Ibu, Aku Mencintaimu! #BhagavadGitaIndonesia

Sebuah kisah tentang seorang pria yang berhenti pada sebuah toko bunga untuk memesan seikat mawar yang akan dikirimkan ke ibunya yang tinggal di kota lain dengan jarak sekitar 200 km. Ayah pria tersebut sudah meninggal dunia beberapa saat sebelumnya. Saat ke luar mobil dia melihat seorang anak kecil perempuan duduk di depan toko sambil menangis terisak-isak. Pria tersebut bertanya, ada masalah apa? Dan dijawab anak tersebut bahwa dia ingin membeli mawar merah untuk ibunya, tetapi hanya punya tujuh puluh lima sen, sedangkan harga satu mawar adalah dua dollar.

Pria tersebut tersenyum dan berkata, “Ayo ikut saya. Akan kubelikan mawar.” Pria itu membeli mawar bagi anak perempuan itu dan memesan bunga mawar bagi ibunya agar dikirim toko tersebut ke rumah ibunya. Pria itu memberikan bunga kepada anak perempuan dan menawari kalau dia mau diantar ke rumahnya. Anak perempuan tersebut sangat berterima kasih, ikut naik mobil dan menunjukkan tempat ibunya.

Pria itu kaget, ternyata dia mengemudikan mobil menuju pemakaman, dan anak perempuan tersebut meletakkan mawar pada sebuah kuburan yang masih baru.

Pria itu kembali ke toko bunga, membatalkan pesanan dan membeli sebuah buket bunga dan mengemudikan langsung mobilnya ke rumah ibunya yang berjarak 200 km.

Kita tidak pernah bisa membalas kebaikan orangtua kita. Kita bisa menjadi seperti saat ini adalah karena orangtua kita yang mengasihi kita sejak kecil.

Kita lahir di dunia dan pertama-tama kita mengenal kedua orangtua kita. Kemudian kita menjadi dewasa dan kita mengenal beberapa orang yang dekat dengan kita. Hubungan dengan orang-orang terdekat tersebut adalah karena hubungan karma. Dan kita harus bisa menyelesaikan karma dengan sebaik-baiknya. Mereka yang tidak ada kaitan karma tidak pernah bersinggungan dengan kita. Berhubungan baiklah dengan semua orang yang kita temui, termasuk yang bertemu dalam media sosial. Kita dapat menyelesaikan karma dengan mereka tanpa harus membuang waktu bertemu langsung……

Hubungan dengan 20 orang terdekat

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna disampaikan tentang hubungan keterikatan dengan keluarga:

“Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Dikutip dari video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda. Oleh karena itu jangan membuat karma buruk!

Tidak meninggalkan keluarga tapi melayani tanpa keterikatan

“Dengan sepenuhnya membebaskan diri dari keterikatan, rasa takut dan amarah; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, sepenuhnya berlindung pada-Ku; serta menyucikan diri dengan tapa, laku spiritual untuk mengetahui Hakikat-Diri; banyak yang telah mencapai kesadaran-Ku dan manunggal dengan-Ku.” Bhagavad Gita 4:10

Tidak henti-hentinya Krsna mengingatkan kita bahwa kesadaran tertinggi bukanlah rnonopoli diri-Nya.

SIAPA SAJA BISA MENCAPAI-NYA, asal kita berupaya dengan sungguh-sungguh. Yaitu, dengan cara membebaskan diri dari keterikatan. Tidak berhenti bekerja, tapi bekerja tanpa pamrih. Tidak meninggalkan keluarga, tetapi mencintai dan melayaninya tanpa keterikatan. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

https://www.facebook.com/bukuspiritual/

 

Keterikatan bukan Landasan Kehidupan

Banyak juga yang beranggapan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa keterikatan, “Mana mungkin hidup tanpa keterikatan keluarga, pekerjaan segala? Bagaimana dengan kewajiban-kewajiban manusia?

Mereka yang berpaham demikian, umumnya menjadikan keterikatan sebagai landasan mereka berkeluarga, bekerja, dan bahkan untuk bertahan hidup.

SALAH PAHAM INI MEMUNCULKAN EG0, aku, ke-“aku”-an, keangkuhan, dan ilusi. Hasilnya adalah suka dan duka, panas dan dingin, dan pengalaman-pengalaman lain yang saling bertentangan.

Pernahkah kita berpikir balik, ketika sedang hangat-hangat berpacaran, apakah kita merencanakan perkawinan untuk “saling mengikat”? Pernahkah kita memikirkan “keterikatan”? Pacaran supaya “aku bisa terikat denganmu” — begitu? Atau, bekerja di kantormu, supaya aku bisa “terikat dengan kantormu”? Begitukah?

Jelas tidak. Ketika berpacaran, landasannya adalah cinta. Ketika mencari pekerjaan, landasannya adalah penghasilan. Bukankah demikian secara umum?

KEMUDIAN, DARI MANAKAH TIMBULNYA KETERIKATAN? Cinta meluntur, kepuasan berakhir — dan keterikatan muncul. Sepasang suami-istri yang menikah setelah rnengakhiri masa pacaran selama belasan tahun sejak di bangku SMP — berakhir dengan cerai. Setelah cerai, baru sadar bahwa selama beberapa tahun sebagai suami-istri, cinta di antara mereka sudah hilang, diganti, diambil tempatnya oleh keterikatan.

Bersama keterikatan, muncul pula rasa kepemilikan, kecemburuan, dan kekecewaan. Hasil akhir: Perceraian. Namun, kisah kita belum selesai, setelah cerai….

MEREKA SALING MERINDUKAN – Namun, lagi-lagi, bukan karena Cinta, tetapi karena, “Sekarang, sebelum pergi ke kantor, mesti mempersiapkan makan pagi dulu,” Atau, “Dulu ada yang menjemput, sekarang pulang kantor mesti naik taksi.”

Untuk disiapkan makan pagi dan disopiri — itukah alasan kita berpacaran dan menikah? Untuk menyiapkan makan pagi, pembantu sudah cukup. Untuk menjemput dari tempat kerja — kita perlu menggaji seorang sopir. Kita tidak perlu kawin untuk itu!

Dalam perkawinan maupun pekerjaan, kita mesti memiliki Integritas Tinggi untuk membuat dan menjaga komitmen. Dan landasan komitmen dalam perkawinan adalah Cinta. Bagi pekerjaan, landasannya adalah Kepuasan Hati. Keterikatan tidak bisa dijadikan landasan.

KITA TERKAIT DENGAN MASAKAN JAWA, maka ke Jepang pun mencari nasi pecel. Bayangkan betapa terbatas jadinya wawasan kita! Cobalah hidangan Jepang, apa salahnya? Hidup memiliki sekian banyak warna — termasuk warna-warna yang belum pernah terdeteksi oleh mata manusia. Masih ada segudang warna kehidupan yang dapat di-explore — mengapa mesti mernbatasi diri dengan keterikatan pada beberapa warna saja?

Keterikatan mempersempit wawasan kita. Jiwa yang hendak berpetualang, tersesakkan oleh keterikatan dan keterbatasan ilusif.

Keterikatan membuat kita tidak mampu keluar dari kepompong dan terbang di alam bebas sebagai kupu-kupu. Jika kita terikat dengan kepompong — kita tidak akan pernah menjadi kupu-kupu. Padahal, terbang bebas seperti kupu-kupu adalah takdir kepompong; kebebasan adalah takdir kita!

KETERIKATAN BUKANLAH LANDASAN KEHIDUPAN – Letting go adalah landasan bagi kehidupan. Setiap saat kita melewati saat sebelumnya. Saat yang sudah berlalu tidak pernah kembali. Penjelasan Bhagavad Gita 15:5 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

One Response to “Ibu, Aku Mencintaimu! #BhagavadGitaIndonesia”

  1. Fastidious replies in return of this matter with real arguments
    and explaining the whole thing on the topic of that.

Leave a Reply to toko bunga Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: