Menolak Hukum Gravitasi dan Hukum Karma, Itulah Takdir Manusia

Kisah Konperensi Hewan-Hewan di Hutan

Seorang Master berkisah tentang seekor Rubah cerdik yang berpikir, “Mengapa manusia dianggap lebih tinggi derajatnya dibanding hewan. Bukankah manusia memiliki emosi dan nafsu, ada yang berkualitas baik dan berkualitas buruk?” si Rubah pergi ke sarang Singa. Rubah berkata, “Wahai Raja Hutan, manusia adalah makhluk yang kuat dan meng-klaim kedaulatan atas seluruh ciptaan. Saya tidak bisa menolerasi arogansi manusia yang merasa superior dibanding hewan, bisakah kita membangun superioritas hewan? Kita harus melakukan sesuatu!” Singa setuju dan akhirnya diadakan konperensi bagi semua hewan di hutan. Temanya keuntungan dan kerugian manusia dan hewan. Sebagai pemimpin konperensi dipilih ditunjuk seorang bijak yang telah lama bertapa di hutan. Sebagai teman baik manusia dan hewan, dia tidak akan pilih kasih, berat sebelah, fair.

Rubah segera melaksanakan seluruh rencana konperensi dan ditunjuk sebagai Sekretaris Konperensi. Rubah membuka konperensi dan menyampaikan 4 poin utama yang harus dibahas:

  1. Manusia dan juga hewan dilahirkan dari rahim induknya, mengapa yang satu disebut manusia sedangkan kita disebut hewan? Seharusnya diperlakukan sama.
  2. Ada anggapan manusia disebut bijak, sedangkan hewan itu bodoh. Kita tidak bisa menerima penghinaan dan stigma tanpa dasar ini.
  3. Dikatakan manusia diberkati mempunyai kemampuan bicara. Tapi manusia hanya menyalahgunakan berkat ini. Meskipun hewan dianggap bodoh, kita dapat mencari makanan, tempat berlindung dan bahagia bersama anak-anak kita. Manusia bukan makhluk superior.
  4. Kita makhluk hewan dikatakan buas dan manusia baik dan penuh kasih sayang. Sebenarnya kita lebih baik dan penuh perhatian daripada manusia. Kita harus menyanggah tuduhan ini.

Setelah Rubah kembali ke tempat duduknya, Singa maju ke podium dan berkata, “Saya sepenuhnya menyetujui semua poin. Saya tidak menganggap manusia lebih superior dibanding kita. Meskipun saya raja hutan, saya tidak menikmati ketidakadilan dan korupsi.  Saya tidak akan membunuh hewan apa pun kecuali saya sedang lapar.”

Giliran selanjutnya Gajah menyampaikan, “Perawakan dan kekuatan saya jauh lebih unggul dari manusia. Mengenai kesucian sejak zaman dahulu, saya selalu disebut, karena menyebut saya mendatangkan manfaat. Para orang saleh mengalungkan bunga ke leher saya. Bagaimana manusia merasa lebih tinggi dari kita?”

Selanjutnya Anjing menyampaikan pendapat, “Dalam hal kualitas cinta dan kesetiaan bisakah manusia lebih unggul daripada Anjing? Manusia memperlakukan Anjing sebagai anggota keluarganya karena sifat langka ini. Bagaimana dengan manusia? Mereka tidak memiliki rasa bersyukur. Mereka tetap memberikan pada Anjing sisa makanan mereka. Kepada majikannya sendiri manusia tidak berterima kasih. Dalam kualitas ini kita lebih unggul daripada manusia.”

Sekarang Orang Bijak yang ditunjuk sebagai Ketua Konperensi diminta memberikan kesimpulannya terhadap materi yang disengketakan. Orang Bijak tersebut, berkata, “Sahabat-sahabatku, apa yang dikatakan Anjing itu benar. Manusia sering tidak konsisten. Dalam hal makan minum dan melakukan seks tidak ada perbedaan antara manusia dan hewan. Tapi ada satu perbedaan mendasar. Hewan-hewan tidak dapat mengubah diri mereka sendiri. Sementara manusia bisa mengubah dirinya lewat pendidikan, pergaulan dan meniru. Para hewan bahkan tidak dapat mengubah kebiasaan makan mereka.”

Rubah menyela, Tidakkah Anda berpikir bahwa tidak semua manusia dapat mengubah dirinya?” Sang Bijak berkata, “Orang yang tidak bisa mengubah diri mereka sendiri lebih buruk dari hewan.” Semua bertepuk tangan dengan meriah.

Orang bijak itu melanjutkan, “Manusia mempunyai kelebihan lain, dia dapat memilah.” Rubah menyela, “Tapi manusia membuat perilaku buruk. Mereka menghabiskan waktu, bakat, daya dan uang untuk mengumpulkan harta-benda.” Orang Bijak itu melanjutkan, “Anda juga perlu diberitahu tentang perbedaan lainnya. Manusia dapat menaklukkan ilusi. Ia dapat mencapai keabadian. Dengan menyingkirkan ilusi, dapat mencapai atma, manusia dapat mengalami Tuhan. Mengapa Anda tidak mengakui keterbatasan hewan? Manusia telah mengalahkan hukum karma, menolak keterikatan pada gravitasi dengan mengalami evolusi. Manusia pernah menjadi berbagai hewan dalam waktu jutaan tahun.”

Para hewan sadar  dan bertanya, “Wahai Yang Bijak, Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa semua manusia dapat mengalami Tuhan, mencapai kebebasan?” Sang Bijak menjawab, “Tidak. Tidak semuanya mencapai ‘kebebasan’ itu. Aku datang ke hutan hanya untuk menjadi temanmu dan membuktikan diriku adalah Manusia Sejati.”

Intelijensia Hewan Masih Sangat Rendah

Intelenjensia binatang masih sangat rendah. la baru mampu memahami, “apa” yang harus dimakannya, apa yang tidak; “siapa” yang harus dikawininya, siapa tidak. Dan, pilihan mereka masih sederhana sekali, antara jantan dan betina. Seekor binatang jantan mencari betina, dan betina mencari jantan. Kriterianya hanya satu: Lawan Jenis, itu saja.

…………….

Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita.

Manusia juga merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi ini dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu, sekarang pun sama. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus.

Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia.

Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Lampaui Gravitasi, Lampaui Hukum Karma! Itulah Takdirmu!

Kebangkitan spiritual adalah membumi, tapi dia tidak harus lewat berbagai program seperti grounding, earthing, dan berbagai program seperti saat ini. Grounding menjadi kata-kata yang biasa saat ini, seseorang menciptakan kata lain, earthing.

Adalah memakan waktu jutaan tahun, dari amuba menjadi human being, makhluk manusia dan berdiri pada kedua kaki kita. Ini menjelaskan tentang apa? Kita telah menantang, menolak hukum gravitasi. Semua dari kita, telah menolak hukum gravitasi. Itulah takdir kita.

Kalau kita grounded, membumi kita akan menjadi kaki empat yang menapak bumi lagi. Itu telah menjadi grounded. Menjadi membumi adalah merangkak seperti hewan. Bangkit dari takdirmu, tergantung pada kemanusiaanmu. Kamu harus melawan gravitasi. Melawan gravitasi berarti melampaui hukum karma. Sepanjang kau grounded, earthed, kamu tidak menolak hukum gravitasi. Kamu terikat dengan hukum karma. Aksi-Reaksi. Semua program grounding, earthing hanya akan membuat kamu terikat dengan hukum karma. Lawan, tolak hukum karma.

Banyak orang belajar tentang hukum karma dan reinkarnasi dengan harapan kehidupan kita berikutnya akan lebih baik. Tapi itu bukan tentang reinkarnasi, tentang Hukum karma. Reinkarnasi dan hukum karma adalah pergi ke next level. Tolak, dapatkan lebih dari itu, dan lakukan hal yang lain. Pergi ke next level. Jangan hanya terikat dengan hukum karma. Terikat dengan sistem bumi. Pergi lampaui galaxy dan kerjakan hal lain.

Sumber: Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna: Spiritual Awakening, A Discourse on Pain Waves, Animal Slaughter, Eartquakes, Grounding, Earthing, Law of Karma

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: