Waspada, Persepsi Kita Bukan Realita

Kisah Perselisihan Akibat Perbedaan Persepsi

Seorang Master bercerita di sebuah desa terpencil akan diadakan acara pernikahan. Rombongan pengantin pria datang ke sebuah desa dan tinggal di sebuah rumah. Sementara, rombongan pengantin putri tinggal di rumah lain di desa yang sama.

Ada seseorang yang menghubungi kedua rombongan yang mengharapkan imbalan dari kedua belah pihak. Penghubung tersebut mendatangi rombongan pengantin pria dan berkata bahwa pihak pengantin putri sering terlambat dalam memparsiapkan acara sehingga sering terjadi masalah dengan para tamu yang diundangnya. Rombongan pengantin pria menghormati orang yang menghubungkan mereka dengan pihak rombongan putri, dan menganggap seorang tua yang wajib dihormati.

Sang penghubung ternyata juga pergi ke rumah rombongan pengantin putri, dan mengatakan bahwa rombongan pengantin pria suka terlambat datang dan kurang menghormati pengantin putri.

Demikianlah sang penghubung membuat akting yang merugikan kedua belah pihak.

Sebelum kejadian menjadi lebih parah, baik rombongan pengantin pria maupun rombongan pengantin pria ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ketika mereka sadar bahwa ada kesalahpahaman di antara mereka, sang penghubung atau “Si Persepsi” menghilang pelan-pelan.

Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, memilih tindakan yang tepat, responsif bukan reaktif ini adalah bagian dari Viveka.

Hampir semua yang berada dalam pikiran kita adalah persepsi, bukan realitas. Apa yang kita percayai dan bahkan kita yakini sebenarnya bukan realitas itu sendiri. Hanya merupakan sebuah peta dan  bukan kondisi realita di lapangan. Kita, sesungguhnya, bereaksi terhadap persepsi kita, bukan terhadap realitas sebenarnya. Kabar baiknya adalah bahwa kita dapat memperbaiki persepsi untuk meningkatkan kesadaran.

Kebanyakan kita berselisih karena perbedaan persepsi.

Semua Latihan Meditasi, Yoga, Seva, Study Group, Yoga Sadhana dan lain-lain di Anand Ashram adalah Latihan Memberdaya Diri untuk memperoleh pikiran yang jernih, sehingga kita dapat mengambil tindakan yang tepat.

Selama Melihat Dengan Persepsi Kita Masih Dipertimbangkan Sebagai Hewan?

Persepsi dalam bahasa Sanskrit adalah “pashyati”, akar katanya “pashu”, hewan.

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Kalian melihat sebuah patung sebagai sapi, sedangkan saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion.

Sumber: Video Youtube by Bapak Anand Krishna: God and Humanbeing Go Beyond Perception

Melihat Realita Sebenarnya Tanpa Pengaruh Persepsi Kita Sebelumnya

Berikut pandangan Guruji Anand Krishna dalam Yoga Sutra Patanjali III.37:

Pendengaran, penglihatan, perabaan, pencecapan, dan penciuman kita saat ini—indra-indra persepsi kita saat ini—masih tetap bekerja secara subjektif. Kesukaan dan ketaksukaan kita; ketertarikan dan ketidaktertarikan kita masih bersifat subjektif berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, berdasarkan memori sebelumnya.

SEORANG NON-YOGI TlDAK MAMPU MELIHAT SESUATU TANPA INTERVENSI PERSEPSI yang sudah terbentuk.

Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kila anggap baik.

Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are. Intuisi yang telah bekerja, tidak membuatnya memiliki indra keenam, ketujuh, atau keberapa—istilah-istilah seperti itu sungguh sangat tidak tepat, tiada satu pun yang memiliki indra keenam. Maket tubuh kita sudah ditentukan oleh keberadaan—pancaindra. Titik.

Intuisi membuat indra-indra persepsi, sebagaimana diuraikan dalam sutra ini, mulai berpersepsi secara jernih. Persepsi-jernih tanpa intervensi memori masa lalu dan sebagainya, membuat seorang Yogi bebas dari segala macam prejudice dan favoritisme. Tiada yang dibencinya, tiada pula yang membuatnya tertarik. Ia memahami sifat alam benda, dan memahami pula sifat badannya, sifat pancaindranya, yang sama-sama adalah bagian dari alam benda.

MELIHAT, MENDENGAR, DAN SEBAGAINYA “SECARA INTUITIF” berarti melihat apa yang ada di balik yang terlihat oleh mata, mendengar apa yang ada di balik yang terdengar oleh telinga, dan seterusnya.

Demikian, penglihatan, pendengaran, dan sebagainya dalam diri seorang Yogi menjadi semakin halus. Di balik apa yang terlihat, ternyata ada unsur-unsur kebendaan yang amat, sangat terbatas, dan sedang mengalami kepunahan. Berapa banyak elemen, kimia-kimia apa saja yang ada di dalam diri, dalam badan manusia, tetap dapat dihitung. Banyak sel, triliunan, namun masih terhitung juga. DNA kita semua temyata 99,99% mirip.

Lebih dalam lagi, ternyata di balik perbedaan yang tipis itu, di balik kebendaan yang tampak beda itu, sesungguhnya tiada perbedaan Jivatma atau Jiwa Individu yang menerangi tubuh saya, tubuh Anda, bahkan cacing-cacing di selokan—semua adalah sama-sama percikan, bagian dari Sang Purusa,

Gugusan Jiwa yang satu, sama, tunggal. Kemudian, Sang Purusa pun, adalah sekadar Cahaya Sang Jiwa Agung.

BERARTI, MELIHAT DAN SEBAGAINYA “SECARA INTUITIF” bukanlah menjadi peramal, “Aku bisa membaca pikiranmu.” Tidak, walau itu pun “bisa” terjadi. Tapi, bukan itu tujuan Patanjali memberikan rumusan-rumusan ini.

Menjadi intuitif berarti “melihat benda sebagai benda; Jiwa sebagai Jiwa.” Menjadi intuitif, berarti tidak terbingungkan oleh penglihatan, pendengaran, dan sebagainya; dan tidak bertindak dalam kebingungan.

Demikian maksud Patanjali.

Sutra ini adalah penegasan terhadap sutra Sebelumnya.

Sumber: buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: