Archive for December, 2018

Merawat Kebenaran, Kesucian dan Keindahan Diri

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 31, 2018 by triwidodo

Kisah Sathyavrata Saat Brahma-Muhurta, Beberapa Jam Sebelum Fajar

Seorang Master berkisah tentang seorang raja bernama Sathyavrata. Dia dipanggil demikian karena Sathya, Kebenaran adalah cara hidupnya, tujuan dan pemandunya. Pada suatu hari, saat Brhama-Muhurta, beberapa jam sebelum fajar (saat yang dipersembahkan dia untuk bermeditasi terhadap Tuhan), dia menuju pintu gerbang kerajaan menuju sungai untuk ritual pembersihan diri. Hari itu adalah hari suci untuk ritual pembersihan diri.

Ketika sang raja melewati pintu gerbang dia melihat seorang gadis cantik dengan lingkaran cahaya kemegahan akan keluar gerbang. Penasaran, sang raja bertanya, siapakah dia? Mengapa keluar pada jam tersebut? Sang gadis cantik menjawab, bahwa dia adalah Dhanalakshmi, Dewi Kekayaan, “Saya sudah tinggal lama di sini, saya menginginkan perubahan, saya tidak bisa lama tinggal di suatu tempat.” Sang Raja berkata, “Silakan pergi, aku tidak keberatan, aku tidak menghalangi.”

Setelah itu seorang pria menawan, diam-diam juga keluar melalui pintu gerbang. Sang raja bertanya siapakah dia, dan mengapa dia pergi. Pria itu menjawab, “Aku adalah Amal Kedermawanan, ketika Dhanalakshmi telah pergi, untuk apa aku tinggal di sini?” Sang Raja berkata, “Silakan pergi, aku tidak keberatan, aku tidak menghalangi.”

Dalam beberapa saat, seorang yang menarik lainnya melewati sang raja. Raja bertanya dan mengetahui bahwa dia adalah Sadachara, Yang Mewakili Kebaikan dan Perilaku Sosial. “Bagaimana hubungan sosial yang baik dapat dipertahankan tanpa kekayaan dan kualitas kedermawanan, aku pergi karena keduanya sudah pergi.” Sang Raja berkata, “Silakan pergi, aku tidak keberatan, aku tidak menghalangi.”

Orang yang selanjutnya pergi adalah Ketenaran, dia berkata pada sang raja, “Bagaimana Ketenaran bisa bertahan tanpa kehadiran Kekayaan, Amal Kedermawanana dan Kehidupan Sosial yang bahagia?” Sang Raja berkata, “Silakan pergi, aku tidak keberatan, aku tidak menghalangi.”

Terakhir, datanglah seorang dengan aura kemegahan menuju pintu gerbang. Sang raja bertanya siapakah dia. Dan orang tersebut menjawab, “Saya adalah Kebenaran.” Sang raja memegang kaki Kebenaran dan mohon agar Kebenaran tinggal di kota tersebut, jika dia pergi dari kerajaan, maka kehilangan dia tidak akan bisa diperbaiki dan hidup menjadi tidak berharga. Mendengar permohonan sang raja, Kebenaran memutuskan akan tetap tinggal di kerajaan tersebut.

Tidak lama kemudian, Ketenaran kembali ke kerajaan karena kebenaran tetap ditegakkan di kerajaan tersebut. Selanjutnya, Sadachara, Perilaku Sosial muncul kembali, diikuti ole Amal Kedermawanan dan juga Danalakshmi, Dewi Kekayaan.

Di penghujung tahun 2018, kita perlu introspeksi. Diri kita masing-masing  adalah raja penguasa tubuh dan mind kita. Apa yang akan terjadi saat Kekayaan, Amal Kedermawanan, Perilaku Sosial yang baik dan Ketenaran meninggalkan kita? Apakah kita ikhlas? Apakah kita masih akan tetap mempertahankan Kebenaran?

Apa pun juga kalau kita “down”, akibat ditinggalkan mereka kita masih berkesadaran materi, kebendaan. Raja Sathyavrata telah berkesadaran Jiwa.

Sesungguhnya yang dipertahankan sang raja bukan hanya Kebenaran, akan tetapi juga Kesucian dan Keindahan. Sathyam, Shivam dan Sundaram.

Kebenaran, Kesucian dan Keindahan

Guruji Anand Krishna menyampaikan: Bahwa Pertama, Jiwa akan tenang kalau kita berada di tempat yang dibangun untuk Kebenaran, tempat itu dibuat untuk sesuatu yang benar. Kedua Shivam harus ada kesucian. Ketiga harus ada Sundaram, Keindahan. Begitu masuk Ashram atau Pura bahkan masuk rumah, seseorang harus melihat keindahan di mana-mana.

Kita tahu slogannya: Sathyam, Shivam, Sundaram tapi maksudnya apa? Begitu kita ke suatu tempat harus ada 3 hal ini. Setiap Ashram, setiap Pura bahkan setiap Rumah. (Tubuh kita pun adalah Pura, Kuil bagi Jiwa).

Dalam rumah tangga Sathyam adalah kejujuran. Antar keluarga tidak bohong-bohong. Kesucian dan keindahan, perlu kita rawat dan jaga kebersihan rumah masing-masing. (Juga kita rawat Kuil atau Pura Diri kita).

Rumah itu juga mandir, juga kuil. Dimana kita tinggal di sana dan atma bersemayam dalam diri kita. Semua tempat adalah kuil dan kita merawat, itu adalah yang dikatakan oleh Krishna. Kau merawat mereka, melestarikan mereka maka mereka pun akan merawatmu.

Sumber: Video Youtube Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-Hari Jaga Alam dan Alam akan Menjagamu Bhagavad Gita 03:11-16 oleh Bapak Anand Krishna

#AnandKrishna #UbudAshram

Sathyavrata Telah Mencapai Kesadaran Jiwa, Ia Tetap Berpegang Teguh pada Kebenaran

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

“Ketika Jiwa mengalami kebahagiaan tertinggi yang (berasal dari dirinya sendiri, dan) melampaui segala kenikmatan indra, bahkan segala kenikmatan yang dapat diperolehnya lewat intelek, maka ia akan berpegang teguh pada kebenaran, dan tak tergoyahkan lagi oleh tantangan seberat apa pun!” Bhagavad Gita 6:21

Ketika sang pangeran dalam kisah sebelumnya telah menemukan jati dirinya, maka ia tidak akan pernah membiarkan kesadaran itu “terlupakan lagi”.

Ia tidak akan pernah meninggalkan atau melepaskan “kebenaran” dirinya sebagai pangeran. Ia bukanlah seorang perampok.

 

SEORANG YOGi YANG SUDAH MENYADARI dirinya sebagai Jiwa, tak akan terperangkap oleh identitas-identitas palsu rekaan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, maupun inteligensia.

Jiwa yang sudah merasakan kebahagiaan tertinggi ibarat pangeran yang “sudah kembali ke istananya”. Ia tidak tertarik lagi dengan kenikmatan-kenikmatan indra yang diperolehnya dalam “kesadaran palsu” sebagai perampok.

Ia tidak merampok lagi, karena menyadari dirinya sebagai pangeran. Jika kita sadar bahwa panggung sandiwara adalah untuk menghibur, maka kita akan menikmati segala pertunjukan di atas panggung — tapi tidak mengidentifikasikan diri dengan cerita di atas panggung.

Kita penonton! Tidak perlu membawa pulang panggung atau peran di atas panggung. Nikmati — dan kembalilah ke istana — ke tempat asal kita!

 

“Setelah memperoleh kebahagiaan sejati, Jiwa tersadarkan bila perolehannya itu melebihi segala perolehan lain; maka, menghadapi pengalaman duka seberat apa pun – ia tetap tak tergoyahkan.” Bhagavad Gita 6:22

Komitmen kita pada kebenaran, pada kebajikan — Satya dan Dharma — selalu tergoyahkan karena kita belum mencapai keadaan meditatif. Kita belum mencapai kesempumaan dalam Yoga. Kita belum merasakan kebahagiaan sejati yang dirasakan seorang Yogi. Sebab itu, duka-derita pun selalu menyelimuti jiwa…..

BARU DITANTANG SEDIKJT, baru dihadapkan pada sedikit penderitaan — kita kalang kabut, mencari tiang penyangga, mencari sandaran, mencari dukungan di luar diri. Kita lupa menoleh ke dalam diri.

Kenapa?

Karena, saat tidak ada tantangan, kita tidak melatih diri dalam Yoga untuk membangun self-defence, pertahanan diri yang tangguh. Kemudian, saat tantangan di depan mata, kita kehilangan arah, kehilangan pandangan yang jernih. Kita tidak tahu mesti melakukan apa!

Pertahanan-diri mesti dibangun dari sekarang. Saat terjadi banjir, kita baru mernbangun tanggul — ya tidak bisa. Inilah saatnya untuk membangun penahanan diri – supaya saat menghadapi tantangan nanti – kita sudah siap.

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Lompatan Quantum Berbekal Trust, Keyakinan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 30, 2018 by triwidodo

Kisah Kakak Krishna

Seorang Master berkisah tentang anak kecil, putra seorang brahmana miskin di kota Govardhana. Anak tunggal berusia 6 tahun tersebut  selalu bersuka-cita dalam mendengarkan kisah-kisah dan legenda tentang Krishna. Pada suatu hari dia pergi ke padang rumput dengan ternaknya dan melihat kuil dan arca Krishna di dalam kuil.

Dengan sepenuh hati dia memanggil Krishna dan mengajaknya bermain. Meskipun pintu kuil digembok, Krishna datang dan mereka bergandengan tangan bermain sampai malam hari. Krishna duduk di batu yang besar dan memainkan seruling. Setelah beberapa jam Krishna yang dipanggilnya dengan kakak menghilang kembali masuk kuil. Arca Krishna sendiri masih terlihat dari sela-sela pintu gerbang yang digembok.

Sang bocah sangat sedih berpisah dengan kakak teman bermainnya. Dia menghabiskan malam dan pagi harinya dengan menangis di luar gerbang. Orangtua sang bocah bersama pendeta kuil menemukannya dia sedang menangis di pintu gerbang kuil. Orangtua bocah tersebut marah, karena sang bocah pergi dan tidak pulang ke rumah.

Dipukulinya sang bocah dengan rotan hingga tubuhnya berdarah-darah. Sang pendeta yang membuka gerbang tiba-tiba berteriak melihat arca Krishna juga berdarah-darah persis seperti sang bocah. Teriakan sang pendeta membuat orangtua bocah ternganga……..

Sang Master memberikan pesan, jika kalian memanggil-Nya sebabagi kakak dengan penuh devosi, Dia akan merespon sebagai teman bermain yang menyenangkan. Bila kalian memanggilnya sebagai Guru dengan penuh devosi, Dia akan mengajar dan memberi inspirasi. Dia tidak pernah mengecewakan mereka yang meng-invoke-Nya dengan tulus dan penuh keyakinan.

Have Faith, Trust, Yakinlah

Guruji Anand Krishna menyampaikan: “Have faith, trust—yakinlah! Keraguan muncul dari pertimbangan, perhitungan, logika, dan pikiran. Sementara itu, keyakinan adalah urusan jiwa. Yakinlah bila kekuatan jiwa jauh melebihi kekuatan pikiran. Dan jangan lupa, energi yang Anda keluarkan untuk berkarya, untuk bekerja, justru memperkuat jiwa Anda, iman Anda, keyakinan Anda pada diri sendiri. Pertimbangan, penilaian, semuanya bisa salah. Akal bisa akal-akalan, bisa juga mengakali. Logika hanya menggunakan informasi yang sudah dimilikinya sebagai acuan. Keyakinan adalah dari jiwa. Dan dari keyakinan seperti itu lahir kehendak yang kuat. So, trust and will power, keyakinan dan kehendak yang kuat, dua-duanya adalah buah jiwa. Urusannya dengan akal budi di dalam diri Anda, bukan dengan akal atau akal sehat saja, yang adalah buah pikiran.”

Sumber: (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna#UbudAshram

Roh Dalam Diri Hanya Terpicu Oleh Kehendak yang Sangat Kuat

Guruji Anand Krishna menyampaikan: Dengan menggunakan badan dan indra, kita tidak mungkin merasakan kemanunggalan diri dengan-Nya. Ada kalanya, badan kita indra malah menolak keberadaan Tuhan karena mereka tidak bisa menggapai-Nya. Untuk menggapai kesadaran kosmis, doa mesti, terlebih dahulu, memicu roh dalam diri manusia, supaya terungkap. Supaya mulai berkarya. Kemudian, mempersatukan roh itu dengan Roh Agung, dengan Sumber Tunggal, Allah Bapa, Tuhan.

Nah, roh dalam diri manusia – kesadaran, atau “aku” dalam diri setiap insan hanya akan terpicu jika ada strong will power, kehendak, yang sangat kuat. Siapa yang mesti berkehendak atau berkeinginan kuat? Manusia sendiri, “aku” dalam diri setiap insan, atau kesadaran “ku” sendiri.

Sumber: (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #AnandKrishna#UbudAshram

Lompatan Quantum yang Dialami Sang Bocah

Guruji Ananad Krishna menyampaikan: Ketika nucleus, inti atom dibelah. Terjadi ledakan yang dahsyat sekali. Ledakan yang terjadi belum bisa dihitung berapa PK, Horse Power. Dalam badan kita ada sekian trilyun atom. Tenaga yang kita miliki luar biasa. Matter benda apa pun terbuat dari atom. Kita juga terbuat dari atom. Ketika atom dipadatkan. Terjadilah benda-benda ini. Termasuk badan kita adalah atom yang dipadatkan. Kita sering mendengar penyembuhan dengan energi yang dahsyat. Dalam diri kita ada energi yang begitu dahsyat. Kita semua bahkan anak sekecil apa pun sudah memiliki.

Kekuatan setiap atom dalam badan kita. Disebut satu unit purusha. Kenapa kita tidak bisa menggunakan itu? Quantum mechanics. Pemahaman terbaru dari quantum adalah tidak akan terjadi sesuatu pada gelas ini kecuali saya memandangnya, mengamatinya dan mengangkatnya. Kalau nggak ya statis.

Newton sedang duduk di bawah pohon ada buah apel yang jatuh. Dan dia menemukan gravitasi. Sekarang quantum mekanik mengatakan tidak demikian. Kenapa buah itu tidak jatuh ketika orang lain duduk di bawahnya. Kenapa jatuh pada saat Newton duduk di bawah. Ada kekuatan dari diri Newton yang memandang buah itu dan kemudian buah itu jatuh. Tidak akan terjadi apa pun kecuali kita mengamati dan kita memberikan energi.

(Sang Bocah bisa menemui Krishna, karena dalam dirinya hanya berpikir tentang Krishna, anak kecil yang lain tidak akan bisa menirunya)

Kalau Gunung Agung meletus bukan karena Gunung Agung mau meletus, tetapi karena kita memberikan tenaga trigger pemicu kepada Gunung Agung untuk meletus. Apa pun yang kita baca di koran kita berada di ring of fire, cincin gunung api. Fisika terbaru quantum mekanik tidak mengatakan demikian. Tidak akan terjadi kecuali ada yang mengamati, observe. Dan memberikan energi trigger kepada dia. Ini telah mengubah pengetahuan tentang fisika sekarang. Tanpa kita sadari kita telah memberikan trigger, pemicu Gunung Anank Krakatau memuntahkan lahar.

Silakan lihat: Video Youtube Bapak Anand Krishna: Purusharta 4 Pilar untuk Hidup Bahagia

#AnandKrishna #UbudAshram

Beda Keinginan vs Kehendak 

Apakah will dan desire itu sama? Dalam bahasa indonesia will adalah kehendak, desire adalah keinginan.

Pengertian will dalam bahasa sanskrit orang yang punya will langsung menerapkan will nya, menjadi kerja nyata dia tidak akan bertanya lagi.

Kalau masih desire pasti gagal deh. Will tidak punya keraguan. Tidak bisa disamakan dengan desire. Desire pekerjaan belum pas tapi dia ingin jadi kaya raya.

………………

Apa maksudnya, ada divine will with divine intervention. Keberadaan menginginkan dia seperti itu. Dan dia digunakan sebagai alat Keberadaan?

Buddha sendiri mempunyai will power untuk menjadi buddha. “Saya tidak akan bergerak. Kalau ini terakhir sekali saya duduk saya tidak akan meninggalkan pohon ini. Tidak. Saya ingin cerah.”

Silakan simak video youtube: Beda Keinginan vs Kehendak oleh Bapak Anand Krishna

#AnandKrishna #UbudAshram

Keyakinan Tidak Takut Mati

Guruji Anand Krishna menyampaikan: Pernahkah Anda merenungkan bahwa ‘harapan’ dan ‘keyakinan’ merupakan dua hal yang berbeda? Mereka yang merasa telah berbuat baik dan ‘mengharapkan’ ganjaran atau imbalan, sesungguhnya  belum ‘yakin’. Dan karena belum  yakin, maka mereka berharap. Sebaliknya, mereka yang yakin tidak perlu berharap lagi. Entah kita berada dalam kelompok  mana, kelompok mereka yang berharap atau kelompok mereka yang yakin!

Rumi menawarkan batu ujian – kematian!

Apabila takut mati, kita masih berada dalam kelompok meraka yang berharap, mereka yang belum bercocok tanam.

Apabila tidak takut mati, kita berada dalam kelompok mereka yang sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi. Mereka yakin. Mereka sudah bercocok tanam.

Sumber: (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Keyakinan Terhadap Sadguru

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 29, 2018 by triwidodo

Kisah Sandal Draupadi

Seorang Master berkisah tentang Bhisma yang sudah menjadi Senapati Kaurava dalam perang Bharatayuda selama 8 hari. Duryodhana masygul mengapa kemenangan melawan Pandava belum juga nampak. Duryodhana yang percaya pada materi, kekuatan kebendaan mendatangI Bhisma dan mohon agar esok hari bertempur lebih keras agar Pandava ditaklukkan. Bhisma berkata bahwa esok hari akan menjadi kemenangannya atau kematiannya.

Draupadi yang iman, trust pada Sri Krishna selalu berdoa untuk keselamatan Pandava. Sri Krishna mendatangi Draupadi dan mengajaknya ke kemah Bhisma pada waktu malam hari. Keyakinan Draupadi telah menggerakkan Sri Krishna.

Draupadi adalah seorang bhakta yang luar biasa. Malam hari datang ke perkemahan musuh. Keyakinan Draupadi pada Sri Krishna adalah sepenuh hati. Draupadi memakai kerudung menyelinap ke kemah Bhisma. Sri Krishna meminta sandal Draupadi dibungkus saputangan sutra dan diselipkan di ketiak Sri Krishna. Draupadi diminta masuk ke dalam kemah dengan tidak bersuara.

Draupadi memegang kaki Bhisma dan melakukan sembah sujud. Bhisma otomatis dengan spontan memberkati perempuan berkerudung yang ada di kakinya, “Semoga dalam tahun-tahun mendatang kau diberkati pernikahan yang berbahagia!”

Segera setelah diberkati Bhisma, Draupadi membuka kerudungnya dan mohon doa restu agar kelima Pandava selamat dari senjata Bhisma.

Bhisma segera paham bahwa ini semua adalah strategi Sri Krishna yang dia lihat berdiri di pintu masuk kemahnya. Bhisma tahu bahwa esok pagi dia akan mati. Berkatalah Bhisma, “Kita hanyalah boneka di tangan-Nya.”

Bhisma bertanya kepada Sri Krishna, bungkusan apakah yang diselipkan diketiak-Nya. Bhisma terperangah setelah mengetahui bahwa seorang Avatara mewujud di dunia membawa sandal bhakta-Nya……….

Selama kita seperti Duryodhana yang percaya pada materi, pada uang, pada kekuatan kebendaan sebenarnya kita telah melupakan Tuhan.

Guruji Anand Krishna menyampaikan dalam Gospel of Mahamaya: Keberhasilan kita adalah karena upaya kita sesuai dengan Kehendak-Nya.

…………….

Guru Adalah Cermin Tempat Kita Trust padanya

Guruji Anand Krishna menyampaikan: Pada waktu kita berada di depan cermin, kita trust pada apa yang kita lihat pada cermin. Kita yakin demikianlah wajah kita sesuai yang kita lihat pada cermin tersebut.

Kalau kita ingin mengetahui diri kita maka kita juga membutuhkan cermin. Guru adalah cermin diri kita. Kita trust pada cermin, kita tidak mempertanyakan lagi.

Demikianlah trust Draupadi kepada Sri Krishna, seperti trust anak kecil terhadap ibunya.

Sumber: Video Youtube Who Am I? Self Discovery and surrender of the Ego by Anand Krishna

#AnandKrishna#AnandAshram#UbudAshram

Darshan, Melihat Benih Potensi Diri Dalam Diri Guru

Guruji Anand Krishna menyampaikan: Dalam tradisi India, pertemuan dengan seorang suci bukanlah pertemuan biasa. Pertemuan itu adalah darshan atau “melihat sekilas” kesucian yang sudah ada dalam diri kita melalui Sang Master. Seorang Guru bagai sebuah cermin di mana seorang pengikut dapat bisa melihat dirinya sendiri, wajah “asli”-nya sendiri. Seorang Master adalah masa depan muridnya dan seorang murid adalah masa lalu seorang Master dan mereka bertemu, menyatu di saat ini, dalam kekinian. Itulah sebabnya kehadiran seorang Master adalah berkah yang langka.

Sumber: (Krishna, Anand. (2004), Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian, Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna#AnandAshram#UbudAshram

Trust Pada Sadguru

Seorang Sadguru sebagai pemandu pribadi mengetahui persis kelemahan, kekurangan, dan kesulitan yang dapat kita hadapi dalam perjalanan. Baginda Baba pernah bersabda : Para suci ibarat orang tua. Banyak para suci, dan banyak orangtua di dunia semuanya patut dihormati.

Kendati demikian, orang tua kita adalah orang tua kita. Guru yang kita yakini sebagai guru pribadi, dialah Sadguru kita. Semuanya menyampaikan hal yang baik. Tetapi Guru kita menyampaikan sesuatu yang tepat bagi kita. Sebab itu, penyerahan diri hendaknya kepada seorang guru yang sepenuhnya kita terima, dan percayai, yakini.

Cintailah Guru yang telah kaupilih itu dengan sepenuh hatimu. Maka, kau akan lihat sendiri bila lautan samsara lenyap seketika. Tidak ada lagi lautan “kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan” untuk diseberangi. Adakah kegelapan tetap bertahan bila matahari telah terbit?

Sumber: (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

#AnandKrishna#AnandAshram#UbudAshram

Karakteristik Pemandu Rohani

Karakteristik para pemandu rohani sudah bisa dideteksi sejak usia dini. Baru-baru ini kami melakukan penelitian kecil-kecilan dengan melibatkan lebih dari 300 responden di Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali.

Walau penelitian itu dilakukan di kota-kota tersebut, mereka yang terlibat sebagai responden mewakili Indonesia selengkapnya. Ada orang Bugis, ada Betawi, ada Batak, ada yang berasal dari Flores, Aceh, Minang, KaIimantan…. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun orang yang pada usia 5 hingga 10 tahun memikirkan spiritualitas. Tidak seorang pun.

Keadaan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa para Sadguru atau Pemandu Sejati memang bukan run of the millproduct, bukan produk pabrikan.

Seorang Pemandu Sejati, seorang Sadguru sudah menunjukkan sifat-sifat rohani sejak usia dini. Ia sudah memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dilakukannya selama perlawatannya di dunia ini. Ia sudah mengantongi blueprint yang jelas tentang dunia yang akan dibangunnya.

Nah, kalau Anda bertemu dengan seorang Pemandu Sejati seperti itu, maka perannya penting sekali. Ia dapat menunjukkan jalan kepada Anda. Kendati setelah itu, Anda mesti berjalan sendiri. Seorang pernandu sejati tidak akan menggendong Anda atau mengantar Anda ke tujuan Anda. Ia tidak akan memanjakan Anda.

Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna#AnandAshram#UbudAshram

Waspada, Persepsi Kita Bukan Realita

Posted in Uncategorized on December 18, 2018 by triwidodo

Kisah Perselisihan Akibat Perbedaan Persepsi

Seorang Master bercerita di sebuah desa terpencil akan diadakan acara pernikahan. Rombongan pengantin pria datang ke sebuah desa dan tinggal di sebuah rumah. Sementara, rombongan pengantin putri tinggal di rumah lain di desa yang sama.

Ada seseorang yang menghubungi kedua rombongan yang mengharapkan imbalan dari kedua belah pihak. Penghubung tersebut mendatangi rombongan pengantin pria dan berkata bahwa pihak pengantin putri sering terlambat dalam memparsiapkan acara sehingga sering terjadi masalah dengan para tamu yang diundangnya. Rombongan pengantin pria menghormati orang yang menghubungkan mereka dengan pihak rombongan putri, dan menganggap seorang tua yang wajib dihormati.

Sang penghubung ternyata juga pergi ke rumah rombongan pengantin putri, dan mengatakan bahwa rombongan pengantin pria suka terlambat datang dan kurang menghormati pengantin putri.

Demikianlah sang penghubung membuat akting yang merugikan kedua belah pihak.

Sebelum kejadian menjadi lebih parah, baik rombongan pengantin pria maupun rombongan pengantin pria ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ketika mereka sadar bahwa ada kesalahpahaman di antara mereka, sang penghubung atau “Si Persepsi” menghilang pelan-pelan.

Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, memilih tindakan yang tepat, responsif bukan reaktif ini adalah bagian dari Viveka.

Hampir semua yang berada dalam pikiran kita adalah persepsi, bukan realitas. Apa yang kita percayai dan bahkan kita yakini sebenarnya bukan realitas itu sendiri. Hanya merupakan sebuah peta dan  bukan kondisi realita di lapangan. Kita, sesungguhnya, bereaksi terhadap persepsi kita, bukan terhadap realitas sebenarnya. Kabar baiknya adalah bahwa kita dapat memperbaiki persepsi untuk meningkatkan kesadaran.

Kebanyakan kita berselisih karena perbedaan persepsi.

Semua Latihan Meditasi, Yoga, Seva, Study Group, Yoga Sadhana dan lain-lain di Anand Ashram adalah Latihan Memberdaya Diri untuk memperoleh pikiran yang jernih, sehingga kita dapat mengambil tindakan yang tepat.

Selama Melihat Dengan Persepsi Kita Masih Dipertimbangkan Sebagai Hewan?

Persepsi dalam bahasa Sanskrit adalah “pashyati”, akar katanya “pashu”, hewan.

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Kalian melihat sebuah patung sebagai sapi, sedangkan saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion.

Sumber: Video Youtube by Bapak Anand Krishna: God and Humanbeing Go Beyond Perception

Melihat Realita Sebenarnya Tanpa Pengaruh Persepsi Kita Sebelumnya

Berikut pandangan Guruji Anand Krishna dalam Yoga Sutra Patanjali III.37:

Pendengaran, penglihatan, perabaan, pencecapan, dan penciuman kita saat ini—indra-indra persepsi kita saat ini—masih tetap bekerja secara subjektif. Kesukaan dan ketaksukaan kita; ketertarikan dan ketidaktertarikan kita masih bersifat subjektif berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, berdasarkan memori sebelumnya.

SEORANG NON-YOGI TlDAK MAMPU MELIHAT SESUATU TANPA INTERVENSI PERSEPSI yang sudah terbentuk.

Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kila anggap baik.

Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are. Intuisi yang telah bekerja, tidak membuatnya memiliki indra keenam, ketujuh, atau keberapa—istilah-istilah seperti itu sungguh sangat tidak tepat, tiada satu pun yang memiliki indra keenam. Maket tubuh kita sudah ditentukan oleh keberadaan—pancaindra. Titik.

Intuisi membuat indra-indra persepsi, sebagaimana diuraikan dalam sutra ini, mulai berpersepsi secara jernih. Persepsi-jernih tanpa intervensi memori masa lalu dan sebagainya, membuat seorang Yogi bebas dari segala macam prejudice dan favoritisme. Tiada yang dibencinya, tiada pula yang membuatnya tertarik. Ia memahami sifat alam benda, dan memahami pula sifat badannya, sifat pancaindranya, yang sama-sama adalah bagian dari alam benda.

MELIHAT, MENDENGAR, DAN SEBAGAINYA “SECARA INTUITIF” berarti melihat apa yang ada di balik yang terlihat oleh mata, mendengar apa yang ada di balik yang terdengar oleh telinga, dan seterusnya.

Demikian, penglihatan, pendengaran, dan sebagainya dalam diri seorang Yogi menjadi semakin halus. Di balik apa yang terlihat, ternyata ada unsur-unsur kebendaan yang amat, sangat terbatas, dan sedang mengalami kepunahan. Berapa banyak elemen, kimia-kimia apa saja yang ada di dalam diri, dalam badan manusia, tetap dapat dihitung. Banyak sel, triliunan, namun masih terhitung juga. DNA kita semua temyata 99,99% mirip.

Lebih dalam lagi, ternyata di balik perbedaan yang tipis itu, di balik kebendaan yang tampak beda itu, sesungguhnya tiada perbedaan Jivatma atau Jiwa Individu yang menerangi tubuh saya, tubuh Anda, bahkan cacing-cacing di selokan—semua adalah sama-sama percikan, bagian dari Sang Purusa,

Gugusan Jiwa yang satu, sama, tunggal. Kemudian, Sang Purusa pun, adalah sekadar Cahaya Sang Jiwa Agung.

BERARTI, MELIHAT DAN SEBAGAINYA “SECARA INTUITIF” bukanlah menjadi peramal, “Aku bisa membaca pikiranmu.” Tidak, walau itu pun “bisa” terjadi. Tapi, bukan itu tujuan Patanjali memberikan rumusan-rumusan ini.

Menjadi intuitif berarti “melihat benda sebagai benda; Jiwa sebagai Jiwa.” Menjadi intuitif, berarti tidak terbingungkan oleh penglihatan, pendengaran, dan sebagainya; dan tidak bertindak dalam kebingungan.

Demikian maksud Patanjali.

Sutra ini adalah penegasan terhadap sutra Sebelumnya.

Sumber: buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Total Trust, Keimanan Untuk Menafikan Mind, Menerima Kebijakan-Nya

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 17, 2018 by triwidodo

 

Tidak Usah Mempedulikan Pikiran?

Seorang Master berkisah bahwa Sri Ramakrishna, Guru dari Swami Vivekananda berkata, Jika Anda ingin menghindari getah buah nangka lengket pada jari-jari Anda ketika mengupasnya, Anda harus melumasi jari-jari Anda dengan beberapa tetes minyak. Kemudian, Beliau melanjutkan jika Anda tidak ingin lengket dengan dunia, lumasi pikiran Anda dengan beberapa tetes ketidakpedulian, atau nggak usah mempedulikan pikiran.

Ketidakpedulian terhadap pikiran, “no-mind”, adalah anihilasi ego. Dikisahkan Sri Chaitanya pergi ke Vrindavan, dan bagi Beliau setiap partikel debu adalah suci, karena Sri Krishna telah menginjak tanah itu berabad-abad yang lalu. Beliau tidak melihat, mendengar, menyentuh atau mencium aroma sesuatu atau tidak merasakan apa pun kecuali fokus pada Sri Krishna.

Beliau tidak peduli  dengan dunia sekitar, mengabaikan tuntutan lapar, haus dan etika sosial. Dan, pada suatu malam, Sri Krishna muncul di hadapan Beliau.  Beliau akhirnya melepas semua kerinduan yang lain kecuali hanya rindu pada Sri Krishna yang mewujud di hadapan Beliau.

Kesadaran Chaitanya (Kesadaran Ilahi) telah menerangi Sri Chaitanya yang berwujud manusia. Krishna adalah Kesadaran Tertinggi dalam diri Sri Chaitanya.

Ego Sri Chaitanya telah luluh dan menerima segala “Kehendak-Krishna”?

Bisakah kita meluluhkan ego, melampaui mind seperti Sri Chaitanya?

Semua Latihan Meditasi, Yoga, Seva, Study Group, Yoga Sadhana dan lain-lain di Anand Ashram adalah Latihan Memberdaya Diri untuk Melampaui Kesadaran Mental/Emosional, Melampaui Mind, untuk menemukan kembali Diri Sejati. Silakan baca Penjelasan Bhagavad Gita 8:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bukan Aku Pasrahkan Egoku, Melainkan Mencapai Keadaan Saranagati, Keadaan Pasrah

Pada saat mengucapkan “aku pasrahkan egoku”, masih ada pernyataan “aku”, masih ada ego. Kalau seseorang sudah mencapai keadaan saranagati, keadaan pasrah, dia trust total.

Buddha menyampaikan 3 hal: Buddham Saranam Gatchami, Dharmam Saranam Gatchami, Sangam Saranam Gatchami.

Kalau kita ingin mengetahui diri kita maka kita membutuhkan cermin. Guru adalah cermin diri kita. Kita trust pada cermin, kita trust pada tukang cukur yang membawa pisau tajam. Kita tidak mempertanyakan, duduk diam, tutup mata dan tukang cukur dengan pisau tajam bekerja.

Berada di depan cermin, apa yang kita lihat adalah diri kita. Melihat Guru (Darshan), yang terlihat adalah diri kita, kita mempunyai potensi dalam diri seperti Guru. kita trust pada cermin, kita trust pada Guru.

Guruji Anand Krishna menyampaikan bila seorang Pangeran dapat menjadi Buddha, kalian pun juga bisa. Buddha adalah kesadaran yang sangat tinggi dalam diri kita. Buddha memberi istilah “ingat kembali” diri kita itu siapa.

……………

Istilah Buddha adalah Smrti, Ingatan Berkesadaran, Penuh Attentiveness atau penuh perhatian. Jadi dalam konteks ini, Smrti bukan sekadar ingatan atau memori. Namun, ingatan atau memori yang terkait dengan kesadaran, dengan attentiveness atau perhatian.

Untuk membedakan “smrti-ingatan” dari “smrti-ingatan penuh perhatian”, Buddha menambahkan kata sama sebelum smrti. Samasatti, dalam bahasa Pali yang digunakan oleh Buddha, berarti Ingatan penuh Perhatian yang Tepat, yang dapat mengantar kita pada Samadhi, pada Keseimbangan Sejati, pada Pencerahan.

Samasatti, Smrti inilah yang dapat membangkitkan kebuddhaan di dalam diri kita. Dikutip dari buku Yoga Sutra Patanjali

………..

Pada waktu kita masih kecil kita trust pada ibu. Jesus mengatakan pintu surga ada pada anak kecil, bukan sifat anak kecil, tapi keadaan anak kecil yang trust total.

Dharmam Saranam Gatchami: karena kita total trust pada Guru maka kita patuh semua nasihat Guru. Dan seterusnya……..

Sumber: Video Youtube Who Am I? Self Discavery and surrender of the Ego by Anand Krishna

 

Total Trust, Keimanan Untuk Menafikan Mind, Menerima Kebijakan Dia

Apakah seseorang yang merasa telah ber-“iman” betul-betul yakin tentang Kemahakuasaan Dia? Sehingga dia menerima segala “Kehendak-Nya” dan tidak menentang “Kehendak-Nya”? Seseorang yang bertindak demikian, berarti ego dirinya telah luluh dan menerima segala “Kehendak-Nya”? Apakah iman kita sudah demikian? Atau justru ego kita naik karena merasa beriman sehingga kitalah yang benar, yang lain salah?

Berikut Penjelasan Guruji Anand Krishna:

Salah satu cara untuk menegasikan atau menafikkan mind. Apa yang disebut “iman” dalam beberapa tradisi keagamaan sesungguhnya adalah juga “penafian” mind, kembali ke “khitah asal”. Kembali pada keluguan, kepolosan, dan ketulusan sorang anak kecil. Begitulah menurut tradisi Kristen.

Atau ketika seorang mukmin bersujud dalam setiap salat…. apa yang dia lakukan? Dengan menundukkan kepala, sesungguhnya ia sedang menundukkan egonya.

Dalam tradisi Hindu, mereka mengenal upacara Agnihotra yang biasa diterjemahkan sebagai “persembahan kepada Api”. Sesungguhnya, Agnihotra berarti “Persembahan lewat Api”. Lebih tepat lagi bila diterjemahkan sebagai “Pensucian lewat Api”. Setiap kali “mempersembahkan” sesajian berupa rempah-rempah dan biji-bijian kepada api, umat Hindu mengatakan, “Terimalah persembahanku ini, walau sesungguhnya bukan aku yang mempersembahkannya.”

(Ida na mama, bukan aku, tambahan pengkutip dari mantra agnihotra)

Rempah-rempah dan biji-bijian yang mereka persembahkan, mereka bakar, sesungguhnya sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebersihan lingkungan. Terlepas dari itu, ucapan mereka sungguh menarik: “Terimalah persembahanku ini, walau sesungguhnya bukan aku yang mempersembahkannya.”

Melihat seorang Hindu mengambil air Ganga dan mempersembahkannya kembali kepada sungai Ganga, ada yang mengkritik: “Lihat tuh, sungai itulah Tuhan mereka!”

Huahahahahaha……

Ampunilah mereka, Ya Allah, Ya Rabb…, karena mereka belum bisa melihat Wajah-Mu di mana-mana. Mereka hanya melihat aliran sungai. Mereka tidak melihat-Mu yang mengalirkan setiap sungai. Mereka melihat sumur dan mata air, mereka tidak melihat-Mu yang mengisi setiap sumur dan setiap mata air.

Saat mempersembahkan sesuatu “lewat” api atau mempersembahkan air kepada sungai, seorang Hindu tengah mengingatkan dirinya: “Sesungguhnya tak ada yang dapat ‘ku’-berikan kepada-Mu. Semua ini berasal dari-Mu. Dan, kepada-Mu pula kupersembahkan.”

Lebih-lebih lagi, “Apa kekuatanku, sehingga dapat mempersembahkan sesuatu kepada-Mu?’ ‘Kekuatan’ ini pun berasal dari-Mu……”

Berasal dari-Mu, kupersembahkan balik kepada-Mu……

Seorang pencinta Allah menafikan “ego”. Menafikan “mind”. Ini bukan “Aku”, itu pun bukan “Aku”.

“aku” bukan “Aku”.

“aku” hanyalah bayangan.

“aku” tak ada.

Yang Ada hanyalah “Aku”….

Sumber: (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Nyata Seorang Awam yang Meninggalkan Dunia dengan Senyuman

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 12, 2018 by triwidodo

Akhir Perjalanan Dalam Satu Episode Kehidupan

Guruji Anand Krishna menulis:

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.

Sumber: (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Kita sering melihat film ataupun film seri di tivi berbayar. Hampir dalam semua film selalu dimulai dengan ketegangan-ketegangan dan pemeran utama mengalami babak-belur. Akan tetapi beberapa saat di akhir cerita sang pemeran utama mengalami kejayaan. Bagaimana pun para pemirsa film tahu bahwa pemeran utama memiliki potensi untuk mengalami kemenangan.

 

Saat Ajal Tiba Adalah Adegan Akhir Dalam Satu Episode Kehidupan Kita

Saat ajal tiba – ini adalah closing scene atau adegan akhir dalam salah satu episode kehidupan kita. Tentunya, adegan akhir ini menjadi awal dari episode baru. Akhir adegan dalam episode ini, mengantar kita pada adegan pembukaan dalam episode berikutnya.

Jika sepanjang hidup kita sudah melatih diri untuk senantiasa berada dalam kesadaraan Jiwa, maka dalam kehidupan berikutnya kita akan melanjutkan upaya itu. Namun, jika dalam kehidupan ini kita sudah mencapai kesempurnaan, dan saat ajal tiba kesadaran kita sepenuhnya terpusatkan pada Sang Gusti Pangeran, maka tiada lagi episode baru. Kita menyatu dengan Sang Saksi Agung, Sang Jiwa Agung, Krsna mengatakan hal ini sebagai suatu keniscayaan.

Ayat ini sering disalahtafsirkan, seolah sepanjang hidup, kita bisa memikirkan apa saja. Kemudian saat ajal tiba kita mengenang-Nya, dan bingo! Kita menyatu dengan-Nya.

Teorinya demikian, prakteknya beda. Jika sepanjang hidup yang terpikir adalah dunia benda saja, maka saat ajal tiba, sesaat sebelumnya, kita tidak bisa, tidak mungkin, mengalihkan kesadaran pada-Nya. Saat itu yang terpikir adalah rumah, kerabat, keluarga; istana, yang telah kita bangun dan ‘belum cukup’ menikmatinya; perusahaan, yang kita tidak yakin akan dikelola dengan baik oleh ahli waris kita — dan sebagainya, dan seterusnya.

Pikiran terakhir, kesadaran terakhir saat mengembuskan napas terakhir — sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala ritus yang kita lakukan sepanjang hidup, segala amal-saleh atau dana-punia. Jika semuanya itu kita lakukan untuk pamer, dan bukan sebagai persembahan kepada-Nya_

PEMUSATAN KESADARAN PADA-NYA mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya.

Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 8:5 oleh Guruji Anand Krishna dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Meninggalkan Dunia Dengan Seyuman di Bibir

Adalah kakak kandung saya yang sulit dipahami oleh dunia. Kakak kami lahir pada tanggal 21 Januari 1952 dan baru saja meninggal pada tanggal 10 Desember 2018 di usia hampir 66 tahun.

Foto kakak kami yang meninggalkan dunia dengan senyuman masih kami simpan di file. Hidupnya biasa, sederhana. Tidak mempunyai Guru Pemandu dan menjalankan ibadah dengan normal. Hanya beliau memang tidak pernah berbuat jahat, tidak pernah merepotkan orang, demikian sepengetahuan saya.

Yang mungkin tidak biasa dan sulit dicontoh adalah cara beliau melepaskan keterikatan pada dunia. Mungkin beliau dipandu Jiwanya, walau tetap sulit dimengerti oleh orang awam. Yang penting adalah sebuah kenyataan akhir bahwa beliau meninggalkan dunia dengan sebuah senyuman. Bisakah kita? Itu masih perlu dibuktikan dulu.

Begitu pensiun dari Kantor Dirjen Imigrasi, dia memutuskan hidup sendiri kost di Jogja. Untuk istri dan anak putri satu-satunya dia mempersiapkan rumah yang cukup besar di Solo. Istri dan anaknya hidup layak walau sederhana dengan deposito istri dan hasil kontrak rumahnya setiap tahun yang ada di Jakarta dan mungkin sebagian uang pensiun yang dikirimkan ke istrinya.

Beliau pilih hidup kost sebagaimana mahasiswa awam bukan di tempat elit. Beliau kemana-mana naik sepeda dan berjualan koran. Dua atau 3 bulan sekali pulang ke Solo. Dan kami selalu bertemu pada waktu lebaran. Hal itu telah dijalaninya selama 7 tahun.

Kami dan saudara-saudara beliau memahami bahwa itu adalah pilihan beliau dan beliau menjalani kehidupan dengan sederhana dan bahagia. Sepengetahuan kami beliau tidak punya WA dan grup WA.

Putra ibu kostnya menyampaikan kepada kami bahwa pada hari Senin 12 Desember pagi, beliau masih melaksanakan shalat subuh di Mushola dekat tempat kostnya. Pukul 9.00 pagi merasa agak pusing dan diantar teman kostnya ke Puskesmas. Pulang dari Puskesmas masih ditunggui teman-teman kost yang rata-rata masih muda. Tukang tambal ban di pinggir jalan yang istrinya jualan lotek menawari apakah beliau mau makan lotek kesukaannya? Dan dijawab beliau, terima kasih-terima kasih sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Pukul 13.00 beliau ceguken dan kemudian meninggalkan dunia dengan senyuman.

Istri dan anaknya langsung berangkat dari Solo ketika diberitahu bahwa suaminya sedang sakit. Dengan berbekal alamat kost mereka sampai juga di sana. Kami menyusul setelah dalam perjalanan anaknya telpon kami memberitahu bahwa ayahnya, kakak kami sudah meninggal. Kami dan istri segera berangkat dari Solo. Menyelesaikan surat-surat di Polsek bersama putri kakak. Dan kemudian kami mencari lewat telpon ambulans di PMI Jogja.

Istri kami bersama istri kakak dan putrinya menunggui jenazah bersama teman-teman dan tetangga almarhum di tempat kost.

Saat menunggu mobil ambulans di jalan itulah saya ngobrol dengan tukang tambal ban yang istrinya jualan lotek di sebelahnya. Istrinya sudah pulang dan dia juga siap-siap pulang karena hari mendung dan akan hujan. Tukang tambal ban yang sederhana itu bercerita tentang kakak saya yang sederhana dan dikenal baik oleh tetangga. Kesukaannya adalah makan lotek. Dan seminggu sebelum kejadian dia telah bicara dengan sang penjual lotek, istri tukang tambal ban, bahwa seminggu lagi dia akan pulang. Ke Solo? Tanya penjual lotek dan dijawab iya oleh almarhum. Mereka baru paham itu adalah pesan terakhir bahwa seminggu lagi dia akan meninggalkan dunia dan dimakamkan di Solo. Semua tetangganya menjadi saksi bahwa beliau meninggal dengan tersenyum

Adalah para tetangganya di Solo, Pak RW dan Pak RT yang mempersiapkan segalanya. Dari tenda, kursi, bunga, peti mati, mobil jenazah, sound system sampai ustadz pemimpin doa serta yang memandikan jenazah diurus oleh para tetangga. Roti dan minuman para takziah baik di rumah duka maupun di pemakanan telah disiapkan para tetangga dan keluarga hanya menyelesaikan pembayarannya setelah acara selesai. Luar biasa, begitulah kenyataan kehidupan masyarakat di Solo. Dan menurut pendapat kami itu tak lepas dari tindakan baik beliau selama di dunia.

Sebagai sambutan ucapan terima kasih dilakukan oleh sesepuh masyarakat Solo, Bapak Begoeg Purnomosidi yang masih merupakan kerabat. Sambutan oleh masyarakat dilakukan oleh Ibu Lurah sambil menyerahkan Surat Kematian yang sudah ditandatangani Kantor Catatan Sipil Kota Surakarta. Pemakaman di Astana Bibis Luhur juga berjalan lancar.

Adalah sebuah pelajaran bahwa hidup di dunia itu harus “ngakeh-akehi kabecikan”, memperbanyak kebaikan, memperbanyak good karma dan jangan melakukan keburukan. Tidak ada gunanya berbuat keburukan.

Kami ingat pesan Guruji Anand Krishna, Jangan melakukan segala sesuatu yang kita tidak ingin hal itu dilakukan terhadap kita. Itu adalah sebuah Golden Rule.

Adalah Jiwa kita yang akan memandu ke arah kebaikan. Apa pun tindakan kita di masa lalu mulai saat ini semuanya sudah harus selesai, enough. Mari memulai hidup dengan penuh kesadaran.

Selamat Jalan Mas Bambang Indarjanto, Sadgati, semoga memperoleh kesadaran yang lebih baik lagi di kehidupan selanjutnya.

Mengapa Sulit Sekali Menghilangkan Sifat Materialistis?

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 9, 2018 by triwidodo

Berikut pandangan Guruji Anand Krishna tentang pengaruh apa yang kita makan terhadap kesadaran diri kita.

 

Pikiran Seseorang Mempengaruhi Makanan yang Dia Masak

Seorang Master menyampaikan kisah yang perlu diperhatikan bagi para penggiat spiritual, mereka yang ingin memperoleh kebahagiaan sejati.

Di Malur, Mysore tinggal seorang brahmana dan istrinya yang saleh. Mereka berdua selalu melakukan sadhana untuk menjaga kesadaran mereka. Pada suatu hari seorang Sanyasi  bernama Nityananda bertemu dengan sang brahmana dan kemudian oleh sang brahmana diundang besok malamnya untuk makan malam di rumah sang brahmana.

Akan tetapi pada keesokan harinya istri sang brahmana medadak sakit, dan seorang tetangga menawarkan diri untuk memasakkan makanan untuk keperluan makan malam.

Acara makan malam berjalan lancar, hanya sang sanyasi mengalami peperangan batin. Pada saat makan timbul keinginan kuat sang sanyasi untuk mengambil cangkir perak yang berada di dekat piring makanan. Pada saat tuan rumah sedang lengah, dia menyembunyikan cangkir perak tersebut ke dalam jubah yang dipakainya.

Sang sanyasi, ternyata tidak bisa tidur semalaman. Hati nuraninya mengingatkan dia berulang kali. Mantra sadhana dan Guru Puja yang rutin dilakukannya membuatnya bersedih dan muncul rasa penyesalan yang sangat besar.

Esok paginya, sang sanyasi bergegas ke rumah sang brahmana dan bersujud di kaki sang brahmana. Dia mohon maaf dan mengembalikan cangkir perak yang diambilnya sambil menangis. Para murid brahmana bingung bagaimana mungkin seorang sanyasi berbuat hal yang memalukan. Seorang sahabat sang brahmana menanyakan siapa yang masak makan malam pada hari itu. Setelah ditelusuri ternyata tetangga yang membantu memasak adalah seorang pencuri. Kecenderungan mencuri mempengaruhi makanan yang disajikannya.

Itulah sebabnya para sadhaka, penggiat spiritual yang ingin melakukan perjalanan ke dalam diri hanya makan yang dimasak oleh para murid ashram.

Pandangan Guruji Anand Krishna dalam Salah Satu Video Beliau

Kita semua hidup dalam satu masa yang disebut kali Yuga. Kali yuga ini berarti segala sesuatu dalam masa ini, dikuasai oleh uang, oleh harta, oleh korporasi. Oleh pedagang, oleh pengusaha. Bagaimana membebaskan diri kita dari pengaruh yang negatif, karena kita semua butuh uang. Kita butuh uang, butuh hidup tapi bagaimana caranya agar tidak memikirkan uang melulu. Tidak selalu hanya memikirkan uang saja. Apakah mungkin atau tidak mungkin?

Lagu tadi mengatakan mungkin. Kita butuh materi tapi tidak menjadi materialis. Caranya kita selalu berfokus pada kemuliaan, ketuhanan, dalam diri. Kita bekerja selalu fokus kita pada kemuliaan dalam diri.

Makanan yang kita makan ini penting sekali. Pengaruh dari makanan itu penting sekali. Di Indonesia sampai dengan 50-60 tahun yang lalu, kebanyakan kita masih masak di rumah. Tidak makan di restoran melulu. Di Barat pun 70-80 tahun yang lalu, masih makan di rumah. Dulu kalau kita lagi travelling, kita lagi jalan ke mana atau di rumah tidak bisa masak karena suatu hal, baru kita ke restoran.

Kita maakan di rumah, sudah makan 1 piring nasi, yang memasak ibu, kita minta kepada ibu, ibu saya masih lapar, boleh minta lagi? Ibu dengan senang hati memberikan.

Kalau di restoran minta tambah bagaimana? Bayar dulu. Di luar kalau kita makan di restoran. Tujuan restoran apa? Tujuannya cari uang kan? Mereka tidak masak penuh cinta, tidak penuh kasih. Kalau di rumah ibu kita masak dengan penuh cinta penuh kasih. Di restoran tujuan mereka bukan penuh cinta, bukan penuh kasih.

Kalau kita makan, masakan yang dimasak dengan penuh cinta. Vibrasi cinta yang kita peroleh. Kita makan masakan yang hanya untuk mencari uang, vibrasi materialistik yang kita peroleh. Pilihan di tangan kita.

Mau bagaimana? Mendingan makan 2 kali saja. Pagi masih bisa masak, sore masih bisa masak, daripada makan 3 kali, dan makan masakan di restoran, yang hanya dimasak untuk mencari uang. Kalau kita ke ashram, di manapun ashram di India. Sambil memasak, para tukang masak menyanyikan bhajan. Sambil masak itu feelingnya adalah mempersembahkan, masakan ini kepada Hyang Widhi. Kepada Tuhan. Masakan itu menjadi sangat luar biasa. Menjadi prasadam, lungsuran. Jadi makan apa pun di ashram itu minum air pun itu adalah prasadam. Lungsuran yang sudah diberkati.

Itulah mengapa untuk menghilangkan, mengeliminasi, dengan cara itu kita bisa bebas dari pengaruh Kali Yuga. Makanan penting sekali. Jaga makanan,  jadi anak-anak di sini kalau sudah menjadi besar, ingat kalau mau anak-anak kalian mu tetap spiritual, tidak materialis, berikan makanan yang dimasak sendiri. Lebih bagus masak pagi satu kali masak 2 macam, 3 macam masakan dan dimakan sepanjang hari. Walau baiknya masak langsung dimakan, tapi kalau nggak punya waktu, lebih bagus begitu dari pada makan di luar.

Karena makanan ini pengaruhnya nggak bisa dihilangkan dengan cara lain. Kalau makanan sudah materialis, pengaruh luar juga materialis, bertambah vibrasi-vibrasi materialis. Jaga-jaga dengan makanan. Sambil masak ibu-ibu di rumah, bapak-bapak yang suka masak, jangan ngoceh, jangan menggerutu. Sambil masak itu kalau perlu pasang tape di sana. Sekarang mp3 kan murah. Seratus, seratus dua puluh lima ribu dapat. Pasang tape lagu-lagu bhajan, pujian kepada Tuhan. Ibu-ibu coba coba perhatikan kalau anaknya kurang rajin atau tertinggal pelajarannya, dengan cara itu dalam 2-3 bulan anak akan lebih rajin di sekolah. Impact dari pengaruh masakan pun dalam 2-3 bulan sudah langsung akan kelihatan.

Sumber: Video Youtube “Menetralisir Dampak Zaman Kali Yuga Melalui Makanan” by Anand Krishna