Archive for the Bhagavatam Category

Parikshit: Menghadapi Kematian setelah Mendengarkan Bhagavatam #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on October 24, 2017 by triwidodo

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

…………….

“Memuliakan-Nya” berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan moderasi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan – berkecukupan. Namun jangan lupa, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.

……………….

Tanpa Kesadaran Jiwa – badan yang satu ini; indra yang berjumlah lima ditambah indra-indra persepsi yang berjumlah lima pula; gugusan pikiran dan perasaan, keberhasilan akademis dan profesional – semuanya menjadi “segala-gala”nya. Jika ada yang hilang, maka kita kehilangan segala-galanya.

Kesadaran Jiwa membuat kita tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, walau kita menyaksikan tubuh menjadi debu, menjadi abu! Saat itu pun kita masih bisa menyanyi girang dan bersuka cita, “Aku abadi, aku abadi. Sivoham, So ham!” Saat itu, kita baru menyanyikan Bhajan, baru mengagungkan kemuliaan-Nya dalam pengertian yang sesungguhnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Pusatkanlah segenap pikiran dan perasaanmu pada-Ku; berbhaktilah pada-Ku; (tundukkan kepala ego) bersujudlah pada-Ku dengan semangat panembahan yang tulus; demikian, berlindung pada-Ku senantiasa, niscayalah kau meraih kemanunggalan dengan-Ku.”

Segala sembah, sujud, dan sebagainya – bukanlah untuk membuat seseorang menjadi hamba Krsna. Bukan, itu bukanlah tujuan Krsna. Krsna bukanlah seorang guru picisan yang sedang mencari, dan merekrut murid. Ia tidak senang melihat kita membuntutinya seperti domba. Ia menginginkan kita – setiap orang di antara kita – untuk mengalami apa yang dialami-Nya. Yaitu, kemanunggalan ‘aku’ kecil, aku-ego, dengan Jiwa Agung. Pertemuan antara Jiwa-Individu dan Jiwa-Agung – Jivatma dan Paramatma. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Tujuh hari telah berlalu, sejak Parikshit mendengarkan cerita-cerita dari Rishi Shuka.

Rishi Shuka berkata, bagi mereka yang mendengarkan cerita Srimad Bhagavatam ini dengan penuh penghayatan, tidak ada ketakutan terhadap kematian. Makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata – tidak berwujud; dan, berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Tidak demikian dengan Atman yang selalu ada. Renungkanlah badan yang sementara ada dan Atman yang selalu ada.

Parikshit berkata bahwa dia sudah melampaui rasa takut terhadap kematian. Parikshit mohon ijin pergi untuk menyelesaikan kehidupannya. Rishi Shuka beserta para rishi yang lain juga meninggalkan tempat tersebut.

Parikshit duduk bersila melakukan Yoga. Ular Taksaka mewujud sebagai brahmana mendekati Parikshit, tidak ada seorang pun yang mempedulikan brahmana tersebut. Tak lama kemudian brahmana tersebut kembali menjadi ular yang menggigit Parikshit. Parikshit terbakar menjadi abu………………

 

Bhagavatam mengatakan bahwa cerita dan perbuatan Gusti Pangeran tidak dapat dipahami. Tidak ada yang bisa mengerti mengapa dilakukan-Nya, tetapi mendengarkan/membaca kisah Srimad Bhagavatam menghasilkan kebahagiaan di dalam hati dan memberikan keabadian. Begitulah sifat keilahian.

(Memahami semua perbuatan Gusti Pangeran berarti kita telah menjadi Gusti Pangeran??)))

Perhatikan gelombang radio yang dipancarkan dari Delhi, Bangalore, Madras, Calcutta, Sri Lanka, bahkan Amerika. Tidak ada dua gelombang yang berbaur. Amat sangat misteri! Tidak ada kebingungan antara jutaan gelombang di udara. Kapan kebingungan muncul? Hanya saat kita tidak menyetel stasiun pemancar yang benar. “Tuning” atau menyetel gelombang itulah meditasi. Selesaikan pikiran Anda dengan fokus untuk menerima “berita”, yaitu, penglihatan ilahi. Bila pikiran tidak fokus, penerimaannya tidak jelas atau tidak berarti.

Matahari bersinar di atas kolam. Airnya beriak karena angin. Matahari tampak goyah di kolam. Namun kenyataannya, hanya gambar yang goyah, bukan matahari. Gelombang dalam pikiran Anda membuat Anda merasakan keilahian dalam berbagai suasana hati, nama, bentuk. Tapi keilahian adalah satu. Bukan keilahian tapi hanya perasaanmu yang berubah seiring berjalannya waktu. Meditasi adalah proses penyatuan pikiran yang terpecah.

Semua orang bisa melihat keberagaman. Kita harus melihat kesatuan dalam keberagaman, dengan prinsip dasar, atma. Bagaimana? Seperti piring, gelas dan sendok perak. Nama dan bentuknya berbeda. Nilai masing-masing objek juga berbeda. Tapi nilai peraknya sama, baik di piring, gelas maupun sendok. Keilahian telah mengasumsikan nama dan bentuk setiap entitas dalam penciptaan. Anda mungkin menghargai dan menghargai satu persatu dan menertawakan orang lain. Inilah sikap yang didasarkan pada perilaku orang-orang tersebut. Tapi prinsip atma adalah satu.

Terjemahan bebas dari Discourse on Srimad Bhagavatam by Sai Baba chapter 2

Terima kasih kami ucapkan kepada para pembaca #BhagavatamIndonesia, semoga Sri Vasudeva, caretaker, penjaga alam semesta, penjaga kesucian diri kita semua, Sri Narayana, Dia yang berada di setiap Nara, setiap makhluk, di mana-mana memberkati hidup kita semua.

 

Shanti mantra peace and meaning

 

Om Sarvesham Swastirvavatu – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

 

Om Sarveshaam Svastir-Bhavatu |

Sarveshaam Shaantir-Bhavatu |

Sarveshaam Purnnam-Bhavatu |

Sarveshaam Manggalam-Bhavatu |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: May there be Well-Being in All,

2: May there be Peace in All,

3: May there be Fulfilment in All,

4: May there be Auspiciousness in All,

5: Om Peace, Peace, Peace.

 

Om Sarve Bhavantu Sukhinah – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

 

Om Sarve Bhavantu Sukhinah

Sarve Santu Nir-Aamayaah |

Sarve Bhadraanni Pashyantu

Maa Kashcid-Duhkha-Bhaag-Bhavet |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, May All become Happy,

2: May All be Free from Illness.

3: May All See what is Auspicious,

4: May no one Suffer.

5: Om Peace, Peace, Peace.

 

Om Sahana Vavatu (Saha Navavatu) – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

Om Saha Naav[au]-Avatu |

Saha Nau Bhunaktu |

Saha Viiryam Karavaavahai |

Tejasvi Naav[au]-Adhiitam-Astu Maa Vidvissaavahai |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, May God Protect us Both (the Teacher and the Student) (during the journey of awakening our Knowledge),

2: May God Nourish us Both (with that spring of Knowledge which nourishes life when awakened),

3: May we Work Together with Energy and Vigour (cleansing ourselves with that flow of energy for the Knowledge to manifest),

4: May our Study be Enlightening (taking us towards the true Essence underlying everything), and not giving rise to Hostility (by constricting the understanding of the Essence in a particular manifestation only),

5: Om, Peace, Peace, Peace (be there in the three levels – Adhidaivika, Adhibhautika and Adhyatmika).

 

Om Asato Ma Sadgamaya – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

Om Asato Maa Sad-Gamaya |

Tamaso Maa Jyotir-Gamaya |

Mrtyor-Maa Amrtam Gamaya |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, (O Lord) Keep me not in the Unreality (of the bondage of the Phenomenal World), but lead me towards the Reality (of the Eternal Self),

2: (O Lord) Keep me not in the Darkness (of Ignorance), but lead me towards the Light (of Spiritual Knowledge),

3: (O Lord) Keep me not in the (Fear of) Death (due to the bondage of the Mortal World), but lead me towards the Immortality (gained by the Knowledge of the Immortal Self beyond Death),

4: Om, (May there be) Peace, Peace, Peace (at the the three levels – Adidaivika, Adibhautika and Adhyatmika).

 

Om Purnamadah Purnamidam – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

Om Puurnnam-Adah Puurnnam-Idam Puurnnaat-Purnnam-Udacyate

Puurnnasya Puurnnam-Aadaaya Puurnnam-Eva-Avashissyate ||

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, That (Outer World) is Purna (Full with Divine Consciousness); This (Inner World) is also Purna (Full with Divine Consciousness); From Purna comes Purna (From the Fullness of Divine Consciousness the World is manifested) ,

2: Taking Purna from Purna, Purna Indeed Remains (Because Divine Consciousness is Non-Dual and Infinite).

3: Om Peace, Peace, Peace.

Advertisements

Musnahnya Dinasti Yadava Seluruh Kerabat Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on October 22, 2017 by triwidodo

Di dunia ini Kelahiran Pertumbuhan dan Kematian Harus Dialami!

Sejarawan Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) mengemukakan teori siklus bahwa peradaban selalu mengikuti alur mulai dari kemunculan sampai kehancuran. Pandangan tersebut sesuai dengan teori yang berkembang di Yunani  pada masa Socrates: kelahiran, pertumbuhan, kematian dan disusul dengan kelahiran lagi.

Bhagavad Gita menyampaikan hal yang sama, bahkan bagi semua makhluk baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, semuanya mengalami penciptaan, kemudian pemeliharaan dan selanjutnya tiba saatnya daur ulang dan lahir kembali. Di balik itu ada Sang Perancang, Sang Sutradara Agung.

Ia Tunggal ada-Nya. Memiliki banyak fungsi. Diantaranya 3 fungsi utama: sebagai Visnu, Sang Pemelihara yang mengurusi pertumbuhan; Rudra atau Siva, Sang Pemusnah sekaligus Pendaur Ulang; dan Brahma, Sang Pencipta. Masing-masing dari ketiga sifat ini memiliki banyak sub sifat lainnya. Kita sering terjebak dalam permainan sifat-sifat tersebut. Kita membagi Dia Hyang sesungguhnya Tak Terbagi, sesuai dengan sifat-sifat-Nya………

 

“Kendati Tunggal dan Tak-Terbagi ada-Nya, Ia tampak terbagi dalam diri makhluk-makhluk hidup dan wujud-wujud yang tak bergerak; Ialah satu-satu-Nya yang patut diketahui, Hyang senantiasa Memelihara, Memusnahkan, dan Mendaur-Ulang, Mencipta kembali.” Bhagavad Gita 13:16

Bukan saja makhluk-makhluk hidup yang mesti menjalani tiga tahap kehidupan, yaitu kelahiran, pertumbuhan dan kematian — sesungguhnya benda-benda yang kita anggap tanpa kehidupan pun mesti menjalani ketiga tahap tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kutukan terhadap Dinasti Yadava

Para asura sudah terbunuh oleh Krishna dan Balarama. Para manusia jahat juga sudah mati dalam perang dahsyat Bharatayuda. Para keluarga dinasti Yadava adalah para dewa yang lahir dan berkarya di sekeliling Sri Krishna. Mereka sulit terkalahkan. Sri Krishna membuat skenario bagi dirinya yang mewujud sebagai manusia dan para dewa yang mewujud sebagai keluarga Dinasti Yadava untuk mengalami kematian, sebelum datangnya Masa Kaliyuga.

Para rishi sedang bepergian ke Dvaraka menemui Sri Krishna dan Balarama. Para pemuda Yadava berkelakar mendandani Samba sebagai perempuan hamil dan bertanya kepada para rishi dia sedang mengandung anak laki-laki atau perempuan. Para rishi tersinggung dan berkata bahwa dia akan melahirkan besi yang akan memusnahkan kaum Yadava. Para pemuda membuka bantal yang dipakai sebagai perut hamil Samba dan menemukan sepotong besi.

Mereka lapor kepada Ugrasena dan diperintahkan untuk menumbuk besi tersebut dan dibuang ke laut. Ada sepotong besi runcing yang tidak bisa dijadikan bubuk dan ikut dibuang ke laut. Oleh ombak potongan besi runcing tersebut terbawa ke pantai Prabhasa dan tumbuh berkembang sebagai rumput ilalang yang tinggi.

 

Musnahnya Dinasti Yadava

Setelah beberapa saat berlalu, Sri Krishna mengumpulkan semua keluarga Yadava. Sri Krishna mengatakan bahwa tanda-tanda bencana seperti yang diramalkan para rishi semakain dekat. Tidak ada cara lain selain mengadakan tirthayatra, mohon ampun atas kesalahan dan semoga bencana dijauhkan. Anak-anak dan para wanita agar mengadakan tirthayatra ke Sangotra, sedangkan para pria ber-tirthayatra ke Prabhasa.

Setelah melakukan berbagai vrata dan yajna, para pria Yadava minum anggur Maireyaka. Mereka minum terlalu banyak dan dalam keadaan mabok mereka berkelahi dengan gada, pedang, tombak dan busur. Suasana sungguh menyeramkan. Sri Krishna melihat mereka saling bunuh, saat Balarama datang dan merasa jijik dengan tingkah lahu para Yadava. Balarama melihat Sri Krishna dan pergi. Sri Krishna tahu bahwa Balarama akan segera meninggalkan raganya dengan laku yoga.

Sri Krishna menggerakan matanya dan semua senjata Yadava hancur. Akan tetapi mereka berlarian ke pantai mencabut rumput ilalang yang ternyata merupakan besi yang tipis digunakan sebagai senjata. Sri Krishna menyaksikan seluruh pria Yadava mati semua.

Sri Krishna segera pergi ke sebuah pohon dan melakukan meditasi. Seorang pemburu bernama Jara melihat dari kejauhan dan mengiranya sebagai rusa dan memanahnya. Ternyata yang terkena adalah kaki Sri Krishna. Sri Krishna berterima kasih kepada Jara dan diminta pergi. Jara dijamin akan masuk surga atas perbuatannya membantu menyelesaikan skenario-Nya.

Daruka, kusir kereta Sri Krishna datang mencari dan akhirnya menemukan Sri Krishna. Daruka diminta segera ke Dvaraka dan menyampaikan ke Arjuna yang akan menengok ke Dvaraka tentang peristiwa kematian para Dinasti Yadava, Balarama dan Dirinya. Arjuna agar diminta membawa anak-anak dan para wanita Yadava ke Indraprastha.

Para dewa datang menjemput Sri Krishna untuk kembali ke Vaikuntha.

Daruka segera menemui Arjuna yang sedang berbicara dengan Ugrasena, Vasudeva dan Devaki. Mereka beserta semua anak-anak dan wanita segera diajak pergi ke Indraprastha. Tiba-tiba air laut meninggi dan mulai menggenangi Istana Dvaraka. Dari bukit di kejauhan mereka melihat Dvaraka sudah mulai terendam laut dan sebentar kemudian tidak nampak lagi………………………

Hanya ada di masa pertengahan

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata – tidak berwujud; dan, berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Sebab itu, apa yang mesti disesali?” Bhagavad Gita 2:28

Bukan hanya makhluk-makhluk hidup, tetapi setiap keadaan — segala sesuatu dalam dunia ini, bahkan alam semesta ini — hanya terlihat nyata untuk sesaat, pada saat pertengahan.

DIMANA KITA BERADA SEBELUM LAHIR? Di mana kita akan ada setelah mati? Kita boleh mencari jawaban dari buku-buku referensi. Namun jawaban-jawaban seperti itu hanya merupakan hasil pengetahuan pinjaman. Tanpa penghayatan, jawaban kita tidak banyak berarti.

Kelak Krsna akan memberikan caranya. Ia tidak memberikan ritual. Ia akan menganjurkan Arjuna untuk memasuki alam meditasi, karena hanya dalam alam itu, seseorang dapat mengalami kebenaran kata-kata Krsna. Hendaknya Kompendium ini, penjelasan Bhagavad Gita ini juga dipelajari dengan semangat yang sama.

 

PEJAMKAN MATA UNTUK SESAAT dan memperhatikan napas kita. Tarik napas pelan-pelan, sambil mengembungkan perut; buang napas pelan-pelan, sambil mengempiskan perut.

Pada saat Anda tarik napas, sadarilah bahwa udara yang tak terlihat, tak nyata, memasuki badan Anda dan menjadi nyata untuk sesaat. Perut Anda kembung. Dan begitu Anda melepaskan napas, sadarilah bahwa yang baru saja nyata, kembali ke alam yang tak-nyata lagi, dan perut mengempis kembali. Lakukan 9 kali dan setelah itu kita akan teruskan sabda Krsna ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Avadhuta: Obsesi Ulat, Kreatifitas Laba Laba dan Kulit Baru Ular #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , , on October 19, 2017 by triwidodo

Semua kehidupan di dunia bergerak dalam suatu siklus. Dari sebuah biji mangga keluar sebentuk lembaga, yang berkembang menjadi sebuah pohon mangga, dan pada  waktunya akan mengeluarkan bunga, menjadi buah yang mengandung biji calon pohon yang baru.

Air hujan pun turun ke bumi, membasahi bumi dan isinya, kemudian menuju ke laut untuk menguap menjadi uap air, yang setelah berkumpul akan turun menjadi hujan kembali.

Demikian pula yang terjadi pada siklus kehidupan seekor ulat bulu. Yang perlu disimak adalah pelajaran yang dapat ditarik dari transformasi ulat bulu, melalui kepompong dan lahir kembali sebagai kupu-kupu yang bisa terbang. Seekor ulat bulu berhasrat meneruskan evolusinya, pasrah sepenuhnya kepada alam semesta, berhenti makan dan berhenti bergerak. Alam lah yang kemudian bekerja melalui 2 hormon, hormon remaja dan ecdysonne yang mengatur prosesnya. Bagi mata telanjang, tampaknya organ-organ dan tissue ulat bulu berubah menjadi sup yang tidak berbentuk. Akan tetapi kedua hormon itulah yang memandu perubahan, ada sel yang mati, ada sel yang mencerna diri, ada juga yang menjadi embrio  mata, antena dan sayap. Terjadilah transformasi yang luar biasa, ulat yang merambat pelan menjadi kupu-kupu cantik yang dapat terbang.

Seorang pengantin perempuan berhasrat mempunyai seorang anak dan meminta sang suami membuahinya. Begitu sel telurnya dibuahi, maka hasrat sang ibu diintervensi oleh kekuatan alam  yang menjadikan telur yang dibuahi berkembang menjadi bayi yang mungil.

Lompatan kuantum. Alam semesta tidaklah maju dalam gerakan selangkah demi selangkah. Alam semesta selalu mengambil lompatan-lompatan kuantum, dan ketika mengambil lompatan kuantum unsur-unsur lama digabungkan ulang. Kemudian, muncullah sesuatu yang baru. Hidrogen dan oksigen adalah gas yang ringan, kering dan tidak terlihat oleh mata. Suatu transformasi menggabungkan kedua unsur tersebut menjadi air yang sama sekali berbeda, yang cair, basah dan memberkahi kehidupan di bumi.

Suatu transformasi kesadaran spiritual menghasilkan lompatan kuantum dalam kesadaran yang membuat diri sama sekali berbeda dengan masa sebelumnya. Sri Krishna bersabda, barangsiapa melangkah kearah-Nya satu langkah saja, maka Sri Krishna akan melangkah kearah pemuja tersebut seribu langkah. Dalam Kathopanishad disebutkan, Sewaktu simpul-simpul dihati diluluhlantakkan semasa seseorang masih hidup dibumi ini, maka seseorang manusia yang dapat mati akan berubah menjadi abadi.

 

  1. Ulat

Ulat juga salah satu guru kebijaksanaan saya. Kupu-kupu bertelur dan telur menjadi ulat. Si ulat melihat kupu-kupu yang indah terbang dari bunga ke bunga. Si ulat melihat dirinya hanya bisa makan daun dan merangkak pelan. Obsesi si ulat muncul bagaimana pun dia berhasrat menjadi kupu-kupu. Setiap saat yang dipikirkan hanya kupu-kupu. Sampai suatu kali dia terfokus pada obsesinya dan tidak terasa tubuhnya sudah berubah menjadi kepompong. Dia sudah mati tetapi alam membantunya, apa yang dipikirkan menjelang ajalnya akan menjadi kehidupan dia selanjutnya. Tubuh ulat sudah menjadi sup. Akan tetapi dia lahir sebagai larva dan ketika sudah tiba waktunya, sayapnya sudah kuat dia menjadi kupu-kupu.

Seorang murid terobsesi dengan kemuliaan sang guru dan hanya fokus pada sang guru sampai ajal tiba. Dengan berkah dari alam semesta dia akan lahir lagi menjadi seperti sang guru.

Ulat adalah guru saya ke duapuluhdua.

 

  1. Laba-laba

Laba-laba adalah sosok yang luar biasa dengan energi dan kreativitasnya. Laba-laba menenun dengan trampil jaring-jaringnya dan penuh kesabaran mangsanya. Semangat laba-laba luar biasa, dia membuat jaring-jaring dan bila sudah selesai menelan jaring-jaringnya.

Tuhan menciptakan alam semesta yang berupa materi dari maya-Nya. Dia bermain dan mempertahankan maya beberapa saat sampai menariknya kembali.

Guru saya keduapuluhtiga adalah laba-laba.

 

  1. Ular

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” Bhagavad Gita 2:22

Dalam ayat ini, Jiwa disebut Dehi, yang berbadan, yang menghidupi badan. Tanpa adanya Jiwa, badan tidak ada. Dalam hal ini,

Jiwa Bertindak sebagai Katalisator – Keberadaannya sudah cukup untuk menghidupi atau menggerakkan badan. Sebagaimana, kehadiran aliran listrik sudah cukup untuk mengubah hidrogen dan oksigen menjadi air. Tentunya dengan kadar masing-masing yang tepat.

Listrik tidak melakukan sesuatu. Ia hanya hadir, dan air “terjadi”. Begitu pula dengan kehadiran Jiwa. Jiwa hanya hadir, dan badan menjadi hidup, indra pun bekerja sesuai dengan kodratnya masing-masing.

Kṛṣṇa Bicara tentang Daur Ulang, Recyling – Kita tidak sadar akan proses ini, maka takut akan perubahan. Sebab itu pula kita menjadi gelisah. Apakah Anda menjadi gelisah, karena setiap hari Anda harus ganti baju? Apakah memakai baju baru dapat menggelisahkan Anda? Apa sulitnya melepaskan pakaian lama dan menggantikannya dengan pakaian baru? Kṛṣṇa menggunakan contoh yang paling tepat, paling mudah untuk dipahami. Terimalah perubahan itu dan ketahuilah bahwa perubahan pakaian tidak dapat mengubah Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ular hidup sendiri dan berupaya menghindari usaha makhluk lain. Untuk mencari Realisasi Diri, seseorang harus tinggal di goa hatinya sendiri.

Pakaian ular dari kulitnya yang tua setelah beberapa masa ditinggalkannya untuk memperoleh pakaian yang baru. Fenomena ini mirip dengan kematian manusia. Seorang bijak sejati tidak pernah takut mati, dia tahu bahwa cepat atau lambat dia akan mendapatkan kehidupan baru berdasarkan tindakan karma-nya.

Ular adalah guru saya keduapuluhempat.

 

Avadhuta Dattatreya berkata kepada Raja Yadu bahwa itulah 24 guru yang memberi pelajaran kepadanya dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Badan ini manakala ditinggalkan Atman hanya cocok menjadi makanan cacing belaka. Mereka yang mencintai badannya seperti kisah dalam 24 guru tersebut, mancari pasangan yang cantik, makanan yang lezat, musik yang merdu, kekayaan yang bertumpuk yang tidak akan memberi kebahagiaan abadi.

Uddhava bersujud di hadapan Sri Krishna yang dalam waktu dekat akan meninggalkan wujudnya di dunia. Setelah mendengar dari Sri Krishna bahwa dia masih harus meneruskan hidupnya untuk berbagi pengetahuan sejati, Uddhava mohon petunjuk arah mana yang harus ditujunya.

Sri Krishna bersabda agar Uddhava pergi ke Bhadarikashrama dan megembara seperti seorang avadhuta, sambil melangkah menuju tujuan berbagi dengan orang-orang yang ditemui dalam perjalanannya. Itulah karma bhoomi-nya.

Para sadguru sedang melanjutkan perjalanannya. Adalah suatu berkah yang luar biasa kita dapat duduk bersama dan memperoleh pencerahannya.

Avadhuta Gita: Menyambut Kerajaan Allah seperti Anak Kecil #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on October 18, 2017 by triwidodo

Ibarat Anak Kecil

Bagaimana Menemukan Kerajaan Allah di Dalam Diri? Kembali pada Yesus:“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Lukas 18:17)

……………….

Bagaimana Pendapat Yesus? Yesus menggunakan keadaan generik untuk menjelaskan maksud-Nya, “kembali menjadi seperti seorang anak kecil”. Seorang anak kecil tidak hanya ceria saja, ia juga lugu, polos, jujur, tidak berpura-pura, dan tampil apa adanya dalam segala kesahajaannya, sebagaimana adanya. Itu adalah keadaan awal kita, ketika pikiran belum cukup terbentuk dan emosi belum cukup berkembang.

Keadaan itu bukan satuan pikiran atau thought; bukan gugusan pikiran, atau mind; bukan intelek, atau intellect; dan bukan pula emosi atau emotion. Karena tidak ada kata untuk menjelaskan keadaan ini dalam bahasa Aramaik maka Yesus menjelaskannya dengan menggunakan analogi keadaan seorang anak kecil.

Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “tatha”. “Tatha”, Berarti….“Thus”, atau “Such” – seperti itulah!. Ya, seperti itulah arti “Tatha” – “Seperti Itulah!” Singkatan dari “Yatha-Bhuta”, yang juga bisa diartikan “As It Is”, atau  sebagaimana adanya”. “Tatha” adalah keadaan awal setiap manusia.

Kemudian, apakah kita diharapkan menjadi “kekanak-kanakan”? Tidak. Yesus tidak mengatakan kita “menjadi anak kecil lagi”, tetapi “kembali seperti seorang anak kecil” – like a little child! “Kembali seperti seorang anak kecil”, berarti, “tetap dewasa, tapi dengan kepolosan, kesahajaan, dan terutama keceriaan seorang anak kecil.” Oleh sebab itu, seorang yang telah terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi disebut “Tathagata”-”ia yang telah mencapai keadaan itu”.

Menjadi “seperti seorang anak kecil” berarti menjadi seorang Tathagata. Polos, tapi tidak bodoh. Bersahaja, tapi tidak naif. Lembut, tapi tidak lemah. Sopan, tapi menjaga diri, “supaya tidak dimakan orang juga”.

Ketika Buddha ditanya seperti apakah ciri-ciri seorang Tathagata la menjelaskan: “Tak terjelaskan” (“Vajracchedika Prajnaparamita Sutra” atau “Diamond Sutra”). Namun, Buddha menjelaskan cara untuk mencapai keadaan itu, yakni dengan membebaskan diri dari keterikatan pada kebendaan yang senantiasa berubah terus. Dan, menyadari hal itu, menyadari bahwa “perubahan adalah sifar dasar benda”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

  1. Anak kecil

Seorang anak kecil tidak memiliki keluhan, amarah, kecemburuan, kebencian dan terutama bebas dari Ego dan Keangkuhan. Seorang anak kecil tidak mengenal kehormatan atau penghinaan. Mereka tidak memelihara dendam atau prasangka terhadap siapa pun. Mereka tidak tahu apa milik mereka sendiri, atau milik orang lain. Kebahagiaan mereka berasal dari diri mereka sendiri, kreativitas bawaan mereka dan mereka tidak membutuhkan benda atau kondisi eksternal untuk bahagia. Saya menyadari bahwa orang bijak pencerahan sempurna juga demikian.

Anak kecil adalah guru kedelapanbelas saya.

 

  1. Rusa

Rusa sangat menyukai musik dan sangat tertarik dengannya. Para pemburu menggunakan musik untuk memikat dan mendatangkan rusa sehingga sang rusa mudah dipanah karena terlena dengan musik yang merdu.

Hasrat dan gairah sensual bisa menurunkan kesadaran seseorang, dan kemajuan spiritualnya bisa terhambat.

Rusa adalah guru kesembilanbelas saya.

 

  1. Burung Kurari

Burung Kurari adalah salah satu jenis burung pemakan daging. Pada suatu ketika dia sedang membawa mangsa di paruhnya. Tidak berapa lama, burung-burung yang lebih kuat menyerang burung kurari tersebut. Burung Kurari segera melepaskan mangsanya dan dia menyingkir. Ternyata dengan melepaskan mangsanya, dia memperoleh kedamaian.

Burung Kurari mengajari saya bahwa kekayaan duniawi adalah sumber masalah. Saat seseorang mengejar kenikmatan dunia tersebut, dia akan menghadapi perselisihan dan kesengsaraan. Kebahagiaan dan pencerahan adalah milik orang yang sederhana, menaklukkan keinginan duniawi. Hidupnya hanya mencari kebahagiaan spiritual.

Burung Kurari adalah guru saya keduapuluh.

Melihat sekelompok anjing berebut tulang. Yang terkuatlah yang menang. Tulang digigit dibawa pulang. Jalan tengadah dada membusung, akulah Sang Pemenang.

Bukan! Dia bukan pemenang dia adalah budak duniawi.

Manusia berebut duniawi. Saling jegal, saling jebak berebut sesuatu yang tak abadi. Yang menang, memamerkan keberhasilan diri. Jalan tengadah, dada membusung, akulah penguasa.

Bukan! Dia bukan penguasa, dia adalah budak duniawi.

 

  1. Perawan

Jalan yang sempit. Setiap orang yang sedang meniti jalan ke dalam diri pada suatu ketika akan menemukan bahwa “Kebenaran” Itu Satu Adanya. Dan bahwa jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran – apa pun nama yang Anda berikan kepada Yang Satu Itu – merupakan jalan pribadi. Sempit – begitu sempit, sehingga Anda harus melewatinya seorang diri. Anda tidak bisa bergandengan tangan dengan siapa pun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sebuah keluarga datang ke rumah keluarga yang memiliki seorang perawan untuk dijodohkan dengan putra mereka. Kebetulan orangtua si perawan sedang pergi. Maka dia memberikan minuman ringan kepada para tamu.

Kemudian si perawan pergi ke belakang, mulai menumbuk gabah untuk dijadikan beras dan akan dimasak untuk para tamu.

Gelang-gelang di kedua tangannya membuat bunyi yang riuh dan dia malu. Dia mengurangi gelang di kedua tangannya sampai masing-masing tangan hanya 2 buah gelang. Akan tetapi tetap ada bunyi gelang beradu. Akhirnya dia hanya memakai satu gelang di masing-masing tangannya sehingga tidak ada suara lagi.

Tindakan perawan tersebut mengajar pada saya bahwa apabila ada sejumlah pencari spiritual yang tinggal bersama, akan ada benturan kepentingan. Bahkan walaupun di antara dua orang, mungkin saja terjadi gangguan, perselisihan. Manusia bijak yang menapak jalan nspiritual harus hidup sendiri dalam kesendirian, karena lebih baik hidup sendiri, tanpa menciptakan suara yang tidak diinginkan, gosip.

Perawan adalah guru saya keduapuluhsatu.

Avadhuta Gita: Jenuh terhadap Nafsu Pemicu Kesadaran #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on October 14, 2017 by triwidodo

Peningkatan kesadaran setelah mencapai titik jenuh

Nikmatilah dunia ini, nikmatilah sepenuhnya. Nikmati sampai titik jenuh – begitu kenyang, sehingga merasa mual dan muak. Lantas Anda akan mulai bertanya pada diri sendiri, “Apa lagi?” Dan pertanyaan ini dapat menjadi pemicu bagi peningkatan kesadaran dalam diri Anda.

Selama kita masih puas dengan keadaan di sekitar kita, peningkatan kesadaran tidak akan terjadi. Selama itu, kita masih sepenuhnya berada pada tingkat kesadaran terbawah. Saya sengaja tidak menggunakan istilah terendah – bukan terendah, tapi terbawah. Kesadaran awal manusia adalah kesadaran Muladhar – kesadaran mendasar. Kesadaran ini yang membuat kita membumi, sangat realistis, dan logis.

Tetapi biarkan peningkatan kesadaran ini terjadi secara alamiah. Apabila Anda belum mencapai titik jenuh, lantas memaksa diri untuk meninggalkan suatu pola hidup, Anda justru akan terobsesi oleh apa yang Anda tinggalkan itu.

Misalnya Anda belum selesai dengan seks, belum mencapai titik jenuh, lantas menjadi seorang biarawan atau biarawati. Apa yang terjadi? Seks akan menyertai Anda, mengikuti Anda ke biara. Anda akan terobsesi oleh seks. Anda akan melakukan hubungan seks dalam pikiran, dalam mimpi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Kundalini Yoga, dalam hidup sehari-hari. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

  1. Pingala

Pingala adalah “istri laki-laki sekota”, setiap malam dia berdandan cantik dan menarik dan berdiri di depan pintu rumahnya. Setiap malam dia mengharapkan seorang kaya yang royal memberikan hadiah atas pelayanannya. Pingala juga mengharapkan selain kaya, sang tamu adalah tampan sehingga dia pun bisa menikmati pelayanannya. Demikian setiap malam yang menjadi  obsesinya.

Pada suatu malam dia menunggu di depan rumahnya dan sampai tengah malam belum ada tamu yang datang ke rumahnya. Dia mengharapkan orang lewat mampir tetapi tidak ada satu pun tamu yang menghampirinya.

Jenuh menunggu tamu, dengan uring-uringan dia masuk rumah dan naik ke pembaringan. Tiba-tiba dia jijik terhadap dirinya sendiri. Selama ini dia hanya hidup mengharapkan kenikmatan yang datang dari dunia. Tidak bisakah dia bahagia dengan apa yang dipunyainya? Tiba-tiba Pingala menyadari ada sahabat sejati dalam dirinya yang dengan sabar menemani dirinya dalam keadaan suka dan duka. Mengapa dia tidak bahagia dengan sahabat sejatinya saja? Mengapa dia mengharapkan kebahagiaan datang dari luar?

Kesendirian dan ketidakbahagiaan ketika harapannya dari luar tidak mendatanginya membuatnya sadar. Aku harus bahagia dengan sahabat sejati, diriku sendiri. Aku tidak akan menunggu datangnya kebahagiaan dari luar. Aku sudah cukup dengan dunia, aku sudah dapat hidup layak, mengapa aku masih serakah?  Mulai sekarang aku akan hidup dari apa yang sudah aku kumpulkan. Aku mencari kebahagiaan dari dalam diri. Mulai malam itu Pingala tidak menunggu tamu lagi. Semuanya sudah cukup, dia mulai meniti ke dalam diri…………………

Pingala adalah guru keempatbelas saya

 

  1. Ikan

Karena tertarik dengan umpan makanan maka ikan tertangkap oleh kait dari pancing. Berhati-hatilah dengan mulut, kalau hanya menuruti hawa nafsu kita bisa kena kait umpan orang lain. Baik makanan yang lezat, maupun perkataan yang menarik perlu diwaspadai. Kita juga berhati-hati dengan mulut tidak hanya asal makan dan asal bicara.

Swami Lila Shah, seorang guru besar asal Sindh (sekarang sebuah wilayah di Pakistan) memaparkan tugas lain dari gigi. Menurut sang guru, gigi adalah benteng untuk menjaga lidah dan mulut kita. Sebelum mengatakan sesuatu, berpikirlah sebanyak jumlah gigi yang ada di mulut. Bila kita masih muda, dan gigi kita masih komplit, 32 buah, kita harus berpikir 32 kali sebelum mengucapkan sesuatu. Swami Lila Shah menjamin, kiat itu dapat menghindarkan kita dari berbagai macam kesalahpahaman, ketersinggungan, dan sakit hati. Bila sudah cukup tua,dan gigi kita tinggal dua, setidaknya berpikirlah dua kali sebelum mengucapkan sesuatu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Ikan adalah guru kelimabelas saya.

  1. pembuat panah

Saya mengamati seorang pembuat anak panah yang tenggelam dalam pekerjaannya. Bahkan dia tidak mendengar arak-arakan raja yang lewat jalan di depan rumahnya. kejadian ini membangkitkan kesadaran saya bahwa perenungan tunggal terfokus,  menyerap dari diri kita secara spontan, menghilangkan segala godaan di dunia ini. Ini adalah satu-satunya rahasia kesuksesan dalam disiplin spiritual.

 

Ekagrataa, one-pointedness

Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup.

Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Pembuat panah adalah guru keenambelas saya.

  1. Bulan

Dilihat dengan mata, bulan nampak mengalami perubahan, dari tanggal muda, bulan berbentuk sabit, kemudian bertumbuh sampai menjadi bulan purnama penuh dan kemudian mulai mengecil lagi sampai hilang. Akan tetapi bulan yang sebenarnya tidak berubah.

Demikian pula dengan manusia bijak, kita melihat dia mengalami masa kanak-kanak, terus bertumbuh sampai dewasa dan setelah itu mulai menurun menjadi tua dan akhirnya mati. Akan tetapi semua perubahan manusia hanya berkaitan dengan tubuh dan bukan pada diri sejati.

Selanjutnya, bulan hanya memantulkan cahaya matahari, bulan tidak memancarkan cahaya tersendiri. Demikian juga, pikiran manusia hanyalah cerminan dari cahaya kesadaran diri sejati.

Bulan adalah guru ketujuhbelas saya.

Avadhuta Dattatreya: Putra Sepasang Panembah #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on October 12, 2017 by triwidodo

Avadhuta Dattatreya menyadari adanya interaksi dengan dunia

Para bijak jaman dulu mengaitkan interaksi atau hubungan dengan dunia sebagai “utang” yang harus dibayar. Jika tidak, kita dikenakan bunga. Kita harus membayar lebih baik lagi. Adalah 5 macam hutang atau Rina yang disebut :

Pertama: Deva Rina, yaitu utang terhadap Dewa. Yang dimaksud dengan Dewa adalah Kemuliaan, Kesadaran, Pencerahan, karena kata “dewa” sendiri berasal dari “divya”, yang berarti “yang mulia, yang terang, yang berasal dari cahaya”. Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api bersifat membakar. Ia membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin sangat ringan dan dapat menyusup kemana-mana. Ia juga memberi kehidupan. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis. Kekosongan, kehampaan, kesendirian, space atau apa pun sebutannya, menciptakan peluang untuk diisi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Dattareya bukan hanya menghormati elemen alami akan tetapi dia belajar dan menganggap  tanah (bumi),  langit (ruang),udara, air dan api sebagai gurunya.

 

Kedua: Pitra Rina, utang terhadap leluhur, atau barangkali lebih cepat “utang terhadap keluarga”. Saya mengartikannya demikian, karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur, dan leluhur adalah keluarga.

Banyak orang meninggalkan keluarga dan menjadi petapa. Mereka mengaku tidak terikat lagi dengan keluarga, tetapi menciptakan keterikatan baru pada institusi yang mereka pimpin, pada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya sebagai “murid”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Dattatreya sadar bahwa dalam dirinya mengalir genetik dari Pitra leluhurnya, Rishi Atri, ayahnya adalah putra Brahma, sedangkan Rishi Kardama ayah dari ibunya adalah juga putra Brahma. Dia bersyukur dengan leluhurnya dan memanfaatkan genetik leluhurnya untuk berbuat dharma, brerbagi pencerahan kepada orang yang ditemuinya.

 

Ketiga: Rishi Rina, utang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu sendiri. Cara kita melunasi setiap utang haruslah bijak. Cara kita menangani setiap persoalan harus bijak. Cara kita melayani hidup harus bijak. Dan nilai kebijakan tertinggi adalah : “Aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun mesti bahagia. Berarti, aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Dattatreya memperoleh pengetahuan dari Rishi, para bijak yang ditemuinya, termasuk kedua orangtuanya.

 

Keempat: Nara Rina, utang terhadap sesama manusia. Kita tidak dapat berdiri sendiri. Apa yang saya lakukan berdampak terhadap Anda, dan sebaliknya. Semacam ripple effect, efek riak, satu kerikil yang saya lemparkan ke sungai berdampak hingga tepi sungai itu, Walau kita tidak melihatnya.

Melayani sesama manusia menjadi suatu keharusan. Adalah tugas, kewajiban serta tanggungjawab kita untuk memperhatikan sesama manusia. Jika Tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Dattatreya berterima kasih kepada Nara, para manusia yang membantunya dalam menjalani kehidupannya. Bahkan menganggap anak kecil, perawan dan tunasusila yang ditemuinya dalam perjalanan sebagai gurunya.

 

Kelima: Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Sekadar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam. Merawat flora dan fauna. Jaman dulu, manusia tidak bisa seenaknya menebang pohon. Adat menentukan usia pohon yang dapat ditebang.  Itu pun untuk keperluan tertentu. Ketentuan adat berlaku, Walau puhon itu berada di atas tanah kita sendiri. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap kelestarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. Gunakan ruang yang tersedia, juga tanah yang tersebuda secara bijak. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Dattatreya pun menghormati Bhutta, lingkungan hidup termasuk alam dan para hewan yang memberinya pelajaran kehidupan, seperti: merpati, ular sanca, laron, lebah madu, gajah, ikan, rusa, burung kurari, laba-laba, ulat, dan ular. Dattatreya kemudian menyampaikan pelajaran yang diperolehnya kepada Raja Yadu, nenek moyang Sri Krishna.

 

Dattatreya adalah putra dari pasangan Rishi Atri putra Brahma dengan Anusaya putri Rishi Kardama. Anusaya adalah saudara dari Rishi Kapila yang menyebarkan pengetahuan tentang Samkhya.

Anusaya, ibu yang mengandung Dattatreya hidup seperti namanya yang bermakna tanpa memiliki noda dari rasa iri. Dia menganggap suaminya sebagai wujud Gusti. Kemuliaannya menyebar ke seluruh tiga dunia. Rishi Narada pun memuja Anusaya. Dan itu mengkhawatirkan Dewa Indra.

Dewa Indra mohon Brahma, Vishnu dan Shiva menguji kesetiaannya dengan harapan kemuliaan Anusaya runtuh.

Brahma, Vishnu dan Shiva kemudian mengambil wujud sebagai tiga brahmana datang ke rumah Anusaya pada saat Rishi Atri sedang bepergian melakukan puja di sungai.

Anusaya menyambut ketiga brahmana dengan hormat dan meminta mereka duduk di rumahnya dan membasuh ketiga kaki mereka. Mereka mengatakan sedang kelaparan dan tidak bisa menunggu kedatangan Rishi Atri. Anusaya segera berdiri dan akan menyiapkan makanan di dapur.

Pada saat mau makan mereka mohon kepada Anusaya bahwa adalah kebiasaan mereka untuk dilayani makan oleh orang yang tidak berpakaian. Mereka berkata bahwa mereka tidak sempat pulang ke tempat tinggal mereka dan dilayani pelayan pria tanpa busana. Mereka berkata bahwa apabila Anusaya menolak, mereka akan segera pergi pulang atau ke tempat lain.

Anusaya berpegang pada pedoman atithi devo bhava, tamu yang datang mendadak adalah Gusti. Tidak mungkin Anusaya membiarkan tamunya pergi dengan perut kosong.

Anusaya mengatakan kesediaannya dan masuk dapur. Anusaya berdoa agar suaminya cepat pulang dan bisa melayani ketiga brahmana tersebut. Doa yang tulus tersebut memberikan keyakinan terhadap Anusaya, dan dia melepaskan busananya dan pergi menemui ketiga brahmana tersebut.

Ternyata ketiga brahmana tersebut telah berubah wujud menjadi 3 bayi. Dengan penuh keibuan Anusaya membelai ketiga bayi tersebut dan menyusui mereka.

Saat Rishi Atri pulang dia menemukan Anusaya membelai 3 bayi yang baru saja disusuinya dan menyerahkan mereka kepada Rishi Atri dan Anusaya masuk ke kamar memakai pakaiannya.

Rishi Atri kemudian mengenali ketiga bayi tersebut sebagai Brahma, Vishnu dan Shiva. Rishi Atri bersujud kepada mereka .

Menyaksikan pengabdian dan kemurnian pasangan tersebut, mereka mewujud kembali dan berjanji akan memenuhi keinginan pasangan tersebut. Rishi Atri minta Anusaya yang memohon permintaan penuh berkah tersebut.

Anusaya mohon agar mereka bertiga betul-betul menjadi anaknya. Brahma, Vishnu dan Shiva mengabulkan permintaan tersebut dan segera kembali ke kediaman mereka.

Vishnu lahir sebagai Dattatreya, Brahma lahir sebagai Chandra dan Shiva lahir sebagai Durvasa. Setelah agak besar Chandra pamit kepada orangtuanya pergi menetap di bulan, sehingga kedua orangtuanya dapat melihatnya setiap malam. Durvasa pamit akan melakukan pengembaraan dan ziarah di seluruh dunia. Chandra dan Durvasa berkata kepada orangtua mereka bahwa mereka tidak perlu bersedih. Dalam diri Dattatreya yang tinggal di rumah mereka mempunyai kualitas ilahi dari ketiga putra-putranya.

Avadhuta Gita: Waspada terhadap Pesona Duniawi #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on October 10, 2017 by triwidodo

  1. Laron, Ngengat dsb:

“Sebagaimana laron terburu-buru memasuki nyala api untuk menemukan ajalnya; pun demikian seantero dunia dengan seluruh isinya sedang memasuki mulut-Mu dengan cepat, untuk berhancur-lebur tanpa bekas.” Bhagavad Gita 11:29

KITA SEMUA IBARAT LARON yang sedang memasuki nyala api. Sepintas, kita sama, seolah sama. Tidak ada bedanya. Sepintas, rnemang demikian. Tapi, bertanyalah pada laron itu….

Memang, banyak di antara mereka yang rnemasuki api karena kebodohan mereka sendiri. Mau cari mati! Tapi, di antara laron-laron itu, ada juga beberapa yang akan rnenjawab pertanyaan kita dengan pertanyaan lain, ‘Apa? Cari mati? Apa maksudmu?’

Apa yang kita lihat sebagai api, apa yang kita sebut kematian — bagi mereka memiliki definisi lain.

API ITU ADALAH API CINTA – Mereka sedang memasuki Kolam Cinta. Mereka mabuk kepayang dalam Cinta. Cinta dengan nyala api, yang adalah pencerahan yang terjadi di dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak mati. Mereka sedang menuju kehidupan abadi. Api pencerahan memurnikan Jiwa mereka dan mengantar mereka pada keabadian. –

Jadi, walau tampak sama — lain laron yang menuju kematian, dan lain pula laron yang menuju keabadian.

Kita semua lahir, hidup sebentar, dan mati. Itu pada level raga. Tidak ada seorang pun yang hidup untuk selamanya. Setidaknya, saya tidak pemah bertemu dengan seorang anak manusia yang tidak pernah mati. Atau, tidak akan mati.

Namun, lain dimensi raga, dan lain dimensi Jiwa. Ketika lsa bersabda, ‘Siapa pun yang mengenal-Ku, mendapalkan kehidupan abadi, maksud-Nya jelas bukan kehidupan abadi pada level raga. Tapi, pada level Jiwa. Dan, mengenal-‘Ku’ pun bukanlah rnengenal-Nya di level badan, tapi di level Jiwa – di  mana, Ku-Dia dan Ku-Anda, Ku-kita adalah satu dan sama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Laron, Ngengat adalah Guru saya kesepuluh.

Ini adalah kisah Sri Krishna kepada Uddhava dalam Avadhuta Gita lanjutan:

Raja Yadu melihat Sri Dattatreya (Avadhuta) di hutan dan menyapanya, “Mengapa Tuan yang bijak nampak begitu bahagia dan terbebaskan dari segala keinginan, keterikatan keluarga dan dunia?”

Avadhuta (yang telah melepaskan semua keinginan duniawi) Sri Dattatreya menjawab, “saya memperoleh kebijaksanaan melalui 24 guru yang selanjutnya akan saya uraikan sebagai berikut!”:

 

  1. Lebah

Sumber makanan lebah adalah nektar dari bunga-bungaan. Lebah terbang dari bunga ke bunga tanpa sedikitpun menyakiti, tanpa merusak bunga yang dihinggapi. Lebah madu tidak makan nektar berlebihan. Karena bunga hanya mekar pada musim tertentu, maka mereka menyimpan sisa nektar dalam tempat pengumpul madu. Demikian juga manusia bijak tidak merusak di manapun dia berada selama perjalanan hidupnya. Hidupnya tidak berlebihan dan sisa hartanya disimpan di tempat penyimpanan harta.

Lebah adalah guru saya kesebelas

 

  1. Lebah penjaga madu

Karena bunga hanya mekar pada musimnya, maka lebah penjaga madu menyimpan nektar yang mereka kumpulkan dengan menambah cairan khusus yang dikeluarkan oleh tubuh mereka untuk dipergunakan sebagai makanan pada saat pohon tidak berbunga. Campuran yang bergizi inilah yang disebut madu.  Untuk menjaga kualitasnya, temperatur madu dipertahankan dalam kondisi normal (sekitar 35 derajat Celcius). Pada waktu kondisi panas mereka berkumpul untuk mengipasi madu dengan sayapnya. Untuk mencegah makhluk asing masuk mereka mempunyai prajurit yang akan mengusir hewan yang mengganggu. Agar bakteri tidak hidup mereka mengeluarkan ”resin” yang sekaligus dapat mengeraskan sarang mereka. Rumah mereka berbentuk kelompok segi enam, bentuk yang paling efisien di alam, strukturnya kuat, dengan dinding minimal menghasilkan volumenya maksimal.

Akan tetapi lebah penjaga madu membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan diri mereka sendiri? Lebah penjaga madu lebih banyak memberi madu kepada manusia daripada untuk keperluan diri mereka sendiri.

Lebah penjaga madu adalah Guru saya keduabelas.

  1. Gajah

Suatu ketika saya melihat seekor gajah liar terjebak. Seekor gajah betina yang jinak dipakai sebagai umpan. Merasakan kehadiran gajah betina, gajah liar itu muncul dari wilayahnya dan jatuh ke dalam lubang yang telah disembunyikan dengan penutup dahan dan tumpukan daun. Setelah tertangkap, gajah liar itu dijinakkan untuk dimanfaatkan.

Gajah ini adalah Guru ketigabelas saya karena dia mengajari saya untuk berhati-hati dengan hasrat dan nafsu saya. Pesona duniawi membangkitkan dorongan nafsu indra. karena mengejar gebyar duniawi, pikiran terjebak dan diperbudak.

 

Berhati-hatilah terhadap pesona duniawi.

Sri Ramakrishna Paramhansa selalu mengingatkan kita supaya berhati-hati dengan kamini dan kanchan. Ini adalah sebuah pepatah kuno. Kamini berarti “apa saja yang menggairahkan”, sekarang sering diterjemahkan sebagai wanita. Dan kanchan berarti “sesuatu yang menyilaukan”. Persis seperti kamini, kanchan pun sekarang sering disalahartikan sebagai “uang” dan “emas”. Padahal maksudnya bukan uang atau emas saja.

Gairah Bersumber dari Diri Kita Sendiri. Seperti halnya semangat, kehendak, keinginan, kemauan, keberanian; gairah pun tidak datang dari luar. Ia berasal dari dalam diri kita sendiri.

Segala sesuatu di luar—entah itu apel, wanita, pria, kedudukan, kekayaan, atau apa saja—menjadi “pemicu” ketika kita membuka diri untuk “terpicu.” Jika kita menolak dan tak mau terpicu, maka apel tidak berubah menjadi apa pun.

Nasihat Sri Ramakrishna Paramhansa, berhati-hatilah terhadap segala sesuatu yang “menggairahkan” dan “menyilaukan”, mesti dipahami secara bijak. Segala sesuatu yang memicu kegairahan di dalam diri saya adalah kamini bagi saya. Dan segala sesuatu yang membuat saya menjadi angkuh, arogan, sombong adalah kanchan bagi saya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)