setelah usia 60 an tahun, sebetulnya 50 tahun dan apabila kita sensitif setelah usia 36 tahun.  Kita sudah merasakan bahwa arah jarum jam tidak bisa dibalik. Titik puncak energi kita adalah 36-38 tahun dan kemudian mulai menurun………………..

Setelah kita mulai tua sering sakit-sakitan, energi kita terasa menurun, kita baru sadar bahwa pada suatu saat kita akan mati. Baterai kehidupan dalam diri ada batasnya. Walau baterai long life semacam duracell atau alkaline eveready tetap ada batasnya.

Menyadari kematian adalah keniscayaan, membuat kita mempunyai kesadaran baru, bagaimana kita dapat memanfaatkan sisa hidup yang kita miliki. Apa yang ingin kita lakukan besok lakukan hari ini. Apa yang kita rencana lakukan hari ini lakukan sekarang juga. Kita seharusnya bekerja dengan semangat itu. Dikutip dari petikan video youtube: Menghadapi Kematian Tanpa Rasa Cemas oleh Bapak Anand Krishna.

 

Persiapan menghadapi Kematian

Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian? Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Pesan Bapak Anand Krishna

Kematian adalah keniscayaan yang tak dapat dihindari. Mau jungkir balik seperti apa pun, setiap yang lahir mesti mati. Apa yang menyertai kita saat itu? Saat itu yang menyertai kita “hanyalah” kebaikan yang kita lakukan sepanjang hidup. “Perbuatan baik” bukanlah sekedar “amal saleh” – tetapi amal-saleh yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Seperti itu juga yang dikatakan oleh Sufi Besar Rumi, bukan sekedar bersedekah, tetapi memastikan bahwa uang yang kita peroleh untuk menjalani hidup dan bersedekah pun kita peroleh dengan cara yang baik, dan tidak menyakiti, mencelakakan, menipu atau memeras orang lain.

Hidup berkesadaran adalah perbuatan baik. Seorang yang telah sadar tidak bisa tidak berbuat baik. segala apa yang dilakukannya sudah pasti baik. sebaliknya, tanpa kesadaran perbuatan yang tampak baik pun kadang malah mencelakakan orang lain. Memberi uang kepada seorang pemabok sepertinya perbuatan baik, padahal tidak. Uang itu malah merusak dia. Perbuatan baik adalah perbuatan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan untuk menyadarkan orang lain.

Murid Mencari Guru atau Guru Mencari Murid? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on March 26, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Buddha Gautama datang ke sebuah kota. Seluruh penduduk kota siap mendengarkannya, akan tetapi Buddha terus menunggu sambil melihat ke belakang. Seorang gadis menjelang remaja, sekitar 13 tahun menghentikan Buddha di jalan, dan mengatakan, “Tunggu aku ya. Aku akan memberikan makanan kepada ayah saya di kebun, tapi aku akan segera kembali. Tolong jangan lupa tunggu aku ya!”

Para sesepuh kota berkata kepada buddha, “Untuk siapakah Paduka menunggu? Semua orang penting hadir dan Paduka bisa memulai wacana Paduka.”

Buddha tersenyum, “Tetapi orang yang telah saya datangi sejauh ini belum hadir dan saya harus menunggu.”

Akhirnya, remaja wanita tersebut datang dan berkata, “Saya agak terlambat, tapi Paduka menepati janji. Saya tahu Paduka akan menepati janji. Paduka harus menepati janji, karena saya sudah menunggu sejak saya sadar……… mungkin saya berusia 4 tahun saat mendengar nama Paduka. Nama Paduka mulai membunyikan lonceng di hati saya. Sudah sejak sepuluh tahun saya sudah menunggu.”

Buddha berkata dengan tersenyum, “Kamu tidak menunggu dengan sia-sia. Kamu adalah orang yang telah menarik saya ke desa ini.”

Remaja tersebut berkata, “Saya sudah menunggumu cukup lama, dan saya ingin bersamamu.”

Buddha berkata, “Iya, kamu harus bersamaku, aku tidak bisa datang lagi ke sini, aku sudah tua.”

Malam hari setelah acara wacana di kota selesai, Murid Utama Buddha, Ananda bertanya, “Sebelum Paduka pergi tidur, saya ingin mengajukan satu pertanyaan: apakah Paduka merasakan dorongan tertentu terhadap wilayah tertentu, seperti tarikan magnet?

Buddha menjawab, “Kau benar. Begitulah cara saya memutuskan perjalanan saya. Ketika saya merasa ada orang yang haus – sangat haus bahwa tanpa saya, tidak ada jalan bagi orang tersebut – saya harus bergerak ke arah itu.”

Sang Guru bergerak menuju murid. Murid bergerak menuju Guru. Cepat atau lambat mereka akan bertemu. Pertemuan itu bukan dari tubuh, pertemuan itu bukan dari pikiran. Pertemuan itu adalah jiwa – seolah-olah tiba-tiba kita membawa dua lampu dekat satu sama lain; lampu tetap terpisah tapi nyala api mereka menjadi satu. Antara dua tubuh saat jiwa adalah satu, sangat sulit untuk dikatakan bahwa itu adalah sebuah hubungan. Bukan, tapi tidak ada kata lain. Ini adalah satu-satunya. Demikian kisah Osho

 

Awalnya Kita Tidak Pernah Ragu terhadap Murshid, Guru

Jalan spiritual, dan penunjuk jalan yang kita peroleh dalam hidup ini adalah “hasil” dari pencarian kita sendiri. Selama entah berapa abad, berapa lama, berapa masa kehidupan, jiwa mencari terus. Akhirnya ia memperoleh apa yang dicarinya. Dan, jiwa sadar sesadar-sadarnya bila apa yang diperolehnya itu adalah hasil pencariannya. Ketika kita berhadapan dengan seorang murshid kita tidak pernah ragu. Kita langsung “jatuh hati”. Keraguan muncul ketika ia mulai memandu. Karena panduannya tidak sejalan dgn pola pikir kita yang lama. Inilah yang dimaksud dalam ayat, “setelah datang seorang pemberi peringatan, mereka (malah) lari (menjauhi).”

Kesalahan seperti ini telah kita lakukan dari zaman ke zaman. Apakah kita tidak diberi tanda-tanda yang tegas tentang sang pemberi peringatan? Apakah kita tidak merasakan kehangatan persahabatan kita dengannya? Kita diberi tanda-tanda yang jelas, kita melihat, kita merasakan. Tapi, pikiran tidak menerima, “itu tanda-tanda yang salah, keliru. Itu bukanlah perasaanmu yang sebenarnya. Kejarlah perasaanmu yang sebenarnya.” Pikiran justru menciptakan “rasa palsu”, emosi buatannya sendiri, untuk menjauhkan kita dari rasa segala rasa. Kita lupa akan rasa itu, bhavana itu, dan terbawa oleh napsu, emosi rendahan untuk kembali mengejar bayang-bayang. Demikian salah satu wejangan Bapak Anand Krishna……

Karma Mempertemukan dengan Guru

Pertemuan dengan seorang Atisha, dengan seorang Dharmakirti, bukanlah suatu kebetulan. Anda tidak bisa menemui mereka secara kebetulan. Karma anda mempertemukan anda dengan mereka. Perbuatan dan tindakan anda selama sekian banyak masa kehidupan berbuah dan menghadirkan seorang Atisha, seorang Dharmakirti dalam hidup anda.

Lalu apa yang anda lakukan? Anda menyia-nyiakan kesémpatan itu. Anda tidak sungguh-sungguh menerimanya, mengundangnya untuk bermukim di dalam jiwa anda. Yang anda buka bukanlah pintu hati, tetapi hanya jendela pikiran. Sebagaimana telah anda sia-siakan sekian banyak masa kehidupan sebelum ini, masa kehidupan ini pun akan berlalu begitu saja, tanpa terjadinya peningkatan kesadaran sama sekali.

Karena itu, bangunlah sekarang. Bangkitlah, sadarlah! Sudah cukup lama anda tidur. Tinggalkan tempat-tidur anda, ranjang anda. Salamilah matahari pagi!

Menerima Dharmakirti, menerima Atisha, berarti menerima kririk dan ujian, hujatan, cacian dan makian. Kalau anda belum menerimanya, tunggu dulul Seorang Dharmakirti, seorang Atisha akan mengeruhkan suasana sedemikian rupa, sehingga anda akan rnenerima semua itu.

Kehadiran seorang Dharrnakirti, seorang Atisha, seorang Yesus, seorang Muhammad, seorang Siddhartha, seorang Krishna, seorang Zarathustra, seorang Bahaullah akan membuat sendi-sendi kehidupan anda gonjang-ganjing. Jika anda bertemu dengan seorang master, dan hidup anda tidak tergonjang-ganjing, ketahuilah hahwa yang anda temui itu bukanlah seorang Dharmakirti atau Atisha. Ia bukan seorang master.

Seorang master akan merombak total kehidupan anda. Kendati demikian, ia tidak akan memulai pekerjaannya, jika anda belum siap untuk itu. Ia akan menunggu dan ia bisa menunggu untuk waktu yang lama sekali. Begitu anda siap, ia pun akan memulai pekerjaannya. Seorang Dharmakirti, seorang Atisha, tidak puas melihat anda dalam keadaan “lumayan”. Ia menawarkan “kesempurnaan” dalam Kasunyatan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Alam akan Membimbing Seorang dengan Sifat Daivi

“JANGANLAH KHAWATIR, ARJUNA, KARENA KAU LAHIR DENGAN SIFAT BAWAAN DAIVI ATAU ILAHI!” lni adalah kata-kata yang membakar semangat Arjuna. Namun, Krsna tidak menggunakan kata-kata ini sekadar untuk menyenangkan Arjuna. Tidak. Krsna tahu persis seperti apakah Arjuna di dalam masa kehidupan sebelumnya. Lalu, kenapa Arjuna tidak mengingatnya?

Ada kalanya, seorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi pun “lupa” akan sifat bawaannya. Ini bisa disebabkan oleh pendidikan, pengaruh lingkungan, atau berbagai faktor lain. Termasuk, pengalaman-pengalaman dahsyat dalam kehidupan ini, yang membuatnya lupa-ingatan sementara. Arjuna adalah korban lupa ingatan atau amnesia sementara. Pengalaman tinggal dalam pengasingan selama belasan tahun dan saat ini menghadapi perang dahsyat — semuanya membingungkan Arjuna, sehingga ia lupa, lupa akan hakikat jati dirinya. Namun, amnesia macam ini tidak pemah bertahan lama.

ALAM KEBENDAAN TIDAK MAMPU memperbudak seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi. Seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi, tidak selamanya menderita amnesia, atau lupa-ingatan tentang hakikat dirinya.

Sebab itu, pertemuan dengan seorang Krsna, seorang Sadguru atau Pemandu Rohani, adalah berkah Ilahi. Hujan berkah ini turun bagi mereka semua yang siap untuk menerimanya. Dan Jiwa terguyur oleh siraman rohani yang dapat membantunya bangkit dari tidur panjang. Apa yang sebelumnya terlupakan, teringat kembali. Apa yang sebelumnya tertutup, terbuka kembali. Apa yang sebelumnya gelap, menjadi terang-benderang. Penjelasan Bhagavad Gita 16:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Pertimbangan Sosial atau Ketulusan Kasih #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 25, 2018 by triwidodo

Mana yang harus didahulukan? Guru atau pertimbangan sosial?

Dalam buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Bapak Anand Krishna menerjemahkan bebas kalimat Raja Salomo, Nabi Sulaeman: “Apa yang pernah ada (di masa lalu) akan ada lagi (di masa mendatang). Apa yang pernah terjadi; sesungguhnya tiada sesuatu yang baru di bawah langit.”

Kisah lama ini pun masih relevan dibahas dalam kondisi masa kini…….. Ketika Maria Magdalena datang untuk melihat Yesus, dia membawa sebotol parfum yang sangat mahal dan dia menuangkannya ke kakinya.

Judas segera berkata, “Ini tidak benar. Anda seharusnya melarangnya melakukan hal itu. Ini tidak bagus; ini sia-sia. Uang sebanyak ini bisa memberi makan orang miskin di seluruh kota selama beberapa hari.”

Tentu saja, intelek kita juga akan setuju dengan Yudas. Argumennya benar-benar sosialistik. Dia berbicara dengan benar, dan dia tahu lebih banyak ekonomi daripada Yesus. Itu benar; mengapa kotoran kaki dicuci dengan parfum mahal? Kaki bisa dicuci dengan air. Tidak perlu menuangkan parfum mahal seperti itu.

Argumennya benar, tetapi apa yang Yesus katakan?

Yesus berkata, “Orang miskin akan selalu bersamamu, tapi aku tidak akan selalu bersamamu. Anda bisa memberi makan orang miskin di kemudian hari saat saya pergi, tapi saya tidak bisa menghentikannya. Anda hanya bisa melihat parfumnya, saya melihat hatinya. Saya tidak bisa mengatakan tidak padanya. Dalam cinta yang mendalam, dalam meluap, tidak menemukan cara untuk mengekspresikan, dia telah menuangkan parfum itu. Saya tidak bisa menolaknya.”

Hmm … tetapi argumen Yesus tidak sekuat argumen Yudas. Marx akan setuju dengan Yudas, Mao juga akan setuju dengan Yudas, dan saya tidak berpikir bahwa siapa pun akan setuju dengan Yesus.

Kalau kita melihat dari besarnya rasa syukur, besar mana rasa syukur dari orang yang berbuat dosa kecil dimaafkan, atau besar rasa syukur dari orang yang berbuat dosa besar yang dimaafkan? Jelas semakin besar dosa kita dan dimaafkan kita akan semakin bersyukur.

Kecemburuan pada Maria

Semua orang tahu. Ya, di zaman itu semua orang tahu bahwa Maria sangat dekat dengan Yesus. Kedekatan fisik atau jasmani yang dinikmati oleh Maria membuat banyak orang cemburu. Ketika ia membasuh kaki Sang Guru dengan air matanya, lalu mengeringkan dengan rambutnya, dan meminyakinya dengan parfum yang diimpor dari India, banyak yang cemburu. Kecemburuan itu kemudian mereka bungkus rapi dengan berbagai dalil yang “masuk akal”. Kenapa harus memboroskan uang begitu banyak untuk meminyaki kaki guru? Kenapa tidak menyedekahkan uang itu kepada fakir miskin? Ah, Yesus lagi… wanita itu kan tuna susila … Nabi koq mau berhubungan dengan seorang wanita tuna susila? Kita lupa bahwa Yesus datang bagi kita yang sakit. Ia datang untuk menyembuhkan penyakit kita. Seorang wanita tuna susila tidak lebih sakit daripada seorang pejabat tinggi yang korup. Dan, seorang pejabat yang korup tidak lebih asusila daripada seorang agamawan yang mengintimidasi umatnya, kemudian menawarkan solusi, supaya tokonya selalu ramai. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bagi Maria Pencerahan Identik dengan Yesus

Bagi Maria, kesadaran identik dengan Guru. Bagi dia, pencerahan identik dengan Yesus yang dicintainya. Di balik kejadian itu ia tidak melihat andil dirinya sama sekali. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memperoleh pencerahan itu. Apa yang terjadi atas dirinya semata-mata karena “berkah”, karena rahmat, karena anugerah Sang Guru! Kelak, Nanak pun akan mengatakan hal yang sama. Kelak, bertahun-tahun setelah kejadian: Ik Omkaar, Sadguru Prasaad –Hyang Tunggal Itu kutemui berkat rahmat Guruku! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Guru satu-satunya cara untuk menafikan mind, menafikan ego

Mind adalah gudang thoughts atau satuan pikiran. Kumpulan dari satuan pikiran membentuk mind, mengkristal menjadi mind. Mind penuh dengan unit-unit kecil pikiran, ditambah dengan keinginan, obsesi, ingatan atau memori, imajinansi, dan masih banyak hal lain. Maria memahami seluk-beluk mind. Ada seorang wanita yang mengaku menerima wahyu dengan perantaraan Malaikat Jibril. Kenapa? Karena mind-nya memiliki rekaman tentang Jibril. Walau ia mengaku menerima wahyu yang bersifat universal, lintas agama dan diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, tetap saja ia tidak bisa membebaskan diri dari memori tentang Jibril, sehingga wahyu pun dikaitkannya dengan Malaikat Jibril.

…………….

Inilah satu-satunya cara untuk menafikan ego. Tidak ada cara lain. Kehadiran seorang Guru dalam hidup kita semata-mata untuk membantu kita tidak menjadi egois. Guru bagaikan katalisator, “perantara yang ada dan tidak ada”. Ia bagaikan  awan yang “menyebabkan” keteduhan untuk sejenak dan berlalu. Awan “tidak memberi” keteduhan, ia “tidak membuat” teduh: ia “menyebabkan” terjadinya teduh. Itulah Guru. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Cara Menafikan Ego dalam Bhagavad Gita

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu.

Selain itu, juga dibutuhkan suasana asram (ashram), padepokan tempat kita bisa berinteraksi dengan support group yang terdiri dari orang-orang sehati, para pencari kebenaran. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Pencerahan Maria Magdalena

Sang Guru tersenyum, “Maria, kau mengalami apa yang pernah dialami oleh Magadhi – Perempuan Agung yang menolak kerajaan Magadha dan memilih untuk menjadi pengikut Buddha – Amrapali!” Sejak itulah Sang Guru selalu memanggilnya dengan julukan Magadhi. Perempuan dari Magadha. Saat itu, di Timur Tengah tidak ada kota atau dusun dengan nama Magadha. Maria sendiri berasal dari kota Bethany. Hingga hari ini pun para teolog masih bingung, kenapa Maria dari Bethany disebut Magdalena? Apakah Maria dari Bethany dan Maria Magdalena itu satu orang? Barangkali mereka dua orang yang berbeda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hubungan paling mesra Murshid dan Murid

Hubungan antara seorang guru dan siswa sesungguhnya adalah “persahabatan”. Itulah sebabnya dalam tradisi Islam, misalnya, para murid nabi Muhammad disebut “para sahabat”. Satya Sai Baba, seorang Guru di India sering menyebut para muridnya “Prema Svaroopa” atau “Atma Svaroopa”, yang berarti, “Perwujudan Cinta Kasih”, “Wujud Kesadaran Murni”. Itu tidak berarti bahwa para murid sudah mencapai kesadaran itu. Panggilan itu justru untuk mengajak para murid untuk melakukan perenungan, “Sudahkah aku mencapai Kesadaran itu?” Bila sudah, dia akan berupaya untuk senantiasa mempertahankannya. Bila belum, dia akan berupaya untuk mencapainya. Hubungan antara guru dan siswa, murshid dan murid, master dan disciple, mungkin merupakan hubungan yang paling mesra. Tidak heran bila hubungan antara Jalaluddin Rumi dan Shams, hubungan antara Yesus dan Maria Magdalena, hubungan antara Krishna dan Radha, sering disalahpahami, disalahartikan, disalahtafsirkan.

Mesranya hubungan antara murshid dan murid tidak bisa tidak melahirkan energi yang mencerahkan. Kesiapan diri seorang murid dan kedekatannya dengan sang murshid menyebabkan terjadinya “pencerahan”. Dan, pencerahan seperti itu tidak semata-mata mencerahkan si murid; sang murshid pun sedikit lebih tercerahkan olehnya. Bila matahari pencerahan terbit, baik murid maupun murshid memperoleh sinarnya. Enlightment, my dear ones, is an ongoing process. Pencerahan terjadi terus-menerus. Pencerahan tidak pernah berhenti. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)