Let Go! Apa pun Yang Terjadi Terjadilah #BhagavadGitaIndonesia

Dikisahkan, pada saat matahari terbit, setetes embun menjadi sadar akan sekitarnya. Di sana ia duduk di daun, menangkap sinar matahari dan melemparkannya kembali. Bangga akan kecantikannya yang sederhana, sangat puas. Di sekelilingnya ada tetesan embun lainnya, beberapa di atas daun yang sama dan beberapa daun lain di sekelilingnya. Tetes embun yakin bahwa itu adalah tetes embun terbaik dan paling istimewa dari semuanya. Ah, itu bagus untuk menjadi setetes embun.

Angin bertiup dan tanaman mulai bergetar, memberi gerakan pada daun. Teror mencengkeram tetesan embun ketika daya gravitasi menariknya ke tepi daun, ke arah yang tidak diketahui. Mengapa? Mengapa ini terjadi? Semua terasa nyaman. Semuanya aman. Kenapa mereka harus berubah? Mengapa? Mengapa?

Tetes embun mencapai tepi daun dan dia ketakutan sekaligus marah, yakin bahwa dia akan dihancurkan menjadi seribu keping di bawah, yakin ini adalah akhir dari pada dirinya. Hari yang baru saja dimulai, dan akhir itu datang begitu cepat. Rasanya tidak adil. Tampaknya begitu tidak berarti. Ia berusaha mati-matian untuk melakukan apa pun untuk bisa menempel pada daun, tetapi itu tidak ada gunanya. Rasa amarah pun tidak berguna.

Akhirnya, dia melepaskan diri, menyerah pada tarikan daya gravitasi. Jatuh, turun. Di bawah sepertinya ada cermin. Refleksi dari dirinya sendiri tampaknya akan datang untuk memenuhi tetesan embun. Lebih dekat dan lebih dekat mereka datang bersama sampai akhirnya…….

Dan kemudian rasa takut itu berubah menjadi sukacita yang dalam ketika tetesan embun kecil bergabung dengan luasnya kolam itu. Sekarang embun turun, tetapi tidak hancur. Itu menjadi satu dengan keseluruhan.

Seperti kata Rabindranath Tagore: Biarkan hidup Anda menari ringan di tepi waktu seperti embun di ujung daun.

Let Go, Biarlah Kehendak-Mu yang Terjadi

Ribuan tahun sebelum lahirnya psikologi modern, para pujangga di Timur sudah mulai memikirkan masalah-masalah psikis dan efeknya terhadap kesehatan manusia. “Amarah”, misalnya, oleh Sri Krishna dijelaskan sebagai akibat dari rasa kecewa. Dan rasa kecewa itu sendiri merupakan akibat dari keinginan-keinginan yang tak terpenuhi. Jadi, sesungguhnya “amarah” adalah akibat keinginan manusia. Karena itu, untuk mengatasi amarah, hanya ada dua jalan. Memenuhi setiap keinginan atau tidak berkeinginan sama sekali.

 Yang pertama, memenuhi setiap keinginan jelas mustahil. Kursi presiden hanya satu. Yang menginginkannya sekian banyak. Jelas, yang tidak memperolehnya akan kecewa. Yang kedua, tidak berkeinginan. Tidak mustahil, tetapi sulit sekali. Kesadaran kita harus selalu prima dan berada pada lapisan yang teratas, sehingga kita bisa menerima “ada adanya”, tanpa keinginan pribadi.

Dalam keadaan ini, kita sudah berserah diri sepenuhnya kepada Kehendak ILahi, no question asked, not mine but let Thy will be done! Kita tidak lagi mempertanyakan kebijakan-Nya, tetapi menerima sepenuhnya……

Para avatar, para mesias, para nabi, para master dan para Buddha berada dalam kelompok kedua. Mereka tidak memiliki keinginan pribadi. Karena itu, mereka tidak pernah marah. Tidak pernah marah “seperti” kita. Kualitas amarah mereka berbeda. Amarah mereka bukan produk keinginan yang tak terpenuhi. Amarah mereka adalah produk kepedulian mereka terhadap keadaan kita. Amarah mereka lahir dari rasa kasih. Bila melihat seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus atau seorang Muhammad amat sangat manis amarah yang dapat mengupas daki ketidaksadaran dari batin kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Medina, Sehat Dalam Sekejap. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Salah Identitas Diri

Manusia menderita karena menganggap dirinya hanyalah kelima indera, badan, pikiran, atau intelejensia. Kemudian, apa yang terjadi pada mereka, dianggapnya terjadi pula pada jatidirinya. Padahal tidak demikian. Sekali lagi, dia bukanlah kereta, bukan jalan raya yang ditempuh oleh kereta itu. Bukan tali pengendali, bukan sais, tetapi pemilik kereta. Itulah dia yang sebenarnya! Kesadaran itu seketika membebaskan manusia dari segala macam penderitaan, dan keterikatan yang disebabkan oleh salah identitas. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Bebas dari Rasa Takut

Bebas dari rasa yang membebani…… Seperti Rasa Iri, Kekhawatiran, dan Kesenangan Semu yang diperoleh dari kenikmatan indra dan kenyamanan materi. Dan lagi-lagi Krsna mengingatkan bila seorang panembah bebas dari rasa takut.

Rasa takut adalah “sebab utama” kelahiran kita di dunia ini. Selama hampir I0 bulan dalam rahim ibu, di mana 2-3 bulan terakhir Jiwa sudah sepenuhnya mengidentifikasikan dirinya dengan rahim yang mengandungnya — kita mengalami rasa takut. Takut sepi, sendiri — maka “terjadilah” kelahiran. Tidak semua, tetapi banyak kasus keguguran terjadi ketika Jiwa “tidak merasa takut” dan “kelahiran” menjadi tidak penting lagi.

Persis seperti itu, jika selagi masih hidup kita terbebaskan dari rasa takut — maka bebaslah kita dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Penjelasan Bhagavad gita 12:15 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Badan ini Sekadar Kereta, Aku adalah Pemilik Kereta

Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, “Aku Sejati”, “Self”, “Atma” adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini.

Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka “aku” atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya.

Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan. Untuk itu, setiap orang mesti menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Ia tidak bisa melarikan diri dari kewajiban, dan mengharapkan agar pikirannya tenang.

Pikiran yang tenang adalah pikiran yang suci. Dan, di atas lahan pikiran yang suci itulah tumbuh Viveka kemampuan untuk memilih mana yang tepat bagi kita, dan mana yang tidak tepat. Tumbuh pula Vairagya, ketakterikatan kepada dunia benda, karena sadar bila kebendaan itu tidak langgeng, dan berubah terus. Maka, dengan sendirinya manusia terbebaskan dari ego, ke-“aku”-an, atau identitas palsu. Ia tersadarkan bila dirinya bukanlah badan, apa lagi kelima indera yang merupakan bagian dari badan. Ia tercerahkan bila menyadari bahwa dirinya bukanlah pikiran, bukan intelejensia, tetapi pemilik kereta, Atma, Self, “Aku Sejati”. Ia memahami bahwa penderitaannya selama ini semata karena salah identitas. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Terbebaskan dari Individualitas

Ternyata, perubahan yang terjadi pada badan, pikiran serta perasaanku, status sosial serta ekonomi – semuanya tidak serta merta merubah-“ku”. Ketika kau menyadari hal itu, maka kau terbebaskan dari belenggu “aku” yang kecil dan bersifat individual. Ketika “aku” menyadari “aku” tidak berubah, maka “aku” pun terbebaskan dari belenggu  dan pada saat itu juga Sang Aku Sejati “terungkap” dengan sendirinya! Setiap orang yang terbebaskan dari individualitas – menemukan Sang Aku yang satu dan sama. Luar biasa! Maka, para resi merumuskan: “Itulah Kebenaran Hakiki”. Itulah Satya, Al Haqq. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: