Mantra dan Bhajan Untuk Mengakses Rasa Terdalam

Kisah Sri Krishna Chaitanya dan Seorang Pencuri

Pada saat kita melakukan ritual dengan membaca doa yang sama berulang-ulang, bisa saja kita melakukan secara mekanis, hanya bibir yang mengucapkan doa tapi mind kita mengembara ke mana-mana. Hanya beda sedikit dengan burung beo yang bicara tanpa menghayati artinya. Lain halnya pada saat kita menyanyikan bhajan/kirtan, kita memuja Ilahi dengan segenap rasa, mind terfokus pada Dia yang Maha Suci. Itulah sebabnya sebabnya bhajan/kirtan di Anand Ashram disebut Ananda Nada Yoga. Ini adalah salah satu cara mengakses rasa terdalam.

Seorang Master mengkisahkan tentang Sri Krishna Chaitanya yang terbiasa menyanyikan kemuliaan Ilahi lewat Kirtan hingga tenggelam dalam kontemplasi. Saat Beliau melakukan Nagarsamkirtan di Navadweep, beberapa tokoh di kota tersebut bergabung  dan menyanyikan kemuliaan Ilahi di sepanjang jalan. Seorang pencuri ikut bergabung mencari kesempatan megambil kantong  uang orang kaya yang tenggelam dalam nyanyian kemuliaan Ilahi. Pada saat Chaitanya duduk menyampaikan wejangan, sang pencuri memegang kaki Chaitanya dan berkata, “Swami telah memberikan wejangan kepada banyak orang. Mohon berikan saya mantra suci.” Chaitanya menatapnya dan berkata, “Katakan padaku  siapa kamu dan apa pekerjaan kamu.” Pencuri itu berkata, “Saya adalah pencuri, menjadi pencuri selama hidup saya. Nama saya Rama, orang memanggilku Rama-si pencuri.”

Chaitanya berkata, “Sayang sekali, saya akan memberikan tapi apa yang akan kamu berikan sebagai Guru Dakshina?” Pencuri itu berkata, “Saya akan memberikan sebagian hasil curian.” Chaitanya berkata, “Saya tidak membutuhkan uang, yang saya inginkan adalah kamu berhenti mencuri.” Pencuri tersebut berkata, “Swami, mencuri adalah profesi saya, bagaimana saya dapat mencari nafkah kalau tidak mempunyai keahlian lain?” Chaitanya berkata, “Aku akan memberikan mantra suci dengan satu syarat, ketika kamu akan mencuri, kamu harus terlebih dahulu mengucapkan mantra suci yang kuberikan 1008 kali dengan penuh perasaan.” Chaitanya memegang tangan si pencuri dan membisikkan ke telinganya, “Om Namo Bhagavate Vasudevaya.” Sebuah sentuhan orang suci adalah berkah yang sangat luar biasa.

Pada suatu hari banyak pemilik rumah yang kaya mengunci rumah mereka untuk mengikuti kirtan dan wejangan Chaitanya. Sang pencuri menggunakan kesempatan untuk masuk ke sebuah rumah, mencari peti dan membukanya yang ternyata berisi banyak pernata dan perhiasan emas lainnya. Dia memutuskan untuk menutup peti, memejamkan matanya dan membaca 1008 kali mantra yang diberikan kepadanya dengan penuh perasaan. Sang pencuri larut dalam pembacaan mantra dan sebelum dia menyelesaikan pembacaan mantra, istri pemilik datang untuk menyimpan perhiasan yang dipakainya ke dalam peti. Dia melihat orang asing membaca mantra suci, “Om Namo Bhagavate Vasudevaya”. Dia berpikir ini pasti orang suci yang hebat. Dia memanggil suaminya dan seluruh keluarga duduk mengelilingi si pencuri yang larut dalam pengucapan mantra. Mereka mengira mungkin saja orang bijak ini juga seperti Chaitanya.

Pencuri itu membuka matanya setelah menyelesaikan pembacaan mantra 1008 kali dan menemukan dirinya dikelilingi orang-orang yang duduk mengelilingi dan menghormatinya. Sang pencuri diajak makan bersama dan diminta mendoakan mereka agar diampuni dari semua kesalahan yang telah mereka perbuat selama kehidupan mereka. Sang pencuri mulai merenung, jika membaca 1 paket mantra memperoleh kehormatan sedemikian tinggi, apa yang akan terjadi jika dia melakukan pembacaan mantra secara rutin setiap hari.

Sang pencuri bersujud di hadapan tuan rumah dan istrinya dan berkata, “Saya adalah pencuri. Biarkan saya pergi ke hutan, saya akan menghabiskan sisa hidup saya untuk menyanyikan mantra dan kirtan.” Semua orang terkejut tetapi semakin menghormati si pencuri.

Berita viral dengan sangat cepatnya, dan mereka serta para tetangga mengantar sang pencuri ke tepi hutan. Beberapa saat kemudian sang pencuri menemui Chaitanya menerima berkah karunia dan menjadi orang suci sungguhan.

Laku Simbolik Memejamkan Mata

Memejamkan mata juga merupakan laku simbolik, dimana Anda menyatakan kemerdekaan diri; dimana Anda memproklamasikan kebebasan diri dari cengkeraman panca indera, pikiran, perasaan, dan sebagainya.

Dengan memejamkan mata, Anda memutuskan untuk tidak memberi makanan kepada lapisan kesadaran pikiran dan perasaan. Sekarang, mereka mesti puas dengan sisa makanan yang ada di dalam. Dengan mata tertutup, tentunya pikiran dan perasaan tetap berjalan. Jelas, karena masih ada sisa makanan di dalam diri Anda. Masih ada keinginan-keinginan, khayalan, impian, dan sebagainya.

Tetapi, setidaknya Anda tidak menyuplai makanan dan minuman baru. Tidak ada fresh supply. Sekarang pikiran dan perasaan tersadarkan bila mereka bukanlah penguasa. Panca indera pun ikut sadar bila mereka tidak lagi berada di bawah kendali pikiran dan perasaan.

Pikiran ingin cepat-cepat membuka mata. Perasaan sudah gelisah dengan kegelapan. Tetapi, kesadaran tetaplah berkuasa. Dan, Anda tidak membuka mata. Anda telah mengirimkan sinyal yang jelas sekali kepada mereka, He, sekarang bukanlah kalian yang berbeda, tetapi kesadaranku yang berkuasa. Dengan mata tertutup, Anda dapat menyelesaikan urusan-urusan di dalam diri, tanpa memikirkan serangan-serangan baru dari luar. Tidak ada lagi pemicu di luar diri yang dapat menambah beban pikiran dan perasaan Anda.

Memejamkan mata berarti Anda sudah berada di dalam rumah, sekarang traffic di luar, lalu-lintas di luar sudah tidak mempengaruhi Anda. Inilah manfaat pemejaman mata.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

 

Pengulangan Mantra Mendekatkan Diri pada Keilahian

Mantra adalah penolong yang membantumu keluar dari setiap persoalan hidup. Setiap pengulangan memberi makna baru, dan makin mendekatkan dirimu dengan Tuhan.

Mantra Bukanlah untuk Memanipulasi. Mantra adalah gabungan dari dua kata, Maanasa atau Mana, dan Trayate. Arti kata maanasa atau mana, yang sering diartikan sebagai ‘pikiran’. Boleh, bisa, namun mana bukanlah sekedar ‘pikiran’ saja. Mengartikan mana sebagai pikiran saja – tidak cukup, belum menyentuh esensinya, intinya.

Dalam Bahasa Sanskerta, ada istilah Manomayakosha, yang mana berarti, ‘lapisan kesadaran yang berfungsi lewat otak’. Segala sesuatu yang menggunakan otak sebagai alat untuk mengungkapkan dirinya. Itulah mana. Jadi, bukan ‘pikiran’ saja, tetapi ‘segala sesuatu’ yang menggunakan otak sebagai alat ekspresi. Dan, fungsi otak kita bukanlah sekadar untuk mengungkapkan dan mengekspresikan pikiran saja.

Perasaan yang sering dikaitkan dengan hati-jantung, ampela, atau apa-dan menjadi subjek maupun objek para penyair, sesungguhnya tetaplah tergantung pada otak. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

 

Mengakses Rasa Terdalam

Bhaava atau Inner Feeling. Rasa Terdalam ini tidak membutuhkan otak. Ini adalah aliran kehidupan, yang justru menghidupi otak.

Buddha mengaitkan bhaava dengan ‘keadaan meditatif’. Ia menyebutnya bhaavanaa. Sekarang, kita sering mengaitkan meditasi dengan kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, keseimbangan emosi, kedamaian jiwa, dan sebagainya. Sah-sah saja, tapi sayang. Ibarat menggunakan computer canggih untuk surat-menyurat saja. Fitur-fitur lain dari computer itu tidak digunakan, bahkan tidak dipelajari. Ada kalanya kita sama sekali tidak tahu-menahu tentang kecanggihan serta kemampuan alat yang kita miliki. Buddha menggunakan inner feeling atau bhaava untuk menelusuri diri, untuk eksplorasi diri, untuk menemukan sesuatu yang tak terjangkau oleh pikiran, maupun alasan semu, yang sangat tergantung pada otak. Dan, ia menemukannya!

Banyak orang, bahkan boleh bilang mayoritas – lahir, hidup, dan mati tanpa mengakses rasa terdalam itu. Persis seperti dalam perumpamaan computer sebelumnya – atau telepon genggam yang canggih, jika kita sudah cukup puas dengan menggunakan fitur-fitur basic saja, ya wis. Tidak perlu mempelajari fitur-fiturnya yang lebih advanced. Sah-sah saja, boleh-boleh saja, silakan hidup di periferi, di lingkar luar. Kehidupan semu pun hidup adanya. Jika sekadar mau hidup, monggo.

Ada orang menjalani hidup dengan mengutamakan raganya saja. Bagi dia makanan adalah segala-galanya. Lihat kanan, lihat kiri, hitung jumlah mall, dan jumlah restoran di setiap mall. Belum lagi warung-warung di pinggir jalan, restoran di hotel-hotel non-bintang dan berbintang, rumah makan mewah dan murah meriah, dan tukang jualan mie dengan gerobaknya. Mayoritas manusia, entah dia tahu atau tidak, sadar atau tidak, mengakuinya atau tidak hidup untuk makan. Ada yang puas dengan sepiring ketoprak, ada yang tidak puas juga dengan steak termahal dengan daging impor. Sambil nonton – makan. Sambil duduk makan, dan sambil jalan makan.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Mengatasi Konflik Pikiran dan Perasaan

Maanasa atau Mana – kaitannya dengan lapisan mental/emosional, dengan pikiran dan perasaan. Ada pula yang hidup dengan mengandalkan pikiran dan perasaan belaka. Bagi mereka pikiran dan perasaan itulah segalanya, otak itu segalanya. Kadang kalau sedang asyik baca buku, seorang kutu buku bisa lupa makan, lupa minum, bahkan lupa tidur… Raga bisa terlupakan karena urusan pikiran…. Dan, pikiran bisa terlupakan karena urusan perasaan. Pikiran menjadi tidak jernih karena kabut lebat perasaan menutupinya.

Pikiran dan perasaan dua-duanya membutuhkan otak sebagai kendaraan. Jadi, tidak heran bila dua-duanya sering bertengkar dan bersaing untuk menguasai otak. Kadang pikiran menang dan menjalankan kendaraan otak, kadang perasan menang dan mengambil alih kendali. Pikiran dan perasaan ibarat dua saudara yang tinggal serumah, dan masih mengharapkan fasilitas dari orang tua mereka. Bayangkan… hanya ada satu mobil, satu kendaraan di rumah itu. Dan, dua-duanya ingin menggunakannya. Dua-duanya punya janji dengan ‘dunia’. Akibatnya, pertengkaran dan persaingan pun tak terhindari.

Bagaimana mengatasi konflik antara pikiran dan perasaan? Bagaimana mempertahankan diri supaya tidak menjadi gila, supaya tidak kehilangan kewarasan? Kembangkan bhava, bhavanaa, inner feeling – rasa terdalam. Rasa terdalam tidak butuh otak. Otak justru membutuhkannya supaya ia bertahan hidup. Ketika rasa terdalam ini berkembang, atau lebih tepatnya, muncul di permukaan sebagai penguasa maka pertikaian antara perasaan dan pikiran berhenti seketika. Persis seperti dua orang pegawai yang sedang bertengkar didatangi oleh majikan mereka. Pertengkaran mereka berhenti. Pertengkaran terjadi karena atasan mereka tidak hadir. Hadirnya atasan mengakhiri pertikaian dan pertengkaran.

Apakah setelah rasa terdalam muncul pikiran dan perasaan beristirahat?  Tidak juga. Mereka tetap bekerja, bahkan bekerja dengan baik, lebih teliti, lebih sigap. Karena sekarang mereka sadar bila sang majikan, sang atasan sedang mengatasi setiap gerak-gerik mereka. Selama rasa terdalam belum muncul, pikiran dan perasaan seolah lepas kendali. Persis seperti dua orang pegawai, atau pembantu yang sedang berpesta pora karena tidak ada yang mengawasi mereka.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: