Suka dan Duka Silih Berganti! Nggak Bosan? #BhagavadGitaIndonesia

Dikisahkan seorang pria yang baru saja kembali dari bepergian di luar kota selama beberapa bulan, menemukan rumahnya sedang terbakar. Rumah dia adalah rumah terindah di kota, dan banyak orang yang siap membelinya dengan harga 2 kali lipat. Dia tidak pernah menyetujui penjualannya dan sekarang sedang terbakar di depan matanya. Tidak ada yang bisa diselamatkan dan dia menjadi sangat sedih.

Tidak berselang lama anak pertamanya datang dan membisikkan, “Pa, rumah kita sudah kami jual kemarin dengan harga bagus, mohon maaf kami tidak menunggu Papa!”

Pria tersebut tidak jadi sedih dan berkata, “Syukurlah rumah yang terbakar ini sudah bukan milik kita lagi.” Dan ada rasa suka dalam hati pria tersebut.

Tiba-tiba anak kedua datang dan berkata kepada Pria tersebut, “Papa, mohon maaf kami kemarin hanya minta dibayar uang muka saja kepada pembeli. Dan saya ragu apakah dia masih bermnat membeli atau membiarkan uang muka dia untuk kita, tanpa meneruskan pembayaran sampai lunas.”

Kembali pria tersebut menjadi sedih lagi…..

Selanjutnya anak ketiga datang, “Pa, saya baru saja datang dari pembeli rumah, dan dia berkata bahwa dia konsisten. Terbakar atau tidak saya akan menyelesaikan pembayaran rumah tesebut.”

Kembali pria tersebut dan ketiga anaknya tidak sedih lagi mendengar berita tersebut.

Permainan apa pula ini, rumah terbakar, peristiwanya sama dan sedang berlangsung, tapi rasa duka dan suka silih berganti………… Demikianlah kita……

Atisha menjelaskan sifat mind manusia penyebab dia mengalami suka atau duka

Ada tiga hal yang berbisa, yang juga bisa menjadi landasan bagi kebijakan. Kita harus melakukan perenungan sedikit. Apa maksud Atisha ? perhatikan pikiran anda; perhatikan pola kerja mind anda. Mind yang selama ini terasa begitu liar, sesungguhnya memiliki pola kerja yang sangat sederhana. Ibarat perseneling mobil. Mind hanya memiliki tiga gigi. Tidak lebih dari itu. Suka, tidak suka dan cuwek, itulah gigi-gigi mind. Tidak ada gigi keempat, kelima dan seterusnya. Hanya tiga gigi. Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan itu; Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan, dan antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuwek terhadap sesuatu.

Atisha bukan seorang utopian. Ia tidak berhalusinasi, tidak berimajinasi. Ia sedang memberikan solusi. Pertama, lepaskan diri dari perbudakan mind. Kedua, gunakan mind untuk membantu anda dalam hidup ini. Sekarang kita terkendalikan oleh mind dengan tri fungsinya. Nanti, kita akan mengendalikan mind, tetap dengan tri fungsinya juga. Aktifkan “Kesadaran” dan mind dengan trifungsinya dapat dijadikan landasan yang kukuh, landasan yang dapat menyangga bangunan kehidupan anda. Tri fungsi mind ini dapat Memperindah kehidupan anda. Fungsi pertama, suka-sukailah kesadaran fungsi kedua, tidak suka jangan menyukai ketidaksadaran. Fungsi ketiga, cuwek bersikaplah demikianlah terhadap mereka yang menghujat anda. Apabila itu yang ada lakukan, apabila pekerjaan itu yang anda berikan kepada mind, maka mind yang sama justru bisa memperkukuh kesadaran anda. Mind menjadi alat yang sangat efektif. Mind tidak akan memperalat anda lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #AtishaIndonesia

Dunia yang mempesona ini hanyalah bayangan Gusti, terpesonalah pada Gusti

Selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri. Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayangan-Nya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini.

Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis.

Hyang Mahamenawan adalah raja segala raja. Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar dengan-Nya. Sungguh sangat tidak masuk akal.

Silakan melayani keluarga. Silakan mencintai kawan dan kerabat. Tapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri. Kekuasaan apa, kekayaan apa, kedudukan apa, dan ketenaran apa pula yang menjadi ambisimu?

Jika kau menyadari hubunganmu dengan Ia Hyang Mahakuasa, dan Mahatenar adanya, saat itu pula derajadmu terangkat dengan sendirinya dari seorang fakir miskin, hina, dan dina menjadi seorang putra raja, seorang raja! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia via #TheUltimateLearning

https://www.facebook.com/bukuspiritual/

Kebenaran Relatif dan Kebenaran Mutlak

“Adalah suatu keniscayaan bahwa apa yang tidak ada tak akan pernah ada; dan apa yang ada, tidak akan pernah tidak ada. Keniscayaan kedua hal ini dipahami oleh mereka yang telah menyaksikan kebenaran.” Bhagavad Gita 2:16

Kebenaran Hyang Tunggal Melampaui kebenaran relatif yang terlihat oleh mata. Yang terlihat adalah perubahan-perubahan yang memberi kesan seolah sesuatu yang saat ini ada dan menjadi milik kita, besok tidak akan ada. Ya, barangkali tidak menjadi miliki kita. Harta yang kita miliki bisa pindah tangan. Tapi harta itu , materi itu tetap ada.

Kadang berpindah tangan, kadang berubah bentuk – Sesungguhnya materi pun hanyalah ungkapan dari energi yang kekal dan abadi.

Mereka, para resi yang telah menyaksikan, melihat kebenaran — memahami hal ini. Di balik segala sesuatu yang sedang berubah dan berpindah tangan, berpindah kepemilikan — ada Kebenaran  Tunggal yang Abadi. Sebab itu, mereka tidak terjebak dalam permainan petak-umpet di dunia ini.

Keberadaan—dunia bergantung pada dualitas – Ada dan tiada, zahir dan gaib, nyata dan tidak nyata. Di dalam dunia ini, yang ada, ya ada. Dan, yang tidak ada, ya tidak ada. Selama masih bermain petak-umpet, dualitas ini mesti dihormati. Untuk mempertahankan bumi ini, kerusakan lingkungan mesti dihentikan. Untuk menegakkan keadilan, kezaliman mesti dilawan.

Para bijak memahami hal ini. Sebab itu, walau mereka pun telah menjadi saksi akan Kebenaran Tunggal di balik segala dualitas, tetaplah mereka menghormati dualitas. Tanpa dualitas bumi tidak akan bertahan. Konstelasi perbintangan akan terganggu. Di mana-mana akan terjadi kekacauan. Maka, mereka tidak menolak kebenaran relatif yang dapat dilihat oleh mata kasat.

Sikap Krsna pun demikian – Sama. Ia berada dalam Kesadaran Hakiki yang setiap saat Ia merasakan Kebenaran Tunggal. Ia telah manunggal dengan Kebenaran itu. Namun, berada di dunia ini, Ia pun menghormati dualitas. Demi tatanan masyarakat, demi keteraturan, demi keadilan, demi kebaikan – segala sesuatu yang dapat mengacaukannya mesti dilawan, dihadapi.

Ayat ini bisa diartikan secara harfiah, atau dipahami makna yang tersirat di dalamnya, yaitu seperti yang kita bahas di atas; sebagaimana kita pahami lewat pembahasan di atas. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: