Kisah Rishi Satyakaama Putra Ibu dengan Ayah yang Tidak Jelas

Merasakan Brahman

Dalam Chandogya Upanishad disampaikan tentang seorang anak laki-laki datang ke Rishi Bijak Harudrumata Gautama ingin menjadi muridnya. Sang Bijak bertanya mengenai dinasti atau dia keturunan siapa? Anak itu menjawab bahwa dia tidak tahu dinastinya, ibunya pernah menyampaikan bahwa dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada beberapa orang dan tidak tahu siapa ayah sebenarnya dari anaknya. Karena ibu anak tersebut bernama Jaabaalaa maka anak tersebut dinamakan Satyakaama Jaabaalaa.

Sang Bijak tersenyum dan berkata tidak satu pun anak dari keturunan bukan brahmana yang mengatakan kebenaran yang tidak menyenangkan, karena dia telah mengatakan yang sebenarnya dan belum menyimpang dari kebenaran maka anak tersebut diterima sebagai muridnya.

Setelah beberapa hari Rishi Haridrumata Gautama membawa 400 ekor sapi kurus dan lemah dan minta Satyakaama menggembalakan ke hutan dan baru kembali ke ashram setelah sapinya menjadi 1.000 ekor. Satyakaama tinggal di hutan merwat sapi-sapi tersebut selama bertahun-tahun. Satyakaama merasakan Brahman dalam nyanyian burung, siklus musim, kelahiran, pertumbuhan dan kematian kehidupan di hutan. Dia mengalami Brahman dalam rabaan, pendengaran, ucapan, penglihatan, pencecapan, detak jantung, saat bangun dan mimpi.

Pada suatu sore, seekor Lembu Jantan mendatangi Satyakaama dan mengatakan bahwa mereka sudah berjumlah 1.000 ekor dan agar Satyakaama membawa mereka ke ashram guru mereka. Lembu Jantan itu juga berkata akan mengajari seperempat Brahman. Timur, Utara, Barat dan Selatan adalah terang. Brahman terang. Dia yang bermeditasi pada Brahman sebagai terang akan bersinar di dunia ini. Lembu Jantan tersebut mengatakan bahwa Agni, Dewa Api selanjutnya akan mengajar dia.

Di pagi hari Satyakaama membawa sapi-sapi menuju ashram, dan pada malam hari Satyakaama mengadakan ritual agnihotra, mempersembahkan biji-bijian yang telah memberi manfaat bagi kehidupannya lewat api. Api berkata bahwa dia akan mengajari seperempat Brahman. Bumi, Langit, Surga dan Lautan itu tanpa akhir. Brahman itu tanpa akhir, seseorang yang bermeditasi tanpa henti akan menjadi abadi di dunia ini. Api mengatakan bahwa selanjutnya Angsa akan mengajar dia.

Pada pagi hari Satyakaama membawa sapi-sapi menuju ashram, dan pada malam hari kembali mengadakan acara ritual agnihotra. Tiba-tiba seekor Angsa terbang dan berkata bahwa dia akan mengajari seperempat Brahman yaitu bahwa Api, Matahari, Bulan, Kilat itu berkilau. Brahman itu berkilau. Seseorang yang bermeditasi pada pada kilauan Brahman akan berkilau di bumi. Angsa juga memberitahukan bahwa burung Madgu, Unggas Air akan memberi pelajaran selanjutnya.

Pada pagi hari Satyakaama membawa sapi-sapi menuju ashram, dan pada malam hari kembali mengadakan acara ritual agnihotra. Burung Madgu terbang dan berkata bahwa napas, penglihatan, pendengaran, dan pikiran mendukung. Brahman itu mendukung segalanya. Seseorang yang bermeditasi pada Brahman sebagai pendukung akan memiliki pendukung di dunia untuk menaklukkan dunia.

Ketika Satyakaama sampai ashram dengan 1.000 ekor sapi, Sang Guru berkata bahwa wajah Satyakaama nampak bersinar karena telah mengalami Brahman. Satyakaama menjelaskan tentang 4 Gurunya dan mohon Sadguru menyempurnakan pengetahuannya. Selanjutnya, Rishi Haridrumata Gautama memberikan pelajaran sepenuhnya tentang Brahman. Satyakaama akhirnya menjadi Guru yang hebat.

Tuhan Yang Tak Terbatas Dijelaskan Sesuai Kemampuan Otak Manusia Mencerna

“Wahai Kurusrestha (Arjuna yang termulia dalam Dinasti Kuru), sekarang biarlah Kujelaskan tentang hakikat dan kemuliaan serta kekuasaan-Ku yang utama saja, karena sesungguhnya kemuliaan dan kekuasaan-Ku tak terbatas.” Bhagavad Gita 10:19

Beberapa unsur dari Hyang Tak Terbatas sudah pasti ada di dalam diri yang terbatas. Lewat unsur-unsur inilah kita yang serba terbatas dapat berupaya untuk memahami sebagian dari Hyang Tak Terbatas.

Misalnya, kita mendapatkan file elektonik dari seorang rekan. Tetapi, program yang kita miliki tidak mampu untuk membaca keseluruhannya. Kita akan mendapatkan peringatan dari sistem kita, “Kemungkinan pembacaannya tidak akan sempurna, karena sistem Anda tidak sepenuhnya men-support file ini.”

Kita tetap membacanya, tetapi sebatas kemampuan sistem kita. Ini pula yang terjadi dalam hal penerimaan wahyu atau ilham. Seorang penerima wahyu atau ilham hanyalah “membaca” dan “memahami” sebatas kompatilitas systemnya. Ia tidak mampu membaca sesuatu yang berada di luar pemahaman sistemnya.

Krsna tidak akan membingungkan Arjuna. Ia hanya akan “mengirimkan” file-file yang dapat dibaca oleh Arjuna. Pengiriman semua file tidak akan berguna. Untuk apa? Arjuna juga tidak membutuhkan semua file. Beberapa file saja sudah cukup untuk menjadi pegangan dalam hidup ini.

Renungkan “kebenaran” ini, fakta ini, realitas ini, kebenaran itu mengandung “makna” dan “implikasi” yang luar biasa. Renungkan dan temukan makna itu! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Berikut ini Penjelasan Brahman Sesuai Kemampuan Otak Kita Mencerna

“Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

 

“Di antara putra Aditi, Akulah Visnu – Sang Pemelihara Agung; Matahaari di antara benda-benda terang di angkasa; Aku pula kemuliaan para Marut, Empat Puluh Sembilan jenis Angin yang bertiup; dan Akulah bulan di antara bintang-bintang.”Bhagavad Gita 10:21

 

“Di antara  Veda, sumber pengetahuan sejati, Akulah Samaveda; di antara para Dewa, Akulah Indra, Sang Pengendali Indra; di antaraindra-indra persepsi, Akulah Gugusan Pikiran atau Perasaan, Mind; Aku pula kesadaran makhluk-makhluk hidup seantero alam.” Bhagavad Gita10:22

 

“Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam, Akulah Sankara atau Siva; di antara para Yaksa dan Raksasa, penguasa alam tengah dan alam dunia yang bersifat materialis, Akulah Vittesa atau Kubera. Di antara delapan elemen penyuci, Vasu, Akulah Api; dan, di antara Gunung-gunung, Akulah Meru.” Bhagavad Gita 10:23

 

“Wahai Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), di antara para Pandita atau Ilmuwan, ketahuilah Aku sebagaai Brhaspati yang Agung; Di antara para Ahli Strategi Perang, Akulah Skanda – Panglima para Dewa; dan di antara Hamparan Air, Akulah Samudera.” Bhagavad Gita 10:24

 

“Di antara para Maharesi , Akulah Bhrgu; di antara aksara-aksara suci, Akulah Om yang Maha Suci; di atara yagya, yajna, atau upacara persembahan pada Hyang Ilahi, Akulah Japa, pengulangan asma-Nya yang mulia (zikir atau chanting); dan di antara yang kukuh dan tak tergoyahkan, Akulah Himalaya.” Bhagavad Gita 10:25

Silakan baca lengkap beserta penjelasannya pada Bab 10 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: