Archive for September, 2018

Memuaskan Indra atau Tindakan Mulia? Pilihan yang Menentukan Takdir Kita

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on September 30, 2018 by triwidodo

Kisah Tentang Gusti Yesus dan Orang Yang Tidak Bersyukur

Seorang Master bercerita tentang Gusti Yesus yang berjalan-jalan di kota. Dia melihat sorang pemuda yang mabuk berguling-guling di jalan. Dia duduk di samping sang pemuda yang sedang mabuk dan bertanya, “Anakku! Mengapa kau menyia-nyiakan masa mudamu yang berharga untuk minum sampai mabuk?” Pemuda itu menjawab, “Gusti, saya adalah penderita kusta dan telah disembuhkan oleh Gusti. Setelah sembuh saya dapat melakukan minum minuman yang memabokkan.” Gusti Yesus menghela napas dan pergi.

Di Jalan lain Gusti Yesus melihat seorang pria muda yang mengejar wanita cantik. Gusti Yesus menangkapnya dan bertanya, “Nak, mengapa kau mencemarkan tubuhmu dengan melakukan perbuatan yang tidak baik?” Pria muda itu menjawab, “Gusti! Saya tadinya betul-betul buta. Gusti telah mengobati sehingga saya dapat melihat. Itulah sebabnya saya melihat wanita-wanita cantik dan mengejar mereka, dulu hal demikian tidak bisa saya lakukan!” Gusti Yesus kembali menghela napas dan pergi.

Di suatu perempatan Gusti Yesus menemukan seorang tua yang menangis dengan sedih. Gusti Yesus mendekatinya dan menyentuhnya sambil bertanya, “Mengapa kamu menangis?” orang tua itu berkata, “Gusti saya pernah sekarat dan Gusti menghidupkan saya. Apalagi yang dapat saya lakukan di usia tua ini selain menangis?”

Di saat kita berada dalam keadaan kesulitan dan kesusahan, kita mohon pertolongan Tuhan. Tetapi saat Tuhan telah mengabulkan permohonan kita, kita tidak bersyukur, mengabaikan Dia. Kita jatuh kembali pada kehidupan yang tidak bisa membedakaan mana tindakan yang mulia dan tindakan yang hanya memuaskan indera.

Tubuh kita mungkin sudah tidak sakit, tetapi pilihan Tindakan kita Belum tentu Sehat

Yang Menyenangkan Pancaindra dan Yang Tepat (Mulia)

Program dasar dari neocortex adalah untuk mencerna semua informasi yang kita peroleh sepanjang usia sepanjang hari dan memprosesnya menjadi 2 kategori: Shreya dan Preya. Preya adalah segala sesuatu yang menyenangkan panca indra. Apa pun juga asal menyenangkan panca indra itu adalah preya. Mungkin tidak baik, mungkin tidak benar, asal panca indra saya puas itu adalah preya. Shreya selangkah lebih lanjut, apakah yang saya lakukan tepat? Shreya bukan sesuatu yang menyenangkan tapi sesuatu yang tepat. Silakan lihat Video Bapak Anand Krishna: Being Human 2/3 Pleasant or Good

 

Jangan Asal Berbuat

Krsna menggunakan istilah Shreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah sreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan sreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak. Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak.

Berarti, jangan “asal berkarya” – jangan asal “berbuat”. Jangan asal “makan”. Jangan asal “hidup”. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh, bagi lingkungan, bagi masyarakat. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kemampuan Memilah Mana Yang Mulia dan Mana Yang Memuaskan Panca Indra Saja

Jalan menuju kemuliaan dan jalan menuju kepuasan indera (yang bersifat sementara), inilah dua jalan yang terbuka bagi manusia. Mereka yang inteligen, berakal budi memilih jalan menuju kemuliaan. Mereka yang bodoh memilih jalan kepuasan indera, kenikmatan, dan kesenangan sesaat.

Viveka memberi kita kemampuan untuk memilah. Kemampuan inilah yang kelak mengantar kita pada Bodhichitta. Viveka ibarat Buddha dalam proses. Adalah sangat penting bahwa dalam perjalanan menuju kesadaran Buddha, atau Bodichitta, kita sadar akan apa yang tepat bagi kita, dan apa yang tidak tepat. Viveka adalah buah meditasi. Viveka tidak dapat diperoleh dari buku. Buku, tulisan, serta pengalaman orang lain hanyalah sebatas untuk menyemangati kita. Buku menjelaskan pengalaman para penulis yang memilih shreya atau kemuliaan dan meraih Bodhichitta. Buku juga bercerita tentang mereka yang memilih preya, atau kesenangan sesaat dan meraih penderitaan.

Mengapa preya tidak pernah memuaskan? Karena, jiwa kita abadi. Ia sedang mencari keabadian. Ia hendak meraih kebahagiaan abadi atau aananda. Sementara itu jalan preya hanyalah mengantar dia pada kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan sesaat.

Adalah viveka yang mengenal aananda. Sebelum viveka berkembang, kita tidak pernah mengenal aananda. Mind atau maanas hanya mengenal kebahagiaan dan kesenangan sesaat. Ia tidak bisa menjangkau sesuatu yang bersifat langgeng dan abadi karena dirinya sendiri tidak abadi. Ia hanyalah merekam dan menikmati pengalaman-pengalaman jiwa yang bersifat luaran, dan senantiasa berubah-ubah. Untuk menemukan aananda, para Buddha selalu mengajak kita untuk menoleh ke dalam diri sendiri.

Selama masih dalam proses, viveka adalah pemandu kita. Viveka ini ibarat kepompong yang kelak akan berubah menjadi kupu-kupu. Proses ini bisa memakan waktu yang cukup lama, tetapi bisa juga terjadi dalam waktu yang relatif singkat.

Usia fisik manusia tidak menentukan cepat-lambatnya pertumbuhan viveka dan transformasi selanjutnya menjadi buddhi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia #HypnotheraphyIndonesia

Kebanyakan Orang Tidak Tahu Arah Hidupnya

“Mereka yang bodoh dan terbawa oleh pengaruh Maya – kekuatan ilusif yang membingungkan – tidak mengenal-Ku, demikian mereka menjadi tidak selaras dengan-Ku (asura).” Bhagavad Gita 7:15

Setan, demon, atau asura adalah suatu keadaan yang tidak selaras, tidak seirama dengan irama alam. Asura berarti tidak berirama, tanpa irama. Irama Alam adalah memberi, berbagi, mencintai, melindungi, empati – semua ini adalah irama alam. Gotong royong adalah irama alam. Dan, kebalikan semuanya itu membuat manusia tidak seirama dengan alam. Mereka yang seirama dengan alam adalah sura – kebalikannya adalah asura. Jadi, Anda, saya, kita semua memiliki potensi ganda ini, mau menjadi seirama, selaras dengan semesta atau tidak selaras. Mau menjadi Sura atau Asura – pilihan di tangan kita!

Krsna menyebut mereka yang tidak seirama—mereka yang bersifat asura—sebagai orang bodoh. Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa KENYAMANAN TIDAK SAMA DENGAN KEBAHAGIAAN. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

BERAKTIFITASLAH SEPERTI BIASA—Nikmati segala kenyamanan, namun dengan penuh kesadaran bahwa kenyamanan yang Anda peroleh dari harta benda dan keuasaan tidak sama dengan kebahagiaan. Maka, berjuanglah pula untuk meraih kebahagiaan sejati dengan cara “mengenal diri”—mengenal Hakikat Diri, Hakikat Jiwa, hubungan Jiwa dengan Jiwa-Jiwa lain, hubungan Jiwa-Jiwa dengan sang Jiwa Agung.

Kembangkan sifat panembahan, belajarlah, biasakanlah diri untuk berbagi berkah. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati. Jangan menjadi bodoh, jangan terbawa oleh Maya! Lewati Maya, gunakan Maya untuk menembusnya, gunakan harta-benda dan kekuasaan untuk berbagi berkah! Di balik tirai Maya adalah Mayapati—the Lord of Maya—Sang Jiwa Agung. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Syaratnya: Anda Percaya, Anda Yakin!

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on September 28, 2018 by triwidodo

Surat Bocah Kepada Gusti Narayana

Seorang Master bercerita tentang seorang ibu dan putranya yang hidup di sebuah desa. Bocah itu sudah kehilangan ayahnya saat dia baru berusia 2 tahun. Sang ibu berkerja keras untuk menyekolahkan putra satu-satunya tersebut. Bocah ini sangat pintar, patuh dan cinta pada sang ibu. Sang bocah mencapai kelas ketujuh dan sedang belajar keras untuk ujian. Pada suatu hari sang bocah berkata kepada sang ibu, “Ma, saya harus membayar 20 Rupee untuk evaluasi dalam 4 hari ke depan. Semoga ibu bisa memperolehnya.”

Sang ibu panik, karena itu adalah tanggal tua. Dia pergi menemui kepala sekolah dan mohon bagaimana caranya agar sang anak diperkenankan ikut evalusi dan dia akan membayar kemudian. Kepala sekolah tersebut mengatakan bahwa keputusan tersebut tidak berada di tangannya. Sang ibu pulang ke rumah sambil menangis.

Bocah itu pulang sekolah dan melihat sang ibu menangis. Bocah itu duduk di dekat ibunya dan bertanya, “Mengapa ibu menangis?” sang ibu menjawab, “Putraku, aku tidak bisa memperoleh uang untuk membayar biaya evaluasi. Kau tidak bisa pergi ke sekolah, dan mulai besok kau harus bekerja seperti ibu. Tidak ada jalan lain.” Bocah itu berkata, “Mengapa Ibu tidak bisa meminjam 20 rupee? Setelah evaluasi, saya akan bekerja dan akan bisa mengembalikan pinjaman tersebut?” sang Ibu menjawab, “Siapa yang akan memberi saya uang tersebut? Hanya Gusti Pangeran, jika Dia berkenan.” Bocah itu bertanya dengan penuh semangat, “Siapakah Gusti Pangeran itu Ibu? Dimana alamat Dia? Saya akan pergi memperolehnya!” Sang Ibu menjawab, “Gusti Narayana tinggal di Vaikuntha, Dia merupakan sumber dari semua kekayaan!”

Tanpa ragu si bocah berlari ke kantor pos. Dia memiliki beberapa koin untuk membeli kartu pos dan perangko. Bocah itu menulis tentang kondisi malang sang ibu dan minta Gusti Pangeran mengirim 20 rupee dengan segera. Bocah itu segera berlari ke arah kotak surat yang diikat pada pohon. Dia berusaha memasukkan kartu pos tersebut ke lubang kotak surat, tapi tangannya tidak sampai. Adalah Kepala Kantor Pos yang memperhatikan tindakan bocah tersebut dan bertanya, “Kepada siapa kau menulis kartu pos ini?  Si bocah berkata, “Aduh! Ini adalah surat mendesak kepada Gusti Narayana di Vaikuntha. Saya harus membayar biaya eveluasi pendidikan tiga hari lagi. Saya minta kepada Dia untuk segera mmengirim 20 rupee.” Sang Kepala Kantor Pos  menatap alamat di kartu pos. dia terhenyak, air matanya menggenang melihat kepolosan sang bocah dan berkata, “Nak, siapa yang memberimu alamat ini?” Sang bocah menyampaikan dialog dirinya dengan sang ibu, “Tuan, ibuku berkata bahwa Gusti Pangeran sangat baik dan Dia pasti membantu orang miskin seperti kami asal kita berdoa kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.” Sang Kepala Kantor Pos terharu, hatinya tersentuh, dia menepuk pundak anak itu dan berkata, “Nak, aku akan memproses pengiriman ekspres kartu pos ini. Lebih baik lusa kau datang ke sini.”

Bocah itu berlari pulang dengan gembira dan memberitahu ibunya bahwa lusa dia akan memperoleh uang untuk membayar biaya evaluasi tersebut.

Dua hari berikutnya sang bocah ke Kantor Pos, dan Sang Kepala Kantor Pos  menyampaikan, “Nak ini amplop dan di dalamnya kau akan menemukan 20 rupee. Sekarang pergi ke sekolah dan bayar biaya evaluasi pendidikan. Bocah itu berlari pulang dan meletakkan amplop di tangan sang ibu. Sang ibu membuka amplop dan bertanya darimana dia memperoleh uang tersebut. Bocah itu menceritakan apa yang terjadi dan sang ibu tidak percaya akan kejadian tersebut. Sang ibu segera ke Kantor Pos dan menemui Kepala Kantor pos dan menyampaikan cerita anaknya. Kepala Kantor Pos menjawab, “Ibu, percayalah kepadaku. Saya adalah orang yang keras hati. Ketika saya membaca kartu pos yang ditulis putra ibu, saya tidak mempercayai mataku sendiri. Sebuah surat yang ditulis kepada Gusti Pangeran dengan iman, keyakinan yang penuh. Adalah pasti Gusti Pangeran yang mendorong saya untuk menyelamatkan putra ibu. Tolong ambil uangnya. Saya harus memberikan uang tersebut. Iman putra ibu telah menggerakkan hati saya. Hati saya akan remuk bila ibu menolaknya. Saya menganggap hal ini sebagai kesempatan saya untuk membantu anak yang baik”

Jika kita berdoa kepada Tuhan dengan tulus, Tuhan akan membantu kita. Dia akan menggerakkan seseorang untuk bertindak sebagai pembantu-Nya. Iman pada Tuhan akan mentelamatkan orang dari semua masalah…………..

Kisah ini masih berkaitan dengan kisah Sang Master sebelumnya. Para Master menyuntik semangat kita untuk beriman, untuk yakin melampaui mind yang terbelenggu oleh batasn yang kita buat sendiri.

Silakan baca: Quantum Leap dan Iman Sebesar Biji Sesawi

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2018/09/26/quantum-leap-dan-iman-sebesar-biji-sesawi/

 

Semua Pikiran di Alam Semesta yang Satu Frekuensi dengan Pikiran Kita Akan Mempengaruhi

Setiap tindakan kita akan membawa pengaruh penguatan intensitasnya. Dalam ilmu fisika, ketika saya melakukan tindakan tertentu, pikiran saya akan berada dalam getaran tertentu. Semua pikiran yang mempunyai frekuensi yang sama akan terpengaruh oleh pikiran saya. Ketika sebuah alat musik dibunyikan, maka alat musik lainnya yang mempunyai frekuensi sama pada ruangan yang sama akan bergetar. Jadi semua pikiran yang sama frekuensinya akan terpengaruh oleh getaran pikiran yang sama. Tentu saja pengaruh ini akan bervariasi karena ada faktor-faktor lainnya. Akan tetapi pikiran selalu terbuka untuk getaran kasih.

Mengikuti analogi tersebut, sangat mungkin seperti gelombang cahaya dari bintang yang berjalan selama jutaan tahun sebelum mencapai obyek, maka gelombang pikiran mungkin juga berjalan ratusan tahun sebelum bertemu dengan obyek yang satu frekuensi dengannya. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa atmosfir kita ini penuh dengan getaran pikiran, baik ataupun jahat. Setiap pikiran yang diproyeksikan dari otak akan bergetar terus, sampai bertemu dengan obyek yang selaras frekuensinya yang menerimanya. Pikiran yang terbuka untuk menerima getaran batin ini akan segera mengambilnya, semacam intuisi.

Jadi, ketika seseorang melakukan tindakan jahat, dia telah menghasilkan frekuensi tertentu dan semua pikiran yang selaras frekensinya di atmosfir, akan berjuang masuk ke dalam pikirannya. Itulah sebabnya, seorang pelaku kejahatan pada umumnya akan terus melakukan banyak kejahatan. Demikian juga yang terjadi dengan pelaku kebaikan, dia akan membuka diri untuk semua getaran baik yang ada di atmosfir dan tindakan baiknya akan menjadi lebih intensif. (Getaran Iman sang bocah ikut menggetarkan hati Kepala Kantor Pos untuk membantunya).

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Karma Yoga Non Attachment

Anda Yakin atau Tidak, Pilihannya di Antara Dua itu Saja

Rumusan (Napoleon) Hill pun dimulai dari keyakinan. Itulah butir pertama rumusan sang maestro. Kendati demikian, ia pun sadar bahwa 98 % orang memang tidak yakin. Mereka tidak percaya pada apa yang mereka lakukan. Mereka tidak percaya pada keberhasilan apa yang mereka kerjakan. Mereka tidak percaya pada pekerjaan mereka. Itulah sebabnya hanya 2 % orang yang meraih keberhasilan sejati. Sisanya dalam keadaan limbo, kaya tapi tidak berhasil. Atau tidak kaya dan tidak berhasil. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Total Success Meraih Keberhasilan Sejati. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Syaratnya: Anda Percaya, Anda Yakin

Percayalah, yakinlah, saat Anda betul-betul membutuhkan pengarahan dan bimbingan seorang Kṛṣṇa, Anda pasti memperolehnya. Kṛṣṇa bisa berwujud apa dan siapa saja. Kadang seorang Pemandu Rohani, kadang seorang sahabat, bahkan kadang seorang anak kecil, seorang remaja; kadang buku yang sedang Anda baca – Kṛṣṇa bisa mewujud sebagai apa dan siapa saja untuk membimbing Anda.

Syaratnya: Asal Anda Percaya, Anda Yakin. Jangan terkecoh oleh jubah dan penampilan-Nya. Ia bisa berjubah beda, bisa berpenampilan lain. Sang Jiwa Agung bisa mewujud dalam bentuk apa saja, lewat siapa saja, untuk mengarahkan Anda yang sedang bingung! Penjelasan Bhagavad Gita 2:9 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Berdoa Dengan Ketulusan Hati

Setiap doa yang dipanjatkan dengan ketulusan hati dan kesungguhan jiwa pasti terkabulkan! Berdoalah, setiap kali kau menghadapi suatu keadaan di mana keseimbangan dirimu goyah. Berdoalah setiap kali kau merasa tidak berdaya dan lemah untuk menghadapi suatu tantangan yang berat. Berdoalah dengan cara menarik diri dari keramaian; membuka hati, pikiran, dan jiwamu kepada Gusti Allah. Berdoalah untuk memperoleh tuntunan-Nya, bimbingan-Nya. Dan, yakinilah bahwa la Maha Mendengar. Banyak cara yang ditempuh-Nya untuk menjawab doamu. Bukalah dirimu terhadap semua cara itu. Ada kalanya la mengutus para malaikat, para dewa, atau para roh suci untuk menolongmu, membimbingmu. Ketahuilah bila semuanya itu terjadi semata karena la menghendaki-Nya. Para Yogi selalu berdoa untuk Terang, untuk Tuntunan, untuk Kebijaksanaan, Kekuatan, dan Kasih. Doa mereka selalu terkabulkan. Belajarlah untuk berdoa seperti mereka…… Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Quantum Leap dan Iman Sebesar Biji Sesawi

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on September 26, 2018 by triwidodo

Kisah Anak Kecil Yang Mendatangkan Shiva dan Parvati

Kisah seorang Master tentang Kuil Sri Sailam di Andhra Pradesh yang memuja Shiva dan Parvati sebagai Malikarjuna dan Brahmaramba.

Di dusun Sri Sailam tinggal seorang ibu dengan anaknya yang berusia 6 tahun bernama Balaramana sebagai siswa di sekolah dasar.

Pada suatu ketika, pada malam Shivarathri, semua siswa pulang ke rumah dengan penuh semangat membicarakan tentang perayaan Shivarathri. Seorang anak berkata, “Kakak dan kakak ipar saya akan datang malam ini untuk acara Shivarathri. Besok kita bersama akan pergi ke kuil di atas bukit. Menyenangkan sekali bersama dengan kakak dan kakak ipar.” Seorang anak yang lain berkata, “Kakak dan kakak ipar saya sudah datang. Mereka membawakan baju baru untuk dipakai malam ini ke kuil.”

Balaramana mendengarkan pembicaraan teman-temannya dan bertanya-tanya apakah dia memiliki kakak perempuan dan kakak ipar laki-laki.  Sampai di rumah dia bertanya kepada ibunya, “Ibu, apakah saya punya saudara perempuan? Di mana dia tinggl bersama kakak iparku? Mengapa mereka tidak mengunjungi aku? Teman-temanku pada punya kakak perempuan. Aku juga ingin bersama kakak perempuan dan kakak ipar laki-lakiku.”

Sang ibu menghibur hati anaknya dan berkata, “Anakku, kamu memiliki kakak perempuan dan kakak ipar laki-laki. Mereka adalah Brahmaramba dan Malikarjuna.” Sang anak gembira dan berkata, “Di mana mereka? Aku akan pergi menemui mereka untuk di ajak ke tempat Perayaan.” Siang itu Balaramana tidak bisa tidur siang dan hanya fokus memikirkan kakak dan kakak iparnya.

Sorenya, sang ibu meminta tetangganya ke kuil di atas bukit dengan mengajak anaknya dan memberi uang untuk membeli suvernir di sana. Balaramana bertanya apakah dia tidak memberikan hadiah kepada kakaknya, dan sang ibu menjawab bahwa dirinya masih kecil, justru kakaknya yang akan memberikan dirinya banyak hadiah.

Balaramana di ajak ke kuil dan tetangganya menunjukkan 2 Dewa yang dihias indah dengan bunga dan pakaian indah dan berkata, “Lihat itulah Dewi Brahmaramba, kakakmu dan Dewa Malikarjuna, kakak iparmu. Balaramana segera menarik tangan Brahmaramba dan berkata, “Kakak, mari pulang ke rumah, ibu sudah menunggumu. Dewi Brahmaramba tidak menjawab, dan segera dia menuju Dewa Malikarjuna dan berkata, “Kakak ipar mari bersama aku dan kakakku. Aku tidak akan pergi dari tempat ini tanpamu.”

Para pendeta di kuil menyeretnya ke luar menganggapnya anak gila. Pikiran Balaramana hanya fokus pada Brahmaramba dan Malikarjuna, dia harus membawa kakak dan kakak iparnya ke rumah. Dia berlari ke puncak tebing dan berteriak, “Dengar Kakak dan Kakak Iparku, jika kalian tidak mau ikut saya, saya akan meloncat ke jurang mengakhiri hidup saya.” Seketika Balaramana mendengar suara, “Adikku, tunggu! Kami akan datang.” Brahmaramba dan Malik Arjuna berlari ke arah anak itu dan memeluknya. Balaramana berkata, “Kalian harus ikut dengan saya, ibu mengharapkan kedatangan kalian. Dan mereka mendampingi sang anak menemui ibunya sebagai wujud Shiva dan Shakti.

“Apa pun yang Anda pegang sekali, Anda telah memegang dan pegang terus sampai Anda berhasil. Apa pun yang Anda minta, begitu Anda minta, mitalah dengan keras untuk itu, sampai Anda berhasil. Apapun yang Anda inginkan, begitu Anda sudah berharap, berharaplah lebih dalam, sampai Anda berhasil. Apapun yang Anda rencanakan, begitu Anda telah merencanakannya, rencanakan lebih kuat, sampai Anda berhasil. Dia harus mengabulkan untuk menghentikan jeritanmu. Meratap, menangis, berdoa sampai kamu berhasil. Jangan kehilangan hatimu dan berpaling. Devosi sejati pasti akan berhasil.”

Intensitas Pikiran Balaramana terhadap Brahmaramba dan Malikarjuna

Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan. Para Sufi dan mistik para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini.

Intensitas, suatu hal mendasar yang hilang dalam kehidupan kita kini. Kita tidak menjalani kehidupan secara intens. Kita menjalaninya biasa-biasa saja. Karena itulah kita kurang bahagia. Intensitas dan kebahagiaan berjalan beriringan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Balaramana Mengalami Quantum Leap Karena hanya Berpikir tentang Kakak dan Kakak Iparnya

Berupaya Sepenuh Hati Menghadirkan Mereka Bahkan dengan Resiko Nyawanya.

Sejarah, budaya, peradaban — semuanya adalah produk inkonsistensi aliran hidup — kehidupan. Teori Quantum Mechanism menjelaskan hal ini dengan baik. Di balik segala orderliness — keteraturan yang terlihat, sesungguhnya partikel-partikel atom sedang bergetar terus. Dan, getarannya tidak teratur, tidak konsisten pula — sehingga sesekali bisa terjadi lompatan-lompatan dahsyat yang disebut Quantum Leap. Sesekali, dari anak tangga penama kita bisa lompat langsung ke anak tangga ketujuh. Tidak perlu melewati anak tangga kedua, ketiga, dan seterusnya.

INILAH INKONSISTENSI ALAM – Ketika Krsna mengidentifikasikan diri-Nya dengan semesta, maka Ia pun tidak bisa tidak mengidentifikasikan-Nya dengan dua fenomena yang tampak beda — dengan konsistensi di permukaan, dan inkonsistensi di baliknya, di bawahnya, di dalamnya. Fenomena alam di permukaan sangat konsisten. Matahari, Bulan, Bumi, dan bintang-bintang — semua berada di orbit masing-masing, konsisten. Tidak terj adi tabrakan — jarang-jarang batangkali sekali dalam puluhan miliar tahun manusia. Akan tetapi, partikel-partikel atom yang menjadi building blocks segala-galanya tidak konsisten, sedang melompat-lompat. Penjelasan Bhagavad Gita 10:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Balaramana Penuh Keyakinan, Trust

Pikiran dan Perasaan Tidak Beriman. Mind dan emosi selalu sibuk menimbang, melakukan analisis, dan menghakimi. Mereka tidak bisa menerima kasih karena kasih berada di luar kemampuannya untuk dianalisis. Oleh sebab itu, tidak jarang mind dan emosi menolak kasih secara mentah-mentah. Atau, menampilkan emosi cinta, ketertarikan, keterikatan dan sebagainya sebagai kasih. Demikianlah, mereka berupaya untuk menafikan kasih. Mind dan emosi mesti menyelami diri lebih dalam lagi untuk menemukan inteligensia. Mulai belajar untuk beriman bahwasanya kedalaman diri yang telah dicapainya belum seberapa. Dan, bahwasanya tiada batas dari apa yang dapat dicapainya, bila mereka menyelam terus. Ketika mind dan emosi masuk ke dalam wilayah inteligensia murni, dualitas mulai sirna. Secara pelahan tapi pasti, mulailah kesadaran “tunggal” mengambil alih.

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Saat itu, manusia siap memasuki Kerajaan Allah: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius7:7) dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Penjelasan Fisika Quantum dalam Peristiwa Munculnya Brahmaramba dan Malikarjuna

Tidak ada seorang scientist yang pernah melihat atom. Kita tidak punya alat apa pun dimana kita bisa melihat atom. Kita bisa berasumsi dan asumsi itu dimulai dengan matematika. Ketika nucleus, inti atom dibelah terjadi ledakan yang dahsyat sekali. Ledakan yang terjadi belum bisa dihitung berapa PK, Horse Power. Dalam badan kita ada sekian trilyun atom. Tenaga yang kita miliki luar biasa. Matter benda apa pun terbuat dari atom. Kita juga terbuat dari atom. Ketika atom dipadatkan. Terjadilah benda-benda ini. Termasuk badan kita adalah atom yang dipadatkan. Kita sering mendengar penyembuhan dengan energi yang dahsyat. Dalam diri kita ada energi yang begitu dahsyat. Kita semua anak sekecil apa pun sudah memiliki.

Kekuatan setiap atom dalam badan kita. Disebut satu unit Purusha. Kenapa kita tidak bisa menggunakan itu? Quantum mechanics? Pemahaman terbaru dari quantum adalah tidak akan terjadi sesuatu pada gelas ini kecuali saya memandangnya, mengamatinya dan mengangkatnya. Kalau nggak ya statis.

Newton sedang duduk di bawah pohon ada buah apel yang jatuh. Dan dia menemukan gravitasi. Sekarang quantum mechanics mengatakan tidak demikian. Kenapa buah itu tidak jatuh ketika orang lain duduk di bawahnya. Kenapa jatuh pada saat Newton duduk di bawah? Ada kekuatan dari diri Newton yang memandang buah itu dan kemudian buah itu jatuh. Tidak akan terjadi apa pun kecuali kita mengamati dan kita memberikan energi.

Kalau Gunung Agung meletus bukan karena Gunung Agung mau meletus. Tapi kita memberikan tenaga trigger pemicu kepada Gunung Agung untuk meletus. Apa pun yang kita baca di koran kita berada di ring of fire, cincin gunung api. Fisika terbaru quantum mechanics tidak mengatakan demikian. Tidak akan terjadi kecuali ada yang mengamati, observe dan memberikan energi trigger kepada dia. Ini telah mengubah pengetahuan tentang fisika sekarang.

Pemahaman tentang sayur diet. Dulu kita mengatakan kalau tidak makan daging akan kekurangan protein. Brokoli tahu tempe kandaungan protein melebihi daging. Daging punya efek samping sayur sayuran tidak. Tapi kalau kita percaya kalau tidak makan daging akan lemes. Akan terjadi. Padahal itu perbuatan kita, kita mengamati. Lemesnya diri kita dan kita menjadi lemes. Kalau tidak berpikir lemes tidak akan lemes karena secara teori apa yang kita makan hari ini akan menjadi darah sumsum macam-macam itu membutuhkan 2 sampai tiga minggu. Energi yang saya pakai hari ini bukan energi dari yang saya makan hari ini. Ini membuktikan quantum mechanics.

Bahwa tidak semuanya itu lurus. Semuanya sedang jumping melompat. Bisa terjadi apa pun juga. Dan kita bisa mengubah kondisi. Tentang gelas tidak kita angkat bisa kita pahami tapi tentang Gunung Agung tidak bisa kita pahami. Padahal teorinya sama. Kita harus memberika tenaga Purusha untuk mendapatkan artha. Arti. Kita semua tidak dapat hidup berarti tanpa berupaya. Kita harus bekerja sendiri. Inilah konsep awal yang harus diajarkan kepada anak.

Silakan lihat: Video Youtube Bapak Anand Krishna: Purusharta 4 Pilar untuk Hidup Bahagia

Sejahtera dan Tidak Sakit, Belum Tentu Sehat!

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , , on September 24, 2018 by triwidodo

 

Kisah Warga Kerajaan yang Sejahtera dan Tak Pernah Sakit

Kisah seorang Master tentang sebuah kerajaan kecil dengan semua penduduk yang sejahtera dan tidak sakit. Dalam perjalanan waktu mereka bangga atas keberuntungan mereka dan mengklaim bahwa itu adalah sebagai karunia atas kebenaran pribadi mereka. Pada suatu hari seorang tabib datang ke kerajaan tersebut, dan menemukan bahwa para penduduk tidak ada yang sakit. Dalam percakapan dengan penduduk, tabib tersebut memperoleh jawaban, “Oh! Kami brahmajnani, tidak akan ada penyakit yang dapat menyentuh kami. Kami memperoleh berkah dan menjadi orang-orang terpilih Gusti. Mengapa Anda datang ke sini?  Lebih baik pergi ke kerajaan lain untuk mencari nafkah!

Catatan: Brahmajnani atau Sthithaprajna adalah orang yang tidak terlibat dalam kenikmatan indra dan mengalami kebahagiaan dari Jiwa. Dia melampaui suka dan duka, dia selalu sadar bahwa dirinya adalah Jiwa. Hidupnya penuh kasih karena bermanfaat bagi orang lain.

Silakan baca Tautan: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/10/27/kisah-bodhisattva-menghibahkan-kedua-mata-menjadi-buta-selama-sisa-hidupnya/

Tiba-tiba Raja jatuh sakit dan sang tabib dipanggil ke istana. Dengan pengobatan sang tabib, pelan-pelan kesehatan raja membaik. Sang raja berkata, “Tuan, saya berterima kasih atas pengobatan Tuan, tapi bisakah Tuan mengobati lebih cepat? Saya tidak terbiasa terbaringselama berhari-hari seperti ini.”

Sang Tabib ingin memberi pelajaran kepada sang raja dan berkata, “Wahai Paduka Raja, ada obat yang lebih cepat tapi kami takut tidak dapat memperoleh bahan-bahan untuk obat tersebut.” Sang raja berkata, “Tuan tidak perlu meragukan hal tersebut, menteri saya akan memperoleh apa yang Tuan butuhkan. Penduduk saya adalah para brahmajnani, mereka akan senang sekali berbuat kebaikan. Tuan beritahu saja apa yang Tuan inginkan.”

Tabib itu berkata, “Paduka, saya membutuhkan seperempat pon daging dari tubuh para brahmajnani. Itu saja.” Sang raja segera memerintahkan Menteri minta seperempat pon daging brahmajnani di kota. Ketika larut malam, sang menteri datang dengan raut muka yang sedih. Sang raja bertanya, “Mana dagingnya?” sang menteri menjawab, “Mohon ampun Paduka, kami tidak memperoleh apa yang Paduka inginkan. Semua penduduk berkata bahwa mereka bukan brahmajnani. Para penduduk berkata bagaimana mereka bisa disebut sebagai brahmajnani?”

Sang raja terkejut, dan kemudian sang tabib berkata, “Wahai Paduka Raja jangan merasa bersedih hati, inilah jalan dunia, beberapa orang mengaku sebagai brahmajnani, tapi tidak rela memberikan secuil daging mereka demi kebaikan Paduka Raja. Mereka masih memikirkan diri pribadi, mereka belum memiliki cinta kasih dan kesanggupan memberikan pengorbanan bagi sesama. Paduka telah pulih. Kami tidak membutuhkan daging manusia. Kami hanya merencanakan drama kecil untuk menyampaikan kebenaran kepada Paduka Raja. Kami mohon maaf.”

Inilah 3 persepsi orang tentang kebenaran: 1. Apa yang dia pikir tentang dirinya. 2. Apa yang orang lain pikir tentang dirinya. 3. Apa sejatinya dia.

Pemberian Penghargaan Atribut Brahmajnani oleh Masyarakat yang Belum Sadar Tidak Ada Artinya

Ketika Anda diberikan penghargaan oleh sekelompok orang yang tidak waras dari masyarakat yang sama gilanya. Anda harus menyadari ketidakwarasan Anda sendiri, dan sesegera mungkin berupaya memperoleh kembali kewarasan Anda.

Fakta bahwa Anda tidak berada di Rumah Sakit Jiwa dan tidak sedang dirawat karena masalah kejiwaan tidak membuktikan kewarasan Anda. Itu mungkin hanya berarti bahwa ketidakwarasan Anda belum terdeteksi oleh mereka yang sama-sama tidak waras. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). This is Truth That too is Truth, Ini adalah Kebenaran Itu pun Kebenaran, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kelompok Masyarakat yang Tidak Sakit, Tetapi Sehatkah Mereka?

Kenyataanya sekarang situasi Anda jauh lebih buruk. Jika Anda tidak sehat, Anda sakit. Anda akan merasakannya, dan Anda pergi ke dokter untuk berobat. Anda dengan taat minum pil Anda, karena Anda tahu bahwa Anda sakit. Tetapi apabila Anda tidak tahu bahwa Anda sakit, Anda tidak merasakanya, Anda tidak akan mencari dokter, Anda tidak perlu dirawat – Anda anggap Anda tidak sakit. Mungkin benar, ya Anda tidak sakit – tetapi sehatkah Anda?

Anda tidak sehat. Penyakit yang sedang Anda derita adalah penyakit lama. Anda telah terbiasa hidup dengan penyakit Anda. Atau mungkin Anda masih di rumah sakit, sehingga Anda sudah tidak sakit lagi, tetapi masih trauma. Anda tidak berani meninggalkan ranjang Anda.  Anda membayangkan yang bukan bukan. Anda ketakutan. Anda takut jatuh, maka Anda tidak mau jalan. Hidup macam apa ini? Yang saya ingin tekankan adalah bahwa tidak adanya penyakit semata bukan berarti membuat Anda sehat. Pahami ini dengan baik. Yang saya inginkan adalah kesehatan bagi Anda.

Tidak mempunyai masalah materi dalam hidup, semua kebutuhan Anda terpenuhi ini dapat disamakan dengan keadaan tanpa penyakit. Tetapi Anda tidak bahagia. Ada sesuatu yang kurang dalam hidup Anda. Anda tidak bisa menari, tidak dapat menyanyi, belum bisa merayakan kehidupan Anda. Anda takut kehilangan apa yang Anda miliki. Anda takut kehilangan harta Anda; Anda takut kehilangan jabatan Anda, posisi Anda, martabat Anda. Anda merasa hampa. Ya, Anda belum sehat; memang tidak sakit, namun belum sehat. Kenyataannya, apa pun yang telah Anda lakukan untuk menyembuhkan diri, penyembuhannya belum sempurna. Anda belum juga sehat.

Anda tidak dapat menikmati hidup – karena Anda tidak dapat hidup tanpa rasa takut. Anda tidak dapat mengasihi, Anda belum kenal cinta. Jantung Anda hanya sibuk memompa darah keluar-masuk; la tidak berdenyut dalam irama cinta kasih. Betapa menyedihkan! Anda hidup, namun Anda kehilangan sesuatu yang dapat memberi makna bagi kehidupan. Masih belum terlambat juga. Hari ini pun Anda dapat memutuskan untuk bergabung dalam pesta kehidupan. Bernyanyilah bersama saya, menarilah!

Dalam cinta kasih, dan hanya cinta kasih saja, Anda akan memperoleh kesehatan. Anda tidak usah mencarinya lagi. Jangan tersinggung, tetapi ketahuilah, selama ini Anda belum pernah merasakan kesehatan itu. Selama ini, Anda juga belum pernah punya pembanding. Anda tidak tahu apa sebenarnya kesehatan itu. Karena itu, selama ini kehidupan berlalu begitu saja. Aneh, tetapi itulah kenyataannya.

Tidak sakit, tetapi masih di atas ranjang. Hidup dengan rasa ketakutan sama dengan hidup dengan penyakit yang tidak Anda sadari. Tinggalkan ranjang Anda, tinggalkan rumah sakit yang telah menjadi rumah kedua bagi Anda. Hal ini merupakan langkah awal menuju kesehatan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dunia Ini Pusat Rehabilitasi Jiwa

Kalau Sudah Sehat Jiwa Kita Tidak Perlu Lahir Kembali. Bahwa kita lahir di dunia ini membuktikan kita masih mengalami Sakit…………..

Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Manunggaling Kawula Gusti, Pandangan Dualitas dan Non-Dualitas

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on September 23, 2018 by triwidodo

Kisah Pemuda Pembaca Buku-Buku dan Shankaracharya

Seorang Master berkisah tentang seorang pemuda berusia 22 tahun yang pergi menemui Shankaracharya. Sang pemuda telah membaca banyak buku dan menjadi senang berdebat. Ketika Shankaracharya sedang memberi pelajaran kepada para muridnya, sang pemuda menginterupsi dan bertanya apakah semua manusia tidak boleh dianggap sama karena aliran darah yang sama yang mengalir dalam diri semua manusia.

Shankara tersenyum dan mengatakan bahwa darah yang mengalir pada anak muda itu panas dan cepat. Shankara berupaya mendorong agar anak muda itu tidak berjalan terlalu jauh dengan pemahamannya. Tidak mungkin bagi manusia untuk membedakan antara hal-hal yang abadi dan yang tidak abadi. Seseorang dapat mengadopsi gagasan non-dualitas atau advaita dalam pikiran dan sikapnya sendiri. Tetapi tidak mungkin menyamakan semuanya dalam praktek di dunia nyata.

Sang pemuda bersikeras bahwa pandangan demikian sepertinya tidak benar. Dia menyatakan bahwa baginya, hal yang tepat adalah memperlakukan semua makhluk hidup dengan cara yang sama.

Shankara merasa jika pemuda ini dibiarkan mempraktekkan hal ini, akan ada kemungkinan dia sampai beberapa kesimpulan yang tidak masuk akal. Shankara segera memutuskan untuk memberinya pelajaran dengan bertanya, apakah dia memiliki seorang ibu. Pemuda itu menjawab bahwa dia mempunyai seorang ibu sangat yang dihormatinya. Shankara bertanya lagi apakah sang pemuda sudah menikah. Pemuda itu menjawab bahwa dia sudah menikah dan istrinya juga datang bersamanya ke ashram. Shankara kemudiaan bertanya apakah dia punya ibu mertua. Pemuda itu menjawab bahwa ibu mertuanya masih sehat. Shankara bertanya lagi apakah dia punya saudara perempuan. Pemuda itu menjawab dengan tegas bahwa dia memiliki dua saudara perempuan.

Shankara bertanya apakah semua orang itu adalah wanita. Pemuda itu menjawab memang demikianlah adanya. Shankara kembali bertanya karena dia menganggap mereka semua setara dan memperlakukan semua orang tersebut dengan cara yang sama apakah dia akan memperlakukan istrinya sebagai ibunya dan saudara perempuannya sebagai ibunya.

Dalam dunia multipelitas (multiplicity, bukan hanya non-dualitas dan dualitas), seseorang harus mengakui perbedaan kualitatif dan kuantitatif. Setiap bohlam listrik bervariasi dalam daya dan watt. Oleh karena itu cahaya yang memancar dari bohlam lampu bukan hanya karena arus listrik. Arusnya sama di mana-mana tapi perbedaan muncul dari bohlam lampu dengan intensitas yang berbeda. Kekuatan Tuhan adalah seperti tenaga listrik dan tubuh kita adalah bohlamnya.

 

4 Maharesi yang Mewakili Cara Pandang Pikiran Manusia

Ada 4 orang Maharesi, yakni: Sanaka, Sananda, Sanatana, dan SanatKumara. Keempat “orang” yang disebut Maharesi itu adalah mewakili jenis pikiran manusia, empat cara pandang yang saling terkait, namun beda.

Sanaka mewakili cara pandang Dvaita atau Dualitas, bahwasanya ciptaan dan pencipta adalah berbeda. Sananda adalah cara pandang Visistadvaita, bahwasanya walaupun beda, ada hubungan antara Ciptaan dengan Hyang Maha Mencipta. Sanatana adalah cara pandang Advaita atau Non-Dualitas bahwasanya Ciptaan dan Hyang Maha Mencipta tiada perbedaan apa-apa. Sementara itu yang terakhir, Sanat-Kumara adalah cara pandang yang membenarkan ketiga-tiga cara pandang sebelumnya.

Ya, tiga-tiganya benar – Tergantung pada tingkat kesadaran manusia dan juga waktu, tempat, dan situasi, dimana cara pandang yang satu bisa lebih applicable, lebih relevan daripada cara pandang lainnya.

Misalnya, saat kita ingin menasehati anak, dibutuhkan cara pandang kedua. Orangtua dan anak adalah beda, sehingga ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Namun, ketika anak itu sudah dewasa, sudah mengambil seluruh tanggung jawab dan menjadi kepala keluaraga, maka cara pandang ketiga yang berlaku. Sementara itu, cara pandang pertama dibutuhkan ketika kita menghadapi seorang pekerja atau pembantu. Ini bukan diskriminasi, tetapi justru meletakkan peran masing-masing pada tempatna dan secara proporsional. Penjelasan Bhagavad Gita 10:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Dualitas (Dvaita), Non-Dualitas (Advaita) dan Visistadvaita

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

Bayangkan rumah besar bak istana. Seluruhnya milik seorang kaya. Di mana-mana kita melihat ayat atau bukti kehadirannya. Namun, ia berada di salah satu ruangan — wujudnya berada dalam ruangan yang menjadi ruang pribadinya — entah itu ruang istirahat, ruang baca, atau ruang lain. Tidak berarti bila gerak-geriknya terbatas pada satu atau beberapa ruangan pilihannya saja. Tidak. Ia bisa berada di mana saja. Seluruh bangunan adalah milik dia. Kepemilikannya dapat dirasakan di mana saja, namun di ruang-ruang tertentu, kehadirannya menjadi sangat nyata.

Setiap analogi, perumpamaan yang kita gunakan, sesungguhnya hanyalah membuktikan kegagapan kita. Namun, mau tidak mau kita mesti menggunakannya untuk “sedikit” memfasilitasi pemahaman kita.

SEORANG PANEMBAH yang senantiasa berbakti pada-Nya adalah manunggal dengan-Nya. Dalam tradisi rohani di wllayah peradaban kita — kita tidak membedakan antara “Zat” Gusti dan Kawula. Zat yang mengabdi dan Hyang diabdi atau objek pengabdian – adalah satu dan sama.

Tentunya filsafat rohani ini tidak bisa dipahami oleh mereka yang berjiwa gersang, di mana kekerasan hati menjadi penghalang utama bagi kemanunggalan. Scbab itu, para penerima Wahyu, para resi mengajarkan paharn Visistadvaita – Dualitas Khusus – bagi mereka yang berjiwa keras dan gersang.

Visistadvaita adalah filsafat tengah di antara Dvaita atau dualitas dan Advaita atau non-dualitas murni.

ADVAITA ATAU NON—DUALITAS adalah filsafat hidup yang menjadi landasan pemikiran para resi di wilayah peradaban kita. Filsafat Non-Dualitas murni, di mana Kawula dan Gusti adalah manunggal, hanya dapat dipahami oleh rnereka yang bersentuhan dengan ajaran-ajaran para resi dari peradaban kita, mereka yang telah “melihat” kebenaran.

DVAITA ATAU DUALITAS adalah filsafat hidup yang melihat kawula sebagai kawula, dan Gusti sebagai Gusti. Tidak ada kemungkinan untuk menyatu atau manunggal. Bagairnanapun, kcdudukan pengabdi selalu di bawah Ia yang diabdi. Dalam pemahaman ini, ketunggalan Tuhan diakui. Tapi, kemanunggalan antara pengabdi dan yang diabdi tidak diakui. Pemahaman ini sering menciptakan perpecahan, distorsi, dan pada akhirnya pertikaian.

Mereka yang berada dalam Wilayah pemahaman ini akan selalu melihat Wilayah Advaita atau Non-Dualitas Murni sebagai Wilayah haram, dan mereka yang berada dalam wilayah tersebut sebagai penghuni atau calon-penghuni neraka, “Berani-beraninya mereka menyamakan diri dengan Tuhan!”

Padahal bagi mereka yang berada dalam wilayah Advaitajustru Kemanunggalan Jiwa dengan Jiwa Agung mernbuktikan bahwa Ia adalah Hyang Tunggal. Percikan-percikan yang disebut Jiwa adalah bagaikan sinar bagi matahari Jiwa Agung; atau ombak bagi Samudera Gusti Pangeran.

VISISTADVAITA…. Mereka yang berada dalam Wilayah Dvaita juga sering, hampir selalu memusuhi mereka yang berada dalam wilayah Visistadvaita. Visistadvaita tetap mempertahankan perpisahan antara Jiwa dan Jiwa Agung — keduanya beda secara kuantitatif. Walau, di antara mereka ada juga yang berpendapat bahwa perbedaan kuantitatif itu menjadi tidak penting-penting banget, karena Jiwa dan Jiwa Agung adalah sama secara kualitatif. Secara kuantitatif, secawan air laut jelas tidak sama dengan seluruh air di laut. Tetapi, secara kualitatif, air di dalam cawan itu adalah sama asinnya dengan air laut. Sama-sama air laut.

Mereka yang berada dalam wilayah Visistadvaita memuja…… TUHAN SEBAGAI AYAH, IBU, Saudara, Kawan, bahkan Kekasih. Mereka menciptakan hubungan yang erat — melebihi hubungan antara majikan yang diabdi dan jongos yang mengabdi. Ada pula di antara mereka, lulusan Wilayah Dvaita, yang merasa tidak perlu rnengubah hubungan dalam bentuk pengabdi dan Hyang diabdi — namun, mereka mengubah relasi antara keduanya, mempereratnya. Pengabdi bukanlah jongos yang selalu mengharapkan gaji. Ia mengabdi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Dasarnva bukan lagi untuk meminta suatu imbalan, tetapi semata karena kasih.

Hubungan antara Advaita dan Visistadvaita sangat erat. Ada kalanya seorang panembah yang telah manunggal, telah berada dalam Wilayah Advaita — memilih untuk turun tangga sedikit, berada dalarn wilayah Visistadvaita dengan penuh kesadaran, supaya dapat merasakan manisnya cinta, manisnya kasih, manisnya rasa rindu. Mereka sengaja menciptakan perpisahan untuk memunculkan romance di dalam hidup mereka — Roman Ilahi. Inilah yang dimaksud oleh Krsna, bahwasanya kehadiran-Nya dapat dirasakan, bahkan dapat dilihat di dalam diri seorang panembah sejati, walau sesungguhnya Ia Maha Ada — berada di mana-mana. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Egoisme Spiritual: Demi Moksha Pribadi, Penderitaan Sesama Tak Peduli

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on September 22, 2018 by triwidodo

Kisah Shiva dan Parvati di Kuil Kota Kasi

Seorang Master berkisah tentang Parvati yang bertanya kepada Shiva, “Gusti! Saya mendengar ada kuil suci yang didedikasikan kepada Gusti dengan sebutan Vishvanatha. Disebutkan bahwa mereka yang mengunjungi Kasi, mandi suci di Sungai Gangga dan melakukan persembahan kepada Gusti, mereka akan tinggal di Kailasha selamanya. Benarkah demikian?”

Gusti Shiva, Mahadeva menjawab, “Tidak semua orang memperoleh karunia itu. Sekedar mengunjungi Kasi dan melakukan persembahan kepada-Ku tidak cukup. Akan kujelaskan, mari kita pergi ke Kasi. Aku akan membuat drama!”

Shiva dan Parvati muncul di Kuil, sebagai pasangan yang berusia 90-an dan 80-an tahun. Shiva meletakkan kepalanya di pangkuan Parvati dan mulai mengerang kesakitan. Parvati sebagai wanita tua menangis dan mohon kepada setiap peziarah, “Wahai Bhakta Vishvanatha, lihatlah keadaan suamiku. Dia sangat haus dan bisa meninggal kapan saja. Maukah kau mengambilkan air untuk minum dia?” Para peziaraah datang dari tangga sungai setelah melakukan mandi suci di Sungai Gangga. Pakaian mereka basah dan mereka membawa air dalam tempat minum kecil.

Mereka melihat wanita tua yang meratap. Sebagian berkata, “Tunggu, saya akan melayani suami nenek setelah mempersembahkan air suci ke Gusti Vishvanatha.” Beberapa orang merasa terganggu dan berkata, “Pasangan pengemis ini membuat ibadah kita terganggu.” Beberapa yang lain berkata, “seharusnya pengemis tidak diizinkan masuk kuil.”

Di tengah kerumunan di dekat pintu masuk, seorang pencopet berjalan bersama beberapa peziarah. Dia mendekati pasangan tua tersebut dan bertanya, “Nenek, apa yang nenek inginkan? Siapakah kalian? Mengapa kalian ada di sini?” Wanita tua itu menjawab, “Nak, kami datang ke sini untuk memperoleh darshan Gusti Vishvanatha. Suami saya tiba-tiba sakit dan pingsan karena kelelahan. Dia mungkin bertahan hidup jika ada orang yang menuangkan air ke mulutnya yang kering. Saya telah minta banyak orang untuk membantu saya, tapi tidak ada orang yang menyisakan airnya. Mereka merasa doa dan persembahan mereka lebih penting dari melayani orang yang hampir mati karena kehausan.” Bahkan ada yang mencemooh, “Apapun yang terjadi pada kalian adalah karena karma kalian sendiri.”

Pencopet itu tergerak hatinya. Dia mengambil air yang disimpan dalam labu, akan tetapi wanita itu menghentikannya dan berkata, “Nak, suamiku bisa mati kapan saja, dia tidak akan menerima air kecuali orang yang memberi air mengatakan kebenaran.” Pencopet itu tidak paham dan bertanya, “Nenek, katakan padaku apa yang harus saya lakukan?” dengan tersenyum sang pencopet berkata, “Nenek, saya belum banyak melakukan perbuatan baik. Pekerjaan saya sebagai pencopet. Satu-satunya perbuatan baik yang akan saya lakukan adalah memberi minum suami nenek. Ini adalah kebenaran.” Dan sang pencopet menuangkan air ke mulut lelaki tua tersebut.

Nenek dan kakek tua itu menghilang dan muncul Shiva, Mahadeva beserta Parvati dengan segala kemegahannya. Shiva berkata, “Nak, kamu telah teberkati. Tidak ada ibadah yang lebih suci daripada melayani sesama dan tidak ada moralitas yang lebih besar daripada berbicara jujur tentang kebenaran. Semua kesalahan tindakanmu telah ditebus dengan perbuatan baik ini.”

Semua Mengalami Kejadian Akibat dari Tindakan Karma Kita sendiri

Ya, benar. Semua orang akan menerima akibat baik atau buruk karena tindakan mereka sendiri di masa lalu. Demikianlah hukum karma. Akan tetapi apakah kita akan egois dengan berbuat acuh tak acuh pada penderitaan orang lain? Dimana dharma kita? Dharma kita adalah membantu mereka yang sedang mengalami penderitaan. Sumber: Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna: Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-Hari 2, Hadapi Tantangan, Jangan Menyerah!

 

Tangan yang Melayani Lebih Suci dari Bibir yang Berdoa

Di pertengahan bulan Desember 2011 pada halaman FB Bapak Anand Krishna diunggah sebuah video bhajan dari Youtube, KABHI PYASE KO PANI PILAYA NAHIN. Ternyata makna dari bhajan tersebut sangat menyentuh hati……… Intinya tangan yang melayani lebih suci dari bibir yang berdoa……….

Ada beberapa bait yang terjemahan bebasnya sangat menyentuh hati………

Aku pergi ke tempat ibadah dan berdoa kepada Tuhan, sementara aku berdoa tiba-tiba aku berpikir, kepada ibu dan bapakku saja aku tidak pernah melakukan pelayanan tanpa pamrih, lalu apa gunanya berdoa kepada Tuhan?

Aku pergi ke sebuah pertemuan untuk belajar tentang Tuhan dan aku mendengarkan ajaran suci, sementara aku mendengar ajaran suci tiba-tiba aku berpikir, meskipun aku telah lahir sebagai manusia yang disebut mulia, aku tidak pernah melakukan perbuatan mulia yang memberikan kebaikan pada sesama. lalu apa gunanya disebut manusia?

Aku pergi untuk mandi pada sungai Gangga di Haridwar Kasi yang suci, sementara aku sedang mandi di sungai Gangga tiba-tiba aku berpikir, aku telah mencuci tubuhku tapi aku tidak mencuci jiwaku, lalu apa gunanya mandi di sungai suci Gangga?

Aku telah membaca semua kitab suci, sementara membaca kitab suci tiba-tiba aku berpikir, aku tidak pernah berbagi pengetahuan dengan siapa pun, lalu apa pantas aku disebut bijak?

Hands that Help are Better than Lips that Pray

“Hands that Help are Better than Lips that Pray”, “Tangan yang membantu, melayani, lebih baik dari bibir yang berdoa,” demikian teguran Ellen Johnson, seorang aktivis kemanusiaan, yang dilontarkannya kepada Presiden A.S. saat sebagian warga Amerika terkena bencana topan Katrina (tahun 2005). Pasalnya, saat itu Presiden Bush dan Gubernur Louisiana Kathleen Blanco mengajak warga yang terkena musibah untuk berdoa! Ellen gusar: “…. judging from the speed of some relief efforts, officials should be busy working instead of preaching.” Ia mengharapkan para pejabat pemerintah lebih fokus pada pelayanan dan bantuan bagi para korban, yang ternyata terlambat tibanya.

Tidak berarti kita menjadi anti-doa, atau anti-ibadah. Tidak sama sekali. Yang dimaksud adalah mempraktekan nilai-nilai keagamaan dengan membantu sesama, apalagi yang sedang menderita dan menjadi korban bencana. Sesungguhnya Ellen Johnson hanya mengutip Robert Green Ingersoll (1833-1899), seorang pemikir asal Amerika yang pertama kali mencucapkan kalimat tersebut, “Hands that Help are Better than Lips that Pray”.

Seorang Guru Spiritual kontemporer, Sri Sathya Sai Baba (lahir1926), merubah kata “better” menjadi “holier”- sepasang tangan yang membantu lebih mulia, lebih suci dari bibir yang sedang berdoa. Para Sufi memiliki ungkapan-ungkapan yang mirip. Berarti apa? Berarti, nilai pelayanan, nilai kerelawanan, nilai berkarya tanpa pamrih adalah sebuah nilai yang universal, dan menembus segala macam perbedaan di permukaan.

Sebuah dunia yang damai hanya akan terwujud jika kita semua bersama-sama menjunjung tinggi nilai spiritual yang satu ini. Di dalam nilai inilah tersimpan harapan bagi hari esok yang lebih cerah, harapan bagi seluruh umat manusia, dan bagi kemanusiaan!…… Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kejujuran Tidak Dapat Dijadikan Peraturan

“Kejujuran” adalah sebuah pedoman. Dan, kejujuran tidak dapat dijadikan peraturan. Kita dapat membuat peraturan untuk mengatur tindakan yang tidak jujur. Kita dapat melarang penipuan dan penyelewengan. Dengan cara itu kita boleh berharap supaya setiap orang berperilaku jujur, namun kenyataannya apa? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peraturan, undang-undang, dogma, dan doktrin tidak dapat “menjujurkan” jiwa manusia. Bagaikan benih, kejujuran harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia. Ia tidak dapat dijadikan peraturan, kemudian dimasukkan secara paksa ke dalam diri manusia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kejujuran tidak bisa dibentuk dengan peraturan, kejujuran bagaikan benih yang harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia, lewat pendidikan dan praktek sejak usia dini. Mengubah karakter lama, memperbaiki pola “pemikiran lama” tidak mudah. Peraturan baru yang diterapkan kepada orang yang berkarakter lama tidak akan mempan. Mereka yang berkarakter “tidak jujur”, “tidak amanah” hanya menggunakan peraturan sebagai peraturan formal dan prosedural dan mengabaikan keadilan sejati.

Jangan Melemah Hadapi Masalah, Gigih Berjuang Mencapai Tujuan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on September 20, 2018 by triwidodo

Kisah Kegigihan Seorang Anak Muda

Dikisahkan oleh seorang Master tentang seorang anak muda yang menghadap seorang bijak mohon diberi sebuah mantra. Sang bijak hanya akan memberikan mantra apabila sang pemuda bersedia melayaninya selama 12 tahun dan melaksanakan semua perintahnya. Sang pemuda setuju dan melayani sang bijak selama 12 tahun dan melaksanakan semua perintahnya. Menjelang akhir tahun ke 12, sang bijak merasa kematiannya sudah dekat dan minta sang pemuda mencari daun palmyra untuk menuliskan mantranya.

Setelah memperoleh, sang pemuda membawa daun palmyra tersebut, akan tetapi sang bijak telah meninggal. Seorang anak memberitahu sang pemuda bahwa sebelum meninggal sang bijak telah menulis sesuatu di atas hamparan pasir. Seorang wanita menyalin tulisan tersebut pada daun palmyra dan menghapus tulisan tersebut.

Sang pemuda mencari wanita tersebut yang ternyata memiliki beberapa keledai. Sang wanita mengatakan bahwa dia akan memberikan daun palmyra tersebut hanya jika sang anak muda melayani dan patuh selama 12 tahun. Sang wanita mengatakan bahwa dia menyimpan daun palmyra pada anting-anting yang dipakainya. Untuk memperoleh mantra tersebut, sang anak muda menyetujui merawat keledai dan melayani wanita tersebut.

Pada suatu hari, sang anak muda tidak memperoleh makanan dari  wanita itu dan mendengar tentang raja yang selalu memberi makan orang miskin. Sang raja memperoleh nasihat bahwa dia akan memperoleh putra saleh dengan laku pelayanan memberi makan orang miskin. Bila sebuah lonceng di istana berbunyi, itu sebagai tanda seorang saleh telah mengambil makanan yang dibagikan sang raja dan sang raja akan dikaruniai anak saleh. Pelayanan tersebut mulai dilakukan saat sang permaisuri sedang hamil. Pemberian makanan sudah berjalan lama dan lonceng tidak berbunyi, sehingga sang raja memutuskan akan berhenti memberikan makanan kepada orang miskin.

Saat sang anak muda pergi ke tempat pembagian makanan, semua panci tempat masak telah dibawa ke sungai untuk dibersihkan. Sang anak muda ke sungai dan menemukan beberapa remah makanan di panci tempat masak dan mulai memakannya. Pada saat itulah lonceng di istana berbunyi.

Sang raja segera mengirim utusan mencari tahu siapa yang makan pembagian makanannya. Sang utusan membawa sang anak muda ke istana dan sang raja sangat bahagia, dia akan memperoleh seorang putra saleh. Dia menawarkan karunia separuh kerajaan dan mengundang sang anak muda untuk tinggal di istana. Sang anak muda menyampaikan kisahnya dan mengatakan tidak tertarik pada kerajaan atau yang lainnya, kecuali daun palmyra yang disimpan di anting-anting telinga sang wanita pemilik keledai.

Sang raja melacak sang wanita dan dibawa ke hadapannya. Ternyata wanita itu adalah seorang akrobat. Sang raja memintanya menujukkan keahliannya di atas tali di hadapan sang permaisuri yang sedang hamil. Saat sang wanita sedang menari di atas tali, sang raja bertanya apakah dia bisa menangkap dua buah anting-anting berlian dan memakainya. Sambil menari sang wanita menangkap kedua anting-anting berlian, melepaskan anting-anting yang berisi daun palmyra ke bawah dan mengenakan anting-anting berlian tersebut.

Ketika anting-anting berisi daun palmyra jatuh ke bawah, sang anak muda bergegas mengambilnya dan membaca mantra yang tertulis di daun palmyra tersebut. Sang anak muda langsung mengalami pencerahan seketika.

Meneladani Kegigihan Para Bijak

I Ching menganjurkan agar Anda meniru para bijak, yang dimaksudkan adalah “tirulah semangat mereka”. Meniru seorang Lao Tze atau seorang Buddha atau seorang Muhammad tidak berarti Anda menjadi photo-copy mereka. Tirulah kegigihan mereka dalam hal pengembangan diri. Jika itu yang Anda lakukan, Anda akan selalu jaya, selalu berhasil! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengapa Kita Melemah Saat Menghadapi Masalah?

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda: “Dalam keadaan genting dan ditengah krisis seperti ini, Arjuna, dari manakah munculnya kelemahan hatimu, yang sungguh tidak pantas bagi seorang kesatria, tidak mulia, tidak terpuji, dan sangat memalukan.” Bhagavad Gita 2:2

Inilah kondisi kebanyakan dari kita, dalam keadaan gelisah kita melemah. Semestinya kita memiliki energi untuk menghadapi persoalan, tapi kebanyakan kita melemah. Apa yang salah? Dari pendidikan kita sejak awal. Kita tidak diajarkan untuk bangkit kembali. Ketika kita jatuh. Kebanyakan di antara kita, begitu kita jatuh, ada yang membantu cepat-cepat. Masih kecil juga, begitu kita jatuh langsung dibantu, dibangkitkan. Semestinya dibiarkan. Ada anak yang menangis sedikit saja, orang tua sudah merasa gelisah. Segala keinginan dipenuhi. Ini adalah kesalahan.

Jadi anak ini tidak siap untuk menghadapi tantangan, dari kecil semuanya terpenuhi. Sekarang kita melihat anak-anak muda sudah memiliki motor, sudah memiliki handphone jadi sudah konsumtif. Dia belum tahu mencari uang sudah dibelikan handphone. Dia belum tahu mencari uang tapi sudah merokok. Itu menghamburkan, membakar uang. Dan kadang-kadang orangtua melihat dan tidak menegur. Kita memanjakan anak-anak kita. Dengan begitu nanti kalau dalam hidup menghadapi tantangan, menghadapi suatu permasalahan ia melemah. Beruntunglah Arjuna karena ada Krishna yang mengingatkan. Sumber: Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna: Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-Hari, Hadapi Tantangan, Jangan Menyerah!

Kenyamanan Berlebihan Melumpuhkan Semangat Juang

Salah satu penyebab utama kematian potensi adalah kenyamanan yang berlebihan. Ini melumpuhkan semangat juang kita. Tak ada lagi gairah untuk menghadapi tantangan.

Seorang anak atau remaja yang sejak kecil dimanjakan; seorang pejabat yang terlalu lama berkuasa; orang kaya yang lebih percaya pada kekayaannya daripada kemampuan dirinya; Seorang miskin yang menjadi minder dan menerima kemiskinannya sebagai takdir atau nasib adalah “kenyaman” yang mematikan potensi kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tetap Gigih Berjuang Walau Usia Sudah Uzur

Para Resi menjelaskan samnyas sebagai pelepasan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan, memperoleh sesuatu; dan, tyaga, sebagaimana dijelaskan oleh para bijak, adalah menyerahkan, melepaskan segala pahala, seluruh hasil dari setiap perbuatan.” Bhagavad Gita 18:2

Ini adalah terobosan baru…..

KRSNA TIDAK MENJELASKAN SAMNYAS sebagai penarikan diri dari keramaian dunia. Jika kita berperan sebagai Arjuna, di mana urusannya adalah membela kebajikan dan keadilan — maka tidak ada masa pensiun. Sebab itu, samnyas dijelaskan bukan sebagai penarikan diri dari keramaian dunia; segala urusan dunia; maupun dari segala perbuatan. Tapi, sebagai pelepasan atau penarikan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan.

Di usia uzur pun, jika memang peran kita menuntutnya, maka kita mesti tetap berkarya, berjuang. Arjuna belum menyelesaikan perannya. Ia mesti berjuang. Pun demikian dengan mayoritas kita hingga saat ini.

Tidak semua orang mesti menjadi petapa dan tinggal di tengah hutan. Tidak semua orang mesti menyepi. Tidak semua orang mesti menarik diri dari keramaian. Arjuna termasuk mereka yang mesti menjalani samnyas dengan pemahaman baru ini. Dan sesungguhnya kita pun demikian. “Kemungkinan besar” demikian!

BERKARYALAH TANPA MEMIKIRKAN HASIL, tanpa motivasi yang berlandaskan pada keinginan untuk menjadi super kaya, super tenar, dan super apa saja! Berkaryalah dengan semangat melayani sesama. Dengan berkarya seperti itu, sesungguhnya kita pun sudah memasuki samnyas. Kita sudah tidak lagi memikirkan kepentingan diri. Kita sudah tidak berdagang sapi, tidak terlibat dalam transaksi, “lu jual, gue beli.”

Kendati demikian, setiap laku, setiap perbuatan, setiap karma tidak bisa dilepaskan dari konsekuensinya, tiada sebab tanpa akibat, tiada aksi tanpa reaksi. Karya baik menghasilkan kebaikan, dan karya buruk menghasilkan keburukan. Nah, “Hasil Baik” pun dapat menjadi kepala ular dalam perrnainan ular tangga dan mematuk kita. Kita bisa menjadi “besar kepala” karena kebesaran hasil dari pekerjaan-“ku”, dari jerih payah-“ku”.

SEBAB ITU, RENOUNCE THE FRUIT – Lepaskan buah karyamu. Semua itu karena Gusti, semua karena anugerah Gusti. Apa yang dapat kuperbuat tanpa kehendak dan restu Gusti? Kita berkarya demi kebaikan itu sendiri.

Ya sudah, janganlah merasa tersanjung ketika seorang memuji kita. Menerima pujian orang pun sudah cukup untuk membesarkan ego kita, ingat kepala ular. Serahkan seluruh hasil dari perbuatan kita kepada Gusti Hyang Maha Kuasa! Nah, renouncing the fruit inilah tyaga.

Berbuat baik, dan segala hasil dari perbuatan itu dipersembahkan kepada Gusti Pangeran. Ini adalah sikap mental, supaya kita tidak menjadi sombong. Ini adalah sikap hidup, attitude: “Engkaulah Hyang Menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka hasil perbuatan pun kuserahkan kepada-Mu.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia