Bahagia atau Sengsara Adalah Pilihan Kita? #BhagavadGitaIndonesia

Seorang mistik Sufi yang tetap bahagia sepanjang hidupnya – tidak ada yang pernah melihatnya tidak bahagia – dia selalu tertawa, yang tertawa, seluruh hidupnya penuh perayaan…. Di masa tuanya, ketika dia sekarat, di ranjang kematiannya dan masih menikmati kematian, tertawa dengan riang, seorang muridnya bertanya, “Guru membingungkan kita. Sekarang Guru sekarat, kenapa masih tertawa? Apa ada yang lucu? Kami merasa sangat sedih. Kami ingin bertanya berkali-kali mengapa Guru tidak pernah bersedih. Menghadapi kematian, setidaknya seseorang harus bersedih. Guru masih tertawa – bagaimana Guru mengelolanya?”

Orang tua itu berkata, “Ini sederhana. Saya telah bertanya kepada Master saya – saya telah pergi ke Master saya sebagai pemuda; Saya baru tujuh belas tahun dan dalam keadaan menderita, dan Master saya sudah tua, tujuh puluh tahun, dan dia duduk di bawah pohon, tertawa tanpa alasan sama sekali. Tidak ada orang lain di sana, tidak ada yang terjadi, tidak ada yang melontarkan lelucon atau apa pun, dan dia hanya tertawa, memegangi perutnya. Saya bertanya kepadanya, apa yang terjadi dengan Master?”

Dia berkata, “Suatu hari saya juga sama sedihnya dengan kamu. Kemudian saya sadar bahwa bahagia  itu adalah pilihan saya, ini adalah hidup saya.”

Sejak hari itu, setiap pagi ketika aku bangun, hal pertama yang kuputuskan adalah … sebelum aku membuka mataku, aku berkata pada diriku sendiri, “Abdullah – itu adalah namanya – apa yang kamu inginkan? Penderitaan? Kebahagiaan? Apa yang akan kaupilih hari ini? Dan saya selalu memilih kebahagiaan.”

Itu adalah sebuah pilihan. Cobalah. Ketika kau menjadi sadar saat pertama di pagi hari, saat bangun tidur, tanyakan pada diri Anda, “Abdullah, ini hari lain! Apa ide Anda? Apakah Anda memilih Sengsara atau Bahagia?”

Dan siapa yang memilih kesengsaraan? Dan mengapa? Hal ini sangat tidak alami – kecuali seseorang merasa bahagia dalam kesengsaraan. Tetapi kemudian Anda juga memilih kebahagiaan, bukan kesengsaraan. Dikisahkan oleh Osho…………………

Bahagia dan Derita adalah Pilihan Bebas Kita

Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi Berkah bagi dunia.

Be Joyful and Share Your Joy with Others- Jadilah Bahagia dan Bagilah Kebahagiaan. Tidak ada yang melarang kita untuk menjadi bahagia. Tidak ada yang bisa. Jadilah bahagia, sekarang dan saat ini juga, karena saat ini adalah saat kita , untuk menjadi bahagia dan berbagi kebahagiaan.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Uang Tetap Penting tetapi Bukan Segalanya

Mengutamakan “kebahagiaan” tidak berarti bahwa uang tidak penting. Uang tetap penting, tetapi uang bukanlah segalanya. Bila uang dapat membahagiakan, semestinya orang kaya tidak pernah menderita, walaupun sakit. Ternyata tidak dernikian. Orang sakit, tak peduli kaya atau miskin, tetap saja menderita.

Ketika seseorang jatuh sakit, harta seberapa pun tidak dapat membahagiakannya. Pada saat itu, kesehatanlah yang dibutuhkannya, dan kesehatan tidak dapat dibeli dengan uang. Uang hanya dapat membeli obat-obatan. Uang hanya dapat memastikan bahwa si kaya memperoleh bantuan medis yang terbaik, namun semuanya itu tetap tidak menjamin pemulihan kesehatan.

Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan uang. Adakah kita mengajarkan hal ini kepada anak-anak kita? Seorang anak yang ingin menjadi dokter ditanya “kenapa?”. Dengan enteng ia menjawab, “Supaya jadi kaya dan bisa beli mobil besar.” Idolanya adalah dokter keluarga yang memang memiliki mobil besar, rumah besar… dan barangkali juga kepala besar!

Idola anak-anak kita adalah para selebriti, bintang film dan sinetron yang serba wuaah. Idola mereka adalah para politikus dan pejabat, bukan karena mereka adalah pelayan dan pengabdi masyarakat, tetapi karena mereka memiliki banyak uang.

Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Para responden di Inggris menjawab “Ya”. Dan, lebih dari 50% mengharapkan bahwa sistem pendidikan harus berorientasi pada kebahagiaan, bukan pada kekayaan.

Berarti, sejak usia dini anak-anak kita sudah harus diperhatikan supaya tidak keluar dari jalur, supaya tidak menempatkan kekayaan, uang, dan harta di atas segalanya. Orientasi sistem pendidikan kita sudah saatnya diubah.

………….

Kenikmatan indriawi membutuhkan pemicu di luar. Telinga membutuhkan suara yang disenanginya. Hidung membutuhkan aroma pilihan. Mata ingin melihat tayangan yang mengasyikkan. Lidah ingin mencecap sesuatu yang enak. Dan, kulit kita ingin diraba, dielus-elus. Dan, untuk semuanya itu materi memang dibutuhkan.

Kenyamanan jasmani pun membutuhkan materi. Jangankan ranjang yang empuk, untuk ranjang biasa saja kita membutuhkan fulus. Lalu, apakah kenikmatan indra dan kenyamanan jasmani itu tidak panting? Penting juga! Kita hanya perlu menyadari bahwa semuanya itu “tidak dapat” membahagiakan. Silakan memanjakan diri dengan segala macam sarana yang dapat membuat tubuh nyaman dan memberi kenikmatan pada indra. Tidak ada yang salah dengan semuanya itu, asal kita ingat bahwa sarana-sarana itu tidak Ianggeng, tidak kekal, tidak abadi sehingga tidak dapat membahagiakan manusia untuk selamanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kesadaran Jiwa Membawa Kebahagian Sejati

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi. Bahkan, surga– mereka pun penuh dengan sarana-sarana kenikmatan indrawi, seolah “di sana” pun kita akan tetap berkaki-tangan, berkelamin, seperti “di sini”.

Bayangan kita tentang surga adalah cerminan dari keinginan-keinginan di dalam diri, keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi. Jika di sini punya pasangan yang menginjak dan menindas, maka kita akan berkhayal tentang surga yang memiliki jumlah pelayan tidak terhitung dan semuanya masih muda belia sehingga kita berharap tidak akan mengalami penindasan seperti di sini.

Ada pula yang berkarya, beramal saleh dengan pengertian membayar premi asuransi bagi reinkarnasi yang lebih baik – Lagi-lagi urusannya adalah kenikmatan indrawi. Lagi-lagi, urusannya adalah kebendaan.

Dengan berkesadaran Jiwa, kita tidak perlu menunggu mati untuk masuk surga. Dengan Kesadaran Jiwa, kita dapat mengubah hidp kita menjadi surgawi, dalam pengertian penuh kenikmatan Jiwani yang adalah esensi surga. Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa.

Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja. Penjelasan Bhagavad Gita 2:43 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Hidup Berkesadaran Menuju Kebahagiaan Sejati

Hidup Berkesadaran adalah Hidup Meditatif. Hidup Berkesadaran berarti hidup dengan penuh keyakinan bahwa kita adalah Jiwa, bukan badan, bukan indra. Kemudian, hidup yang demikian itulah yang membuahkan Samādhi, keseimbangan, di mana kita bisa melampaui segala dualitas, segala pengalaman suka-duka, panas-dingin, senang-susah, dan sebagainya. Adapun, hanyalah setelah itu, kita meraih Kebahagiaan Sejati atau Ānanda yang kekal, abadi. Penjelasan Bhagavad Gita 2:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: