Archive for November, 2018

Hati-Hati Kata-Kata Kita Tidak Pernah Mati, Akshara Milik Semesta

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 29, 2018 by triwidodo

Kisah Seorang Guru dan Pejabat Desa

Seorang Master berkisah tentang Guru yang sedang mengajar 10 muridnya dan kedatangan seorang Pejabat, tokoh masyarakat desa yang berpengaruh. Sang Guru yang sedang asyik mengajar sehingga tidak menghentikan pelajaran untuk menemui Sang Pejabat.

Sang Pejabat merasa tersinggung, langsung masuk kelas dan berkata, “Apa yang kaulakukan? Mengapa tidak datang menemuiku?”

Sang Guru menjawab, “Saya sedang mengajar anak-anak tentang kebaikan.”

Sang Pejabat berkata dengan ketus, “Kau sedang mengajar kebaikan, apakah kata-kata tentang kebaikan dapat membuat anak-anak menjadi lebih suci?”

Sang Guru menjawab, “Ya tentu saja, selalu saja ada kemungkinan mereka berubah karena kata-kata saya.”

Sang Pejabat berkata, “Saya tidak mempercayainya.”

Sang Guru menjawab, “Bila Tuan tidak dapat mempercayainya, artinya Tuan tidak punya keyakinan. Itulah sebabnya saya tidak dapat menghentikan pengajaran  kebaikan terhadap anak-anak.”

Sang Tamu mengajak berdebat bahwa tidak mungkin kata-kata dapat mengubah pikiran seseorang. Sang Guru kemudian berkata kepada murid terkecil, “Muridku, segera pegang leher tamu ini dan menyeretnya keluar dari kelas!”

Sang Pejabat langsung marah, mukanya merah, matanya melotot. Dengan tenang Sang Guru bertanya, “Mengapa Tuan marah? Saya tidak memukul Tuan, tidak mengusir Tuan, saya hanya mengucapkan kata-kata kepada murid  saya. Tetapi Tuan berubah karena mendengar kata-kata saya. Terbukti kata-kata dapat mengubah seseorang.”

 

“Kata-kata dapat menyejukkan hati atau membakar hati. Dan, kata-kata, aksara atau akshara-tidak pernah punah. la tidak mengenal kshara atau kepunahan. Setiap kata yang terucap oleh kita akan kembali ke kita. Sebab itu, berhati-hatilah selalu dalam menggunakan kata-kata. Fitnah yang kita lontarkan akan kembali kepada kita. Kebohongan yang kita sebarkan akan kembali pula kepada kita. Kepalsuan yang kita percayai menjadi kepercayaan kita. ABC , Always Be Careful!” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita Rela Membunuh dan Dibunuh Karena “Kata tentang Tuhan” bukan Karena Tuhan

Energi tidak pernah mati. Termasuk setiap kata yang tertulis dan terucap oleh manusia. Semuanya menjadi bagian dari semesta. Persis seperti simbol, bila sebuah kata dengan makna tertentu sering digunakan, maka ia memperoleh kekuatan dari para peggunanya. Dan, dalam jangka waktu tertentu, dapat mempengaruhi pola pikir umat manusia secara keseluruhan.

Rasa yang timbul dari penggunaan sebuah kata juga menjadi milik semesta, misalnya kata “sialan”, rasa yang muncul dalam diri saya sebagai orang yang mengucapkannya dan rasa yang timbul dalam diri anda sebagai pendengarnya, dua-duanya terekam. Dalam hal ini, barangkali perasaan kita mirip. Siapa yang suka dikomentari “sialan”? Perasaan kita kemungkinan besar sama, “tidak enak”.

Tetapi, untuk kata lain seperti “fuck you” perasaan kita sangat tergantung pada “konteks” di mana kata itu terucap, dan oleh siapa. Bila seorang teman sedang bergurau dan mengucapkan kata itu, barangkali kita “tergelitik”, kita tidak keberatan. Tetapi, bila seorang lawan mengucapkannya karena gusar terhadap diri kita, maka perasaan kita sudah pasti beda. Sebab itu, ada pula kata-kata yang secara universal memiliki lebih dari satu makna, tergantung “pola ucapan”-nya.

Setiap kata memiliki aura, memiliki medan energi sendiri. Setiap kata memiliki kekuatan. Apa arti sebuah nama, tanya seorang pujangga Inggris. Nama justru memberi arti. Kekuatan Maha Tinggi yang kita sebut God, Allah, Tuhan, Gusti, Widhi, Tao, Buddha, Satnaam, atau apa saja, menjadi sebuah kata yang paling kuat sepanjang sejarah umat manusia. Kita rela dibunuh dan membunuh karena sebuah kata, God. Ya, karena sebuah kata. Bukan karena God. God mana, Tuhan mana yang perlu dibela sehingga manusia harus saling membunuh? Bila Ia adalah Kekuatan Tertinggi, maka jelas tidak membutuhkan pembelaan dari kita yang sangat lemah. Sesungguhnya kita tidak pernah tahu God itu apa.

Hingga akhir zaman pun kita tak akan mampu mendefinisikan Tuhan secara tepat, karena Ia berada di luar segala pemahaman, ia melampaui pikiran manusia. Para teroris pun sesungguhnya tidak bisa melakukan pembunuhan massal demi Tuhan. Mereka melakukan kekerasan demi “makna” yang mereka berikan pada “sebuah kata”, Tuhan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Akshara, Kata-Kata Adalah Energi Yang Tidak Pernah Punah

Bagi rakyat Nusantara, kata-kata adalah aksara – berasal dari Sansekerta akshara, yang berarti “yang selalu bergetar”. Kata-kata adalah energi, dan energi tidak hilang. Energi dapat berubah bentuk, tetapi tidak hilang.

Kata-kata yang diujarkan dalam berbagai bahasa tak lain tak bukan merupakan bungkus dari suatu makna. Bungkus ini dapat berganti tetapi makna di balik nya tidak. Apakah air disebut water dalam Bahasa Inggris, cai dalam Sunda, banyu dalam Jawa, atau tirtha dalam Bali – maknanya sama.

Oleh karena itu, kata-kata bukan untuk main-mainan. Kata-kata tidak untuk digunakan secara sembarangan. Orang harus mengekspresikannya dengan hati-hati, karena setiap kata yang diujarkan bergetar untuk selamanya. Mereka mewujud dalam panjang gelombang dan frekuensi yang sama selama waktu ada.

Kata-kata dan Getaran

Dengan kata lain, seribu, sepuluh ribu, atau sejuta tahun dari sekarang – seseorang yang bergetar pada panjang gelombang yang sama, atau frekuensi yang sama dengan yang saya ujarkan – dapat tetap mengakses/merasakan setiap kata yang terujar – atau, bisa juga “makna” kata-kata tersebut, dan “nuansa”, “emosi” yang terkandung dalam kata-kata tersebut.

Apa yang terjadi adalah jika saya menggunakan kata “marah” tanpa merasa marah, seseorang yang mengaksesnya sejuta tahun yang akan datang hanya akan mengakses makna kata. Orang itu tidak akan merasakan nuansa kemarahan.

Di sisi lain, jika saya mengujarkan kata “tenang” dengan ekspresi benci, maka nuansa hati tersebut, emosi kebenciannya akan dirasakan. Berat ringannya nuansa yang diekspresikan dapat mengurangi makna kata atau bahkan menghilangkannya sama sekali, sementara nuansanyalah yang tetap dirasakan. Sumber: (Krishna, Anand. (2012). The Wisdom of Sundaland. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bukan Ada Suara di Ruang Angkasa, Tapi Ruang Angkasa Terdiri Dari Suara

VEDA ATAU SUMBER PENGETAHUAN SEJATI juga memiliki “wujud” sebagai tulisan, kitab, atau sebagai rekaman di zaman modern ini. Namun inti dari seluruh pengetahuan, adalah Sabda Awal, “AUM”. Tanpa Sabda Awal ini – yang berada di balik big bang – tidak ada penciptaan. Tidak ada kehidupan

Dari Sabda Awal ini tercipta eter, substansi ruang angkasa – ruang yang “tampak” kosong yang menaungi sekian banyak varian Aum, dan setiap varian “membentuk”, menjadi  galaksi-galaksi yang tak terhitung jumlahnya. Para ilmuwan antariksa, para astronom membenarkan bahwa ruang angkasa memang “terdiri dari suara” – jadi bukannya “ada suara dalam ruang angkasa”, tapi dari suara inilah muncul ruang angkasa.

Para ilmuwan modern menyimpulkan bahwa…….

SUARA YANG TERDENGAR DARI MATAHARI adalah varian Aum yang paling dekat dengan “versi” ucapan manusia. Cahaya matahari adalah kurir bagi suara halus Aum yang menggetarkan seluruh sistem kita dan menggerakkan kita. Tanpa adanya suara ini, cahaya saja tidak cukup untuk menghidupi bumi ini. Cahaya tanpa Sabda Aum ibarat amplop kosong tanpa surat.

Tentunya, hingga hari ini pun para ilmuwan belum bisa menerima bagaimana cahaya bisa menjadi kurir bagi suara – karena kecepatan mereka berbeda. Mereka masih butuh waktu untuk memahami hal ini, untuk memahami sifat suara yang sesungguhnya. Suara bisa berubah-ubah kecepatan, setiap perubahan itu meningkatkan atau merendahkan frekuensinya. Ketika masih berada dalam “range” yang terdeteksi oleh sains, maka kecepatan suara memang lebih rendah dari kecepatan cahaya. Tapi “range” yang dipahami oleh ilmuwan modern  itu baru “sebagian” dari range suara sejati.

Para resi atau para nabi yang “menerima wahyu” atau sruti – “mendengar” – dapat menggapai range suara yang tak tergapai oleh kita. Berada dalam range tersebut , mereka mendengarkan dan melihat apa yang tidak terdengar dan terlihat oleh kita. Penjelasan Bhagavad Gita 7:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Mewaspadai Keinginan dan Keserakahan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 27, 2018 by triwidodo

Kisah Pemuda yang Terbelit Beban Akibat Ulahnya Sendiri

Sorang Master berkisah tentang kejadian seorang pemuda yang datang kepadanya. Dia datang menghadap Sang Master mohon dapat lulus ujian pendidikan dan mendapatkan nilai cumlaude. Sang Master memberikan restu dan berkata yang penting ada upaya dan hasil akan sesuai dengan Kehendak Tuhan.

Setelah lulus sang pemuda mohon doa restu agar memperoleh pekerjaan. Dalam waktu 1 bulan dia telah memperoleh pekerjaan.

Setelah beberapa bulan, dia datang dengan mmenyampaikan bahwa dia sudah bekerja dan bahagia dan ingin menikahi gadis juru ketik di kantornya. Sang Master mengatakan bahwa dia harus minta izin kedua orangtuanya sendiri. Akan tetapi dia cenderung tidak mendengarkan Sang Master, bahkan apabila kedua orangtuanya tidak setuju dia akan nekat menikahi gadis tersebut.

Setelah satu tahun dia mengajak istrinya menghadap Sang Master mohon restu agar dikaruniai seorang putra.

Setelah punya anak, dia datang kepada Sang Master mohon doa restu agar memperoleh promosi, karena beban keluarga sudah semakin membesar, istri sudah tidak bekerja lagi.

Dengan keberuntungannya dia memperoleh promosi dan tidak muncul ke hadapan Sang Master selama 5 tahun.

Ketika dia menghadap Sang Master, dia mengatakan bahwa dia sudah punya anak 4 anak dan mengatakan sudah jenuh dengan segala keruwetan berkeluarga. Biaya hidup, urusan keluarga, urusan kantor membuatnya stress. Dia ingin tinggal di Ashram melakukan pekerjaan apa saja dan meninggalkan beban kehidupan keluarganya. Dia mengatakan bahwa dia sekarang seperti telah dibelit oleh seekor ular besar dan susah bernapas.

Sang Master berkata, apakah dia yang ditangkap ular atau dia sendiri yang mendatangi ular agar ditangkap dan dibelitnya?

Seandainya sang pemuda sadar sejak awal, maka dia hanya punya keterikatan dengan kedua orangtuanya dan beberapa orang lainnya. Dengan masuk Ashram, keterikatan dengan beberapa orang tersebut sedikit demi sedikit bisa dilampauinya. Sekarang dia sudah menambah keterikatan dengan istri, 4 anak, mertua, saudara ipar serta beberapa kolega di kantor. Tindakan apa pun yang sudah dilakukannya mempunyai konsekuensi dan dia harus menerima hasil dari sebab-akibat yang dilakukannya sendiri.

 

Keinginan dan Keserakahan Penyebab Jatuhnya Jiwa

“Keinginan, amarah, dan keserakahan – inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganya.” Bhagavad Gita 16:21

NERAKA ADALAH SUATU KEADAAN saat Jiwa lupa akan hakikat dirinya. Dan sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengan dunia benda. Neraka adalah keadaan ilusif di mana gugusan pikiran dan perasaan berkuasa, hawa nafsu berkuasa, dan Jiwa diperbudak olehnya.

Neraka adalah keadaan saat Jiwa tidak percaya diri, tetapi memercayai kendaraan badan, wahana indra, kereta gugusan pikiran dan perasaan yang semuanya, sebenamya hanyalah sarana, alat pelengkap — bukan jati diri. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 Pertimbangkan Masak-Masak Sebelum Bertindak

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), terbebaskan dari ketiga pintu neraka ini, seseorang yang berupaya untuk meraih keselamatan, niscaya meraihnya; bahkan mencapai Kesadaran Jiwa, yang adalah Keadaan Tertinggi atau Param Gati. ” Bhagavad Gita 16:22

Hindarilah terlebih dahulu, ketiga pintu neraka tersebut – setelah itu, keselamatan, kesadaran-diri, keadaan tertinggi, kebahagiaan sejati – semuanya menyusul dengan sendiri.

BANYAK PENCARI GAGAL dalam upaya mereka, karena mereka mencari, mengejar keselamatan sebelum melakukan pembenahan dan pembersihan diri.

Sebelum mengarungi lautan kehidupan, persiapkanlah diri kita. Pertama, kita mesti bisa berenang atau memiliki perahu, entah kita mendayungnya sendiri atau ikut seorang nakhoda menjadi penumpang kapal besar.

Kedua, kita pun mesti tahu tujuan kita apa, mau ke mana. Mengarungi samudra kehidupan untuk apa? Ketiga, apakah kita punya kompas? Tahu arah? Semuanya itu penting. Tanpa persiapan yang matang, kita tak akan berhasil mengarungi samudra kehidupan. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Hubungan Dengan 20 Orang Terdekat

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna disampaikan tentang hubungan keterikatan dengan keluarga:

“Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Sumber: video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda. Oleh karena itu jangan membuat karma buruk!

 

Tidak Meninggalkan Keluarga Tapi Melayani Tanpa Keterikatan

“Dengan sepenuhnya membebaskan diri dari keterikatan, rasa takut dan amarah; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, sepenuhnya berlindung pada-Ku; serta menyucikan diri dengan tapa, laku spiritual untuk mengetahui Hakikat-Diri; banyak yang telah mencapai kesadaran-Ku dan manunggal dengan-Ku.” Bhagavad Gita 4:10

Tidak henti-hentinya Krsna mengingatkan kita bahwa kesadaran tertinggi bukanlah rnonopoli diri-Nya.

SIAPA SAJA BISA MENCAPAI-NYA, asal kita berupaya dengan sungguh-sungguh. Yaitu, dengan cara membebaskan diri dari keterikatan. Tidak berhenti bekerja, tapi bekerja tanpa pamrih. Tidak meninggalkan keluarga, tetapi mencintai dan melayaninya tanpa keterikatan. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Soulmate, Sahabat Tak Terpisahkan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 26, 2018 by triwidodo

Kisah Sahabat Terbaik Yang Setia Mendampingi Kita

Seorang Master berkisah tentang pertemanan zaman sekarang. Dikisahkan seseorang yang mempunyai 3 teman istimewa. Dia selalu memperhatikan dan melayani ketiga temannya. Pada suatu ketika, dia harus menghadapi pengadilan sebagai akibat dari kesalahan tindakannya.

Dia pergi ke teman pertama minta bantuannya. Teman pertama mengatakan bahwa dirinya tidak mau dikait-kaitkan dengan kejahatan yang dilakukan olehnya. Dia menolak menjadi saksi ahli yang meringankannya.

Teman kedua didatangi dan diminta bantuannya. Teman kedua mengatakan bahwa dia akan mengantarkan dia sampai ke gedung pengadilan, akan tetapi dia tidak mau menjadi saksi yang dapat memperingan tuntutannya.

Adalah teman ketiga yang ketika diminta bantuannya segera menanggapi, “Ya, masalahmu adalah adalah masalah saya. Saya akan membantu dengan cara apa pun.” Teman ketiga adalah teman terbaik.

Kita juga memiliki 3 teman seperti demikian dalam kehidupan kita. Pada saat menjelang kematian datang menjemput, kita masih memiliki 3 teman tersebut. Teman pertama, harta kekayaan dan kedudukan kita tidak akan menemani kita. Teman kedua, rekan dan keluarga kita akan datang ke pemakaman atau upacara kremasi tubuh kita, tapi akan kembali ke rumah mereka. Hanya tindakan baik dan tindakan buruk kita yang akan menemani kita.

Kelahiran kita berikutnya akan diprogram sesuai dengan perbuatan yang telah kita lakukan. Agar kita tetap baik, kita harus menjaga dharma (kebenaran) yang bersifat sanatana (abadi), sedangkan segala sesuatu termasuk tubuh kita dapat berubah membusuk dan mati.

 

Tidak Membawa Harta dan Kedudukan ke Alam Sana

Apa yang terjadi bila aku meninggal? Rumahku yang mewah, kendaraanku, tabunganku, usahaku—semoga anak-anakku dapat merawat, memelihara, memperbanyak. Dalam keadaan sekarat pun pikiran seperti itu yang muncul. Harta, uang, fulus… sepanjang umur itu saja yang kita pikirkan. Saat mati pun pikiran yang sama yang muncul. Bila harta kekayaanmu dapat membahagiakan dirimu, kenapa kau begitu sedih saat meninggalkannya? Kenapa tidak membawanya ke alam sana? Tidak bisa kan? Lalu apa arti tabunganmu selama ini? Masih untung bila kau sempat menikmati harta itu semasa hidupmu. Masih untung bila kau sempat hidup nyaman dengan apayang kau miliki…. Silakan menabung. Silakan beli properti, silakan berinvestasi. Asal tahu bahwa semua itu tidak membahagiakan. Tidak ada kebahagiaan yang dapat kau peroleh dari semua itu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sahabat Atau Perekat Dunia?

Hubungan kita dengan dunia saat kelahiran sangat minim. Satu-satunya hubungan penting saat itu hanyalah hubungan dengan ibu, atau dengan siapa saja yang berperan sebagai ibu. Perekat kita dengan dunia saat itu hanyalah kasih ibu. Kemudian kita menambah perekat-perekat baru. Akhirnya terperangkap oleh perekat-perekat ciptaan kita sendiri. Adakah kebenaran di balik perekat-perekat ini? Adakah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berarti, bermakna di balik hubungan –hubungan kita yang semu? Orang tua bisa wafat, pasangan hidup bisa menceraikan, anak dan saudara bisa pisah rumah.kawan bisa berubah menjadi lawan. Is there anything more to life? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Jalan Keluar Dari Keterikatan

Lewat bait ini Shankara menawarkan solusi. Ia menunjukkan jalan keluar dari keterikatan. Lagi-lagi ia tidak menasihati Anda untuk meninggalkan pasangan hidup, anak dan keluarga. Ia hanya mengajak Anda untuk melihat kebenaran di balik hubungan-hubungan itu. Shankara mengajak kita untuk melakukan Tattvam Chintaya.. “Contemplate on the Essence”, kata dia. Coba perhatikan hakikat. Di balik hubungan kita dengan dunia masih ada hubungan lain, yaitu hubungan kita dengan Ia yang Menghadirkan Dunia ini—hubungan inti dengan Dia yang berada di balik semua hubungan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berada di Tengah Dunia Benda Tapi Tanpa Keterikatan

“Dalam diri seorang yang senantiasa memikirkan objek-objek di luar yang memikat indra – timbullah ketertarikan, keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan, keterikatan timbul keinginan untuk memiliki objek-objek tersebut. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).” Bhagavad Gita 2:62

Keterlibatan Berlebihan menimbulkan Ketertarikan – Anda bertemu dengan seseorang setiap hari. Ada urusan, tidak ada urusan – tetap bertemu. Maka, kemungkinannya dua, Anda bertengkar, atau makin tertarik, makin ingin bertemu.

Dari ketertarikan itulah timbul keterikatan. Anda mulai merasakan dunia Anda hampa tanpa orang tersebut. Hidup terasa tidak berarti tanpa sesuatu yang telah merangsang Anda, mungkin kendaraan, mungkin rumah, mungkin gadget elektronik terbaru – apa saja.

Muncul keinginan untuk memiliki – inilah induk dari keterikatan. Jika Anda tidak berhasil memiliki apa yang Anda inginkan, maka timbul rasa kecewa, dan dari rasa kecewa, timbul amarah.

Kemungkinan Ketiga – Netral – Ya, dan kemungkinan itu adalah hasil meditasi. Biasanya, kita menafsirkan ketidaksukaan atau ketidakterikatan kita sebagai “sikap netral”. Itu jelas salah.

Tidak suka dan tidak tertarik tidak sama dengan sikap netral. Sikap netral adalah bukan karena ketidaksukaan dan ketidaktertarikan, tetapi karena kesadaran. Anda bersikap netral terhadap Dunia Benda, ketika Anda sadar akan sifat kebendaan yang tidak permanen dan berubah terus.

Anda tetap menggunakan benda, tetap berada di tengah dunia benda, tapi tanpa keterikatan – yang demikian itulah hasil dari sifat netral. Anda tidak menimbun harta benda karena keterikatan, dan tidak pula membenci benda karena ketidaktertarikan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia #BhagavadGitaIndonesia

 

Kebahagiaan Sejati Nan Kekal Abadi

“Ia yang tidak terikat dengan sensasi-sensasi indrawi karena interaksinya dengan objek-objek di alam benda; ia yang menemukan sumber kenikmatan di dalam dirinya sendiri; ia yang senantiasa berada dalam Kesadaran Brahman, dan manunggal dengan-Nya lewat Yoga (berkarya tanpa pamrih) —meraih Kebahagiaan Sejati nan kekal abadi.” Bhagavad Gita 5:21

Kita mesti selalu mengingat bahwa setiap kali menyebut Yoga, maksud Krsna adalah Karma Yoga, Yoga Perbuatan yang Dinamis, yakni Berkarya tanpa Pamrih. Ketika Ia menyebut Yoga- Yoga jenis lain seperti Samkhya dan sebagainya, maka Ia secara spesifik menyebut-Nya.

 

KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali.

Pernahkah Anda memperhatikan, setelah berhubungan intim dengan pasangan Anda, kenikmatan yang Anda peroleh memudar, berlalu dengan cepat. Dan, setelah itu Anda, justru merasa lebih hampa lagi. Itulah sebab, setelah berhubungan intim, umumnya Anda langsung merokok atau menuju lemari es untuk mencari makanan. Setelah memperoleh kenikrnatan pun, Anda tetap merasa lapar, haus, kekurangan sesuatu.

Jika hubungan intim pun tidak bisa membahagiakan, maka pengalaman-pengalaman sensasional lain sudah pasti tidak bisa. Sebab, hubungan intim merupakan pengalaman paling sensasional, dalam pengertian, melibatkan semua senses, semua indra — yang amat sangat intens. Jika pengalarnan seintens itu pun berakhir dengan kehampaan, maka janganlah berharap dari pengalaman-pengalaman lain, dari sensasi-sensasi lain.

 

SUMBER KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH JIWA SENDIRI! Sifat Jiwa adalah Ananda – kebahagiaan sejati. Namun, selama Jiwa “merasa” terpisah dari Jiwa Agung, ia tidak menyadari hal tersebut. Ia tidak mengalaminya.

Hanyalah Yoga, dalam pengertian, Kemanunggalan Jiwa dengan dan dalam Jiwa Agung yang dapat memunculkan pengalaman tersebut— kebahagiaan abadi tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa kemanunggalan ini sebetulnya sudah terjadi. Kemanunggalan ini adalah hakikat. Justru perpisahan adalah ilusif. Ketika ilusi perpisahan terlampaui— kemanunggalan “terasa” kembali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia #BhagavadGitaIndonesia

Satu Satunya Hal Berharga Dalam Kehidupan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 25, 2018 by triwidodo

 

Kisah Bocah yang Bermain Kelereng Permata

Seorang Master berkisah tentang bocah kecil yang sedang main kelereng di jalan bersama teman-temannya. Dia mengambil satu butir permata bulat dari rumahnya dan dipakainya sebagai kelereng mainan.

Seorang pedagang permata yang lewat melihat batu permata itu, dia mendekati sang bocah dan menawarinya dengan uang 50 rupee sebagai ganti batu kelerengnya. Dia pikir anak kecil tersebut pasti mau menerima uang yang banyak sebagai pengganti butir kelerengnya. Sang bocah berpikir sebentar dan lari pulang membawa butir kelerengnya dan melapor kepada ibunya.

Sang ibu kaget mengetahui butir permata tersebut mahal harganya, dia minta sang bocah tidak bermain di jalan, dan esok pagi agar main kelereng di dekat rumah saja.

Sang pedagang permata tidak bisa tidur semalaman, dia ingin memperolehnya dari sang anak dan kemudian menjualnya dengan harga yang sangat tinggi kepada raja atau saudagar kaya. Dia mencari tempat tinggal sang bocah dan akhirnya dapat menemuinya sedang bermain kelereng dekat rumahnya. Sang pedagang permata, menawari sang bocah untuk mengganti butir kelerengnya dengan 100 rupee. Dan bahkan, saat sang bocah berpikir, sang pedagang menawarnya dengan 500 rupee.

Sang bocah menangis dan masuk ke rumah lapor kepada sang ibu bahwa dia tidak bisa main kelereng karena diganggu seorang pedagang. Sang ibu minta anaknya main kelereng di dalam rumah saja. Kemudian sang ibu minta sang pedagang pergi dari tempat tersebut.

Sang pedagang menangkap peluang dan menawari sang ibu uang 1000 rupee. Sang ibu menolak dan kemudian menyimpan butir permatanya dalam kotak besi dan dikunci.

Sang ibu mungkin dengan intuisinya memahami batu permata tersebut berharga. Dan dengan pengalaman dari anaknya, dia mengetahui bahwa batu permatanya jauh lebih tinggai nilainya dari 1000 rupee. Tetapi dia tetap tidak tahu nilai sebenarnya dari batu permata tersebut.

Mungkin dengan intuisi, kita memahami bahwa suatu hal itu berharga, akan tetapi kita tidak mengetahui batas nilai yang sesungguhnya. Adalah Para Master yang memberi “clue”, petunjuk mana yang berharga dan perlu dirawat dengan sebaik-baiknya. Petunjuk-petunjuk Para Master sangat berharga.

Petunjuk-Petunjuk Para Master tentang Hal-Hal yang Berharga dalam Kehidupan:

Perjalanan Spiritual Adalah Satu-Satunya Perjalanan Yang Berharga Untuk Dilakukan

Perjalanan spiritual, menurut Swami, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari “kita” menuju “Dia” Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati.

Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas.

Asato – maa Sadgamaya, Tamaso – ma Jyotirgamaya, Mrityor – maa Amritamgamaya. Perjalanan ini adalah dari asat, ketidakbenaran, saya memilih untuk menafsirkannya sebagai “kebenaran rendah”, menuju Kebenaran Sejati, sat; dari tamas atau kegelapan menuju terang Jyoti. Dan dari kematian atau mrityu menuju kehidupan Abadi, Amrita. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Untuk Membebaskan Dari Cengkeraman Maya, Satu-Satunya Cara adalah Menafikan Ego

Jiwa atau ruh sesungguhnya tidak terikat pada tiga sifat utama, yaitu Sattwa yang tenang, Rajas yang dinamis, dan Tamas yang malas. Ia melampaui ketiga sifat tersebut. Namun, karena pengaruh maya, ilusi, maka ia lupa akan sifat aslinya yaitu, Sat, kebenaran Sejati; Chitta, Kesadaran Murni; dan, Anand, Kebahagiaan Kekal Abadi.

Ilusi atau maya itulah yang membuat kita berpikir seolah kita adalah “pelaku”, kemudian, pikiran itulah yang menjadi benih bagi akibat dari perilaku kita, perbuatan kita, ucapan kita. Jika kita sadar bahwasanya pengalaman-pengalaman hidup adalah adegan-adegan yang sedang berlalu, dan aku, jiwa, ruh, atma, self, atau apapun sebutannya sesungguhnya adalah saksi setiap pengalaman, maka saat itu pula aku terbebaskan dari pengaruh ilusi. Aku tidak menjadi pelaku bagi.

Bagaimana membebaskan diri dari cengkeraman Maya? Bagaimana bebas dari anggapan keliru bila diriku adalah pelaku? Satu-satunya cara adalah dengan menafikan ego. Ke-“aku”-an palsu yang adalah ciptaan pikiran, mind, ego, mesti ditaklukkan.

Seorang panembah menaklukkan ke”aku”annya dengan berserah diri kepada seorang Sadguru. Satu-satunya jalan menuju kebebasan dari “aku-palsu” adalah dengan meletakkan “aku-palsu” itu dibawah telapak kaki Sadguru. Dengan cara itu kita menyadari jati diri kita. Kita sadar akan sifat asli kita, yang tak terpengaurh oleh ilusi. Sebagai panembah, kita menerima Guru kita sebagai wujud Ilahi. Bagi kita Dialah segala-gala-Nya.

Namun, Baginda Baba sendiri menyatakan dirinya sebagai hamba Tuhan. Ketika Beliau berada dalam alam kesadaran tinggi, maka Beliau merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta, kemudian setiap kata yang terucap oleh beliau mewakili kesadaran tinggi itu pula. Tapi, kesadaran tinggi tersebut bukanlah monopoli Beliau saja. Kesadaran tinggi itu bisa dicapai oleh siapa pun jua. Termasuk kita semua. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Menafikan Ego di UsiaTersisa

Setelah mengikuti sekian banyak program, sekian banyak lokakarya dan pelatihan — ada kalanya kita tetap saja tidak memiliki semangat yang cukup untuk menghadapi segala tantangan hidup. Kenapa? Karena, program-program yang kita ikuti itu hanyalah menyentuh Iapisan pikiran kita, Belum menyentuh lapisan rasa. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Usia sudah meninggalkan garis 64 tahun. Angka Harapan Hidup Orang Indonesia menurut Index IPM tahun 2014 mencapai 68,9 tahun. Hampir setiap minggu kita mendengar dari beberapa grup Whats Up teman-teman sebaya kita dan teman-teman sebaya istri kita sudah dipanggil Hyang Maha Kuasa. Tinggal beberapa tahun tersisa, kita harus memanfaatkan waktu yang pendek tersebut untuk hal-hal yang berharga. Dalam hal demikian bagi kami pribadi Panduan Guru adalah satu-satunya yang berharga. Entah untuk berapa lama lagi, siapa tahu? Selama masih sehat selalu berkarya, Good Karma……..

Jangan Menunda Tindakan

Berkarya demikian, tiada upaya yang tersia-sia; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir, dan cemas.” Bhagavad Gita 2:40

Diagnosis Kṛṣṇa Tepat Sekali. Penyakit Arjuna adalah rasa takut. Rasa takut muncul karena kita menunda tindakan kita. Kita selalu berpikir, “apakah tindakanku akan membawakan hasil, apakah tindakanku tepat? Bagaimana kalau ternyata aku salah?” Seribu satu pertanyaan muncul dan kita menjadi gelisah sendiri. Hal yang kecil, terlihat sangat besar.

Satu-satunya jalan keluar adalah terjun ke lapangan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Satu-Satunya yang Jika Diketahui, Tak Ada Lagi Sesuatu yang Perlu Kita Ketahui

“Kendati Tunggal dan Tak-Terbagi ada-Nya, Ia tampak terbagi dalam diri makhluk-makhluk hidup dan wujud-wujud yang tak bergerak; Ialah satu-satu-Nya yang patut diketahui, Hyang senantiasa Memelihara, Memusnahkan, dan Mendaur-Ulang, Mencipta kembali.” Bhagavad Gita 13:16

Bukan saja makhluk-makhluk hidup yang mesti menjalani tiga tahap kehidupan, yaitu kelahiran, pertumbuhan dan kematian — sesungguhnya benda-benda yang kita anggap tanpa kehidupan pun mesti menjalani ketiga tahap tersebut.

TERMASUK BUKU DI TANGAN ANDA, buku yang sedang Anda baca saat ini. Buku ini “mengalami” kelahiran lewat pena saya. Saat Anda membaca buku ini, saat itu pula buku ini sedang mengalami pertumbuhan. Ide-ide yang pernah ada di dalam benak saya, sekarang menjadi publik.

Dan pada suatu ketika, buku ini, sebagaimana juga pena saya, kursi, bangku, sofa, tempat duduk Anda saat ini — tempat saya menulis kata-kata ini dan tempat Anda sedang membacanya —akan mengalami kematian, kepunahan.

APAKAH SEMUA INI TERJADI SECARA KEBETULAN? Just by accident? Mereka yang “percaya” pada paham ateisme; mereka yang berkeyakinan, berkepercayaan seperti itu, mengatakan, “demikian adanya semua ini berjalan sesuai dengan hukum alam.”

Krsna mengajak kita untuk melihat di balik hukum alam tersebut; untuk menjajaki kemungkinan adanya Super Intelligence, Sang Perancang Alam, Sang Penentu Hukum tersebut, yang barangkali belum terjangkau oleh pikiran kita.

Sekaligus, Krsna pun mengantar kita untuk berhadapan, berkenalan dengan Sang Perancang, Sang Sutradara Agung tersebut. Ia-lah satu-satunya, yang jika diketahui, tak ada lagi sesuatu yang perlu kita ketahui. Dalam bahasa ilmiah, ini disebut The Theory of Everything. Para ilmuwan masih berdebat dan mencari satu rumusan, rumusan tunggal, yang bisa menjelaskan seluruh hukum alam.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Menghadirkan Gusti Pangeran dalam Kehidupan Sehari-hari

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 22, 2018 by triwidodo

Krishna adalah visualisasi dari Atma

Seorang Master memberikan makna terhadap kisah Krishna dalam Srimad Bhagavatam sebagai visualisasi dari Atma. Krishna bukanlah anak penggembala sapi dari rakyat jelata yang pandai meniup seruling. Krishna yang tidak dipahami dan tidak terjelaskan adalah sebagai:

Hasil dari Energi (Devaki).

Yang dibawa ke Mulut (Gokulam).

Dan dibina oleh Lidah (Yashoda) sebagai sumber rasa manis.

Pengulangan Nama Krishna dari rasa terdalam dengan lidah di mulut, akan memperoleh Visi Yashoda yang melihat alam semesta dalam mulut Krishna. Kita harus merawat Krishna dengan lidah kita. Ketika Krishna menari di atas lidah kita, racun lidah akan dibuat tawar oleh Krishna, seperti ketika Krishna Kecil menari di atas kepala-kepala Ular Kaliya dan menawarkan racunnya.

Bunda Yashoda mencari tempat bersembunyi Krishna lewat jejak kaki yang ditinggalkan Krishna. Krishna Kecil telah memecahkan bejana tempat Yashoda mengaduk susu. Kisah simbolis ini mengilustrasikan bagaimana Gusti Pangeran memecah identifikasi kesadaran fisik diri kita, setelah kita mengaduk susu (persembahan) lewat sadhana. Dan, membimbing kita menuju Dia, lewat tanda-tanda yang dapat kita telusuri yang telah diberikan oleh-Nya. Dia memberikan tanda-tanda bagi diri kita masing-masing, dalam keindahan munculnya sinar matahari, rasa suka-cita melihat pelangi, melodi burung-burung berkicau, permukaan danau yang dipenuhi keindahan bunga teratai, keheningan salju di puncak gunung tertinggi.

Karena Gusti Pangeran adalah rasa terdalam, rasa manis, ekstasi, alami. Menerima kedatangan Dia sebagai Rama – Dia yang Maha Ceria dan pemberi keceriaan, atau sebagai Krishna – Dia yang menarik kita ke dalam keceriaan di setiap waktu, pada saat mempersembahkan Dhyana, Puja, Japa kita yang akan membuka pintu Jnana dan Kebebasan. Ini adalah tanda-tanda bijaksana, sedangkan bagi yang lain hanya mengembara dalam keliaran, mengisi waktu dengan hal remeh-temeh dan boneka permainan yang tidak bermakna.

Membaca mantra Ishta Devata, dewa idola kita dengan penuh devosi akan memberikan hasil yang sama. Para Master juga mengingatkan Mantra Guru agar dibaca penuh devosi. Tindakan-tindakan tersebut akan menghadirkan Gusti Pangeran dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau kita memperhatikan Kisah Ramayana, pada saat Sri Rama mencari Sita, Dia menemui para bhakta-Nya, baik yang menjadi Rishi ataupun Satria. Demikian pula Sri Krishna juga menemui semua bhakta-Nya. Adalah sebuah kesempatan berharga bisa bersama Krishna merasakan manisnya Cinta.

Demikian pula Para Master dalam perjalanan pulang akan menemui para bhakta-Nya. Adalah berkah yang tak ternilai bsa bertemu dengan Para Master. Mereka akan membimbing, memandu para bhakta menuju Kebebasan.

Gopi adalah Wujud Para Gyaani di Kehidupan Sebelumnya

Kita masih ingat bahwa para gopi dalam kelahiran sebelumnya adalah para gyaani yang telah mendalami spiritualitas dan lahir sekali lagi hanya untuk mengalami “Cinta”………..

Di Vrindavan itulah Krishna memulai “leela”-nya, permainannya! Para Gopi dan Gopala yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokul dan pindah bersama Nanda dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para rishi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta! Ya, mereka hanya lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembap, malah banyak di antara mereka yang “jatuh” karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guarding and guiding angels – akhirnya mereka sadar bahwa “Cinta” adalah Aksara Terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Apakah semua murid para Master adalah Gyaani di Kehidupan Sebelumnya?

Tentu saja tidak! Dalam sebuah wejangan di Anand Krishna Center Kuta, Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan tentang 3 “tipe” murid:

Tipe Pertama adalah Pashu Bhavana: Kesadaran masih seperti pashu, hewan jinak, kalau tidak diikat dia masih menuruti nafsunya. Orang tersebut masih memiliki sifat:

(1) contempt, nafsu rendah, kalau jalan seperti hewan menundukkan kepala sambil melihat bila ada makanan di depannya; apakah kita dalam menjalani kehidupan selalu melihat peluang “rejeki” yang bisa diambil?

(2) doubt, ragu, anjing akan  mencium makanan lebih dahulu sebelum memakannya, cium baju bekas pakai sebelum dipakai lagi, cium anggur sebelum minum; Ini pekerjaan tidak baik tapi nampaknya menguntungkan masih bisa dilakukan.

(3) fear, takut, takut ambil langkah, hewan takut kepada hal baru yang tidak biasa dilakukan; saya mengikuti jalan spiritual, apakah saya akan melarat dan sengsara?

(4) too much egoistic, terlalu egois, anjing tidak mau berbagi tulang dengan kawannya. Apakah kita demikian?

(5) disgust, menjijikkan, hewan tidak suka dimandikan, keterikatan terhadap bau badan. Bila manusia tidak sadar akan bau badannya, bagaimana dia bisa mencium pikiran, perasaan dan jiwanya? Apakah kita tidak membaui bau keserakahan kita atau nafsu kita terhadap lawan jenis?;

(6) family, memikirkan keluarga, bagi hewan keluarga sangat penting, bagi meditator apa yang ada dalam pikiran adalah famili yang sulit dilepaskan; hewan hanya ingin makanan untuk dia dan anak-anaknya, ayam lain yang ingin makan butir-butir jagung akan diusir, dilabrak induknya, apakah kita demikian?

(7) custom and tradition, kebiasaan dan tradisi, untuk melepaskan kebiasaan dan tradisi dibutuhkan keberanian; sudahkah kita melepaskan tradisi yang secara nalar sudah usang tapi masih dilaksanakan? Kita masih ingat dalam film MahaBharata Krishna menyampaikan bahwa tradisi awalnya seperti buah yang mentah, yang melakukan masih sedikit dan rasanya belum manis. Kemudian tradisi seperti buah yang masak dan semua orang senang melakukannya. Dan terakhir, tradisi seperti buah yang sudah busuk, sudah nggak enak dimakan tapi kita tak mau melepasnya karena masih dilakukan banyak orang?

(8). Cast, sejenis, hewan hanya menyukai mereka yang jenisnya sama. Apakah kita hanya menyukai kelompok kita? Dan salah atau tidak karena anggota kelompok kita dia perlu dimaafkan sedangkan orang lain walau baik, bukan kelompok kita dan jangan dipilih?

 

Tipe Kedua adalah Wira Bhavana: Berani, Sifat Manusia. Mempunyai niat untuk menghancurkan belenggu keterikatan. Kebanyakan murid merupakan tipe campuran antara tipe Pashu dan Tipe Wira Bhavana, gabungan manusia dan hewan yang jinak. Misalkan dari 8 sifat pashu, 6 sifat sudah terselesaikan.

 

Tipe Ketiga adalah Divya Bhawana: Sifat Ilahi. Berani ambil risiko. Bersiap diri dalam hal apa saja. Itulah yang sifat para gopi di Brindavan…..

Dekati Para Master yang Berbudi Luhur

“Sungguh bodoh bila kau memikirkan pasangan dan tabungan melulu. Ada yang sudah menentukan dan mengurusi semua itu. Pernahkah kau berupaya untuk mengarungi Lautan Samsara? Dekati mereka yang berbudi luhur, itulah satu-satunya cara di tiga dunia.” Bhaja Govindam ayat 13

“Sungguh bodoh bila kau memikirkan pasangan dan tabungan melulu. Ada yang sudah menentukan dan mengurusi semua itu. Pernahkah kau berupaya untuk mengarungi Lautan Samsara? Dekati mereka yang berbudi luhur, itulah satu-satunya cara di tiga dunia.”

He vaatula, bodoh, goblok—apa yang kau pikirkan? Vaatula berarti teler, mabuk, kehilangan arah, dan mungkin sesat sesaat karena teler. Shankara tidak mencap kita sebagai manusia berdosa. Kita hanya mabuk; itu saja. Karena itu Shankara juga tidak menciptakan sosok penyelamat untuk membantu kita. Tidak perlu. Kita bisa membantu diri sendiri. Lepaskan botol arak di tangan…. sebentar lagi juga sadar kembali.

Sesatnya seorang vaatula bukanlah dosa yang harus ditebus di neraka. Tak ada hukuman tambahan bagi mereka yang sesat, karena ketersesatan itu sendiri sudah merupakan hukuman. Mereka yang sesat sudah hidup dalam neraka, mau dihukm apa lagi? Harus dikirim ke neraka yang mana lagi?

………

Apa saja yang kita pikirkan sih? Uang, tabungan, nama, kedudukan, kerabat dan keluarga—itu sajakah yang kita pikirkan selama ini?

Oke, baik—asal sadar bahwa kita bukanlah “pengatur”. Kita bukan “penentu” takdir keluarga kita. Ada yang mengatur dan menentukan semua itu. Bagaimana dengan hidup kita sendiri? Pernahkah kita memikirkan hidup kita? Pernahkah kita berupaya memahami pola pengaturan Sang Maha Penentu? Jangan mengacaukan permainan hidup; ikuti pola main yang sudah ditentukan.

Suami menyeleweng, istri tidak perlu ikut menyeleweng. Kawan kerabat sudah tidak karuan, kita tidak usah ikutan. Penyelewengan adalah pola mereka, ketidakkaruan adalah aturan mereka—lakukan apa yang harus anda lakukan dan biarkan mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. Tapi… ada tapinya, bila kau tidak menyukai penyelewengan, ya jangan bergaul sama para penyeleweng. Kalau tidak suka korupsi, ya jangan bergaul sama para koruptor. Bila  kau sudah sadar, bergaulah dengan mereka yang sadar, yang berbudi luhur. Bila kesadaranmu masih naik turun, berkat bantuan mereka pasti menjadi stabil. Apa yang kurang akan ditambahkan. Kalau sudah sadar akan kekurangan diri, apa guna bergaul dengan mereka yang kekurangan pula?

Seorang meditator harus membenahi diri, membenahi hidupnya. Dan, pergaulan dengan mereka yang hidupnya sudah terbenahi sangat membantu:

“Dekati mereka yang berbudi luhur, itulah satu-satunya cara di tiga dunia.”

Yang dimaksud dengan tiga dunia bukanlah bumi dan langit dan alam di antara keduanya, tetapi tiga “masa” dan tiga “alam kesadaran”. Masa lalu, masa kini dan masa depan—begitulah dulu, begitu pula sekarang, dan akan tetap begitu di kemudian hari….. Hanya mereka yang berbudi luhur dapat membantumu. Untuk menjinakkan pikiranmu, yang masih liar, menenangkan jiwamu yang masih gelisah, sekaligus mempertahankan kesadaran ruhanimu yang selama ini naik-turun melulu, dekatilah mereka yang berbudi luhur. Hanya mereka, hanyalah mereka yang dapat membantumu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dari Hubungan Darah Menuju Kesadaran Jiwa

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 20, 2018 by triwidodo

Kesedihan Yudistira atas Kematian Karna

Seorang Master berkisah tentang permusuhan Karna dengan Pandawa. Sebelum pertempuran Bharatayuda, dikisahkan Kunti, Ibu Pandawa memberitahu Karna bahwa Karna adalah putranya dan Pandawa adalah adik-adiknya. Kunti minta Karna membatalkan keikutsertaan dia dengan Kaurawa melawan Pandawa. Karna mengatakan bahwa dirinya sudah berjanji kepada Duryodana yang telah memberikan kedudukan dan kekayaan untuk berpihak kepada Kaurawa. Karna hanya berjanji bahwa dia tidak akan membunuh keempat Pandawa dan dia hanya bertarung dengan Arjuna saja.

Di pihak lain, Pandawa tidak tahu bahwa Karna adalah kakak kandung yang lahir dari ibunya. Kelima Pandawa mempersiapkan diri untuk menghancurkan Karna, karena Karna adalah musuh yang perkasa dari pihak Kaurawa.

Ketika Karna mati terbunuh dan Yudistira mengetahui bahwa Karna adalah kakak kandungnya, dia sangat sedih tidak terkira. Penyesalannya tidak berkesudahan.

Jadi sampai kita tahu bahwa yang kita bunuh adalah saudara kita sendiri, rasa kebencian terhadap musuh tidak terlupakan.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa seluruh manusia termasuk musuh-musuh kita adalah saudara kita?

Sri Krishna mengajari Arjuna bahwa perang yang dilakukan bukan  berdasarkan keterkaitan hubungan darah akan tetapi untuk menegakkan dharma. Walaupun dalam satu keranjang apel dari pohon yang sama, apel yang busuk harus dibuang demi kesehatan apel lainnya. Walau ada tumor hidup dalam tubuh kita sendiri, maka tumor tersebut harus diangkat demi kesehatan tubuh kita. Walau kita masih berhubungan darah demi kesehatan jiwa umat manusia kita harus berperang dengan musuh yang menebarkan adharma.

 

Bapak Anand Krishna pada tahun 2012 menyampaikan:

Kecuali kita lahir kembali dalam kesadaran ruhani, kita tidak bisa memasuki kerajaan-Nya. Maksud Yesus apa? Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. “Bagaimana pun juga,” kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri.” Atau, ada juga pepatah, “bagaimanapun juga darah lebih kental dari air.”

Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air.” Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga-“ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa.

Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi “kesadaran murni yang luar biasa”.

Penjelasan:

Hubungan darah adalah hubungan terkait fisik lewat genetika. Hewan pun demikian juga mempunyai ikatan erat antara induk dan anaknya. Hubungan erat dalam kelompok manusia pun juga dilakukan oleh hewan.

Hubungan lewat air sudah lebih murni lagi. Sudah tidak membeda-bedakan kelompok atau keluarga. Semua makhluk hidup mengandung air, tanpa air akan mati.

Walau demikian air masih wujud materi, prakrti. Sedangkan hubungan lewat roh, soul jauh lebih dekat. Ibaratnya Sang  Jiwa Agung adalah Matahari, maka Gugusan Jiwa adalah Cahaya Matahari, sedangkan Jiwa Individu adalah sinar matahari, yang sudah terpengaruh oleh materi dalam diri. Sinar matahari tidak bisa dipisahkan dari Matahari. Kita semua terhubung dengan roh, soul, Jiwa.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan tentang Kesadaran Jiwa, yang melihat bahwa Hyang Ada Hanyalah Gusti Pangeran Belaka. Semua makhluk adalah proyeksi dari Dia. Krishna menilai seeorang bukan dari jabatan atau orang awam, Dia menilai sama seperti menilai segumpal tanah, batu dan logam mulia.

Kesadaran Jiwa

“Berada dalam Kesadaran Jiwa, seseorang menganggap sama duka dan suka; ia menilai sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia; tidak tergoyahkan oleh hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, ia memandang sama pujian dan celaan.” Bhagavad Gita 14:24

 

Banyak yang menyalahgunakan ayat-ayat seperti ini untuk bertindak semau mereka terhadap orang-orang yang dianggap berkesadaran Jiwa. Mudah sekali bagi hakim-hakim dunia untuk menjatuhkan hukuman mati kepada para Socrates, karena mereka pun tahu para Socrates akan menerima kematian, sebagaimana menerima kehidupan. Yang mereka tidak sadari ialah bahwa penerimaan para Socrates terhadap hukuman mereka, tidak membebaskan mereka dari konsekuensi perbuatan konyol mereka.

 

ADA YANG PERNAH MENGKRITIK GANDHI – “Jika dia betul seorang Mahatma dan berjiwa besar, maka untuk apa mengajak bangsa India untuk memerdekakan diri dari penjajahan Inggris? Bukankah seorang bijak semestinya rnenganggap sarna kebebasan dan penjajahan sebagaimana iamenganggap sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia?”

Dalam penilaian para penilai duniawi, yang belum tercerahkan pun, “penjajahan adalah ibarat segumpal tanah atau batu” dan kebebasan adalah “logam mulia”. Namun, mereka ingin memaksa Gandhi unruk menerima segumpal tanah atau batu sebagaimana ia menerima logam mulia. Kenapa? Kenapa mesti memaksakan penilaian mereka pada Gandhi?

Seseorang berkesadaran Jiwa memang memandang sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia — namun tidak berarti tanah akan dijadikan perhiasan, batu disimpan di berangkas, dan logam mulia diletakkan di pinggir jalan.

 

KESADARAN JIWA TIDAK MENGUBAH FUNGI BENDA-BENDA DI DUNIA – Ketika Krsna mengatakan bahwa bagi seseorang berkesadaran Jiwa, semuanya itu adalah sama; atau lebih tepatnya, “dipandang sama”, Ia tidak mengisyaratkan bahwa seseorang yang telah berkesadaran demikian akan “mengacaukan tatanan inasyarakat dengan rnemutar balik fungsi setiap benda yang ada di alam benda.”

Segumpal tanah adalah segumpal tanah; pun dennikian batu adalah batu; dan logam mulia adalah logam mulia. Mereka yang berkesadaran Jiwa, tidak terikat pada sesuatu. Namun ketidakterikatannya itu tidak berarti ia akan membenarkan “batu berkuasa” dan “logam mulia dijajah”.

Segumpal tanah dan batu adalah ibarat penjajahan. Bukan si penjajah, tetapi tindakan menjajah. Dan logam mulia adalah kemerdekaan, kebebasan.

Sebab itu, walau Gandhi menganggap sama semuanya, tetap juga ia berseru “Do or die! Lakukan sesuatu demi kemerdekaan, berjuanglah untuk meraih kemerdekaan atau matilah, gugurlah dalam perjuangan!”

 

AYAT-AYAT SEPERTI INI MESTI DIARIFI, dipahami secara bijak. Menganggap sama duka dan suka tidak berarti kita memiliki otoritas untuk menindas dan menyebabkan duka pada seorang Socrates atau Gandhi, kemudian mengharapkan mereka yang telah ditindas itu untuk menerima tindakan kita yang biadab.

Menganggap sama segala sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan tidak berarti menyebabkan penderitaan umum sebagaimana yang dilakukan oleh para diktator dan penguasa zalim, yang selalu mengharapkan rakyat rela rnenderita demi “kebijakan-kebijakan”nya. Walau, kebijakan-kebijakan itu mengkhianati undang-undang negara, nilai-nilai luhur kemanusiaan, hukum alam, dan Ketuhanan yang Maha Esa, yang selalu digunakan sebagai slogan.

 

MENGANGGAP SAMA PUIIAN DAN CELAAN tidak mernberi kita hak untuk mencela siapa saja, untuk membunuh Gandhi, menembaki Martin Luther King, Jr., atau memenjarakan Mandela.

Tidak, tidak demikian maksud Krsna.

“Menganggap sama” adalah semangat Jiwa, Kesadaran Jiwa. Semangat ini bukanlah sebuah konsep yang bisa seenaknya dipakai dan disalahgunakan oleh mereka yang belum berkesadaran Jiwa.

Dan, para bijak yang telah berkesadaran demikian pun, hendaknya tidak menyalahartikan bila “semangat Jiwa” dapat mengubah “nilai pasar”, dalam arti kata “tata-krama dunia benda”, sifat kebendaan, dan lain sebagainya.

 

SEORANG BIJAK TIDAK TERTARIK DENGAN KEKUASAAN – Tetapi ia pun tidak duduk diam ketika menyaksikan kezaliman merajalela dan kemanusiaan serta nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan sebagainya terinjak-injak di bawah kaki mereka yang berkewajiban untuk menegakkan nilai-nilai tersebut.

Krsna sedang mempersiapkan Manusia Baru — Arjuna — seorang Kesatria Berkesadaran Jiwa, yang tetap berkarya di tengah rnasyarakat dunia, di tengah pasar alam benda.

Tugas Krsna memang berat — sangat berat.

Bagi seorang berkesadaran Jiwa, rneninggalkan keramaian dunia untuk menyepi di tengah hutan – adalah  hal yang mudah. Sebaliknya juga, jika seorang sepenuhnya berkesadaran dunia benda, berkarya di tengah pasar dunia — sama mudahnya.

Adalah sebuah tantangan berat untuk berkarya di tengah hiruk pikuknya dunia benda, dan mempertahankan Kesadaran Jiwa. Inilah “agenda” Krsna bagi Arjuna, bagi kita semua! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Perjuangan PurnaWaktu Mencapai Vairagya, Bebas dari Keterikatan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 18, 2018 by triwidodo

Kisah Ketidakterikatan Pangeran Mohajith

Vairagya, atau pelepasan dirl dari berbagai keinginan, benda, situasi ataupun perorangan yang menyebabkan keterikatan. Berarti, dari segala pemicu di luar diri yang dapat menimbulkan ketertarikan dan kerinduan.

Gita menyampaikan hal yang sama, dan sama pula kesimpulan Buddha. Berarti, rumusan ini, sutra ini ibarat rumusan sains, ilmiah, dan bersifat empiris. Pengalaman siapa pun sudah pasti sama, maka solusi-solusi yang ditawarkan oleh Patanjali juga bersifat universal. Jika penyakitnya sama, maka obatnya sudah pasti sama pula. Tinggal menentukan dosisnya. Jika penyakitnya berat dan sudah lama, mungkin membutuhkan dosis yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan yang penyakitnya belum berat dan baru terjangkit. Penjelasan I.12 dari Buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang Master bercerita tentang Pangeran Mohajith, yang sudah menjalani Vairagya dan sedang mencari Pemandu Spiritual. Seorang Rishi bertanya apakah dia telah melakoni Vairagya.  Sang Pangeran mengatakan bahwa bukan hanya dia, akan tetapi demikian juga setiap orang di kerajaannya.

Sang Rishi menguji kebenaran kata-kata Sang Pangeran. Dia mengambil jubah Sang Pangeran dan dilumuri dengan darah dan bergegas ke gerbang istana. Sang Rishi mengatakan bahwa telah terjadi pembunuhan mengerikan oleh para perampok di hutan terhadap Sang Pangeran. Pelayan istana mengatakan, “Sang Pangeran dilahirkan dan akan mati, apa perlunya saya meninggalkan pekerjaan rutin saya untuk melaporkan ke Raja dan Permaisuri?”

Sang Rishi lapor kepada Raja, akan tetapi Sang Raja tidak terganggu, dan hanya bergumam, “Burung-burung itu terbang dan mereka akan hinggap di pohon untuk beristirahat.” Permaisuri pun tetap tenang dan berkata, “Di bumi ini adalah kisah para kafilah yang berkumpul untuk beristirahat di penginapan. Para kafilah melakukan perjalanan dengan tujuan yang berbeda-beda. Kawan dan kerabat adalah kata-kata yang kita gunakan  kepada para musafir yang bertemu sejenak di penginapan.”

Istri Sang Pangeran juga tidak terpengaruh, dia berkata, “Suami dan istri seperti dua potong kayu bersama di sungai yang sedang banjir. Masing-masing menuju laut dengan kecepatan yang berbeda dan dengan waktu yang berbeda. Hal demikian sangatlah alamiah.”

Sang Rishi sangat bahagia melihat praktek vairagya, ketidakterikatan para penguasa dan orang-orang yang berhubungan dengan dirinya.

Sang Rishi kembali ke hutan dan berkata bahwa musuh telah menyerbu dan menaklukkan kerajaan ayahandanya. Sang Pangeran Mohajith dengan tenang berkata, “Semuanya adalah gelembung yang rapuh dan tidak kekal. Biarkan saja jalannya gelembung. Mohon pandu saya untuk mencapai yang abadi yang tidak dapat rusak.”

Sang Rishi berbahagia mempunyai calon murid yang sudah tidak fokus pada kesadaran fisik dan mental emosional.

Beda Fokus Antara Yang Berkesadaran Tubuh dengan Yang Berkesadaran Jiwa

Kesadaran itu satu, akan tetapi kesadaran dalam diri Guru (yang berkesadaran Jiwa) berbeda dengan kesadaran dalam diri kita. Perbedaan itu karena beda fokus. Fokus kita pada kesadaran tubuh, kita hanya memperhatikan keinginan tubuh. Fokus kita pada kesadaran mental/emosional, kita hanya memperhatikan kebutuhan mental/emosional. Dengan melakukan Vairagya, melepaskan dari keterikatan, membuang keinginan duniawi dan membatasinya keinginan sesuai plafond yang kita tetapkan, kita bisa melampaui kesadaran kesadaran tubuh dan mental/emosional. Kita bisa fokus pada Cosmic Consciousness. Kesadaran Kosmis. Kesadaran Jiwa. Selama kita menganggap berbeda maka kita belum mencapai Kesadaran Kosmis. Dalam Kesadaran Kosmis kita semua adalah satu.

Sumber: Video Yutube What is Cosmic Consciousness and How to Attain it oleh Bapak Anand Krishna

Mempraktekkan Ketidakterikatan dengan Abhyasa

“Abhyasa atau Upaya secara Terus-Menerus Membutuhkan Yatna, Kerja Keras; dan Sthiti atau Ketetapan Hati.” Yoga Sutra Patanjali I.13

ABHYASA BUKANLAH UPAYA ASAL-ASALAN. Misal, hari ini hidup sesuai dengan pola hidup yang dianjurkan dalam Yoga, besok tidak; lusa Yoga lagi dan keesokan harinya tidak. Yang demikian itu bukan Yoga Abhyasa, bukanlah laku atau praktik yang bisa disebut Yoga.

Lawan kata dari Yoga adalah Bhoga.

Jika Yoga berarti disiplin diri, pengendalian diri, Bhoga berarti sebaliknya, yakni hidup tanpa disiplin, membiarkan diri terkendali alam benda dan kebendaan; membiarkan indra lepas kendali dan mencari mangsa, mencari kenikmatan sesaat yang tidak berarti (malah bisa membahayakan, mencelakakan diri dan orang lain). Itulah Bhoga.

………………

PENGENDALIAN DIRI PURNAWAKTU ALA PATANJALI, tidak sama dengan pengendalian diri paruh waktu ala ahli kitab.

Pengendalian dan Keseimbangan Diri ala ahli kitab tidak membutuhkan abhyasa. Tidak perlu mempraktikkan ketidakterikatan atau vairagya, tidak perlu menarik diri dari segala pemicu di luar. Hari ini bisa mengendalikan diri, besok tidak, lusa bisa, keesokan harinya kebablasan lagi, no problem.

Dalam model, modulus, atau mandala para ahli kitab, ada institusi “penebusan dosa dengan berbagai cara”—semacam sin laundering, pencucian dosa. Jadi, salah-salah boleh saja, nanti tinggal dicuci.

Lain hal dengan model, modulus, atau mandala ala Patanjali. Tidak ada Lembaga Pencucian Dosa. Pasalnya, tidak ada yang disebut Dosa. Yang ada adalah Dosa atau Kesalahan Diri, dan setiap kesalahan mesti dipertanggungjawabkan oleh pembuat kesalahan; kemudian, diperbaiki olehnya juga.

Nah, dalam rangka “perbaikan” itulah dibutuhkan Abhyasa, Upaya yang Sungguh-Sungguh; kerja keras; upaya dengan seluruh tenaga; upaya dengan segenap energi; dan upaya dengan niat yang jelas dan kuat, serta ketetapan hati, kebulatan tekad. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Abhyasa dan Vairagya

“Wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), niscaya pikiran memang liar – pun sulit ditaklukkan. Namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti).” Bhagavad Gita 6:35

Dalam ayat ini, Krsna memberikan tips jitu untuk mengendalikan pikiran, pertama adalah:

Abhyasa – membiasakan diri, berlatih secara terus-menerus. Seorang sahabat, saintis tulen, ahli bedah otak, almarhum dr. Setiawan selalu menggunakan istilah ‘intensif dan repetitif’. Latihan untuk mengendalikan gugusan pikiran dan perasaan membutuhkan kegigihan, kebulatan tekad, keteguhan hati, dan kekuatan kehendak. Tidak bisa secara instan, seperti sering diiklankan oleh orang-orang yang sedang mencari keuntungan, dan tidak tahu-menahu tentang seluk-beluk mind.

Dr. Setiawan betul. Ia memahami kinerja brain, otak, sebagai alat yang digunakan oleh mind. Untuk itu butuh latihan secara intensif, tidak bisa sambilan. Hari ini berlatih, besok tidak – mustahil mind terkendali.

Berlatih secara intensif dan repetitif setiap hari saja tidak cukup. Dibutuhkan latihan setiap jam, setiap detik. Setiap kali mind baru mau kembali pada sifat keliarannya, segera kita menarik dia. Secara intensif dan repetitif – berulang-ulang. Inilah abhyasa – inilah cara untuk mengubah kebiasaan mind.

Namun, cara ini pun adalah semacam first-aid – pertolongan pertama. Untuk selanjutnya, supaya mind tidak liar terus, lagi-lagi secara intensif dan repetitif, kita mesti belajar untuk melepaskan keterikatan dari benda-benda dan keadaan-keadaan yang dapat memicu keliarannya. Ini disebut:

Vairagya – melepaskan diri dari keterikatan: membebaskan diri dari keterikatan pada hal-hal yang dapat memicu dan/atau menambah keliaran mind.

Abhyasa dan Vairagya – inilah cara untuk mengendalikan  mind. Pekerjaan ini adalah purnawaktu. Tidak bisa hanya sesekali saja. Mind tidak pernah mati. Setelah terkendali pun masih tetap diawasi, tidak bisa dilepas begitu saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia