Kisah Shvetaketu dan Pravahana: Proses Kematian dan Kelahiran Kembali

Proses Kematian dan Kelahiran Kembali

Dalam Chandogya Upanishad dikisahkan Shvetaketu putra Uddalaka Aruni menganggap dirinya bijaksana. Pada suatu hari dia pergi ke Sidang Panchala. Pangeran Pravahana bertanya apakah Shvetaketu telah memperoleh pendidikan dengan baik? Shvetaketu menjawabdengan bangga bahwa dia telah memperoleh pendidikan yang baik.

Pangeran Pravahana bertanya apakah Shvetaketu dia tahu kemana semua makhluk setelah kematian? Apakah dia tahu kapan dia lahir kembali? Apakah dia tahu Jalan Cahaya, Devayana dan Jalan Kegelapan, Pitriyana, dimana ruh melakukan perjalanan? Apakah dia tahu mengapa dunia di luar dunia tidak penuh walau banyak orang memasukinya? Apakah dia tahu bagaimana elemen menjadi purusha atau manusia hidup?

Shvetaketu tidak bisa menjawab semuanya dan merasa malu dan melaporkan pertanyaan Pangeran Pravahana kepada ayahandanya. Uddalaka, ayah Shvetaketu dengan jujur mengatakan bahwa beliau tidak tahu jawabannya juga. Selanjutnya Uddalaka memutuskan ke sidang Panchala untuk belajar pada Pangeran Pravahana.

Pravahana menawarkan hadiah kekayaan apa saja kepada Uddalaka, akan tetapi Uddalaka menolaknya dan mohon diajari ajaran tentang pertanyaan yang disampaikan kepada putranya. Pangeran Pravahana minta Uddalaka bersama sang pangeran selama beberapa lama.

Pravahana menyampaikan bahwa pengetahuan ini hanya untuk para kshatriya dan belum pernah diberikan kepada para brahmana. Baru pertama kalinya pengetahuan itu diberikan kepada seorang brahmana.

Inti ajaran Pravahana adalah sebagai berikut:

Elemen materi akan diubah menjadi hidup atau seseorang secara bertahap dengan melalui 5 tahapan yang berbeda. Tahap pertama, elemen diterima oleh api dan matahari dan berubah menjadi Soma. Tahap kedua, Soma dituangkan ke Parjanya, kekuatan yang membawa hujan, menghasilakn hujan di bumi. Tahap ketiga, hujan di bumi menghasilkan makanan. Tahap keempat, manusia mencerna makanan dan menghasilakn Retas. Retas pria dan wanita beda bentuknya. Tahap kelima, Retas wanita dan pria bersatu lahir menjadi anak. Tubuh manusia larut menjadi elemen-elemen yang membentuknya, akan tetapi takdir Jiwa tergantung pada tindakan dan pengetahuan yang diperolehnya. Orang yang mencapai pengetahuan spiritual yang benar berjelan melalui Jalan Cahaya dan tidak kembali ke dunia. Orang yang tidak memiliki pengetahuan atau hanya berpengetahuan parsial pergi melalui Jalan Kegelapan dan jatuh ke dalam siklus kelahiran dan kematian yang abadi. Dengan demikian, beberapa yang pergi ke Dunia Brahman tidak pernah kembali, beberapa yang pergi ke Surga tinggal di sana untuk beberapa waktu dan kembali ke bumi untuk meyelesaikan tugasnya, dan banyak orang yang terjebak dalam silus kelahiran dan kematian yang terus berulang. Itulah mengapa dunia di luar tidak pernah penuh. Ini adalah pengetahuan tentang kehidupan.

Penjelasan Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) sebagai berikut:

 

Mind yang Banyak Keinginan Tetap Berada di Bumi

Saat kematian fisik, mind yang masih utuh karena banyak keinginan, memori dan sebagainya akan tetap berada dalam lingkup gravitasi bumi. Kemudian lahir kembali tanpa kesadaran. Bila keinginan dan memori mulai berkurang, mind yang telah musnah fisiknya itu “dapat” meninggalkan gravitasi bumi. Biasanya beristirahat sejenak di planet bulan, bulan kita, bulan yang anda lihat setiap malam. Kadang bisa juga di salah satu planet lain, tapi masih dalam galaksi kita. Mind penuh obsesi dan memori terbebani oleh obsesi dan memori itu sendiri dan tidak bisa bepergian jauh. Ia tidak cukup ringan untuk menembus galaksi Bima Sakti, apalagi menggapai Yang Tertinggi “Itu”.

Untuk bereinkarnasi di dunia ini, mind “turun” bersama air hujan, petir atau rembulan. Mereka yang mati secara alami dan harus mengalami jatuh-bangun berulang kali, biasanya jatuh bersarna air hujan. Inilah kelahiran yang paling sering, paling umum.

Mereka yang mati karena kecelakaan, dan perang, terbunuh, atau karena dihukum mati, turun bersama petir. Mereka tidak rela mati, karena itu ingin cepat-cepat turun. Dalam kehidupan berikutnya, mereka mcenjadi sangat restless. Ingin cepat-cepat jadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan, dan dapat menghalalkan segala cara untuk itu. Ada rasa takut dalam diri yang tidak mereka sadari: “Jangan-jangan tali hidupku terputus di tengah jalan lagi.” Mereka pun dibutuhkan dunia. Perkembangan teknologi dan kemajuan yang terjadi dalam lima puluh tahun terakhir disebabkan oleh sekian banyak manusia yang mati semasa Perang Dunia Pertama dan Kedua. Makin banyak orang terbunuh dalam perang, semakin berkembang teknologi kita, termasuk teknologi destruktif yang dapat menghancurkan dunia ini.

Perkernbangan dan kemajuan di segala bidang biasanya disebabkan oleh mereka yang mati tak ikhlas, kemudian lahir kembali. Mereka memiliki sense of urgency yang luar biasa, seolah sedang berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, menolak perang juga berarti menolak kemajuan teknologi liar seperti yang terjadi saat ini.

Tanpa dua kali perang dunia, hari ini kita sudah pasti belum memiliki peralatan perang yang super canggih. Pada saat yang sama, teknologi seluler untuk telepon genggam pun pasti belum ada. Kita baru akan mengenal teknologi secanggih itu sekitar akhir abad ini. Perkembangan di bidang sains, kemajuan teknologi dan sebagainya akan berjalan pelan, tapi dunia kita jauh lebih tenteram.

Kembali pada proses kelahiran dan kematian…..

Terakhir: Jiwa-jiwa yang turun bersama rembulan. Mereka datang untuk berbagi pengalaman, berbagi ketenteraman. Mereka sadar akan peran mereka. Itulah terakhir kalinya mereka turun untuk memberkati dunia kita. Setelah itu mereka tidak perlu turun lagi, kecuali atas kehendak mereka sendiri… lagi-lagi untuk tugas-tugas tertentu. Tugas yang sebenarnya bukan tugas. Mereka datang karena kasih mereka terhadap kita. Mereka datang untuk menyadarkan kita.

Lewat air hujan, petir, maupun rembulan —Jiwa-jiwa yang turun kemudian berinteraksi dengan elemen-elemen alami dan berevolusi cepat dari satu wujud ke wujud yang lain. Dari tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah dan buah-buahan hingga sperma dan ovum. Penemuan antara dua terakhir itu akhirnya menciptakan kehidupan baru.

Kehidupan ada di mana-mana, semua ini hidup. Bila anda kaitkan Kehidupan dengan Tuhan, Ia pun berada di mana-mana. Namun manusia selalu mengaitkan Tuhan dengan “atas” —“Yang Di Atas”, “Father in Heaven”…. Kenapa? Karena jiwa manusia memang “turun dari atas”. Turun dari atas untuk kembali naik ke atas… “Atas” itulah yang dianggap sebagai “asalnya”. Kemudian, asal-usul itu dikaitkannya dengan Tuhan.

Manusia naik-turun, lahir-mati sekian kali hingga pada suatu ketika tidak perlu naik-turun lagi, tidak perlu lahir dan mati lagi. Pada saat itu ia menyatu dengan semesta…. Atas-bawah, kanan-kiri, utara-selatan memiliki makna karena kaitannya dengan ruang dan waktu. Bila ruang dan waktu terlampaui sudah, arah dan jarak pun akan kehilangan makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Lahir Kembali atau Menyatu dengan Brahman dalam Bhagavad Gita

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), sekarang dengarlah tentang waktu (dan jalur) ideal. Meninggalkan raganya pada waktu tertentu, seorang Yogi tidak (lahir) kembali. Meninggalkannya pada waktu lain, ia mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:23

“Elemen Api dan Cahaya? Terang, menguasai waktu siang, purnama, dan masa 6 bulan saat matahari berada di utara khatulistiwa. Seorang Yogi yang telah mengetahui hakikat Brahman, dan meninggalkan raganya saat itu – menuju dan menyatu dengan Brahman!” Bhagavad Gita 8:24

Krsna menjelaskan hubungan erat antara waktu dan ruang. Dua-duanya saling terkait. Namun, waktu dan ruang ideal saja tidak cukup untuk menjamin kemanunggalan Jiwa dengan Jiwa Agung. Tetap ada prasyarat, yaitu “pengetahuan tentang Brahman”. Yang dimaksud di sini bukanlah pengetahuan “kitabi” – pengetahuan buku, pengetahuan tekstual. Tapi, sesuatu yang telah kita hayati, sadari, insafi, dan lakoni.

MENGINSAFI BRAHMAN BERARTI menyadari kehadiran Tuhan di mama-mana. Prasyarat ini mesti terpenuhi. Setelah itu, dan barulah setelah itu, waktu dan ruang memfasilitasi kemanunggalan kita.

Masa 6 bulan yang dimaksud bermula dari TANGGAL 14 JANUARI SETIAP TAHUN – ini sesuai perhitungan mistis, psikis. Jadi bukan sekadar perhitungan hari sesuai kalender. Namun, kemudian berdasarkan perhitungan mistis dan psikis itulah kalender lunar dan solar dipertemukan, diselaraskan. Nah, berdasarkan penanggalan Gregorian, tanggal 14 Januari adalah hari pertama dari masa 6 bulan yang dimaksud.

Konon, Bhisma dalam cerita Mahabharata, menunggu Uttarayana atau hari pertama dari masa enam bulan ini untuk menghembuskan napas terakhir. Ia dalam keadaan luka berat, badannya berdarah-darah, namun tetap bertahan selama belasan hari untuk memulai perjalanannya menuju Brahman.

Terlepas dari inti ayat ini, adalah penting untuk kita catat bahwa sesungguhnya kematian bisa di-‘jadwal’-kan! Kita bisa mengatur hari, tanggal dan jam kematian kita. Tentunya, untuk itu kita mesti qualified. Orang tidak meraih gelar doktor begitu saja. Ia mesti bekerja keras, dan melewati tahapan-tahapan yang ada. Nah, tahapannya adalah seperti yang dijelaskan dalam ayat ini,

API, CAHAYA, SIANG HARI, BULAN PURNAMA

Pertama: Api, Membakar ego dalam api kerendahan hati, kesahajaan; Kedua: Cahaya, Menjadi terang dan berbagi terang; Ketiga: Siang Hari, Aktif sepanjang hidup untuk melayani sesama; Keempat: Bulan Purnama, Ini terkait dengan sifat ‘cahaya’ kita yaitu lembut.

Semua ini adalah anak tangga menuju pengetahuan sejati, pengetahuan tentang hakikat diri – tentang Jiwa Individu dan Jiwa Agung. Kemudian pengetahuan sejati itu pula mengantar kita pada peleburan-diri, kemanunggalan. Ia yang mengenal Brahman, manunggal dengan-Nya menjadi Brahman.

 

“Asap atau kabut, waktu malam Amavasya (bulan mati/gelap), dan masa 6 bulan ketika matahari berada di selatan khatulistiwa – jika seorang Yogi meninggalkan raganya saat itu, maka ia terserap oleh cahaya bulan dan mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:25

Adalah penting untuk kita pahami bahwa masa yang dimaksud tidaklah melulu sesuai dengan kalender kita. Mati di antara 14 Januari s/d 12/13 Juli: Bebas. Mati antaraa 14 Juli s/d 13 Januari:Balik! TIDAK. TIDAK SELALU DEMIKIAN – seseorang yang telah mengenal, menyadari, menginsafi hakikat dirinya seperti seorang pelancong yang sudah tahu jalan, tidak perlu ikut group untuk berpesiar. Dia bisa jalan sendiri.

Turis-awal, biasanya selalu mencari biro perjalanan, dan memercayakan seluruh agenda perjalanannya kepada mereka. dia tinggal bayar, dan ikut saja. Sebaliknya seorang turis yang sudah terbiasa, mengatur sendiri agenda perjalanan. Memesan hotel sendiri, beli tiket sendiri yang relatif lebih murah. Perjalanan turis-awal barangkali lebih nyaman, tapi belum tentu ‘senikmat’ turis adventuris yang mengatur sendiri semuanya.

Jadi, “JADWAL-JADWAL KEBERANGKATAN” dalam dua ayat ini, sesungguhnya mesti diartikan sebagai Jadwal Keberangkatan Group-Tour. Pilihan di tangan kita, ikut group atau jalan sendiri sewaktu-waktu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: