Total Trust, Keimanan Untuk Menafikan Mind, Menerima Kebijakan-Nya

 

Tidak Usah Mempedulikan Pikiran?

Seorang Master berkisah bahwa Sri Ramakrishna, Guru dari Swami Vivekananda berkata, Jika Anda ingin menghindari getah buah nangka lengket pada jari-jari Anda ketika mengupasnya, Anda harus melumasi jari-jari Anda dengan beberapa tetes minyak. Kemudian, Beliau melanjutkan jika Anda tidak ingin lengket dengan dunia, lumasi pikiran Anda dengan beberapa tetes ketidakpedulian, atau nggak usah mempedulikan pikiran.

Ketidakpedulian terhadap pikiran, “no-mind”, adalah anihilasi ego. Dikisahkan Sri Chaitanya pergi ke Vrindavan, dan bagi Beliau setiap partikel debu adalah suci, karena Sri Krishna telah menginjak tanah itu berabad-abad yang lalu. Beliau tidak melihat, mendengar, menyentuh atau mencium aroma sesuatu atau tidak merasakan apa pun kecuali fokus pada Sri Krishna.

Beliau tidak peduli  dengan dunia sekitar, mengabaikan tuntutan lapar, haus dan etika sosial. Dan, pada suatu malam, Sri Krishna muncul di hadapan Beliau.  Beliau akhirnya melepas semua kerinduan yang lain kecuali hanya rindu pada Sri Krishna yang mewujud di hadapan Beliau.

Kesadaran Chaitanya (Kesadaran Ilahi) telah menerangi Sri Chaitanya yang berwujud manusia. Krishna adalah Kesadaran Tertinggi dalam diri Sri Chaitanya.

Ego Sri Chaitanya telah luluh dan menerima segala “Kehendak-Krishna”?

Bisakah kita meluluhkan ego, melampaui mind seperti Sri Chaitanya?

Semua Latihan Meditasi, Yoga, Seva, Study Group, Yoga Sadhana dan lain-lain di Anand Ashram adalah Latihan Memberdaya Diri untuk Melampaui Kesadaran Mental/Emosional, Melampaui Mind, untuk menemukan kembali Diri Sejati. Silakan baca Penjelasan Bhagavad Gita 8:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bukan Aku Pasrahkan Egoku, Melainkan Mencapai Keadaan Saranagati, Keadaan Pasrah

Pada saat mengucapkan “aku pasrahkan egoku”, masih ada pernyataan “aku”, masih ada ego. Kalau seseorang sudah mencapai keadaan saranagati, keadaan pasrah, dia trust total.

Buddha menyampaikan 3 hal: Buddham Saranam Gatchami, Dharmam Saranam Gatchami, Sangam Saranam Gatchami.

Kalau kita ingin mengetahui diri kita maka kita membutuhkan cermin. Guru adalah cermin diri kita. Kita trust pada cermin, kita trust pada tukang cukur yang membawa pisau tajam. Kita tidak mempertanyakan, duduk diam, tutup mata dan tukang cukur dengan pisau tajam bekerja.

Berada di depan cermin, apa yang kita lihat adalah diri kita. Melihat Guru (Darshan), yang terlihat adalah diri kita, kita mempunyai potensi dalam diri seperti Guru. kita trust pada cermin, kita trust pada Guru.

Guruji Anand Krishna menyampaikan bila seorang Pangeran dapat menjadi Buddha, kalian pun juga bisa. Buddha adalah kesadaran yang sangat tinggi dalam diri kita. Buddha memberi istilah “ingat kembali” diri kita itu siapa.

……………

Istilah Buddha adalah Smrti, Ingatan Berkesadaran, Penuh Attentiveness atau penuh perhatian. Jadi dalam konteks ini, Smrti bukan sekadar ingatan atau memori. Namun, ingatan atau memori yang terkait dengan kesadaran, dengan attentiveness atau perhatian.

Untuk membedakan “smrti-ingatan” dari “smrti-ingatan penuh perhatian”, Buddha menambahkan kata sama sebelum smrti. Samasatti, dalam bahasa Pali yang digunakan oleh Buddha, berarti Ingatan penuh Perhatian yang Tepat, yang dapat mengantar kita pada Samadhi, pada Keseimbangan Sejati, pada Pencerahan.

Samasatti, Smrti inilah yang dapat membangkitkan kebuddhaan di dalam diri kita. Dikutip dari buku Yoga Sutra Patanjali

………..

Pada waktu kita masih kecil kita trust pada ibu. Jesus mengatakan pintu surga ada pada anak kecil, bukan sifat anak kecil, tapi keadaan anak kecil yang trust total.

Dharmam Saranam Gatchami: karena kita total trust pada Guru maka kita patuh semua nasihat Guru. Dan seterusnya……..

Sumber: Video Youtube Who Am I? Self Discavery and surrender of the Ego by Anand Krishna

 

Total Trust, Keimanan Untuk Menafikan Mind, Menerima Kebijakan Dia

Apakah seseorang yang merasa telah ber-“iman” betul-betul yakin tentang Kemahakuasaan Dia? Sehingga dia menerima segala “Kehendak-Nya” dan tidak menentang “Kehendak-Nya”? Seseorang yang bertindak demikian, berarti ego dirinya telah luluh dan menerima segala “Kehendak-Nya”? Apakah iman kita sudah demikian? Atau justru ego kita naik karena merasa beriman sehingga kitalah yang benar, yang lain salah?

Berikut Penjelasan Guruji Anand Krishna:

Salah satu cara untuk menegasikan atau menafikkan mind. Apa yang disebut “iman” dalam beberapa tradisi keagamaan sesungguhnya adalah juga “penafian” mind, kembali ke “khitah asal”. Kembali pada keluguan, kepolosan, dan ketulusan sorang anak kecil. Begitulah menurut tradisi Kristen.

Atau ketika seorang mukmin bersujud dalam setiap salat…. apa yang dia lakukan? Dengan menundukkan kepala, sesungguhnya ia sedang menundukkan egonya.

Dalam tradisi Hindu, mereka mengenal upacara Agnihotra yang biasa diterjemahkan sebagai “persembahan kepada Api”. Sesungguhnya, Agnihotra berarti “Persembahan lewat Api”. Lebih tepat lagi bila diterjemahkan sebagai “Pensucian lewat Api”. Setiap kali “mempersembahkan” sesajian berupa rempah-rempah dan biji-bijian kepada api, umat Hindu mengatakan, “Terimalah persembahanku ini, walau sesungguhnya bukan aku yang mempersembahkannya.”

(Ida na mama, bukan aku, tambahan pengkutip dari mantra agnihotra)

Rempah-rempah dan biji-bijian yang mereka persembahkan, mereka bakar, sesungguhnya sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebersihan lingkungan. Terlepas dari itu, ucapan mereka sungguh menarik: “Terimalah persembahanku ini, walau sesungguhnya bukan aku yang mempersembahkannya.”

Melihat seorang Hindu mengambil air Ganga dan mempersembahkannya kembali kepada sungai Ganga, ada yang mengkritik: “Lihat tuh, sungai itulah Tuhan mereka!”

Huahahahahaha……

Ampunilah mereka, Ya Allah, Ya Rabb…, karena mereka belum bisa melihat Wajah-Mu di mana-mana. Mereka hanya melihat aliran sungai. Mereka tidak melihat-Mu yang mengalirkan setiap sungai. Mereka melihat sumur dan mata air, mereka tidak melihat-Mu yang mengisi setiap sumur dan setiap mata air.

Saat mempersembahkan sesuatu “lewat” api atau mempersembahkan air kepada sungai, seorang Hindu tengah mengingatkan dirinya: “Sesungguhnya tak ada yang dapat ‘ku’-berikan kepada-Mu. Semua ini berasal dari-Mu. Dan, kepada-Mu pula kupersembahkan.”

Lebih-lebih lagi, “Apa kekuatanku, sehingga dapat mempersembahkan sesuatu kepada-Mu?’ ‘Kekuatan’ ini pun berasal dari-Mu……”

Berasal dari-Mu, kupersembahkan balik kepada-Mu……

Seorang pencinta Allah menafikan “ego”. Menafikan “mind”. Ini bukan “Aku”, itu pun bukan “Aku”.

“aku” bukan “Aku”.

“aku” hanyalah bayangan.

“aku” tak ada.

Yang Ada hanyalah “Aku”….

Sumber: (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: