Archive for July, 2018

Meluruskan Ekor Anjing yang Bengkok

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on July 29, 2018 by triwidodo

Memelihara Hantu yang Mengerikan

Dikisahkan tentang seorang miskin yang ingin menjadi kaya dengan memelihara hantu, karena hantu akan memberikan apa pun saya yang dia minta. Dia menghadap seorang bijak mohon diberikan mantra untuk menangkap hantu. Sang bijak memberi nasehat agar dia pulang saja dan melupakan keinginannya. Berkali-kali ditolak akan tetapi orang miskin terebut tetap meminta, sampai suatu kali sang bijak memberikan mantra dengan pesan agar berhati-hati, karena hantu adalah makhluk mengerikan, dia harus dibuat tetap sibuk atau dia akan memakan orang yang memeliharanya.

Orang tersebut membaca mantra dan muncullah sesosok hantu yang mengatakan bahwa dia tunduk pada majikannya akan tetapi bila dia tidak diberi pekerjaan dia akan membunuh majikannya. Orang tersebut minta hantu membangun istana dan dalam waktu singkat istana telah terbangun. Dengan gembira orang itu minta uang dan uang pun diberikan dan kemudian agar hantu tersebut bekerja dalam waktu lama dia minta hantu tersebut memotong pohon-pohon di hutan dan membuat sebuah kota. Dan tidak lama hal itu pun diselesaikan oleh hantu tersebut. Orang tersebut mulai ketakutan dan lari menemui sang bijak dikejar oleh hantu tersebut.

Dengan gugup orang tersebut menyampaikan kepada sang bijak bahwa bencana mengancamnya karena hantu tersebut cepat sekali menyelesaikan pekerjaan. Orang bijak itu segera minta orang tersebut memotong ekor anjing dan minta hantu tersebut untuk meluruskan okor anjing tersebut. Hantu itu datang untuk membunuh orang tersebut, dan dengan ketakutan orang tersebut minta hantu tersebut meluruskan ekor anjing. Sang hantu segera meluruskan ekor tersebut dengan pelan-pelan tetapi ketika dilepaskan, ekor anjing tersebut bengkok kembali. Demikian hantu itu disibukkan sampai berhari-hari sampai lelah dan akhirnya mohon majikannya berkompromi. Dia minta majikannya melepaskannya dari tugas meluruskan ekor anjing dan dia tidak akan mengejar orang tersebut, serta orang tersebut dapat menikmatai apa yang telah dikerjakan hantu tersebut. Orang tersebut menerima permintaan hantu dengan lega.

Dunia ini seperti bengkoknya ekor anjing, orang-orang berupaya meluruskannya selama ratusan tahun, tapi begitu dilepaskannya akan bengkok lagi. Permasalahannya adalah orang di dunia bekerja dengan keterikatan dan bahkan kemudian menjadi fanatik. Fanatisme tidak membuat kemajuan manusia, bahkan akan menghambat, menciptakan kebencian.

Berdasarkan bengkoknya dunia seperti ekor anjing kita perlu memahami bahwa:

  1. Kita semua hutang pada dunia dan dunia tidak berkutang kepada kita. Silakan baca tentang hutang manusia kepada dunia pada Tautan: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/07/02/puru-putra-yayati-bakti-seorang-putra-bungsu-srimadbhagavatam/

Kita diberi kesempatan untuk memperindah dunia, tetapi itu bagi kepentingan diri kita sendiri, dunia tidak membutuhkan bantuan kita.

  1. Tuhan ada dan tidak tidur, semua perubahan di dunia adalah milik-Nya. Semua dalam Pengawasan-Nya.
  2. Kita tidak seharusnya membenci siapa pun, selalu ada campuran antara yang baik dan yang jahat. Adalah tugas kita untuk berbuat kebaikan tanpa pamrih.
  3. Selanjutnya jangan menjadi fanatik, agar dunia lebih gampang menjadi lurus.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Karma Yoga we help ourselves

Bengkoknya Dunia menurut Bhagavad Gita

Tujuan tertinggi manusia, tujuan utama hidupnya adaalah “mengenal diri”. jika itu tercapai, maka selesailah urusannya di atas panggung sandiwara kehidupan!

Para suci seperti Ramakrishna dan Osho; Anthony de Mello dan Vivekananda – tidak berusia panjang. Isa dan Siddharta menarik diri di usia muda dan tidak lagi menjadi bagian dari keramaian. Kita melihat mereka dan berandai-andai, “Seandainya mereka hidup lebih lama, maka lebih banyak orang akan tercerahkan oleh mereka!”

Tidak, tidak demikian. Pertama, mereka tidak mencerahkan “kita”. Tidak ada orang yang bisa mencerahkan orang lain.kita tercerahkan oleh upaya dan kerja keras kita sendiri. Para suci hanyalah mengingatkan kita untuk mengolah diri.

Kedua – lihat saja Buddha, Sai Baba, Krishnamurti, Mother Teresa, dan lainnya yang berusia panjang. Hasilnya apa? Dunia ini, seperti yang pernah dikatakan oleh Ramakrishna, adalah bengkok seperti ekor anjing. Mau ditarik dengan kekuatan seberapa pun, jika dilepas – ia akan bengkok kembali.

Para suci yang menunda keberangkatannya karena dorongan kasih – sudah berbuat banyak. Sudahlah. Sekarang, tergantung pada diri kita masing-masing – mau tetap menjadi ekor anjing atau sesuatu yang lain.

Reformasi bersifat sementara – reformasi tidak bisa meluruskan ekor anjing, ia tetap saja bengkok. Adalah transformasi yang dibutuhkan untuk mengubah ekor menjadi sesuatu yang lain, sehingga tidak bengkok lagi. Upayakan transformasi! Upayakan transformasi total, menyeluruh – sehingga kita menjadi lurus –sehingga Jiwa mengenal hakikatnya sebagai percikan Jiwa Agung Hyang Ilahi!

Ketika tujuan kita tercapai, maka hidup kita baru memiliki makna. Kemudian, pengalaman-pengalaman hidup pun menjadi bermakna, memiliki arti!

Tanpa mengenal diri, hidup ini sia-sia. Kita mengumpulkan harta-benda, mengejar ketenaran, membangun rumah tangga – semuanya tertinggal di sini. Saat ajal tiba, kita hanya bisa beraduh-aduh saja. Kesia-siaan hidup seperti inilah yang dirasakan oleh mayoritas – sehingga mereka mesti “lahir kembali” untuk mencari makna kehidupan. Namun sayang, beribu-ribu kali sayang, dalam masa kehidupan berikut pun, hanyalah kesia-siaan saja yang dialaminya.

Sebab itu, sekarang dan saat ini juga, ketika kita tahu dan sadar akan hal ini – upayakanlah transformasi diri total – upayakan kesadaran diri dan kenalilah diri Anda sebagai percikan Jiwa Agung yang tak pernah terpisahkan!

Kitab-kitab suci kita – semua tanpa kecuali, mengingatkan kita akan hal yang sama, “Kita semua adalah putra-putri Gusti Pangeran; Gusti Pangeran dan kita semua satu adanya; tiada yang memisahkan kita dari-Nya!” Kita sibuk memuja-muja kitab suci tanpa menyelami isinya. Kita sibuk membaca tanpa memahami artinya – sedemikian bengkoknya kesadaran kita saat ini! Penjelasan Bhagavad Gita 7:18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Sanyasin dan Tukang Daging dalam Vyadha Gita

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on July 27, 2018 by triwidodo

Swami Vivekananda bercerita tentang kisah Vyadha Gita, yang ada dalam Mahabharata. Ada seorang sanyasin berlatih yoga di hutan bertahun-tahun untuk mencapai pencerahan. Pada suatu hari sebuah daun kering jatuh di atas kepalanya dan melihat burung gagak dan bangau berkelahi di pohon di atas sang sanyasin. Sanyasin tersebut marah dan dengan kekuatan yoginya matanya memandang kedua burung yang berkelahi tersebut dan kedua burung tersebut menjadi terbakar. Keangkuhan muncul pada diri sang sanyasin, ternyata hasil latihannya membuat dia mempunyai kemampuan yang luar biasa.

Pada suatu hari sang sanyasin pergi ke desa dan minta makanan pada rumah seseorang. Terdengar suara perempuan tua yang berkata agar dia menunggu sebentar. Sang sanyasi berpikir, “Perempuan tua tak tahu diri menyuruh dia menunggu, perempuan itu pasti belum tahu seberapa besar kekuatan dirinya, sudah seharusnya perempuan itu takut”. Tiba-tiba terdengar suara perempuan itu lagi, “Wah jangan hanya memikirkan dirimu saja. Ini bukan masalah burung gagak dan bangau!”

Sang sanyasin tercengang dan setelah menunggu beberapa lama seorang perempuan tua keluar membawa makanan. Sang sanyasin langsung membungkuk memegang kaki perempuan tersebut dan berkata, “Ibu, bagaimana ibu mengetahuinya?

Perempuan itu berkata, “Aku membuatmu menunggu karena suamiku sakit. Aku tidak mengerti yoga. Sepanjang hidupku aku hanya berupaya melakukan tugasku dengan baik. Dulu sebelum menikah aku melayani orangtua dan setelah menikah melayani suami. Dengan pelayanan tersebut pikiranku menjadi terang dan dapat membaca pikiran orang sehingga aku tahu apa yang kau kerjakan dan juga kekuatan yogimu untuk membakar burung gagak dan bangau dengan sekali pandang. Jika kau ingin mengetahui sesuatu yang lebih tinggi dari hal ini pergilah ke pasar dan kau akan menemukan Vyadha (kelas terendah di India pada zaman dulu) yang bekerja sebagai pemburu dan tukang daging.”

Sang sanyasin sebetulnya enggan untuk apa menemui seorang Vyadha, tapi dia menuruti juga pesan perempuan tua itu. Ketika sampai di pasar, sang sanyasin melihat Vyadha gemuk dan besar sedang memotong daging dengan pisau besar, sambil berbicara dan tawar-menawar dengan pembelinya. Sang sanyasin berpikir, “Wahai Dewa, apa yang harus saya pelajari dari manusia kasar dan banyak dosa ini?

Vyadha itu tiba-tiba mendongak dan berkata, “Wahai Swami, apakah perempuan itu mengirimmu kemari? Tunggulah sebentar aku menyelesaikan pekerjaanku.” Sang sanyasin tersebut tercengang mendengar Vyadha tersebut mengerti mengapa dia datang. Dan, setelah menyelesaikan pekerjaannya dia mengajak sang sanyasin ke rumahnya.

Sang sanyasin melihat Vyadha tersebut masuk rumah mencuci kaki ayah dan ibunya, memberi mereka makan dan melayani mereka agar senang baru kemudian menemui sang sanyasin. Sang sanyasin menayakan beberapa pertanyaan tentang Jiwa dan Brahman, dan Vyadha tersebut memberikan uraian yang merupakan bagian dari Mahabharata yang disebut Vyadha Gita.

Sang sanyasin tercengang dan bertanya mengapa orang sebijaksana dia mau bekerja sebagai pemotong daging.

Vyadha tersebut menjawab, “Putraku, tidak ada kewajiban yang jelek, tidak ada tugas yang tidak murni. Kelahiran saya menempatkan saya dalam keadaan seperti ini. Sejak kecil, saya hanya berupaya melakukan tugas saya sebaik-baiknya. Saya tidak terikat dengan hasil pekerjaan, di rumah saya melayani kedua orangtua saya agar mereka bahagia. Saya tidak tahu yoga yang kau kerjakan, saya tidak menjadi sanyasin, tidak keluar hutan, saya hanya melaksanakaan tugas saya sebaik-baiknya dan tidak terikat dengan hasilnya. Ketika melakukan pekerjaan apa pun, jangan memikirkan apa pun di luar. Lakukan sebagai persembahan, curahkan pada pekerjaan tersebut.

Perempuan tua dan Vyadha tersebut  melakukan tugas  sepenuh hati dengan ceria, tanpa keterikatan pada hasil dan bisa mencapai kesempurnaan Jiwa. Bagi pekerja yang tidak terikat, semua tugas adalah baik dan rasa egois dihabiskan dan Jiwa terbebaskan. Sang sanyasin sadar dia masih berpikir terlalu tinggi tentang dirinya sendiri, rasa angkuh dan membanding-bandingkan kelebihan, rasa berkompetisi  membangkitkan iri hati dan membunuh kebaikan hati.

Semangat Berkarya Tanpa Memikirkan Hasil Akhir

Karmanye-vaadhikaa-raste maa phaleshu kadaa-chana. Maa karma-phala-hetur-bhur maa te sangostva-karmani. Bhagavad Gita 2:47. Inilah salah satu ayat favorit Bung Karno

Kau hanyalah dapat mengatur pekerjaanmu, kau tidak dapat memastikan hasil akhir. Maka, hendaknya kau tidak menjadikan hasil akhir sebagai semangat yang mendorongmu untuk berkarya. Pada saat yang sama, hendaknya kau juga tidak bermalas-malasan, dan berhenti berkarya.

Semangat berkarya tanpa memikirkan hasil akhir ini disebut “Nishkaama Karma” oleh Mahatma Gandhi. Adapun, sebutan itu kemudian diterjemahkan sebagai “Selfless Service” atau “Berkarya tanpa Pamrih.”

Sebutan ini telah membingungkan banyak orang yang tidak familiar dengan filsafat Timur. Apalagi ketika “Berkarya tanpa Pamrih” ditafsirkan sebagai “Berkarya tanpa Motivasi”. Maka, para motivator modern pun tersinggung.

Krishna menerjemahkan Karma Yoga sebagai “Penyelarasan Diri dengan Semesta lewat Karya tanpa Keterikatan”. Hmmm, sungguh sangat cerdik! Karena, dengan menyelaraskan diri dengan semesta, kita sudah tidak perlu lagi memikirkan hasil dari upaya kita.

Untuk apa pula terikat dengan hasil? Hasil itu sudah pasti ada, sudah pasti diperoleh. Penyelerasan diri dengan semesta telah menjamin hasil kita. Untuk apa memikirkan sesuatu yang sudah pasti? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #KarmaYogaIndonesia

 

Tanpa Keterikatan

Hampir tiga ribu tahun setelah Krishna, Isa, Sang Masiha akan mengatakan hal yang sama. Pesannya sama – Tanpa Keterikatan!

Dunia ini ibarat jembatan, lewatilah, jangan membuat rumah diatasnya. Ia yang berharap untuk hari esok, bisa juga berharap untuk keabadian. Sementara, dunia ini hanyalah bertahan selama satu jam, gunakanlah waktu itu untuk berdoa. Segalanya yang lain tidak pasti.

(Terukir diatas dinding gerbang masuk Masjid   di Fatehpur Sikri, India, dibangun oleh Sultan Akbar dari dinasti Mughal pada abad ke-15) Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #KarmaYogaIndonesia

Kisah Upanishad Dua Burung tentang Pengaruh Kebendaan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on July 23, 2018 by triwidodo

Kisah 2 Burung dalam Mundaka Upanishad

Swami Vivekananda memberikan cerita ilustrasi dalam Mundaka Upanishad tentang 2 ekor burung yang berada di satu pohon. Burung yang di atas, tenang, agung, cantik, sempurna. Burung yang lebih rendah selalu meloncat dari ranting ke ranting. Pada saat makan buah manis burung yang di bawah merasa suka, pada saat makan buah pahit dia merasa sengsara.

Pada suatu hari burung yang di bawah makan buah seperti biasanya, dan dia melirik burung agung di atas yang tenang, dan berpikir, “Aku ingin menjadi seperti dia!” dan dia melompat sedikit lebih dekat ke arah burung yang berada di atasnya. Akan tetapi dalam waktu tidak lama dia melakukan kebiasaannya, makan buah manis menjadi suka dan makan buah pahit menjadi sengsara. Sekali lagi dia melihat ke atas, lagi-lagi naik lebih sedikit ke arah burung yang tenang dan agung. Berkali-kali hal tersebut diulanginya, sampai akhirnya dia mendekati burung agung yang berada di atas. Kecemerlangan bulunya membuat dia marasa terpesona. Akhirnya dia menemukan bahwa dia adalah satu-satunya burung.

Manusia seperti burung yang lebih rendah, tapi jika ia tekun dalam upayanya untuk mencapai cita-cita tertinggi yang dapat ia bayangkan, ia juga akan menemukan bahwa ia adalah Diri sepanjang waktu, sedangkan yang lain hanyalah mimpi. Memisahkan diri kita sepenuhnya dari materi, dan meyakini atas realitasnya adalah jnana sejati.

Seorang Jnani harus selalu mengingat “Om Tat Sat”, Om adalah satu-satunya eksistensi yang nyata. Intisari Kesatuan adalah fondasi Jnana Yoga. Ini disebut Advaitism (tanpa dualitas atau Dvaitism). Ini adalah fondasi dari filsafat Vedanta, Alfa dan Omega. Hanya Brahman yang benar, yang lainnya salah dan aku adalah Brahman. (hanya mereka yang telah berkesadaran Jiwa yang dapat berkata demikian, selama kita merasa diri kita adalah materi, fisik, mental-emosional maka kita belum berkesadaraan Jiwa)

Hanya dengan mengatakan kepada diri kita sendiri “Akulah Dia, Akulah Dia”, sampai kita bangkit melampaui semua dualitas, melampaui kebaikan dan kejahatan, bahagia dan sengsara, suka dan duka dan mengenal diri Anda sebagai Tunggal, abadi, Tak Berubah, Tak Terbatas – Tunggal tak ada dua.

Demikian terjemahan bebas dari Complete Works of Swami Vivekananda, Volume 8, Lectures and Discourses, Discourse on Jnana Yoga, Jnana Yoga

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita mengenai 2 ekor burung tersebut

Burung yang di bawah merasakan sensasi-sensasi fisik dengan obyek kebendaan

“Sensasi-sensasi fisik – hubungan indra dengan objek-objek kebendaan di alam benda, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), menyebabkan pengalaman dingin, panas, suka, dan duka. Semua pengalaman itu silih berganti, datang dan pergi. Pengalaman-pengalaman itu tidaklah langgeng, tidak abadi, tidak untuk selamanya. Sebab itu, wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), belajarlah untuk melewati semuanya dengan ketabahan hati.” Bhagavad Gita 2:14

Burung yang di atas tidak terpengaruh oleh kebendaan

“Wahai Purusarsabha (Arjuna, Banteng di antara Manusia), para bijak yang tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman yang tercipta oleh hubungan antara indra dan dunia benda; mereka yang menganggap sama suka dan duka; sesungguhnya tengah menuju keabadian.” Bhagavad Gita 2:15

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Berikut Penjelasan tentang Sifat Burung yang Berada di Atas

“Veda, kitab-kitab suci bicara tentang tiga sifat utama alam benda. Lampauilah ketiga sifat itu, wahai Arjuna. Bebaskan dirimu dari perangkap dan pengaruh dualitas yang tercipta dari ketiga sifat itu. Berpegang teguhlah pada Kebenaran Hakiki tentang Jiwa; bebas dari pikiran-pikiran yang mengejar kenikmatan serta kekuasaan, beradalah senantiasa dalam Kesadaran Jiwa.” Bhagavad Gita 2:45

Tiga sifat utama alam benda mempengaruhi manusia. Sebab itu, manusia pun dapat dibagi dalam tiga kelompok utama. Pertama mereka yang Tenang. Kedua, mereka yang penuh Gairah, cenderung Agresif. Ketiga, mereka yang Malas-malasan.

Tidak berarti, Kita Memiliki Salah Satu Sifat Saja – Kita memiliki ketiga-tiganya, hanya proporsinya berbeda-beda. Apabila dalam diri Anda, sifat pertama lebih dominan, Anda akan kelihatan lebih tenang dari saya, karena dalam diri saya mungkin sifat kedua yang lebih dominan. Begitu pula, seseorang yang lebih dominan sifat ketiganya, akan tampak malas-malasan.

Pada dasarnya kita memiliki ketiga sifat tersebut. Dan, selama kita masih memiliki ketiga sifat tersebut, kita tidak akan pernah mencapai keseimbangan. Kita bagaikan pendulum, bandul yang sedang berayun-ayun dari ekstrem kanan ke ekstrem kiri. Kadang tenang, kadang tidak. Kadang agresif, kadang tidak. Kadang malas-malasan, kadang tidak.

Lampauilah ketiga sifat tersebut. Melampaui ketiga sifat tersebut berarti, berada di atas ketiga sifat tersebut. Saat itu, trinitas sifat alam benda tidak berkuasa lagi, yang berkuasa adalah Anda, Jiwa. Anda bersandar pada diri sendiri. Anda menyadari bahwa Anda bisa mengendalikan diri. Anda tidak lagi diperbudak oleh tiga sifat tersebut.

Beradalah dalam Kesadaran Jiwa – Itulah Kesadaran Hakiki Anda. Dalam kesadaran tersebut, Anda memberdayakan diri, Anda membebaskan diri dari perbudakan pada badan, indra, mind atau gugusan pikiran dan perasaan, dan sebagainya.

Saat itu Anda barulah merajai diri, menjadi penguasa atas diri sendiri. Kṛṣṇa mengajak Arjuna untuk menjadi penguasa diri seperti itu.

 

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda: “Wahai Pārtha (Putra Pṛthā – sebutan lain bagi Kuntī, Ibu Arjuna); ia yang telah berhasil melampaui semua keinginan yang muncul dari gugusan pikiran serta perasaan; dan puas diri, puas dengan dirinya sendiri, adalah seorang Sthitaprajña –seorang bijak yang teguh, tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:55

 

“Ia, yang pikirannya tak terganggu saat mengalami kemalangan; ia yang tidak lagi mengejar kenikmatan indra, jasmani; ia yang sudah bebas dari hawa-nafsu, rasa takut, dan amarah; ia yang senantiasa berada dalam kesadaran meditatif, seimbang dalam suka dan duka  – disebut seorang muni, seorang bijak yang telahmencapai ketenangan diri, ketenteraman batin.” Bhagavad Gita 2:56

 

“Ia tidak terikat dengan sesuatu, di mana pun ia berada, dan dalam keadaan apa pun. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:57

 

“Ia yang dapat menarik dirinya, indranya, dari objek-objek di luar diri, sebagaimana seekor penyu menarik anggota badannya ke dalam cangkangnya, sesungguhnya sudah tak tergoyahkan lagi kesadarannya.”Bhagavad Gita 2:58

 

“(Demikian, dengan menarik diri dari objek-objek di luar), seorang dapat memisahkan dirinya dari pemicu-pemicu di luar diri yang senantiasa menggoda. Kendati demikian, ‘rasa’ dari apa yang pernah dialami sebelumnya, bisa jadi masih tersisa (dan, sewaktu-waktu bisa menimbulkan keinginan untuk mengulangi pengalaman sebelumnya). Namun, ketika ia berhadapan dengan Hyang Agung, meraih kesadaran diri, menyadari Hakikat-Dirinya sebagai Jiwa, Maka rasa yang tersisa itu pun sirna seketika.” Bhagavad Gita 2:59

Silakan baca penjelasan yang mencerahkan dalam setiap sloka Bhagavad Gita tersebut dalam buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Upanishad Yajnavalkya Maitreyi tentang Diri Sejati

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on July 19, 2018 by triwidodo

Dalam Brihad Aranykaka Upanishad, disampaikan kisah tentang Resi Agung Yajnavalkya yang mempunyai 2 istri Maitreyi dan Katyayani. Katyayani mengurusi rumah tangga sedangkan Maitreyi senang duduk dekat suaminya mendengarkan dia bicara dengan para muridnya.

Menjelang akhir hayatnya, Yajnavalkya memutuskan melepaskan kehidupan sebagai kepala keluarga dan menjadi sanyasin di hutan. Sang Resi memanggil Maitreyi dan berkata bahwa dia akan meninggalkan rumah. Kalau Maitreyi mau, harta bisa dibagi antara dia dengan Katyayani. Mendengar kata Yajnavalkya, suaminya, Maitreyi bertanya jika semua hartanya memenuhi bumi apakah akan membawa dia menuju keabadian? Yajnavalkya menjawab tidak akan bisa, Maitreyi bisa hidup dalam kenikmatan orang yang kaya tapi tidak ada harapan untuk mencapai keabadian.

Maitreyi meminta Yajnavalkya dengan sungguh-sungguh untuk mengajarkan padanya apa yang dia tahu tentang keabadian. Berkenan dengan kata-kata Maitreyi, Yajnavalkya mulai menjelaskan bukan hanya cinta sejati tetapi juga tentang Atman, Self, Diri Sejati.

……………..

Menurut Wikipedia: Atman atau Atma (IAST: Ātmā, Sanskerta: आत्म‍ ) dalam Hindu merupakan percikan kecil dari Brahman yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut: Jivatman atau jiwa atau roh yaitu yang menghidupkan manusia. Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Brahman, bagaikan matahari dengan sinarnya. Brahman sebagai matahari dan atman-atman sebagai sinar-Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk.

………………

Yajnavalkya menjelaskan bahwa bukan demi suami, seorang istri mencintai suaminya, tetapi demi Atman, Self. Dia mencintai suami, karena dia mencintai Atman, Self. Tidak ada yang mencintai istri demi istri, tetapi itu karena dia mencintai Atman, Self. Tidak ada yang mencintai anak-anak demi anak-anak, tetapi karena dia mencintai Atman, Self. Tidak ada yang mencintai kekayaan demi kekayaan, tetapi karena dia mencintai Atman, Self. Tidak ada yang mencintai Brahmana demi Brahmana, tetapi karena dia mencintai Atman, Self. Karena itu, Atman, Self ini harus didengar, dipertanyakan, dan direnungkan. Wahai Maitreyi, ketika Atman, Self itu telah didengar, ketika Atman, Self itu telah terlihat, ketika Atman, Self itu telah disadari, maka, semua ini menjadi terang.

Ketika istri mencintai suami, entah dia tahu atau tidak, dia mencintai suami untuk Atman, Self itu. Keegoisan yang dimanifestasikan di dunia, tetapi keegoisan terhadap bagian kecil dari Atman, Self itu. Kapanpun seseorang mencintai, dia harus mencintai dalam dan melalui Atman, Self. Atman, Self ini harus diketahui.

Apa bedanya? Mereka yang mencintai tanpa mengetahui Atman, Self, cinta mereka adalah egois. Mereka yang mencintai, dan mengetahui apa itu Atman, Self, cinta mereka tak terbatas, mereka adalah para bijak, para resi. Mereka melihat dunia ini sebagai Atman, Self. Apa pun yang ada semuanya adalah Atman, Self.

Sumber: berbagai sumber di internet dan Complete Works of Swami Vivekananda Volume 2 Practical Vedanta and Other Lectures, Yajnavalkya and Maitreyi

Diri Sejati, Atma Percikan dari Jiwa Agung, Paramatma

Berikut Penjelasan Bapak Anand Krishna dalam Bhagavad Gita tentang mencintai seseorang apakah istri, anak, dan lain-lainnya tanpa mengetahui tentang Atma sehingga yang ada adalah rasa ego dan mencintai seseorang apakah anak, istri dan lain-lainnya sebagai Atma atau Percikan Sang Jiwa Agung yang sama dengan dirinya.

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan tidak membiarkannya terjerumus oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, ‘diri’-mu adalah kawan dan lawanmu sendiri.” Bhagavad Gita 6:5

Ini adalah puncak dari ayat-ayat pemberdayaan diri, di mana Krsna jelas sekali. Diri atau Atma dalam ayat ini adalah Diri-Sejati; Sang Jiwa yang merupakan percikan dari Jiwa Agung atau Paramatma.

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaraan kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan sebagainya.

Sesungguhnya, pembangkitan diri yang dimaksud  ialah meninggalkan alam ego dan kembali pada Alam Jiwa, yang merupakan habitat kita yang sebenarnya. Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena “setiap” Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama. Dalam Alam Ego, kita beragam, berbeda – Walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda. Wajah Anda tidak sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara pikir kita beda. Perasaan kita beda! Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: “Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…”

KONFLIK ADALAH HASIL DARI SALAH IDENTIFIKASI. Ketika kita memercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” tanpa memiliki atau menguasai sesuatu — maka, kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri — karena sesungguhnya Jiwa bebas adanya, ia tidak mau terikat — tapi ia terpengaruh oleh keinginan-keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan ‘tidak’ terhadap kekuasaan ego.

Maka terjadilah kekecewaan — karena, bagaimanapun juga kita tak akan pernah bisa menguasai dunia-benda sepenuhnya. Penguasaan kita sudah pasti bersifat terbatas. Sementara itu, Jiwa adalah percikan Hyang Tak Terbatas.

Sebagai contoh:

CINTA ADALAH SIFAT JIWA. Sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, Bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan waktu. Kemudian, Cinta yang tak terbatas ini kita aplikasikan terhadap “se”-seorang “yang” kita cintai. Mencintai “se”-seorang ini sudah tidak sesuai, tidak selaras dengan sifat Cinta yang tak terbatas, sementara “se”-seorang adalah terbatas, sebatas “se”-seorang. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Berfokus pada Diri Sejati

“Hendaknya seorang Yogi senantiasa memusatkan kesadarannya pada ‘diri’ sendiri; menguasai pikiran serta perasaannya; bebas dari segala keinginan, tidak mengharapkan sesuatu apa pun; bebas pula dari (rasa) kepemilikan.” Bhagavad Gita 6:10

BERFOKUS PADA….. Satatam = Selalu; Atmanam = Sang Diri (jiwa Individu atau Jivatma); Rahasi = Rahasia; Sthitah = Berada; Ekaki = Sendiri.

……………..

Ayat ini mengajak kita untuk:

“KEMBALI KE PUSAT DIRI” – Mengalihkan fokus dari luar ke dalam diri. Ayat ini menjelaskan cara untuk melakoni meditasi 24/7 – 24 jam sehari dan 7 hari setiap minggu – berarti setiap hari, setiap jam, setiap detik.

Kemudian, nirasir dan aparigrahah – biasa diterjemahkan “tanpa keinginan” dan “bebas dari keserakahan” atau “tanpa kepemilikan”. Nirasir, memang sulit diterjemahkan. Ini menyangkut sikap mental. Memang terjemahan terdekatnya adalah “tanpa keinginan dan/atau harapan”, walau hal itu tidak sepenuhnya menjelaskan makna dari kata nirasir.

NIRASIR BERARTI, “TANPA ADANYA PERCIKAN-PERCIKAN YANG DAPAT MENIMBULKAN KEINGINAN”. Ketika Anda bertemu dengan seorang pria tampan atau wanita cantik – maka “keinginan”, gairah, atau nafsu tidak serta-merta muncul begitu saja. Awalnya adalah percikan-percikan perasaan nano-nano yang muncul. Ada “dag-dig-dug” yang bahkan tidak dapat dibahasakan, apa makna “dag-dig-dug”?

Sementara itu,  APARIGRAHAH BERARTI “TIDAK MENDAMBAKAN SESUATU YANG BUKAN MENJADI MILIKNYA”. Lalu, apa yang menjadi milik “Diri” kita yang sejati?

Ego, yang ingin memiliki – sesungguhnya tidak bisa memiliki sesuatu apa pun. Apa saja yang dianggap sebagai miliknya, akan tertinggal semua di sini. Sementara itu “Diri” yang sejati sadar akan kesejatian dirinya, dan kesejatian setiap diri, termasuk kesejatian setiap benda. Semuanya adalah percikan Ilahi yang sama, maka apa yang mesti dimiliki? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Selalu Ingat yang Ada Hanya Brahman dan Diri Kita (Atman) adalah Percikan-Nya

Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina. “Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 4:24

Awalnya kita bertindak dengan semangat persembahan. Berikutnya, dualitas antara “kita yang bertindak” atau “kita yang mempersembahkan” dan “Gusti Pangeran yang menerima persembahan” pun sirna. Tiada lagi yang memisahkan seorang panembah dari Obyek Tunggal Panembahannya.

Ayat ini dibaca sebelum melakukan apa saja… Umumnya, sebelum makan. Tapi, sesungguhnya kita bisa, dan memang semestinya, kita mengucapkannya sebelum melakukan apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Yogi dan Penggembala, Kisah Swami Vivekananda tentang Ishta Devata

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on July 14, 2018 by triwidodo

Kisah Yogi dan Penggembala

Dikisahkan oleh Swami Vivekananda tentang seorang Yogi yang biasa berlatih meditasi di hutan yang sepi, di tepi sungai. Kemudian tentang seorang penggembala sapi miskin, yang sangat bodoh, yang biasa menggembala hewan ternaknya hutan itu. Setiap hari  sang penggembala biasa melihat Yogi tersebut bermeditasi beberapa jam, berlatih tekun dan belajar. Sang penggembala sapi itu ingin tahu apa yang dilakukan oleh Yogi tersebut, sehingga dia datang kepadanya dan bertanya, “Tuan, bisakah Tuan mengajari saya jalan menuju Tuhan?” Yogi tersebut adalah seorang hebat yang sangat terpelajar, dan dia menjawab, “Bagaimana Anda akan mengerti Tuhan – Anda gembala sapi biasa? Lupakan, pulang ke rumah dan rawat sapi Anda dan tidak usah mengganggu pikiran Anda dengan hal-hal seperti itu”.

Sang penggembala pergi, tetapi keinginan yang nyata datang kepadanya. Dia datang lagi ke Yogi tersebut dan berkata, “Tuan, tidakkah Tuhan berkenan mengajari saya sesuatu tentang Tuhan?”

Sekali lagi Yogi menjawab: “Oh, kamu bodoh, apa yang bisa kamu mengerti tentang Tuhan? Pulanglah”. Tetapi gembala sapi itu tidak bisa tidur; dia tidak bisa makan. Dia harus tahu sesuatu tentang Tuhan.

Sang penggembala datang lagi; dan Yogi tersebut, untuk menenangkan sang penggembala yang begitu bersikeras, berkata, “Aku akan mengajarimu tentang Tuhan”.

Sang penggembala itu bertanya, “Tuan, Tuhan itu wujud-Nya seperti apa?”

Yogi tersebut berkata, “Tuhan itu seperti sapi jantan yang paling besar dalam ternak yang kaugembalakan. Tuhan telah menjadi sapi jantan yang paling besar itu”.

 

Memuja Sapi Jantan sebagai Ishta Devata

Sang penggembala percaya pada Yogi tersebut dan kembali pada hewan-hewan ternaknya. Siang dan malam dia membawa sapi jantan itu sebagai Tuhan dan mulai memujanya. Dia membawa rumput paling hijau untuk sapi jantan itu, beristirahat di dekatnya dan memberinya cahaya, duduk di dekatnya dan mengikutinya. Hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun berlalu. Seluruh jiwanya ada pada sapi jantan tersebut.

Pada suatu hari sang penggembala mendengar suara seakan-akan datang dari sapi tersebut, “Putraku, putraku.” “Kenapa, sapi berbicara! Tidak, sapi itu tidak bisa bicara.” Sekali lagi sang penggembala duduk dekat sapi bermeditasi. Dia tidak tahu apa-apa.

Sekali lagi dia mendengar suara yang keluar dari sapi: “Putraku, putraku”. Dia mendekat. “Tidak, sapi itu tidak bisa bicara.” Kemudian dia kembali lagi duduk dengan bersedih hati.

Sekali lagi suara itu terdengar, dan pada saat itu sang penggembala menemukannya. Suara itu dari hatinya sendiri. Ia menemukan bahwa Tuhan ada di dalam dirinya. Kemudian dia belajar kebenaran yang luar biasa dari Guru dari semua guru tersebut: “Aku selalu bersamamu”. Dan sang penggembala sapi itu mempelajari seluruh misteri itu.

Selanjutnya, sang penggembala kembali ke Yogi, dan ketika dia mendekat, Yogi tersebut melihatnya. Yogi tersebut adalah orang yang paling terpelajar di wilayah itu, berlatih keras selama bertahun-tahun, – bermeditasi, belajar. Dan penggembala sapi tersebut merupakan orang yang bodoh, tidak pernah belajar dari buku atau mempelajari tulisan lainnya. Tetapi saat sang penggembala datang – seluruh tubuhnya berbeda, wajahnya berubah, cahaya kemilau menyinari wajahnya. Sang Yogi berdiri. “Darimana kamu mendapatkan itu?”

“Tuan, Anda memberitahu saya hal tersebut. ”

“Bagaimana? Aku memberitahumu itu dengan bercanda.”

“Tapi Tuan, aku menganggapnya serius. Dan aku mendapatkan semua yang aku inginkan dari sapi jantan tersebut, karena Dia ada di mana-mana.”

 

Penjelasan Swami Vivekananda

Sapi jantan itu adalah Pratika. Dan penggembala itu memuja sapi jantan itu sebagai Pratika – sebagai Tuhan – dan dia mendapatkan semuanya dari itu. Jadi cinta yang kuat – keinginan itu – mengungkapkan segalanya. Segala sesuatu ada dalam diri kita, dan dunia luar serta ibadah eksternal adalah upaya-upaya memanggil-Nya. Ketika keyakinan menjadi kuat, Tuhan dalam diri bangkit.

Ketika Trust pada guru di luar sangat kuat, maka Guru dari semua guru di dalam diri berbicara, kebijaksanaan abadi berbicara dalam hati orang tersebut. Dia tidak perlu lagi mencari buku atau orang lain atau mahluk yang lebih tinggi; dia tidak perlu mengejar makhluk supranatural. Tuhan sendiri menjadi instrukturnya. Dia mendapatkan semua yang dia inginkan dari diri-Nya sendiri. Tidak perlu lagi pergi ke kuil atau gereja manapun. Tubuhnya sendiri telah menjadi kuil terbesar di dunia, dan di kuil itu hidup Tuhan Penciptaan. Di setiap negara, orang-orang kudus yang hebat tersebut telah dilahirkan, kehidupan yang luar biasa telah bangkit – keluar dari kekuatan cinta yang sangat besar.

Jadi semua bentuk eksternal Bhakti – pengulangan Nama, pemujaan Pratika, Nishtha, Ishta – hanyalah persiapan sampai kekuatan abadi itu bangun. Kemudian datang sendiri spiritualitas – ketika seseorang melampaui batasan hukum.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 9 Lectures and Discourses Bhakti Yog

Memahami Tuhan yang Bermanifestasi, Berwujud

Hanyalah ada dua aspek Brahman atau Tuhan yang dapat dipahami manusia. Pertama, aspek Nirguna, atau abstrak, gaib, tidak bermanifestasi, tanpa wujud. Dan, dua adalah aspek Saguna, nyata, bermanifestasi, berwujud. Kedua-duanya adalah aspek Brahman atau Tuhan yang sama. Kemudian, ada yang merasa lebih dekat dengan aspek Nirguna, ada pula yang merasa lebih mudah menyadari kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna.

Sebagaimana dijelaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta, adalah lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Karena, manusia sendiri memiliki aspek yang sama, Saguna. Manusia pun nyata, bermanifestasi, atau berwujud. Ada pula yang menggunakan aspek Saguna sebagai batu loncatan. Setelah mencapai tahap tertentu, ia beralih ke aspek Nirguna lewat meditasi dan latihan-latihan lain sebagainya…….

Bagi para panembah yang yakin, seorang Sadguru adalah aspek Saguna dari Brahman. Mereka menggunakan wujud Sadguru untuk mencapai Nirguna Brahman, Tuhan yang Tak Berwujud. Pun demikian dengan kita yang percaya kepada seseorang sebagai Sadguru. Adalah sangat mudah untuk mengembangkan kasih tanpa syarat lewat bakti kepada Sadguru… Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kisah Shvetaketu dan Pravahana: Proses Kematian dan Kelahiran Kembali

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on July 4, 2018 by triwidodo

Proses Kematian dan Kelahiran Kembali

Dalam Chandogya Upanishad dikisahkan Shvetaketu putra Uddalaka Aruni menganggap dirinya bijaksana. Pada suatu hari dia pergi ke Sidang Panchala. Pangeran Pravahana bertanya apakah Shvetaketu telah memperoleh pendidikan dengan baik? Shvetaketu menjawabdengan bangga bahwa dia telah memperoleh pendidikan yang baik.

Pangeran Pravahana bertanya apakah Shvetaketu dia tahu kemana semua makhluk setelah kematian? Apakah dia tahu kapan dia lahir kembali? Apakah dia tahu Jalan Cahaya, Devayana dan Jalan Kegelapan, Pitriyana, dimana ruh melakukan perjalanan? Apakah dia tahu mengapa dunia di luar dunia tidak penuh walau banyak orang memasukinya? Apakah dia tahu bagaimana elemen menjadi purusha atau manusia hidup?

Shvetaketu tidak bisa menjawab semuanya dan merasa malu dan melaporkan pertanyaan Pangeran Pravahana kepada ayahandanya. Uddalaka, ayah Shvetaketu dengan jujur mengatakan bahwa beliau tidak tahu jawabannya juga. Selanjutnya Uddalaka memutuskan ke sidang Panchala untuk belajar pada Pangeran Pravahana.

Pravahana menawarkan hadiah kekayaan apa saja kepada Uddalaka, akan tetapi Uddalaka menolaknya dan mohon diajari ajaran tentang pertanyaan yang disampaikan kepada putranya. Pangeran Pravahana minta Uddalaka bersama sang pangeran selama beberapa lama.

Pravahana menyampaikan bahwa pengetahuan ini hanya untuk para kshatriya dan belum pernah diberikan kepada para brahmana. Baru pertama kalinya pengetahuan itu diberikan kepada seorang brahmana.

Inti ajaran Pravahana adalah sebagai berikut:

Elemen materi akan diubah menjadi hidup atau seseorang secara bertahap dengan melalui 5 tahapan yang berbeda. Tahap pertama, elemen diterima oleh api dan matahari dan berubah menjadi Soma. Tahap kedua, Soma dituangkan ke Parjanya, kekuatan yang membawa hujan, menghasilakn hujan di bumi. Tahap ketiga, hujan di bumi menghasilkan makanan. Tahap keempat, manusia mencerna makanan dan menghasilakn Retas. Retas pria dan wanita beda bentuknya. Tahap kelima, Retas wanita dan pria bersatu lahir menjadi anak. Tubuh manusia larut menjadi elemen-elemen yang membentuknya, akan tetapi takdir Jiwa tergantung pada tindakan dan pengetahuan yang diperolehnya. Orang yang mencapai pengetahuan spiritual yang benar berjelan melalui Jalan Cahaya dan tidak kembali ke dunia. Orang yang tidak memiliki pengetahuan atau hanya berpengetahuan parsial pergi melalui Jalan Kegelapan dan jatuh ke dalam siklus kelahiran dan kematian yang abadi. Dengan demikian, beberapa yang pergi ke Dunia Brahman tidak pernah kembali, beberapa yang pergi ke Surga tinggal di sana untuk beberapa waktu dan kembali ke bumi untuk meyelesaikan tugasnya, dan banyak orang yang terjebak dalam silus kelahiran dan kematian yang terus berulang. Itulah mengapa dunia di luar tidak pernah penuh. Ini adalah pengetahuan tentang kehidupan.

Penjelasan Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) sebagai berikut:

 

Mind yang Banyak Keinginan Tetap Berada di Bumi

Saat kematian fisik, mind yang masih utuh karena banyak keinginan, memori dan sebagainya akan tetap berada dalam lingkup gravitasi bumi. Kemudian lahir kembali tanpa kesadaran. Bila keinginan dan memori mulai berkurang, mind yang telah musnah fisiknya itu “dapat” meninggalkan gravitasi bumi. Biasanya beristirahat sejenak di planet bulan, bulan kita, bulan yang anda lihat setiap malam. Kadang bisa juga di salah satu planet lain, tapi masih dalam galaksi kita. Mind penuh obsesi dan memori terbebani oleh obsesi dan memori itu sendiri dan tidak bisa bepergian jauh. Ia tidak cukup ringan untuk menembus galaksi Bima Sakti, apalagi menggapai Yang Tertinggi “Itu”.

Untuk bereinkarnasi di dunia ini, mind “turun” bersama air hujan, petir atau rembulan. Mereka yang mati secara alami dan harus mengalami jatuh-bangun berulang kali, biasanya jatuh bersarna air hujan. Inilah kelahiran yang paling sering, paling umum.

Mereka yang mati karena kecelakaan, dan perang, terbunuh, atau karena dihukum mati, turun bersama petir. Mereka tidak rela mati, karena itu ingin cepat-cepat turun. Dalam kehidupan berikutnya, mereka mcenjadi sangat restless. Ingin cepat-cepat jadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan, dan dapat menghalalkan segala cara untuk itu. Ada rasa takut dalam diri yang tidak mereka sadari: “Jangan-jangan tali hidupku terputus di tengah jalan lagi.” Mereka pun dibutuhkan dunia. Perkembangan teknologi dan kemajuan yang terjadi dalam lima puluh tahun terakhir disebabkan oleh sekian banyak manusia yang mati semasa Perang Dunia Pertama dan Kedua. Makin banyak orang terbunuh dalam perang, semakin berkembang teknologi kita, termasuk teknologi destruktif yang dapat menghancurkan dunia ini.

Perkernbangan dan kemajuan di segala bidang biasanya disebabkan oleh mereka yang mati tak ikhlas, kemudian lahir kembali. Mereka memiliki sense of urgency yang luar biasa, seolah sedang berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, menolak perang juga berarti menolak kemajuan teknologi liar seperti yang terjadi saat ini.

Tanpa dua kali perang dunia, hari ini kita sudah pasti belum memiliki peralatan perang yang super canggih. Pada saat yang sama, teknologi seluler untuk telepon genggam pun pasti belum ada. Kita baru akan mengenal teknologi secanggih itu sekitar akhir abad ini. Perkembangan di bidang sains, kemajuan teknologi dan sebagainya akan berjalan pelan, tapi dunia kita jauh lebih tenteram.

Kembali pada proses kelahiran dan kematian…..

Terakhir: Jiwa-jiwa yang turun bersama rembulan. Mereka datang untuk berbagi pengalaman, berbagi ketenteraman. Mereka sadar akan peran mereka. Itulah terakhir kalinya mereka turun untuk memberkati dunia kita. Setelah itu mereka tidak perlu turun lagi, kecuali atas kehendak mereka sendiri… lagi-lagi untuk tugas-tugas tertentu. Tugas yang sebenarnya bukan tugas. Mereka datang karena kasih mereka terhadap kita. Mereka datang untuk menyadarkan kita.

Lewat air hujan, petir, maupun rembulan —Jiwa-jiwa yang turun kemudian berinteraksi dengan elemen-elemen alami dan berevolusi cepat dari satu wujud ke wujud yang lain. Dari tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah dan buah-buahan hingga sperma dan ovum. Penemuan antara dua terakhir itu akhirnya menciptakan kehidupan baru.

Kehidupan ada di mana-mana, semua ini hidup. Bila anda kaitkan Kehidupan dengan Tuhan, Ia pun berada di mana-mana. Namun manusia selalu mengaitkan Tuhan dengan “atas” —“Yang Di Atas”, “Father in Heaven”…. Kenapa? Karena jiwa manusia memang “turun dari atas”. Turun dari atas untuk kembali naik ke atas… “Atas” itulah yang dianggap sebagai “asalnya”. Kemudian, asal-usul itu dikaitkannya dengan Tuhan.

Manusia naik-turun, lahir-mati sekian kali hingga pada suatu ketika tidak perlu naik-turun lagi, tidak perlu lahir dan mati lagi. Pada saat itu ia menyatu dengan semesta…. Atas-bawah, kanan-kiri, utara-selatan memiliki makna karena kaitannya dengan ruang dan waktu. Bila ruang dan waktu terlampaui sudah, arah dan jarak pun akan kehilangan makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Lahir Kembali atau Menyatu dengan Brahman dalam Bhagavad Gita

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), sekarang dengarlah tentang waktu (dan jalur) ideal. Meninggalkan raganya pada waktu tertentu, seorang Yogi tidak (lahir) kembali. Meninggalkannya pada waktu lain, ia mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:23

“Elemen Api dan Cahaya? Terang, menguasai waktu siang, purnama, dan masa 6 bulan saat matahari berada di utara khatulistiwa. Seorang Yogi yang telah mengetahui hakikat Brahman, dan meninggalkan raganya saat itu – menuju dan menyatu dengan Brahman!” Bhagavad Gita 8:24

Krsna menjelaskan hubungan erat antara waktu dan ruang. Dua-duanya saling terkait. Namun, waktu dan ruang ideal saja tidak cukup untuk menjamin kemanunggalan Jiwa dengan Jiwa Agung. Tetap ada prasyarat, yaitu “pengetahuan tentang Brahman”. Yang dimaksud di sini bukanlah pengetahuan “kitabi” – pengetahuan buku, pengetahuan tekstual. Tapi, sesuatu yang telah kita hayati, sadari, insafi, dan lakoni.

MENGINSAFI BRAHMAN BERARTI menyadari kehadiran Tuhan di mama-mana. Prasyarat ini mesti terpenuhi. Setelah itu, dan barulah setelah itu, waktu dan ruang memfasilitasi kemanunggalan kita.

Masa 6 bulan yang dimaksud bermula dari TANGGAL 14 JANUARI SETIAP TAHUN – ini sesuai perhitungan mistis, psikis. Jadi bukan sekadar perhitungan hari sesuai kalender. Namun, kemudian berdasarkan perhitungan mistis dan psikis itulah kalender lunar dan solar dipertemukan, diselaraskan. Nah, berdasarkan penanggalan Gregorian, tanggal 14 Januari adalah hari pertama dari masa 6 bulan yang dimaksud.

Konon, Bhisma dalam cerita Mahabharata, menunggu Uttarayana atau hari pertama dari masa enam bulan ini untuk menghembuskan napas terakhir. Ia dalam keadaan luka berat, badannya berdarah-darah, namun tetap bertahan selama belasan hari untuk memulai perjalanannya menuju Brahman.

Terlepas dari inti ayat ini, adalah penting untuk kita catat bahwa sesungguhnya kematian bisa di-‘jadwal’-kan! Kita bisa mengatur hari, tanggal dan jam kematian kita. Tentunya, untuk itu kita mesti qualified. Orang tidak meraih gelar doktor begitu saja. Ia mesti bekerja keras, dan melewati tahapan-tahapan yang ada. Nah, tahapannya adalah seperti yang dijelaskan dalam ayat ini,

API, CAHAYA, SIANG HARI, BULAN PURNAMA

Pertama: Api, Membakar ego dalam api kerendahan hati, kesahajaan; Kedua: Cahaya, Menjadi terang dan berbagi terang; Ketiga: Siang Hari, Aktif sepanjang hidup untuk melayani sesama; Keempat: Bulan Purnama, Ini terkait dengan sifat ‘cahaya’ kita yaitu lembut.

Semua ini adalah anak tangga menuju pengetahuan sejati, pengetahuan tentang hakikat diri – tentang Jiwa Individu dan Jiwa Agung. Kemudian pengetahuan sejati itu pula mengantar kita pada peleburan-diri, kemanunggalan. Ia yang mengenal Brahman, manunggal dengan-Nya menjadi Brahman.

 

“Asap atau kabut, waktu malam Amavasya (bulan mati/gelap), dan masa 6 bulan ketika matahari berada di selatan khatulistiwa – jika seorang Yogi meninggalkan raganya saat itu, maka ia terserap oleh cahaya bulan dan mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:25

Adalah penting untuk kita pahami bahwa masa yang dimaksud tidaklah melulu sesuai dengan kalender kita. Mati di antara 14 Januari s/d 12/13 Juli: Bebas. Mati antaraa 14 Juli s/d 13 Januari:Balik! TIDAK. TIDAK SELALU DEMIKIAN – seseorang yang telah mengenal, menyadari, menginsafi hakikat dirinya seperti seorang pelancong yang sudah tahu jalan, tidak perlu ikut group untuk berpesiar. Dia bisa jalan sendiri.

Turis-awal, biasanya selalu mencari biro perjalanan, dan memercayakan seluruh agenda perjalanannya kepada mereka. dia tinggal bayar, dan ikut saja. Sebaliknya seorang turis yang sudah terbiasa, mengatur sendiri agenda perjalanan. Memesan hotel sendiri, beli tiket sendiri yang relatif lebih murah. Perjalanan turis-awal barangkali lebih nyaman, tapi belum tentu ‘senikmat’ turis adventuris yang mengatur sendiri semuanya.

Jadi, “JADWAL-JADWAL KEBERANGKATAN” dalam dua ayat ini, sesungguhnya mesti diartikan sebagai Jadwal Keberangkatan Group-Tour. Pilihan di tangan kita, ikut group atau jalan sendiri sewaktu-waktu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Rishi Satyakaama Putra Ibu dengan Ayah yang Tidak Jelas

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on July 3, 2018 by triwidodo

Merasakan Brahman

Dalam Chandogya Upanishad disampaikan tentang seorang anak laki-laki datang ke Rishi Bijak Harudrumata Gautama ingin menjadi muridnya. Sang Bijak bertanya mengenai dinasti atau dia keturunan siapa? Anak itu menjawab bahwa dia tidak tahu dinastinya, ibunya pernah menyampaikan bahwa dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada beberapa orang dan tidak tahu siapa ayah sebenarnya dari anaknya. Karena ibu anak tersebut bernama Jaabaalaa maka anak tersebut dinamakan Satyakaama Jaabaalaa.

Sang Bijak tersenyum dan berkata tidak satu pun anak dari keturunan bukan brahmana yang mengatakan kebenaran yang tidak menyenangkan, karena dia telah mengatakan yang sebenarnya dan belum menyimpang dari kebenaran maka anak tersebut diterima sebagai muridnya.

Setelah beberapa hari Rishi Haridrumata Gautama membawa 400 ekor sapi kurus dan lemah dan minta Satyakaama menggembalakan ke hutan dan baru kembali ke ashram setelah sapinya menjadi 1.000 ekor. Satyakaama tinggal di hutan merwat sapi-sapi tersebut selama bertahun-tahun. Satyakaama merasakan Brahman dalam nyanyian burung, siklus musim, kelahiran, pertumbuhan dan kematian kehidupan di hutan. Dia mengalami Brahman dalam rabaan, pendengaran, ucapan, penglihatan, pencecapan, detak jantung, saat bangun dan mimpi.

Pada suatu sore, seekor Lembu Jantan mendatangi Satyakaama dan mengatakan bahwa mereka sudah berjumlah 1.000 ekor dan agar Satyakaama membawa mereka ke ashram guru mereka. Lembu Jantan itu juga berkata akan mengajari seperempat Brahman. Timur, Utara, Barat dan Selatan adalah terang. Brahman terang. Dia yang bermeditasi pada Brahman sebagai terang akan bersinar di dunia ini. Lembu Jantan tersebut mengatakan bahwa Agni, Dewa Api selanjutnya akan mengajar dia.

Di pagi hari Satyakaama membawa sapi-sapi menuju ashram, dan pada malam hari Satyakaama mengadakan ritual agnihotra, mempersembahkan biji-bijian yang telah memberi manfaat bagi kehidupannya lewat api. Api berkata bahwa dia akan mengajari seperempat Brahman. Bumi, Langit, Surga dan Lautan itu tanpa akhir. Brahman itu tanpa akhir, seseorang yang bermeditasi tanpa henti akan menjadi abadi di dunia ini. Api mengatakan bahwa selanjutnya Angsa akan mengajar dia.

Pada pagi hari Satyakaama membawa sapi-sapi menuju ashram, dan pada malam hari kembali mengadakan acara ritual agnihotra. Tiba-tiba seekor Angsa terbang dan berkata bahwa dia akan mengajari seperempat Brahman yaitu bahwa Api, Matahari, Bulan, Kilat itu berkilau. Brahman itu berkilau. Seseorang yang bermeditasi pada pada kilauan Brahman akan berkilau di bumi. Angsa juga memberitahukan bahwa burung Madgu, Unggas Air akan memberi pelajaran selanjutnya.

Pada pagi hari Satyakaama membawa sapi-sapi menuju ashram, dan pada malam hari kembali mengadakan acara ritual agnihotra. Burung Madgu terbang dan berkata bahwa napas, penglihatan, pendengaran, dan pikiran mendukung. Brahman itu mendukung segalanya. Seseorang yang bermeditasi pada Brahman sebagai pendukung akan memiliki pendukung di dunia untuk menaklukkan dunia.

Ketika Satyakaama sampai ashram dengan 1.000 ekor sapi, Sang Guru berkata bahwa wajah Satyakaama nampak bersinar karena telah mengalami Brahman. Satyakaama menjelaskan tentang 4 Gurunya dan mohon Sadguru menyempurnakan pengetahuannya. Selanjutnya, Rishi Haridrumata Gautama memberikan pelajaran sepenuhnya tentang Brahman. Satyakaama akhirnya menjadi Guru yang hebat.

Tuhan Yang Tak Terbatas Dijelaskan Sesuai Kemampuan Otak Manusia Mencerna

“Wahai Kurusrestha (Arjuna yang termulia dalam Dinasti Kuru), sekarang biarlah Kujelaskan tentang hakikat dan kemuliaan serta kekuasaan-Ku yang utama saja, karena sesungguhnya kemuliaan dan kekuasaan-Ku tak terbatas.” Bhagavad Gita 10:19

Beberapa unsur dari Hyang Tak Terbatas sudah pasti ada di dalam diri yang terbatas. Lewat unsur-unsur inilah kita yang serba terbatas dapat berupaya untuk memahami sebagian dari Hyang Tak Terbatas.

Misalnya, kita mendapatkan file elektonik dari seorang rekan. Tetapi, program yang kita miliki tidak mampu untuk membaca keseluruhannya. Kita akan mendapatkan peringatan dari sistem kita, “Kemungkinan pembacaannya tidak akan sempurna, karena sistem Anda tidak sepenuhnya men-support file ini.”

Kita tetap membacanya, tetapi sebatas kemampuan sistem kita. Ini pula yang terjadi dalam hal penerimaan wahyu atau ilham. Seorang penerima wahyu atau ilham hanyalah “membaca” dan “memahami” sebatas kompatilitas systemnya. Ia tidak mampu membaca sesuatu yang berada di luar pemahaman sistemnya.

Krsna tidak akan membingungkan Arjuna. Ia hanya akan “mengirimkan” file-file yang dapat dibaca oleh Arjuna. Pengiriman semua file tidak akan berguna. Untuk apa? Arjuna juga tidak membutuhkan semua file. Beberapa file saja sudah cukup untuk menjadi pegangan dalam hidup ini.

Renungkan “kebenaran” ini, fakta ini, realitas ini, kebenaran itu mengandung “makna” dan “implikasi” yang luar biasa. Renungkan dan temukan makna itu! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Berikut ini Penjelasan Brahman Sesuai Kemampuan Otak Kita Mencerna

“Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

 

“Di antara putra Aditi, Akulah Visnu – Sang Pemelihara Agung; Matahaari di antara benda-benda terang di angkasa; Aku pula kemuliaan para Marut, Empat Puluh Sembilan jenis Angin yang bertiup; dan Akulah bulan di antara bintang-bintang.”Bhagavad Gita 10:21

 

“Di antara  Veda, sumber pengetahuan sejati, Akulah Samaveda; di antara para Dewa, Akulah Indra, Sang Pengendali Indra; di antaraindra-indra persepsi, Akulah Gugusan Pikiran atau Perasaan, Mind; Aku pula kesadaran makhluk-makhluk hidup seantero alam.” Bhagavad Gita10:22

 

“Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam, Akulah Sankara atau Siva; di antara para Yaksa dan Raksasa, penguasa alam tengah dan alam dunia yang bersifat materialis, Akulah Vittesa atau Kubera. Di antara delapan elemen penyuci, Vasu, Akulah Api; dan, di antara Gunung-gunung, Akulah Meru.” Bhagavad Gita 10:23

 

“Wahai Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), di antara para Pandita atau Ilmuwan, ketahuilah Aku sebagaai Brhaspati yang Agung; Di antara para Ahli Strategi Perang, Akulah Skanda – Panglima para Dewa; dan di antara Hamparan Air, Akulah Samudera.” Bhagavad Gita 10:24

 

“Di antara para Maharesi , Akulah Bhrgu; di antara aksara-aksara suci, Akulah Om yang Maha Suci; di atara yagya, yajna, atau upacara persembahan pada Hyang Ilahi, Akulah Japa, pengulangan asma-Nya yang mulia (zikir atau chanting); dan di antara yang kukuh dan tak tergoyahkan, Akulah Himalaya.” Bhagavad Gita 10:25

Silakan baca lengkap beserta penjelasannya pada Bab 10 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia