Archive for the Kisah Sufi Category

Doa Nabi Sulaiman Kisah #Masnnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , on May 20, 2017 by triwidodo

Salju dan hujan es tidak membahayakan tanaman anggur yang siap panen, tetapi sangat membahayakan buah yang belum matang.

 

Banyak murid yang belum siap, belum matang, tetapi ingin cepat-cepat tampil sebagai murshid. Rumi memberi peringatan keras.

Dunia ini ibarat kolam yang kotor, penuh dengan lumpur. Para wali, para suci, para murshid bagaikan bunga teratai yang “hidup” di tengah lumpur, tetapi tidak tercemar olehnya.

Muhammad memiliki peran ganda, sebagai Pimpinan Umat dan Pimpinan Negara. Dan beliau bisa menjaga keseimbangan diri. Banyak orang yang ingin meniru Beliau, ingin memimpin umat, sekaligus memimpin negara. Mampukah mereka? Bagaimana dengan kesadaran mereka? Apakah mereka sesadar Nabi Muhammad? jika tidak, jangan berpura-para meniru Nabi!

Rumi memberikan contoh Nabi Sulaiman:

Sulaiman sering berdoa, ”Ya Allah, jangan sampai ada orang lain yang memiliki kekuasaan serta kerajaan seperti yang saya miliki.”

Sepertinya, Sulaiman sangat egois. Dia merasa iri, kalau ada yang menandingi clia. Sesungguhnya tidak demikian.

Sulaiman saclar bahwa tahta dan kuasa sangat berbahaya, bahwa rasa angkuh yang muncul oleh karenanya bisa mempengaruhi imannya, keagamaannya. Sekuat-kuatnya iman dan keagamaannya, kadang-kadang masih saja terhanyutkan dalam arus keduniawian. Setiap kali sadar kembali, dia merasa malu. Dia menyesali keterikatannya pada dunia.

Doa Sulaiman tidak muncul dari hati yang picik, yang penuh dengan rasa iri, tetapi dari jiwa yang besar, yang penuh dengan welas kasih. Permohonannya kepada Allah muncul dari kepeduliannya terhadap orang lain, “Jangan sampai ada yang merosot kesadarannya, iman serta keagamaannya, hanya karena tahta dan kuasa. Ya, Allah, janganlah memberikan kekuasaan serta kerajaan seperti ini kepada orang yang belum sadar. Setidaknya dia harus sesadar saya, sehingga kalaupun kesadarannya merosot, kalaupun  kakinya terpeleset karena keterikatan pada dunia ini, dia akan segera bangkit kembali. Sadar kembali dan merasa malu.” Demikian makna terselubung di balik doa Nabi Sulaiman.

Demikianlah orang yang sadar. Walaupun menjadi raja dan memperoleh kekuasaan, dia tetap sadar. Lain halnya dengan mereka yang tidak sadar. Kerajaan dan kekuasaan bisa membuat mereka sombong, angkuh, arogan.

Banyak orang sadar yang begitu naik tahta, begitu berkuasa, jadi hilang kesadarannya. Banyak murid unggulan yang terpeleset, jatuh dan tidak sadar akan kejatuhannya, hanya karena cepat-cepat ingin menjadi murshid. Anda tidak bisa “mengangkat” diri menjadi murshid. Tidak ada lembaga atau institusi yang bisa mengukuhkan ke-“murshid’-an anda. Yang mengangkat anda adalah Keberadaan. Dan Keberadaan pula yang akan mempertemukan para murid dengan anda. Sadarilah hal ini, dan anda tidak akan terpeleset. Anda tidak akan menjadi angkuh, arogan, sombong. Anda tahu persis bahwa peran yang sedang anda mainkan adalah pemberian Sang Sutradara. Dialah yang menentukan segala-galanya.

Panggung Sandiwara ini adalah milik Dia. Yang menulis cerita dan skenario adalah Dia. Yang memilih para pemain adalah Dia. Pertunjukan ini adalah pertunjukan Dia. Saya dan anda diberi kesempatan untuk tampil—bukan karena kita hebat. Banyak pemain lain yang lebih hebat, tetapi Dia memilih kita! Ucapkan Syukur Alhamdulillah, Puji Tuhan, Shukraan, Dhanyavaad—Halleluyah!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Zayd dan Matahari Pencerahan #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 16, 2017 by triwidodo

“Bagaimana kabarmu pagi ini, Sahabatku?” tanya Nabi kepada Zayd.

“Pagi ini aku melayani Allah,” jawab Zayd.

“Berarti kamu telah mengunjungi ‘Taman Iman’. Adakah sesuatu yang ikut berbunga dalam dirimu?”

Zayd menjawab, “Sepanjang hari aku mengenangnya. Tiba malam, dan aku merana, merintih, mengingat Dia. Maka, aku melampaui dua-duanya. Ternyata, malam memang tidak berbeda dari pagi. Yang berjalan tidak berbeda dari yang duduk. Waktu ribuan tahun sama seperti satu jam.”

Nabi menanggapinya, ”Apakah kamu membawa ’Cinderamata Ketulusan Hati’ dari perjalananmu?”

Di sini kita membedakan hitam dari putih. Di sana, semuanya sama. Sebaliknya, apa yang terlihat sama di sini, di sana tampak berbeda. Terungkapkan sudah rahasia kiamat dan pembangkitan. Haruskah aku menjelaskan semuanya?” demikian kata Zayd.

Nabi Muhammad memberi isyarat dengan matanya, seolah-olah mengatakan, ”Cukup sudah.”

 

Zayd baru saja mengalamai sesuatu yang indah, tetapi sangat alami. Dia bingung, jika pengalaman itu begitu indah, alami dan mudah diperoleh, kenapa tidak semua orang mengalaminya…….

 

“Kenapa tidak semua orang melihat Matahari Kebenaran?” tanya Zayd.

“Karena mata mereka tertutup oleh jari mereka sendiri. Begitu melepaskan jari, Matahari yang terang benderang akan terlihat jelas,” jawab Nabi.

 

Tidak perlu sepuluh jari. Dua jari sudah cukup untuk menutup mata kita, untuk membuat kita tidak melihat Matahari Kebenaran.

Jari-jari tangan yang berjumlah sepuluh dan dapat membutakan kita itu digerakkan oleh naluri hewani, bekerjasama dengan panca indera.

Lima jari pertama adalah: hawa nafasu, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan. Lima jari kedua adalah: indera pendengaran, penglihatan, perabaan, penciuman dan pencecap. Jika kita kurang waspada, sudah pasti akan kecolongan. Kolusi antara mereka merosotkan kesadaran manusia.

Nabi Muhammad menjelaskan lebih lanjut, “Aku pun manusia biasa. Seperti kamu, aku pun pernah hidup dalam kegelapan. Lalu, terbitlah Matahari Pencerahan. Cahayaku ini berasal dari Matahari Pencerahan itu. Aku tidak secerah Matahari, sehingga tidak menyilaukan. Dan bisa ditatap oleh siapa saja.”

 

Para nabi, para avatar, para mesias dan para buddha sesungguhnya secerah “Matahari Tuhan”, Allah, Widhi, Tao—apa pun sebutan yang anda berikan kepada-Nya. Sengaja mereka “menurunkan” pencerahan mereka, agar tidak terlalu menyilaukan, sehingga kita dapat menatapi mereka.

Mereka adalah ayat-ayat Allah di atas muka bumi. Mereka adalah bukti nyata Kehadiran-Nya. Jika anda tidak bisa melihat-Nya, mata anda yang sakit. Mata anda berdebu. Atau mungkin anda belum membuka mata. Mata anda masih tertutup rapat.

Jika anda masih saja melihat perbedaan antara ajaran Muhammad, Isa, Buddha, Krishna dan Lao Tze, maka sesungguhnya perbedaan itu memang mereka “rekayasa” sendiri. Muhammad tahu persis, jika dia lebih ”silau”, orang-orang Arab pada jaman itu tidak akan bisa menatapi wajahnya. Muhammad harus turun sedikit, untuk bisa berdialog dengan mereka. Seperti seorang profesor doktor harus “menurunkan” bahasanya untuk bisa herdialog dengan cucunya sendiri yang masih duduk di bangku TK.

Demikian pula dengan Isa, Krishna dan ……. ..Mereka harus “turun”. Seberapa turunnya, tergantung pada pendengar mereka pada jaman itu.

Jangan membedakan Muhammad dari Buddha, Lao Tze dari Krishna, Isa dari Zarathustra. Pencerahan mereka sama. Jika bahasa mereka berbeda, hal itu lumrah. Jika penyampaian mereka berbeda, sangat masuk akal, karena pendengar mereka berbeda.

Lain dulu, lain sekarang. Sekarang anda dan saya, kita semua sudah berevolusi panjang. Sudah ribuan tahun berlalu. Ajaran mereka harus didefinisikan kembali. Harus ada penafsiran ulang. Jika anda tidak melakukannya, anak-cucu anda akan melakukannya. Dan mereka akan menertawakan kebodohan anda. Anda tidak bisa menunda lama upaya penafsiran ulang. Kemajuan di bidang Sains dan Teknologi, perkembangan jaman dan peningkatan kesadaran manusia menuutut pemahaman baru. Jika anda tidak memenuhi tuntutan mereka, orang lain akan memenuhinya. Mau apa—terserah anda!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Iblis Memperbandingkan Diri #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 13, 2017 by triwidodo

MakhIuk pertama yang melakukan perbandingan adalah Iblis, “Aku diciptakan dari api. Sementara Adam diciptakan dari tanah. Sudah jelas, api Iebih unggul daripada tanah. Api mewakili Cahaya. Tanah mewakili Kegelapan. Dari sudut pandang mana pun, aku melebihi dia.”

 

Tuhan menanggapinya, “Tidak demikian. Keunggulan berasal dari Pengendalian Diri dan Kebajikan. Dan, Pengendalian Diri serta Kebajikan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun juga.”

 

Indah sekali!

Yang bisa dibandingkan adalah sesuatu yang bisa diukur, bisa ditimbang, bisa dinilai. Baik Api, maupun Tanah bisa diukur. Ada api besar, ada api kecil. Ada tanah banyak, ada tanah sedikit. Tetapi, Pengendalian Diri dan Kebajikan tidak bisa diukur.

Pernyataan seperti, “Pengendalian diri dia ‘kurang’” atau “Pengendalian diri saya ’lebih”’ bisa dianggap benar dari segi tata bahasa. Tetapi dari segi penerapannya dalam hidup tidak bisa dibenarkan. Karena, kekurangan se-“sedikit” apa pun bisa mencelakakan. Kurang sedikit atau kurang banyak, bahayanya sama. Setetes atau segelas air jeruk nipis merusak susu. Dan, kerusakannya sama.

Begitu pula dengan Kebajikan—tak dapat diukur. Kita tidak bisa berbaik hati “sedikit”. Meskipun berbaik hati terhadap kelompoknya,  jika seseorang mencelakakan kelompok-kelompok lain, dia belum “baik”.

Rumi sedang menegur kita:

(Pengendalian Diri dan Kebajikan) bukanlah warisan duniawi yang bisa dinilai, diukur dan dibandingkan. Warisan ini adalah warisan rohani — tak dapat dinilai, diukur dan dibandingkan.

 

Diciptakan dari Api atau dari Tanah, so what? Memang kenapa? Bukankah api dan tanah pun ciptaan Allah? Teguran Rumi semakin keras……..

 

Abu Jahl tidak beriman, tetapi putranya beriman. Nuh seorang Nabi, tetapi putranya tersesat. Adam diciptakan dari tanah, dan wajahnya bercahaya. Engkau diciptakan dari api, dan wajahmu hangus terbakar.” Demikian Allah bersabda.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Berdoa Beramal Saleh seperti Cara Si Tuli dalam #Kisah #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 8, 2017 by triwidodo

Sebelum menjenguk tetangganya yang  sedang sakit, seorang tuli berpikir dalam hati: “Jika aku bertanya, ‘Sahabatku, bagaimana keadaanmu?’—dia pasti menjawab, Sudah baikan sedikit.’

“Lalu aku akan menanggapinya, ‘Alhamdulillah, Puji Tuhan! Obat apa yang kau minum?’

“Dan dia akan memberitahu nama obat itu. Kemudian, aku akan mengatakan, ‘Obat yang baik sekali. Apakah ada seorang tabib yang merawatmu?’

“Jawaban dia pasti, ’Ya, Si Fulan yang merawat aku.’

“Dan aku akan berbasa-basi, ‘Ah, dia seorang tabib yang baik sekali. Kesehatanmu akan segera pulih kembali.’”

 

Anda dan saya tidak lebih baik dari Si Tuli dalam cerita ini. Sebelum mengajukan pertanyaan, kita sudah memikirkan jawabannya terlebih dahulu. Kemudian, jika jawaban yang kita terima tidak sesuai dengan harapan kita—maka terjadilah kekacauan:

 

Dengan penuh percaya diri, Si Tuli mendatangi tetangganya yang sakit, “Sahabatku, bagaimana keadaanmu?”

Jawaban yang dia peroleh tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya, “Aduh, aku sekarat, nih.”

Si Tuli menanggapinya, “Alhamdulillah, Puji Tuhan! Obat apa yang kau minum?”

Karena kesal dan marah, tetangga yang sudah sekarat itu, menjawab Si Tuli, “Obat? Obat apaan! Racun!”

Si Tuli tidak mendengarkan jawaban temannya, dan menyahutnya dengan tanggapan yang telah ia siapkan sebelumnya, “Ah, obat yang baik sckali. Apakah ada seorang tabib yang merawatmu?”

Sang Tetangga lebih kesal lagi, “Azraeel! Malaikat Maut yang merawatku!”

“Pantas! Dia memang baik sekali. Dalam waktu dekat, semuanya akan beres!” kata Si Tuli.

Tetangga yang sakit sudah tidak tahan lagi dan mengusirnya clari rurnah, “Aku tidak tahu bahwa selama ini kamu memusuhi aku. Kamu mengharapkan aku mati.”

Sesungguhnya Si Tuli ingin berbuat baik. Ingin bersahabat dengan tetangga yang jarang ia temui, tetapi karena ketuliannya, ia malah menambah seorang musuh.

Banyak orang yang bertlndak seperti Si Tuli. Mereka berdoa, beramal-saleh, tetapi dengan harapan akan imbalan. Dcngan harapan akan pujian. Bahkan, sebelum berbuat sesuatu sudah mengharapkan imbalannya.

Kepada orang-orang seperti itulah Nabi Muhammad memberikan peringatan, “Dirikan Shalat, karena selama ini cara kalian berdoa tidak benar.”

Di sini, Rumi menyentuh inti ajaran Nabi Muhammad. Inti yang terlupakan oleh orang Arab, oleh Anda dan oleh saya — oleh kita semua. “Mendirikan” Shalat berarti  “meningkatkan” kesadaran diri. “Menundukkan kepala dan bersijud berarti “merendahkan” ego.

Yang sedang mengejar nama dan pujian, yang sedang mencari imbalan, ganjaran dan pahala adalah ego Anda. Pemah saya mengikuti mimbar agama di salah satu stasiun teve, dan tidak bisa menahan tawa. Seorang “tokoh” agama menguraikan “fasilitas-fasilitas” yang kita terima dari Allah. Rejeki, hidup, ini dan itu. Lalu ia bertanya, “Masa kita tidak akan mengucapkan terima kasih kepada si pemberi fasilitas?”

Ucapan terima kasih untuk segala fasilitas yang kita dapatkan—demikianlah isi doa kita. Demikianlah isi doa orang-orang Arab sebelum Nabi Muhammad. Lalu apa bedanya?

Rumi menegaskan:

 

Oleh karena itu, Nabi mengingatkan, “Mohonlah tuntunan-Nya, bimbingan-Nya!” Jangan-jangan caramu berdoa sama seperti cara para musyrik dan para munafik.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kisah JuruTulis dan Kepedulian Nabi #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 4, 2017 by triwidodo

Setiap kali mendapatkan wahyu, Nabi menyampaikannya kepada seorang juru tulis yang segera mencatatnya. Demikian, cahaya wahyu yang diterima oleh Nabi ikut menerangi jiwa Si Juru Tulis.

Lama-lama, Juru Tulis itu menjadi sombong, “Kebenaran yang disampaikan oleh Nabi ada juga di dalam diriku.” Dia pikir dirinya sudah hebat. Dia meninggalkan Nabi dan malah memusuhinya.

Nabi menegur dia, “Jika Kebenaran yang sama ada di dalam dirimu, kenapa engkau berperilaku demikian?”

 

Renungkan teguran Sang Nabi. Teguran itu indah dan bermakna, yang muncul karena kepedulian Nabi terhadap Si Juru Tulis.Teguran seorang Murshid kepada Muridnya.

Jika Kebenaran yang sama ada di dalam diri Murshid dan Murid, maka selesai sudah segala persoalan. Sang Murshid dan Si Murid menyatu dengan Kebenaran yang juga Satu Ada-Nya.

Jangan bimbang, jangan ragu-ragu, Kebenaran yang sama memang ada di dalam diri setiap orang. Yang sadar, tidak pernah sombong. Yang tidak sadar, selalu sombong.

Juru Tulis dalam kisah ini baru “tahu”, belum sadar! “Pengetahuan” tentang Kebenaran membuat dia menjadi sombong. Dia pikir, dirinya sudah sadar. Mengetahui Kebenaran dan menyadari Kebenaran adalah dua ha! yang berbeda. Anda tahu bahwa rokok atau narkoti atau apa saja yang menciptakan “ketergantungan” tidak baik bagi kesehatan. Hasilnya apa? Anda masih tetap saja tergantung. Sebaliknya, dia yang sadar akan langsung melepaskan diri dari ketergantungan.

Nabi “menyadari” Kebenaran. Juru Tulis “mengetahui” Kebenaran. Yang membedakan Nabi dari Juru Tulis hanya itu saja.

 

Berapa lama kemudian, Si JuruTulis menyadari kesalahannya. Tetapi, sudah terlarnbat. Dia sudah terlanjur jauh dari Nabi.

Banyak orang yang menyadari kesalahan mereka, dan ingin kembali ke jalan yang lurus. Ingin kembali ke Islam. Ingin berserah diri kembali, tetapi sudah tidak bisa lagi, karena ego mereka sendiri. Mereka berpikir, “Apa kata orang, apa kata masyarakat jika aku kembali…..?”

Janganlah berpikir demikian. Mohonlah pengarnpunan Allah, karena Dia Maha Pengampun Ada-Nya!

Yang memisahkan Anda dari seorang Nabi adalah ego anda, keangkuhan anda, kesombongan anda. Baru sebentar jalan bersama, Anda pikir Anda sudah sampai. Karena “dia” sedang jalan bersama Anda, Anda pikir dia pun sama seperti Anda. Anda tidak sadar bahwa “dia” sadah sampai di tujuan. Dia sudah tidak perlu mengulangi perjalanan yang sama. Dia melakukan hal itu karena kepeduliannya terhadap Anda. Karena belas-kasihnya terhadap Anda. Untuk itu, jangan lupa mengucapkan terima kasih kepadanya.

Rumi melanjutkan:

 

Cahaya yang menerangi dirimu, berasal dari tetanggamu yang bcrcahaya. Jangan angkuh, jangan sombong. Berterimakasihlah kepadanya.

Berjalanlah terus. Jangan berhenti di setiap tmpat persinggahan. Kalaupun berhenti, jangan lama-lama. Lanjutkan perjalananmu.

Yang paling penting, jangan angkuh. Jangan menyombongkan diri seperti Bal’am, putra Ba’ur. Seperti Nabi Isa, seperti Yesus, dia pun bisa menyembuhkan orang. Tetapi, dia menjadi sombong, dan akhirnya jatuh juga.

Untuk ltu (sebelum engkau jatuh) bunuhlah “kebinatangan” dalam dirimu Bahkan, bunuh juga “kemanusiaan” dalam dirimu, sehingga engkau dapat mencapai Kesadaran Ilahi.

 

Kesadaran hewani berasal dari alam bawah sadar. Yang dia kenal hanyalah konsep “take-take”—terima, terima. Kalau perlu — rampas, rampas. Jarah, jarah.

Kesadaran insani lebih tinggi sedikit – kesadaran jaga kita sehari-hari. Kendati tidak selalu dipraktekkan, tetapi kita sudah mulai kenal konsep “take and give”—konsep timbal-balik. Memberi dan menerima. Menerima dan memberi.

Rumi mengatakan bahwa untuk mencapai “Kesadaran Ilahi”, konsep “take and give” pun harus ditinggalkan. Belajarlah untuk memberi dan memberi dan memberi. Jangan mengharapkan imbalan. Just give and give and give! Nabi Isa bisa melakukan hal itu. Nabi Muhammad pun bisa. Setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar dan setiap buddha melakukan hal yang sama. Anda pun bisa! Sadarilah hal ini, bulatkan tekad Anda, dan lihat apa yang akan terjadi……. ..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Bercermin pada Nabi Nuh #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on April 30, 2017 by triwidodo

Dikisahkan bahwa Nabi Nuh memperoleh Perintah Allah untuk mengingatkan  umatnya, supaya kembalz pada jalan yang lurus. Mereka tidak mempercayainya. Malah  menertawakan dia. Padahal, Nabi Nuh sudah memberikan peringatan keras:

 

“Ketahuilah bahwa ‘aku’ sudah mati. Sekarang, Yang ada hanyalah Dia. Yang bernapas lewat aku adalah Dia.”

Nuh bagaikan singa dalam wujud rubah. Ketika dia rneraung, suaranya terdengar jelas.

“Janganlah ragu-ragu. Jangan menyangsikan kebenaran kata-kata yang kuucapkan, karena ucapanku berasal dari Dia yang berada di balik ‘kerudung badan’.”

 

Setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar, setiap buddha adalah singa berbadan rubah. Kita semua mendengarkan suara raungnya. Tetapi tertipu oleh apa yang terlihat dengan kasat mata, “Ah masa…. No, no, no, no—dia bukan singa. Dia hanyalah seekor rubah.”

Kita bisa merasakan Kehadiran Allah di balik bangunan yang terbuat dari batu, tetapi tidak bisa merasakan-Nya di balik badan yang terbuat dari darah dan daging. Aneh! Diajak bicara sedikit, kita langsung berang, “Itu kan sama seperti menduakan AIlah!”

Edan, siapa yang bisa menduakan Allah? Jika mata anda sakit dan segala sesuatu terlihat dua, ya salah anda sendiri. Jangan menyalahkan orang lain. Allah tidak bisa diduakan.

Yang dua, yang lain—sesungguhnya tidak ada. Yang Ada hanyalah Dia! Kekuatan dan kekuasaan di balik peringatan Nuh—juga berasal dari Dia. Dia, Dia, Dia…!

Sayang, tidak ada yang mengindahkan peringatannya. Nasib para Nuh selalu sama. Setiap Nuh yang masih “hidup” akan kita sia-siakan. Dan setiap Nuh yang sudah “mati” akan kita sanjung.

Rumi mengatakan bahwa yang bisa melihat keilahian di balik “kerudung badan” para Nuh hanyalah mereka yang berjiwa bersih …….

Sebersih cermin—tanpa cacat, tanpa noda, tanpa bayangan, sehingga “Ia Yang Tak Terlihat” dapat terbayangkan!

Para Sufi, para Darvish memiliki jiwa sebersih itu. Oleh karenanya, para Sultan jaman dahulu menemparkan mereka di baris pertama.

Bukan para prajurit dan petinggi negara, bukan pula para hakim dan penasihat — tetapi para Sufi yang berada di baris pertama. Lewat merekalah, para Sultan bercermin diri.

 

Cermin jiwa mereka bersih, tanpanoda. Mereka tidak pernah berbohong. Para prajurit dan petinggi negara bisa berbohong. Para hakim dan penasihat bisa bersikap ABS—Asal Bapak Senang. Para Sufi tidak bisa. Jika anda melihat kejelekan dalam diri seorang Sufi, ketahuilah bahwa kejelekan itu berasal dari dalam diri anda sendiri. Anda sedang bercermin diri. Dan yang terbayang hanyalah noda-noda pada wajah Anda.

Anda tidak bisa “menerima” nasihat seorang Nuh—kenapa? Karena, sesungguhnya Anda tidak bisa “menerima” diri sendiri. Anda tidak “mempercayai” seorang Nabi – kenapa? Karena, sesungguhnya anda belum cukup “percaya” diri.

Nabi Nuh tidak berada di luar diri, tetapi dalam diri Anda sendiri. Peringatan yang Anda peroleh bukan dari luar, tetapi dari dalam. Anda tidak melihat Nabi Nuh yang ada dalam diri. Anda tidak mendengarkan peringatannya. Kenapa? Karena, Anda menempatkan para prajnrit, petinggi negara, hakim dan penasihat di depan. Nabi Nuh Anda dudukkan di samping, atau bahkan di belakang.

Anda sedang bercermin diri lewat “prajurit kekuasaan”. Anda sedang bercermin diri lewat “petinggi keangkuhan”. Lewat “hakim dualitas” dan lewat  “penasihat pikiran”. “Aku berkuasa, aku hebat. Aku tidak pernah salah…”—begitu sibuknya anda dengan pikiran, sehingga peringatan Nuh tidak pernah terdengar.

Seorang Sultan akan menempatkan Nuh di baris paling depan. Dan seorang Sultan berarti seorang Svami, seorang Master, seorang “Lord”—ia yang telah menguasai panca inderanya dan telah melampaui  pikirannya.

Nabi Nuh dalam kisah ini, mewakili Kesadaran Tinggi dalam diri Anda. Setelah menguasai panca indera dan telah melampaui pikiran, Kesadaran Tinggi itulah yang menjadi penuntun Anda.

Rumi melanjutkan uraiannya dengan memberikan contoh Nabi Yusuf:

 

Seorang sahabat lama mendatangi beliau dan menghadiahkan sebuah cermin, “Engkau tidak membutuhkan sesuatu. Lalu, hadiah apa yang harus kupersembahkan, kecuali cermin yang kecil ini, sehingga kau dapat bercermin diri dan dapat melihat Cahaya yang menyinari dirimu?”

 

Bersahabatlah dengan para Sufi. Dengan mereka yang berjiwa bersih, karena hanya lewat merekalah Anda bisa bercermin diri!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Duta Besar Kerajaan Tuhan Penghubung Negeri-Nya dengan Negeri Kita #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , , on April 21, 2017 by triwidodo

Dia yang mengetahui “Jalan” disebut Pir atau Pemandu. Jika kamu bertemu dengan seorang Pir, ikutilah dia tanpa keraguan, karena dia “tahu”!

Awam bagaikan kegelapan malam. Pir adalah Bulan yang meneranginya. Pir juga berarti “Tua”. Seorang Pir menjadi “Tua” karena Kebenaran, bukan karena Waktu.

Saya memberikan julukan Pir kepada Husamuddin, “keberuntungan”-ku yang masih muda, karena, walaupun tampak muda, sesungguhnya dia tua……….

 

Husamuddin adalah seorang murid yang relatif baru—baru bergabung dengan Rumi. Tetapi, Rumi tidak menilainya berdasarkan “waktu”. Rumi menilainya berdasarkan “kebenaran” —”kesadaran”.

Karena itu pula, Rumi menyebutnya “keberuntunganku”. Seorang murshid bagaikan pedagang yang membuka usaha dengan tujuan jelas: mencari keuntungan. Tetapi keuntungan yang dicarinya bukanlah keuntungan materi. Keuntungan seorang murshid adalah jumlah orang yang meningkat kesadarannya. Berapa orang yang setidaknya menjadi sesadar dia. Makin besar untungnya, jika di antara mereka ada yang menjadi “lebih” sadar dari dia.

 

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kcbenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu.

Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah.

Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

 

Bagi seorang murshid, murid adalah sahabat. Murshid “tahu diri” betul. Pada dasamya, tidak ada perbedaan antara mereka. Seorang murid adalah masa lalu seorang murshid. Dan seorang murshid adalah masa depan seorang murid. Beda “kesadaran” sedikit. Itu saja.

Yang seringkali “lupa daratan” adalah para murid. Disebut “sahabat”, mereka menjadi sombong. “Sekarang aku bisa jalan sendiri. ”—pikir dia. Ternyata apa? Baru berjalan sebentar sudah babak-belur. Tetapi karena kesombongannya, karena keangkuhannya, dia tidak akan mengaku salah. Walaupun sudah “tersesat”, dia akan tetap melanjutkan perjalanannya.

Rumi menasihati mereka:

 

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu.

“Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.

“Jangan menyangsikan kebijakannya, seperti Musa menyangsikan kebijakan Khidir. Jangan sampai Pemandumu meninggalkan kamu, seperti Musa ditinggalkan oleh Khidir.”

“Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar.

Jadi kalau anda berjalan sendiri dan sampai di tujuan dengan selamat, itu pun berkat bantuan para Pir. Demikian menurut Rumi……..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)