Keindahan Rasa Profesional dan Persembahan Panembah

Menyanyi Untuk Raja dan Menyanyi Untuk Tuhan

Seorang Master berkisah tentang Kaisar Akbar, dari Kekaisaran Mughal (1542-1605) yang sangat bangga dengan musisi istana bernama Tansen. Tansen adalah musisi besar di zamannya. Ketika Tansen menyanyikan Raga “Meghamala”, terasa awan menebal di langit. Ketika dia menyanyikan Raga “Varuna”, pendengar merasakan hujan turun. Ketika dia menyanyikan “Nagasvara”, para ular terasa berkumpul. Kaisar Akbar begitu bangga dengan sang musisi yang luar biasa.

Tetapi pada suatu hari Sang Kaisar mendengar musik Haridasa, seorang penyanyi pengembara, dan dia merasa sangat terpesona dan sangat tersentuh.

Kaisar Akbar bertanya kepada Tansen, mengapa lagu Haridasa sangat menarik baginya, lebih dari semua lagu Tansen yang dinyanyikan di istana?

Tansen menjawab dengan jujur, “Paduka, hamba bernyanyi, memandang Paduka untuk melihat tanda-tanda penghargaan dari Paduka. Harapan hamba akan memperoleh beberapa permata atau beberapa hektar sawah. Sedangkan Haridasa menatap Tuhan, tanpa keserakahan akan kekayaan materi atau ambisi untuk barang duniawi. Itulah perbedaannya!”

Masih ada nuansa ego dalam nyanyian Tansen, ingin dipuji Sang Raja dan memperoleh hadiah. Sedangkan nyanyian Haridasa murni persembahan kepada Tuhan, tidak ada pamrih pribadi.

Kita perlu introspeksi apakah dalam tindakan kita masih ada ego, ingin dipuji atau sudah murni persembahan kepada Tuhan?

Ego Dalam Diri

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan.

Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun.

Sumber: (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

 

Mempersembahkan Rasa Senang Kepada Tuhan

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Ketertarikan, rasa senang, bahagia, semuanya berasal dari dalam diri Anda sendiri. Sesuatu yang indah telah membuat Anda senang, baik. Sekarang persembahkanlah rasa senang itu kepada Tuhan. Dan energi Anda akan langsung mengalir ke atas.

Bagaimana caranya? Bagaimana mempersembahkan rasa senang itu kepada Tuhan? Salah satu cara adalah dengan menyanyikan pujian, dari tradisi mana pun juga. Adalah sangat baik jika setiap ashram menjadwalkan setengah atau satu jam setiap hari untuk menyanyi bersama, menyanyikan lagu-lagu pujian yang biasa disebut bhajan atau kirtan. Dengan cara itu setiap penggiat ashram bisa menginternalisasikan pengalamannya.

Sumber: (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Persembahan Jiwa

Senantiasa Mengenang Karya Gusti Pangeran. Seperti apakah karya Gusti Pangeran? Ia berkarya tanpa berpamer. Ia bekerja dalam keheningan. Ia memberi tanpa gembar-gembor. Sifat-sifat inilah yang mesti ditiru.

Seorang panembah tidak menyembah secara mekanis. Ia menyembah dengan dan dalam penuh kesadaran. Persembahannya juga bukan laku badan saja, jungkir balik, berdiri diatas satu kaki, atau dengan cara lainnya; persembahannya adalah persembahan jiwa.

Ya, seorang panembah mempersembahkan pikirannya, “Kuserahkan kekacauan pikiranku ini. Jernihkanlah pikiranku, supaya aku dapat mengikuti panutan yang Kau berikan.”

Seorang panembah tidak berhenti pada tahap sembahyang seperti bulan, seperti minggu, atau bahkan setiap hari dan setiap jam. Ia mengubah seluruh hidupnya menjadi sebuah persembahan yang tak terputuskan.

Ia melakoni hidupnya dengan semangat persembahan. Ia berkarya dengan semangat persembahan. Ia berkeluarga dengan semangat persembahan. Ia Bangun setiap pagi dengan semangat persembahan dan tidur dengan semangat persembahan pula.

Apa maksudnya? Ketika ia bekerja, ia tak akan bekerja demi kepentingan diri sendiri atau kepentingan keluarganya saja. Ia akan berpikir lebih jauh: “Apakah pekerjaanku ini bermanfaat pula bagi orang lain? Bagi masyarakat sekitarku? Bahkan ia memikirkan negara, bangsa, dan dunia.”

Sumber: (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

 

Persembahan di Altar

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Apa saja yang kau terima, persembahkanlah terlebih dahulu di atas altar.

Hal ini biasa dilakukan di dalam hati, namun ada baiknya juga bila Anda melakukannya secara fisik. Kebiasaan ini akan selalu mengingatkan Anda bahwa sesungguhnya apa pun yang Anda peroleh berasal dari-Nya, dan Anda mempersembahkan kepada-Nya pula.

 

Ada baiknya jika kau memiliki altar di ruang kerja, bahkan di ruang tidurmu.

Dia ada di mana-mana, ada altar atau tidak, tidak menjadi soal. Altar adalah untuk mengingatkan diri Anda akan kehadiran-Nya, sebagaimana di luar sana ada yang memajang foto pasangannya, anaknya, cucunya, atau bahkan poster artis kesayangannya.

Biarlah altar ini Anda urus sendiri. Jika ingin mempersembahkan bunga, dupa, air, atau apa saja, silakan lakukan sendiri. Altar ini bukanlah sebuah formalitas, Anda mesti memiliki hubungan batin dengan altar itu. Biarlah altar itu menjadi jembatan antara Anda dan Ia Hyang Maha Diri.

Sumber: (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: