Empati Penuh Kasih #BhagavadGitaIndonesia

Dikisahkan tentang seorang pria setengah baya yang luhur budinya. Bagi dia Hyang Ada hanyalah Gusti, semua manusia dan alam ini pada dasarnya adalah proyeksi Sang Gusti juga. Setiap bertindak dia selalu berdoa, “persembahan adalah Gusti, yang bertindak mempersembahkan adalah Gusti, dan persembahan tersebut juga dipersembahkan kepada Gusti.” Hyang ada hanyalah Gusti tak ada Gusti yang lain. Dia sudah bisa melihat Jiwa yang sama dalam setiap orang………….

Pada suatu hari saat sedang berjalan-jalan, dia melihat sebuah tas dan memungutnya, dan memperhatikan bahwa dompet yang ada dalam tas tersebut kosong. Tiba-tiba seorang wanita membawa seorang polisi dan minta menangkap pria tersebut. Wanita tersebut berkata, “Tolong kembalikan uang saya, ini adalah untuk biaya sekolah anak saya, suami saya sudah meninggal.”

Pria itu melihat wanita itu benar-benar sedih, maka pria tersebut menyerahkan semua uangnya kepada wanita tersebut sambil berkata, “Ambil uang ini dan saya mohon maaf atas peristiwa ini.” Wanita itu pergi dan polisi menahan pria untuk diinterogasi lebih lanjut.

Wanita itu sangat bahagia uang untuk sekolah anaknya sudah kembali, tapi saat menghitung uangnya di rumah, dia kaget karena jumlahnya dua kali lipat dari yang dia punyai. Dua hari kemudian dia pergi di jalan yang sama pergi ke sekolah anaknya untuk membayar sekolah. Wanita itu memperhatikan ada seorang pria kurus yang berjalan di belakangnya, dan mengira ada seorang jahat yang mengincar tasnya. Pada waktu dia dekat dengan seorang polisi yang ternyata polisi yang sama dengan saat di kehilangan uangnya, dia melporkan tentang seorang pria yang mengikutinya yang diperkirakan orang jahat yang mengincar tasnya. Tiba-tiba pria yang mengikutinya jatuh di jalan dan dia serta polisi tersebut mendatangi pria yang jatuh tersebut.

Pria tersebut terlihat sangat lemah dan polisi itu berkata, “Dia tidak mencuri uang Anda, dia tidak mengembalikan uang Anda. Dia memberi Anda uangnya karena dia mendengar Anda kehilangan uang untuk membayar sekolah anak Anda.

Wanita dan polisi itu membantu pria tersebut berdiri dan pria tersebut berkata, “Silakan segera membayar uang sekolah putra Anda, saya mengikuti Anda untuk memastikan bahwa tidak ada penjahat yang mencuri uang Anda.”

Wanita itu terdiam dan matanya berkaca-kaca, betapa luhurnya pria tersebut………..

Tiba-tiba wanita tersebut teringat nasehat Orang Suci “bahwa di dunia ini tidak ada yang bersifat kebetulan. Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

Wanita itu juga teringat nasehat Orang Suci “bahwa suatu peristiwa hanyalah satu episode sinetron dalam kehidupan ini. Untuk memahami kisah secara keseluruhan kita perlu tahu peran kita pada episode kehidupan sebeumnya dan apa yang kita perbaiki pada episode ini akan berpengaruh pada episode kehidupan berikutnya……………..”

Melihat Jiwa yang sama dalam setiap orang

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Berarti, melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Bukan saja di balik wujud-wujud yang indah, tapi di balik wujud-wujud yang tidak indah.

BAHKAN, DALAM “DIRI” HEWAN…… Ya, hewan pun memiliki “diri”. Mereka pun berkepribadian. Setiap hewan adalah unik. Bukan saja unik-jenis, tapi unik-rupa antar hewan yang sejenis. Persis seperti manusia, tidak ada dua ekor kucing atau dua ekor anjing yang serupa. Sifat mereka pun bisa beda. Ada anjing yang tenang, sementara kembarannya galak.

Rasa empati kita mesti meluas dari detik ke detik. Meluas terus, hingga mencakup seluruh alam yang “terjadi” atas kehendak-Nya.

LIHATLAH GUSTI PANGERAN DALAM DIRI MEREKA YANG TELANTAR… Dalam diri orang-orang yang “dibuang”, ditinggalkan, dilupakan. Sesekali waktu, kunjungilah penjara-penjara, Anda akan menemukan mayoritas tahanan adalah orang-orang yang terlupakan, bahkan oleh keluarga terdekat. Layani mereka.

Layani mereka yang dianggap sampah oleh masyarakat — mereka yang disebut pecandu, pekerja seks. Layani mereka, karena hanyalah pelayanan tulus Anda yang dapat memunculkan harapan baru di dalam diri mereka, harapan untuk berubah, harapan untuk mencari jati diri, harapan untuk berkesadaran Jiwa.

Pelayanan ceramah-ceramah para ahli kitab yang hanya berteriak-teriak “dosa”, “ampun”, dan sebagainya – tidak membantu. Mereka malah tenggelam lebih dalam lagi dalam anggapan-anggapan keliru tentang identitas diri mereka.

Pelayanan memberikan nasi kotak pun semestinya hanya menjadi pelengkap, bukan pelayanan utama. Pelayanan utama adalah berbagi kesadaran.

Pelayanan utama adalah membantu mereka menemukan Pelita Pencerahan di dalam diri mereka masing-masing. Membantu mereka menyalakan dan menjaga nyala pelita itu, supaya tidak padam lagi. Pelayanan utama adalah ketikakita melihat mereka semua sebagai wujud ilahi. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Hidup adalah Persembahan

Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina

“Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 4:24

Awalnya kita bertindak dengan semangat persembahan. Berikutnya, dualitas antara “kita yang bertindak” atau “kita yang mempersembahkan” dan “Gusti Pangeran yang menerima persembahan” pun sirna. Tiada lagi yang memisahkan seorang panembah dari Obyek Tunggal Panembahannya.

Ayat ini dibaca sebelum melakukan apa saja… Umumnya, sebelum makan. Tapi, sesungguhnya kita bisa, dan memang semestinya, kita mengucapkannya sebelum melakukan apa saja.

…………….

Banyak penerjemah menerjemahkan yajna sebagai sacrifice, kemudian ketika kata sacrifice diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menjadi “pengorbanan”.

Yajna bukanlah pengorbanan sebagaimana kita memahami arti kata pengorbanan yang secara umum. Bahkan, kata “pengorbanan” itu sendiri, yang berasal dari istilah populer di Timur Tengah, yaitu Qurban dari kata induk Qurb – tidaklah sepenuhnya menerjemahkan semangat dibaliknya.

Qurb berarti kasih, bisa juga diartikan sebagai suatu tindakan yang mendekatkan kita dengan-Nya – Qurb. Dalam pengertian ini, maka Yajna dan Qurban menjadi mirip – dua-duanya dilandasi kasih, rasa empati.

Yajna ala Krishna menuntut supaya kita beryajna dulu, baru menikmati sisanya. Tidak sama dengan menikmati dulu, baru berbagi sisanya.

Ritus Agnihotra atau Homa, di mana kita mempersembahkan rempah-rempah dan sebagainya adalah simbolik, untuk mengingatkan kita setiap pagi dan setiap sore bahwa semangat yajna mesti menjadi penggerak kita sepanjang hari. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: