Kebaikan dan Kejahatan dalam Diri Kita #BhagavadGitaIndonesia

Kita biasa menggolongkan manusia dalam dua kategori: orang suci dan orang berdosa. Penggolongan itu dilakukan atas dasar angan-angan saja. Sebab, di satu pihak, tidak seorang pun betul-betul tahu, siapa saja yang suci dan siapa saja yang pendosa: kesan lahiriah mudah menipu. Di lain pihak, kita semua, baik yang suci maupun yang berdosa, adalah pendosa.

Seorang pendeta mengajukan pertanyaan ini dalam sebuah kelas: “Anak-anak, seandainya semua orang baik itu putih dan semua orang jahat itu hitam, kamu akan berwarna apa?”

Si kecil Maria-Yoana menjawab: “Aku akan menjadi orang yang berwarna loreng-loreng, Pak!”

–o000o–

Seseorang mencari gereja yang baik untuk ikut serta beribadat. Kebetulan ia masuk ke sebuah gereja tempat jemaat bersama pendetanya sedang berdoa. Mereka membaca dari sebuah buku doa: “Kami melalaikan hal-hal yang sebenarnya harus kami lakukan, dan kami melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh kami lakukan.”

Orang itu langsung ikut duduk di situ dan berkata kepada dirinya sendiri dengan perasaan lega: “Syukur kepada Tuhan! Akhirnya aku menemukan juga kelompok orang yang sama seperti diriku!”

Usaha-usaha untuk menyembunyikan loreng-loreng yang ada pada orang suci kita kadang-kadang berhasil, tetapi usaha itu selalu kurang jujur. Dikutip dari buku (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Pada Zaman Treta Yuga terdapat konflik antara yang baik dan jahat antara Manusia dan Raksasa antara Sri Rama melawan Ravana. Pada Zaman Dvapara Yuga, Raksasa hampir punah dan terdapat konflik antara yang baik dan yang jahat antara Pandava dan Kaurava (yang bersifat raksasa). Setelah masuk Zaman Kali Yuga, baik yang baik maupun yang jahat semua ada dalam diri manusia. Kalau kejahatan mau dimusnahkan maka semua orang akan musnah.

 

Yang Kita Beri Perhatian dan Makanan yang Menang

Bapak Anand Krishna pernah berkisah, seorang kakek berkata pada cucunya bahwa dalam diri kita ada dua serigala: yang baik dan yang jahat. Sang cucu bertanya, “Siapa yang menang Kakek? Yang baik atau yang jahat?”

Kakeknya menjawab, “Yang menang adalah serigala yang kau pelihara dan kau beri makan!” Demikianlah kejahatan maupun kebaikan dalam diri kita juga berkonflik, siapa yang kita beri perhatian dan kita beri makan dialah yang menang!

Pilihan antara Sreya dan Preya

Krsna menggunakan istilah Sreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah sreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatandengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan sreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Viveka atau Memilah Mana Sreya dan Mana Preya

Ahamkaara atau Ke-aku-an (Ego). Mind selalu menemukan ego dalam kesadaran gemuk tidak keruan dan berpenyakitan. Ia mengidap penyakit dendam, iri, amarah, keserakahan, dan sebagainya. Sementara itu, bagian lain: Buddhi atau Inteligen (Intelligence) ditemukannya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, kurus, lemas, tak berdaya.

……………

Jalan menuju kemuliaan dan jalan menuju kepuasan indera yang bersifat sementara, inilah dua jalan yang terbuka bagi manusia. Mereka yang inteligen, berakal budi memilih jalan menuju kemuliaan. Mereka yang bodoh memilih jalan kepuasan indera, kenikmatan, dan kesenangan sesaat.

Viveka memberi kita kemampuan untuk memilah. Kemampuan inilah yang kelak mengantar kita pada Bodhichitta. Viveka ibarat Buddha dalam proses. Adalah sangat penting bahwa dalam perjalanan menuju kesadaran Buddha, atau Bodichitta, kita sadar akan apa yang tepat bagi kita, dan apa yang tidak tepat.

Viveka adalah buah meditasi. Viveka tidak dapat diperoleh dari buku. Buku, tulisan, serta pengalaman orang lain hanyalah sebatas untuk menyemangati kita.

Buku menjelaskan pengalaman para penulis yang memilih shreya atau kemuliaan dan meraih Bodhichitta. Buku juga bercerita tentang mereka yang memilih preya, atau kesenangan sesaat dan meraih penderitaan.

Mengapa preya tidak pernah memuaskan? Karena, jiwa kita abadi. Ia sedang mencari keabadian. Ia hendak meraih kebahagiaan abadi atau aananda. Sementara itu jalan preya hanyalah mengantar dia pada kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan sesaat.

Adalah viveka yang mengenal aananda. Sebelum viveka berkembang, kita tidak pernah mengenal aananda. Mind atau maanas hanya mengenal kebahagiaan dan kesenangan sesaat. Ia tidak bisa menjangkau sesuatu yang bersifat langgeng dan abadi karena dirinya sendiri tidak abadi. Ia hanyalah merekam dan menikmati pengalaman-pengalaman jiwa yang bersifat luaran, dan senantiasa berubah-ubah.

Untuk menemukan aananda, para Buddha selalu mengajak kita untuk meniti ke dalam diri sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: