Archive for April, 2018

Membatasi Keinginan dan Mulai Meniti ke Dalam Diri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 30, 2018 by triwidodo

Ada sebuah kisah, pernah ada pemotong batu yang tidak puas dengan dirinya sendiri dan dengan posisinya dalam kehidupan.

Suatu hari dia melewati rumah seorang saudagar kaya. Melalui gerbang terbuka, ia melihat banyak barang bagus dan pengunjung penting. “Betapa senangnya pedagang itu!” Pikir pemotong batu itu. Dia menjadi sangat iri dan berharap dia bisa menjadi seperti pedagang.

Yang sangat mengejutkan, dia tiba-tiba menjadi pedagang, menikmati kemewahan dan kekuatan lebih dari yang pernah dibayangkannya, tetapi iri dan dibenci oleh orang-orang yang kurang kaya daripada dirinya sendiri.

Segera seorang pejabat tinggi lewat, ditemani oleh petugas dan dikawal oleh polisi. Semua orang, tidak peduli seberapa kaya, harus membungkuk rendah sebelum prosesi. “Seberapa kuasanya jabatan itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi pejabat tinggi!”

Kemudian dia menjadi pejabat tinggi, ditakuti dan dibenci oleh orang-orang di sekitarnya. Saat itu adalah hari musim panas yang panas, jadi pejabat itu merasa sangat tidak nyaman. Dia menatap matahari. Itu bersinar dengan bangga di langit, tidak terpengaruh oleh kehadirannya. “Betapa kuasanya matahari itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi matahari!”

Kemudian dia menjadi matahari, menyinari semua orang, membakar ladang, dikutuk oleh para petani dan buruh. Tapi awan hitam besar bergerak di antara dia dan bumi, sehingga cahayanya tidak lagi bersinar di segala sesuatu di bawah. “Betapa kuatnya awan badai itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi awan!”

Kemudian dia menjadi awan, membanjiri ladang dan desa, diteriaki oleh semua orang. Tetapi segera dia menemukan bahwa dia didorong oleh kekuatan besar, dan menyadari bahwa itu adalah angin. “Betapa kuatnya itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi angin!”

Kemudian dia menjadi angin, meniup ubin dari atap rumah, mencabut pohon, takut dan dibenci oleh semua di bawahnya. Tapi setelah beberapa saat, dia berlari melawan sesuatu yang tidak akan bergerak, tidak peduli seberapa kuat dia menghempaskannya – sebuah batu besar yang menjulang tinggi. “Betapa kuatnya batu itu!” Pikirnya. “Aku berharap aku bisa menjadi batu!”

Kemudian dia menjadi batu karang, lebih kuat dari apa pun di bumi. Tetapi ketika dia berdiri di sana, dia mendengar suara palu yang memukul pahat ke permukaan yang keras, dan merasa dirinya sedang berubah. “Apa yang bisa lebih kuat daripada batu karang itu?” Pikirnya.

Dia menunduk dan melihat jauh di bawahnya sosok pemotong batu.

………………..

Kisah ini nampaknya sederhana, tapi ini cara untuk membuka diri kita bahwa kita semua memiliki kekuatan luar biasa di dalam diri kita. Kita tidak pernah sadar, kadang kita mempunyai obsesi sebagai pedagang sukses. Untuk mencapai kondisi itu mungkin perlu menjalani beberapa kehidupan. Apalagi bila kita ingin menjadi yang nomer 1, perlu lebih banyak kehidupan dan setelah tercapai kita tidak puas dan obsesi kita berganti ingin menjadi pejabat. Entah berapa banyak kehidupan kita mengalami suka-duka yang tidak berkesudahan demi obsesi kita. Tidakkah sebaiknya kita berhenti mencari di luar dan mulai meniti ke dalam diri?

Beri Batas Plafon Keinginan dan Mulai Meniti Ke Dalam Diri

Awal dari ketersesatan adalah keinginan; keinginan yang muncul dari ketertarikan, keterikatan. Pertanyaannya ialah: Apakah Manusia bisa Hidup Tanpa Keinginan? Jawabannya: Ya, bisa. Adalah kehendak kuat, yang dibutuhkan untuk hidup bersahaja, dengan apa adanya. Tanpa keinginan, dan dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok saja.

Namun, jika kita belum bisa hidup seperti itu, maka, setidaknya kita bisa hidup dengan membatasi keinginan, atau seperti Guru saya mengatakan, dengan memplafoni keinginan – ceiling on desires.

Berapa stel baju, berapa pasang sepatu yang Anda butuhkan? Tapi, jika Anda setiap hari ke mall dan hobi Anda adalah window shopping, maka, sudah pastilah muncul keinginan untuk membeli sesuatu yang baru. Jika dompet Anda tebal, maka Anda akan langsung membelinya. Jika dompet Anda tipis, maka timbul rasa kecewa, amarah, dan pikiran menjadi liar, timbul kebingungan…… Penjelasan Bhagavad Gita 2:63 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Jangan Membanding-Bandingkan dengan Orang Lain

Mind atau manah memang senantiasa kacau dan mengacaukan. Kita menerjernahkan mind atau manah sebagai Gugusan Pikiran serta Perasaan. Sebab itu, memusatkan manah pada-Nya berarti mengendalikan kekacauan pikiran dan gejolak emosi.

………………..

UNTUK SELALU DIINGAT, “AKU” SRI KRSNA ADALAH “Aku” Arjuna — “aku” saya, “aku” Anda, “aku” mereka, “aku” kita semua. Krsna mengajak Arjuna untuk memperhatikan “diri”nya sendiri. Untuk memusatkan seluruh kesadarannya pada diri — pada “aku”. Tidak pada hal-hal di luar diri. Inilah tindakan yang paling inteligen. Inilah langkah jitu, langkah paling tepat untuk meraih keberhasilan dalam hidup.

Kita ingin sukses – dan mengukur tingkat sukses, tingkat keberhasilan kita dengan membandingkan diri dengan orang lain yang kita anggap sudah cukup berhasil. Padahal, POTENSI SETIAP ORANG LAIN. Lain potensi saya, lain potensi Anda. Barangkali, dengan potensi kita, keberhasilan yang dapat kita raih melebihi keberhasilan yang dapat diraih orang lain. Tetapi, dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, kita malah menutup diri terhadap kemungkinan itu. Kita sudah menganggap keberhasilan orang itu sebagai “plafon” yang dapat dicapai. Demikian, kita merugikan diri sendiri. Kita tidak akan berjuang untuk melebihi keberhasilannya. Sebaliknya, jika nilai keberhasilan orang yang kita jadikan anutan adalah berbeda dengan nilai kita — maka kita akan kecewa sendiri.

Baginya, barangkali ketenaran adalah nilai keberhasilan tertinggi. Bagi kita, hubungan dan relasi adalah nilai keberhasilan tertinggi. Orang lain barangkali mengukur keberhasilan dengan harta-benda yang dimilikinya. Jelas, penilaiannya, tolok-ukurnya sudah beda. Jika kita membandingkan diri dengan orang lain — maka, hanyalah kekecewaan yang akan kita peroleh. Penjelasan Bhagavad Gita 12:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Keunikan Diri Setiap Orang

Keunikan setiap orang merupakan akibat dari perbuatannya di masa lalu yang telah berubah menjadi sifatnya. Obsesi dari masa lalu; ingatan atau memori dari masa lalu; hubungan atau relasi dari masa lalu – semuanya itu membentuk pribadi yang unik. Oleh karena itu setiap orang memang unik adanya. Cara dia menempuh perjalanan hidup; cara dia merespon terhadap tantangan hidup – semuanya unik.

Keunikan manusia ini terjamin sepenuhnya oleh hukum karma, hukum evolusi, dan hukum-hukum lainnya. Tapi keunikan ini pula yang menciptakan ego pribadi. Ego dalam pengertian “aku”. Selama kita masih berada dalam wilayah hukum karma, keunikan kita adalah jati diri kita. Keunikan ini diterima oleh para psikolog modern sehingga mereka akan selalu menganjurkan supaya kita tidak melepaskan ego kita. Ego yang unik ini adalah jati diri kita. Ada kalanya, ego ini bersifat liar – maka diciptakanlah syariat  atau dharma untuk menjinakkan  ego-ego yang masih liar dan berbisa.

Keunikan manusia adalah sangat manusiawi. Tetapi, itu bukanlah monopoli manusia saja. Hewan pun unik. Tanaman dan pepohonan adalah unik. Bukit, gunung, kali sungai – semuanya unik. Madam Katrina dan Ni Made Tsunami adalah unik. Kamu unik. Aku unik. Dia unik……… dikutip dari Secangkir Kopi Kesadaran dari The Torchbearers Newsletter 1/2008.

 

Bhakti Merampas Keunikan Diri Kita

Tetapi, kemudian hadirlah seorang Krishna di depan kita yang secara jelas dan tegas mengajak kita untuk menyerahkan ego kita sepenuhnya untuk melepaskan keunikan kita sepenuhnya. Ajakan dia sungguh berat sekali untuk diikuti dan sangat membingungkan. Krishna berada di satu pihak, seorang diri – dengan ajakannya yang tidak masuk akal. Di pihak lain adalah para cendekiawan, ilmuwan, psikolog yang semuanya masuk akal. Dan mereka menasehati kita, berhati-hatilah dengan Krishna. Dia akan merampas segala-galanya darimu! Sebab itu, hanyalah para Gopal dan Gopi yang akan mendekati Krishna. Mereka tidak peduli dengan keunikan mereka. Karena, seunik apapun diri mereka – tokh hanyalah got, kali, dan sungai. Mereka telah menyaksikan luasnya lautan Kasih Krishna. Apa gunanya mempertahankan keunikan diri lagi? Setiap manusia memang unik. Kemudian, manusia-manusia yang telah menyaksikan yang telah menyaksikan kemulian-Nya memutuskan untuk melepaskan keunikan mereka masing-masing dan berbhakti pada Hyang Mulia. Bhakti merampas segala keunikan kita. Seluruh kepribadian kita larut dalam bhakti.

Seperti yang dikatakan oleh Shri Rama Krishna Paramhansa, mereka hidup di tengah keluarga mereka tetapi hati mereka berada di tepi sungai Yamuna di mana Krishna sedang memainkan serulingnya…….. Keadaan kita terbalik, badan kita bersama Guru, dekat sekali – tetapi hati kita, seperti yang dikatakan oleh Yogananda, ada di Starbuck……………. dikutip dari Secangkir Kopi Kesadaran dari The Torchbearers Newsletter 1/2008.

Advertisements

Arjuna dan Siddharta #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on April 29, 2018 by triwidodo

Dia duduk di bawah pohon. Seorang astrolog mendekatinya – dia sangat bingung, karena dia melihat jejak Buddha di atas pasir basah dan dia tidak bisa mempercayai matanya. Semua tulisan suci yang telah dia pelajari sepanjang hidupnya telah menceritakan kepadanya tentang tanda-tanda tertentu yang ada di kaki seorang pria yang memerintah dunia – seorang chakravartin – penguasa dari semua enam benua, dari seluruh bumi. Dan dia melihat jejak kaki di pasir basah di tepi sungai semua simbol begitu jelas sehingga dia tidak bisa mempercayai matanya! Entah semua kitab sucinya salah dan dia menyia-nyiakan hidupnya dalam astrologi … jika tidak, bagaimana mungkin pada suatu sore yang panas, di desa kecil yang kotor seperti itu, seekor chakravartin akan datang dan berjalan tanpa alas kaki, di atas pasir panas yang membara?

Dia mengikuti jejak kaki, hanya untuk mencari pria yang menjadi jejak kaki itu. Dia menemukan Sang Buddha duduk di bawah pohon. Dia bahkan lebih bingung. Wajahnya seperti chakravartin – rahmat, keindahan, kekuatan, aura – tapi pria itu adalah seorang pengemis, dengan mangkuk mengemis!

Sang peramal menyentuh kaki Sang Buddha dan bertanya kepadanya, “Siapa Anda, Tuan? Anda telah membingungkan saya. Anda harus menjadi chakravartin, penguasa dunia. Apa yang kamu lakukan di sini, duduk di bawah pohon ini? Entah semua buku astrologi saya salah, atau saya berhalusinasi dan Anda tidak benar-benar ada di sana.”

Buddha berkata, “Buku-buku Anda benar-benar benar – tetapi ada sesuatu yang tidak termasuk kategori, bahkan tidak termasuk kategori chakravartin. Saya, tapi saya bukan orang tertentu.”

Sang peramal berkata, “Kamu membuatku lebih bingung. Bagaimana Anda bisa tanpa menjadi orang pada khususnya? Anda pasti dewa yang telah datang mengunjungi bumi – saya dapat melihatnya di mata Anda!”

Buddha berkata, “Aku bukan dewa.”

Sang peramal berkata, “Maka Anda harus menjadi gandharva – seorang musisi surgawi.”

Buddha berkata, “Bukan, saya juga bukan gandharva.”

Dan sang peramal terus bertanya, “Jadi, apakah Anda seorang raja yang menyamar? Kamu siapa? Anda tidak bisa menjadi binatang, Anda tidak bisa menjadi pohon, Anda tidak bisa menjadi batu – siapa sebenarnya Anda?”

Dan jawaban yang diberikan Sang Buddha adalah sangat penting untuk dipahami. Dia berkata, “Saya hanyalah seorang Buddha – saya hanyalah kesadaran, dan tidak ada yang lain. Saya tidak termasuk kategori apa pun. Setiap kategori adalah identifikasi dan saya tidak memiliki identitas apa pun.”

Dikisahkan oleh Osho……………..

Dalam diri setiap orang terdapat “Kesadaran” tetapi tertutup oleh pikiran dan emosi.

Orang yang Telah Terjaga Dari Tidur Panjang Pikiran dan Emosi

Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “tatha”. “Tatha”, Berarti….“Thus”, atau “Such” – seperti itulah!. Ya, seperti itulah arti “Tatha” – “Seperti Itulah!” Singkatan dari “Yatha-Bhuta”, yang juga bisa diartikan “As It Is”, atau  sebagaimana adanya”. “Tatha” adalah keadaan awal setiap manusia.

Kemudian, apakah kita diharapkan menjadi “kekanak-kanakan”? Tidak. Yesus tidak mengatakan kita “menjadi anak kecil lagi”, tetapi “kembali seperti seorang anak kecil” – like a little child! “Kembali seperti seorang anak kecil”, berarti, “tetap dewasa, tapi dengan kepolosan, kesahajaan, dan terutama keceriaan seorang anak kecil.” Oleh sebab itu, seorang yang telah terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi disebut “Tathagata”-”ia yang telah mencapai keadaan itu”.

Menjadi “seperti seorang anak kecil” berarti menjadi seorang Tathagata. Polos, tapi tidak bodoh. Bersahaja, tapi tidak naif. Lembut, tapi tidak lemah. Sopan, tapi menjaga diri, “supaya tidak dimakan orang juga”. Ketika Buddha ditanya seperti apakah ciri-ciri seorang Tathagata la menjelaskan: “Tak terjelaskan” (“Vajracchedika Prajnaparamita Sutra” atau “Diamond Sutra”).

Namun, Buddha menjelaskan cara untuk mencapai keadaan itu, yakni dengan membebaskan diri dari keterikatan pada kebendaan yang senantiasa berubah terus. Dan, menyadari hal itu, menyadari bahwa “perubahan adalah sifar dasar benda”. Jika kita terikat dengan salah satu wujud, ketika wujud itu berubah menjadi sesuatu yang lain, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka. Kendaraan baru kita ditabrak, berubah bentuk menjadi rongsokan, kita kecewa dan berduka. Rumah mewah kita terbakar, berubah bentuk menjadi abu dan puing-puing, kita kecewa dan berduka. Orang yang kita sayangi meninggal, badan berubah bentuk menjadi jasad, jasad menjadi abu, atau kembali ke tanah, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka.

Adakah Kemungkinan Kita Bisa Bebas dari Keterikatan? Ada. Jika kita bisa mengakses “keadaan awal seperti itu” – tatha. Ada kemungkinan, jika kita bisa berada dalam keadaan itu – tathagata. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Nirvana dan Samsara

Nirvana adalah suatu keadaan pikiran yang sudah tidak liar lagi, perasaan atau emosi pun tidak berjungkat-jungkit lagi. Nirvana adalah “pemadaman api pikiran serta perasaan”. Tiada lagi gejolak di dalam diri.

Nirvana adalah Kebebasan Mutlak – Moksa. Nirvana adalah kedamaian sejati yang merupakan “rasa terdalam” – bukan rasa “emosi”. Dan, rasa terdalam itu bersumber dari Ia Hyang adalah Wujud Kebahagiaan Sejati – Sang Jiwa Agung.

“Pemusatan pikiran pada-Ku” adalah pemusatan diri pada diri – pada Sumber Kebahagiaan Sejati yang ada di dalam diri. kedamaian Sejati “Nirvana” pun bukanlah sesuatu yang asing dan ada di lapisan langit tertinggi.

Nirvana adalah Keadaan Alami “Setiap Diri” – Keadaan alami Anda dan saya, keadaan tanpa keterikatan, tidak ada belenggu, tidak ada perbedaan. Nirvana adalah kebebasan Jiwa. Sementara dunia luar adalah kebalikannya.

Dunia Luar adalah Samsara – Alam pengulangan yang menyengsarakan. Betapa bodohnya  kita yang terjebak dalam roda pengulangan Samsara! Sudah tergilas sekali di bawah rodanya, tetap tidak sadar. Tetap tidak menyingkir, dan menghindari penggilasan diri di bawah rodanya terus-menerus – inilah Samsara. Penjelasan Bhagavad Gita 6:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Upaya Kita Tidak Sia-Sia Walau Belum Mencapai Kesempurnaan

Walau, dalam kehidupan ini kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga, belum menyatu dengan-Nya dan keburu “mati”, tiada yang perlu dikhawatirkan. Upaya kita sepanjang hidup tidak sia-sia.

DALAM MASA KELAHIRAN BERIKUTNYA… Walau lahir dalam keluarga kaya, sejahtera, serba berkecukupan, atau bahkan berlimpah, walau masih sering terbawa oleh hawa nafsu, dan masih pula terkendali oleh indra — kita akan tetap berupaya untuk meraih kesempurnaan dalam Yoga.

Kita tidak bisa mengabaikan dorongan Jiwa, suara hati, untuk melanjutkan perjalanan rohani kita. Kiranya, keadaan ini yang dialami oleh seorang pangeran seperti Siddhartha. Maka, dengan adanya pemicu sedikit saja — dengan melihat kenyataan hidup berupa kelahiran, kematian, penyakit, usia tua, dan sebagainya — ia langsung mengingat kembali “tujuannya” dan meninggalkan istana untuk melanjutkan perjalanannya.

ARJUNA BERADA DALAM P0SISI YANG MIRIP, tapi tidak sama. Dalam diri Arjuna, potensi sebagai seorang kesatria masih tetap melengket. Tidak demikian dengan Siddharta. Sebab itu, Arjuna mesti berada di tengah keramaian dunia dan mengupayakan kesempurnaan dalam Yoga sambil tetap menjalankan profesinya.

Sementara itu, Siddhartha tidak memiliki identitas-kesatria yang melengket pada dirinya. Walau lahir sebagai pangeran, Jiwa Siddhartha sudah rnerasa cukup menjalani peran sebagai kesatria dalam beberapa masa kehidupan sebelumnya. Maka, ia ingin memiliki pengalaman yang beda – pengalaman sebagai petapa.

Potensi seorang Siddharta adalah sebagai bhiksu, sebagai petapa. Potensi Arjuna sebagai kesatriia.Namun kedua-duanya sedang menuju pengalaman akhir yang satu dan sama—kesempurnaan! Penjelasan Bhagavad Gita 6:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Rama dalam Diri Semua Makhluk #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , , on April 28, 2018 by triwidodo

Pada  suatu  ketika  adalah  seorang  raja  di  India   yang mempunyai  seekor gajah yang mengamuk. Gajah itu berkeliaran dari desa ke desa sambil menghancurkan segala  sesuatu  yang ia jumpai dan tidak seorang pun berani mengganggunya, karena gajah itu milik raja.

Pada suatu hari  seorang  yang  menyebut  diri  petapa  akan berangkat   dari   suatu   desa.  Orang-orang  di  desa  itu mencegahnya karena gajah itu tampak di jalan  dan  menyerang orang-orang yang lewat.

Orang  itu bergembira karena sekarang ia mendapat kesempatan untuk menunjukkan kebijaksanaannya yang lebih unggul, karena ia  baru  saja  kembali  dari belajar pada seorang guru yang mengajarnya untuk melihat Rama (Gusti yang berada di dalam diri semua makhluk) dalam  segala  sesuatu.  “Oh, kalian  orang  bodoh  yang  malang!” katanya, “Apakah kalian sama  sekali  tidak  mempunyai  pemahaman  mengenai  hal-hal rohani?  Belum  pernahkah kalian diberitahu bahwa kita harus melihat Rama dalam setiap orang dan dalam segala sesuatu dan bahwa   semua   yang   berbuat   demikian   akan  memperoleh perlindungan dari Rama? Biarlah saya pergi. Saya tidak takut akan gajah.”

Orang-orang  berpikir  bahwa  orang  ini sama seperti gajah itu – begitu  gila.  Mereka  tahu,  tidak  ada gunanya  berbantah  dengan  seorang  suci.  Maka  ia  mereka biarkan pergi. Ia belum sampai ke  jalan  ketika  gajah  itu lari   ke   arahnya,  mengangkatnya  dengan  belalainya  dan memukulkannya pada sebatang pohon. Orang itu mulai berteriak kesakitan.    Untunglah   pada   saat   yang   genting   itu pengawal-pengawal raja datang, menangkap gajah  itu  sebelum ia membunuh petapa yang dipermalukan itu.

Orang itu sembuh sesudah waktu yang lama. Ia mulai bepergian lagi. Ia langsung menjumpai gurunya dan berkata, “Pengajaran yang  Tuan  berikan  kepadaku keliru. Engkau menyuruh saya untuk melihat segala  sesuatu  diresapi  oleh  Rama.  Persis itulah yang saya lakukan dan Tuan lihat apa yang terjadi?”

Guru itu berkata, “Engkau begitu bodoh! Mengapa engkau tidak melihat Rama dalam diri orang-orang desa yang mengingatkanmu akan gajah yang berbahaya itu?”

Dikutip dari buku (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

 

Beda Mind: Mineral, Tumbuh-Tumbuhan, Hewan dan Manusia

Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah “dualitas” – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot. Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya “simptom” mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Beda Insting Hewani dan Inteligensia Manusia

Intelegensia binatang masih sangat rendah. la baru mampu memahami, “apa” yang harus dimakannya, apa yang tidak; “siapa” yang harus dikawininya, siapa tidak. Dan, pilihan mereka masih sederhana sekali, antara jantan dan betina. Seekor binatang jantan mencari betina, dan betina mencari jantan. Kriterianya hanya satu: Lawan Jenis, itu saja.

Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita.

Manusia merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus.

Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Walau Ada Rama dalam Diri pun, Penjahat Menggunakan Insting Hewaninya

“Ia yang memahami hakikat Kemuliaan Ilahi, dan juga kekuasaan-Ku yang melampaui segala kekuatan alam, senantiasa berada dalam kesadaran Yoga; sungguh tak ada lagi keraguan dalaam hal ini.” Bhagavad Gita 10:7

Kesadaran Yoga adalah Kesadaran Krsna, Kesadaran Murni Hyang Tertinggi. Kesadaran Yoga tidak mengantar kita ke pondok pertapaan di tengah hutan, tetapi mengukuhkan keyakinan kita sedemikian rupa – sehingga tengah hutan, tengah medan perang, tengah keramaian pasar, tidak menjadi soal lagi. Kesadaran kita tidak meluntur ketika mesti mengakangkat senjata untuk memerangi kezaliman Kaurava.

Lalu, apa yang membedakan para penjahat yang juga mengatakan bila mereka berjuang di atas jalan Gusti Pangeran, dengan Arjuna yang juga bersenjata tapi masih ragu, dan sedang didorong oleh Krsna untuk berperang? Sementara itu, para preman malah tidak ragu.

Adakah yang salah dengan pengertian kita? Adakah yang keliru dengan mereka yang tanpa ragu sedang memerangi apa yang mereka “anggap” jahat? Sedangkan, Arjuna justru ragu dan sedang dirayu, dibujuk untuk mengangkat kembali senjata yang terlepas dari tangannya?

Ada, ada perbedaan yang jelas – keraguan Arjuna membedakan dari-Nya dari para preman atau penjahat. Mereka tidak ragu, mereka mengikuti naluri mereka untuk melakukan kekerasan dan aksi kejahatan. Mereka menggunakan naluri hewani mereka, insting dasar mereka yang penuh dengan kekerasan.

Sementara itu, Arjuna menimbang. Keraguan Arjuna adalah hasil dari intelegensianya, yang sedang bekerja keras sesuai dengan segala pengetahuan yang terekam dan tersimpan di dalam gugusan pikiran dan perasaan. Otaknya sedang berputar. Processing systemnya bekerja dengan baik . Maka segala macam pikiran dan perasaan muncul ke permukaan, termasuk rasa takut, takut kalah, keraguan, kebimbangan dan lainnya.

Sementara itu, para preman atau penjahat tidak menggunakan otak mereka. mereka seperti serdadu, atau bahkan robot yang sudah dikondsikan, diprogram untuk berperang – itu saja. Tidak perlu memikirkan sesuatu. Asal lawan, hantam, bunuh! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Pelajar, Murid dan Panembah #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on April 27, 2018 by triwidodo

Dikisahkan oleh Osho bahwa ada tahapan dari seorang Pencari (Seeker): Pelajar (Student), Murid (Disciples) dan Panembah (Devotee, Bhakta). Ada juga yang keempat, tetapi itu milik orang yang sudah sampai. Sang Pencari berada di Jalan Spiritual. Seorang Pelajar (Student) tidak menyadari bahwa dia seorang Murid (Disciples), atau dia berpikir bahwa dia adalah seorang Murid (Disciples), bahkan mungkin dia berpikir adalah seorang Panembah (Devotee, Bhakta); dia benar-benar tidak sadar……

Dikisahkan seorang pria ingin menjadi murid Junnaid, seorang sufi mistik. Junnaid menatap lama pada dia. Pria itu sedikit gugup, mengapa Junnaid berdiam diri begitu lama.

Akhirnya Junnaid berkata, “Menjadi murid (disciples) sangat sulit.”

Pria itu berkata, “Maka saya siap untuk menjadi seorang panembah (devotee).”

Junnaid berkata, “Itu bahkan lebih sulit. Satu-satunya hal yang tidak sulit di sini adalah menjadi seorang Master.”

Pria itu berkata, “Jika itu adalah masalahnya, saya siap menjadi Master.”

Junnaid memberi tahu para murid dan pengikutnya, “Ini adalah kasus ketidaksadaran. Dia bahkan bukan seorang pelajar, tetapi kerinduannya adalah menjadi Master apabila itu lebih mudah. ​”

Pelajar itu datang hampir tanpa sengaja. Mungkin dia membaca sebuah buku, mungkin seorang teman berbicara kepadanya dan dia menjadi penasaran. Tapi rasa ingin tahu begitu dangkal; itu tidak dapat membuat dia berkomitmen dan berbakti untuk perjalanan panjang. Itu sangat sesaat. Oleh karena itu pria tersebut tidak diterima. Dia terlalu mentah; dia harus mengembara beberapa lama lagi atau mungkin beberapa kehidupan lebih banyak sebelum dia dapat diterima oleh seorang Guru (Master) sebagai murid (disciples).

………………..

Kita semua sudah paham bahwa kita tidak dapat memperoleh kebahagiaan abadi dari sesuatu yang tidak abadi. Ini adalah start awal para pencari (Seeker).

Selama kita mempunyai Keinginan Mencapai Kesadaran Tertinggi, tapi belum berupa keinginan tunggal, masih punya keinginan dunia yang lain (yang kita tahu tidak dapat memberikan kebahagiaan abadi), kita belum menjadi Murid (Disciples).

Berhadapan dengan Master Bukan Hanya untuk Belajar

Berhadapan dengan seorang Master, bila anda hanya ingin belajar, anda sungguh menyia-nyiakan kesempatan. Belajar, bisa dari buku. Bisa lewat teve, internet. Bisa mengikuti program belajar jarak-jauh. Untuk itu, anda tidak membutuhkan seorang Master. Cukup seorang pengajar, seorang instruktur, seorang akademisi.

Berada bersama seorang Mursyid berarti duduk bersama dia. Menari dan menyanyi bersama dia. Makan dan minum bersama dia. Tidak menghitung untung-rugi. Tidak memikirkan masa lalu. Tidak pula mengkhawatirkan masa depan. Tetapi, menikmati kekinian. Adhere to a Master berarti mendaki gunung bersama dia. Dan turun ke lembah bersama dia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Murid Mempunyai Murad (Keinginan Tunggal untuk mencapa Kesadaran Tertinggi)

“Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kukehendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan Kasih-Mu yang tulus dan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam setiap masa kehidupanku.”

Seorang “murid”, dalam pemahaman bahasa Sindhi, bahasa ibuku, adalah seorang yang memiliki “murad” atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud.

Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal untuk memiliki kehadiran-Nya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadari-Nya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiran-Nya dengan keinginan-keinginan lain. Dan itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

3 Type “Murid”

Dalam sebuah wejangan, Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan tentang 3 “tipe” murid:

Tipe Pertama adalah Pashu Bhavana: Kesadaran masih seperti pashu, hewan jinak, kalau tidak diikat dia masih menuruti nafsunya. Orang tersebut masih memiliki sifat:

(1) contempt, nafsu rendah, kalau jalan seperti hewan menundukkan kepala sambil melihat bila ada makanan di depannya; apakah kita dalam menjalani kehidupan selalu melihat peluang “rejeki” yang bisa diambil?

(2) doubt, ragu, anjing akan  mencium makanan lebih dahulu sebelum memakannya, cium baju bekas pakai sebelum dipakai lagi, cium anggur sebelum minum; Ini pekerjaan tidak baik tapi nampaknya menguntungkan masih bisa dilakukan.

(3) fear, takut, takut ambil langkah, hewan takut kepada hal baru yang tidak biasa dilakukan; saya mengikuti jalan spiritual, apakah saya akan melarat dan sengsara?

(4) too much egoistic, terlalu egois, anjing tidak mau berbagi tulang dengan kawannya. Apakah kita demikian?

(5) disgust, menjijikkan, hewan tidak suka dimandikan, keterikatan terhadap bau badan. Bila manusia tidak sadar akan bau badannya, bagaimana dia bisa mencium pikiran, perasaan dan jiwanya? Apakah kita tidak membaui bau keserakahan kita atau nafsu kita terhadap lawan jenis?;

(6) family, memikirkan keluarga, bagi hewan keluarga sangat penting, bagi meditator apa yang ada dalam pikiran adalah famili yang sulit dilepaskan; hewan hanya ingin makanan untuk dia dan anak-anaknya, ayam lain yang ingin makan butir-butir jagung akan diusir, dilabrak induknya, apakah kita demikian?

(7) custom and tradition, kebiasaan dan tradisi, untuk melepaskan kebiasaan dan tradisi dibutuhkan keberanian; sudahkah kita melepaskan tradisi yang secara nalar sudah usang tapi masih dilaksanakan? Kita masih ingat dalam film MahaBharata Krishna menyampaikan bahwa tradisi awalnya seperti buah yang mentah, yang melakukan masih sedikit dan rasanya belum manis. Kemudian tradisi seperti buah yang masak dan semua orang senang melakukannya. Dan terakhir, tradisi seperti buah yang sudah busuk, sudah nggak enak dimakan tapi kita tak mau melepasnya karena masih dilakukan banyak orang?

(8). Cast, sejenis, hewan hanya menyukai mereka yang jenisnya sama. Apakah kita hanya menyukai kelompok kita? Dan salah atau tidak karena anggota kelompok kita dia perlu dimaafkan sedangkan orang lain walau baik, bukan kelompok kita dan jangan dipilih?

 

Tipe Kedua adalah Wira Bhavana: Berani, Sifat Manusia. Mempunyai niat untuk menghancurkan belenggu keterikatan. Kebanyakan murid merupakan tipe campuran antara tipe Pashu dan Tipe Wira Bhavana, gabungan manusia dan hewan yang jinak. Misalkan dari 8 sifat pashu, 6 sifat sudah terselesaikan.

Tipe Ketiga adalah Divya Bhawana: Sifat Ilahi. Berani ambil risiko. Bersiap diri dalam hal apa saja. Itulah yang sifat para gopi di Brindavan…..

Bhakta, Panembah, Devotee

“Pandava (Arjuna, Putra Pandu), ia yang melaksanakan tugasnya sebagai persembahan pada-Ku – demi Aku; berlindung pada-Ku; berbhakti pada-Ku; tiada memiliki keterikatan; dan bebas dari permusuhan serta kebencian terhadap sesama makhluk, niscayalah mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 11:55

Inilah definisi Bhakti. Seorang bhakta atau panembah berada di dunia, di tengah kebendaan. Pun, ia menggunakan, memanfaatkan kebendaan, tetapi ia tidak bersandar pada kebendaan – Ia tidak bertopang pada kebendaan. Sederhananya, kita makan untuk bertahan hidup, tetapi tidaklah hidup untuk makan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Ingin Bersama Master Menikmati Kasih-Nya

Di Vrindavan itulah Krishna memulai “leela”-nya, permainannya! Para Gopi dan Gopala yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokul dan pindah bersama Nanda dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para rishi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta! Ya, mereka hanya lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembap, malah banyak di antara mereka yang “jatuh” karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guarding and guiding angels – akhirnya mereka sadar bahwa “Cinta” adalah Aksara Terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Warga Tetap Dunia atau Pelancong di Dunia? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 26, 2018 by triwidodo

Seorang turis Amerika pergi menemui seorang Guru Sufi. Selama bertahun-tahun dia telah mendengar tentangnya, telah jatuh cinta yang dalam dengan kata-katanya, pesannya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemuinya. Ketika dia memasuki kamarnya dia terkejut – itu adalah kamar yang benar-benar kosong! Sang Guru sedang duduk; tidak ada perabotan sama sekali! Orang Amerika tidak bisa membayangkan ruang hidup tanpa perabotan. Dia segera bertanya, “Di mana perabotan Anda, Pak?”

Dan Sufi tua itu tertawa dan dia berkata, “Dan di mana milik Anda?”

Dan orang Amerika itu berkata, “Tentu saja saya seorang pelancong di sini. Saya tidak bisa terus membawa perabotan saya! ”

Dan lelaki tua itu berkata, “Saya juga seorang pelancong hanya untuk beberapa saat di dunia, dan kemudian saya akan pergi, sama seperti Anda.”

Dunia ini hanya sebuah ziarah – sangat penting, tetapi bukan tempat untuk dimiliki, bukan tempat untuk menjadi bagian dari daun teratai, seperti kata Kabir.

Dikisahkan oleh Osho

Berkesadaran Pelancong

Menjadi penonton tidak berarti kita berdiam diri — tidak. Menjadi penonton adalah “sikap”, attitude. Kita bisa mengemudi wahana badan, lengkap dengan indra, gugusan pikiran serta perasaan segala dengan penuh kesadaran bila wahana bukanlah diri kita. Dengan cara itu, walau sedang mengendarai wahana pilihan kita di jalan raya kehidupan, kita tetaplah sebagai penonton. Sebagai pelancong. Ya, berkesadaran pelancong bahwasanya, ‘Tempat ini bukanlah tempatku, aku berada di dunia ini sebagai pelancong.”

Ketika terjadi perubahan “attitude” – Dan kita menganggap dunia ini sebagai “tempat kita”, maka sudah pasti muncul “keinginan untuk memiliki” ini dan itu. Inilah pintu neraka pertama. Penjelasan Bhagavad gita 16:21 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Warga Dunia atau Pengunjung Dunia

Di awal-awal tahun 2.000-an Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan: Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “wargadunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”. Fitrah kita bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang berkunjung di dunia atas perintah-Nya.

Kita sendiri yang menentukankedudukan kita. Kita sendiri yang memilih dan menempatkan diri sebagai pengunjung/tamu di dunia atau atau sebagai warga tetap. Adab atau disiplin seorang bertamu dunia: Penilaian yang benar; Tidak merampas hak manusia; Tidak merusak dunia dan; Selalu bertaqwa pada Gusti Allah. Inilah adab seorang tamu di dunia. Pilihan sepenuhnya di tangan kita. Sesungguhnya seperti Mursyid mengatakan “Allah Maalik hai” – Gusti Allah Maha Memiliki. Mau jadi warga dunia atau tamu di dunia, kita semua tetaplah milik-Nya. Adalah demi kebaikan kita sendiri bahwa pilihan itu di-“cipta”-kan supaya kita bisa “bermain” dengan cantik. Marilah kita mencontohi permainan cantik para pecinta-Nya dengan mempertahankan kewarganegaraan surga kita yang sedang berkunjung ke dunia sebagai tamu.

 

Menjadi Pelancong yang Baik

Dalam salah satu contohnya, Bapak Anand Krishna menyampaikan: Seorang tamu seperti Sariputra akan dipercayai penuh oleh manajemen hotel. Mereka yakin bahwa ia tidak akan mencuri handuk dalam kamar mandi.  Tidak akan mencuri asbak dari ruangan tamu. Tidak akan merusak penutup kloset. Ia dipercayai akan menjaga kebutuhan dan keindahan kamar yang disewanya. Tinggal di Hotel Bumi ini, jadilah seorang tamu seperti Sariputra. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadarannya, maka anda tidak perlu dibelenggu dengan rantai peraturan dan hukum………

Ia yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya. Akan tetapi tidak lupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada apa pun juga. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup sangat ketat dalam lingkungan ashram, pesantren atau biara. Hidup di tengah keramaian dunia, menikmati segala pemberian alam semesta, tetapi tidak terikat pada apa pun juga. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tidak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupannya. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang, ia akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya………. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Urip Mung Mampir Ngome, Hidup di Dunia Hanya Mampir Minum

Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan pada saat pergi. Para leluhur mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan.

 

Bapak Anand Krishna pernah memberi nasehat, Kita semua “warga surga yg sedang berkunjung ke dunia”. Anggap saja diri kita sebagai alien, ET. Dan, tujuan kita disini untuk membangun surga di dunia. Supaya teman-teman lain sesama ET punya tempat penginapan yang menyerupai watan, kampung halaman mereka. Sekaligus supaya warga dunia lain “jadi ngerti”, oh ternyata dunia ini nggak seberapa, ada yang lebih cantik! Jadi anggap saja diri kita sales promo dari surga. Semoga kita semua ingat, sesungguhnyalah kita warga surga yang sedang berkunjung ke bumi……..

Guru adalah Duta Besar dari Negara Ilahi. Guru mengingatkan para murid bahwa para murid sebenarnya bukan warga dunia, segera kembalilah ke Negara Ilahi. Mungkin ada yang belum bertemu Sang Duta Besar, tetapi pengumumannya telah dipasang di mana-mana. Para murid telah lupa kewarganegaraan asli mereka.

Suara Nurani di Tengah Kebisingan Pikiran #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on April 25, 2018 by triwidodo

Dikisahkan, dua sahabat berjalan di trotoar di tepi jalan pada saat jam sibuk. Ada berbagai kebisingan; klakson mobil, suara mobil mengerem, orang berbicara, suara motor dan mobil, suara sepatu hak tinggi wanita yang berjalan dan lain sebagainya. Salah satu sahabat berkata, “Saya mendengar suara Jengkerik.”

Sahabatnya berkata, “Tidak mungkin. Bagaimana kau bisa mendengar suara Jengkerik dengan semua kebisingan ini. Mungkin itu suara bayanganmu. Saya belum pernah melihat Jengkerik di kota.”

Dia berkata, “Saya mendengar suara Jengkerik. Saya akan tunjukkan padamu.” Dia berhenti sejenak, lalu mengajak temannya menyeberang jalan ke taman, sambil menguak semak dia menemukan seekor Jengkerik Coklat.

Sahabatnya berkata, “Itu luar biasa, kau harus mempunyai pendengaran super. Apa rahasianya?”

Dia berkata, “Tidak, pendengaranku sama saja dengan pendengaranmu. Saya akan menunjukkannya kepadamu!” Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa koin mata uang dan melemparkannya ke trotoar.

Di tengah semua kebisingan kota, semua orang dalam jarak 10 m menoleh untuk melihat darimana suara koin jatuh itu berasal.

Ini adalah fokus dari apa yang Anda ingin dengarkan. Apa yang kita dengarkan dalam hidup ini? Apakah nafsu ego kita yang kita dengarkan atau hati-nurani kita?

Dari berbagai bacaan di dunia maya, kita paham hanya mendengarkan pikiran saja, kita tidak akan bahagia, kita akan mengalami suka-duka yang tanpa akhir.

Teknik-teknik dalam latihan Ananda’s Neo Self Empowerment, Ananda’s Neo Kundalini Yoga, Membaca Mantra, melakukan Yoga Sadhana adalah salah satu cara menjernihkan pikiran dan melatih mendengarkan hati nurani kita dan melakoninya.

Mendengarkan Institusi di atas Pikiran, Ucapan dan Tindakan

Kita ingin mempersatukan antara pikiran, ucapan dan tindakan. Untuk mempersatukan ketiga-tiga unsur tersebut – anda membutuhkan bantuan dari “lembaga”, dari “institusi” yang berada di atas mereka. Yaitu, institusi “kesadaran”, lembaga “rasa”. Selama ucapan dan tindakan anda masih dikendalikan oleh “pikiran”, jiwa anda tidak akan pernah utuh. Sering kali tindakan anda tidak akan “klop” dengan ucapan anda. Demikian, anda akan berjiwa “jereng”. Kembangkan rasa dalam dirimu. Dan dengar jiwa yang utuh, dengan penuh kesadaran, bertindaklah sesuai tuntunan nurani anda, maka anda akar berhasil! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hati Nurani Mewakili Kebenaran

Mind tergantung pada fakta dan akan selalu menghitung laba-rugi. Sebaliknya, hati nurani mewakili Kebenaran – Kebenaran Hakiki, Kebenaran Ilahi di balik fakta-fakta yang terlihat oleh mata kasat. Hati nurani telah melampaui dualitas. la tidak mengenal laba-rugi. la akan mempertemukan anda dengan “hakikat diri”, dengan “jati diri”. Dan penemuan “jati diri” tidak bisa disebut keuntungan ataupun kerugian. Bahkan tidak bisa disebut “penemuan”. Anda tidak pemah kehilangan jati diri. Selama ini, anda hanya tidak menyadarinya. Dengarkan suara nurani anda. Dan anda akan selalu berjaya, berhasil! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengarkan Hati Nurani dan Bekerja Sesuai dengan Hati Nurani

Seorang yang selalu cemas sesungguhnya merasa bersalah atas perbuatannya sendiri di masa lalu. Misalnya, ia pernah berbuat jahat atau menipu orang lain. Dan, ia berhasil. Ia berhasil dalam tipu-muslihatnya itu.

Nah, seorang yang berhasil menipu orang lain selalu cemas, takut, “Jangan-jangan aku tertipu!” Pikirnya, jika aku bisa menipu orang lain, dan dia tidak menyadari hal itu. Maka, bisa saja ada orang yang menipuku, dan aku tidak sadar. Paranoid, Parno! Ia menjadi korban dari rasa bersalah yang muncul dari sanubarinya. Lalu, solusinya apa?

Bekerjalah sesuai dengan kata hat! terdalam. Nurani kita tidak akan pernah mendukung perbuatan yang merugikan orang lain. Jika kita bekerja sesuai dengan petunjuknya, maka tidak akan bertindak salah. Dan, tiada lagi kecemasan di kemudian hari.

Tiada lagi amarah yang muncul karena keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi dan sebagainya, sebab kata-hati, nurani selalu berbahasa moderat. Tidak pernah ekstrem.

Kemudian, pemusatan diri pada-Nya – Berlindung pada-Nya, serta menyucikan diri dengan Tapa, Disiplin-Diri untuk mengetahui Hakikat-Diri; untuk mengenal diri kita sebagai percikan_nya. Inilah jalan menuju kebebasan mutlak. Inilah satu-satunya cara untuk rnembebaskan diri dari kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Penjelasan Bhagavad Gita 4:10 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Sumber Persoalan adalah Dualitas, Nurani Melampaui Dualitas

Kedamaian Sejati adalah hasil berakhirnya konflik yang disebabkan oleh paham dualitas. Dualitas adalah sumber segala persoalan. Perhatikan kejadian-kejadiaan di dunia kita saja, di planet bumi ini. Orang-orang sebangsa pun saling bunuh-membunuh, karena beda haluan politik, beda pendapat, beda kepercayaan.

Mereka yang masih menyimpan konflik di dalam dirinya, belum tenang, memproyeksikan kekacauannya di luar diri. dan, terjadilah aksi terror, bom bunuh diri, perang dan sebagainya.

Umumnya mereka yang terlibat dalam konflik, menjadi sumber konflik, sekaligus pelaku kekerasan, belum bisa menerima Gusti Pangeran sebagai Tuhan seantero alam. Walau mayoritas mengaku percaya pada Satu Tuhan Hyang Maha Tunggal, sesungguhnya mereka masih bingung. Masih belum yakin pada apa yang mereka katakan.

Mereka belum bisa menerima Tuhan sebagai Mitra Jagad Raya. Tuhan dalam pemahaman mereka adalah Mitra Suku, Mitra Bangsa tertentu, Mitra Kelompok Kepercayaan tertentu – belum menjadi Mitra Seantero Alam.

Kemudian, jika Tuhan di dalam pemahaman kita masih merupakan Tuhan yang pilih kasih, lebih memperhatikan kelompok tertentu, bahkan memusuhi kelompok-kelompok lain, maka kita pun akan mencontohinya. Tidak, Tuhan seperti itu hanyalah khayalan kita. Tuhan Angkara Murka dan Maha Iri adalah proyeksi dari pikiran kita, perasaan kita.

Lampauilah pikiran, perasaan, bahkan inteligensia – dan temukan nurani, sanubari, Jiwa – itulah Tuhan penuh kasih – Mitra Seantero Alam. Penemuan ini dan hanya penemuan ini yang dapat mendamaikan kita! Penjelasan Bhagavad gita 5:29 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Para Suci Lebih Sakti Dari Pada Vishnu? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 24, 2018 by triwidodo

Narada, seorang Rishi yang bijaksana, berziarah ke istana Dewa Vishnu. Pada suatu malam ia singgah di sebuah desa dan diterima dengan baik oleh sepasang suami-isteri yang miskin. Sebelum ia berangkat pada hari berikutnya, si suami minta kepada Narada: “Tuan akan pergi kepada Dewa Vishnu. Tolong mintakanlah kepadanya, agar Ia menganugerahi saya dan isteri saya seorang anak. Sebab, sudah bertahun-tahun lamanya kami berkeluarga, namun kami belum juga mempunyai anak.”

Sampai di istana, Narada berkata kepada Dewa Vishnu: “Orang itu dengan isterinya amat baik kepada saya. Maka sudilah bermurah hati dan berilah mereka seorang anak.” Dewa Vishnu menjawab dengan tegas: “Telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan mempunyai anak.” Maka Narada menyelesaikan kebaktiannya, lalu pulang.

Lima tahun kemudian Narada berziarah ke tempat yang sama. Ia singgah pula di desa yang sama dan sekali lagi diterima dengan baik oleh pasangan suami-isteri yang sama pula. Kali ini ada dua orang anak bermain-main di muka pondok mereka.

“Anak-anak siapa ini?” tanya Narada. “Anak-anak saya.” jawab si suami. Narada bingung. Si suami meneruskan ceritanya: “Segera setelah Tuan meninggalkan kami lima tahun yang lalu, seorang pengemis suci datang mengunjungi kampung kami. Kami menerimanya barang semalam. Paginya, sebelum berangkat, ia memberkati saya dan isteri saya … dan Dewa mengaruniai kami dua orang anak ini.”

Mendengar cerita ini, Narada cepat-cepat menuju istana Dewa Vishnu lagi. Ketika tiba di sana, di depan pintu istana ia sudah berteriak: “Bukankah Dewa telah mengatakan: telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan punya anak? Kini ia mempunyai dua orang anak!”

Ketika Dewa Vishnu mendengar hal ini, ia tertawa keras dan berkata: “Pasti perbuatan seorang suci! Hanya orang suci yang mempunyai kuasa untuk mengubah nasib seseorang.”

Kita diingatkan akan pesta nikah di Kana. Waktu itu Ibu Jesus mendesak Putranya dengan doa-doanya untuk melakukan mukjizat yang pertama sebelum waktunya seperti yang telah ditentukan oleh Allah Bapa.

Dikutip dari (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Para Suci telah meninggalkan segalanya demi Gusti, maka Gusti tidak akan meninggalkan mereka. Para Suci penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Nya, mengingat-Nya, memuja-Nya tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Nya) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Nya. Mereka Dia-lindungi senantiasa dan Dia-penuhi segala kebutuhannya.

 

Para Suci Telah Meninggalkan Segalanya untuk Gusti, Gusti Tidak Akan Meninggalkan Mereka

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan bahwa Rishi Durvasa karena tersinggung kepada Raja Ambharisha menciptakan makhluk untuk menyerang sang raja. Akan tetapi Sudarsana Chakra melindungi sang raja dan bahkan mengejarnya. Rishi Durvasa minta tolong Brahma, tapi tidak bisa mengatasi senjata Vishnu tersebut. Demikian juga Mahadeva pun tidak sanggup mengatasi. Akhirnya Rishi Durvasa menghadap Vishnu.

Vishnu tersenyum dan berkata, “Durvasa, kamu juga tidak melihat bahwa aku pun sama seperti Brahma dan Mahadewa? Kamu tidak memahami diri-Ku. Aku bukan orang bebas. Aku mungkin mampu melakukan apa pun yang aku kehendaki. Tetapi aku adalah milik bhakta-Ku. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan memilih Aku sebagai sahabat mereka. Mereka meninggalkan segalanya untuk-Ku. Istri, rumah, anak, keinginan dan hidup mereka tinggalkan untuk-Ku. Mereka tidak memikirkan dunia dan tidak tergiur surga. Yang mereka harapkan hanya rahmat-Ku. Sebagai balasan, Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. mereka sudah menaklukkan aku dengan cinta mereka. hinaan apa pun terhadap mereka adalah hinaan kepada-Ku.”

Akhirnya Rishi Durvasa minta maaf kepada Raja Ambarisha.

Para Suci Senantiasa Ku-penuhi Segala Kebutuhannya

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Inilah alam yang lebih tinggi dari surga. Inilah alam-Nya, alam kebahagiaan Sejati. Bagi seorang panembah, alam ini, dunia ini adalah surga. Ia tidak mengejar surga setelah kematiannya. Ia sudah berada di dalam surga – sekarang dan saat ini juga.

Maka, setelah ia “mengalami kematian”, tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengalami sesuatu yang lebih tinggi; sesuatu yang lebih mulia.

Anak-anak kecil bermain dengan Gundu. Ketika sudah memasuki usia remaja, gundu-gundu itu ditinggalkannya. Ia memiliki permainan lain yang jauh lebih menarik. Demikian, seorang panembah melanjutkan perjalanan Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Gusti Memenuhi Segala Kebutuhan Para Suci

Seorang panembah tak pernah kekurangan sesuatu. Aku memenuhi segala kebutuhan para panembah yang telah berserah diri kepada-Ku. Demikian pula janji Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta. Maka, sesungguhnya kau tidak perlu khawatir tentang kebutuhanmu sehari-hari. Jika kekurangan sesuatu, mintalah kepadaKu.

Mintalah kepada Tuhan Hyang Maha Memiliki. Untuk apa mengharapkan sesuatu dari dunia, berharaplah kepada Hyang Memiliki dunia. Untuk apa mengharapkan penghargaan dan pengakuan dari dunia, lebih baik mengharapkan berkah dan karunia Ilahi.

Janganlah terperangkap dalam permainan dunia. Pujian yang kau terima dari dunia tidak berarti apa pun jua. Jalani hidupmu dengan kesadaranmu sepenuhnya terpusatkan kepada Tuhan. Ketertarikan kepada dunia sungguh tak berarti. Tuhan adalah Hyang Maha Menarik!

Ingatlah Aku setiap saat, sehingga dunia benda tidak menggodamu. Hanyalah dengan cara ini kau dapat merasakan kedamaian, dan ketenangan sejati. Inilah cara untuk hidup tanpa beban apapun.

Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)