Tunduknya “Istri Pria Sekota” #BhagavadGitaIndonesia

Dikisahkan seorang wanita paling cantik di kota, dengan istilah “istri pria sekota” jatuh cinta pada seorang sanyasin yang lewat di depan rumahnya. Dia mengajak biarawan tersebut tinggal sementara di rumahnya, karena musim hujan tiba dan Sang Buddha tidak bepergian selama musim hujan. Dan para sanyasin menginap di sekitar kota tersebut.

Sanyasin tersebut berkata, “Terima kasih. Saya hanya perlu bertanya kepada Guru saya, jika dia memberi izin, besok pagi saya akan hadir di depan pintu rumah Anda.”

Wanita cantik tersebut tidak dapat mempercayai sanyasin tersebut. Para sanyasin yang lain ribut, dan sebagian cemburu. Tidak mungkin ini diberi toleransi.  Mereka berpikir pasti ditolak Sang Buddha.

Ketika sanyasin tersebut bertanya kepada Sang Buddha, Buddha memandang sanyasin tersebut dan berkata, “Kau bisa tinggal bersamanya.”

Para sanyasin ribut. Apakah Sang Buddha tidak melihat resikonya? Bahkan raja yang hebat saja terperangkap olehnya. Apalagi pemuda polos tersebut.

Buddha berkata kepada para sanyasin yang ribut tersebut diminta menunggu selama 4 bulan……….

4 bulan kemudian sanyasin tersebut datang menyentuh kaki Sang Buddha. Para sanyasin berkata, “Katakan sekarang, apa yang terjadi?”

Sanyasin tersebut berkata, “Tunggu sebentar biar wanita itu datang dan lebih baik mendengar dari mulut dia sendiri.”

Wanita itu datang menyentuh kaki Sang Buddha dan minta diinisiasi sebagai sanyas.

Sang Buddha bertanya, “Mengapa?”

Wanita tersebua berkata, “Saya mencoba merayunya, tetapi saya gagal. Dia merayu saya! Dia merayu saya menjadi sannyas! Selama empat bulan saya mencoba segala cara, tetapi dia tetap seperti daun teratai. Saya menari telanjang di sekelilingnya dan dia bermeditasi! Saya tidak pernah gagal dalam hidup saya, ini adalah pertama kalinya. Untuk pertama kalinya saya terkesan oleh seorang pria, untuk pertama kalinya saya bertemu seorang pria! Hingga kini saya hanya melihat budak. Mereka mungkin raja yang hebat tetapi mereka semua menyentuh debu kakiku, tunduk padaku. Ini adalah satu-satunya orang yang pernah saya lihat yang tetap seperti daun teratai. Saya mencoba segala cara – makanan yang baik, ruangan yang indah, pakaian yang indah, tempat tidur yang indah, setiap kenyamanan yang mungkin baginya – dan dia berkata tidak! Saya gagal. Saya tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Dan dia sering menertawai saya.”

Demikian kisah Osho.

Dalam diri sanyasin itu sudah terpatri pertanyaan: “Untuk apa kalian meninggalkan rumah dan keluarga? Karena kenikmatan berumah-tangga dan kenyamanan berkeluarga ternyata tidak membahagiakan, kalian merasa perlu mengejar sesuatu yang lebih berharga. Lalu kenapa harus tergoda lagi oleh hal-hal yang sama? Oleh sesuatu yang justru telah kalian tinggalkan?”

Sanyasin itu tidak meninggalkan apa yang berharga yang diperolehnya dari sang Buddha dan menggantinya dengan sesuatu yang tidak membawa kebahagiaan………………..

Pesan Shankara kepada para Biarawan

“Melihat payudara dan pusar seorang perempuan cantik, janganlah engkau tergiur dan terbawa nafsu; semuanya hanya permainan daging dan lemak, ingatlah selalu hal itu…” Bhaja Govindam 3

Jangan lupa bahwa Shankara sedang bicara dengan para murid. Lebih spesifik lagi, dengan para renunciate, para petapa, para biarawan—dengan mereka yang telah meninggalkan rumah dan keluarga untuk sesuatu yang mereka anggap lebih berharga. Dan, pada saat Bhaja Govindam ini dinyanyikan, yang hadir kebetulan “kaum pria”. It was an all men affair. Oleh karena itu bait ini memang ditujukan bagi mereka.

Ada yang menuduh Shankara bersikap diskriminatif. Dia “menjelek-jelekkan” kaum hawa. Tidak sama sekali. Mereka yang memiliki pandangan seperti itu perlu membaca karya-karya Shankara yang lain, seperti Saundarya Lahiri, di mana Shankara memuji dan mengagungkan kelembutan wanita.

Shankara tidak menjelekkan wanita. Dia tidak antiperempuan. Yang dia kritik justru nafsu pria yang bisa bangkit kapan saja, di mana saja. Melihat pusar saja bisa tergiur. Shankara tidak pula menyalahkan wanita scbagai penggoda atau pembangkit nafsu dalarn diri pria. Sebab itu, Shankara juga tidak merasa perlu memberi petunjuk khusus tentang cara berpakaian bagi wanita.

Sampai hari ini pun bila seorang wanita India memakai sari (kain tradisional), pusarnya tetap terlihat. Yang merasa tergoda, silakan tidak melihat—as simple as that.

Lewat bait ini, Shankara mengajak para muridnya untuk tetap berjalan menuju tujuan, dan tidak tergoda oleh pemicu-pemicu picisan dalam perjalanan: “Untuk apa kalian meninggalkan rumah dan keluarga? Karena kenikmatan berumah-tangga dan kenyamanan berkeluarga ternyata tidak membahagiakan, kalian merasa perlu mengcjar sesuatu yang lebih berharga. Lalu kenapa harus tergoda lagi oleh hal-hal yang sama? Oleh sesuatu yang justru telah kalian tinggalkan?”

Ada dua cara untuk mengatasi godaan seperti itu: Pertama, seperti yang dianjurkan Shankara lewat bait ini, yaitu dengan cara “membedah” objek yang menggoda kita. Payudara itu apa sih, penis itu apa sih—bukankah sama-sama terbuat dari darah, daging, dan lemak? Yang beda hanyalah bentuknya. Itu saja.

Cara kedua dipakai oleh Sri Ramakrishna, Guru Vivekananda. Melihat payudara wanita, ingatlah payudara ibumu sendiri. Lihatlah wujud ibumu dalam diri setiap wanita. Kita tinggal memilih, cara mana yang lebih cocok dengan tabiat kita. Karena, tidak setiap cara, setiap metode cocok bagi sctiap orang.

Shankara menggunakan bait kedua dan ketiga untuk membebaskan para pendengarnya dari godaan kanchan dan kaamini—harta benda dan wanita. Godaan kanchan dan kaamini dapat juga diartikan sebagai “rasa kepemilikan” dan “hawa nafsu”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hidup Bagai Teratai

Kelahiran Menyebabkan Segala macam Pengalaman – Anda tidak dapat menghindari pengalaman –pengalaman Anda. Semuanya itu merupakan akibat dari kelahiran Anda.. Krishna menganjurkan agar kita menghadapi segala situasi dengan kesadaran. Dengan kesadaran bahwa semuanya itu wajar-wajar saja, jangan mengeluh. Keluhan Anda hanya membuktikan bahwa Anda belum dapat memahami mekanisme kehidupan, bagaimana Anda dapat melakoninya? Hiduplah dalam dunia ini dengan kesadaran semacam itu, dan Anda akan terbebaskan dari rasa duka dan kegelisahan, dari stres yang disebabkan oleh kelahiran Anda. Anda tetap berada dalam dunia yang sama ini tetapi alam Anda sudah berbeda.

“Seorang yang mempersembahkan segala perbuatannya kepada Brahman — Jiwa Agung; dan bebas dari segala keterikatan — tidak lagi tersentuh oleh dosa-kekhilafan, sebagaimana daun bunga teratai tidak terbasahkan oleh air di kolam.” Bhagavad Gita 5:10

Lahir, tumbuh, dan hidup di tengah lumpur-dunia, kita pun bisa tidak tersentuh oleh dosa-kekhilafan, sebagaimana bunga teratai dan daunnya tidak ikut menjadi kotor karena dan oleh lumpur yang menghidupinya. Bahkan air pengaruh dunia dan lingkungan pun tidak membasahi kita.

APAKAH MUNGKIN HIDUP SEPERTI ITU? Sangat mungkin. Hidup di tengah keramaian dunia; badan dan indra berfungsi sesuai dengan fungsi masing-masing, tapi Jiwa tidak tercemarkan.

Bunga teratai atau lotus, adalah simbol dari kehidupan seorang bijak. Dalam tradisi-tradisi Timur, teratai atau lotus adalah simbol pencerahan, hidup berkesadaran.

Para Lama, petapa dan pelaku berbagai jenis laku spiritual di dataran tinggi Tibet senantiasa mengingatkan diri mereka akan hal ini dengan mengulang-ulanginya sepanjang hari………

OM MANI PADME HUM – “Sembah Sujudku kepada Mutiara Kesadaran Murni yang berada di tengah bunga Padma, Teratai Pencerahan.”

Mantra yang diulang-ulang terus-rnenerus ini bukanlah mantra biasa, bukanlah ucapan biasa — tetapi, adalah reminder untuk mengingatkan para pengucapnya. “Hiduplah bagaikan teratai. Tetap bersih, suci, walau berada di tengah lumpur.

“Upayakan pencerahan sekarang, dan saat ini juga. Di tengah keramaian dunia. Tidak perlu lari ke mana-mana. Mutiara Kesadaran Murni, Brahman, Jiwa Agung, Gusti Pangeran, Buddha — apa yang sedang kau cari dapat diperoleh di dalam dirimu sendiri. Temukan!”

Hidup dengan penuh kesadaran seperti ini, niscaya dosa-kekhilafan tidak dapat memengaruhi kita. Hidup menjadi sangat alami. Mulut bekerja sesuai dengan fungsinya, kadang jika ada toksin-toksin, racun-racun yang ikut masuk bersama makanan, maka organ-organ di dalam tubuh akan memisahkannya dan mendorongnya keluar lewat usus besar dan Iubang anus. Kita tidak teracuni.

Hidup berkesadaran, hidup alami — dan tiada lagi kekhawatiran apa pun bagi kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

2 Responses to “Tunduknya “Istri Pria Sekota” #BhagavadGitaIndonesia”

  1. Pak di mana bisa beli buku bhaja govindam…dan karya pak anand lainnya..tulisannya mencerahkan dan bahasanya mudah di pahami …sebelumnya terimakasih informasinya pak

    • triwidodo Says:

      Silakan kontak Ahmad Syukri: hp, WA, sms 085292379943 koperasi AKC Joglosemar, atau via Facebook Ahmad Syukri. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: