Berkarya dengan Semangat Persembahan

Kisah Buddha dengan Maharaja dan Perempuan Tua

Kisah seorang Master: Buddha terbiasa membawa gendang kecil dan para murid pernah bertanya mengapa Gurunya selalu membawa gendang kecil di sisinya. Buddha menjawab bahwa dia akan menabuh gendang pada hari orang memberikan persembahan terbesar kepada Beliau.

Setiap orang bersemangat untuk mengetahui siapa orang yang akan melakukan persembahan tersebut. Seorang Maharaja berniat mencapai kriteria tersebut dan datang dengan gajah-gajahnya membawa banyak harta kekayaan untuk dipersembahkan kepada Buddha. Sang Maharaja berharap Sang Buddha akan menabuh gendang kecil beliau.

Dalam perjalanan, seorang perempuan tua menghadap Sang Maharaja dan menyampaikan bahwa dia kelaparan dan mohon Sang Maharaja memberikan makanan kepadanya. Sang Maharaja mengambil buah delima dan memberikannya kepada perempuan tua tersebut. Perempuan tua itu juga datang ke Buddha dengan membawa buah delima tersebut.

Sang Maharaja mempersembahkan kepada Sang Buddha harta kekayaan yang dibawa gajah-gajahnya dan kemudian menunggu apakah Sang Buddha akan menabuh gendang kecilnya. Tetapi Sang Buddha tidak menabuh gendangnya dan Sang Maharaja tetap tinggal bersama banyak tamu di hadapan Sang Buddha.

Perempuan tua itu kemudian berdiri dan menawarkan buah delima kepada Sang Buddha. Sang Buddha langsung mengambilnya dan menabuh gendang kecil di sampingnya.

Sang Maharaja bertanya kepada Sang Buddha bahwa dia telah mempersembahkan banyak harta kekayaan tetapi Sang Buddha tidak menabuh gendangnya. Sedangkan saat Sang Buddha menerima sekadar buah delima, Beliau langsung menabuh gendang. Sang Maharaja bertanya apakah itu sebuah persembahan besar?

Sang Buddha menjawab, bahwa dalam persembahan itu yang dipertimbangkan bukan kuantitasnya akan tetapi kualitas dari persembahan. Adalah wajar bagi seorang maharaja mempersembahkan emas. Tetapi perempuan tua tersebut mempersembahkan buah delima kepada Guru meskipun dia sendiri menderita kelaparan. Dia bahkan tidak mempedulikan hidupnya dan mempersembahkan buah tersebut. Persembahan sejati berarti mempersembahkan apa yang paling dicintainya, apa yang paling dihargainya.

Sang Maharaja sadar bahwa dia melakukan persembahan demi sebuah pujian, adalah ego dirinya yang  menjiwai persembahan bukannya aroma kasih.

Perempuan tua itu tidak mengharapkan sesuatu dari Sang Guru, keinginan dia adalah untuk memberi saja. Sedangkan, Sang Maharaja memberi dengan mengharapkan mendapat pujian dari Sang Guru.

Persembahan Penuh Kasih

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung.

…………………

Di balik semua itu, adalah semangat panembahan yang penting. Adakah kasih yang mengiringi doa persembahan kita? Adakah cinta yang melubar saat kita memuji-Nya? Ini yang penting. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Persembahan dengan Semangat Manembah

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehlngga, klta semua tldak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita rnasing-masing, kecuali…. Dan “kecuali” ini adalah “kecuali yang membebaskan kita dari segala konsekuensi”, yakni………

BERBUAT DENGAN SEMANGAT MANEMBAH – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya.

Dengan cara itu;

Pertama, perbuatan kita menjadi baik dan tepat dengan sendirinya. Apakah kita mau menghaturkan sesuatu yang tidak baik kepada Hyang kita cintai? Mustahil.

Kedua, kita menjadi efisien. Tidak membuang waktu. Ingat saat kita berpacaran, bagaimana menjadi tepat waktu. Pertemuan dengan si doi menjadi urusan utama, prioritas utama. Berpacaranlah dengan Gusti Pangeran. Pacar-pacar Iain akan meninggalkan kita, cinta kita hanyalah berlanjut selama satu atau beberapa musim saja. Sementara itu, cinta Gusti Pangeran ibarat arak yang tambah lama, tambah memabukkan.

Ketiga, ketika kita betul-betul mencintai seseorang, kita tidak mengharapkan sesuatu. Keinginan kita adalah untuk memberi saja. Barangkali kaum Adam sulit rnemahami hal ini. Kaum Hawa lebih memahaminya. Sebab itu, dalam hal menjalin hubungan dengan Gusti, jadilah seperti seorang perempuan, memberi, memberi, dan memberi.

Inilah cinta sejati. Inilah berkarya tanpa keterikatan pada hasil, tanpa pamrih. Inilah Karma Yoga. Dan, ini pula bhakti — panembahan yang sesungguhnya.

 

Sang Pencipta Menciptakan Umat Manusia dengan Semangat Persembahan

“Prajapati Brahma – Sang Pencipta dan Penguasa makhluk-makhluk ciptaannya – menciptakan umat manusia dengan semangat persembahan dan pesannya ialah, “Berkembanglah dengan cara yang sama (berkarya dengan semangat persembahan) dan raihlah segala kenikmatan yang kau dambakan.” Bhagavad Gita 3:10

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk “menjadi banyak”. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin. Berarti,

BRAHMA, SANG PENCIPTA ADALAH PRODUK DUALITAS – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

BAGAIMANA CARANYA? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: