Bagi Para Panembah Tuhan Sangat Dekat

Tuhan Berada Sedekat Teriakan Doa Bhakta-Nya

Seorang Master bercerita tentang cendikiawan yang berkisah tentang Gajendra Moksha kepada seorang Maharaja. Gajah Gajendra sedang beristirahat dengan kawan-kawannya setelah berjalan jauh dengan main air di tepi sebuah danau. Tiba-tiba seekor buaya besar menarik kakinya dengan sangat kuat. Kawan-kawannya berupaya membantu tetapi gigitan sang buaya sangat kuat. Akhirnya sang gajah bertarung seorang diri melawan buaya yang tidak mau melepaskan gigitan pada kakinya.

Pergumulan berlangsung sengit bahkan dikisahkan sampai beberapa tahun. Pelan-pelan tetapi pasti kekuatan gajah di air mulai surut. Sang gajah akhirnya menyadari bahwa pada suatu saat dia akan kalah dan hidupnya akan tamat, persoalannya hanya masalah waktu saja.

Sambil berjuang dengan gigih melawan gigitan sang buaya, dalam diri sang gajah timbul sebuah kesadaran, bahwa hidup dia di dunia hanya melakukan sebuah peran. Semua skenario adalah milik Gusti Pangeran. Tetap berjuang tetapi sadar untuk mengikuti kehendak-Nya. Selamat atau tidak dia pasrah kepada Gusti Pangeran, Sang Sutradara Dunia.

Sambil tetap berjuang keras mempertahankan hidupnya, sang gajah pasrah dan berdoa kepada Gusti Pangeran, dan akan menerima apa pun yang dikehendaki-Nya. Kalau memang dia harus mati, itupun tidak lepas dari pengawasan-Nya. Kalau dia akan selamat, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mencederainya. “Aku pasrah Gusti Narayana!”

Tiba-tiba datanglah Gusti Narayana naik Garuda dan masuk ke dalam danau membunuh buaya dengan senjata cakra serta menarik sang gajah keluar dari danau.

Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/06/gajendra-perjuangan-berat-melawan-buaya-menuju-moksa-srimadbhagavatam/

 

Sang Maharaja sangat tertarik kisah sang cendekiawan dan langsung memotong: “Katakan seberapa jauh Vaikuntha, tempat Tuhan bertahta?”

Sang Cendekiawan gelagapan, tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Akan tetapi seorang pembantu raja yang mengipasi sang raja menyeletuk, “Paduka, Istana Gusti itu sejauh teriakan doa Sang Gajah! Seketika Sang Gajah berdoa, Narayana langsung datang menolong bhakta-Nya.”

 

Narayana Yang Mewujud Sebagai Krishna Menolong Draupadi yang Berdoa kepada-Nya

Yudhistira yang gemar bermain dadu terpedaya oleh permainan Shakuni dan kalah bertaruh. Seluruh Pandawa telah dipertaruhkan dalam permainan dadu dan kalah sehingga mereka telah menjadi budak Korawa. Akhirnya Draupadi pun dijadikan taruhan dan kembali Yudhistira kembali kalah. Sebagai budak Korawa, Pandawa diminta melepaskan baju dan hanya memakai pakaian dalam, dan selanjutnya Dursasana juga berupaya menarik kain sari Draupadi.

Draupadi dengan lantang berkata, “Jika kalian menghormati ibu kalian, saudara-saudara perempuan kalian dan putri-putri kalian, maka jangan perlakukan aku seperti ini!” Tetapi para Korawa tidak mempedulikannya. Mereka mengatakan bahwa pakaian yang dikenakan Pandawa dan Draupadi pun sudah menjadi milik Korawa. Dursasana pun segera menarik kain sari Draupadi. Draupadi merasa sudah tak ada gunanya minta tolong kepada para suaminya yang telah menjadi budak. Dia minta tolong pada Resi Bhisma yang juga hanya diam seribu basa.

Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/08/26/draupadi-cantik-jelita-pemersatu-dan-pemantik-semangat-hidup-pandawa/

 

Akhirnya dia memohon pada Sri Krishna yang tidak hadir di pertemuan itu. Dan, keajaiban pun terjadi kain sari Draupadi yang ditarik oleh Dursasana selalu digantikan dengan yang baru sehingga Dursasana kewalahan. Tuhan yang Mewujud pun mendengar doa Bhakta-Nya dari Tempat Dia berada.

Kita mengatakan Guru Pemandu adalah Tuhan yang mewujud untuk memandu kita. Apakah keyakinan kita, trust kita seperti Gajah Gajendra atau Draupadi?

 

Tuhan Lebih Dekat Daripada Urat Leher Bhakta-Nya

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Menganggap Tuhan maha jauh berada di lapisan langit keberapa – itu  pengingkaran. Tidak percaya bila Allah lebih dekat dari urat leher – itu  pengingkaran. Tidak percaya bahwa seorang yang telah berserah diri pada-Nya tidak pernah terganggu oleh setan-setan pikiran dan perasaan – itu pengingkaran. Tidak menyadari bila setan tidak berada diluar tapi membisiki kita dari dalam diri kita sendiri – itulah pengingkaran. Tidak meyakini kebijakan-Nya dan tidak menerima keputusan-Nya, malah berkeluh kesah melulu – itulah  pengingkaran.

Yakinkah kita bahwa pertemuan itu bisa dan memang semestinya terjadi sekarang dan saat ini juga? Jika tidak terjadi sekarang, saat ini, dan di sini, maka kita belum cukup yakin pada-Nya. Kita belum yakin pada kemaha-hadiran-Nya. Jika pertemuan dengan Dia hanya terjadi di tempat-tempat tertentu, maka itu pun merupakan pengingkaran terhadap pertemuan dengan Tuhan. Kenapa mesti terjadi di sana saja, dan tidak disini?

Pertemuan dengan Allah terjadi ketika kita mengamalkan firman-Nya. Pertemuan terjadi ketika kita menghapus airmata mereka yang kurang beruntung. Pertemuan terjadi ketika kita melayani mereka yang dikucilkan. Pertemuan terjadi ketika kita berdiri bersama mereka yang dizalimi. Pertemuan terjadi ketika kita membela mereka yang ditindas. Adakah kita meyakini pertemuan seperti itu? Adakah kita meyakini pertemuan dengan Sang Khaliq lewat khalq, lewat keramaian penciptaan-Nya di sekitar kita?

Kitab Suci bukanlah kitab hukum untuk menghakimi, tapi seruan untuk menjadi sadar sehingga terbebaskan dari hukuman semesta yang lagi-lagi bukanlah karena kemauan Tuhan, tapi karena ulah kita sendiri.

Sumber: Kutipan Materi Interfaith Studies oleh Bapak Anand Krishna

Sebagai Jivatma Kita Tidak Terpisah dengan Paramatma, Tuhan

Guruji Anand Krishna menyampaikan dalam Bhagavad Gita, Penjelasan Bhagavad Gita 15:7:

Jivatma, ibarat “Sinar Matahari”, adalah bagian yang tak terpisahkan dari “Cahaya Matahari” Purusa atau Gugusan Jiwa; yang ada karena adanya “Matahari” Paramatma – Jiwa Agung. Hyang adalah Sumber segala-galanya.

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan bahwa kita telah lupa jati diri kita sebagai Sinar Matahari yang tidak terpisah dengan Matahari seperti Penjelasan Bhagavad Gita 8:14:

Saat ini, kesadaran kita masih agak pincang. Seolah percikan sinar matahari Ilahi terpisah dari matahari, sehingga mesti “berupaya” untuk menyatu kembali. Ini bukanlah kesadaran tertinggi, belum! Tapi, merupakan anak tangga atau sarana yang paling efektif. Ya, upaya atau kerja-keras adalah sarana, keharusan, untuk menyadarkan kembali Jiwa tentang hakikat-dirinya.

Jiwa yang sudah lama bercengkrama dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lain-lain — sudah telanjur mengidentifikasikan dirinya dengan semua itu. Identitas palsu ini seperti daki tebal yang melekat pada kulit Jiwa. Mesti dibersihkan secara perlahan-lahan. Jangan dipaksa, Kulit bisa lecet, memar, atau berdarah. Bermandilah di bawah pancuran Kesadaran Jiwa hakiki, daki tebal ini akan terkupas dengan sendirinya.

Inilah kerja-keras seorang Yogi, yang dimaksud — pekerjaan purna waktu. Ia tidak “melarikan” diri ke kamar mandi dan tinggal di kamar mandi “pertapaan” di tengah hutan untuk membersihkan dirinya. Ia berada di tengah keramaian dunia. Sambil rnenjalani hidup, ia sedang memandikan dirinya dengan siraman Kesadaran Jiwa.

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

#AnandKrishna #UbudAshram

Mencapai Kesadaran Jiwa

Gajah Gajendra dan Draupadi pada saat kritis telah mencapai Kesadaran Jiwa. Mereka selalu melakukan sadhana dan melayani alam semesta tanpa keterikatan, semuanya merupakan persembahan kepada Gusti Pangeran.

Mungkin sesekali kita kita mengalami Kesadaran Jiwa sesaat. Bagaimana mempertahankan Kesadaran Jiwa silakan lihat:

Video Youtube: Bhagavad Gita 03.31-35 Kerja Keras, Kerja Cerdas Sesuai Potensi Diri oleh Bapak Anand Krishna

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: