Arjuna dan Siddharta #BhagavadGitaIndonesia

Dia duduk di bawah pohon. Seorang astrolog mendekatinya – dia sangat bingung, karena dia melihat jejak Buddha di atas pasir basah dan dia tidak bisa mempercayai matanya. Semua tulisan suci yang telah dia pelajari sepanjang hidupnya telah menceritakan kepadanya tentang tanda-tanda tertentu yang ada di kaki seorang pria yang memerintah dunia – seorang chakravartin – penguasa dari semua enam benua, dari seluruh bumi. Dan dia melihat jejak kaki di pasir basah di tepi sungai semua simbol begitu jelas sehingga dia tidak bisa mempercayai matanya! Entah semua kitab sucinya salah dan dia menyia-nyiakan hidupnya dalam astrologi … jika tidak, bagaimana mungkin pada suatu sore yang panas, di desa kecil yang kotor seperti itu, seekor chakravartin akan datang dan berjalan tanpa alas kaki, di atas pasir panas yang membara?

Dia mengikuti jejak kaki, hanya untuk mencari pria yang menjadi jejak kaki itu. Dia menemukan Sang Buddha duduk di bawah pohon. Dia bahkan lebih bingung. Wajahnya seperti chakravartin – rahmat, keindahan, kekuatan, aura – tapi pria itu adalah seorang pengemis, dengan mangkuk mengemis!

Sang peramal menyentuh kaki Sang Buddha dan bertanya kepadanya, “Siapa Anda, Tuan? Anda telah membingungkan saya. Anda harus menjadi chakravartin, penguasa dunia. Apa yang kamu lakukan di sini, duduk di bawah pohon ini? Entah semua buku astrologi saya salah, atau saya berhalusinasi dan Anda tidak benar-benar ada di sana.”

Buddha berkata, “Buku-buku Anda benar-benar benar – tetapi ada sesuatu yang tidak termasuk kategori, bahkan tidak termasuk kategori chakravartin. Saya, tapi saya bukan orang tertentu.”

Sang peramal berkata, “Kamu membuatku lebih bingung. Bagaimana Anda bisa tanpa menjadi orang pada khususnya? Anda pasti dewa yang telah datang mengunjungi bumi – saya dapat melihatnya di mata Anda!”

Buddha berkata, “Aku bukan dewa.”

Sang peramal berkata, “Maka Anda harus menjadi gandharva – seorang musisi surgawi.”

Buddha berkata, “Bukan, saya juga bukan gandharva.”

Dan sang peramal terus bertanya, “Jadi, apakah Anda seorang raja yang menyamar? Kamu siapa? Anda tidak bisa menjadi binatang, Anda tidak bisa menjadi pohon, Anda tidak bisa menjadi batu – siapa sebenarnya Anda?”

Dan jawaban yang diberikan Sang Buddha adalah sangat penting untuk dipahami. Dia berkata, “Saya hanyalah seorang Buddha – saya hanyalah kesadaran, dan tidak ada yang lain. Saya tidak termasuk kategori apa pun. Setiap kategori adalah identifikasi dan saya tidak memiliki identitas apa pun.”

Dikisahkan oleh Osho……………..

Dalam diri setiap orang terdapat “Kesadaran” tetapi tertutup oleh pikiran dan emosi.

Orang yang Telah Terjaga Dari Tidur Panjang Pikiran dan Emosi

Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “tatha”. “Tatha”, Berarti….“Thus”, atau “Such” – seperti itulah!. Ya, seperti itulah arti “Tatha” – “Seperti Itulah!” Singkatan dari “Yatha-Bhuta”, yang juga bisa diartikan “As It Is”, atau  sebagaimana adanya”. “Tatha” adalah keadaan awal setiap manusia.

Kemudian, apakah kita diharapkan menjadi “kekanak-kanakan”? Tidak. Yesus tidak mengatakan kita “menjadi anak kecil lagi”, tetapi “kembali seperti seorang anak kecil” – like a little child! “Kembali seperti seorang anak kecil”, berarti, “tetap dewasa, tapi dengan kepolosan, kesahajaan, dan terutama keceriaan seorang anak kecil.” Oleh sebab itu, seorang yang telah terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi disebut “Tathagata”-”ia yang telah mencapai keadaan itu”.

Menjadi “seperti seorang anak kecil” berarti menjadi seorang Tathagata. Polos, tapi tidak bodoh. Bersahaja, tapi tidak naif. Lembut, tapi tidak lemah. Sopan, tapi menjaga diri, “supaya tidak dimakan orang juga”. Ketika Buddha ditanya seperti apakah ciri-ciri seorang Tathagata la menjelaskan: “Tak terjelaskan” (“Vajracchedika Prajnaparamita Sutra” atau “Diamond Sutra”).

Namun, Buddha menjelaskan cara untuk mencapai keadaan itu, yakni dengan membebaskan diri dari keterikatan pada kebendaan yang senantiasa berubah terus. Dan, menyadari hal itu, menyadari bahwa “perubahan adalah sifar dasar benda”. Jika kita terikat dengan salah satu wujud, ketika wujud itu berubah menjadi sesuatu yang lain, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka. Kendaraan baru kita ditabrak, berubah bentuk menjadi rongsokan, kita kecewa dan berduka. Rumah mewah kita terbakar, berubah bentuk menjadi abu dan puing-puing, kita kecewa dan berduka. Orang yang kita sayangi meninggal, badan berubah bentuk menjadi jasad, jasad menjadi abu, atau kembali ke tanah, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka.

Adakah Kemungkinan Kita Bisa Bebas dari Keterikatan? Ada. Jika kita bisa mengakses “keadaan awal seperti itu” – tatha. Ada kemungkinan, jika kita bisa berada dalam keadaan itu – tathagata. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Nirvana dan Samsara

Nirvana adalah suatu keadaan pikiran yang sudah tidak liar lagi, perasaan atau emosi pun tidak berjungkat-jungkit lagi. Nirvana adalah “pemadaman api pikiran serta perasaan”. Tiada lagi gejolak di dalam diri.

Nirvana adalah Kebebasan Mutlak – Moksa. Nirvana adalah kedamaian sejati yang merupakan “rasa terdalam” – bukan rasa “emosi”. Dan, rasa terdalam itu bersumber dari Ia Hyang adalah Wujud Kebahagiaan Sejati – Sang Jiwa Agung.

“Pemusatan pikiran pada-Ku” adalah pemusatan diri pada diri – pada Sumber Kebahagiaan Sejati yang ada di dalam diri. kedamaian Sejati “Nirvana” pun bukanlah sesuatu yang asing dan ada di lapisan langit tertinggi.

Nirvana adalah Keadaan Alami “Setiap Diri” – Keadaan alami Anda dan saya, keadaan tanpa keterikatan, tidak ada belenggu, tidak ada perbedaan. Nirvana adalah kebebasan Jiwa. Sementara dunia luar adalah kebalikannya.

Dunia Luar adalah Samsara – Alam pengulangan yang menyengsarakan. Betapa bodohnya  kita yang terjebak dalam roda pengulangan Samsara! Sudah tergilas sekali di bawah rodanya, tetap tidak sadar. Tetap tidak menyingkir, dan menghindari penggilasan diri di bawah rodanya terus-menerus – inilah Samsara. Penjelasan Bhagavad Gita 6:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Upaya Kita Tidak Sia-Sia Walau Belum Mencapai Kesempurnaan

Walau, dalam kehidupan ini kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga, belum menyatu dengan-Nya dan keburu “mati”, tiada yang perlu dikhawatirkan. Upaya kita sepanjang hidup tidak sia-sia.

DALAM MASA KELAHIRAN BERIKUTNYA… Walau lahir dalam keluarga kaya, sejahtera, serba berkecukupan, atau bahkan berlimpah, walau masih sering terbawa oleh hawa nafsu, dan masih pula terkendali oleh indra — kita akan tetap berupaya untuk meraih kesempurnaan dalam Yoga.

Kita tidak bisa mengabaikan dorongan Jiwa, suara hati, untuk melanjutkan perjalanan rohani kita. Kiranya, keadaan ini yang dialami oleh seorang pangeran seperti Siddhartha. Maka, dengan adanya pemicu sedikit saja — dengan melihat kenyataan hidup berupa kelahiran, kematian, penyakit, usia tua, dan sebagainya — ia langsung mengingat kembali “tujuannya” dan meninggalkan istana untuk melanjutkan perjalanannya.

ARJUNA BERADA DALAM P0SISI YANG MIRIP, tapi tidak sama. Dalam diri Arjuna, potensi sebagai seorang kesatria masih tetap melengket. Tidak demikian dengan Siddharta. Sebab itu, Arjuna mesti berada di tengah keramaian dunia dan mengupayakan kesempurnaan dalam Yoga sambil tetap menjalankan profesinya.

Sementara itu, Siddhartha tidak memiliki identitas-kesatria yang melengket pada dirinya. Walau lahir sebagai pangeran, Jiwa Siddhartha sudah rnerasa cukup menjalani peran sebagai kesatria dalam beberapa masa kehidupan sebelumnya. Maka, ia ingin memiliki pengalaman yang beda – pengalaman sebagai petapa.

Potensi seorang Siddharta adalah sebagai bhiksu, sebagai petapa. Potensi Arjuna sebagai kesatriia.Namun kedua-duanya sedang menuju pengalaman akhir yang satu dan sama—kesempurnaan! Penjelasan Bhagavad Gita 6:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

One Response to “Arjuna dan Siddharta #BhagavadGitaIndonesia”

  1. Ni Made Adnyani Says:

    Reblogged this on Ni Made Adnyani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: