Laku Menghadapi Kematian

Kisah Raja dan Sahabatnya, Si Puncak Kebodohan

Seorang Master berkisah tentang Raja yang telah mengalihkan tanggung-jawab kekuasaannya kepada Menteri dan menghabiskan waktunya dengan santai. Sang Raja mempunyai sahabat pribadi sekaligus sebagai pengawal pribadinya. Sang Raja memanggil sahabat pribadinya dengan sebutan “Avivekasikhamani”, Si Puncak Kebodohan. Sebagai hiburan Sang Raja minta sahabatnya yang bodoh memakai tulisan Avivekasikhamani dari emas yang diikat di dahinya. Semua orang menganggap sahabat Sang Raja sangat bodoh dan tidak pernah didengarkan pandangannya. Sahabat Sang Raja sendiri maklum bahwa dirinya memang bodoh.

Pada suatu ketika Sang Raja jatuh sakit, dan seluruh kerajaan berupaya menyembuhkan Sang Raja dengan mencari tabib dan obat-obatan. Akan tetapi semua upaya gagal dan kesehatan Sang Raja semakin memburuk dan dia sudah sampai di depan pintu kematian. Sang Raja menulis beberapa pesan dan tenggelam dalam kesedihan. Sang Raja sangat takut menghadapi kematian dan tidak bisa memikirkan hal yang lain.

Sang Raja memanggil Avivekasikhamani, Si Puncak Kebodohan dan berbisik, “Saya akan segera pergi, sahabatku!” Si Puncak Kebodohan bertanya, “Apa! Gusti lemah dan tidak bisa berjalan, saya segera akan memesan tandu, mohon tunggu sebentar.” Sang Raja berkata, “Tidak ada tandu yang bisa membawaku ke sana.” Si Puncak Kebodohan menanggapi, “Kalau demikian, saya akan memesan kereta.” Sang Raja berkata, “Kereta juga tidak ada gunanya.” Si Puncak Kebodohan menanggapi, “Kalau demikian, kuda menjadi satu-satunya sarana perjalanan Gusti.” Sang Raja menatap sahabatnya yang tidak ingin dirinya mengalami kesusahan dalam melakukan perjalanan, “Kuda juga tidak akan dapat masuk ke sana.” Si Puncak Kebodohan berkata, “Gusti, aku akan membawamu ke sana.” Sang Raja menjawab, “Sahabat terkasihku, “Bila waktunya tiba, seseorang harus pergi sendirian ke sana.” Si Puncak Kebodohan berkata, “Sangat aneh Gusti! Gusti berkata tidak bisa pakai tandu, kereta, atau kuda dan tidak ada orang yang bisa menemani. Tolong Gusti memberitahu, setidaknya di mana tempat itu.” Sang Raja menjawab, “Saya tidak tahu.”

Si Puncak Kebodohan berpikir lama dan setelah itu mengambil tulisan emas “Avivekasikhamani” dari dahinya dan memasangkannya di dahi Sang Raja. Si Puncak Kebodohan berkata, “Gusti tidak tahu tentang tempat itu, bahkan bagaimana perjalanan menuju ke sana, akan tetapi Gusti tetap akan pergi ke sana. Kalau demikian Gusti juga berhak memperoleh gelar Avivekasikhamani.” Sang Raja tersenyum malu, dan bergumam pada diri sendiri, “Saya telah menyia-nyiakan hidupku dengan makan, minum dan mengejar kesenangan. Tidak pernah berpikir, dari mana saya datang, ke mana saya pergi dan mengapa saya berada di dunia ini. Ya, saya berhak memperoleh gelar Avivekasikhamani, Si Puncak Kebodohan karena telah menyia-nyiakan kehidupan.aku tidak pernah belajar memilah mana hal yang menyenangkan pancaindra dan pikiran dengan hal yang membawa Kebahagiaan Sejati.” Dan Sang Raja menghembuskan napasnya yang terakhir.

Persiapan Apa yang Sudah Dilakukan untuk Perjalanan Menuju Kematian?

Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian?”

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Dunia ini Penuh dengan Orang-Orang Bodoh yang Tidak Tahu Tujuan Hidup

Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa

KENYAMANAN TIDAK SAMA DENGAN KEBAHAGIAAN. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

BERAKTIFITASLAH SEPERTI BIASA—Nikmati segala kenyamanan, namun dengan penuh kesadaran bahwa kenyamanan yang Anda peroleh dari harta benda dan keuasaan tidak sama dengan kebahagiaan. Maka, berjuanglah pula untuk meraih kebahagiaan sejati dengan cara “mengenal diri”—mengenal Hakikat Diri, Hakikat Jiwa, hubungan Jiwa dengan Jiwa-Jiwa lain, hubungan Jiwa-Jiwa dengan sang Jiwa Agung.

Kembangkan sifat panembahan, belajarlah, biasakanlah diri untuk berbagi berkah. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati. Jangan menjadi bodoh, jangan terbawa oleh Maya! Lewati Maya, gunakan Maya untuk menembusnya, gunakan harta-benda dan kekuasaan untuk berbagi berkah! Di balik tirai Maya adalah Mayapati—the Lord of Maya—Sang Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Tujuan Hidup adalah Ananda (Kebahagiaan Sejati)

HIDUP BUKANLAH mengembangkan otak, mengumpulkan harta, ataupun beranak pinak. Tujuan hidup bukanlah sekadar menjalani profesi kita masing-masing, semulia apa pun profesi itu. Semua itu hanyalah sarana penunjang. Bukan tujuan. Sementara itu, badan, pikiran, perasaan, indra, intelek — semuanya adalah bagian dari wahana yang diperuntukkan bagi Jiwa.

Ya, kita butuh uang untuk membeli bensin dan merawat kendaraan. Tapi, uang bukanlah tujuan hidup. Kendaraan pun tidak dibuat untuk bensin. Bensin dibutuhkan untuk menjalankan kendaraan, bukan sebaliknya.

…………..

TUJUAN HIDUP ADALAH Kebahagiaan Sejati yang hanyalah diraih ketika kita sadar akan jati diri kita. Inilah “kesempurnaan-diri” yang dimaksud oleh Krsna. Untuk itu, kita mesti “bermain dengan apik”. Mengisi kendaraan badan kita dengan bensin, minyak, dan air secukupnya. Tidak perlu sampai meluber dan bertumpah-tumpah.

Di atas segalanya, setelah memeriksa kendaraan, setelah memahami perbedaan dan hubungan antara ksetra dan ksetrajna — antara badan, pikiran, perasaan, indra, dunia benda, Jiwa, dan Sang Jiwa Agung—berjalanlah menuju tujuan hidup, menuju kesempurnaan diri, dan meraih kebahagiaan sejati. Penjelasan Bhagavad Gita 15:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kesadaran Jiwa: Adalah Ia Hyang Kekal Abadi yang Menempati Wujud Kita

“Ketahuilah bahwa Hyang Meliputi alam semesta adalah Tak Termusnahkan. Tiada seorang pun yang dapat memusnahkan Ia Hyang Tak Termusnahkan.” Bhagavad Gita 2:17

“Ia Hyang Kekal Abadi, Tak Termusnahkan, dan Tak Terukur (Kemuliaan, Keagungan, dan Kekuasaan-Nya) itulah yang menempati wujud manusia dan wujud makhluk-makhluk lainnya. Maka, wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), bertempurlah, hadapi tantangan ini!” Bhagavad Gita 2:18

“Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan yang menganggapnya terbunuh—kedua-duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.” Bhagavad Gita 2:19

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Bhagavad Gita 2:20

“Seseorang yang mengetahui hal ini; mengenal dirinya sebagai yang tak termusnahkan, tak-terlahirkan, dan tidak pernah punah, bagaimana pula iadapat terbunuh, wahai Partha (Putra Prtha – sebutan bagi Kunti, ibu Arjuna)? Dan, bagaimana pula ia dapat membunuh?” Bhagavad Gita 2:21

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” Bhagavad Gita 2:22

Yang tidak termusnahkan itu Tuhan tapi sel-sel badan kita sedang termusnahkan. Tuhan tidak terganggu oleh itu. Nanti kita mati pun Tuhan tidak terganggu. Yang terganggu siapa? Kita semua akan mati. Tapi kita mau mati dengan senyuman atau mati dengan aduh aduh, kesakitan itu di tangan kita. Kita bisa menentukan.

Silakan ikuti Video Youtube Bhagavad Gita Percakapan 2 15-27 Menghadapi Kematian & Keabadian Jiwa oleh Bapak Anand Krishna

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: