Kekayaan Lebih Menarik daripada Pencerahan?

Kisah Lakshmi dan Narayana

Dikisahkan oleh seorang Master pada suatu hari Lakshmi, Permaisuri Narayana, Dewi Kekayaan berbicara pada Narayana, “Gusti, mengapa seluruh dunia memuja hamba, bahkan tidak satu dalam sejuta pun memuja Gusti. Mari kita berdua mencari tahu sebabnya dengan turun ke dunia.”

Narayana setuju, Dia mengubah wujud sebagai Pandit yang hebat, mengenakan gelang emas tanda lulusan perguruan terbaik. Memakai karangan bunga penghormatan dari masyarakat dan garis tebal vibhuti di dahi. Dia adalah sarjana terbaik dan mulai mempesona dengan dharma wacana yang menakjubkan. Dia berhasil menarik ribuan orang berkumpul, mendengar dan mengikutinya. Kedatangan Dia selalu menjadi perayaan masyarakat setempat.

Lakshmi muncul di bumi sebagai Yogini, pertapa wanita yang hebat. Dia juga mencerahkan banyak orang di setiap desa yang disinggahinya. Para wanita menjamu makanan setelah Dia melakukan dharma wacana. Lakshmi berkata, bahwa dia harus makan dari peralatannya sendiri. Dia tidak makan dan minum dari dari piring dan gelas biasa. Para wanita menerima hal tersebut dan membiarkan Laksmi mengeluarkan beberapa piring, gelas dan sendok-garpu emas sebagai tempat makanan Beliau. Setelah selesai perjamuan Sang Yogini meninggalkan segala perlengakapan makan minum dari emas dan berkata bahwa dia akan memiliki satu set perlengkapan makan-minum setiap saat.

Demikianlah berita Yogini yang meninggalkan perlengkapan makan-minum dari emas setelah dijamu menjadi viral. Seluruh desa mengharapkan Yogini tersebut datang memberikan dharma wacana dan menjamu Beliau, yang kemudian meninggalkan perlengkapan makan-minum dari emas tersebut. Bahkan sampailah Yogini tersebut pada desa-desa yang pernah dikunjungi Sang Pandit. Sang Yogini berkata agar desa-desa tersebut mengusir Sang Pandit, sebelum Beliau masuk ke desa. Keserakahan penduduk desa membuat mereka mengusir Sang Pandit yang bijaksana demi kedatangan Sang Yogini dengan perlengkapan emasnya.

Sang Pandit keluar desa dan kembali kepapa wujud aslinya sebagai Narayana. Demikian juga Sang Yogini juga keluar desa dan mengubah wujud aslinya sebagai Lakshmi. Mereka berdua kembali ke Istana Vaikunta. Laksmi bertanya, “Gusti, siapakah di antara kita yang lebih dihormati di dunia?” Narayana berkata, “Ya, apa yang kau katakan benar!”

Lebih memilih Yang Nikmat daripada Yang Baik

Bila disuruh memilih antara “yang baik” dan “yang nikmat” biasanya manusia akan memilih “yang nikmat”. Itu sebabnya, seorang anak harus diberi iming-iming kenikmatan permen, “nasinya dihabiskan dulu”, kalau sudah habis, mama berikan permen”. Permen kenikmatan sesungguhnya hanyalah iming-iming. Tidak penting. Yang penting adalah nasi. Bila masih kecil, pemberian iming-iming masih bisa dipahami. Celakanya, kita semua sudah kebablasan. Sudah dewasa, sudah bukan anak-anak lagi, tetapi masih membutuhkan iming-iming “permen kenikmatan”. Kemudian, demi “permen kenikmatan” kita akan melakukan apa saja. Jangankan nasi, batu pun kita makan. Asal mendapatkan permen. Demi “permen kenikmatan”, kita tega mengorbankan kepentingan orang lain. Kita bersedia memanipulasi apa saja. Agama dan kepercayaan akan kita gadaikan bersama suara nurani…… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Obsesi Terhadap Harta

Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion, napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, harta, nama, jabatan tidak akan pernah mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa. Mereka belum punya cinta dalam diri mereka. Dari seks, dari birahi ke cinta dan dari cinta ke kasih, peningkatan kesadaran ini yang dibutuhkan oleh dunia kita saat ini…  dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menghabiskan Hidup dengan Menimbun Harta Benda dan Menghalalkan Segala Cara

“Terbudakkian oleh berbagai macam harapan; dan, terbawa aleh nafsu birahi dan amarah, mereka menghabiskan seluruh hidup untuk menimbun harta benda dengan menghalalkan segala cara demi kenikmatan indra.” Bhagavad Gita 16:12

Segala sesuatu dalam alam benda ini berguna adanya. Dari rumput hingga super komputer tercanggih. Tidak ada yang salah dengan teknologi. Tidak ada yang salah dengan harta benda. Namun, semuanya mesti digunakan sesuai dengan fungsinya.

BERJALAN DI ATAS RUMPUT ADALAH SEHAT. Namun, dari waktu ke waktu, rumput di pekarangan rumah pun mesti disisir, dipotong, dirapikan. Untuk itu, kita membutullkan alat pemotong rumput. Kita tidak bisa menggunakan super komputer. Tidak perlu. Demikian pula dengan harta benda. Berguna, bahkan sangat berguna. Tetapi menimbun harta benda dengan ‘menghalalkan segala cara’ – ini jelas-jelas salah. Silakan menjadi kaya raya, tetapi janganlah di atas penderitaan orang lain.

Selain itu, camkan bahwa harta-benda tidak bisa rnemuaskan Jiwa. Tidak dapat memberinya pengalaman yang sedang dicarinya. Jiwa tidak dapat mengenal hakikat dirinya dengan harta benda.

IBARAT PENGEMUDI MOBIL – Jiwa sedang menuju suatu tempat tertentu. Harta-benda adalah bekal, ibarat bensin dan keperluan-keperluan lain, yang dibutuhkan selama kita masih dalam perjalanan.

Sang Pengemudi tidak pernah puas sebelum ia mencapai tujuannya. Ia menggunakan, memanfaatkan segala bekal yang tersedia. Tetapi semata penggunaan bekal bukanlah tujuannya.

Mereka yang menimbun harta-benda secara berlebihan dan merasa bahwa semua itu dapat membahagiakan diri — ibarat seorang pengemudi mobil yang mengisi seluruh mobilnya dengan jerigen-jerigen bensin. Ada bensin di tangki, sudah full — namun ia tetap tidak puas. Ia memenuhi bagasinya dengan beberapa jerigen bensin. Ia memenuhi kabin dalam dalam mobil setiap jengkal, dengan jerigen bensin. Betapa bodohnya dia! Ia tidak membuluhkan sekian banyak bensin. Malah jerigen-jerigen tersebut bisa membahayakan!

UNTUK APA MENAMBAH BEBAN? Untuk apa membebani peljalanan hidup dengan segala sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkan? Ketika kita sampai di tujuan, jerigen-jerigen bensin yang masih penuh itu tidak berguna lagi. Ketika kita menyadari hakikat diri, selesai sudah perjalanan hidup kita. Goal, Finito! Bahkan kehidupan pun tidak dibutuhkan.

KENDARAAN BADAN HANYA DIBUTUHKAN DALAM PERJALANAN selama kita belum mencapai tujuan. Ketika tujuan sudah tercapai, maka adalah ‘diri’ kita saja yang dapat berternu dengan Sang Raja di dalam Istana Kebahagiaan Sejati, yang menjadi tujuan setiap Jiwa. Adalah Jiwa saja yang bisa mengalami kemanunggalan. Badan tidak bisa. Materi, harta-benda tidak bisa.

Jangankan harta-benda, relasi, kawan, dan kerabat; bahkan, rambu-rambu Ialu lintas yang selama dalam perjalanan kita taati — semua tidak dibutuhkan lagi. Saat Pertemuan Agung dengan Sang Pangeran, Sang Raja, ‘diri’ kita sudah cukup. Sebab itu, kumpulkan hana-benda dan manfaatkan sebagai sarana, sebagai bekal hidup, untuk menjalani hidup. Janganlah menjalani hidup demi mengumpulkannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Jadilah Dhananjaya, Arjuna Penakluk Kebendaan

“Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa, kemanunggalan diri dengan semesta, wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan). Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.” Bhagavad Gita 2:48

Kṛṣṇa mengingatkan Arjuna akan sifatnya. Arjuna bukanlah seorang materialis. Sebab itu, ia mendapat julukan Dhananjaya, Penakluk Kebendaan, Penakluk Harta-Kekayaan, berarti ia telah melampaui benda dan kebendaan, dalam pengertian, ia dapat menikmati dunia-benda tanpa keterikatan, maupun ketergantungan.

Arjuna adalah Calon Kuat untuk menjadi Yogi – Untuk hidup dalam Kesadaran Yoga, yakni hidup dengan penuh kesadaran bila alam benda, bahkan badan sendiri hanyalah ruang main, panggung sandiwara. Bahwasanya, Jiwa berada di ruang ini untuk meraih pengalaman yang dapat memperkayanya – itu saja.

Bukan memperkaya secara materi. Jiwa tidak berkepentingan dengan materi. Kekayaan Jiwa adalah, lagi-lagi, kesadaran diri. Kesadaran bahwa, sesungguhnya ia tak pernah berpisah dari Sang Jiwa Agung. Berbagai pengalaman yang diperolehnya selama “berbadan” hanyalah semata untuk mengukuhkan keyakinannya pada Hakikat-Diri.

Kekayaan seorang Yogi adalah Kesadaran Yoga. Dan, Yoga adalah keseimbangan diri, kebahagiaan sejati. Yoga membuat Anda tidak berjungkat-jungkit antara dua ekstrem, dua kubu suka dan duka. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: