Archive for May, 2018

Persepsi Musa dan Kejernihan Sang Guru #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on May 8, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Musa belajar pada seorang Master. Sang Master mewajibkan Musa berlatih disiplin dan untuk pertama kalinya adalah “diam”.

Mereka berjalan di lewat tempat yang indah pemandangannya, Musa terpesona sehingga mudah untuk “diam”.

Pada suatu kali mereka sampai pada sebuah sungai dan Musa melihat seorang anak tenggelam di tepi seberang sedangkan ibunya berterian-teriak minta tolong. Musa tidak tenang dan bertanya, “Guru apakah Guru tidak dapat menyelamatkan anak tersebut?” Sang Guru berkata, “Diam.”

Musa terusik hatinya, “Apakah Guru saya ini bergati batu? Tidak punya perasaan? Tidak bisakah dia membantu menyelamatkan anak tersebut?” Musa takut berpikiran tidak baik tentang Gurunya, tapi pikiran tersebut selalu mengganggunya.

Dikisahkan mereka sampai di tepi laut dan melihat sebuah perahu tenggelam bersama para awak kapalnya. Musa berkata, “Guru, lihat perahu itu tenggelam.” Sekali lagi Sang Guru menyuruh Musa diam dan Musa tidak berbicara lagi.

Musa tidak tenang dan ketika sampai di rumah, Musa berkeluh-kesah kepada Tuhan. Tuhan berkata, “Gurumu benar. Anak kecil yang tenggelam akan menyebabkan pembunuhan terhadap ratusan ribu orang. Bencana itu terhindarkan dengan tenggelamnya anak kecil tersebut. Perahu yang tenggelam di laut itu berisi para bajak laut yang merencanakan penjarahan harta dan pembunuhan seluruh penduduk di sebuah desa  di tepi pantai.”

Musa menyadari pikirannya belum sejernih Gurunya, Kebajikan dapat dilakukan bila disertai Kebijaksanaan. Mulai saat itu Musa mulai berlatih menjernihkan pikirannya sehingga pikiran Musa cepat menjadi jernih dan memahami kebenaran seutuhnya.

…………..

Seorang Master berkata: “Aku selalu tahu tentang masa depan, masa lalu, serta masa kini setiap orang di antara kalian, sehingga aku tidak bergerak oleh belas kasihan. Karena Aku tahu tentang masa lalu, latar belakang, maka reaksiku berbeda.” Dikutip dari Artikel Sabda Sang Guru 1: Devosi Tanpa Disiplin Tidak Berharga oleh Bapak Anand Krishna. Media Hindu 168, Edisi 168, Februari 2018.

Persepsi dalam bahasa Sanskrit adalah “pashyati”, akar katanya “pashu”, hewan

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion. Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Bapak Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Kebenaran Relatif dan Kebenaran Mutlak

Arjuna berterima kasih kepada Krsna, sebab, berkat kasih-Nya, berkat wejangan-Nya, ia bisa memahami tentang kedua hal ini, bahwasanya ada. .. ..

KEBENARAN RELATIF DAN ADA KEBENARAN MUTLAK – Kebenaran relatif adalah kebenaran alam  benda, kebendaan, materi. Segalanya berubah, relatif. Kejadian-kejadian di alam ini kita pahami berdasarkan persepsi kita.

Huru-hara yang terjadi di suatu negara bisa dipahami sebagai urusan dalam negeri mereka; atau, sebagai suatu kejadian yang dapat mengganggu stabilitas seluruh Wilayah di sekitarnya. Ada yang memahami huru-hara itu sebagai upaya untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Ada yang melihatnya sebagai konspirasi pihak-pihak yang memang tidak menginginkan stabilitas di wilayah tersebut.

Jadi, persepsi kita tentang satu kejadian yang sama bisa beda, bahkan bertolak-belakang, karena kebenaran alam-benda mernang bersifat relatif.

Namun, di balik kebenaran relatif, adalah Kebenaran Mutlak — Kebenaran Jiwa — yang mana, tidak selalu dipahami. Di balik segala kejadian, ada ‘sebab utama’. Untuk mengetahuinya, mesti menggali diri.

Di balik pengalarnan suka dan duka, adalah keinginan  Jiwa sendiri untuk mengalami semua itu. Dan, Jiwa yang sedang mengalami pun sesungguhnya adalah percikan dari Jiwa Agung, Hyang adalah Kebenaran Mutlak. Keraguan kita, sebagaimana juga keraguan Arjuna, bisa sirna karena kesadaran tentang Jiwa dan tentang hubungannya dengan Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 11:2 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Mind dapat di-over write

Mind ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, perangkat lunak itu (mind)dapat di-over write dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berbeda dari aslinya.

Ini yang disebut proses deconditioning dan re-creating mind yang sudah diulas dalam buku Atisha, Seni Memberdaya Diri-3. Isi mind bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. Mind itu sendiri tidak lebih dari sebuah ilusi. Diatas apa yang ditulis, kita dapat menulis ulang apa saja. Mind itu rewritable !

Mind menciptakan dualitas kaya-miskin, lengkap dengan “definisi” orang kaya dan orang miskin. Mind dapat menimbang kekayaan dan kemiskinan. Mind terpengaruh oleh definisi kekayaan dan kemiskinan ciptaannya sendiri. Bebas dari mind-set berarti bebas dari ketergantungan pada mind; bebas dari segala sesuatu yang memahami jiwa. Kemudian, barulah berjalan proses pemberdayaan diri, diawali dengan “penemuan jati diri”, kesadaran diri, self-awareness! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Mind yang Mapan Sulit Tunduk

Mind yang terlalu nyaman akan menegakkan ego. Mind yang terlalu mapan, sulit tunduk. Anda akan menundukkan kepala, anda akan mendatangi tempat-tempat ibadah, anda akan berdoa di tengah malam, tetapi ego anda akan tetap tegak. Ego anda tidak akan ikut tunduk.

Hasrat Inayat Khan selalu mengatakan bahwa “Mind must be exhausted” mind harus dibuat lelah, dibuat kehabisan tenaga, harus dibuat loyo seperti keledai Sang Sufi dalam cerita ini. Jangan pula berpikir bahwa mind yang loyo akan membuat anda menjadi loyo. Tidak. Sama sekali tidak demikian.

Mind yang loyo justru akan menegakkan kesadaran dalam diri anda. Kesadaran yang selama ini tertimbun di bawah ego dan mind akan bangkit kembali. Dan kesadaran adalah alat yang jauh lebih efisien daripada mind dan ego. Dengan kesadaran, hidup anda menjadi jauh lebih berarti, lebih bermakna.

Keraguan anda tentang No-Mind selama ini disebabkan oleh ketidaktahuan. Anda belum mengetahui sesuatu yang lebih berarti daripada mind. Bagi anda, mind masih merupakan “all and all”. Banyak di antara kita yang menuhankan mind, padahal kitab-kitab suci mengibaratkan mind dengan iblis, dengan setan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Kehidupan: Telah Dipahami Sudahkah Dilakoni? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on May 6, 2018 by triwidodo

Ramakrishna Paramahansa, seorang mistik di Calcutta, guru dari Vivekananda pernah berkisah:

Ada  seorang  raja  yang  setiap  hari  mendengarkan kisah Bhagavad  Gita  yang  dibawakan  oleh  seorang Fasilitator (Pengajar Perantara). Setelah menjelaskan isinya Pengajar  itu biasanya bertanya,  “Sudahkah Baginda memahami yang saya katakan?”

Sang  Raja  tidak  pernah mengatakan Ya atau Tidak. Ia hanya berkata, “Sebaiknya engkau sendiri memahaminya lebih dulu.”

Jawaban ini selalu membuat sedih Pengajar  yang  malang, yang setiap  hari  menghabiskan  banyak waktu untuk mempersiapkan pengajaran bagi Raja. Ia sendiri yakin  bahwa  pengajarannya jelas dan terang.

Pengajar  itu adalah seorang pencari Kebenaran yang tulus. Suatu hari ketika ia  sedang  bermeditasi,  tiba-tiba  ia  melihat sifat  ilusi – kenyataan  yang nisbi – dari segala sesuatu, rumah, saudara, kekayaan, sahabat, kehormatan, nama baik dan semua  yang lain. Begitu jelas ia melihatnya, sehingga semua keinginan  akan  hal-hal  itu  lenyap   dari   hatinya.   Ia memutuskan  untuk  meninggalkan  rumah  dan  menjadi seorang Sanyasi.

Sebelum meninggalkan rumahnya, ia mengirimkan  pesan  kepada sang Raja, “Baginda Raja! Akhirnya saya memahami.” Dikutip dari buku (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Sang Raja betul, walau kita menjelaskan Bhagavad Gita dengan jelas, akan tetapi kita sebenarnya kita belum memahami esensinya. Belum memahami Inti Kehidupan. Oleh karena itulah kami selalu mengutip Penjelasan seorang Master, bukan dari pikiran kami sendiri yang belum sepenuhnya paham.

Tujuan Hidup Seperti yang Disampaikan di Bhagavad Gita itu Esensinya Apa?

Madhusūdana, Penakluk Raksasa Madhu. Memahami setiap peran Kṛṣṇa adalah penting. Sebab, Kṛṣṇa mewakili solusi, jawaban atas segala persoalan dan tantangan hidup yang dihadapi Arjuna. Dan, Arjuna mewakili diri kita – diri Anda dan diri saya.

Madhu berarti “Madu”. Bayangkan seorang raksasa bernama Madhu. Madhu, madu adalah sesuatu yang menyenangkan, nikmat, manis – sulit bagi manusia untuk menaklukkan sesuatu yang nikmat.

Mudah membebaskan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan. Tapi, membebaskan diri dari keadaan yang menyenangkan! Coba Anda pikirkan.

Madhu mewakili kenikmatan yang kita peroleh dari dunia benda, dari indra. Terbawa oleh suatu kenikmatan yang mereka tawarkan – kita sering kali lupa akan tujuan hidup kita. Menaklukkan Madhu berarti melampaui kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih tinggi.

…………….

Madhusudana adalah seruan bagi Arjuna untuk mengingat tujuan hidup yang jauh lebih tinggi dari kenikmatan-kenikmatan sesaat yang bersifat rendahan. Penjelasan Bhagavad Gita 2:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Bila tujuan hidup sudah jelas yaitu untukmemperoleh kebebasan, moksha, bukan dari kenikmatan-kenikmatan yang bersifat rendahan, maka setiap Tahap Kehidupan yang dijalani oleh kita harus berdasarkan pada Tujuan Hidup tersebut.

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam sering dikisahkan banyak Raja yang melakukan perjalanan menuju kebebasan, moksha lewat Chatur Ashram. Sewaktu muda melakukan Brahmachari, kemudian melakoni Grahasthya dan baru setelah itu melepaskan tahta untuk melakukan Vanaprashta dan kemudian akhirnya menjadi Sanyasi.

Brahmachari, Grahasthya, Vanaprastha, Sanyasi

Menurut buku Sanyas Dharma (Krishna, Anand. (2012).Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang anak, remaja, atau mahasiswa yang sudah dewasa tetap disebut Brahmachari jika ia menggunakan waktunya untuk mengolah diri dan menjadi kreatif. Celibacy atau menghindari kegiatan seksual semasa itu, semata-mata supaya energi di dalam seorang Brahmachari tidak tersia-siakan untuk kegiatan seksual, karena sesungguhnya energi yang sama itu yang membuat kita menjadi kreatif. Jika energi tersebut mengalir ke bawah, terpakailah ia untuk kegiatan seksual. Dan ketika energi tersebut mengalir ke atas, hasilnya adalah kreativitas.”

Grahasthya berarti “Komitmen terhadap Keluarga”, jadi bukan sekedar membina keluarga atau rumah tangga, tetapi berkomitmen terhadap pasangannya dan putra-putrinya. Grahasthya bukan sekedar kawin, tetapi menghormati lembaga perkawinan.

Masa Vanaprastha. Selambat-lambatnya pada usia 60 tahun, para orang tua yang telah menyelesaikan tugas dan kewajiban terhadap anak-anak mereka, mesti meninggalkan rumah untuk bermukim di Vana, atau hutan untuk selanjutnya “sepenuhnya” mendalami laku spiritual. Dalam masa Vanaprastha, laku spiritual menjadi full time job. Tidak lagi mengurusi dunia dan kebendaan, tetapi mengurusi diri, mengurusi jiwa. Dan melayani manusia, sesama makhluk secara purnawaktu.

Para Vanaprasthi atau pelaku Vanaprastha Ashram boleh juga bergabung dengan salah satu ashram dalam arti padepokan yang di masa lalu berada di tengah hutan.

Vanaprastha Ashram mesti dimaknai kembali… Vanaprastha dalam konteks modern mesti diterjemahkan sebagai pelepasan diri dari ketergantungan pada materi. Materi masih dibutuhkan untuk bertahan hidup. Namun, ya sebatas itu saja, untuk bertahan hidup, dan sisanya untuk berbagi kehidupan. Tidak lagi mengejar kemewahan. Kenyamanan boleh saja, tetapi tidak lagi mengejar kenikmatan hidup berlebihan. Untuk itu seseorang boleh masuk hutan, pindah ke kampung kelahirannya dan melayani warga sekampung yang barangkali membutuhkan pelayanan, atau bergabung dengan suatu lembaga spiritual secara purnawaktu dan mengabdikan dirinya, apa saja yang memungkinkan. Intinya, ia tidak lagi mengurusi benda dan kebendaan, dan hidup dalam pengertian simple living, bukan impoverish living atau menjadi miskin dan bergantung pada belas kasihan orang lain.

Masa Sanyas. Ini merupakan masa terakhir, masa akhir hidup manusia. Dalam masa ini, seorang Sanyasi – ia yang telah memasuki masa sanyas – melepaskan segala macam ‘keterikatan’ duniawi. Ia tidak lagi membedakan antara anak kandung, anak saudara, anak orang lain, bahkan manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya.

Bagi yang ingin mendalami keempat chatur ashram dalam masa kini silakan baca buku (Krishna, Anand. (2012).Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebaikan dan Kejahatan dalam Diri Kita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on May 3, 2018 by triwidodo

Kita biasa menggolongkan manusia dalam dua kategori: orang suci dan orang berdosa. Penggolongan itu dilakukan atas dasar angan-angan saja. Sebab, di satu pihak, tidak seorang pun betul-betul tahu, siapa saja yang suci dan siapa saja yang pendosa: kesan lahiriah mudah menipu. Di lain pihak, kita semua, baik yang suci maupun yang berdosa, adalah pendosa.

Seorang pendeta mengajukan pertanyaan ini dalam sebuah kelas: “Anak-anak, seandainya semua orang baik itu putih dan semua orang jahat itu hitam, kamu akan berwarna apa?”

Si kecil Maria-Yoana menjawab: “Aku akan menjadi orang yang berwarna loreng-loreng, Pak!”

–o000o–

Seseorang mencari gereja yang baik untuk ikut serta beribadat. Kebetulan ia masuk ke sebuah gereja tempat jemaat bersama pendetanya sedang berdoa. Mereka membaca dari sebuah buku doa: “Kami melalaikan hal-hal yang sebenarnya harus kami lakukan, dan kami melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh kami lakukan.”

Orang itu langsung ikut duduk di situ dan berkata kepada dirinya sendiri dengan perasaan lega: “Syukur kepada Tuhan! Akhirnya aku menemukan juga kelompok orang yang sama seperti diriku!”

Usaha-usaha untuk menyembunyikan loreng-loreng yang ada pada orang suci kita kadang-kadang berhasil, tetapi usaha itu selalu kurang jujur. Dikutip dari buku (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Pada Zaman Treta Yuga terdapat konflik antara yang baik dan jahat antara Manusia dan Raksasa antara Sri Rama melawan Ravana. Pada Zaman Dvapara Yuga, Raksasa hampir punah dan terdapat konflik antara yang baik dan yang jahat antara Pandava dan Kaurava (yang bersifat raksasa). Setelah masuk Zaman Kali Yuga, baik yang baik maupun yang jahat semua ada dalam diri manusia. Kalau kejahatan mau dimusnahkan maka semua orang akan musnah.

 

Yang Kita Beri Perhatian dan Makanan yang Menang

Bapak Anand Krishna pernah berkisah, seorang kakek berkata pada cucunya bahwa dalam diri kita ada dua serigala: yang baik dan yang jahat. Sang cucu bertanya, “Siapa yang menang Kakek? Yang baik atau yang jahat?”

Kakeknya menjawab, “Yang menang adalah serigala yang kau pelihara dan kau beri makan!” Demikianlah kejahatan maupun kebaikan dalam diri kita juga berkonflik, siapa yang kita beri perhatian dan kita beri makan dialah yang menang!

Pilihan antara Sreya dan Preya

Krsna menggunakan istilah Sreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah sreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatandengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan sreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Viveka atau Memilah Mana Sreya dan Mana Preya

Ahamkaara atau Ke-aku-an (Ego). Mind selalu menemukan ego dalam kesadaran gemuk tidak keruan dan berpenyakitan. Ia mengidap penyakit dendam, iri, amarah, keserakahan, dan sebagainya. Sementara itu, bagian lain: Buddhi atau Inteligen (Intelligence) ditemukannya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, kurus, lemas, tak berdaya.

……………

Jalan menuju kemuliaan dan jalan menuju kepuasan indera yang bersifat sementara, inilah dua jalan yang terbuka bagi manusia. Mereka yang inteligen, berakal budi memilih jalan menuju kemuliaan. Mereka yang bodoh memilih jalan kepuasan indera, kenikmatan, dan kesenangan sesaat.

Viveka memberi kita kemampuan untuk memilah. Kemampuan inilah yang kelak mengantar kita pada Bodhichitta. Viveka ibarat Buddha dalam proses. Adalah sangat penting bahwa dalam perjalanan menuju kesadaran Buddha, atau Bodichitta, kita sadar akan apa yang tepat bagi kita, dan apa yang tidak tepat.

Viveka adalah buah meditasi. Viveka tidak dapat diperoleh dari buku. Buku, tulisan, serta pengalaman orang lain hanyalah sebatas untuk menyemangati kita.

Buku menjelaskan pengalaman para penulis yang memilih shreya atau kemuliaan dan meraih Bodhichitta. Buku juga bercerita tentang mereka yang memilih preya, atau kesenangan sesaat dan meraih penderitaan.

Mengapa preya tidak pernah memuaskan? Karena, jiwa kita abadi. Ia sedang mencari keabadian. Ia hendak meraih kebahagiaan abadi atau aananda. Sementara itu jalan preya hanyalah mengantar dia pada kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan sesaat.

Adalah viveka yang mengenal aananda. Sebelum viveka berkembang, kita tidak pernah mengenal aananda. Mind atau maanas hanya mengenal kebahagiaan dan kesenangan sesaat. Ia tidak bisa menjangkau sesuatu yang bersifat langgeng dan abadi karena dirinya sendiri tidak abadi. Ia hanyalah merekam dan menikmati pengalaman-pengalaman jiwa yang bersifat luaran, dan senantiasa berubah-ubah.

Untuk menemukan aananda, para Buddha selalu mengajak kita untuk meniti ke dalam diri sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bahagia itu Sikap Hidup #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on May 2, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang wanita berusia 92 tahun, mungil, berpenampilan menarik dan percaya diri, yang berpakaian lengkap setiap pagi pada pukul delapan, dengan rambutnya yang dikepang dan di tata rias sempurna, meskipun ia buta secara hukum, hari ini pindah ke panti jompo.

Suaminya baru saja meninggal dunia, dan dia merasa perlu pindah ke panti jompo.

Setelah berjam-jam menunggu dengan sabar di lobi panti jompo, dia tersenyum manis ketika petugas mengatakan bahwa kamarnya sudah siap. Saat dia mengarahkan alat berjalannya ke lift, petugas memberikan gambaran visual tentang kamar kecilnya.

“Saya menyukainya,” katanya dengan antusiasme seperti seorang anak berusia balita yang baru saja diberikan mainan.

“Nyonya Jones, kamu belum melihat ruangan … tunggu saja.”

“Itu tidak ada hubungannya dengan itu,” jawabnya. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang Anda putuskan sebelumnya. Apakah saya suka kamar saya atau tidak tergantung pada bagaimana perabotan diatur…… itulah cara saya mengatur pikiran saya.”

“Saya sudah memutuskan untuk menyukainya … Ini adalah keputusan yang saya buat setiap pagi ketika saya bangun. Saya punya pilihan; Saya dapat menghabiskan hari di tempat tidur menceritakan kesulitan yang saya miliki dengan bagian-bagian tubuh saya yang tidak lagi berfungsi, atau bangun dari tempat tidur dan bersyukur. Setiap hari adalah hadiah, dan selama mata saya terbuka, saya akan fokus pada hari baru dan semua kenangan indah yang telah saya simpan….. hanya untuk kali ini dalam hidup saya.”

Tumbuh lebih tua, dan semoga lebih bijak, seperti rekening bank. Anda menariknya dari apa yang telah Anda masukkan. Ketika Anda terus menyimpan di rekening bank kenangan, ingatlah rumusan sederhana ini untuk kehidupan yang damai dan menyenangkan:

Bebaskan hati Anda dari kebencian. Bebaskan pikiran Anda dari kekhawatiran. Hidup sederhana. Berikan lebih banyak. Kurangilah berharap.

Be Happy! Jadilah Bahagia dan Berkah bagi Dunia

Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi berkah bagi dunia.

Bertanyalah pada seekor kambing. Saya kira, dia tidak tahu bahagia itu apa. Selama masih bisa makan rumput dan hidup dalam kandang, ya bahagialah dia. Padahal, itu baru sebatas kenyamanan. Dia tidak dapat membedakan kebahagiaan dari kenyamanan.Bertanyalah kepada seekor keledai. Selama ada yang masih menyediakan makanan baginya, diapun tenang. Dan, ketenangan itu dianggapnya kebahagiaan. Kita manusia, dan kita memiliki kemampuan untuk membedakan kenyamanan sesaat dari kebahagiaan sejati.

Kepuasan dan ketenangan batin atau contentment dan inner peace adalah rasa puas dan tenang yang muncul dari kesadaran. Kita sadar bahwa keinginan tidak mengenal batas. Setiap keinginan yang terpenuhi menimbulkan kekecewaan. Karena itu, dengan penuh kesadaran kita membatasi keinginan kit. Saat itulah kita menjadi puas. Kala itulah kita menjadi tenang. Aman Sentosa.

Kunci kebahagiaan adalah kesadaran. Dengan kunci kesadaran itulah kita membuka pintu batin dan menemukan inner peace dan contentment yang dimaksud. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebahagiaan Sejati berada dalam Kesadaran Jiwa

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi.

……….

Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa. Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja. Penjelasan Bhagavad Gita 2:43 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Kebahagiaan dan Manusia Indonesia

Berikut adalah sebagian kutipan Artikel Bapak Anand Krishna Anand Krishna pada Radar Bali, Senin 26 November 2007:

Sumber: https://triwidodo.wordpress.com/tag/kebahagiaan/

Tuhan dan Uang – keduanya itulah yang membahagiakan Manusia Indonesia. Coba kita telusuri lebih lanjut dengan menggunakan sedikit rasio, sedikit intelejensia: Apa urusan kita dengan Tuhan, sehingga Ia dapat membahagiakan kita?

Ya, pertanyaan ini sungguh penting, sangat penting – supaya menjadi jelas “apanya” Tuhan yang membahagiakan kita? Saya berusaha untuk mencari jawaban dari orang-orang yang sebelumnya saya tidak kenal, supaya lebih objektif. Ternyata dugaan saya betul – umumnya kita berurusan dengan Tuhan karena Ia adalah Yang Maha Memberi.

Urusan kita dengan Tuhan pun bukanlah urusan cinta, bukanlah urusan kasih – tetapi perkara materi murni. Kita berdoa, kita menjalankan ritus-ritus keagamaan, bahkan kita beragama – hanya karena Tuhan adalah Hyang Maha Memberi segala apa yang kita butuhkan, Hyang Maha Mendengar segala macam keluhan kita, Hyang Maha Memenuhi segala macam keinginan kita, Hyang Maha Menyelesaikan segala macam perkara kita.

Barangkali kita tidak akan berurusan dengan Tuhan bila Ia adalah Hyang Maha Menegur dan Maha Menjewer kuping ketika kita berbuat salah. Kita lebih suka dengan atribut-atribut Tuhan seperti Hyang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Jelas, kita tidak mau ditegur dan dijewer kuping kita.

Berarti, Tuhan yang Membahagiakan kita adalah Tuhan yang Memenuhi segala macam kebutuhan, bahkan keinginan materi kita. Dan, tidak pernah menegur, apalagi menghakimi dan menghukum kita. Keberagamaan kita sepenuhnya, 100 persen adalah urusan materi murni!

Tuhan dan Uang Membahagiakan kita…..

Sesungguhnya, yang kita maksud adalah: Tuhan yang menyediakan Uang dan Uang itu sendiri yang membahagiakan kita. Berarti, kebahagiaan manusia Indonesia sepenuhnya datang dari Uang, dari Materi.

Tidak heran, bila politisi senior kita menganggap perolehan suara di pemilu sebagai rejeki. Tidak heran pula bila kita tidak pernah lupa mengucapkan syukur kepada Hyang Maha Kuasa ketika meraih kekuasaan. Dari olahragawan hingga rohaniwan – semuanya mengharapkan materi dari Tuhan.

Nabi Isa pernah mengingatkan kita: “Carilah Dia, maka segala sesuatu yang lain akan ditambahkan kepadamu.”

Kita mencari Dia, supaya memperoleh segala sesuatu.

Sama-sama mencari, tetapi lain pencaharian Sang Nabi dan lain pencaharian kita. Sang Nabi tidak mencari untuk memperoleh sesuatu. Kita mencari dengan tujuan jelas untuk memperoleh sesuatu.

Dikutip dari Artikel Bapak Anand Krishna: Kebahagiaan dan Manusia Indonesia,  pada Radar Bali, Senin 26 November 2007:

Let Go! Apa pun Yang Terjadi Terjadilah #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on May 1, 2018 by triwidodo

Dikisahkan, pada saat matahari terbit, setetes embun menjadi sadar akan sekitarnya. Di sana ia duduk di daun, menangkap sinar matahari dan melemparkannya kembali. Bangga akan kecantikannya yang sederhana, sangat puas. Di sekelilingnya ada tetesan embun lainnya, beberapa di atas daun yang sama dan beberapa daun lain di sekelilingnya. Tetes embun yakin bahwa itu adalah tetes embun terbaik dan paling istimewa dari semuanya. Ah, itu bagus untuk menjadi setetes embun.

Angin bertiup dan tanaman mulai bergetar, memberi gerakan pada daun. Teror mencengkeram tetesan embun ketika daya gravitasi menariknya ke tepi daun, ke arah yang tidak diketahui. Mengapa? Mengapa ini terjadi? Semua terasa nyaman. Semuanya aman. Kenapa mereka harus berubah? Mengapa? Mengapa?

Tetes embun mencapai tepi daun dan dia ketakutan sekaligus marah, yakin bahwa dia akan dihancurkan menjadi seribu keping di bawah, yakin ini adalah akhir dari pada dirinya. Hari yang baru saja dimulai, dan akhir itu datang begitu cepat. Rasanya tidak adil. Tampaknya begitu tidak berarti. Ia berusaha mati-matian untuk melakukan apa pun untuk bisa menempel pada daun, tetapi itu tidak ada gunanya. Rasa amarah pun tidak berguna.

Akhirnya, dia melepaskan diri, menyerah pada tarikan daya gravitasi. Jatuh, turun. Di bawah sepertinya ada cermin. Refleksi dari dirinya sendiri tampaknya akan datang untuk memenuhi tetesan embun. Lebih dekat dan lebih dekat mereka datang bersama sampai akhirnya…….

Dan kemudian rasa takut itu berubah menjadi sukacita yang dalam ketika tetesan embun kecil bergabung dengan luasnya kolam itu. Sekarang embun turun, tetapi tidak hancur. Itu menjadi satu dengan keseluruhan.

Seperti kata Rabindranath Tagore: Biarkan hidup Anda menari ringan di tepi waktu seperti embun di ujung daun.

Let Go, Biarlah Kehendak-Mu yang Terjadi

Ribuan tahun sebelum lahirnya psikologi modern, para pujangga di Timur sudah mulai memikirkan masalah-masalah psikis dan efeknya terhadap kesehatan manusia. “Amarah”, misalnya, oleh Sri Krishna dijelaskan sebagai akibat dari rasa kecewa. Dan rasa kecewa itu sendiri merupakan akibat dari keinginan-keinginan yang tak terpenuhi. Jadi, sesungguhnya “amarah” adalah akibat keinginan manusia. Karena itu, untuk mengatasi amarah, hanya ada dua jalan. Memenuhi setiap keinginan atau tidak berkeinginan sama sekali.

 Yang pertama, memenuhi setiap keinginan jelas mustahil. Kursi presiden hanya satu. Yang menginginkannya sekian banyak. Jelas, yang tidak memperolehnya akan kecewa. Yang kedua, tidak berkeinginan. Tidak mustahil, tetapi sulit sekali. Kesadaran kita harus selalu prima dan berada pada lapisan yang teratas, sehingga kita bisa menerima “ada adanya”, tanpa keinginan pribadi.

Dalam keadaan ini, kita sudah berserah diri sepenuhnya kepada Kehendak ILahi, no question asked, not mine but let Thy will be done! Kita tidak lagi mempertanyakan kebijakan-Nya, tetapi menerima sepenuhnya……

Para avatar, para mesias, para nabi, para master dan para Buddha berada dalam kelompok kedua. Mereka tidak memiliki keinginan pribadi. Karena itu, mereka tidak pernah marah. Tidak pernah marah “seperti” kita. Kualitas amarah mereka berbeda. Amarah mereka bukan produk keinginan yang tak terpenuhi. Amarah mereka adalah produk kepedulian mereka terhadap keadaan kita. Amarah mereka lahir dari rasa kasih. Bila melihat seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus atau seorang Muhammad amat sangat manis amarah yang dapat mengupas daki ketidaksadaran dari batin kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Medina, Sehat Dalam Sekejap. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Salah Identitas Diri

Manusia menderita karena menganggap dirinya hanyalah kelima indera, badan, pikiran, atau intelejensia. Kemudian, apa yang terjadi pada mereka, dianggapnya terjadi pula pada jatidirinya. Padahal tidak demikian. Sekali lagi, dia bukanlah kereta, bukan jalan raya yang ditempuh oleh kereta itu. Bukan tali pengendali, bukan sais, tetapi pemilik kereta. Itulah dia yang sebenarnya! Kesadaran itu seketika membebaskan manusia dari segala macam penderitaan, dan keterikatan yang disebabkan oleh salah identitas. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Bebas dari Rasa Takut

Bebas dari rasa yang membebani…… Seperti Rasa Iri, Kekhawatiran, dan Kesenangan Semu yang diperoleh dari kenikmatan indra dan kenyamanan materi. Dan lagi-lagi Krsna mengingatkan bila seorang panembah bebas dari rasa takut.

Rasa takut adalah “sebab utama” kelahiran kita di dunia ini. Selama hampir I0 bulan dalam rahim ibu, di mana 2-3 bulan terakhir Jiwa sudah sepenuhnya mengidentifikasikan dirinya dengan rahim yang mengandungnya — kita mengalami rasa takut. Takut sepi, sendiri — maka “terjadilah” kelahiran. Tidak semua, tetapi banyak kasus keguguran terjadi ketika Jiwa “tidak merasa takut” dan “kelahiran” menjadi tidak penting lagi.

Persis seperti itu, jika selagi masih hidup kita terbebaskan dari rasa takut — maka bebaslah kita dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Penjelasan Bhagavad gita 12:15 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Badan ini Sekadar Kereta, Aku adalah Pemilik Kereta

Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, “Aku Sejati”, “Self”, “Atma” adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini.

Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka “aku” atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya.

Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan. Untuk itu, setiap orang mesti menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Ia tidak bisa melarikan diri dari kewajiban, dan mengharapkan agar pikirannya tenang.

Pikiran yang tenang adalah pikiran yang suci. Dan, di atas lahan pikiran yang suci itulah tumbuh Viveka kemampuan untuk memilih mana yang tepat bagi kita, dan mana yang tidak tepat. Tumbuh pula Vairagya, ketakterikatan kepada dunia benda, karena sadar bila kebendaan itu tidak langgeng, dan berubah terus. Maka, dengan sendirinya manusia terbebaskan dari ego, ke-“aku”-an, atau identitas palsu. Ia tersadarkan bila dirinya bukanlah badan, apa lagi kelima indera yang merupakan bagian dari badan. Ia tercerahkan bila menyadari bahwa dirinya bukanlah pikiran, bukan intelejensia, tetapi pemilik kereta, Atma, Self, “Aku Sejati”. Ia memahami bahwa penderitaannya selama ini semata karena salah identitas. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Terbebaskan dari Individualitas

Ternyata, perubahan yang terjadi pada badan, pikiran serta perasaanku, status sosial serta ekonomi – semuanya tidak serta merta merubah-“ku”. Ketika kau menyadari hal itu, maka kau terbebaskan dari belenggu “aku” yang kecil dan bersifat individual. Ketika “aku” menyadari “aku” tidak berubah, maka “aku” pun terbebaskan dari belenggu  dan pada saat itu juga Sang Aku Sejati “terungkap” dengan sendirinya! Setiap orang yang terbebaskan dari individualitas – menemukan Sang Aku yang satu dan sama. Luar biasa! Maka, para resi merumuskan: “Itulah Kebenaran Hakiki”. Itulah Satya, Al Haqq. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)