Archive for the Bhagavatam Category

Kepasrahan Raja Bali dan Berkah Narayana #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on May 22, 2017 by triwidodo

Tentang Avatara

Sebagaimana telah kita bahas dalam ayat sebelumnya, penjelmaan Jiwa Agung untuk menegakkan kembali dharma, kebajikan, keadilan – memang terjadi dari masa ke masa, dan bisa di mana saja. Walau, “kadar” penjelmaan bisa beda dari masa ke masa, dari tempat ke tempat – berdasarkan tuntutan masa dan kebutuhannya.

Dunia tidak selalu membutuhkan para Avatara atau Penjelmaan Purna seperti Krsna. Saat itu, peradaban manusia sedangmenghadapi perang nuklir. Maka dibutuhkan Penjelmaan Purna. Lebih sering, kita membutuhkan Amsa Avatara – Penjelmaan Bagian. Sebagian dari Kekuatan Agung pun sudah cukup untuk mengatasi rezim yang zalim dan menindas rakyatnya, apalagi jika terkait dengan satu negara saja, tidak melibatkan seluruh peradaban.

Maka, jumlah Amsa Avatara tak terhitung. Mereka ada di mana-mana. Bisa di mana-mana, tentunya, lagi-lagi sesuai kebutuhan. Bahkan, jika Anda seorang aktivis yang sedang berkarya untuk mengubah tatanan sosial yang sudah usang – maka ketahuilah bila Jiwa Agung, “sebagian” dari Kekuatan Jiwa Agung telah mewujud lewat diri Anda. Tentunya, jika Anda seorang Aktivis Pembawa Perubahan Sejati sekaliber Gandhi, Soekarno, Mandela, dan sebagainya. Anda bukan aktivis bayaran yang bekerja karena adanya funding dari pihak-pihak tertentu, dengan slogan  “Membela siapa yang Membayar.” Penjelasan Bhagavad Gita 4:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dikisahkan, Raja Asura Bali sedang mengadakan upacara Asvamedha di bawah bimbingan Rishi Sukracharya, gurunya. Pada waktu upacara sedang berlangsung, seorang  brahmana kecil dengan sinar keemasan pada tubuhnya mendatangi upacara. Raja Bali yang selalu menghormati para brahmana langsung menyambutnya dengan penuh hormat dan memberikan tempat kehormatan kepadanya.

Bali berkata, “Aku tidak mengetahui siapa Engkau, tetapi aku tahu Engkau mempunyai keagungan seorang maharishi. Adalah merupakan suatu kehormatan bagiku Engkau memberkati aku dan seluruh anak keturunanku. Upacara Asvamedhaku akan menjadi sangat mulia. Adalah kemuliaan seorang brahmana memberikan berkah dan adalah kebaikan ksatria untuk mengabulkan permintaan seorang brahmana. Apa yang dapat kuberikan kepada-Mu, tanah, emas, istana, gajah atau kuda? Perintahkan kepadaku!”

Vamana menjawab, “Aku tahu kamu raja dengan penuh kerendahan hati, kebajikan, dan kemuliaan. Itu tidak mengejutkan diriku, Sukracharya putra Bhrigu adalah gurumu, kakekmu adalah Prahlada Yang  Agung, ayahmu adalah Virocana Sang Pemberi Agung. Aku tahu dalam keluargamu belum pernah ada kejadian menolak permintaan seseorang. Aku mengetahui kau akan mengabulkan permintaanku. Aku ingin mengambil tanah tiga langkah yang diukur oleh kakiku!”

Raja Bali terkejut dan berkata, “Tentu saja kau seorang anak dan permintaanmu adalah permintaan anak-anak, kamu tidak mengetahui bahwa aku adalah seorang raja besar dan sangat kaya. Daripada minta pulau yang ditutupi lempengan emas kau memilih tiga langkah kecilmu. Tinjaulah kembali permintaanmu dan mintalah yang lebih besar kepadaku!”

Vamana berkata, “Aku menghargai kedermawananmu. Wahai raja, seseorang yang belum menaklukkan keinginannya, semua hal di dunia tidak akan cukup baginya. Seorang manusia yang merasa senang dengan apa yang ia peroleh akan merasa bahagia. Adalah ketidakpuasan yang menjadi penyebab duka-cita manusia. Kamu adalah pemberi terbesar dan Aku minta tiga langkah kaki-Ku”.

Bali tertawa dan berkata, “Semoga demikian. Aku akan memberimu tiga langkah dengan kakimu!” Dan, Bali melihat kaki padma Vamana yang akan segera dicuci dengan air dari dalam mangkuk suci.

 

Apa yang dapat kepersembahkan kepada-Mu

Apa yang dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa yang kumiliki sehingga dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa pun yang ada di sekitarku, apa pun yang melekat pada diriku, termasuk  ragaku, pikiran serta perasaanku diriku ini sendiri – semuanya milik-Mu.

Badanku, pikiranku, harta kekayaanku – sesungguhnya semuanya milikMu. Ya Gusti, semuanya milik-Mu. Apa yang menjadi milik-Mu, kupersembahkan kembali kepadaMu ….. Ya Gusti, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang menjadi milikku. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

 

Sukracharya menghentikan tindakan Bali dan berkata, “Bali kau belum tahu siapa dia. Dia adalah wujud Narayana yang lahir dari ibu Aditi dan ayah Rishi Kasyapa. Dia akan membantu para dewa. Kamu telah bertindak gegabah dalam hal ini. Narayana akan merampas semua kekayaanmu. Apakah kamu tidak ketahui bahwa satu langkah Narayana akan meliputi bumi. Langkah kedua akan meliputi surga dan langkah ketiga akan mendorong kamu kedunia bawah? Aku tahu kamu berada dalam dilema, kamu terlanjur berjanji dan menarik janji adalah perbuatan adharma yang memalukan bagi seorang raja seperti kamu. Bagaimanapun ingkar janji diperbolehkan bila janji yang ditepati akan menghancurkan dirimu.”

Bali meyakinkan gurunya, “Ayahanda dan kakekku adalah seorang besar yang selalu menepati janji dan aku tidak mau memalukan keluarganya. Aku ingat Rishi Dadhici yang mengorbankan tubuhnya untuk dijadikan Vajra. Ini adalah kesempatan emas bagiku, belum pernah Narayana minta pada seseorang, kini dia minta padaku, biarlah aku mengabulkan-Nya dengan segala risikonya!”

Sukracharya tersinggung karena Bali menolak permintaannya, “Kamu berpikir bahwa kau lebih bijaksana daripada aku. Kamu akan segera menemukan dirimu tanpa kerajaan. Aku mengutuk kamu bahwa kemuliaanmu dan kekayaanmu akan segera meninggalkanmu!” Kutukan Sukra tidak memengaruhi Bali dan dia mengajak istrinya Vindhyavali mencuci kaki Vamana dan dan membasahi kepala mereka dengan air bekas cucian kaki tersebut.

 

Aku dan Milikku

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.” Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

                Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia. Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Saat Bali mengangkat wajahnya dia melihat wujud Vamana sebagai Visvarupa Narayana dengan besar yang tak terukur. Langkah pertama-Nya meliputi bumi, langkah kedua-Nya meliputi langit. Garuda kemudian mengikat Bali dengan tali Varuna.

Bali sadar dan terharu ternyata Narayana ingin dia bebas dari kedua kesalahan besar yaitu “Aku” dan “Milikku”. Dengan meminta hadiah Narayana telah mengambil semua “Milikku”, dan sekarang dengan mengikat dirinya, Narayana telah menghilangkan “Aku”. Narayana berkata, sekarang kau sudah kehilangan dua langkah dan Guru Sukra mengatakan bahwa kau akan didorong dengan langkah ketiga di dunia bawah karena kau tidak akan menepati janjimu.”

Bali berkata, “Tuhan, aku tidak bohong, letakkan langkah ketiga-Mu pada kepalaku.”

Prahlada, kakek Bali, datang dan langsung mencuci kaki Vamana. Brahma juga menghadap Narayana dan berkata, “Tuhan jangan menyusahkan Vindhyavali lagi. Bali sudah memberikan segalanya kepada-Mu. Ia telah pasrah kepada-Mu. Ia semestinya diberi karunia oleh-Mu sendiri.”

 

Narayana berkata, “Manakala Aku akan menghancurkan seseorang, Aku akan memberi dia semua kekayaan dan kekuasaan di dunia. Ia kemudian terlibat padanya dan lupa kondisi sejatinya.  Jika aku ingin menyelamatkan seseorang dari maya, Aku menyingkirkan kekayaannya, semuanya. Bebas dari semuanya ia akan menjadi Aku. Bali tidak berbelok dari jalan kebenaran, ia telah menaklukkan maya. Ia telah banyak menderita. Ia telah kehilangan kekayaan, kekuasaan sebagai raja manusia. Musuhnya menertawakan dia yang diikat dengan Varuna. Kerabatnya telah meninggalkan dirinya. Bali sekarang telah mencapai suatu keadaan  yang diinginkan oleh para dewa. Diberkati oleh-Ku dia menjadi Indra sepanjang manvatara bernama Savarni. Ia akan tinggal hingga waktu itu di dalam Sutala yang aku sayangi. Aku akan selalu menemanimu, Bali akan menjadi Indra Agung selama Savarni Manvantara.”

Pelajaran yang dapat dipetik adalah apabila Bali memilih bekerja semata-mata untuk dunia dan melupakan Dia Hyang Maha Menguasai Dunia, seperti nenek moyangnya yaitu Hiranyaksa dan Hiranyakashipu yang menguasai tiga dunia, maka dia akan mendapatkannya. Akan tetapi, dunia yang diperolehnya tersebut, bersifat sementara. Dan bila Bali bekerja semata-mata sebagai persembahan, yang seluruh hasilnya dipersembahkan kepada Hyang Maha Menguasai dunia, maka dia akan mendapat tempat di sisi-Nya (disayangi dan diberkati Narayana). Selain itu, dunia pun tetap diberikan kepadanya (diangkat sebagai Indra di Sutala).

Vamana Avatara: Lahir dari Kegigihan Ibu dan Berkah Narayana #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 18, 2017 by triwidodo

Kemenangan kelompok dharma dan adharma silih berganti

Tiada sesuatu yang bertahan – segala sesuatu sedang berubah. terus. Tidak ada sesuatu yang permanen. Ini adalah salah satu aspek Kebenaran. Aspek Kebenaran dari sudut pandang materi atau kebendaan……

Namun, ada juga aspek lain dari Kebenaran Tunggal yang satu dan sama ada-Nya. Aspek ini tidak mudah dipahami, karena untuk memahaminya kita mesti menembus dimensi “nyata” dan memasuki dimensi “gaib” atau “tidak nyata”. Aspek ini adalah Keabadian Jiwa dan Relasi Jiwa dengan Jiwa Agung. Aspek ini tidak nyata, setidaknya belum terungkap sepenuhnya bagi kita yang masih hidup dalam keraguan. Aspek ini bersifat spiritual, rohani. Aspek ini mempertemukan materi dan Spirit atau Jiwa, di mana materi terlihat jelas tidak bisa berbuat apa-apa tanpa landasan Spirit, tanpa Jiwa.

Segala perubahan yang terjadi di alam benda ‘bisa terjadi’ karena adanya interaksi dengan Jiwa, dengan Spirit. Tanpa adanya interaksi dengan Spirit, tidak ada pemain sandiwara, tidak ada permainan. Tidak ada sandiwara. Jiwa atau Spirit bersifat kekal abadi. Sementara itu, alam benda berubah terus. Para pemain pun berganti peran terus. Setting sandiwara juga tidak statis, ada saja perubahan. Penjelasan Bhagavad Gita 11:2 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dikisahkan bahwa setelah para dewa memperoleh amrita, minuman keabadian, para asura kembali menyerang para dewa. Akan tetapi para asura mengalami kekalahan, Bali Raja asura pingsan dan sebagian besar asura mati dalam pertempuran. Rishi Narada datang dan menyarankan perang agar disudahi saja, tujuan para dewa untuk memperoleh amrita sudah tercapai. Indra dan para dewa setuju, mereka kembali menguasai kerajaan mereka dan para asura kembali ke tempat tingggal mereka.

Waktu berlalu, Rishi Sukracharya, guru para asura menyembuhkan Bali dan menghidupkan kembali para asura. Rishi Sukracharya mempunyai mantra sanjivani yang dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati, yang akan dikisahkan kemudian.

Bali putra Virocana, cucu Prahrada, adalah seorang pemimpin besar para asura. Bali menghadap guru para asura yaitu Sukracarya putra Bhrigu. Bhrigu adalah putra Brahma sedangkan ibu Sukracarya adalah Khyati, putri Kardama-Devahuti.

Sukracarya kemudian mengadakan upacara persembahan yang akan mengembalikan kekuatan dan keperkasaan Bali. Selesai upacara persembahan, nampak Bali menjadi lebih kuat dan lebih agung. Bali naik sebuah kereta perang kebesaran dan para asura menjadi pasukan tangguh yang menyebabkan nyali para dewa menjadi ciut. Bali dan pasukannya segera kembali menyerang istana para dewa dan menduduki kota Amaravati.

Indra yang kalah kemudian menghadap guru para dewa yaitu Bhrihaspati putra Angira. Angira adalah putra Brahma dan ibu dari Bhrihaspati adalah Shraddha, putri Kardama-Devahuti. Jadi baik Brihaspati, guru para dewa maupun Sukracharya, guru para asura semuanya adalah cucu Kardama-Devahuti.

Bhrihaspati menjelaskan bahwa Sukracarya berada di balik kepulihan kebesaran Bali dan sebaiknya Indra dan para dewa meninggalkan Amaravati dulu, menunggu waktu yang tepat. Akan ada waktunya Sukracarya tersinggung dengan tindakan Bali dan segala kebesaran Bali akan ditariknya kembali.

Bali kemudian menjadi raja dari tiga dunia dan menyelenggarakan upacara 100 Asvamedha dan kebesarannya menjadi terkenal di seluruh penjuru dunia.

 

Upaya gigih seorang ibu dan berkah Gusti melahirkan putra perkasa

Pernikahan antara dua anak manusia yang berada pada gelombang kesadaran yang sama dapat memperkuat “gelombang bersama” mereka. Dan, dengan kekuatan itu pula mereka dapat mengundang kekuatan-kekuatan alam yang kemungkinan tidak dapat diakses secara terpisah.

Banyak orang menjadi sukses setelah pernikahan. Kenapa? Karena alasan yang telah dijelaskan di atas. Kekuatan ganda suami istri mampu meningkatkan gelombang mereka bersama dan mereka bisa meraih keberhasilan yang tak terbayangkan sebelumnya.

………………

Para Yogi sangat menghormati kaum perempuan dan menghargai peran mereka sebagai penopang keluarga, masyarakat, dan bangsa. Mereka jauh lebih intuitif daripada kaum pria, lebih disiplin, lembut tapi tegas. Di wilayah peradaban Hindia, kaum perempuan tidak pernah dianggap sebagai warga masyakarat yang lemah dan oleh karenanya mesti selalu berada di bawah kaum pria. Bagi setiap pria yang ingin meraih keberhasilan: Hendaknya kau menghormati para wanita dalam hidupmu.

Seorang wanita adalah personifikasi Bunda Alam Semesta. la adalah wujud kasih dan kekuatan, kelembutan dan ketegasan. Janganlah menyalahtafsirkan kelembutannya sebagai kelemahan. Tiada seorang pun yang menjadi besar, tanpa peran wanita dalam hidupnya. Oleh karena itu berterimakasihlah kepada kaum perempuan, bersyukurlah kepada Keberadaan atas kehadiran mereka dalam hidupmu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Aditi adalah putri Daksa dan istri dari Rishi Kasyapa. Rishi Kasyapa adalah putra Rishi Marici-Kala dan cucu dari Kardama-Devahuti. Aditi dan Rishi Kasyapa adalah sepasang anak manusia yang setara, sama-sama menjadi bhakta Narayana, sehingga mereka dikaruniai putra-putra yang menjadi para dewa dan di antaranya adalah Indra, seorang raja dewa.

Pada waktu Rishi Kasyapa pulang setelah lama bertapa, dia melihat Aditi sedang berada dalam kesedihan yang nyata. Aditi menyampaikan bahwa dia sangat menderita karena Indra dan para dewa lainnya diusir pergi dari Amaravati oleh raja asura, Bali.

Aditi berkata, “Aku adalah seorang perempuan bodoh yang tidak tahu dengan cara apa Gusti Narayana harus dipuja. Tidak mungkin aku bertindak seperti kamu bertapa dengan keras. Tunjukkan  cara yang mudah bagi perempuan sepertiku agar doaku dikabulkan-Nya.”

Rishi Kasyapa berkata, “Aku diajari Brahma mengenai Payovrata, laku siang-malam memuja Narayana dimulai saat bulan terang pada bulan Phalguna (pertengahan Februari-pertengahan Maret) selama 12 hari dengan hanya minum susu sebagai makanan. Ucapkanlah mantra “Aum Namo Bhagavate Vasudevaya.” Jika kamu melakukan ini dengan penuh bhakti, maka Narayana akan mengabulkan keinginanmu.”

 

Doa Aditi

Setiap doa yang dipanjatkan dengan ketulusan hati dan kesungguhan jiwa pasti terkabulkan! Berdoalah, setiap kali kau menghadapi suatu keadaan di mana keseimbangan dirimu goyah. Berdoalah setiap kali kau merasa tidak berdaya dan lemah untuk menghadapi suatu tantangan yang berat. Berdoalah dengan cara menarik diri dari keramaian; membuka hati, pikiran, dan jiwamu kepada Gusti Allah. Berdoalah untuk memperoleh tuntunan-Nya, bimbingan-Nya. Dan, yakinilah bahwa la Maha Mendengar. Banyak cara yang ditempuh-Nya untuk menjawab doamu. Bukalah dirimu terhadap semua cara itu. Ada kalanya la mengutus para malaikat, para dewa, atau para roh suci untuk menolongmu, membimbingmu. Ketahuilah bila semuanya itu terjadi semata karena la menghendaki-Nya. Para Yogi selalu berdoa untuk Terang, untuk Tuntunan, untuk Kebijaksanaan, Kekuatan, dan Kasih. Doa mereka selalu terkabulkan. Belajarlah untuk berdoa seperti mereka. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.)

 

Aditi melakoni Payovrata dengan taat, dan pada hari keduabelas tapa bratanya, Narayana nampak di hadapan Aditi dan berkata, “Ibunda para dewa, kau tidak perlu menceritakan apa yang membuatmu menderita. Aku mengetahui bahwa para putramu ada dalam kekuasaan para asura. Kau ingin para putramu kembali berkuasa, akan tetapi kau harus sabar menunggu. Pada saat ini bintang Bali sedang bersinar karena kemuliaan Sukra.  Bagaimanapun aku senang dengan tapa bratamu, aku akan dilahirkan sebagai putramu. Jangan mengatakan kepada siapa pun karena kelahiranku adalah suatu devarahasya.” Dan, kemudian Narayana lenyap dari pandangan Aditi. Setelah tiba waktunya lahirlah Vamana yang tumbuh menjadi laki-laki kerdil.

Silakan ikuti kisah Vamana dalam Srimad Bhagavatam selanjutnya…..

Amrita: Keabadian demi Ego Asura atau Pelayanan Dharma Dewa? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 14, 2017 by triwidodo

Tidak ada Dia yang Lain Kecuali Dia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia. Dengan kesadaran tersebut, kita membaca bahwa sesungguhnya yang sedang bermain, yang sedang membuat kisah adalah Dia. Yang membaca kisah ini pun sesungguhnya adalah Dia yang bersemayam dalaam tubuh kita.

 

Keluarnya racun dari samudera

 

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya. Penjelasan Bhagavad Gita 18:66  dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Setelah beberapa lama, Vasuki terengah-engah dan dari mulutnya keluar asap, para Asura yang memegang kepala tidak kuat. Vishnu kemudian datang sebagai hujan dan angin sepoi-sepoi yang membawa asap dari mulut Vasuki.

Semua makhluk merasa ditolong Gusti. Memang demikian. Tetapi bukan berarti hanya mereka sendiri yang dicintai dan ditolong-Nya. Dia tidak membeda-bedakan. Semuanya sejatinya adalah Dia, hanya mind-lah yang membuat merasa terpisah.

Samudra diaduk terus dan seakan-akan nampak sebagai susu.  Selanjutnya muncul racun Kalakuta (Halahala dalam bahasa Sanskerta). Udara menjadi beracun dan semua asura berlarian, para dewa pun pada tidak kuat. Dan para dewa kemudian memohon pertolongan Shiva, Sang Mahadewa. Sang Mahadewa melindungi mereka yang memohon dengan keyakinan kepadanya, Mahadewa menelan racun masuk kerongkongan dan tetap di lehernya. Sebuah perbuatan yang penuh kasih. Setetes racun jatuh dan menjadi rebutan ular, kalajengking, lipan dan binatang merayap lainnya.

 

Semua diperoleh dengan kerja keras bukan instan

Tiada seorang pun yang dapat membantumu…….. Hanyalah engkau sendiri yang dapat membantu diri! Pencerahan pun adalah hasil upaya sendiri, yang kemudian mengundang berkah. Ya, peran anugerah, berkah, grace memang ada. Tidak bisa dinafikan. Tapi turunnya berkah karena upaya. Upaya adalah yang mengundang berkah.

Tidak ada penyelamat yang menyelamatkan diri kita. Seorang Sadguru atau Pemandu Rohani sejati pun tidak bisa melakukan perjalanan mewakili kita. Kita mesti berjalan sendiri. Krsna pun hanya menunjukkan jalan, menjelaskan tantangan dalam perjalanan. Tapi semua itu mesti kita hadapi sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 4:36 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Gusti Narayana memberi petunjuk, tetapi para dewa dan asura lah yang melakukannya. Upaya para dewa dan asura dilengkapi dengan berkah Gusti Narayana membuahkan hasil. Berupaya keras dan memperoleh berkah itulah kunci keberhasilan. Dalam berupaya dengan keras pun selalu ada side-product, efek samping, “racun” yang tidak berguna dan kadang membayakan. Efek samping tersebut harus ditangani dengan baik oleh ahlinya.

Setelah  para dewa dan para asura kembali berupaya mengaduk, dan kemudian keluar Kamadhenu, Sapi Suci. Para rishi yang melakukan upacara Yajna membawanya. Dari susu sapi diperoleh ghee untuk keperluan upacara Yajna.

Selanjutnya Ucchaisrava, Kuda Sakti yang diminta raja asura Bali. Kemudian Gajah Airavata untuk Indra, raja dewa. Permata Kaustubha dipakai Vishnu. Pohon Parijata dan para Apsara semua diambil Indra.

Setelah itu keluar Lakshmi dan semuanya menginginkannya. Akan tetapi sesuai etika Lakshmi sendirilah yang akan memilih siapa yang akan diikutinya. Laksmi melihat para Asura masih keras dan mau menang sendiri. Para rishi pun, nampak belum menaklukkan kemarahan dan masih sering mengutuk. Guru Sukra  pun bijak tetapi masih belum mengetahui tentang ketidakterikatan. Candra tampan, akan tetapi belum menaklukkan nafsu. Indra penguasa, tetapi belum mampu menaklukkan keinginan.  Hanya Vishnu yang tidak menginginkannya. Dia telah melampaui Triguna. Lakshmi menjatuhkan pilihan untuk mengikuti Vishnu.

Silakan baca ulang kisah:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/08/23/dewi-sri-kemuliaan-dan-kemakmuran-menghampiri-para-pekerja-keras/

Keluarnya Amrita dari samudra

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita berikan kepada “cara berpikir” seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

LALU, APAKAH AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh. Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Terakhir keluar Dhanvantari membawa mangkuk berisi amrita. Para asura dengan cepat melepaskan Vasuki, alat itu sudah selesai digunakan, mengapa harus repot? Vasuki dilemparkan dan mereka merenggut mangkuk berisi amrita. Tiba-tiba terjadilah perebutan di antara para asura, siapakah yang berhak mencicipi amrita lebih dahulu. Berlomba dengan teman sendiri, merasa paling unggul di antara sahabat adalah sifat asura. Asura dominan sifat rajas, agresif, serakah dan ambisius.

 

Munculnya Rohini sangat jelita dan mempesona

Di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, “Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!”

Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi.

Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, “Subhanallah! Maha Suci Allah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tiba-tiba suasana mendadak hening, dan dalam keheningan tersebut muncul seorang wanita yang amat sangat jelita.  Para asura dan para dewa duduk bersimpuh di hadapan wanita jelita tersebut. Para asura ternganga dan langsung menyerahkan mangkuk berisi amrita, “Wahai bidadari jelita, kami yakin dikau bertindak adil, ambillah dan bagikan kepada kami menurut pendapatmu.” Para asura dan para dewa membentuk 2 baris dan si jelita berjalan di tengahnya.

Para asura tetap ternganga dan terpesona, padahal sambil jalan berlenggok, Dia menyendok amrita untuk para dewa di sisi lainnya. Lupa diri membuat para asura lalai, alpa. Mereka berpikir, “Huh, para dewa memang tidak bisa menghargai kecantikan yang belum pernah ada sebelumnya di permukaan bumi ini.”

Hanya asura Rahu yang waspada, yang paham keadaan dan segera menyamar sebagai dewa dan duduk di antara Surya dan Candra.  Rahu telah mendapatkan amrita. Wanita itu tahu tapi membiarkan saja. Baru setelah Surya dan Candra memberi tanda, maka leher Rahu dipotong olehnya. Kepala Rahu tetap abadi tetapi dia tidak punya tubuh.

Kejadian tersebut menyadarkan para asura, dan Mohini, sang wanita jelita, kembali mewujud sebagai Vishnu dan menghilang. Tindakan Surya dan Candra tersebut membuat marah Rahu, maka pada waktu tertentu dia akan menelan Surya dan Chandra. Akan tetapi ,pemberitahuan kepada Mohini telah menyelamatkan mereka, karena begitu mereka ditelan Rahu setelah sampai di leher mereka keluar lagi. Konon, itulah legendanya peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan yang hanya memakan waktu sebentar saja.

 

Kita dapat menarik pelajaran dari penggalan kisah ini bahwa:

Pertama, para asura telah bekerja lebih keras, karena ambisi dari mind, ego, mereka ingin mendapatkan keabadian demi kenyamanan fisik , kenyamanan materi, dan itu selaras dengan sifat rajas-agresif dalam diri mereka. Sedangkan para dewa lebih menginginkan penyelesaian tugas yang diamanahkan kepada mereka dapat terselesaikan secara baik dan untuk itu mereka memerlukan keabadian. Hal demikian selaras dengan sifat satvik-tenang yang dimiliki para dewa.

Kedua, para dewa mendapatkan amrita, mendapatkan keabadian, mereka melampaui pikiran tentang mati, yang mati itu fisik. Jiwa tidak mati, abadi. Asura tidak paham hal tersebut karena terlalu mengikuti pikirannya yang terperangkap dalam maya, hijab dunia. Bagi kita yang hidup, amrita mungkin semacam kesadaran bahwa kita ini adalah Jiwa, dan Jiwa tidak bisa mati. Mereka yang tidak sadar berkeinginan agar fisik kita abadi, masih mempunyai sifat asura dalam diri mereka.

Kurma Avatara: Mendukung Perjuangan Gigih Memperoleh Amrita #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 10, 2017 by triwidodo

Membaca ulang kisah Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Perang dahsyat yang pernah terjadi di medan perang Kuruksetra masih berlanjut, masih terjadi, tidak pernah tidak, atau setidaknya belum berhenti.

Perang disebabkan oleh Keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Kita boleh saja bicara tentang kedamaian, kita boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan dan kebencian akan selalu ada. Selama itu pula, perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari.

………………

Skenario keserakahan inilah landasan kisah Mahabharata. Kendati, Mahabharata tidak berhenti pada landasan tersebut. Lewat Bhagavad Gita, Mahabharata juga menawarkan solusi untuk memerdekakan kita dari belenggu keserakahan, dan belenggu-belenggu lainnya. Kata Pengantar Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dunia tidak berubah bukan hanya sejak zaman Mahabharata, akan tetapi sezak zaman Satya Yuga, awal kehidupan manusia pun sudah demikian. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Itulah sebabnya kami menyisipkan mutiara-mutiara Bhagavad Gita yang sesuai dengan alur kisah Srimad Bhagavatam.

Bali adalah cucu Prahlada, sebagai raja para asura. Dalam diri Bali mengalir genetik bijak dari kakeknya, Prahlada. Akan tetapi kebijakan tersebut masih bercampur dengan keterikatan dengan kelompok yang dipimpinnya. Bali beserta para asura perang beberapa kali melawan Indra beserta para dewa.

Dalam beberapa peperangan terakhir para dewa mengalami kekalahan. Sehingga mereka menghadap  Brahma dan kemudian mohon pertolongan dari Vishnu. Kita tahu bahwa para asura bertindak untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, sedangkan para dewa berkarya demi kepentingan seluruh makhluk. Sudah sewajarnya para dewa perlu hidup abadi (dalam ukuran waktu manusia) layaknya Brahma, agar semua makhluk memperoleh berkah dan bantuan para dewa.

Vishnu memberi petunjuk agar para dewa mengadakan gencatan senjata dengan para asura. Mereka perlu bekerjasama mengaduk samudera, untuk memperoleh amrita minuman penyebab keabadian.

Gunung Mandaragiri agar dijadikan alat pengaduk dan ular raksasa Vasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para dewa dan para asura memegang tali bersama untuk mengaduk samudra. Para dewa harus bekerja sama dengan para asura, tidak dapat bekerja sendiri.

Kita dapat menarik pelajaran, bahwa untuk mencapai tujuan yang tidak dapat dikerjakan sendiri, kita harus bergotong-royong, bekerjasama. Kedua, Yang Maha Kuasa tidak memberikan buah yang sudah matang dan instan untuk dimakan. Diperlukan upaya mematangkan buah, diperlukan upaya memproses yang gigih agar hasil tercapai.

Para asura di bawah pimpinan Bali setuju untuk mengadakan gencatan senjata dan bekerja sama demi mendapatkan amrita. Hanya saja, para dewa ingin mendapatkan amrita bagi keabadian penegakan dharma, sedangkan para asura ingin mendapatkan keabadian agar memperoleh kenikmatan indrawi tanpa berhenti. Sebagaimana yang terjadi dalam persaingan antara dua kelompok yang bekerjasama, mereka telah menyiapkan alternative plan untuk merebut amrita dari tangan pesaing.

 

Gusti bermain game di atas layar dunia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara para putra Aditi, Akulah Visnu – Sang Pemelihara Agung; matahari dan seterusnya…. Bhagavad Gita 10:21

Di antara para Dewa, Akulah Indra, Sang Pengendali indra; dan seterusnya… Bhagavad Gita 10:22

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga……..

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa.

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton! Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku

Penjelasan Bhagavad Gita di atas akan membuat kita membaca kisah Srimad Bhagavatam dengan cara baca yang berbeda. Kita kemudian menyadari bahwa di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia.

Awalnya, para dewa memegang kepala Vasuki yang membelit gunung dan ekornya dipegang para Asura. Para Asura tersinggung , merasa martabatnya direndahkan maka mereka meminta untuk memegang kepala. Para dewa menuruti kemauan para Asura.

Kendati sudah dipegang oleh para dewa dan para asura yang kuat, gunung tersebut tenggelam di samudra. Sang Pemelihara Alam mewujud sebagai kura-kura raksasa, Kurma Avatara. Bertindak sebagai penyangga di bawah gunung. Banyak yang tidak tahu mengapa gunung tersebut tidak tenggelam lagi. Akibatnya luar biasa,  semuanya merasa bersemangat, bekerja sama, bergotong-royong. Sesungguhnya, Dia lah yang merasuk ke semua pelaku dan membuat semua pelaku merasa bersemangat.  Dia adalah gairah yang berada dalam hati Gunung Mandaragiri. Dia adalah ketidaktahuan, sifat tamasa Vasuki. Dia juga merupakan sifat alami agresif, rajasika para asura. Dia juga adalah sifat satvika dewa.

Silakan baca kisah lanjutannya dalam Srimad Bhagavatam berikutnya…..

Gajendra: Perjuangan Berat Melawan Buaya Menuju Moksa #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on May 6, 2017 by triwidodo

 

Pergulatan Tak Berkesudahan antara Gajah dan Buaya

Umumnya, Tidak Ada Devolusi, yang ada hanyalah evolusi. Manusia tidak akan lahir kembali sebagai binatang. Tetapi, ya, ada saja pengecualian. Dalam keadaan tertentu, seseorang yang telah mencapai kesadaran cukup tinggi bisa memilih untuk lahir kembali sebagai binatang—hanya demi mempelajari suatu mata pelajaran tertentu.

Barangkali mata pelajaran tentang compassion, tentang bagaimana menyayangi sesama, bagaimana merendahkan diri dan tidak angkuh, dengan memilih wujud hewan. Sebab, sebagai hewan ia bisa belajar dalam waktu singkat. Ia tidak perlu menghabiskan waktu panjang. Sebagai hewan, cukup bila ia hidup 6—7 tahun, sebagai manusia bisa 70-80 tahun.

Sekali lagi, ini merupakan pengecualian. Justru terjadi, bisa terjadi pada orang-orang yang sudah berkesadaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kutipan tersebut di atas menjiwai kisah tentang gajah dan buaya berikut:

Seekor gajah memimpin kawanan gajah tinggal di Gunung Trikuta yang sangat indah. Para suci, para carana-pemusik surgawi, para gandharva-pemusik surgawi sering ke sana bertapa ataupun berwisata di danau yang luas di atas gunung.

Pada suatu ketika kawanan gajah tersebut setelah berjalan jauh, beristirahat, minum dan main air di tepi danau tersebut. Mereka sangat bergembira dan kurang waspada akan adanya bahaya yang mengintai diri mereka.

Tiba-tiba seekor buaya yang sangat besar menarik kaki pemimpin gajah dengan kuatnya. Kejadian tak terduga tersebut membuat sang gajah terkejut dan mencoba untuk melepaskan diri dari sang buaya. Teman-temannya berusaha membantunya tetapi gigitan sang buaya begitu kuatnya dan ekornya memukul siapa pun yang membantu, sehingga mereka tidak berhasil melepaskan kaki sang pemimpin. Akhirnya, tak ada seekor gajah pun yang dapat membantunya, termasuk istri dan anak-anaknya.

Pergumulan berlangsung sengit sampai beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan dan bahkan beberapa tahun. Bahkan para dewa hadir untuk melihat pertarungan antara sang raja gajah dan sang raja buaya. Pelan-pelan tetapi pasti kekuatan sang gajah mulai surut dan kekuatan sang buaya semakin perkasa. Sang gajah akhirnya menyadari bahwa pada suatu saat dia akan kalah dan hidupnya akan tamat, persoalannya hanya masalah waktu saja.

Sambil berjuang dengan gigih melawan gigitan sang buaya, dalam diri sang gajah timbul sebuah kesadaran, bahwa hidup dia di dunia hanya melakukan sebuah peran. Semua skenario adalah milik Gusti Pangeran. Tetap berjuang tetapi sadar untuk mengikuti kehendak-Nya. Selamat atau tidak dia pasrah kepada Gusti Pangeran Sang Sutradara Dunia.

 

Pasrah kepada Gusti Pangeran

SUMBER DAN SEBAB SEGALA-GALANYA – semuanya ada karena Dia. Ketika kita merasa sesuatu terjadi karena “diri” kita – maka saat itu adalah ego, gugusan pikiran dan perasaan yang bekerja. Kemudian, kita terlempar jauh dari Kesadaran Jiwa.

                Semuanya terjadi bukan karena aku, tetapi karena Jiwa. Berilah nama lain kepada Jiwa sehingga mudah memisahkannya dari aku-ego. Sebutlah Dia Tuhan – tidak salah. Karena, Jiwa yang bersemayam di dalam diri kita hanyalah percikan dari Sang Jiwa Agung. Katakan, semua itu terjadi karena Tuhan. Bukan karena Aku, bukan karena egoku, bukan karena pikiran atau perasaanku – tapi karena Dia. Dia, Dia, Dia, Tuhan, Sang Jiwa Agung! Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 15:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada. Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu. KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAKJivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa. LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung. TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada. Penjelasan Bhagavad Gita 15:16-17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sambil tetap berjuang keras mempertahankan hidupnya, sang gajah pasrah dan berdoa kepada Gusti Pangeran, dan akan menerima apa pun yang dikehendaki-Nya. Kalau memang dia harus mati, itupun tidak lepas dari pengawasan-Nya. Kalau dia akan selamat, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mencederainya. “Aku pasrah Gusti Narayana!”

Tiba-tiba datanglah Gusti Narayana naik Garuda dan masuk ke dalam danau membunuh buaya dengan senjata cakra serta menarik sang gajah keluar dari danau. Semua yang hadir melihat dari bangkai buaya muncul sosok gandharva. Ia bersujud di kaki Narayana dan memuji Dia dengan nyanyian Ilahi.

 

Para Suci bertindak sesuai Kehendak Gusti, egonya sudah terlampaui

“Ketahuilah bahwa ‘aku’ sudah mati. Sekarang, Yang ada hanyalah Dia. Yang bernapas lewat aku adalah Dia.” Nuh bagaikan singa dalam wujud rubah. Ketika dia meraung, suaranya terdengar jelas. “Janganlah ragu-ragu. Jangan menyangsikan kebenaran kata-kata yang kuucapkan, karena ucapanku berasal dari Dia yang berada di balik ‘kerudung badan’.”

Setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar, setiap buddha adalah singa berbadan rubah. Kita semua mendengarkan suara raungnya. Tetapi tertipu oleh apa yang terlihat dengan kasat mata, “Ah masa…. No, no, no, no—dia bukan singa. Dia hanyalah seekor rubah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan, gandharva Huhu sedang mandi bersama istrinya di danau tersebut dan bermain air sepuasnya, sampai melupakan segala sesuatu. Karena gembiranya, sang gandharva menarik kaki seorang rishi bernama Devala yang sedang bertapa di danau tersebut.

Sang resi mengutuk, “Karena kau menikmati permainan air, maka kau akan menjadi buaya dalam satu kehidupan. Kau akan lama berada di sini sampai datangnya kawanan gajah dipimpin raja gajah yang sangat besar. Kau harus menggigit kakinya dan jangan sampai terlepas. Pada saat gajah dan kau kecapaian ingatlah Gusti Pangeran. Berserahdirilah kepada-Nya. Biarkan apa yang terjadi sesuai Kehendak-Nya!”

Gandharva Huhu, sadar obsesinya untuk bersukaria dalam air membawa dia menjadi buaya, dan sampai suatu saat dia akan sadar bahwa kenikmatan itu sudah cukup dan dia harus melanjutkan kehidupan spiritualnya. Sang gandharva melakukan pradaksina, menghormati sang rishi dan menyanyikan lagu pujian bagi Gusti Narayana.

Rishi Suka melihat wajah Parikshit yang bingung mendengar kisahnya. Dan Rishi Suka melanjutkan kisahnya……..

Adalah sebuah negeri di Pandya yang dipimpin oleh seorang raja bijak bernama Indrayumna. Ia adalah seorang panembah Gusti, pemuja Narayana. Suatu saat ia sedang memuja Gusti di lereng gunung di Malaya. Dia mandi dan kemudian mengendalikan pikirannya dengan berdiri pada satu kaki dan pikirannya terfokus pada wujud Narayana. Sang raja larut dalam bermeditasi sehingga tidak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Rishi Agastya yang tinggal di gunung tersebut datang ke tempat tersebut dengan para muridnya. Melihat sang raja berdiri dan tidak menggunakan etika untuk menyambut seorang rishi yang datang, maka Rishi Agastya mengutuk, “Karena tindakanmu, kau akan dilahirkan lagi sebagai gajah.” Dan kemudian sang rishi pergi bersama murid-muridnya.

 

Dalam diri sang raja sama sekali tak ada rasa marah atas ketidakadilan ini. Sang raja paham kutukan tersebut adalah untuk membebaskan dia hutang perbuatan di masa lalu yang tidak dapat diingatnya lagi. Gusti Narayana yang dipujanya, bertindak melalui Rishi Agastya untuk memberikan jalan mencapai tujuan hidupnya…………….

 

Upayakan kesempurnaan hidup saat ini, walau belum berhasil, kau akan memetiknya nanti

Walau, dalam kehidupan ini kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga, belum menyatu dengan-Nya dan keburu “mati”, tiada yang perlu dikhawatirkan. Upaya kita sepanjang hidup tidak sia-sia. Demikianlah kehidupan Raja Indrayumna yang dapat dijelaskan sesuai penjelasan Bhagavad Gita berikut:

DALAM MASA KELAHIRAN BERIKUTNYA… Walau lahir dalam keluarga kaya, sejahtera, serba berkecukupan, atau bahkan berlimpah, walau masih sering terbawa oleh hawa nafsu, dan masih pula terkendali oleh indra — kita akan tetap berupaya untuk meraih kesempurnaan dalam Yoga.

Kita tidak bisa mengabaikan dorongan Jiwa, suara hati, untuk melanjutkan perjalanan rohani kita. Kiranya, keadaan ini yang dialami oleh seorang pangeran seperti Siddhartha. Maka, dengan adanya pemicu sedikit saja — dengan melihat kenyataan hidup berupa kelahiran, kematian, penyakit, usia tua, dan sebagainya — ia langsung mengingat kembali “tujuannya” dan meninggalkan istana untuk melanjutkan perjalanannya.

ARJUNA BERADA DALAM P0SISI YANG MIRIP, tapi tidak sama. Dalam diri Arjuna, potensi sebagai seorang kesatria masih tetap melengket. Tidak demikian dengan Siddharta. Sebab itu, Arjuna mesti berada di tengah keramaian dunia dan mengupayakan kesempurnaan dalam Yoga sambil tetap menjalankan profesinya. Penjelasan Bhagavad Gita 6:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sang raja menerima kelahiran sebagai gajah dan mengembara di Gunung Trikuta. Tetapi karena pikirannya terfokus pada Tuhan maka dia berbeda dengan gajah lainnya. Pada kondisi kritis, antara hidup dan mati, dia teringat lagi kelahiran sebelumnya dan ia berdoa kembali kepada Gusti layaknya seorang manusia bijak. Raja Indrayumna kini bebas dari kutukan dan juga telah memperoleh kebebasan dari perbudakan samsara. Gusti Narayana menjadikannya sebagai penjaga-Nya di samping Garuda.

 

Makna simbolis di balik kisah

Hikmah dari kisah Gajah yang bermain-main air di danau tertangkap oleh buaya adalah sebagai berikut:

Danau adalah simbol dari samsara. Manusia dengan pikiran seperti seekor gajah liar, memasuki danau samsara di hutan kehidupan. Pikiran selalu haus akan kesenangan indrawi. Dan, saat manusia melangkah ke dalam danau samsara, buaya maya menangkap dan memegangnya.

Manusia berjuang keras untuk membebaskan diri dari perbudakan tetapi hal tersebut merupakan pekerjaan purnawaktu selama hayat dikandung badan. Tidak ada keluarga dan kerabat yang dapat membantunya. Suatu saat usianya bertambah dan dia menjadi semakin lemah.

Kemudian dia sadar akan kelemahan dirinya dan dia berdoa kepada Gusti Pangeran untuk menyelamatkannya. Ketika manusia terjebak dalam belenggu samsara, dia perlu berdoa kepada Gusti dan berserah diri kepada-Ny. Hanya Gusti yang dapat membebaskannya dari perbudakan maya.

Avatara Narasimha: Wujud Narayana Pelindung Dharma #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 2, 2017 by triwidodo

Ketika adharma merajalela, maka Aku menjelma

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

Ini adalah sebuah janji yang bukan asal-bunyi. Janji ini memiliki dasar ilmiah yang dapat dipahami. KETIKA ADHARMA MERAJALELA — Ketika kebatilan dan ketidakadilan berkuasa, maka di manakah dharma, di manakah kebajikan dan keadilan? Apakah dharma, kebajikan dan keadilan, lenyap sama sekali? Apakah sirna? Apakah punah tanpa bekas?

Dharma adalah energi, adharma pun sama, energi. Dan, energi tidak pernah punah. Energi hanya berubah wujud saja. Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak.

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:7 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hiranyakasipu yang sangat cerdas minta kepada Brahma, bahwa tidak ada satu pun makhluk ciptaan Brahma yang dapat membunuhnya. Tidak ada hewan atau manusia yang dapat membunuhnya. Dia minta dia tidak akan mati di dalam rumah atau di luar rumah dan juga tidak bisa mati sepanjang siang dan sepanjang malam. Tidak mati di bumi atau di langit. Tidak ada satu pun senjata yang dapat membunuhnya. Dengan kesaktiannya, dia menaklukkan 3 dunia dan menghancurkan tempat-tempat pemujaan bagi Narayana. Para brahmana dikejar-kejar dan para pemuja Narayana hidup dalam ketakutan.

Hiranyakasipu yakin dengan janji Brahma, bahwa dia tidak mungkin mati oleh makhluk ciptaan Brahma. Hanya sang maharaja sangat galau bahwa putra bungsunya yang sakti adalah pemuja Narayana, musuh besarnya. Tapi dia yakin Prahlada, sang putra tidak akan mampu membunuhnya, karena sang putra pun termasuk ciptaan Brahma.

 

Puncak kemarahan Hiranyakasipu terhadap Prahlada

“Kama dan Krodha – nafsu keinginan yang tidak pernah terpenuhi, jika dilayani terus; dan, api amarah yang jika tidak segera dipadamkan, akan berkobar terus. Kedua-duanya adalah musuh utama manusia.

“Kama dan Krodha adalah dwi-tunggal – Walau dua kata, sesungguhnya kedua-duanya itu seperti Kembar-Siam – tidak terpisahkan. Dua-duanya muncul, lahir dari rahim Rajoguna sifat penuh gairah, nafsu berlebihan, sehingga manusia menjadi tidak tenang. Ia kehilangan kedamaiannya.

“Kedua sifat ini saling mendukung, saling menunjang. Sehingga, perlawanan kita terhadap mereka mesti mantap – full force, dengan seluruh kekuatan. Tidak bisa loyo, tidak bisa perlahan-lahan, tidak bisa alon-alaon, tidak bisa adem-ayem, tidak bisa santai…………….

Kenalilah sifat keinginan yang selalu tidak pernah puas. Dilayani terus, ia pun menagih terus. Seperti apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, “Dunia ini memiliki sumber yang cukup bagi seluruh warga dunia, semua orang – tapi tidak cukup untuk melayani keserakahan seorang pun.”

Ketika keinginan tidak terpenuhi, maka muncul amarah. Dan, amarah, sebagaimana kita ketahui adalah energi. Energi yang super dahsyat. Ketika energi ini tidak dibendung, tidak diarahkan dan digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, maka hasilnya adalah bencana, kerusakan, kebinasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 3:37 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hiranyakasipu sudah menguasai tiga dunia, akan tetapi dia tidak pernah puas, dia ingin menaklukkan Narayana. Karena belum ketemu, maka dia akan memusnahkan semua orang pemuja Narayana dan kali ini dia sangat marah pada Prahlada, putra bungsunya yang menjadi pemuja Narayana.

Prahlada ditanya teman-teman belajarnya dari mana dia memahami tentang Narayana, sedangkan mereka mempunyai guru yang sama. Prahlada menyampaikan bahwa pada saat ibunya sedang hamil dirinya, ibunya tinggal di rumah Rishi Narada yang setiap hari mendendangkan lagu-lagu pujian terhadap Narayana. Sejak di dalam kandungan dan kemudian lahir dirinya sudah memahami tentang Narayana dan baru setelah ayahnya selesai bertapa, dia kembali tinggal di istana.

Para gurunya melaporkan pembicaraan anak-anak tersebut kepada Hiranyakasipu yang kemudian menjadikan dia sangat marah, “Panggil Prahlada sekarang, aku akan membunuhnya bila dia masih saja berlindung di kaki Narayana yang tidak pernah nampak oleh penglihatan kita semua!”

Prahlada mendatangi ayahnya dan menangkupkan kedua telapak tangannya dan kemudian mengambil debu dari kakinya. Hiranyakasipu tidak tersentuh oleh tindakan Prahlada dan berteriak, “Kamu anak bodoh, kamu adalah putra raja yang berkuasa atas tiga dunia, apa pun yang kamu minta kepadaku pasti kukabulkan, akan tetapi kau tidak berlindung padaku, tetapi berlindung pada Narayana yang tidak nampak batang hidungnya. Sekarang kamu menjadi ancaman bagi bangsa asura. Batas kesabaranku telah habis, kamu akan kukirim ke tempat Yama!”

Prahlada berkata dengan tenang, “Ayahanda pasti menganggap  aku adalah seorang putra yang tidak baik. tetapi sebenarnya aku akan menyelamatkan ayahanda. Narayana adalah Hyang Maha Kuat, jauh lebih agung dibandingkan Brahma. Dunia diciptakan, dipelihara dan didaur-ulang olehnya. Narayana bukan musuhmu, adalah pikiranmu sendiri yang menjadi musuhmu. Ayahanda menuruti, tunduk dan bahkan menjadi budak dari pikiran ayahanda sendiri. Buktinya ayahanda masih takut bahwa aku menjadi pengganggu dan ancaman kekuasaan ayahanda. Ada rasa takut dalam diri ayahanda, sedang dalam diriku tidak ada rasa takut, karena aku tidak berlindung pada pikiranku, aku berlindung pada Dia yang menciptakan pikiranku, yang selalu membimbingku lewat rasa nuraniku.”

Hiranyakasipu memuncak kemarahannya dan berteriak, “Bila Narayana itu ada tunjukkan dia di mana!” Dan pada saat Prahrada menjawab bahwa Narayana ada di mana-mana Hiranyakasipu berteriak apakah Narayana juga berada di dalam tiang yang kokoh yang menyangga ruangan itu dan dia langsung memukul tiang tersebut hingga roboh. Dan, dari dalam tiang muncul wujud yang mengerikan, bukan manusia dan bukan binatang, bukan makhluk ciptaan Brahma. Wujud setengah manusia dan setengah binatang, kepalanya berbentuk seekor singa yang mengerikan dengan tubuh manusia sangat besar dan perkasa, Narasimha Avatara.

Hiranyakasipu menyerang Narasimha tetapi dengan amat mudah dia dikalahkan dan diangkat olehnya dan dipangku di tengah pintu. Hiranyakasipu tidak ingat permintaan dia kepada Brahma sewaktu bertapa. Hiranyakasipu tidak sadar bahwa dia tidak di dalam rumah dan tidak di luar rumah, saat itu senja, tidak siang dan tidak malam, dia dipangku Narasimha tidak di bumi atau tidak dilangit. Saat cakar Narasimha merobek dadanya sekelebat dia ingat saat dia menjadi penjaga istana Sri Vishnu, dan kemudian dikutuk Rishi Sanaka cs untuk lahir ke dunia menjadi musuh Narayana. Tiba-tiba dia ingat semuanya dan merasa damai, “Satu episode telah kuselesaikan…..” dan ruhnya menghilang di kaki Narasimha.

 

Prahlada, bhakta yang yakin pada kebijakan Narayana

Pencerahan menuntut pengorbanan. “aku” yang kecil ini harus melebur, menyatu dengan “Aku” Semesta. Niat kita, hasrat kita, kesiapan diri kita merupakan modal utama. Apabila Anda siap terjun ke dalam api penyucian, Ia Yang Maha Esa akan mempersiapkan api itu bagi Anda.

Apabila Anda siap meleburkan ego Anda, Ia Yang Maha Kuasa pun siap untuk menerima Anda. Allah, Tuhan, Widhi menggunakan berbagai cara untuk menguji kesiapan diri Anda. Semesta ini bagaikan unversitas terbuka, dimana Anda sedang menjalani program, sedang mempelajari seni kehidupan.

Bukan hanya mereka yang menyenangkan hati Anda, tetapi juga mereka yang melukai jiwa Anda, yang mencaci Anda, yang memaki Anda, sebenarnya diutus oleh Kebenaran untuk menguji kesiapan diri Anda. Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar.

Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Prahlada “trust” pada Narayana. Narayana adalah pelindungnya. Demikianlah saat diinjak kawanan Gajah liar, digigit ular beracun dia tetap dilindungi Narayana. Bahkan di saat terakhir Narayana sendiri yang turun tangan, mewujud sebagai Narasimha membunuh Hiranyakasipu.

Wujud mengerikan dari Avatara Narasimha menakutkan para dewa dan para asura, bahkan bumi bergolak dan samudra dan gunung-gunung menggigil. Para dewa kemudian menemui Lakshmi agar datang menenangkan Narayana, akan tetapi dia tidak berani melakukannya.

Brahma kemudian meminta Prahlada untuk menenangkan-Nya, dia mengatakan bahwa Narayana mewujud untuk melindungi bhakta terkasihnya. Prahlada bersujud dan menangis di kaki Narasimha dan mencuci kaki Narasimha dengan air matanya dan dia merasakan ada tangan lembut yang mengelus punggungnya. Tiba-tiba Prahrada dapat menyaksikan wajah Narayana yang sesungguhnya. Ada rasa keharuan dan takjub dan ia semakin tidak dapat membendung air matanya, “Duh Gusti, hamba adalah asura yang paling berbahagia karena telah mendapatkan anugerah untuk melihat wajah Gusti. Hamba berterima kasih atas pertolongan Gusti dan juga memohonkan ampun kejahatan ayah hamba, karena ketidaktahuannya tentang keagungan Gusti.

Narayana menjawab, “Semoga demikian. Sebab kamu telah dilahirkan dalam keluarga Hiranya, ayahmu dan dua puluh satu wujud yang berasal dari nenek moyangnya telah dibersihkan. Ia telah mencapai tempat pitri, leluhurmu. Adakan upacara untuknya. Dan ketahuilah semua keturunanmu akan mengasihi diri-Ku.”

Prahlada: Kombinasi Ayah Buas dan Ibu Saleh, Menjadi Pengabdi Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on April 28, 2017 by triwidodo

Pendidikan yang tepat bagi putra Hiranyakasipu

Sesungguhnya “benih” jiwa adalah murni, suci, dan memuat “programming” dasar yang sama. Kemungkinan yang sama. Potensi yang sama. Analogi ini mesti dipahami secara cerdas. Ayat ini sama sekali tidak berpretensi bahwa benih “seorang ayah” selalu baik. Dan jika seorang anak lahir menjadi Kaurava, maka seluruh kesalahannya adalah di pihak ibu yang melahirkan. Tidak, tidak demikian.

Ayat ini menjelaskan sesuatu yang sangat ilmiah — bahwasanya seluruh programming dasar ada di dalam benih seorang ayah — ini tidak dapat diubah. Ketika benih itu membuahi indung telur seorang ibu, maka hasilnya adalah “programming dasar” ayah plus energi ibu. Kromosom X dari ibu mengandung energi penggerak; dan kromosom Y dari ayah mengandung berbagai informasi. BG 14:4

Demikian, setiap anak yang lahir mewarisi Sifat, Informasi, dan Potensi yang terdapat dalam benih. Tidak pula berarti benih seorang pembunuh “sudah pasti” melahirkan seorang pembunuh. Tidak. Jangan lupa, anak yang lahir tidak hanya rnewarisi salah satu sifat dari benih ayahnya –misalnya, kecenderungan untuk membunuh. Ia juga mewarisi segala informasi yang lain. Ia pun mewarisi potensi-potensi yang tidak terbatas. Sebab itu pendidikan yang tepat dan baik dapat menggali dan memunculkan potensi terbaik. Penjelasan Bhagavad Gita 14:4 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Hiranyakasipu mempunyai empat orang putra. Dikisahkan bahwa Kayadhu, istri Hiranyakasipu adalah istri yang saleh. Dia memahami karakter yang tidak baik dari suaminya. Akan tetapi Kayadhu menganggap bahwa hal itu terjadi  karena potensi kebaikan Hiranyakasipu di-“off”-kan tertutup dendam dan keserakahan. Kayadhu berdoa agar dalam diri putra keempatnya potensi kebaikan dari ayahnya yang “on”. Oleh karena itu dia betul-betul menjaga kesalehan ketika dia mulai hamil anak keempat. Kayadhu hanya makan makanan baik, hanya melakukan tindakan yang baik, dan selalu berdoa dan memberi persembahan yang baik. Kayadhu punya kemauan yang keras. Dia punya pengetahuan berasal dari intelijensia bahwa bayi dalam kandungan akan terpengaruh tindakan ibunya. Bukan hanya jenis makanan yang dikonsumsi ibunya, akan tetapi pikiran, ucapan, dan tindakan ibunya akan menjadi pelajaran awal yang akan mewarnai  bayi yang dikandungnya.

Dikisahkan bahwa sewaktu Hiranyakasipu bertapa, Indra datang ke kerajaan para Asura dan membunuh banyak anak-anak asura. Lebih baik dibunuh selagi anak-anak sebelum dewasa dan berbuat kejahatan, mengacaukan dunia. Melihat Kayadhu hamil, maka dia disandera Indra di kediaman para dewa. Indra bermaksud menunggui kelahiran putra Hiranyakasipu, kemudian anaknya akan dibunuh dan ibunya akan dikembalikan ke kerajaan asura setelah melahirkan putra tersebut.

Kayadhu begitu yakin pada kebijaksanaan Gusti Pangeran. Dan, datanglah Rishi Narada menjelaskan kepada Indra bahwa calon putra Kayadhu adalah wujud Ilahi yang akan menyelesaikan urusan ayahnya. Indra patuh pada sang rishi, dan Kayadhu diminta tinggal di tempat Narada sampai Hiranyakasipu selesai bertapa. Setiap hari Kayadhu yang lagi hamil selalu mendengarkan nyanyian Ilahi yang didendangkan Rishi Narada dengan alat musik vina-nya. Jadi sejak dalam kandungan sang janin telah mendengarkan nyanyian pujian ilahi yang dilakukan Rishi Narada.

Kedekatan dengan seorang Master, dan keterbukaan diri seorang ibu yang hamil, membuka pintu rahmat. Dan, lahirlah Prahlada yang sudah bijak sejak masih dalam kandungan. “Blessing in disguise”, penyanderaan Indra justru membawa berkah. Di awal-awal kelahiran Prahrada pada saat otaknya berkembang sangat pesat, pengaruh seorang Master seperti Rishi Narada adalah sangat besar.

 

Prahlada tidak sepaham dengan pendirian Hiranyakasipu, ayahandanya

SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA. Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”. Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”.

Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda.

Umumnya Daiva atau Sura dikaitkan dengan kemuliaan, dan Daitya atau Asura dengan ketidakmuliaan. Dari perspektif kita, dari sudut pandang kita memang demikian. Maka, kita diharapkan mengenal kedua-duanya, sehingga dapat memilah dan memilih apa yang menunjang Jiwa. Yakni, karakter atau kecenderungan Daiva atau Sura.

Namun, bagi Gusti Pangeran, dari perspektif Tuhan — kedua karakter atau kecenderungan sifat itu sama pentingnya. Tanpa sifat Daitya atau Asura, tanpa adanya Jiwa-Jiwa yang dalam ketidaktahuannya, mengikat diri dengan dunia benda, Teater Tuhan akan tutup. Keterikatan itulah yang membuat dunia kita ramai dan bising. Tanpa keterikatan, panggung sandiwara sudah pasti  kosong. Pengantar Bhagavad gita Bagian 16 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sejak kecil Prahlada putra Hiranyakasipu sudah bersifat Daivi, karena pengaruh ibu yang baik dan hasil pendidikan Rishi Narada di lingkungan para dewa. Sebaliknya, Hiranyakasipu, sang ayah sifat Asura atau Daitya yang agresif dan serakah nampak begitu jelasnya.

Seorang maharaja penguasa Tiga Dunia yang ditakuti seluruh makhluk menghadapi anak kandung bungsunya yang pemahamannya berlawanan dengan dirinya. Kalau orang lain bisa langsung dibunuhnya, akan tetapi ini adalah putra bungsunya, dengan galau sang maharaja tetap berupaya mengubah pendirian sang putra lewat guru bagi sang putra. Guru Prahlada, Chanda dan Amarka adalah putra-putra Rishi Sukracharya.

Pada suatu hari Prahlada kecil berkata kepada sang ayah, “Ayahanda, aku sudah melihat semua orang terjerat jaring duka-cita, karena khayalan tentang adanya ‘aku’ dan ‘milikku’. Apakah kita dapat memiliki angin? Apakah kita dapat menyimpan sinar matahari? Apakah kita dapat mengurung sinar bulan di dalam kamar kita? Kita dapat menahan udara segar dan angin sepoi-sepoi . Kita dapat berjemur di bawah sinar matahari atau menikmati cahaya purnama, tetapi tidak sekali-kali bisa memiliki, apalagi memonopoli mereka. Aku akan meninggalkan semuanya sehingga aku bisa menemui Dia, asal dan tujuan hidup dari semua makhluk. Beban keterikatan pada dunia inilah yang menghalangiku untuk menemui-Nya.” Kata-kata Prahlada menyinggung perasaan Hiranyakasipu yang ingin memiliki dan memonopoli segalanya. Hiranyakasipu sangat marah dan kemudian meminta guru Prahlada mengajarnya dengan lebih keras. Prahlada diajar ilmu pengetahuan asura dan apabila salah akan dipukul oleh gurunya.

Beberapa bulan kemudian, Prahlada berkata pada sang ayah, “Ayah aku telah memahami sembilan jenis pengabdian: Shravanam (mendengarkan), Smaranam (mengingat berulang-ulang), Kirtanam (menyanyi lagu pujian), Archanam (ibadah), Vandanam (menghormati), Padasevanam (melayani semua ciptaannya), Dasyam (patuh dan melayani), Sakhya (persahabatan) dan Atmanivedanam (menyerahkan tubuh, pikiran dan segala sesuatu).”

Hiranyakasipu sangat bangga dan berkata, “Sempurna anakku, bila kau melakukan salah satu saja hal tersebut untuk melayani aku, maka kau sudah memuaskan aku.”

Prahlada berkata, “Tetapi ayah, ini adalah cara untuk memuja Narayana yang meliputi diri kita semua.” Hiranyakshipu menjadi marah. Hiranyakahsipu hanya mengasihi putranya kalau sang putra patuh kepadanya.

Para guru Prahlada menyampaikan bahwa mereka tidak memberi pelajaran kepada Prahlada hal demikian, tetapi dia hanya mengikuti pikirannya sendiri, sehingga mereka kewalahan. Hiranyakasipu melakukan tindakan kekerasan dengan memukulkan gagang lembingnya berkali-kali kepada Prahlada, tetapi dia tidak terluka.

Kagum juga sang ayah atas kesaktian Prahlada, maka Prahlada disuruh berbaring dan diinjak-injak kawanan gajah liar. Ternyata Prahlada tidak mati. Dan, kemudian Prahlada dimasukkan lubang berisi ular-ular berbisa. Ternyata Prahlada tidak terpengaruh oleh gigitan ular. Sampai Hiranyaksipu putus asa sekaligus berbangga hati atas kesaktian sang putra. Alangkah bahagianya bila sang putra patuh terhadapnya dan melawan Narayana, musuh besarnya.

Guru Prahlada kemudian berjanji sekali lagi pada sang raja untuk mengajar Prahlada bersama anak-anak asura yang lain semoga Prahlada bisa berubah setelah belajar bersama teman-teman sebayanya.

Pada suatu saat, kedua guru Prahlada sedang pergi dan Prahlada mengajak teman-temannya menyanyikan lagu pujian terhadap Narayana.

Silakan simak kelanjutan kisah berikutnya pada kategori Bhagavatam