Archive for October, 2018

Personal Sadhana dan Karma Yoga, Olah Spiritual dan Melayani Tanpa Pamrih Pribadi

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 31, 2018 by triwidodo

Kisah Karma Yoga: Anak yang Berbagi Pisang Raja

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

Semangat Panembahan Yang Penting. Adakah kasih yang mengiringi doa persembahan kita? Adakah cinta yang meluber saat kita memuji-Nya? Ini yang penting.

………….

Seorang Master berkisah tentang anak kecil usia sekitar 12 tahun yang setiap hari melihat kedua orangtuanya melakukan persembahan pada altar yang dilengkapi pratima dari Ishta Devata. Ada air, pelita yang selalu hidup, dupa, dan buah-buahan atau bunga-bungaan.

Ayahnya minta dia membeli sesisir pisang raja dengan uang seharga pisang tersebut. Sang anak membeli pisang raja dan segera pulang. Dia tahu pisang tersebut akan diletakkan di atas altar dan setelah acara doa selesai pisang tersebut akan dimakan bersama sebagai prasadam.

Dalam perjalanan pulang, sang anak melihat seorang ibu dan anaknya, bocah yang berusia 5 tahun kelaparan. Sang bocah berlari ke arahnya karena melihat dia menenteng sesisir pisang raja. Sang ibu malu dan berupaya menangkap bocah itu, tapi mereka berdua ambruk karena kelaparan.

Sang anak tersentuh dia memberikan pisang raja tersebut kepada mereka berdua dan juga memberikan juga air dalam botol yang dibawanya. Sang ibu mengucapkan terima kasih, dan meneteskan air mata karena terharu.

Sang anak segera pulang ke rumah dan ketika sang ayah bertanya mana pisang raja yang telah dibelinya, dia mengatakan telah dia berikan kepada seorang ibu dan bocah yang kelaparan.

Sang ayah bangga terhadap anaknya dan berkata, “Kemarin saya bercerita tentang pemuda yang selalu mengingat Gusti Pangeran dengan membaca japa mantra dan berbagai latihan meditasi. Tindakan itu disebut personal sadhana, sadhana pribadi, masih ada motif, kepentingan pribadi di dalam tindakan itu, misalnya ingin ketenangan dan kedamaian dan kebahagiaan. Sekarang sudah waktunya saya berkisah tentang karma yoga. Personal sadhana adalah seperti menanam benih dan merawatnya sampai benih tersebut menjadi pohon. Apabila sudah menjadi pohon yang besar, dirinya sudah dapat memberi keteduhan pada makhluk yang berada di bawahnya dan juga memberikan buah-buahnya kepada makhluk yang membutuhkannya.”

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2018/10/29/ingat-gusti-pangeran-melepas-keterikatan-dan-kesadaran-kosmis/

 

 

Personal Sadhana dan Karma Yoga

Apa beda Personal Sadhana dan Karma Yoga? Sadhana bukan hanya seeking, (sadhaka, the seeker), berbuat sesuatu bukan hanya mencari. Saya mencari kebenaran, tetapi mencari kebenaran tidak berarti kita agresif untuk menemukan kebenaran itu. Sadhana adalah melakukan upaya, sadhana adalah melakukan sesuatu untuk menemukan kebenaran. Sadhaka mencari dan melakukan sesuatu untuk menemukan kebenaran di dalam diri.

Bhajan, meditasi, melakukan latihan-latihan spiritual itu semua adalah personal sadhana. Dalam personal sadhana tetap ada suatu personal interest. Untuk menemukan kedamaian, mengalami keceriaan, kebahagiaan atau yang lain.

(“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) –

  1. seorang yang sedang mengejar dunia benda;
  2. seorang yang sedang menderita;
  3. seorang pencari pengetahuan sejati;
  4. dan seorang bijak.”

Bhagavad Gita 7:16

Mereka yang melakukan personal sadhana termasuk panembah no.3. Karma yoga dilakukan oleh para panembah untuk mencapai panembah no.4.)

 

Apa yang kita lakukan di Ashram setiap hari adalah personal sadhana, ada sedikit motif pribadi. Saya melakukan untuk diri pribadi. Ini penting juga. Personal sadhana seperti meletakkan fondasi sebelum melakukan sesuatu. Apabila kamu tidak punya fondasi yang kuat kau tidak bisa mendirikan bangunan di atasnya.

Beberapa orang berpikir tidak melakukan sesuatu tersebut, padahal fondasi sangat penting. Analogi seperti melakukan terhadap tanaman. Kamu menebar benih dan biji itu mulai berkembang.  Tapi kamu tidak membiarkan seperti itu saja. Kamu tetap merawat tanaman. Sebelum tanaman menjadi pohon yang besar. Ketika tanaman kesadaran kita menjadi pohon, maka datang karma yoga.  Kemudian pohon itu dapat memberikan keteduhan kepada siapa saja. Apa yang kamu lakukan kepada orang lain tanpa motif pribadi.

Setelah membuat fondasi yang kuat dengan personal sadhana, baru melayani orang lain tanpa pamrih pribadi. Guru saya mengatakan meskipun kau hanya mengharapkan ucapan terima kasih, itu bukan lagi karma yoga. Suatu transaksi bisnis. Kamu melakukan sesuatu dan seseorang membayar kamu dengan uang. Kamu melakukan sesuatu dan seseorang membayar dengan terima kasih. Meskipun seseorang hanya mengatakan terima kasih itu adalah sebuah pembayaran.

Karma yoga bukan hanya kamu tidak mengharap imbalan, meskipun ucapan terima kasih, tapi apa pun yang kau lakukan dilakukan sebagai persembahan kepada Tuhan di dalam diri. Supreme energy. Karma yoga adalah sebuah persembahan. Personal sadhana adalah meletakkan fondasi, dan setelah itu karma yoga.

Kamu tidak dapat melakukan karma yoga di kantor, karena kamu dibayar. Guru saya mengatakan siapkan 4 jam seminggu untuk karma yoga. Dan apabila kamu tidak dapat melakukan pada hari kerja ubah holiday menjadi holy day. Siapkan 4 jam setiap hari Minggu atau Saptu. Kalau menjadi muridku lakukan itu, atau kalau tidak kamu tetap datang menjadi temanku. Kerjakan sesuatu yang kamu tidak dibayar. Kamu tidak mengharapkan imbalan apa pun.

Jangan mengcopy memberikan makanan kepada mereka yang miskin seperti di negara yang banyak masyarakat yang kelaparan. Temukan apa kebutuhan mereka.

Sumber: Video Youtube Personal Sadhana and Karma Yoga oleh Bapak Anand Krishna

“Hands that Help are Better than Lips that Pray

Tangan yang membantu, melayani, lebih baik dari bibir yang berdoa,” demikian teguran Ellen Johnson, seorang aktivis kemanusiaan, yang dilontarkannya kepada Presiden A.S. saat sebagian warga Amerika terkena bencana topan Katrina (tahun 2005).

Pasalnya, saat itu Presiden Bush dan Gubernur Louisiana Kathleen Blanco mengajak warga yang terkena musibah untuk berdoa! Ellen gusar: “…. judging from the speed of some relief efforts, officials should be busy working instead of preaching.”

Ia mengharapkan para pejabat pemerintah lebih fokus pada pelayanan dan bantuan bagi para korban, yang ternyata terlambat tibanya.

Tidak berarti kita menjadi anti-doa, atau anti-ibadah.

Tidak sama sekali. Yang dimaksud adalah mempraktekan nilai-nilai keagamaan dengan membantu sesama, apalagi yang sedang menderita dan menjadi korban bencana.

Sesungguhnya Ellen Johnson hanya mengutip Robert Green Ingersoll (1833-1899), seorang pemikir asal Amerika yang pertama kali mencucapkan kalimat tersebut, “Hands that Help are Better than Lips that Pray”. Ingersoll dikenang sebagai seorang agnostic. Namun, kata-kata yang terucap olehnya sejalan dan selaras dengan nilai spiritual yang universal.

Seorang Guru Spiritual kontemporer, Sri Sathya Sai Baba (lahir1926), merubah kata “better” menjadi “holier”- sepasang tangan yang membantu lebih mulia, lebih suci dari bibir yang sedang berdoa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Ingat Gusti Pangeran, Melepas Keterikatan dan Kesadaran Kosmis

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 29, 2018 by triwidodo

Kisah Pemuda Menghidupkan Lampu

Dikisahkan oleh seorang Master tentang seorang sadhaka, penggiat spiritual yang bersemangat masuk ke dalam sebuah gua di mana seorang Guru tinggal. Saat memasuki gua dia melihat sebuah cahaya kecil, akan tetapi cahaya itu kemudian padam. Dalam kegelapan, untuk mengatasi rasa takut, dia membaca mantra “Om Nama Shivaya” dengan keras berkali-kali.

Orang suci yang berada dalam gua bertanya siapa dia. Dia mengatakan bahwa dia datang untuk mohon berkah. Orang suci tersebut berkata sebelum dia menjawab pertanyaan ang pemuda, dia minta sang pemuda menyalakan lampu yang telah padam.

Pemuda itu mengambil kotak korek api dan mencoba menyalakan lampu tapi tidak berhasil. Sang pemuda mengatakan kepada sang guru bahwa dia sudah berupaya menyalakan lampu tapi tidak berhasil. Sang guru minta membuka tempat minyak, mengeluarkan semua air dan menggantinya dengan minyak dan kemudian menyalakan kembali. Sang pemuda melakukannya akan tetapi lampu tersebut tetap tidak menyala. Sang guru mengatakan bahwa mungkin sumbu pelita basah oleh air dan minta sang pemuda mengeringkannya di tempat terbuka dan kemudian mencoba menyalakan lagi. Sang pemuda mematuhi instruksi sang guru dan berhasil menyalakan lampu.

Sang pemuda kemudian memberanikan diri menyampaikan keperluannya untuk berguru. Sang guru tertawa dan mengatakan bhwa dia telah memberikan jawaban atas pertanyaannya. Sang pemuda mengatakan bahwa sebagai pemuda bodoh dia belum memahami penjelasan sang guru dan mohon penjelasan yang lebih jelas.

Sang guru berkata, “Dalam wadah hatimu terdapat sumbu jivamu. Sumbu itu telah terendam air hasrat keinginan indramu. Oleh karena itu, kau tidak dapat menyalakan lampu kebijaksanaan. Tuang semua air keinginan dari wadah hatimu, dan isilah semua dengan Nama Gusti, Namasmarana. Ambillah sumbu Jiva dan keringkan di bawah sinar Vairagya. Peraslah semua air yang hadir dalam bentuk hasrat keinginan dan masukkan ke dalam hati minyak pengabdian Namasmarana. Lakukan berkali-kali. Selanjutnya, kau akan mampu menyalakan lampu kebijaksanaan.”

Abhyasa dan Vairagya

“Wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), niscaya pikiran memang liar – pun sulit ditaklukkan. Namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti).” Bhagavad Gita 6:35

 

Dalam ayat ini, Krsna memberikan tips jitu untuk mengendalikan pikiran, pertama adalah:

Abhyasa – membiasakan diri, berlatih secara terus-menerus. Seorang sahabat, saintis tulen, ahli bedah otak, almarhum dr. Setiawan selalu menggunakan istilah ‘intensif dan repetitif’. Latihan untuk mengendalikan gugusan pikiran dan perasaan membutuhkan kegigihan, kebulatan tekad, keteguhan hati, dan kekuatan kehendak. Tidak bisa secara instan, seperti sering diiklankan oleh orang-orang yang sedang mencari keuntungan, dan tidak tahu-menahu tentang seluk-beluk mind.

Dr. Setiawan betul. Ia memahami kinerja brain, otak, sebagai alat yang digunakan oleh mind. Untuk itu butuh latihan secara intensif, tidak bisa sambilan. Hari ini berlatih, besok tidak – mustahil mind terkendali.

Berlatih secara intensif dan repetitif setiap hari saja tidak cukup. Dibutuhkan latihan setiap jam, setiap detik. Setiap kali mind baru mau kembali pada sifat keliarannya, segera kita menarik dia. Secara intensif dan repetitif – berulang-ulang. Inilah abhyasa – inilah cara untuk mengubah kebiasaan mind.

Namun, cara ini pun adalah semacam first-aid – pertolongan pertama. Untuk selanjutnya, supaya mind tidak liar terus, lagi-lagi secara intensif dan repetitif, kita mesti belajar untuk melepaskan keterikatan dari benda-benda dan keadaan-keadaan yang dapat memicu keliarannya. Ini disebut:

Vairagya – melepaskan diri dari keterikatan: membebaskan diri dari keterikatan pada hal-hal yang dapat memicu dan/atau menambah keliaran mind.

Abhyasa dan Vairagya – inilah cara untuk mengendalikan  mind. Pekerjaan ini adalah purnawaktu. Tidak bisa hanya sesekali saja. Mind tidak pernah mati. Setelah terkendali pun masih tetap diawasi, tidak bisa dilepas begitu saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Melepaskan Keterikatan untuk Mencapai Kesadaran Kosmis

Kesadaran itu satu, akan tetapi kesadaran dalam diri Guru berbeda dengan kesadaran dalam diri kita. Perbedaan itu karena beda fokus. Fokus kita pada kesadaran tubuh, kita hanya memperhatikan keinginan tubuh. Fokus kita pada kesadaran mental/emosional, kita hanya memperhatikan kebutuhan mental/emosional. Dengan melakukan Vairagya, melepaskan dari keterikatan, membuang keinginan duniawi dan membatasinya keinginan sesuai plafond yang kita tetapkan, kita bisa melampaui kesadaran kesadaran tubuh dan mental/emosional. Kita bisa fokus pada Cosmic Consciousness. Kesadaran Kosmis. Kesadaran Jiwa. Selama kita menganggap berbeda maka kita belum mencapai Kesadaran Kosmis. Dalam Kesadaran Kosmis kita semua adalah satu.

Sumber: Video Yutube What is Cosmic Consciousness and How to Attain it oleh Bapak Anand Krishna

Mengingat Nama Gusti Pangeran Sebagai Japa

Dalam setiap tradisi kita mengenal ritual Zikir, ada yang menyebutnya Japa atau “pengulangan”, ada pula yang menyebutnya Simran atau “mengingat”. Mengucapkan atau mengingat sebuah kata berulang-ulang dalam hati, efeknya hampir sama.

Bahkan, sesuatu (kata atau kalimat) yang kita ucapkan dalam hati, tanpa suara, memperoleh kekuatan yang lebih dahsyat, karena tidak ada pemborosan lewat suara. Sebab itu, dalam tradisi zikir, ada yang disebut Qalbi Zikir, zikir dalam hati, mengulangi dalam hati.

Dalam tradisi Japa bahkan ada yang disebut Likhit Japa, atau menulis berulang-ulang. Efeknya hampir sama dengan Japa atau Zikir dalam hati.

Sebuah kata atau kalimat yang sudah terucap jutaan bahkan milyaran kali, memiliki kekuatan yang luar biasa, dan menjadi sebuah simbol yang sangat ampuh – bila Anda percaya!

Ya, karena kepercayaan diri anda bekerja sebagai Radio Penerima Siaran. Kata atau kalimat yang Anda ucapkan adalah Siaran. Tapi, sejernih apapun siaran bila Anda tidak berada pada gelombang yang sama, maka Anda tidak dapat mendengarnya.

Kepercayaan anda pada sebuah kata atau kalimat yang Anda gunakan untuk Zikir, Japa atau Simran, menentukan hasil yang Anda peroleh. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Melayani Gusti Yang Bersemayam dalam Setiap Makhluk

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 27, 2018 by triwidodo

Kisah Draupadi dan Romarishi

Seorang Master bercerita tentang Pandawa yang berada dalam pengasingan dan masuk ke wilayah hutan Romarishi. Romarishi adalah seorang rishi yang tubuhnya ditutupi rambut dan janggut yang sangat Panjang sehingga menutupi seluruh area hutan. Di hutan tersebut ada sebuah pohon istimewa yang sekali digigit akan membebaskan dari rasa lapar dan haus selama bertahun-tahun. Akan tetapi buah dari pohon tersebut tidak diambil dengan cara dipetik, harus jatuh dengan sendirinya.

Pada suatu hari Yudistira dan Draupadi kebetulan berada di dekat pohon istimewa tersebut dan Draupadi tergoda untuk mencicipi buah besar di atas pohon. Draupadi berkata bahwa buah besar tersebut dapat dimakan oleh semua Pandawa dan dirinya. Yudistira memanah sehingga buah jatuh ke tanah. Akan tetapi ketika Yudistira Bersama Draupadi berupaya mengangkatnya mereka tidak kuat. Arjuna dan Nakula serta Sadewa datang untuk membantu mengangkat buah tersebut, namun tidak berhasil. Bahkan Bhima yang datang membantu pun gagal mengangkatnya.

Adalah Romarishi yang merasa terganggu ketika rambutnya diinjak 6 orang untuk mengangkat buah. Sang Rishi menyadari ada orang yang berusaha mencuri buahnya. Rambut Sang Rishi segera menyatu dan mengikat Pandawa dan Draupadi.

Draupadi yang menyadari mereka dalam bahaya segera berdoa memanggil Krishna. Krishna segera muncul di hadapan mereka. Draupadi segera minta bantuan Krishna, akan tetapi Krishna berkata, “Saudariku, aku tidak berdaya. Romarishi adalah bhakta yang agung. Aku bersemayam dalam hatinya. Bagaimana Aku dapat melakukan hal yang bertentangan dengan keinginan bhakta-Ku?”

Draupadi sekali lagi memohon, “Krishna, hanya kau yang dapat menyelamatkan kami.” Krishna berkata, “Aku dapat menyelamatkan kalian semua, tetapi kamu harus patuh terhadap instruksiku untuk diam dalam situasi apa pun. Lakukanpersis seperti yang Aku instruksikan!” Krishna melepaskan rambut yang mengikat mereka dan mereka diminta ke ashram Romarishi beberapa saat setelah Krishna ke ashram terlebih dahulu.

Romarishi baru akan meninggalkan rumah saat Krishna masuk ashram. Romarishi bersujud dengan penuh bahagia pada Krishna yang datang ke ashramnya. Romarishi berkata, “Bhagavan, betapa beruntungnya saya mempunyai tamu ilahi seperti Bhagavan. Apa yang dapat saya lakukan untuk Bhagavan?” Krishna berbicara mengenai keilahian dan didengarkan dengan seksama ole Romarishi.

Saat Pandawa dan Draupadi tiba di ashram, Krishna segera berlari dan bersujud di depan mereka. Pandawa dan Draupadi merasa amat sangat malu, akan tetapi mereka semua patuh terhadap instruksi Krishna dan tetap diam. Melihat Krishna bersujud, Romarishi segera mengikuti Hrishna untuk bersujud di hadapan mereka juga. Krishna kemudian minta mereka masuk ke ashram dan memperkenalkan mereka kepada Romarishi. Dia memuji Yudistira yang berbudi luhur, Arjuna dan Bhima yang gagah berani, Nakula dan Sadewa yang cerdas serta Draupadi bhakta yang setia. Krishna mengatakan bahwa mereka tergoda untuk mencicipi buah milik Sang Rishi. Romarishi tentu saja ingin menyenangkan mereka yang telah menyenangkan Bhagavan dan mempersilakan mereka menikmati buah tersebut. Dengan makan buah tersebut Pandawa dan Draupadi bebas dari rasa lapar selam bertahun-tahun. Sangat sulit memprediksi karunia seorang Bhagavan, yang penting selalu ingat Dia setiap saat dengan penuh kasih. Setiap tindakan dilakukan sebagai persembahan kepada-Nya.

Draupadi adalah Bhakta Gusti (Krishna), putri seorang raja yang hidup melayani Pandawa dalam keadaan suka dan duka. Dia merasa sebagai Alat Gusti untuk melayani dan memberi semangat bagi Pandawa dalam menegakkan dharma. Draupadi melayani Pandawa dengan kesadaran bahwa Krishna bersemayam dalam diri tiap Pandawa. Krishna selalu membantu dan melindungi bhakta-Nya yang selalu ingat kepada-Nya.

Romarishi adalah seorang bhakta yang menghabiskan sisa hidupnya untuk fokus pada Krishna. Adalah sebuah anugerah Krishna datang menemuinya. Adalah berkah tak terduga untuk dapat menyenangkan Krishna dengan menjamu mereka yang dihormati oleh Krishna.

Puja, tapa, meditasi seperti yang dilakukan Romarishi adalah kegiatan yang membuat hidup kita bermakna. Akan tetapi menurut Sang Master, “Tangan yang Melayani lebih suci daripada Bibir yang Berdoa.” Melayani Gusti (yang bersemayam dalam setiap makhluk) lebih mulia daripada sadhana pribadi.

Bhakti: Alam Benda Ibarat Kantor Tempat Bekerja, Rumahnya Adalah Istana Gusti Pangeran

Ketika Jiwa individu masih mengidentifikasikan dirinya dengan materi, dengan benda, dengan indra, dengan alam benda, dengan suka dan duka yang diperolehnya dari hubungan dengan semua itu – maka tidak-bisa-tidak ia berjungkat-jungkit sepanjang usia. Tidak-bisa-tidak ia bergelinding antara dua kutub senang-susah, bahagia-gelisah, dan sebagainya.

Mereka yang tidak memahami hal ini, tidak berjiwa bhakti, senantiasa berupaya untuk mengubah keadaan. Padahal, perubahan sudah merupakan sifat dasar alam benda. Menceraikan satu pasangan dan mengawini orang lain bukan solusi. Bukan solusi meditatif. Mengharapkan cinta dari sesama manusia – setidaknya, bagi seorang bhakta, sebagaimana dikatakan oleh Paramhansa Yogananda adalah penghinaan terhadap Gusti Pangeran. Seolah ia tidak mendapatkan kasih dari-Nya.

Seorang anak meninggalkan masakan ibunya yang sudah disajikan di atas meja. Sudah dibuat, dimasak dengan penuh cinta. Kemudian mencari makanan di luar. Dengan cara itu, ia menghina ibu yang melahirkannya. Ia menghina masakannya.

Implikasinya sama saja seperti meninggalkan pasangan di rumah, dan mencari pasangan lain di luar rumah. Hati seorang bhakta yang seluruh kesadarannya terpusatkan pada Gusti Pangeran, sudah tidak bercabang lagi. Ia telah menghaturkannya pada Gusti Pangeran. Alam benda hanyalah ibarat kantor tempat ia bekerja, bukan rumahnya. Rumahnya adalah istana Gusti Pangeran. Ia tidak pernah lupa akan hal itu.

Ia tidak mencari rumah lain. Ia tidak mencari cinta dari dunia benda. Ia sudah mendapatkan segala-galanya dari Gusti Pangeran, Hyang adalah Wujud Cinta Kasih. Penjelasan Bhagavad Gita 9:31 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Semangat untuk Manembah (Bhakti) tertutup Keinginan Duniawi

Kita tidak bisa menjadi seorang panembah. Kita hanya dapat mengungkapkan jiwa panembahan kita. Karena, sesungguhnya setiap jiwa hendak menyembah, mempersembahkan diri, kembali pada asalnya, menyatu kembali dengan Gusti Pangeran.

Jiwa, atau semangat untuk menyembah ini tertimbun dibawah keinginan duniawi yang bertambah terus setiap hari. Selain harapan, keinginan yang tak terpenuhi memunculkan juga rasa kecewa, amarah, dan sebagainya. Keinginan asal jiwa, semangat untuk manembah pun kian hari mengendap ke bawah. Lalu, bagaimana mengungkapkannya? Bagaimana membawanya ke permukaan?

Satu-satunya cara adalah dengan melakukan introspeksi diri. Apakah kita bahagia dan puas dengan hidup kita saat ini?

Jika jawaban kita adalah “ya”, maka sulit untuk memunculkan jiwa panembahan yang tertimbun di bawah berbagai macam keinginan, harapan, dan sebagainya. Belum waktunya, belum saatnya. Jika jawaban kita “tidak”—kita tidak bahagia, tidak puas dengan hidup kita saat ini—maka ada harapan bagi semangat panembahan kita untuk muncul ke permukaan.

Kemudian, yang dibutuhkan adalah: Pemicu Kesadaran

Pemicu awal bisa dalam bentuk apa saja. Barangkali dari tulisan atau buku yang kita baca. Namun, bacaan saja tidak cukup. Kira mesti mengamalkan apa yang kita baca atau kita dengar dari seseorang yang telah bangkit jiwa panembahannya.

Jika seseorang belum bangkit jiwa panembahannya, ia tidak dapat membantu orang lain. Demikian juga halnya dengan tulisan mereka yang belum terbangkit jiwa panembahannya.

Lalu, bagaimana mengetahui bahwa jiwa panembahan seseorang telah bangkit? Dari mana kita tahu seseorang telah mencapai tahap kesadaran di mana dirinya bisa menjadi pemicu?

Dari kedamaian dirinya. Dari keceriaan dan kebahagiaannya. Dari kesiapsediaannya untuk menghadapi tantangan hidup seberat apa pun. Hidup para panembah adalah pesan mereka. Mereka berpesan lewat laku hidup mereka sendiri.

Ada yang menyebut pemicu kesadaran guru, master, bhagavan atau begawan (berarti ia terberkati, tentunya yang dimaksud adalah terberkati oleh kesadaran. Dan, bukan dia saja, siapa pun bisa terberkati seperti itu). Dikutip dari buku      (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Gigih Mempertahankan Dharma

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on October 25, 2018 by triwidodo

Kisah Prahlada dan Dharma

Seorang Master berkisah tentang Raja Prahlada, bhakta Narayana yang sangat saleh. Sang Raja tidak pernah menolak permintaan seseorang, jika dia diminta bantuan atau hadiah.

Adalah Dewa Indra yang datang menguji Prahlada dengan menyamar sebagai seorang brahmana. Prahlada bertanya, “Apa yang kau butuhkan agar kau bahagia?”  Sang brahmana menjawab, “Saya ingin Paduka memberikan Sheela (karakter) Paduka.” Prahlada menjawab, “Jadilah. Aku memberikan Sheela aya kepadamu.”

Tidak lama setelah Sang Brahmana pergi, seorang pria tampan berjalan menjauhi istana. Prahlada bertanya, “Tuan siapa?” Sang Pemuda menjawab, “Saya Ketenaran, saya tidak bias tinggal Bersama Paduka sejak Sheela meninggalkan Paduka.” Prahlada mengizinkannya pergi.

Beberapa saat kemudian, pria menawan lain terlihat menjauhi istana. Prahlada bertanya, “Boleh tahu siapa Tuan?” Pria itu menjawab, “Saya Keberanian. Bagaimana saya bia Bersama Paduka tanpa Sheela dan Ketenaran?” Prahlada mengizinkan dia pergi.

Tak lama kemudian, tampak seorang wanita jelita meninggalkan istana dengan tergesa-gesa. Prahlada bertanya, “Ibu, boleh saya tahu siapakah Ibu?” Wanita itu menjawab, “Saya Rajyalaksmi, dewi ketua kerajaan. Saya tidak bias tinggal tanpa Sheela, Ketenaran, dan Keberanian.”

Kemudian tampak seorang wanita bercahaya bergerak meninggalkan istana sambal berlinang air mata. Prahlada menemui dan bertanya, “Ibu, siapakah ibu?” Wanita itu berkata, “Saya Dharma Devata (Kebenaran). Saya tidak memiliki tempat dimana tidak ada Sheela, Ketenaran, Keberanian. Bahkan Rajyalaksmi telah meninggalkan paduka.”

Prahlada bersujud di kaki wanita tersebut dan berkata, “Ibu, aya bias hidup tanpa Sheela, Ketenaran, Keberanian, dan Rajyalaksmi, tetapi aku tidak bias hidup tanpa Ibu. Bagaimana aya bias melepas ibu kemana-mana? Adalah tugas Raja melindungi Dharma. Dharma sendiri adalah daar dari seluruh dunia. Mohon Ibu sudi kiranya tetap Bersama saya. Jangan meninggalkan saya.”

Akhirnya Dharma Devata setuju untuk tinggal. Dan kemudian yang lain juga dating kembali, “Kami semua tidak bisa tinggal tanpa Dharma. Kami akan menemani Paduka.”

Prahlada menjunjung tinggi Dharma.

Bhagavad Gita adalah dialog Krsna dengan Arjuna untuk mengapresiasi Dharma

Krsna membutuhkan komitmen Arjuna terhadap Dharma atau Rightteousness – Kebajikan, Kadilan, Kebenaran. Ini merupakan komitmen yang luar biasa. Ini adalah sebuah komitmen di mana nyawa, raga, kepentingan pribadi –semua mesti dinomorduakan, dikesampingkan. Sebab itu, terjadilah dialog – sebuah dialog dimana Krsna mengajak, menuntun Arjuna untuk mengapresiasi Dharma, untuk mengetahui , dan menghayati Dharma, sehingga Arjuna akan berkomitmen sepenuh hati. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Bharatayudha adalah Perang antara Dharma dan Adharma

Perang Bhārata-Yudha Bukanlah antara Kubu yang Baik dan Kubu yang Jahat. Apakah Pāṇḍava sepenuhnya baik? Pikirkan kebaikan Yudhisthira, seorang raja yang kalah dalam judi, dan mempertaruhkan kerajaan, saudara, serta istrinya! Baik? Benar?

Jika mau mencari sebab utama Perang Bhārata-Yudha niscayalah kekonyolan Yudhisthira adalah sebabnya. Dialah penyebab perang.

Lalu, apakah di Kubu Kaurava semuanya adalah seserakah Duryodhana, selicik Paman Śakuni? Tidak juga. Banyak orang baik di kubu mereka. Dalam diri seorang Bhīṣma saja, hampir mustahil menemukan sifat yang bisa disebut jahat, kecuali ia tidak bersuara secara tegas ketika para Pāṇḍava ditipu oleh Kaurava bersaudara.

Jadi, Urusannya bukanlah Baik-Buruk. Benar-salah, dan sebagainya… Sebagaimana akan dijelaskan secara panjang lebar oleh Kṛṣṇa, urusannya adalah Dharma-Adharma. Apa arti Dharma, apa pula yang disebut Adharma – akan kita pelajari bersama dalam bab-bab berikut. Penjelasan Bhagavad Gita 2:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Antara Dharma dan Bukan Dharma

Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik, itulah Adharma”.

Bhishma terlebih dahulu menjelaskan apa yang “bukan dharma”, Disharmony, Disunity and Conflict. Ketiganya inilah sifat adharma. Ada apa siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecahbelah bangsa adalah adharma. Ia tidak mengetahui arti dharma.

Dan, “segala apa yang dapat mengakhirinya, adalah Dharma” lanjut Bhisma. Mengakhiri apa? Mengakhiri Ketakserasian, Perpecahan dan Konflik atau Ketegangan. Penjelasan Bhishma jelas sekali. Makanya tidak bisa diselewengkan. Tidak bisa diputarbalikkan.

Dharma, Walau dapat diterjemahkan sebagai syariat, tidak bisa dikaitkan dengan akidah salah satu agama. Ia tidak tergantung pada pemahaman para alim ulama yang lebih sering menyelewengkan makna ayat-ayat suci demi kepentingan diri, kelompok, dan tidak kurang dari itu.

“Dharma strengthens, develops unity and harmony”. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian demikian menurut Bhishma.

Unity. Persatuan, bukan kesatuan. Unity bukanlah keseragaman. Itu uniformity. Perbedaan sekitar kita, antara kita, dapat dipertemukan, dipersatukan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)

Menghayati dan Melakoni Bukan Sekedar Memahami

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 23, 2018 by triwidodo

Kisah Pandit dan Raja

Seorang Master berkisah tentang seorang Pandit yang sedang mengajarkan Bhagavad Gita kepada seorang Raja. Sampai pada suatu ketika sampai pada sloka:

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

 

Sang Pandit menjelaskan makna sloka kepada Sang Raja. Tetapi Sang Raja menggelengkan kepalanya dan mengatakan: “Pandit salah menjelaskan tentang sloka ini. Cari maknanya dan besok datang lagi ke sini menjelaskan kepadaku.”

Sang Pandit gugup dan pulang ke rumah dengan lemah lunglai. Sampai di rumah istrinya bertanya, mengapa dia bersedih. Sang Pandit menjawab bahwa dia menjelaskan sloka Bhagavad Gita dan Sang Raja menolak makna yang dijelaskannya. Dia besok harus datang menjelaskan makna sloka tersebut. Sang Istri bertanya sloka yang mana? Dan Sang Pandit menyampaikan Sloka Bhagavad Gita 9:22 tersebut.

Sang Istri berkata bahwa Sang Raja benar, makna sloka tersebut bukan seperti yang dijelaskan Sang Pandit. Sang Pandit marah dan mengatakan bahwasanya apakah Sang Istri sudah lebih cerdas dari pada dia. Sang Pandit mengatakan bahwa kalau Sang Raja marah, maka gaji per bulan dari Sang Raja akan dihentikan dan nafkah keluarga akan diperoleh dari mana?

Sang Istri minta Sang Pandit merenungkan makna sloka tersebut. Sang Pandit masuk kamar dan mulai merenungkan makna sloka tersebut. Dia mengingat pesan Sang Istri bahwa bila dia telah memahami makna sloka tersebut, dia tidak ingin lagi pergi ke Sang Raja. Jika Sang Pandit hanya fokus pada Gusti maka Gusti akan mencukupi segala kebutuhannya.

Sang Pandit hanya terfokus pada Gusti, tidak terpikir lagi untuk menjelaskan makna sloka kepada Sang Raja.

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Keesokan harinya, Sang Raja menunggu Sang Pandit dan Karena tidak hadir Sang Raja kemudian minta petugas datang menjemput Sang Pandit. Sang petugas kembali dari rumah Sang Pandit dan mengatakan bahwa Sang Pandit sedang berada di kamar dan istrinya berkata bahwa Sang Pandit seluruh pikiran dan perasaannya fokus pada Gusti.

Sang Raja akhirnya berjalan kaki menuju rumah Sang Pandit, masuk kamar Sang Pandit dan membungkukkan badan memegang kaki Sang Pandit.

Sang Raja berkata, “Pandit telah memaknai sloka dengan benar. Hanya fokus pada Gusti dengan penuh kasih. Mohon ajarkan padaku apa yang telah Pandit alami bukan penjelasan kalimat per kalimat.”

Selanjutnya Sang Pandit hanya berbagi pemahaman Bhagavad Gita kepada Sang Raja, Penguasa Kerajaan sebagai tindakan kebaikan bagi sesame, sama sekali tidak mengharapkan imbalan dari Sang Raja. Semuanya merupakan persembahan kepada Gusti. Ida Na Mama. Yang Berkarya Bukan dirinya, Gustilah yang berkarya. Tentu saja Sang Raja tetap memberikan imbalan.

 

Kita Hanya Membutuhkan Gusti Sebagai Pemberi dan Pemuas Keinginan Kita

Sang Pandit tadinya hanya memahami Bhagavad Gita tanpa penghayatan dan laku, hanya untuk memperoleh imbalan dari Sang Raja.

Kita menuhankan keinginan kita seperti kutipan penjelasan Bapak Anand Krishna dalam Radar Bali, Senin 26 November 2007

 

Urusan kita dengan Tuhan pun bukanlah urusan cinta, bukanlah urusan kasih – tetapi perkara materi murni. Kita berdoa, kita menjalankan ritus-ritus keagamaan, bahkan kita beragama – hanya karena Tuhan adalah Hyang Maha Memberi segala apa yang kita butuhkan, Hyang Maha Mendengar segala macam keluhan kita, Hyang Maha Memenuhi segala macam keinginan kita, Hyang Maha Menyelesaikan segala macam perkara kita.

Barangkali kita tidak akan berurusan dengan Tuhan bila Ia adalah Hyang Maha Menegur dan Maha Menjewer kuping ketika kita berbuat salah. Kita lebih suka dengan atribut-atribut Tuhan seperti Hyang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Jelas, kita tidak mau ditegur dan dijewer kuping kita.

Berarti, Tuhan yang Membahagiakan kita adalah Tuhan yang Memenuhi segala macam kebutuhan, bahkan keinginan materi kita. Dan, tidak pernah menegur, apalagi menghakimi dan menghukum kita. Keberagamaan kita sepenuhnya, 100 persen adalah urusan materi murni!

Tuhan dan Uang Membahagiakan kita…..

Sesungguhnya, yang kita maksud adalah: Tuhan yang menyediakan Uang dan Uang itu sendiri yang membahagiakan kita. Berarti, kebahagiaan manusia Indonesia sepenuhnya datang dari Uang, dari Materi.

Tidak heran, bila politisi senior kita menganggap perolehan suara di pemilu sebagai rejeki. Tidak heran pula bila kita tidak pernah lupa mengucapkan syukur kepada Hyang Maha Kuasa ketika meraih kekuasaan. Dari olahragawan hingga rohaniwan – semuanya mengharapkan materi dari Tuhan.

Nabi Isa pernah mengingatkan kita: “Carilah Dia, maka segala sesuatu yang lain akan ditambahkan kepadamu.”

Kita mencari Dia, supaya memperoleh segala sesuatu.

Sama-sama mencari, tetapi lain pencaharian Sang Nabi dan lain pencaharian kita. Sang Nabi tidak mencari untuk memperoleh sesuatu. Kita mencari dengan tujuan jelas untuk memperoleh sesuatu.

………….

Tuhan dan Uang…… Sesungguhnya yang kita maksud adalah Uang dan Uang. Materi dan Materi. Kita, sebagai bangsa, telah sepenuhnya terjebak dalam Ilusi yang disebabkan oleh Lapisan Materi. Itu saja yang terlihat oleh kita. Kita tidak dapat melihat sesuatu di balik lapisan itu.

Kedudukan, ketenaran, keberhasilan, pasangan, harta, uang – semuanya itu materi. Dan,. Semuanya itu yang membahagiakan kita. Tuhan pun menjadi bagian dari apa yang membahagiakan kita karena Ia dapat memenuhi keinginan kita akan materi.

Manusia Indonesia dan Kebahagiaan…… Barangkali kita belum mengerti arti kebahagiaan. Kita masih sepenuhnya terperangkap dalam kenyamanan sesaat, kesenangan temporer dan kenikmatan materi….. Ya Allah, ya Rabb, Gusti, Widhi, Thien, Bapa di Surga, Tuhanku, tunjukkan kepada kami Jalan yang Benar – Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati…… Amin, Amen, Sadhu, Om Shanti…….

 

Dunia Tidak Pernah Berhenti Merayu Kita

Posted in Inspirasi Rohani on October 18, 2018 by triwidodo

Kisah Pelari Handal Putri yang Cantik Jelita

Seorang Master berkisah tentang seorang putri cantik jelita di Yunani. Sang Putri ahli memanah, berburu dan berlari cepat, sehingga diberi gelar Si Kaki Terbang. Banyak pangeran yang tampan dan perkasa ingin menyuntingnya, akan tetapi Sang Putri berkata bahwa dia hanya akan menikahi pangeran yang mengunggulinya dalam lomba lari. Ratusan pangeran telah mencoba tapi selalu kalah berlari melawan Sang Putri, Si Kaki Terbang.

Adalah seorang pangeran tampan yang ingin mengalahkannya dan minta nasehat pada Orang Bijak. Sang Pangeran  menyampaikan kepada Orang Bijak tersebut tentang kecepatan berlari Sang Putri yang diberi gelar Si Kaki Terbang. Dan, banyak pangeran telah menjadi pecundang dalam lomba lari dengan Sang Putri.

Orang Bijak itu berkata, “Jangan khawatir! Pangeran agar membawa beberapa potong perhiasan dari permata dalam saku dan dijatuhkan pada saat kritis.”

Pada hari yang ditentukan Sang Pangeran bersama Sang Putri berada dalam jalur lari yang telah ditentukan. Mereka mulai berlari dengan pesat. Keduanya adalah pelari yang handal. Pada saat Sang Putri mulai meninggalkan Sang Pangeran dalam beberapa detik, Sang Pangeran menjatuhkan perhiasan permata yang mempesona. Sang Putri spontan berhenti sebentar mengambil perhiasan yang jatuh dan kemudian kembali mengejar ketertinggalan. Demikian terjadi beberapa, saat Sang Putri mulai meninggalkan Sang Pangeran di belakang, Sang Pangeran menjatuhkan permata. Dan Sang Putri berhenti sebentar mengambil permata yang jatuh. Sang Putri begitu yakin, dengan kemampuannya dia akan mengejar kembali ketertinggalan. Akan tetapi Sang Putri lengah, karena pada suatu saat Sang Pangeran telah lebih dahulu mencapai garis finish saat dia sedang mengambil permata.

Mengapa Si Kaki Terbang dapat dikalahkan? Ini semua karena kecintaannya terhadap permata. Keterikatan pada duniawi selalu membuatnya lemah dan lalai dari tujuan hidup. Jika ingin sukses, kita harus seperti Sang Pangeran yang rela melepaskan keterikatan dan mengorbankan apa yang kita miliki demi tujuan hidup kita….

Pengendalian Diri Sebagai Solusi Bagi Keterikatan

Dunia tidak pernah berhenti merayu kita. Dunia tidak rela melepaskan diri kita. Ia selalu berupaya agar kita menjadi bagian darinya. Bila rayuannya tidak berhasil, ia akan mengecam, mengancam, mendesak, dan memaksa dengan menggunakan segala daya upaya. Pokoknya, kita tidak boleh keluar dari lingkarannya… lingkaran setan kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Namun, seorang yang bebas dari ketertarikan dan keterikatan, suka dan tak-suka; kendati berada di tengah objek-objek duniawi, penggoda indra – tetaplah dapat mengendalikan dirinya. Demikian, dengan pengendalian diri, ia meraih ketenangan, ketenteraman batin.”Bhagavad Gita 2:64

Menyukai sesuatu atau tidak menyukai sesuatu, tertarik pada sesuatu atau membenci sesuatu – dua-duanya menciptakan keterikatan. Sehidup dan Semati bukanlah urusan cinta saja. Urusan benci pun bisa sehidup, semati. Ada orang yang berkomitmen terhadap cinta, ada orang yang berkomitmen terhadap kebencian. Ada kalanya, cinta lebih gampang memudar, sementara itu benci bisa bertahan hingga akhir hayat. Benci, bahkan bisa melampaui kematian…

Ketenteraman Batin adalah Hasil dari Pengendalian Diri – Tanpa pengendalian diri, terkendalikan oleh hawa-nafsu, Anda akan selalu merasa kekurangan. Tidak ada kepuasan. Never enough – selalu tidak cukup.

Keadaan inilah yang dieksploitasi oleh korporasi untuk memperkaya diri, dan memiskinkan Anda dengan membuat Anda menjadi konsumtif. Setiap ada “model baru”, Anda merasa tidak puas dengan “model lama” yang Anda miliki. Anda membeli sesuatu yang baru, hanya karena alasan “baru”, padahal Anda tidak membutuhkannya. Demikian, Anda memiskinkan diri karena tidak adanya pengendalian diri.

Camkan, pengendalian diri adalah syarat utama bagi ketenteraman, ketenangan batin. Pilihan di tangan Anda. Memilih hidup tenang dengan mengendalikan diri; atau hidup gelisah di bawah kendali hawa-nafsu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Bersiaplah Keluarga Akan Menghalang-halangimu

Hukum gravitasi menimbulkan keterikatan, padahal, keterikatan itu bukanlah cinta. Cinta justru mengeluarkan kita, membebaskan kita dari hukum itu.

Pertama, kata Guru saya, ia akan memastikan bahwa keluargamu menghalang-halangimu. Keluarga yang menginginkan keterikatanmu, karena ingin memperbudak jiwamu, ingin menguasaimu, selalu menjadi penghalang utama. Jarang sekali kita temukan misalnya di mana keluarga justru menunjang atau membantu. Kecuali, tentunya bila kita berpura-pura. Kita sedang berdagang, walau dagangan itu kita beri label Cinta.  Kedua, lanjut Guru saya, kawan dan kerabat akan meninggalkanmu. Ketiga, kau akan difitnah oleh dunia. Berbagai hujatan akan dilontarkan kepadamu.

Dunia tidak berevolusi bersama. Teori darwin tidak dapat menjelaskan fenomena evolusi tidak bareng itu. Dalam dunia kita yang satu dan sama ini, dunia makin sempit, dunia yang telah menjadi global village, dusun global, saat ini pun terjadi evolusi secara sporadis. Masih saja ada kelompok-kelompok primitif di hampir setiap benua.

Dunia masih belum selesai dengan evolusi fisiknya. Sementara itu, para pecinta sudah mengalami evolusi batin, maka dunia tidak dapat memahami keadaan para pecinta. Dunia akan selalu menolak para pecinta seperti itu, termasuk keluarga dan kerabat terdekatnya. Kalau mau menapaki jalur itu, kita harus bersiap-siap untuk itu. Jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang tidak sering ditempuh. Berapa banyak Siddhartha yang mmenempuhnya dan menjadi Buddha? Berapa banyak orang tua yang memberi nama nabi atau orang suci kepada anak mereka dan berharap anak mereka akan mengikuti jejak nabi dan orang suci itu? Banyak yang berharap; segelintir yang memenuhi harapan. Dan, hanya hitungan jari yang berhasil. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keterikatan Sebagai Penghalang Utama

Segala sesuatu dalam alam benda ini bagaikan pisau atau pedang bermata dua, dalam pengertian, pisau ini, pedang ini dapat digunakan untuk masak-memasak dan membela diri. Namun, jika tidak berhati-hati, maka pisau ini, pedang ini bisa melukai diri kita sendiri. Benda dan Hubungan Duniawi dapat dimanfaatkan sebagai bekal untuk memfasilitasi perjalanan menuju Kesadaran-Diri yang sejati. Tidak lebih dari itu. Sebaliknya, mereka yang berhubungan dengan kita dapat memanfaatkan kita untuk tujuan yang sama, menemukan Jati-Diri.

Berarti, dalam hal berhubungan kita mesti waspada, senantiasa sadar bahwa tujuannya bukanlah mengikat diri kita, bukanlah membelenggu Jiwa – justru untuk membebaskan kita dari belenggu. Jika Anda berada dalam keadaan terbelenggu, maka Anda butuh bantuan orang lain untuk membebaskan Anda dari belenggu, bukan untuk memperkuatnya. Bukan untuk menambah belenggu.

Itulah Sebab Seorang Anak disebut Putra – Berarti, yang “membebaskan”. Bukan yang mengikat. Seorang putra membebaskan kedua orangtuanya dari belenggu kewajiban duniawi, sehingga mereka dapat berlanjut ke tahap berikut hidup mereka dengan tenang; yaitu sepenuhnya mendedikasikan diri bagi kepentingan masyarakat umum dan penggalian diri.

Sayangnya, pemahaman ini sudah terlupakan. Adanya anak, kemudian cucu, cicit – justru menambah keterikatan, bukan menyelesaikannya. Sebab itu, saat ajal tiba – hanyalah rasa kecewa yang menyelimuti hati, dan kita beraduh-aduh, sepertinya, masih banyak pekerjaan yang belum selesai.

Anak, pekerjaan-pekerjaan duniawi, yang sesungguhnya hanyalah sarana untuk meraih kesadaran diri, kita jadikan tujuan. Sementara itu, tujuan hidup sendiri terlupakan – sedemikian bingungnya diri kita saat ini. Jangan lupa tujuan – penemuan jati diri, hidup berkesadaran 24/7 dalam kasih, saling sayang-menyayangi, saling menghormati, saling peduli – tanpa keterikatan. Penjelasan Bhagavad Gita 2:72 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kedatangan Dewi Kekayaan dan Kepergian Dewi Kemiskinan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on October 16, 2018 by triwidodo

Kisah Dewi Kekayaan dan Dewi Kemiskinan Menemui Seorang Pedagang

Seorang Master bercerita tentang dua dewi cantik jelita yang datang pada seorang pedagang dan memperkenalkan diri sebagai Dewi Kekayaan dan Dewi Kemiskinan. Sang pedagang bertanya, “Apa gerangan yang membawa Bunda-Bunda Dewi ke rumah hamba?” Dewi Kekayaan berkata, “Kami ingin kau menilai dan memberitahu siapa yang lebih cantik dari kita berdua?”

Sang pedagang berada dalam keadaan dilematis. Jika dia menyatakan Dewi Kekayaan lebih cantik daripada Dewi Kemiskinan, maka Dewi Kemiskinan akan mengutuknya, dan dia bisa saja menjadi miskin selamanya. Akan tetapi, jika dia mengatakan Dewi Kemiskinan lebih cantik daripada Dewi Kekayaan, maka Kekayaan akan meninggalkannya dan dia akan hidup miskin. Dengan menarik napas pelan-pelan yang dalam, dan membuang napas juga perlahan-lahan beberapa kali, dia kemudian menjawab, “Wahai Bunda-Bunda Dewi, hamba sangat menghormati Bunda berdua. Semoga Bunda berdua berkenan menuruti permohonan saya, agar saya dapat menilai dengan benar.”

Kedua Dewi setuju, dan sang pedagang berkata, “Wahai Bunda Kekayaan, mohon datang dan masuk ke rumah hamba. Dan, wahai Bunda Kemiskinan, mohon berjalan dari sini ke pintu halaman?” kedua Dewi mengikuti permintaan sang pedagang.

Sang pedagang kemudian berkata, “Bunda Kekayaan, Bunda tampak sangat cantik ketika memasuki rumah hamba. Dan wahai Bunda Kemiskinan, Bunda terlihat sangat cantik saat Bunda meninggalkan rumah hamba!” Kedua Dewi menghargai kejernihan pikiran sang pedagang. Dewi Kekayaan dengan senag hati tinggal di rumah sang pedagang dan Dewi Kemiskinan dengan senang hati pergi dari rumah sang pedagang.

Ketika kita menghadapi masalah, sebaiknya kita tenang, berpikir jernih untuk mencari solusinya.

 

Walau Kaya, Akan Tetapi Seseorang Tetap Mengalami Suka dan Duka

Mungkin sang pedagang tetap kaya menurut ukuran masyarakat. Walaupun demikian bila dia mengharapkan keuntungan yang besar, sedangkan hasilnya hanya keuntungan kecil, dia tetap mengalami duka. Ibarat obat addiktif, seseorang yang teradiksi terhadap kekayaan apabila dosisnya tidak bertambah dia tidak akan merasa nyaman lagi. Pada saat dia memperoleh keuntungan sedikit atau bahkan keruguan sedikit, dia tetap akan mengalami duka.

Juga, Sang Dewi Kekayaan tidak mau serumah dengan Dewi Kemiskinan, apabila Dewi Kemiskinan datang, maka Dewi Kekayaan akan pergi meninggalkan rumah. Sang pedagang tetap merasa terancam dengan kedatangan Dewi Kemiskinan dan hidupnya tidak akan tenang.

Suka dan duka silih berganti, demikianlah kehidupan di dunia. Pertanyaannya, adakah suatu jalan agar kita selalu tenag dan ceria saat Dewi Kekayaan ataupun Dewi Kemiskinan mendatangi kita?

Melampaui Dualitas Suka dan Duka

Seorang Yogi Meraih Kebebasan dari Dualitas baik dan buruk, kedua-duanya merupakan sisi dari satu keping uang logam yang sama. Seperti halnya panas dan dingin, pagi dan sore, siang dan malam. Segala sesuatu dalam dunia ini memiliki oposannya, lawannya.

Selama kita masih berada di dunia ini, kita tidak dapat menghindari interaksi dengan dunia-benda yang bersifatkan dualitas ini. Namun, kita dapat menciptakan sistem filter bagi diri kita sendiri. Kita dapat menguasai diri, sehingga tidak terpengaruh oleh dualitas.

Tidak berarti bahwa seseorang yang sadar, yang telah mencapai pencerahan, tidak akan mengalami pasang surut dalam kehidupannya. Kṛṣṇa hanya ingin mengatakan bahwa ia tidak akan lagi terpengaruh oleh pasang surutnya kehidupan. Apa pun yang terjadi, tidak ada yang dapat memudarkan senyumannya.

Dan jangan lupa kata-kata Kṛṣṇa, berkaryalah secara efisien. Jangan setengah- setengah. Seluruh kesadaran kita dianjurkan terfokus pada apa yang sedang kita lakukan, pada saat ini, pada masa kini, pada pekerjaan itu sendiri, sehingga tidak ada energi yang terbuang. Inilah Yoga. Penjelasan Bhagavad Gita 2:50 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Menjadi Ceria, Tidak Berduka dan Bersikap Sama terhadap Semua

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.” Bhagavad Gita 18:54

Tidak berarti seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi itu meninggalkan pekerjaannya. Tidak. Ia masih tetap berkarya di tengah keramaian pasar dunia, namun terjadi perubahan nyata dalam sikapnya.

PERTAMAI IA MENJADI CERIA — Keceriaan bukanlah cengengesan. Keceriaan bukanlah rasa bahagia yang dibuat-buat. Keceriaan adalah hasil dari kesadaran tertinggi, di mana ia mulai mengapresiasi keindahan jagad-raya. Keceriaannya adalah keceriaan polos, tulus, lugu. Keceriaan seorang yang sedang mengamati dan menikmati warna-warni dunia.

KEDUA: IA TIDAK LAGI BERDUKA – Ini erat kaitannya dengan keceriaan. Jika ia hanya berada dalam keadaan suka, maka ketika keadaan berubah, ia akan berduka.

Keadaan suka, sebab itu, tidaklah sama dengan keceriaan. Keceriaan melampaui suka dan duka. Suka dan duka tergantung pada keadaan di luar diri. Keceriaan adalah sikap hidup yang muncul dari kesadaran diri.

Brahman, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, memiliki tiga sifat utama, yaitu Sad atau Kebenaran Hakiki; Cit atau Kesadaran Murni; dan Ananda atau Kebahagiaan Sejati. Keceriaan bersumber dari ketiganya itu. Namun, secara spesifik, keceriaan adalah ungkapan dari Ananda. Jadi, berasal dari dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri.

KETIGA: IA TIDAK MENGEJAR SESUATU – Ia tetap berkarya, dan berkarya secara efisien. Ia tidak malas, namun, ia berkarya sebagai ungkapan keceriaan dirinya. Ia tidak berkarya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya.

Alangkah baiknya, jika para pemimpin, pengusaha, pendidik, pekerja, kita semua bersemangat dernikian! Sehingga tidak ada urusan sikut-menyikut, tidak ada perlombaan, tidak ada praduga dan prasangka. Semua orang berkarya sepenuh hati sesuai peran serta kapasitasnya. Inilah keadaan yang dapat menciptakan masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam arti kata sebenarnya, sesungguhnya.

KEEMPAT: BERSIKAP SAMA TERHADAP SEMUA – Berarti, tidak pilih kasih. Tidak pandang bulu; tidak tebang pilih. Ia tidak menganggap orang lain rendah karena kepercayaannya beda, rasnya lain, bahasanya beda, dan sebagainya dan seterusnya.

Bersikap sama tidak berarti kita tidak adil. Bersikap sama berarti kita bersikap adil dengan menggunakan tolok ukur dan timbangan yang sama buat semua.

Berarti, kita tidak hanya bersuara lantang ketika seorang pengusaha ditindak karena memperbudak buruhnya, dan membisu seribu bahasa ketika saudara kita sendiri memparbudak staf, atau menipu rekan bisnisnya.

DEMIKJAN, DENGAN DIBEKALI KEEMPAT SIFAT MULIA INI – ketika seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi masih tetap berkarya juga. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia